Shikamaru membuka pintu mabes organisasi dengan cepat kemudian menutupnya kembali. Sembari menguap lebar, pemuda pemalas itu menengok ke arah meja rapat nan luas.
Alisnya mengernyit heran akan suguhan suasana hening nan damai yang tak pernah dia bayangkan. Sekitar empat puluh lima orang menundukkan kepala diatas meja dengan tangan masing-masing saling menyatu. Termasuk sang Leader-Naruto. Duapuluh wanita dan sisanya lelaki.
"Apapun yang terjadi..." suara serius Naruto masuk gendang telinganya. Nampak dalam pandangan anak Shikaku, tersirat keseriusan di muka Uzumaki Naruto. "Kita harus menang. Peperangan sudah terlanjur di mulai. Kita tak bisa mundur."
Shikamaru pasang tampang cengo. Dirinya gagal paham akan apa yang di diskusikan oleh Naruto sampai-sampai keringat dingin membasahi jidat kesemua penghuni. Mungkinkah Organisasinya ada masalah dengan genk sekolah sebelah? Shikamaru tak mengerti.
"Tinggal 50 detik," makin bingunglah Shika akan intruksi Naruto. Apalagi kedua tangan pemuda pirang itu nampak tergenggam erat. "Kita hitung mundur. Persiapkan diri kalian, akan ada banyak pertumpahan darah."
Glek! Pertumpahan darah? Bahkan si jenius sampai meneguk ludah mendengarnya.
"Lima."
"Empat."
Shikamaru membelalak horror. Mungkinkah tebakannya tak meleset barang seupilpun? Bahwa akan ada perang antar sekolah.
"Tiga."
"Dua."
Bola mata Shikamaru membelalak heboh. Tangannya terangkat bersamaan mulutnya yang terbuka siap mengucap kata.
"ATTACK!" lolongan Uzumaki Naruto di barengi acungan jari tengah menjadi instruksi bagi para anak buahnya.
Sontak kesemuanya mengeluarkan Hp Androidnya terus ngebuka aplikasi COC terus war deh *WHUAATT?!"
GLUDAK!
Shikamaru kejengkang. Dia kira apa, ternyata ... main game.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Mature
Genre : Humor, Friendship and Roman.
L.A Lights/Menangislah Negeriku.
.
.
.
Pintu kediaman Uchiha di ketuk pelan oleh sosok pemuda berkulit pucat. Disampingnya nampak Sahabat juga 'teman' singkatnya yang berada persis di sebelah kiri dan kanan.
Setelah pintu terbuka nampak Tante-Tante semlohay berambut hitam panjang yang lansung mengumbar senyum pada tiga remaja tersebut.
"Cari siapa?" suaranya ramah nan merdu bikin cowok pecinta anjing cengar-cengir strees campur sarap.
"Sasuke-nya adakah, Tante ... cantik?"
Sinnngggg.
Alis Mikoto Uchiha berkedut mendapat gombalan dari cowok bau kencur yang selalu dan selalu mengumbar senyum.
"Ya, silahkan masuk kebetulan dianya lagi Novi *Nonton Tivi* bersama kakaknya dan Tante sendiri."
'Labusyeet! Udah tante-tante masih pake bahasa singkatan alay pulak.' batin Kiba sweatdrop.
Kemudian ketiganya mengikuti Mikoto menuju ruang keluarga yang nampak Sasuke lagi duduk di sofa sambil nyabutin bulu kakinya *Bener-bener teripikal maho sejati-jdak!*
"Yo, Sasuke!"
Sasuke melotot, di tengokkannya kepalanya pada asal suara dan mendapati Kiba nyengir padanya dan Sai sudah duduk di sampingnya dan ...
"Hallo sayang! Katanya kamu mau mgenalin aku ke ibumu? Berhubung kamu kelamaan jadi aku kesini saja deh."
Cewek ... manggil dia sayang? Dan ngaku-ngaku mau di kenalin ke maminya?
Tik ... Tok ... Tik ... Tok ...
BRAK!
Sasuke gebrak meja keras banget sampai-sampai Itachi yang tadi nyengir, kejengkan.
"Siapa loe hah? Main ngaku-ngaku seenak udelmu yang bodong?"
