WARNING

RATE M

Tolong sikapi dengan bijak

Typo adalah bagian dari FF ini.

.

.

.

Kyungsoo melangkahkan kaki nya dengan buru - buru. Ini pukul 11.30 malam. Kyungsoo membayangkan kemurkaan wajah jongin saat mendapatinya pulang dengan sangat larut.

"Hei, tenanglah. Orang rumah sakit bilang Jongin sudah pulang sejak pukul 7 malam" ucapan Sehun yang mengikutinya dibelakang tidak lantas membuatnya tenang. Justru sebaliknya, kyungsoo dibuat semakin takut pada kenyataan bahwa Jongin sedang tidak lembur.

Kyungsoo memasukan kata sandi apartemennya dengan perasaan was-was. Kyungsoo membuka pintu apartemennya, seketika tubuhnya terhenyak pada kenyataan bahwa Jongin tertidur di sofa ruang tengah apartemen sempit mereka. Pada dasarnya apartemen ini milik Jongin saat dia masih lajang.

Kyungsoo menghampiri Jongin, mengelus lembut Surai jongin dengan perasaan bersalah.

"Jongin, bangunlah"

Jongin sebenarnya tipikal orang yang sangat susah dibangunkan. Sekalipun ada bom atom.

Kali ini suara lembut kyungsoo membangunkan jongin dari tidurnya. Meta nya mengerjap saat menyadari Kyungsoo sudah pulang.

"Kau sudah pulang." Itu bukan pertanyaan. Ini pernyataan. Jongin menarik Kyungsoo dan menempatkan kepalanya di dada Kyungsoo dengan mata terpejam. Matanya menangkap sosok Oh Sehun saat matanya terbuka. Jongin menatap Sehun bengis.

"Ooh, santai saja man. Aku mengantarkan Kyungsoo saat ia ketinggalan bus di tempat perentalan"

Jongin menarik tubuhnya dari Kyungsoo dan menatap Kyungsoo tajam seakan meminta konfirmasi.

"Ya. Maafkan aku. Aku bermain game terlalu lama lagi" balas Kyungsoo dengan lirih.

"Kau seharusnya meminta aku menjemputmu, dan jangan pernah mematikan ponsel mu saat bermain game."

"Aku mengerti maafkan aku"

Jongin mengusap pucuk kepala Kyungsoo dengan gemas. Tanpa memperdulikan sosok Sehun yang sejak tadi memperhatikan mereka. Sesuatu dalam diri Sehun berteriak tidak suka melihat itu.

.

.

.

Kyungsoo mendesah tertahan saat merasakan bibir tebal Jongin bermain di pucuk dada nya. Bibir tebal nya mendesah kan nama Jongin beberapa kali dengan frustasi.

Kyungsoo meremas rambut Jongin dengan kasar. Jongin memang yang terbaik!

Jongin menjauhkan wajahnya dari dada Kyungsoo, sedikit menimbang dengan hipotesa yang menari di pikirannya.

"Kenapa?" Katakan saja Kyungsoo sedang high ia benar-benar menginginkan Jongin di dalam nya dengan keras dan kuat.

"Aku sedang berpikir.. apakah kau tidak mendapatkan siklus bulanan mu?" Jongin merendahkan tubuhnya, menatap Kyungsoo dengan intim. Melesakan hidung nya untuk menyentuh hidung bangir Kyungsoo.

"Aku telat 2 bulan, tapi tidak masalah. Aku terbiasa dengan ini ketika sedang stress. Kau tahu, tidak mudah menjadi anak teknik"

Balasan polos Kyungsoo membuat tubuh Jongin menegang.

Katakan saja kejantanan nya sudah menegang sempurna sejak tadi. Ketegangan kali ini bukan berasal dari nafsu seksual nya.

"Kau tidak pernah mencoba testpack?" Secercah harapan bagi Jongin.

"Test.. apa? Astaga. Aku melupakan itu, bagaimana bisa aku melupakan kemungkinan aku hamil. Sedang kita bercinta dalam kurun waktu yang sering."

