Disclaimer : I own nothing. All cast in this fic belong to God and their self. Hanya fic ini yang murni punya saya, Jung Hyun Hyo ^^ Don't copy without permission, please!
Main cast : - Jung Yunho
- Kim (Jung) Jaejoong
Warning : Genderswitch, OOC, OC, AU, typo(s). So, if you DON'T LIKE, DON'T READ! NO BASHING!
.
.
.
Chapter 8 : Heal
Yunho menguap saat keluar dari lift. Badannya lelah sekali. Sepulang dari rumah sakit, ia langsung mendapat telepon dari sang direktur. Untung ia tidak langsung disuruh bekerja. Bisa-bisa Yunho langsung pingsan saking capeknya. Dasar agensi tidak punya perasaan.
"Yunho! Hei!" teriak Min Na dari belakang. Yeoja berambut pendek sebahu itu berlari mengejar Yunho dari tangga.
"Ada apa? Tidak usah teriak juga aku dengar kok." jawab Yunho santai.
Gemas, Min Na memukul pelan belakang kepala Yunho –membuat namja itu meringis pelan. Bagaimana tidak, Min Na memukulnya dengan sebuah tablet putih yang lumayan tebal.
"Kau mau kemana?" tanya Min Na. Ia sedikit kesusahan menyejajarkan langkahnya dengan namja di sampingnya. Kaki Yunho yang panjang menyulitkannya. Min Na mendengus kesal.
"Aku? Aku mau pulang, aku capek." Yunho menjawab dengan enteng dan mengarahkan kakinya ke pintu utama gedung agensinya. Matanya sudah berat sekali –ia lelah dan mengantuk.
"Hei, aku dengar ada artis baru loh. Namanya Shim Changmin. Ia tinggi, tampan, dan suaranya, huuuu ~ Ah, tidak ada apa-apanya dibandingkan denganmu." puji Min Na dengan mata menerawang indah.
Yunho mendengus. "Anak baru. Dia tidak akan mungkin bisa mengalahkanku."
Min Na menyipitkan matanya kesal ke arah Yunho. "Disitulah masalahnya! Aku lihat dari sebuah data di internet, lagu si Changmin ini lebih banyak di download daripadamu dalam satu hari!"
Yunho mengibaskan tangannya. "Tenanglah."
Giliran Min Na yang mendengus, lalu ia ikut keluar di belakang Yunho saat namja itu mendorong pintu maget tersebut. "Terserah. Pokoknya aku sudah mengingatkan. Aku tidak mau tahu kalau direktur marah dan berkoar padamu. Kalau kau tidak bekerja lebih keras sekarang, siap-siap saja tersaingi."
Yunho dan Min Na terdiam heran saat ada seorang laki-laki dengan jaket bertudung menghampiri mereka berdua. Perawakannya tinggi dan besar. Dan sesuatu yang tidak terduga terjadi. Orang itu meneriakkan nama Yunho dan meninjunya.
DUAGH!
Min Na mematung. Otaknya blank. Tapi tidak ia pungkiri bahwa jantungnya berhenti berdetak sejenak melihat namja yang tidak dikenal itu meninju Yunho.
"S-si.. Si abeoji.." lirih Yunho saat Kangin meninju pipinya.
Eh? Si abeoji? Berarti.. Ahjussi itu mertua Yunho dong? Jangan-jangan.. Masih berkaitan dengan Jaejoong? Min Na mengernyit heran. Ia berusaha mengingat nama mertua Yunho –kalau tidak salah, namanya Youngwoon– namun ia tidak punya waktu lama untuk berpikir. Youngwoon-ahjussi sudah kembali menonjok Yunho.
BUAGH!
Yunho meringis kencang saat kepalan tangan Kangin menghantam hidungnya. Ia seperti mendengar bunyi 'krak!', disusul dengan rasa sakit yang luar biasa pada pangkal hidungnya membuat Yunho yakin kalau hidungnya sudah patah –atau minimal ada tulang yang bergeser. Oh Tuhan, sekujur tubuh Yunho lemas saat hidungnya mulai mengeluarkan air mata. Sakit. Sakit. Kepalanya pusing.
