Chapter 8 : That Memories
Title : That's Should Be Mine
Pairing : Meanie (Mingyu and Wonwoo)
Cast : Seventeen member
Rating : NC-17
Genre : Angst, Violence, Smut, Rape, Romance
Long : Chaptered
Chapter : 8/?
Note :
Minggu yang melelahkan dengan pekerjaan yang menumpuk.. sodara-sodara, adakah yang nungguin lanjutan cerita ini? Uweh, si Wonwoo di cerita ini jadi kayak orang gila ya, tiba-tiba ilang ingatan dan trauma berkepanjangan. Tapi, ya begitulah, namanya juga cerita mau dibikin kaya apapun terserah penulisnya.
And Happy 5821 subscriber for me... setelah melalang buana dalam jangka waktu yang tidak sebentar, dengan pairing yang kebanyakan antimainstream, akhirnya total subscriber author sudah melebihi 5000. Lalalala #joged2 gaje. Bagian ini nggak usah dibaca, nggak penting juga.
Sampai jumpa di chap berikutnya, secepatnya... warning! Ini pendek banget!
.
.
THAT MEMORIES
Wonwoo bangun di pelukan Mingyu dan dia tersenyum bahagia. Walaupun semalam kekasihnya melupakan hari jadian mereka, tapi tak apalah yang penting toh Mingyu sudah meminta maaf. Sekarang yang penting adalah Kim Mingyu berada di sisinya dan memeluknya. Jari jemari Wonwoo membelai perlahan wajah kekasihnya itu sambil terus terpana. Kenapa ada manusia setampan Mingyu yang sudah membuatnya jatuh hati.
Pemuda yang tengah menikmati kedamaian yang tergambar di wajah Mingyu terkejut ketika si empunya wajah terbangun. Tangan kirinya bebas mengusap-usap kelopak matanya yang masih terasa berat. Namun, sekejap saja dia tersenyum melihat Wonwoo ada di hadapannya.
"Morning."
"Morning Gyu."
"Kau sudah lama bangun?"
"Ani, paling-paling baru lima menit."
"Apa yang kau lakukan?"
"Mwo?"
"Apa yang kau lakukan tadi sebelum aku terbangun? Apakah kau diam-diam memandangi wajahku yang tampan ini?" Mingyu meledek Wonwoo yang langsung saja memerah mukanya.
"Gyu, bagaimana kau bi-."
"Bisa tahu? Tentu aku bisa tahu Wonwoo hyung. Aku kan hanya tidur, tidak mati. Aku bisa merasakan jari-jarimu yang lentik ini menyentuh pipiku," Mingyu menarik tangan Wonwoo dan mulai menciumi buku-buku jarinya satu persatu membuat Wonwoo menunduk karena malu.
"Gyu, hentikan," sekarang seluruh muka Wonwoo benar-benar merah karena malu. Malu karena telah mencuri pandang pada kekasihnya dan telah mengambil kesempatan dalam kesempitan saat sang kekasih terlelap.
"Wae? Mian kemarin aku melupakan hari jadian kita. Bagaimana kalau kita merayakannya sekarang? Kebetulan aku sedang tidak ada jadwal pemotretan? Eotte?" Mingyu memegang tangan kanan Wonwoo yang sedari tadi sibuk memainkan kuku-kuku di tangan kirinya.
"Maksudmu Gyu?"
"Aish, kemarin kau mengamuk padaku karena lupa akan hari jadian kita. Sekarang aku menawarimu untuk pergi kencan, dan kau berlagak bingung seperti ini?" Mingyu mem-pout-kan bibirnya.
"Gyu, kau benar-benar mengajakku kencan?"
"Tentu. Untuk apa aku berbohong? Cepatlah mandi dan kita segera berangkat!" Wonwoo yang kegirangan hendak meninggalkan Mingyu sendirian, namun sang senior menarik tubuh sang junior ke dalam pelukannya dan menciumnya singkat sambil melemparkan senyuman jahil membuat yang dicium kembali tersipu,"My morning kiss."
.
.
