Boyfriend Tsun!

Monsta X's fanfic

Wonho (Shin Hoseok) x I.M (Im Changkyun)


Wonho sedang malas melakukan apapun.

Dari ketiga sahabatnya, hanya Wonho dan Hyunwoo yang mengambil jurusan teknik.

Kihyun dengan musiknya.

Minhyuk dengan ilmu bahasa dan budaya.

Jooheon sendiri...Wonho sungkan untuk menanyakan, takut menyinggung hati.

Sekarang ditambah ada Chang-

A-aishh...

Pemuda Shin ini menggaruk kepalanya dengan pensil.

Beberapa puluh menit lalu, silabus untuk hari ini; Mekanika Fluida dan materi sudah berjalan cukup lancar bagi semua orang –pengecualian Wonho.

Entahlah.

Wonho tidak suka berhitung tetapi dia tertarik dengan mesin dan menyukai Fisika.

Tetap saja, Wonho tidak suka berhitung. Suka juga bukan berarti bisa.

Passionnya memang di teknik tetapi bukan berarti dia harus mendapat IPK di atas 3,5 karena kata 'passion' kan?

Mekanika Fluida, kepalamu. Namanya sok keren sekali, apa susahnya bilang ini materi Fluida Dinamis yang membawa-bawa tekanan dan hukum apalah, materi SMA dulu. Mentang-mentang kuliah, namanya di-sok-kan.

Jangan salah, begini-begini Wonho memperhatikan materi saat SMAnya dulu –tidak mengerti tapi entah mengapa nilainya selalu ambang batas aman– yang jauh lebih sulit ketimbang SMP dulu.

Wonho ingin bekerja di tempat dimana dia bertemu dengan uap, air, mesin, bunyi, suhu tinggi, dan tekanan.

Jadi materi familiar seperti ini sudah sangat dia kuasai.

Dia jadi merindukan semester-semester awal dimana materinya lebih mengasikkan; Mekanika Mateial, Fisika Listik dan Magnet, Teknik blablala, Elemen blablabla, Mekanika blablabla. Orang bilang awal semester sangat menyulitkan karena tidak ada pengulangan materi sekolah untuk 'merileks'kan tetapi langsung dasar dan konsep, di semester pertengahan inilah semua materi lalu diulang dan materi-materi baru sudah terlewat semua.

Oke, baiklah. Abaikan saja yang diatas, intinya Wonho tidak bersemangat untuk hari ini –daridulu juga tetapi halo, itu karena materi tidak menariknya dan sekarang dia kan handal untuk matpel hari ini jadi...

"Pada gambar 2, fluida 2 adalah karbon tetraklorida dna fuida 1 adaah benzen. Jika tekanan Patm adala Im Chang-fuck."

Itu sudah kesekian kalinya Wonho salah membaca soal, salah menuliskan, dan salah apapun itu membawa-bawa Im Changkyun yang tidak ada hubungannya ini.

"Shin Hoseok!"

Dan itu sudah kesekian kalinya bagi Wonho untuk mendengar panggilan namanya dari dosen setempat(?).

"Iya, Im Chang-" Lagi-lagi kesekian kalinya Wonho menampar bibirnya berkali-kali setelah berdiri, membungkukkan badan, dan menjawab dengan penuh kesalahan itu.

Bukan salahnya dong seperti itu? Hanya Changkyun yang menyebutkan namanya seperti itu...

...atau jangan-jangan dosennya –ani, ini asdos dan itu...

Wonho mengintip sejenak ke arah meja agung di depan sebelum mengetuk keras kepalanya.

Jangan bodoh.

Ini bukan semester satu dimana ada pembahasan kimia.

Huft.

Satu helaan nafas namun mengundang tolerhan dari segala arah.

"Ini sudah kesalahan kesekian kalinya, Tuan Shin. Dengan nama sama. Apa dia kekasihmu? Saya tidak keberatan tapi anda tidak bisa fokus di kelas saya sekalipun quiz nanti nilai anda menjadi bagus."

"Im Changkyun dari Teknik Kimia?"

Sekilas mendengar, Wonho mengira sang dosen menyebutkan identitas pemuda yang tinggal satu atap dengannya itu karena melihatnya di depan pintu jadi buru-buru ia menoleh dan kecewa tak mendapatkan apapun.

Tunggu dulu.

Bagaimana bisa dosennya tau?

"Anak itu sangat berbakat, kemajuan bagus setelah saya mendengar anda banyak mengencani gadis tidak berotak. Sangat disayangkan jika ada satu pasangan yang satu sama lain sa-"

Bukan itu pertanyaannya.

Melainkan...

...

...

...

...

..

.

Kenapa dia harus kecewa? Toh, Changkyun bukan apa-apa dan siapa-siapa.

Changkyun hanya segelintir orang yang akan datang dan pergi, tidak semua orang seperti itu.

Mereka berdua kan tidak ada hubungannya.

Hehe.

Tapi agak sulit ya mengabaikannya?


Changkyun mencoret brutal kertas di depannya.

Tertuliskan Shin Hoseok.

Sialan!

