Sekarang ini Ohta masih ada dikamar Tanaka. Ohta sempat melirik jam dimeja belajar Tanaka sebentar dan sekarang sudah pukul empat sore. Ohta juga tidak tau kenapa adik Tanaka belum pulang padahal sudah sore. Dari tadi keadaannya benar – benar canggung. Tanaka juga terkesan malu – malu kalau bicara dengan Ohta. Kalau begini, Ohta kan jadi ikut – ikutan malu sendiri.

Mereka tadi sempat berciuman panas setelah Tanaka menjelaskan tentang kenapa selama ini ia menjauh dari Ohta. Ohta yang memulai tentu saja, melihat Tanaka menceritakan asal masalah mereka dengan wajah merona seperti itu membuat darahnya berdesir aneh. Sial, kenapa celananya mendadak sesak tadi?

Ingat kan kalau Tanaka hanya mengenakan kemeja besar tanpa dalaman apapun. Tubuh kurus dengan kulit putih susu seperti itu siapa yang tidak tergoda melihatnya? Tanaka terlihat begitu… menggairahkan? Oh sial, Ohta jadi berpikir kearah 'situ'. Dia jadi merasa rendahan sekali.

Ohta tadi bahkan sempat hampir khilaf menyentuh Tanaka. Tangannya sudah mulai membuka kancing kemeja Tanaka satu per satu. Kalau saja Tanaka tidak menggigit lidahnya pasti Ohta akan melanjutkannya sampai selesai. Karena hal itulah mereka jadi serba canggung begini. Ohta sudah meminta maaf berulang kali tadi, dan Tanaka memaafkannya dengan wajah merona dan bibir yang bengkak memerah bekas dicium oleh Ohta. Sial, Ohta ingin melahapnya lagi. Oh ya ampun kenapa Ohta jadi agresif begini?

"Ohta? K—kau kenapa?" Tanaka menggerakkan tangan kanannya naik turun didepan wajah Ohta. Dia bengong. Asli, wajah Ohta terlihat aneh ketika seperti ini. tanaka sebenarnya ingin tertawa, tapi ia menahannya.

Ohta gelagapan. "A—ah, oh tidak aku baik – baik saja kok." Ohta tertawa canggung. Tentu saja. Keadaan ini sudah berlangsung sejak berjam – jam lalu dan mereka betah – betah saja?

"Kau… masih memikirkan yang tadi?" Tanya Tanaka sambil menunduk. Ohta meliriknya dan melihat leher Tanaka memerah sampai ke telinganya. Ya Tuhan, godaan apalagi ini? Ohta mendesah frustasi dalam hati.

"Itu, anu aku—"

"Kau ingin menciumku lagi?"

Selamat tinggal pertahanan diri.

Ohta langsung menerjang Tanaka tanpa member Tanaka kesempatan untuk mengatakan sesuatu. Ia memandangi wajah manis Tanaka yang merona samar. Sial, dia manis sekali. Kemudian dengan gerakan perlahan Ohta mendekatkan wajahnya ke wajah Tanaka. Mereka saling merasakan napas masing – masing. Hangat. Sedikit lagi mereka akan menyatukan bibir mereka.

Brak!

Baik Ohta maupun Tanaka sama – sama terkejutnya. Tanaka yang tengah terkejut reflek menendang Ohta dan kalian tau dimana itu? Masa depan Ohta, asset berharganya ditendang oleh pemuda yang hampir diciumnya. Ohta jatuh terduduk dilantai kamar Tanaka sambil memegangi selangkangannya yang terasa nyut nyutan. Oh ini pasti sakit sekali. Tanaka yang menyadari apa yang baru saja ditendangnya segera menghampiri Ohta.

"Go—gomen Ohta, aku tidak sengaja gomen ne." Tanaka menggigit bibir bawahnya melihat Ohta memegangi selangkangannya sambil menggerang menahan sakit.

Sebenarnya itu ulah Rino, adik Tanaka. Ia tidak tau kalau ada Ohta didalam kamar kakaknya, dan karena saat pulang Rino mendengar suara – suara deritan ranjang ia kira ada apa – apa makanya ia langsung membuka pintu kamar kakaknya dengan kasar, sialnya lagi Tanaka tidak mengunci pintu kamarnya.

"Kau tau apa yang kau tendang Tanaka?" Ohta meringis menahan sakit.

Rino yang berada diambang pintu dan tidak tau apapun hanya mematung sambil menatap Ohta yang terduduk meringis sambil memegangi selangkangannya dan kakaknya sendiri yang menatap khawatir pada Ohta sambil mengucapkan kata maaf berulang kali.

"Ini sebenarnya ada apa?" Tanya Rino kebingungan.

Tanaka menatap adiknya datar. "Kau keluarlah dulu." Ujar Tanaka pelan. Ia tidak bermaksud mengusir adiknya kok, hanya saja ada yang harus diurus sekarang.

"Loh kenapa? Onii-chan juga kenapa cuma pakai itu?"

Tanaka berdiri mendorong adiknya keluar kamarnya.

"L—loh, onii-chan matte yo~"

Blam!