Wonwoo POV
Setelah masuk ke kamar mandi aku langsung menyalakan keran air dan membasuh tubuhku. Aku senang bukan kepalang karena Mingyu mengajakku pergi kencan hari ini. Thanks God karena Kau telah memberikan aku kekasih yang benar-benar mencintaiku. Saat aku sibuk menyabuni tubuhku, kepalaku tiba-tiba terasa pusing dan sekujur tubuhku merinding. Aku merasa ada tangan-tangan tak terlihat yang menggerayangi tubuhku dan membuat sekujur tubuhku serasa lemas tak bertenaga.
Tangan-tangan itu mencoba menjamah bagian kemaluanku seiring dengan bertambah sakitnya kepalaku. Kedua tanganku secara refleks mencengkeram kepala dan sedikit menjambak rambutku yang basah. Karena sangat sakit aku berteriak,"Arrrghhhh."
Tangan tak terlihat itu mengocok kemaluanku dengan sangat cepat dan hal itu membuatku semakin tak sadarkan diri. Setelah beberapa saat penyiksaan itu, kurasakan ada seseorang yang sedang memelukku erat dari belakang, namun ketika aku berbalik tidak ada siapa-siapa di belakangku. Tangan itu kembali meraba dadaku dan sekarang bermain dengan nipple ku.
Sakit di kepalaku sama sekali tidak membantu keadaanku kali ini. Aku kembali berteriak saat kurasakan ada sesuatu yang menusuk lubangku,"Arrrrrghhhhhh." Aku terjatuh dan terduduk di lantai kamar mandi. Air dari shower masih terus membasahi tubuhku membuatku semakin menggigil.
"Wonwoo…. Wonwoo hyung," samar-samar kudengar suara seseorang dan derap langkah kakinya.
Aku masih memegangi kepalaku saat ku dengar bunyi pintu kamar mandi berderit terbuka. Aku mencoba melihat siapa yang datang, tapi pandangan mataku terasa kabur. Aku hanya melihat sesosok bayangan yang secara tergesa-gesa mendekatiku dan selanjutnya semuanya gelap.
Aku terbangun dan melihat sekelilingku ada Jiseok couple dan Mingyu. Mereka semua terlihat khawatir dengan keadaanku, hal itu terlihat jelas saat mereka mengetahui bahwa aku sudah siuman.
"Hyung, kau baik-baik saja?" Mingyu segera membantuku untuk duduk.
Aku melihat bahwa sekarang aku sudah mengenakan piyama yang kurasa milik Jisoo hyung.
"Gwaenchana."
"Wonwoo-ya, kau sudah membuat kami semua khawatir," Jisoo duduk di samping tempat tidur dan menepuk-nepuk tangan kananku.
"Wonwoo hyung, sebaiknya hari ini kau istirahat di sini dulu," Seokmin mengusulkan.
"Benar kata Seokmin, ada baiknya kau istirahat saja dulu," Jisoo menambahi.
"Tapi aku dan Mingyu ma-."
"Kita bisa pergi lain kali. Sekarang yang terpenting adalah kesehatanmu."
"Tapi Gyu, aku baik-baik saja."
"Hyung, dengarkan kata-kataku. Bagaimana kau bisa mengatakan kalau kau baik-baik saja kalau tadi saja kau pingsan di dalam kamar mandi? Aku janji kita bisa pergi lain kali," mendengar Mingyu berkata begitu membuat air mataku menetes.
"Gyu, tak bisakah kita pergi hari ini? Aku mohon."
"Kenapa menangis?" Mingyu menarik tubuhku ke dalam pelukannya dan menepuk-nepuk punggungku.
"Gyu, aku tidak kenapa-napa. Jangan batalkan acara kita. Pleaseee…," aku berusaha membuatnya berubah pikiran. Aku tidak ingin hari ini hanya tiduran di kasur saja. Aku ingin pergi jalan-jalan dengan Mingyu. Sudah lama kami tidak pergi kencan karena Mingyu selalu sibuk dengan pemotretannya.
"Arraseo, kita akan pergi hari ini. Tapi, katakan padaku kalau kau merasa kurang sehat ne?" dia memberikan tatapan yang hangat dan kemudian mengecup lembut dahiku.