Karena kejadian tadi pagi!

Apa banyak yang melihatnya ya? atau merekamnya? Banyak murid juga yang sudah hadir rupanya.

Rasanya kelas sangat berisik seakan-akan membahas tadi pagi jadi aku tidak bisa berpikir soal dan justru memikirkannya.

Apa di kelasnya juga seperti ini?

Apa dia khawatir? Karena popularitas itu sangat berharga untuk setipenya bukan?

Jangan geer dulu.

Changkyun hanya tidak mau bebannya bertambah satu yaitu 'merawat Shin Hoseok dan melindunginya dari amukkan fans'.

Merawatnya yang mempunya pola hidup dan kebiasaan saja susah apalagi ini.

Changkyun tidak akan pernah bisa berkonsentrasi mengerjakan soal, mendengarkan, atau apapun itu. Fokusnya sudah terpecah-pecah sejak awal. Percuma masuk kelas juga kalau otaknya penuh dengan pikiran.

Apa yang harus kulakukan?

Membuat daftar hidup Wonho yang harus kuubah?

Daftar belanja? Kebutuhan?

Setelah memperhatikan jarum panjang di jam tangannya, Changkyun mengangkat tangannya tinggi-tinggi –mengintrupsi.

"Maaf Pak, bisakah saya ke kamar kecil?"

"O-oh ya ya, silahkan silahkan. Ada yang mau ke kamar kecil juga?"

Hening.

Tentu saja, dosen kali ini terdengar emosi dengan wajah tersenyum dan hanya baik dengan siswa pandai akademis atau mencari muka.

Changkyun pergi sembari membawa secarik kertas dan pulpen.

Untuk pertama kalinya, dia cabut kelas.

Toh, waktu istirahat akan sebentar lagi.


From; Changkyunie:*

'aku sudah pergi duluan ke supermarket dekat apartementku. cepat susul aku'

Langsung saja Wonho menekan kontak bernama 'Changkyunie:*' dan menekan ikon telepon hijau.

Saat panggilannya tersambung, Wonho baru saja mengeluarkan mobilnya dari kampus.

"Kenapa kau tidak menungguku?"

"Kenapa harus? Aku kan sudah bilang naik mobilku sendiri."

"Kau maunya kita pergi belanja beriringan seperti orang tolol?"

Wonho mengusap wajahnya kasar, lalu lintas setelah keluar dari kampus memang selalu tersendat jadi dia sedikit rileks menelepon saat berkendaraan.

"Ucapanmu tolong dijaga ya. Kenapa kau mengangkat teleponku saat berkendara? Itu berbahaya."

"Kau sendiri juga mengapa menelepon? Sama berbahayanya, bodoh."

"Macet."

"Oh, kalau disini lampu merah."

"Aku juga pakai earphone jadi tak masalah."

"Aku tidak bertanya loh."

"Sialan."

1-0

Meskipun awalnya Wonho gemas sendiri karena kedataran 'telepon ria' mereka yang sangat datar untuk ukuran sepasang kekasih, mengerjai Im Changkyun menyenangkan juga.

"Kau ini kekasihku bukan sih?"

"Iya...mungkin?"

"Supermarket dekat apartementmu dulu seingatku hanya supermarket tidak ada mall atau apapun itu."

"Memang."

"Sengaja ya?"

"Ya."

'kenapa sependek-pendek ini sih'

Wonho menghela nafas.

"Lampu merah depan kan? Tunggu disana, aku akan memotong jalan."

"Tidak usah repot-repot."

"Tidak repot kok."

"Kubilang tidak usah."

"Kenapa sih?" Wonho mengangkat salah satu alisnya saat jalan memotong yang dia maksud sudah terlihat dan memutar stir mobilnya.

Lalu membelah jalanan cukup sempit itu dengan kecepatan tinggi.

"Bu-bukan apa-apa."

Pemuda yang lebih tua ini terkekeh pelan. "Ada apa hayo? Kau memikir-"

"Hati-hati di jalan, kebiasaanmu itu ngebut kan."

"Iya sayang. Terimakasih pengalihan pembica-"

Wonho tertawa puas saat suara monoton terdengar dari ponselnya.

Sementara Changkyun segera melempar ponselnya ke jok belakang setelah sebelumnya mematikannya.

Changkyun sengaja berangkat lebih dahulu.

Dia menghindari Shin Hoseok.

Menghindari keinginan otaknya yang langsung memikirkan pemuda itu acapkali mendengar namanya.

Dan juga menghindari degupan jantung yang aneh ini.

Padahal sudah setengah jam semenjak keluarnya dia dari kelas, tapi otaknya masih tak bekerja dengan selayaknya.

Tapi mobilnya justru menepikan setelah lampu lalu lintas berganti warna.

Ada sisi lain dari dirinya mau menunggu Hoseok.

Entah mengapa.

...

/curhatan hati gak masuk teknik/

:")

jadi hoseok itu mesin yaaaa changkyun yang kimia:3

duh endingnya berasa mau nyanyi; 'mengapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu...'

/abaikan:") selamat hari jumat! tgif!