Bruk.
Tubuh lemas Yunho akhirnya merosot jatuh, sehingga posisinya sekarang adalah berlutut di hadapan mertuanya –dengan Kangin yang meremas erat kerah kemeja Yunho dan kepalan tangan di atas kepala, siap meninju lagi.
"Kyaaaaaaa!"
Itu suara teriakan yeoja. Tapi itu bukan suara teriakan Min Na. Tidak. Min Na adalah yeoja yang –bisa dibilang– pengecut. Ia akan membatu kalau ada pertikaian yang pecah dihadapannya.
Teriakan itu adalah teriakan Jaejoong.
Jaejoong –dengan perut besar dan dua lapis jaket berlari mendekat ke arah Yunho, Kangin, dan Min Na. Yeoja itu reflek berteriak dari jauh ketika ayahnya meninju wajah Yunho –suaminya. Dengan perut yang bergolak karena takut, Jaejoong lekas berlari ke Yunho dan langsung berdiri di sebelahnya.
"J-jangan appa, kumohon.." mohon Jaejoong seraya menahan tangan ayahnya. Kangin yang wajahnya semula sudah merah karena marah, makin merah seperti kepiting rebus. Amarahnya sudah di ubun-ubun.
"J-jae?" Yunho terpana melihat sang istri yang berdiri di hadapannya dan menyelamatkan dirinya dari siksaan Kangin. Ia menelan ludah dan sedetik kemudian, Yunho memeluk kedua tungkai kaki panjang Jaejoong. Benar-benar memeluknya. Erat dan mengunci.
Mata Jaejoong menghangat. Ia sungguh ingin menangis sambil memeluk Yunho.
"MENJAUH DARI ANAKKU!" teriak Kangin.
PLAK!
Min Na terkesiap ketika Kangin menempeleng kepala Yunho dari belakang, membuat hidung Yunho –yang mungkin patah– bertabrakan dengan lutut Jaejoong. Yunho berteriak kecil. Oke, ini sudah keterlaluan!
"Cukup, Youngwoon-ssi, kita bisa bicarakan baik-baik di dalam. Kalau kita bertengkar di sini, akan ada –"
"AKU TIDAK PEDULI SEANDAINYA DIA MENUNTUTKU!"
"Demi Tuhan, Youngwoon-ssi! Yang ada, kalau kita berkelahi seperti ini, justru kita semua yang akan dijebloskan ke dalam penjara! Kumohon, Youngwoon-ssi!" sahut Min Na kencang.
Kangin mengatur nafasnya yang terengah-engah. Lalu ia menjawab singkat. "Baik. Kita bicara dimana?"
Min Na gelagapan sejenak, namun ia masuk kembali ke kantor agensi mendahului Kangin. Kangin cepat-cepat menarik tangan Jaejoong, tapi Yunho masih tetap memeluk lutut Jaejoong. "MINGGIR!" ancam Kangin keras. Min Na buru-buru memaksa Yunho melepas pelukannya, lalu membantu namja itu berdiri seraya masuk ke dalam kantor agensi. Ia tidak ingin ada adegan tinju lagi di hadapannya.
.
.
.
Jaejoong melirik ruangan yang tadi ia beserta ayahnya kunjungi. Dari kaca, Jaejoong bisa melihat Yunho masih berlutut. Yah, Yunho berlutut. Ia meminta izin pada Kangin agar membiarkan Jaejoong kembali padanya. Tapi tentu saja Kangin menolak. Yunho sampai berlutut memeluk lutut Kangin, namun ternyata tidak semudah itu. Yunho bergeming. Ia bahkan tidak bergerak saat darah segar menetes –meluncur deras dari sudut mulut dan hidungnya layaknya air. Jaejoong membekap mulutnya. Ia sungguh tidak tega melihat suaminya seperti ini.
Kangin secara tidak sengaja sudah keceplosan bahwa ia sudah pernah menghajar Yunho setelah Jaejoong menghilang. Dan itu cukup membuat dada Jaejoong serasa ditohok. Sakit rasanya mengetahui orang yang kau sayang dihajar, bahkan oleh keluargamu sendiri –meskipun itu berarti keluargamu menyayangimu.