Kyungsoo mencoba mendorong tubuh Jongin yang semakin melesakan tubuhnya semakin rapat. Bibir tebal Jongin menyentuh bibir hati Kyungsoo. Jongin melesakan ciuman nya yang disambut hangat dengan lidah Kyungsoo yang membelai halus permukaan bibir Jongin. Seakan tidak mau kalah, Jongin menyesap bibir atas dan bawah Kyungsoo secara bergantian. Tangan kiri nya melesak ke dalam selangkangan Kyungsoo. Membelai lembut sesuatu di balik sana yang terbalut dengan celana dalam.

"Kita akan check kehamilan mu esok hari. Saat ini biarkan aku menyelesaikan apa yang harusnya aku selesaikan"

Jongin melepaskan satu-satunya kain yang melekat pada tubuh Kyungsoo dengan paksa, membuka lebar paha Kyungsoo.

Jongin menyatukan bagian selatan keduanya dalam sekali hentakan. Kyungsoo menjerit tertahan. "Kau suka pada Oh Sehun?" Jongin tidak lantas menggerakkan tubuhnya. Nafsu nya berkata untuk bergerak dengan keras, tapi hatinya perlu meyakinkan ini.

"Apa? Tidak tentu saja. Kami bahkan tidak begitu kenal" balas Kyungsoo frustasi. Miliknya sudah sangat siap, tapi Jongin tidak juga bergerak. Dengan inisiatifnya, Kyungsoo memaju-mundurkan bagian selatannya. Jongin yang menyadari hal itu, menggenggam erat kedua tangan Kyungsoo. Semakin melesakan miliknya pada Kyungsoo semakin dalam, membuat Kyungsoo tidak bisa menggerakkan tubuhnya.

Tubuhnya gatal, ia ingin menggerakkan tubuhnya berlawanan dengan Jongin.

"Jong, berhenti main-main. Aku ingin kau bergerak diatas tubuhku. Atau aku yang bergerak diatas tubuhmu. Kau benar-benar menyiksaku"

"Semua tergantung jawaban yang kau berikan." Jongin menjeda sedikit "Katakan, jika suatu saat Sehun merayu mu apa kau akan tergoda"

"Tidak bodoh. Selama aku terikat pernikahan aku tidak bisa bersama pria lain."

"Meskipun Sehun tampan?" Jongin semakin merayu nya dengan semakin menempelkan dadanya. Pucuk dada Kyungsoo semakin menegang sempurna, kaki nya mengangkang lebar saat Jongin menjauhkan miliknya dan menghentak nya hanya dalam sekali hentakan.

"Persetan. Persetan dengan itu! Aku mau kau!" Kyungsoo mendesah frustasi.

Jongin tersenyum samar, melesakan bibirnya pada bibir Kyungsoo. Menghisap bibir Kyungsoo dengan kasar, Kyungsoo melenguh tertahan saat Jongin menggenggam kedua jarinya dengan intim. Bagian selatan nya mulai bergerak dengan irama teratur. Jongin menjauhkan bibirnya dari Kyungsoo, menatap wajah Kyungsoo dengan intens. Memperhatikan bagaimana bibir hati itu mendesah kan namanya. Bagaimana mata Kyungsoo menatap nya sayu penuh nafsu. Bagaimana Kyungsoo mengalihkan perhatiannya saat Jongin menatapnya intens.

"Nikmati hadiahmu" Jongin semakin menusukan batang nya dengan dalam. Tangan yang semua menggenggam tangan Kyungsoo kini telah bergerilya menggerayangi bagian dada Kyungsoo. Memelintir putingnya dengan keras. "Asssshh, hngggh" tubuh Kyungsoo terhentak hentak dibawah Kungkungan Jongin.

"Jangan tutup matamu, lihat mata mu padaku" Kyungsoo membuka matanya dengan wajah memerah nafsu. Jongin menggeram tertahan saat Kyungsoo mengigit bibir bawahnya sensual.

Jongin ingin dia yang mengigit bibir Kyungsoo.

.

.

.

Positif.

Bergaris dua berwarna merah.

Itulah yang menyambut pagi Kyungsoo. Setelah Jongin memaksanya untuk mencoba lima buah testpack yang dibeli nya dengan brand berbeda. Semua nya menghasilkan hasil yang sama.