"Kok gitu sich sayang! Khan aku kekasihmu."
"AFFFUUAAA?!" hujan lokal sukses menciprati wajah Sai yang kebetulan berada persis disampingnya.
"Kamu mah gitu orangnya~" cewek itu bersuara lembut sembari menoel dagu Sasuke. Bikin mami Mikoto tersenyum mencurigakan.
"Sasuke-kun, mami tau kamu tak pernah membawa pacar atau teman wanitamu kesini. Dan awalnya mami kira kamu maho karena tak pernah membawa wanita kesini. Tapi akhirnya mami seneng lho kalau kamu ternyata punya pacar."
Sasuke mangap lebar banget. Dalam hatinya dia berkata. 'Aku memang maho Mom.'
Karena menatap muka anaknya yang kurang enak di pandang Akhirnya Mikoto yang sudah duduk persis di samping sofa Sasuke pun membuka suara.
"Jadi pacarnya Sasuke-kun, kamu?"
Cewek itu mengangguk mantap.
"Kamu cantik deh."
Mengangguk lagi dengan sedikit tersipu.
"Namanya siapa?"
"Nama saya ... "
Kilas Balik On.
Naruto, Kiba dan Sai, duduk anteng menatap lapangan yang lagi di pake main Volli oleh beberapa cewek seangkatan mereka. Sesekali mereka mengumbar cengiran kala tontonan mengasikkan tertangkap mata cabul ketiganya.
Kala tiap cewek berlari dan mau menembak sudah pasti kan dadanya saling naik turun. Apalagi memakai kaos putih berkerah longgar sehingga mengekpos belahan-belahan menggiurkan mereka.
Tapi fokus mereka hanya pada satu cewek yang ukuran boobs-nya lebih gede dari yang lain. Seorang cewek berambut indigo yang di ikat kuda dengan keringat membanjiri wajah, leher sekaligus belahannya.
"Lihat-lihah! Dadanya memantul cuy!" komen Kiba sembari menunjuk sang target. "Andai 'shometing' di jepit di situ. Aduh!" dianya heboh sendiri dan di angguki kedua sohibnya setuju akan khayalan ora nggenah Kiba.
"Kalau tidak salah dia anak baru kan?" tanya Sai tanpa melepas pandangan sesentipun.
"Begitulah." tanggap Naruto apa adanya. Lalu dianya teringat akan sesuatu dan sontak menengok kearah Kiba dengan serius. "Kiba! Apa rencanamu waktu itu? Kau belum memberitahukannya padaku dan kawan-kawan."
"Renacana apa, men?" Kiba menaikkan sebelah alisnya dengan tampang orang amnesia.
"Rencana yang katamau kau tau cara mengatasi maho."
"Ohh itu?" Kiba mengangguk teringat. "Yah, aku sudah memikirkan rencananya dengan matang sematang ayam panggang."
"Bisa di perinci?" Sai ikut ambil bagian dalam bertanya.
"Jadi begini..." Kiba membisikkan kedua sohibnya seolah rencana ini amat rahasia. Dan tak berselang lama sebuah cengiran Kuda nil bunting, Maklampir, Rubah rabies, terukir jelas di muka ketiganya.
Pulang sekolah.
"Hei, rambut indigo!"
Seorang cewek yang lagi santai jalan dan kebetulan panggilan nggak sopan seperti di tujukan padanya, menoleh. Jemarinya menujuk dadanya sembari bersuara.
"Aku?"
"Bukan! Tapi Retno."
"Ohh, Retno." terus dianya balik badan dan bablas gitu ajah ninggalin Kiba, Sai dan Naruto yang terbengong-bengong akan leletnya cewek itu.
"YAKAMULAH!" jerit Naruto keras lagi heboh sembari nepok jidatnya Kiba.
Hinata noleh kembali dan mengangguk mengerti. Kemudian kedua kakinya yang masih terbalut sepatu dia langkahkan mendekat pada tiga pemuda yang sudah masang senyum sok akrab mereka. Tak lupa masing-masing bersender di samping mobil kodok butut warisan Jiraiya itu.
"Ada apa?"
Set!
Tiga tangan terurur bersamaan.
"Sebelum kita mulai membahas urusan kita denganmu..." Naruto berdehem pelan. "Ada baiknya kita kenalan dahulu."