Selama berbicara di dalam tadi, Jaejoong dirangkul erat oleh ayahnya dan mereka berdua duduk jauh dari hadapan Yunho. Jaejoong sendiri tidak berani mendongak –ia terus menunduk. Ia takut. Dan setelah menyampaikan sejuta semburan caci maki sebagai bentuk kemarahan, Kangin menggamit tangan Jaejoong pergi dan
Jaejoong menelan ludah dan mendorong pintu magnet di hadapannya. Satu tangan ia selipkan ke belakang pinggang untuk menahan perutnya yang tiba-tiba saja terasa pegal. Yunho masih diam, bahkan ketika pintu tertutup dan Jaejoong sudah sepenuhnya masuk. Tatapan Yunho tetap fokus pada ubin putih di bawahnya.
"Yunnie.." sahut Jaejoong pelan seraya menepuk pundak Yunho. Ia lalu ikut berlutut di samping suaminya. Yunho mendongak mendengar suara lembut Jaejoong. Suara yang selama ini selalu ia rindukan. Suara yang setengah mati selalu Yunho bayangkan sebelum tidur. Ia terperangah.
"J-Jae!" Yunho berseru kencang dan menghambur memeluk Jaejoong. Memeluk istrinya. Kulitnya yang seputih susu dan halus –meski terbungkus jaket tebal. Menghirup dalam-dalam wangi yang terkuak dari rambut dan leher Jaejoong. Enak sekali. Aroma tubuh Jaejoong selalu bisa menenangkannya.
Begitu pula dengan Jaejoong. Berpelukan dengan suaminya selalu bisa menjadi obat penenang paling efektif untuk tubuh dan pikirannya. Wangi tubuh maskulin Yunho membuat Jaejoong merasa Yunho ada dan ditakdirkan untuk bersama dengannya. Lengan kekar dan kuat Yunho yang selalu merangkul pundak atau memeluk Jaejoong membuat yeoja itu merasa bahwa Yunho selalu melindunginya.
Perasaan rindu mereka berdua benar-benar meluap dan membuncah.
Jaejoong dan Yunho saling bertatap-tatapan selama satu menit. Mereka menelusuri wajah masing-masing. Jaejoong dengan wajah tidak percaya dan sejuta eskpresi terkejut juga rindu dikedua bola matanya. Mata bulatnya menatap lekat mata Yunho yang berair. Philtrumnya yang merah karena darah. Dan juga pipi Yunho yang bengkak dan merah.
Jaejoong tertawa miris dan membelai pipi Yunho –membuat Yunho gila. Oh Tuhan, kapan tangan itu tidak pernah membuatnya mabuk? Sensasi hangat jemari itu selalu membuat Yunho merasa dicintai.
"Y-Yunnie t-tidak boleh menangis.." Jaejoong tersendat saat berbicara, karena sebenarnya ia sendiri pun sedang menahan tangisnya.
Yunho tidak mempedulikan kata-kata Jaejoong. Ia menghambur memeluk Jaejoong lagi –erat, seolah tidak mau melepas Jaejoong pergi. "Yunnie kangen Boo.." sahut Yunho jujur. Satu air matanya menggelincir turun –ekspresi kelegaan karena Jaejoong baik-baik saja. Entah apa yang dulu Jaejoong lakukan sehingga meninggalkan begitu banyak darah di kamar mandinya. Yang penting, sekarang Jaejoong ada di depannya, sehat dan baik-baik saja.
Tangis Jaejoong meledak. Di ceruk leher Yunho, Jaejoong menangis tersedu-sedu. Ia lega karena suaminya masih membutuhkannya. Ia bahagia Yunho merindukannya. Rasanya Jaejoong seolah baru dibebaskan dari ancaman hukuman mati.
"Aku juga kangen Yunnie.." lirih Jaejoong.
Yunho melepaskan pelukannya dan mengamati seluruh tubuh Jaejoong lekat-lekat. Sementara istrinya menunduk seraya terisak lirih, pandangan Yunho tertumbuk pada perut buncit Jaejoong. Yunho menghela nafas –membuat Jaejoong mendongak. Seketika, yeoja itu memucat mengetahui darimana arah pandang Yunho. Perutnya.