Positif.

Kyungsoo menatap testpack ditangannya dengan tangan bergetar. Dalam lubuk hatinya ia sangat senang, tapi terbesit sedikit perasaan takut.

"Soo-ya, kaluarlah. Kau sudah 30 menit di dalam sana. Kau tidak berniat memakan testpack itu kan?"

Salah satu kekhawatiran nya adalah Jongin. Bagaimana jika Jongin tidak menerima anak yang dikandungnya.

Kyungsoo membuka pintu kamar mandi dengan perlahan. Kyungsoo hanya memakai jubah mandi berwarna putih miliknya, jubah itu hanya menutupi setengah paha nya dan memamerkan leher jenjang dan bagian atas dadanya yang dipenuhi tanda berwarna merah pekat, dan beberapa tanda berwarna ungu hampir pudar.

Terimakasih pada Kim Jongin. Kali ini turtleneck untuk Kyungsoo (lagi)

"Positif" Kyungsoo seraya menyerahkan hasil kelima testpack nya. Kyungsoo menundukkan kepalanya takut. Tidak siap menerima respon yang tidak diinginkannya.

Jongin menatap testpack itu dengan pandangan berkaca-kaca.

Jongin kecil nya sedang tubuh di perut Kyungsoo. Anaknya. Darah dagingnya.

Jongin menarik Kyungsoo kedalam pelukannya. Mencium pucuk kepala Kyungsoo dengan membabi buta.

"Aku berjanji akan memperlakukan mu dengan sebaik mungkin. Kita akan besarkan anak ini dengan baik. Kita akan menjadi orangtua yang terbaik. Aku berjanji"

"Tapi, bagaimana dengan kontrak itu?"

"Tidak ada kontrak tertulis dan itu tidak ada artinya lagi. Kau hanya perlu menjadi istri yang baik "

.

.

.

"Ingat, kau adalah istriku. Kau tanggung jawabku. Jangan matikan ponsel, jangan bermain game sendirian, jangan pergi sendirian." Jongin mewanti-wanti Kyungsoo saat hendak akan pergi ke kelasnya. Kali ini tugas mengantar jemput Kyungsoo kuliah menjadi tugasnya.

Kyungsoo hanya menganggukkan kepalanya seperti kucing yang menurut pada majikannya.

.

Jongin melingkarkan syal ungu miliknya pada leher Kyungsoo. Nampaknya musim gugur kali ini cukup dingin. "Pakailah. Lepaskan ini saat di dalam kelas. Jangan lupa untuk tetap hangat. Minta petugas kantin untuk membuat air jahe." Jongin yang perhatian membuat Kyungsoo semakin bingung dengan hatinya.

"Waaaaah, baby gurl. Apa yang baru saja kulihat? Seorang pangeran yang memakaikan syal hangatnya pada permaisurinya?" Itu Jongdae. Dengan suaranya yang jauh dari kata pelan. Dapat Kyungsoo pastikan beberapa pasang mata menatapnya geli. Double sialan Kim Jongdae.

Jongin hanya balas mengerling pada Jongdae. Jongin merendahkan tubuhnya dan mengecup singkat bibir Kyungsoo. "Aku pergi dulu. Jangan lupa untuk tetap mengabariku."

Jongin berbalik dan memasuki mobilnya tanpa kata. Wajah Kyungsoo sudah memerah dengan sempurna.

"Fuck! Apa yang kulihat tadi? Pasangan mesum di pagi hari?" Terimakasih kepada saudari Byun Baekhyun untuk nada 6 oktafnya.

Jongdae terkikik geli "Kalau kau menyaksikan adegan lainnya sejak awal kuyakin kau akan muntah di tempat"

Kyungsoo menenggelamkan wajahnya pada permukaan syal, wajah dan telinganya memerah kontras dengan warna kulitnya.

"Aigoo, mari hentikan ini. Kasihan sekali pengantin baru kita tersipu."

Baekhyun merangkul pundak Kyungsoo dan menggiring nya ke kelas mereka.

.