"Yaksok," aku mengulurkan jari kelingkingku padanya yang disambut dengan jari kelingkingnya yang mengait dan senyuman khasnya.
End of Wonwoo POV
.
.
Mingyu POV
Jari-jariku tengah sibuk membuka-buka handphoneku yang sedari kemarin terlantar dan tak tersentuh sama sekali. Kulihat ada tiga puluh satu miscall dari orang tuaku dan puluhan pesan lain yang langsung saja kuhapus tanpa kubaca. Di saat tengah sibuk membersihkan handphone ku dari sampah-sampah, kudengar teriakan dari dalam kamar mandi.
Wonwoo.
Aku langsung berlari ke dalam kamar mandi dan kutemukan Wonwoo sudah tergeletak di lantai sambil memegangi kepalanya. Segera saja kubopong tubuhnya ke atas kasur dan kupakaikan piyama. Setelah itu aku berlari ke ruang tamu dan kudapati Seokmin yang sedang menikmati secangkir kopi ditemani Jisoo di sampingnya.
"Guys, Wonwoo pingsan," mereka langsung menatapku sesaat kemudian berlari ke arah kamar.
"Ada apa Gyu?" Seokmin bertanya padaku yang hanya bisa menggelengkan kepala.
"Aku tak tahu. Aku mendengar Wonwoo berteriak dari dalam kamar mandi dan saat aku mendatanginya dia sudah pingsan. Kedua tangannya memegangi kepalanya. Apakah ini ada hubungannya dengan amnesia yang dialaminya?"
"Gyu, bagaimana kalau kita hubungi dokter saja? Aku khawatir terjadi hal yang serius dengan Wonwoo. Bagaimana kalau kita telat memberikan penanganan?" sang gitaris menatap khawatir pada padaku.
"Baiklah. Baby tolong telepon dokter Kang sekarang juga," dengan tenang Seokmin memerintahkan kekasihnya untuk menelepon dokter kepercayaan mereka.
"Ne," ucap pemuda berwajah manis itu.
"Mingyu-ya, kau tidak melakukan hal-hal aneh lagi kan?" Seokmin menatapku curiga.
"Oh God, Seok. Aku tidak melakukan apapun padanya. Aku hanya melakukan perintah kalian. Aku hanya berusaha menjadi kekasih yang baik untuknya. Kalau kau pikir aku melakukan kekerasan seksual lagi padanya, kau salah," aku berusaha meyakinkannya kalau aku tidak tahu apa-apa.
"Bagus kalau begitu, tapi apa yang sebenarnya terjadi pada Wonwoo hyung? Kenapa dia bisa tiba-tiba pingsan?"
"Apa mungkin kalau ingatan Wonwoo kembali?" seperti mendapat pencerahan kemungkinan itu tiba-tiba saja meluncur dari mulutku.
"Mungkin juga," sahabatku itu hanya memandang Wonwoo yang terbaring lemah di atas kasur.
Lima belas menit kemudian Dokter Kang datang dan segera memeriksa keadaan Wonwoo. God, semoga tidak terjadi hal-hal yang serius pada Wonwoo. Ya, walaupun amnesianya sudah merupakan hal yang parah, tapi semoga tidak ada hal buruk lain yang terjadi padanya. Aku tidak ingin kalau dia semakin menderita. Dia sudah terlalu banyak menderita karena ulahku, jadi kumohon berikanlah dia kebahagiaan.
Selesai melakukan pemeriksaan, Dokter Kang mengajak kami mengobrol di luar. Kami duduk di ruang tamu dengan perasaan tegang dan mencoba menebak-nebak apa yang akan dibicarakan oleh Dokter Kang.
"Hm, keadaan fisik pasien sebenarnya tidak terlalu parah. Bahkan bisa dikatakan kalau dia baik-baik saja. Tapi, kalau kalian mengatakan bahwa dia lupa ingatan, sebaiknya kalian membawanya ke rumah sakit. Kami perlu melakukan pemeriksaan pada kepalanya dan untuk menghindari hal-hal yang lebih serius, kita harus bergerak cepat."
"Baiklah dok kami akan membawanya ke rumah sakit sesegera mungkin," Seokmin menyetujui usulan Dokter Kang.
.
.
TBC