"K-kau tidak perlu mengakuinya kalau kau t-tidak mau, Yunnie.. T-tidak apa-apa, a-aku sanggup membesarkannya sendiri.." sahut Jaejoong gugup seraya memeluk perutnya dan kembali menunduk. Sepertinya ia takut Yunho akan kembali menyakiti anak mereka seperti dulu.
Yunho memejamkan mata sejenak. Sudah berapa lama ia dan Jaejoong berpisah? Kenapa perutnya sudah sebesar itu? Berarti anaknya masih hidup kan? Lalu..
Sebenarnya, kenapa Yunho benci sekali pada bayi itu? Oh, yeah, karena Yunho menganggap bayi itu pembawa kesialan dalam hidupnya. Kenapa begitu? Well, berapa kali Yunho kena tendangan dan dihajar Kangin karena bayi itu? Lalu, Yunho takut karirnya amblas seketika kalau orang-orang tahu perihal bayi itu. Kalau hanya Jaejoong saja sih, tidak apa-apa, toh ia bisa mengaku kalau Jaejoong adalah pacarnya yang sudah lama ia sembunyikan, tapi kalau bayi?
Tapi.. Adanya bayi itu juga karena Yunho kan?
Yunho menghela nafas dan membuka matanya. Mungkin, well, mungkin, sedikit demi sedikit, ia bisa mencoba mencintai bayi ini. Sebenarnya, bayi itu mungkin tidak begitu buruk. Hanya karena Yunho saja yang terus menerus mencaci makhluk tidak berdosa itu, makanya dosanya bertambah banyak dan kesialan bertubi-tubi datang menghampirinya –mungkin.
Perlahan, Yunho mengulurkan kedua telapak tangannya dan mengelus perut Jaejoong dari sisi samping. Ia mengelus dengan gerakan memutar –seperti yang biasa ia lakukan kalau mengelus pipi Jaejoong. Aneh, jujur saja, aneh rasanya. Perut Jaejoong besar dan buncit, seperti bola. Anak itu berada di dalam perut Jaejoong kan? Wajar dong, kalau Yunho tidak bisa merasakannya.
Jaejoong terperangah dan mendongak. Ia hampir serangan jantung karena tidak bisa percaya Yunho mengelus perutnya –menciptakan kontak lembut dengan bayinya. Mimpi? Jaejoong tidak yakin.
Yunho secepat kilat menarik tangannya ketika bola matanya bertubrukan dengan pandangan Jaejoong. Mereka berdua tersenyum salah tingkah. Namun Yunho merasakan sensasi aneh ketika melepaskan tangannya dari perut Jaejoong.
Rasanya.. Ganjil..
Penasaran, Yunho menempelkan lagi telapak tangannya ke perut Jaejoong. Dan ia terlonjak. Bayinya menendang! Yunho mengedip shock dan menjauhkan tangannya perlahan. Jaejoong tertawa kecil. "Itu barusan appa-mu, sayang.." ujar Jaejoong seraya mengelus perutnya. Ia tersenyum lembut.
Hei, ada apa ini?
Kenapa Yunho seakan mendapat dorongan untuk mengelus perut Jaejoong lagi?
Kenapa Yunho tiba-tiba ingin anaknya merespon tangannya lagi?
Kenapa Yunho merasa bahagia saat anaknya menendang dari dalam perut Jaejoong, seakan mengatakan 'halo' pada Yunho?
Kenapa.. Ya ampun, ada apa dengan Yunho?
BRAK!
"Kau.. Sudah berani menipuku, eoh?" tanya Kangin geram. Ia marah sekali. Tadi sebelum naik ke mobil, Jaejoong meminta izin untuk ke toilet sebentar, namun tidak disangkanya bahwa Jaejoong menemui bedebah ini!
"KITA PULANG!" sahut Kangin marah. Dengan kasar, ia menarik pergelangan tangan Jaejoong –membuat anaknya mau tidak mau berdiri.
"A-ah, sakit, appa.." sahut Jaejoong lemah.