Baekhyun menatap sangsi pada Kyungsoo dengan alis terangkat tidak percaya "Kau yakin untuk melewati ramyeon super pedas ini?" Tanya Baekhyun untuk yang kelima kalinya.

"Entahlah Baek, aku merasa mual membayangkan ramen."

"Hell yeah. Kyungsoo bilang ia muak pada ramyeon?" Tanya Baekhyun memastikan.

"Kau hamil?" Itu Jongdae.

Kyungsoo terdiam dalam beberapa detik "Ya, kelima testpack yang kucoba tadi pagi semuanya positif" jawaban Kyungsoo sontak membuat Baekhyun menyemburkan bubble tea nya.

"Fuck. Bagaimana bisa?" Baekhyun semakin mendramatisir.

"Tentu saja bisa, saat kau selalu menghabiskan malam panas dengan suami mu setiap hari. Berapa banyak sperma yang masuk ke dalam mu" keringan Jongdae membuat Baekhyun mual.

"Aku tidak tahu, semuanya terjadi secara tiba-tiba. Aku bahkan tidak merasakan mual. Aku hanya mual pada beberapa jenis makanan saja."

"Wah, sperma Jongin terbaik." Sekali lagi, terimakasih Jongdae.

"Katakan padaku, apa milik Jongin besar?" Kyungsoo bersemu merah mendengar pertanyaan Baekhyun "Ya, milik Jongin besar." Jawaban Kyungsoo sontak saja membuat Jongdae dan Baekhyun tertawa terpingkal.

"Aah, aku jadi ingin segera melamar Min-seok Noona"

"Katakan itu pada seseorang yang selalu memblokir panggilan mu"

.

.

.

Baekhyun menekan tombol merah pada panggilan yang ditampilkan di layar ponselnya.

Park Chanyeol.

Park Chanyeol terus menghubunginya tanpa lelah. Baekhyun tidak kuasa untuk memblokir panggilan Chanyeol. Katakan lah Baekhyun masih mengharapkan Chanyeol.

Kelas sudah berakhir sejak satu jam yang lalu, dan Baekhyun masih di dalam kelasnya.

Kyungsoo sudah pulang sejak tadi, Jongin menjemput nya langsung. Sejak berita kehamilan Kyungsoo, Jongin menjadi lebih perhatian dari sebelumnya. Bahkan Jongin membeli 3 PC gaming untuk dimainkan Jongdae dan Baekhyun, alasannya agar Kyungsoo tidak pergi diam-diam ke tempat perentalan lagi.

Jongdae? Jongdae bilang "aku akan memperjuangkan cinta sejati ku, calon ibu dari anak-anakku"

Setidaknya Jongdae memang bukan pria dengan semangat yang lembek, Jongdae benar-benar berusaha semampunya meluluhkan hati noona psikiatrik itu. Kyungsoo bahkan memberi saran pada Jongdae untuk berpura-pura menjadi pasien Min-seok saja.

Semangatnya yang tidak pernah padam, sama seperti semangat pria yang matanya terfokus pada layar ponselnya. Rambutnya yang semua merah menyala kini di cat hitam dengan memperlihatkan kening nya yang sialan nya sangat tampan.

Kaki panjangnya dibalutkan ripped jeans belel, perlu Baekhyun koreksi. Ripped jeans itu terlalu banyak memiliki sobekan, bahkan sampai paha atasnya. Pada bagian atasnya, pria itu mengenakan Hoodie navy bertuliskan Adelaide University yang dipadukan dengan jaket kulit hitam.

Baekhyun sedikit meringis, selera pakaian Chanyeol sama buruknya dengan Kyungsoo.

Iya pria itu Chanyeol.

Hatinya sedikit terketuk menyadari udara Seoul hari ini cukup dingin. Ripped jeans chanyeol tidak mampu menghangatkan tubuh jangkungnya.

"Baek" suara basa itu mampu membuat Baekhyun meleleh seperti mentega diatas panggangan. Baekhyun melangkahkan kakinya melewati Chanyeol tak acuh. Dalam hati Baekhyun sedikit menyesal tidak mengenakan earphone nya.

"Baek, dengarkan aku." Chanyeol menarik tangan Baekhyun, membalikan tubuhnya untuk menghadapnya.