Tanaka menutup pintu kamarnya. Kali ini tentu saja dengan menguncinya juga. Ia menghampiri Ohta. "M—Masih sakit ya? Gomen." Tanaka juga tidak tau harus apa. Mana mungkin ia menawarkan diri untuk mengobati 'milik' Ohta. Tidak, tidak mungkin. Hanya memikirkannya saja membuat wajah Tanaka terasa panas. Ia menggeleng – geleng sambil menepuk pipinya berulang kali.

Ohta berdiri dengan susah payah. "Sudah, tidak apa – apa kok." Jawabnya lemah. Tentu saja itu bohong. Rasanya sakit sekali. Bahkan Ohta sampai merasa kepalanya pusing.

Tanaka mendekatinya. "H—hontou?" tanyanya.

Ohta berusaha tersenyum meski senyumnya jadi terlihat aneh. Ia menahan sakit, senyumannya jadi terlihat seperti ringisan.

"K—kau terlihat masih kesakitan." Ujar Tanaka lemah. Ia benar – benar merasa bersalah. Ia tidak bisa membayangkan kalau 'milik'nya ditendang sedemikian keras begitu, pasti sakit.

"Lalu kau mau apa?" Tanya Ohta.

Tanaka menunduk. "Akan kulakukan a—apapun untuk mem—membuatnya tidak sakit l—lagi." Tanaka mendadak gagap. Ia berujar sambil menunduk dengan pipi merona sampai ke leher dan juga telinganya.

"Cium aku." Kelakar Ohta asal.

Tanaka terbelalak. Mana mungkin dia bisa mencium Ohta? Bahkan saat mereka berciuman tadi selalu Ohta yang mendominasinya. Tanaka hanya mengikuti alur permainan Ohta saja tanpa niat untuk mendominasi. Lagipula, memangnya Tanaka mampu untuk mengalahkan Ohta dalam hal ini?

"T—tapi aku—"

Ohta membelai puncak kepala Tanaka dengan lembut. Belaian itu turun sampai kepipi Tanaka. Ohta melihat dengan jelas semburat kemerahan disana. Oh Ohta sempat berpikir apakah ini benar Tanaka? Tanaka si pemalas yang hobi tidur dikelas itu? Ohta tidak pernah memikirkan detail mengenai Tanaka selama ini, makanya saat ini ia merasa begitu kaget. Tanaka yang merona terlihat begitu menggemaskan. Ohta tidak akan mungkin bosan untuk memandnagi wajahnya yang manis itu.

"Kau tidak mau?" Pancing Ohta. Ia menyeringai dalam hati. Ohta yakin Tanaka sebenarnya mau menciumnya hanya saja ia mungkin malu atau canggung padanya.

Tanaka menggigit bibir bawahnya. "T—tidak bisakah kau saja yang menciumku?" Tanya Tanaka lirih. Ia menunduk semakin dalam.

Seringai Ohta melebar ia jadi makin ketagihan untuk menggoda Tanaka. "Selangkanganku rasanya sakit sekali, bahkan kepalaku rasanya pusing." Ohta ber-akting seakan – akan ia benar – benar merasa begitu sakit. Iya sih selangkangannya memang masih terasa nyeri, tapi kepalanya baik – baik saja kok. Ia hanya merasa pusing seketika setelah tendangan tadi dan sekarang ia sudah tidak merasakannya lagi.

Tanaka tampak merasa khawatir setelah Ohta mengatakan hal itu. "U—uh, baiklah. Pejamkan matamu."

Ohta bersorak dalam hati. Ah, sepertinya ia menemukan hobi baru saat ini. menggoda Tanaka-nya yang menggemaskan. Ohta memejamkan matanya meski tadi sempat melirik Tanaka. Sial, dia ingin sekali bersorak kegirangan saat ini.

Cup!

Satu kecupan singkat Tanaka daratkan dibibir Ohta. Sebenarnya Ohta tidak merasa puas. Tapi yasudahlah. Masih banyak waktu untuk melakukan hal itu. Ohta terkekeh melihat semburat kemerahan dipipi Tanaka semakin menjadi – jadi. Ia menarik pinggang Tanaka dan memposisikannya di pangkuannya. Ini posisi yang berbahaya, tapi toh Tanaka sendiri sama sekali tidak menolaknya. Merasa mendapat lampu hijau Ohta segera menyerang bibir merah itu. Tanaka mengalungkan tangannya dileher Ohta sementara Ohta semakin mengeratkan pelukannya dipinggang Tanaka.

Sepertinya hari ini mereka terlalu banyak berciuman. Ohta tidak keberatan kalau harus mencium Tanaka setiap hari, malahan ia senang. Sepertinya, jiwa remaja laki – lakinya mulai keluar. Ohta tersenyum kecil.

"K—kenapa kau tersenyum seperti itu?" Tanya Tanaka. Ia masih berada diatas pangkuan Ohta.

Ohta mengacak – acak rambut Tanaka. "Tidak ada." Jeda beberapa saat. "Ah ya sepertinya aku harus pulang." Lanjutnya sambil menurunkan Tanaka dari pahanya.

Ohta bergegas memungut tasnya yang tergeletak dilantai. Ia mendekati Tanaka kemudian mengecup dahinya singkat. "Jaa matta ashita, Ohime-sama." Ucapnya sambil berlalu. Tanaka memegangi dadanya. Ah, sial jantungnya berdetak tidak karuan. Apakah jatuh cinta itu rasanya seperti ini? benar – benar rasa campur aduk, tapi menyenangkan.