Yunho mengerjap ketika Jaejoong diseret pergi dari hadapannya. Dengan cepat, Yunho meraih selipat kertas dari saku jaketnya dan menunjukkan pada Jaejoong. Itu kertas dengan tulisan Jaejoong.
Jaejoong terperangah. Sedetik kemudian, Jaejoong mengangguk.
Yunho tertawa kecil ketika Jaejoong menghilang dari pandangannya. Sakit di hidungnya tidak ia rasakan lagi, meski ia masih merasa perih saat hidung itu tidak sengaja tersenggol saat ia mengusap darah di philtrumnya.
"Aw!"
.
.
.
BRAK!
"Kau bodoh atau tidak punya otak, Jaejoong? Eh? Sudah jelas laki-laki itu bejat, kenapa kau masih mau menemuinya?" teriak Kangin kencang. Ia mendorong tubuh Jaejoong kasar ke atas tempat tidur. Leeteuk yang belum tidur karena cemas menunggu Jaejoong dan Kangin yang tiba-tiba menghilang langsung keluar dari kamarnya dan berlari ke kamar Jaejoong. Ia lantas terperanjat menemukan Jaejoong yang terbaring ditempat tidur dan kakinya yang tertekuk ke lantai –membuat perut buncitnya terlihat jelas.
Astaga, apa yang..
PLAK!
"Kangin! Jangan!" Leeteuk berteriak histeris ketika suaminya menampar Jaejoong. Ia mati-matian menahan tubuh Kangin yang seperti hendak menampar Jaejoong lagi. Sang anak hanya bisa meringis pasrah di tempat tidur seraya memegangi pipinya yang luar biasa panas. Ternyata tamparan sang appa cukup kuat, mirip dengan tamparan Yunho. Gusinya berdenyut-denyut. Oh, Jaejoong sungguh ingin menangis lagi.
"JAWAB AKU, JAEJOONG! KENAPA KAU MASIH MAU MENEMUINYA? APAKAH KAU TIDAK TAHU KALAU UMMA-MU CEMAS MENUNGGUMU SEMALAMAN, HAH?"
Jaejoong diam. Teriakan Kangin yang begitu menggebu-gebu sama sekali tidak ia respon. Ia takut menatap mata ayahnya yang berkilat marah. Lagipula ia sama sekali tidak punya keberanian untuk menjawab.
Pasti Kangin akan semakin berang kalau Jaejoong bilang ia masih mencintai Yunho. Apa yang akan terjadi kalau ia mengatakannya? Sungguh, Jaejoong tidak berani membayangkannya.
"DENGAR, JAEJOONG!" Kangin menuding Jaejoong tepat di depan hidungnya dengan jari telunjuknya. Amarah Kangin meluap-luap. Seandainya Jaejoong adalah anak laki-lakinya, Kangin tidak segan untuk meninjunya sekali lagi.
Tapi Jaejoong perempuan. Dan ia sedang hamil.
"AKU TIDAK AKAN PERNAH MENGIZINKAN KAU MENEMUI LAKI-LAKI ITU LAGI! AKU TIDAK SEGAN MEMBUNUHNYA KALAU MELIHAT KAU BERSAMA DENGANNYA!"
Deg!
"A-appa.." sahut Jaejoong lirih. Dadanya sesak sekali mendengar Kangin mengucapkan kata 'bunuh' untuk Yunho dengan entengnya. Air mata mulai melesak keluar dari belakang mata Jaejoong. Kenapa rasanya dunia bahkan menentang Jaejoong untuk mencintai Yunho? Tidak adakah yang bisa mengerti perasaannya?
Dengan wajah memerah dan nafas memburu, Kangin keluar dari kamar dengan langkah berdebum –kesal. Kangin lalu membalikkan badannya dan berkata dingin kepada Jaejoong. "Aku tidak akan pernah memaafkannya, kecuali ia bersujud minta maaf di kakiku. Aku bahkan baru tahu, laki-laki seperti itu bisa dimaafkan." Sang appa lantas berbalik dan pergi.
Cukup.