"Aku mengikutimu selama seminggu ini dan tidak ada pria lain selain si wajah kotak itu, kau tidak benar-benar berkencan dengan pria lain bukan?" Tanya Chanyeol lirih.

"Pria itu Jongdae. Dia kekasihku." Baekhyun mencoba menghilangkan getaran dalam suaranya yang sepertinya sangat percuma.

"Kau yakin? Ku kira Jongdae tergila-gila padan Kim minseok" seringai Chanyeol menghiasi wajah tampannya.

Baekhyun melangkah pergi setelahnya, lorong kampus sudah sepi karena ini memasuki jam malam. Hanya beberapa mahasiswa yang berlalu-lalang menanti jam malam perkuliahan dimulai.

"Jangan tolak aku lagi, ku mohon." Chanyeol merengkuh tubuh Baekhyun yang berhasil ia tangkap. Dalam diam Baekhyun merasakan tubuh Chanyeol yang menghangat. Chanyeol demam.

Dalam hati Baekhyun menerka, sudah berapa lama Chanyeol menunggunya.

"Setidaknya berikan aku alasan yang jelas mengapa kau selalu menolak ku." Chanyeol menjeda kalimatnya "aku benar-benar mencintaimu. Aku akan lebih trendy, aku akan menjadi lebih tampan. Jika kau minta aku melakukan operasi plastik aku akan melakukannya." Baekhyun terdiam "tolong jangan tinggalkan aku."

Katakan Baekhyun munafik.

Baekhyun berkali-kali menolak Chanyeol dengan jelas. Baekhyun berkali-kali mengabaikan Chanyeol.

Tapi Baekhyun tidak bisa menolak Chanyeol saat Chanyeol menatap manik matanya dengan tatapan penuh cinta.

Baekhyun tidak mampu menolak ciuman hangat dan panjang Chanyeol.

Baekhyun tidak bisa berhenti mengeluh saat Chanyeol meninggalkan tanda kepemilikan di beberapa bagian tubuhnya. Baekhyun tidak bisa berhenti mendesah saat Chanyeol mengigit putingnya keras.

"Kondom?"

Chanyeol menggeleng pelan. "Aku tidak membawanya, kau hamil lebih baik. Kita akan menjadi keluarga yang bahagia."

"Dengan kondom atau tidak sama sekali?" Chanyeol mendesah pasrah. Baekhyun menunjukan laci meja kecantikannya. Tersembunyi diantara kotak pembalut, ada satu box kondom rasa strawberry.

Benar-benar Baekhyun. Sampai kondom pun rasa strawberry.

Chanyeol kembali ke atas ranjang Baekhyun. Baekhyun nya sudah siap terlentang dengan paha yang terbuka lebar. Tapi Chanyeol masih saja berdiam diri.

Nafsu Baekhyun sudah di atas kepala. Baekhyun menarik Chanyeol dan membuatnya terlentang diatas ranjangnya. Baekhyun menaiki Chanyeol. Memasukan batang tegak nya ke dalam miliknya.

Ini bukan kali pertama mereka berhubungan badan, tapi rasanya tetap sama. Besar bagi Baekhyun.

Ketat bagi Chanyeol.

Baekhyun memejamkan matanya saat batang tegak berurat milik Chanyeol memasukinya dengan sempurna. Tapi Chanyeol tidak juga bergerak.

Baekhyun menempatkan kedua tangan nya diatas dada bidang Chanyeol sebagai sanggahan tubuhnya, sedikit menungging. Baekhyun menggerakkan tubuhnya ke atas dan kebawah dengan tempo yang teratur. Dengan tidak dapat Baekhyun tahan kala batang keras panjang Chanyeol menyentuh nya sangat dalam.

Chanyeol menatap Baekhyun penuh nafsu.

Bagaimana tubuh Baekhyun bergerak diatas nya. Bagaimana kedua tonjolan itu bergerak ke atas dan ke bawah. Bagaimana desahan Baekhyun seakan memprovokasi nya untuk bertindak lebih jauh.

"Baekhyun, sebenernya kita ini apa?"

.

.

.

TBC

HEHE