"Ya, biar tak kaku!" Kiba ikutan bersuara.
"Dan mungkin kau bisa jadi selingkuhanku."
Sontak omongan Sai mendapat tatapan cengo dari tiga pasang mata. Sedang yang bersangkutan cuman naikin sebelah alisnya sambil berucap.
"Apa?"
Dan lupakan saja soal perdebatan yang sebetulnya ingin ketiganya umbar demi si gadis yang katanya menjadi kartu andalan Kiba.
"Uzumaki Naruto."
"Kiba Inuzuka, cowok paling kece di sekolahan ini." bah, narsis juga ni anak.
"Panggil aku, Sai. Atau Say juga boleh."
"Um," Hinata bingung akan tiga tangan yang masih minta di jabat. Bingung harus mulai dari yang mana. Dan pada akhirnya ketiganya saja dia raih bersamaan. "Hyuuga Hinata."
"Hyuuga?" Naruto naikin sebelah alisnya. Biru shappirenya dia gulir pada dua sohibnya yang sepertinya memikirkan apa yang dia pikirkan.
"Apa kau ... saudaranya si mah ups, Neji?" Kiba pasang cengiran kuda nil bunting kala hampir saja kata maho terucap lugas dari bibirnya.
Hinata mengangguk. "Yah, tapi aku keponakan si maho gondrong itu." tuturnya tanpa dosa.
Naruto, Kiba dan Sai ber-smirk ria. Oh ternyata si gadis sudah tau atas kemahoan kakak sepupunya itu. Tinggal satu langkah maka bereslah sudah.
"Hinata." Naruto pasang tampang paling serius juga keren yang dia punya. "Apa kau ingin meluruskan si gondrong?"
"Meluruskan?" Hinata memiringkan kepala tanda masih belum mudeng. Dan hal itu bener-bener bikin ketiga sohib nepok jidatnya dengan inner berteriak: Leletnya dirimu, Hinata.
"Maksudku. Membantu menghilangkan kemahoan kakakmu, paham?"
"Ya, aku paham dan ingin melakukannya. Jujur saja aku tak habis pikir akan otak si gondrong itu. Dia kan ganteng dan kenapa jadi homo? Dan kenapa pula harus pilih 'daging tikus' jika ada 'daging kambing' kan?"
Naruto mangap, Sai garuk-garuk gundulnya yang gatal. Kiba celingukan. Sungguh kata-kata yang unik dari si gadis lelet.
"Jadi apa kau mau membantu kami?" kini Sai bertanya. Soalnya Naruto masih mangap.
"Boleh."
"Membantu yang lain juga?" Kiba ngikut.
"Boleh."
"Gabung di oraganisasi kita?" Naruto capek mangap terus.
"Boleh."
"hehehe." Naruto dan Kiba adu tos. Ternyata tak sulit menyeret si gadis kesisi mereka.
Kilas Balik End.
.
.
.
"Hoaaammm." Pemuda berambut hitam terikat unik layaknya buah nanas siap petik, menguap lebar hingga nyaris saja seekor lalat nyangkut dimulutnya. "Ok pemalas, saatnya bekerja."
Kau tau. Shikamaru paling anti akan kebisingan juga teriakan manusia yang menggambarkan bahagia mereka. Juga lampu kelap-kelip yang cukup membuat mata sayunya risih.
Meong~
Ok, itu nada dering memang bukan dia banget. Diraihnya hp bermerk sembari melihat pesan yang diterimanya.
KibaAsu.
Oi men. Selamat ber ajib-ajib ria. Btw, jika caramu tak mempan menggaetnya. Gunakan cara licik yang ada dalam otak brilianmu.
Shikamaru menguap dan memilih duduk dan meminta sebotol Red Lebel pada bartender. Meski si pemalas tak begitu suka akan alkohol. Tapi jika ditempat seperti ini mau tak mau harus sedikit dia paksakan bukan.
Ok, menurut si duren kuning tadi. Targetnya katanya akan kemari bersama beberapa kawannya. Dan pastinya akan sulit menghadapi sekumpulan lesbian.
'mendokusai na. Lebih baik menghapadi puluhan badak.' Dia membatin nelangsah.