Kata-kata Kangin begitu tajam dan mengiris-iris relung hati Jaejoong. Tidak tahan lagi, ia akhirnya terisak pelan. Leeteuk –yang sudah menangis terlebih dahulu, membantu membangunkan tubuh Jaejoong dan mendudukkannya ditempat tidur. Jaejoong bergeming. Tetes air mata bening masih menuruni pipinya, namun ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
Dengan mata terpejam, Jaejoong menyandarkan tubuh dan kepalanya ke dinding di belakangnya. Ia sudah tidak merasakan apapun saat ini. Hanya sakit, sakit, dan sakit yang memeluknya erat.
Apa ada yang lebih buruk daripada ini?
Kalau ada, Jaejoong sungguh berharap hal itu bisa menimpa dirinya. Well, supaya dirinya mati lebih cepat.
She is totally desperate right now. Sungguh, mungkin akan lebih baik kalau Ia cepat-cepat mengambil nyawa Jaejoong. Tidak ada hal lain yang Jaejoong pikirkan selain mati saat ini. Lebih cepat lebih baik.
"Joong-ie.." Sahutan lembut Leeteuk menyadarkan Jaejoong dari pikirannya yang melayang-layang jauh. Jaejoong membuka matanya dan menemukan Leeteuk tengah menatapnya penuh sayang dengan mata merah dan sembap. Melihatnya, mata Jaejoong juga memanas. Tanpa ia sadari, setetes air mata jatuh lagi dari mata doe-nya.
"Joong-ie, jangan pikirkan ucapan appa tadi ya..? Appa cuma.. Appa hanya sedang lelah dan banyak pikiran, jadi.." Alasan yang lemah, Jaejoong tahu itu. Leeteuk bahkan tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Sang umma hanya berusaha supaya ia tidak stress dan berdampak pada bayinya. Jadi, untuk menyenangkan hati Leeteuk, Jaejoong mengangguk lesu.
"Sakit?" tanya Leeteuk prihatin seraya mengelus pipi lembut Jaejoong. Pipi bulat itu merah oleh bekas layangan telapak tangan Kangin. Jaejoong menggeleng pelan. Leeteuk tersenyum miris dibuatnya –ia tahu Jaejoong berbohong.
"Kamu istirahat ya?" sahut Leeteuk seraya merapikan selimut tempat tidur di kaki Jaejoong –berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya saat ini. Jaejoong masih bergeming. Ia hanya mengangguk pelan dan menggigit bibir bawahnya. Tahu bahwa ucapannya –sepanjang apapun– tidak akan direspon Jaejoong, Leeteuk menghela nafas.
Jaejoong tidak mau berkata apapun lagi. Ia tahu itu percuma. Tidak akan ada yang mendengarnya. Yang ada, dunia malah akan semakin membencinya. Jaejoong menerawang kosong pada selimut yang ada di pangkuannya.
"Malam, sayang." Setelah mengecup kening Jaejoong, Leeteuk tersenyum lembut dan keluar dari kamar Jaejoong.
Jaejoong diam. Bergeming –tidak bergerak satu inci pun. Bibirnya terkatup rapat. Otaknya dipenuhi bayangan dan nama suaminya –Jung Yunho.
Sepersekian detik kemudian, Jaejoong mendengar Kangin berteriak keras.
"APA YANG KAU LAKUKAN? MENGINTIP, EOH? KENAPA KAU BELUM TIDUR, KIBUM? KAU BESOK SEKOLAH! JANGAN JADI ANAK YANG MENYUSAHKAN!"
'Jangan jadi anak yang menyusahkan!'
'Jangan jadi anak yang menyusahkan!'
'Jangan jadi anak yang menyusahkan!'
Kalimat itu terngiang di telinga dan otaknya. Rahang Jaejoong mengeras. Ribuan air matanya tumpah dalam sejenak. Yeoja cantik itu menunduk. Dialah anak itu. Jaejoong-lah anak yang menyusahkan itu. Tidak mungkin Kibum, kan? Siapa lagi?
Perasaannya? Campur aduk didominasi perasaan sedih dan kecewa pada dirinya.
Meneteskan air mata, Jaejoong tertunduk sendu, membuat beberapa helai rambutnya jatuh anggun disamping pipinya. "Aku tidak akan menjadi anak yang menyusahkan lagi," lirih Jaejoong seraya menghapus air matanya dengan punggung tangan.
Jiwa Jaejoong kosong melompong seketika itu juga.
.
.
.
Cklek.
"Eonni?"
Jaejoong yang masih bergeming dalam posisi yang sebelumnya hanya melirik sekilas ke arah pintu. Namun tidak menjawab.
Kibum masuk dengan berjingkat-jingkat. Ia menutup pintu di belakangnya perlahan –tidak mau membangunkan KangTeuk –orangtuanya yang mungkin saja sudah tidur. Bisa-bisa ia kena semprot lagi, seperti tadi.
AC yang benar-benar dingin dan membeku langsung menerjang kulit putih Kibum yang tidak terbalut piyama tidur. Telapak kakinya serasa menjejak es saat menapaki ubin putih kamar kakaknya.
"Eonni, belum tidur?" tanya Kibum lembut seraya menyentuh lengan Jaejoong. Jaejoong yang merasa lengannya disentuh hanya melirik sekilas. Mulutnya terbuka mungil untuk berbicara, namun otaknya sudah memerintahkannya untuk diam supaya ia tidak menyusahkan Kibum.
"Eonni?" tanya Kibum bingung. Kakaknya yang satu ini memang pendiam, berbeda dengan Heechul yang cerewet, namun Jaejoong pasti berekspresi kalau melihatnya. Jaejoong adalah yeoja yang sangat menghargai lawan bicaranya, minimal ia pasti akan menatap mata Kibum sambil tersenyum. Bukan diam tanpa ekspresi seperti ini.
"Eonni, kalau eonni marah pada appa, aku.. Aku minta maaf atas nama appa.." sahut Kibum tulus. Ia tahu sang appa tidak akan pernah mau mengakui kesalahan dan minta maaf kalau ia tidak merasa salah. Dan sifat jelek itu menurun pada kakak tertua Kibum.
Jaejoong masih bergeming. Ia hanya mengedip pelan saat Kibum mengucapkan perwakilan maaf itu. Otaknya terus meraungkan kata 'menyusahkan', membuatnya takut mengucapkan satu huruf pun.
Takut? Oh ya, Jaejoong takut. Takut semuanya hancur kalau kalimat yang keluar dari bibirnya akan menghancurkan segalanya.
"Jaejoong eonni?"
"Jae eonni!"
"EONNI!"
Jaejoong masih tetap diam, bahkan setelah Kibum mengusiknya berkali-kali. Raut wajahnya tenang, seolah tidak terganggu sama sekali karena tindakan Kibum.
Gemas, Kibum menyentakkan tangan Jaejoong dan memutar tubuh kakaknya. Lekat-lekat ia tatap kelereng coklat bulat di mata kakaknya. Dan Kibum bergidik.
Tidak ada ekspresi apapun di mata Jaejoong.
Kosong.
Hampa.
Kibum merinding. Tanpa benar-benar memikirkan hukuman apa yang akan diterimanya kalau ia membangunkan kedua orangtuanya, Kibum berlari keluar kamar Jaejoong dan berteriak.
.
.
Sang dokter berperawakan tinggi mengangkat kedua kelopak mata Jaejoong. Namun Jaejoong bahkan tidak berkedip ketika nyala sebuah senter kecil itu menyorot matanya.
Setelah beberapa pemeriksaan –termasuk pemeriksaaan kandungan Jaejoong, akhirnya yeoja dengan berlogat Jepang itu menyimpulkan.
"Jaejoong-ssi shock berat." ucap sang dokter tegas.
Untuk sedetik, tidak ada satu pun dari Kangin, Leeteuk, maupun Kibum yang mampu menarik nafas.
Kasarnya? Jaejoong 'gila'. Mentalnya terguncang hebat.
.
.
.
TBC
A/N : Annyeong ~ ^^
Maafkan Hyo yang belum bisa menghadirkan Review Reply di chap ini TT^TT
Tapi, seperti biasa, Hyo janji Review Reply akan ada di chapter depan ;)
Oke. Ada yang mau percakapan Yunho-Kangin-Jaejoong?
Silakan direview untuk menjawab ^^
*Hyo*