"Hey bung!" Shikamaru memanggil bartander menggunakan dua jari. "Bisa kau menemaniku menghabiskan minuman laknat ini?"
Alamak!
Sembari sedikit mabuk. Sepasang matanya tak lepas akan keramaian. Shikamaru menghabiskan isi gelasnya sesaat sebelum dia menuju seseorang berambut pirang yang nampak happy berjoget ria disana. Dan Shikamaru menyesal akan hal ini. Why?
.
.
.
"Hey Kiba! Apa menurutmu Shikamaru akan berhasil?" pemuda bermata shappire tak melirik cowok yang ia tanyai barang sesentipun. Dianya fokus akan kartu gaplek yang ia pegang.
Kiba menyeringai sesat. "Tenanglah men. Aku yakin akan ke-waoan otak dia, jadi- WHAT THE? OOHH SHIT!" heboh selangit kala Sai menyingkirkan dirinya dalam permainan.
Sedang Sai tersenyum meremehkan dan dibalas acungan jari tengah oleh Kiba. Dan pemain yang satunya nampak menyedihkan.
"Demi sempaknya Gaara! Sekali saja kalian biarkan aku menang. Biar aku tau rasanya mengais 'rezeki' malam ini." Ini abangnya Gaara nggak masuk akal banget ya? Ya.
"Oh ya Kiba. Apa kau tau kira-kira apa yang akan dilakukan Shikamaru?" tanya Naruto serius. Serius akan duelnya sama Sai maksudnya. Kartunya tinggal satu. Saipun sama. Jika dia salah bisa jadi imbang dan permainan berulang dengan masing-masing merogoh kocek tambahan untuk babak selanjutnya.
Kiba geleng-geleng sok asik sembari menyahut. "Kau cukup percaya padanya, men." Dia menyeringai. Kankuro menyeringai. Sai menyeringai.
"hehehe." Naruto ketawa jahat sembari membanting kartunya.
Plak!
"HOLY SHIT!" lalu heboh sendiri karena permainan masuk ronde selanjutnya alias imbang.
Tiba-tiba sesosok cowok berambut merah melewati keempat pemuda yang duduk nista dibawah sofa ruang tamu kediaman Sabaku. Dan Sai yang paling pertama melihat, menyapa.
"Hey Maho, apa kabar, men?"
Tak sampai tiga sekon sebuah sepatu menghantam jidatnya Sai.
.
.
.
Back to Shikamaru. Shikamaru POV.
Aku menyesal mengetahui ini, dan aku bahkan nyasir tak percaya akan mereka, termasuk target yang harus kutaklukkan. Oh yeah, demi kuncir unik Yugito yang mirip lipan! Sedalam inikah dia masuk?
Aku memilih duduk kembali sembari memperhatikan. Jujur saja tak ada yang asik disini, menurutku sih. Kuambil sebungkus rokok dikantong belakang celananku sembari mendesah. Mendesah karena sepertinya aku akan menyerah sebelum berperang.
Kau tau? Ok tak apa kalau tak tau. Yang pasti Sabaku Temari saat ini sedang fly. Tengok, dia berjoget mengikuti alunan musik sembari mengusap rambut juga wajahnya yang nampak ... seksi. Hah, aku masih seorang pria jantan men. Hanya mengenakan tanktop putih juga rok mini yang... ok cukup, aku tak mau membayangkan apa isi dalam roknya.
Dia nampak bersemangat juga bahagia. Oh men, jujur saja aku sendiripun pasti akan tampak bahagia seperti dirinya kala sebutir kecil penuh warna memasuki tubuhku. Atau Serbuk Sialan yang menjelajahi paru-paruku kala menghisap.
Dan saat sedang melamun aku tersadar jika seorang memelukku erat sembari berbisik menggoda.
"Cantik, sedang apa?"
Reflek menoleh mendapati mata terpejam, helaian pirang. Aku mengumpat senang kala itu, apa yang dia lihat tak bisa kulihat. Yang dia lihat adalah semu.
Seolah aku...
Adalah wanita yang cantik...
Hell yeah!
TBC
Hallo.. Lama tak jumpa dan maaf lelet amat ya updatenya? Ya.
Dan kok makin kesini makin gaje banget.. fufu.
Ok, semoga kalian menikmati. See you next time.
