Chapter sebelumnya;

"..." tidak ada jawaban dari Hinata. Hinata hanya menangis.

Naruto menatap iba pada gadis manis itu. "Aku tahu kau gadis yang baik. Tapi seharusnya kau memikirkan resikonya terlebih dahulu." ucapnya. "Lihatlah dirimu. Kau hanya menyakiti dirimu sendiri." lanjut Naruto.

Hinata menggigit bibir bawahnya. "K-Kau benar, Naruto-kun.." ucap Hinata lirih, pasrah dengan keadaannya.

"Selama ini kau sudah berusaha dengan baik. Kau juga sudah melakukan semua yang kuperintahkan padamu. Dan kau masih belum membaik. Malah, semakin memburuk." ucap Naruto dengan nada bersalah. "Aku menyesal. Rencanaku untuk membuatmu lebih baik ternyata gagal. Dia jauh lebih berpengaruh padamu daripada diriku, ya." kekehnya.

Hinata menggeleng cepat. "Tidak.." ucapnya dengan suara pelan. "Bukan salahmu.. Hanya.. Hanya dia sudah kehilangan akal sehatnya. Dia benar-benar gila.." Hinata kini menyembunyikan wajahnya di antara kedua pahanya.

Naruto mengerti. Sangat mengerti. Sejak awal dia ingin menolong Hinata dan Sasuke. Tapi, dia tidak bisa menolong Sasuke. Bahkan tidak bisa menolong keduanya. Naruto merasa bersalah. Terlebih, karena Hinata harus menanggung akibatnya karena kesalahannya. Tidak, Naruto tidak bersalah. Hanya saja, dia sedikit terlibat.

"Naruto-kun.." panggil Hinata dengan suara pelan.

"Hm?" sahut Naruto.

"Apa..." Hinata tampak bingung. Sementara Naruto, dengan sabar dia menunggu sampai Hinata melanjutkan ucapannya.

"Apa sebaiknya aku menyusulmu saja? Aku sudah lama ingin mati."

Deg!


Apa aku sudah gila? Semua benar-benar tidak masuk akal!
©Characters; Masashi Kishimoto
©Story; coldheather

Naruto menggeleng pelan. Tidak. Gadis ini tidak boleh menyusulnya. Hinata tidak boleh mati. Dia harus tetap hidup dan menyelesaikan semua kekacauan ini.

"Kau harus tetap hidup, Hinata-chan. Aku tidak akan bahagia kalau kau menyusulku secara paksa." ucap Naruto. Kedua manik biru lautnya menatap gadis manis itu dengan tenang dan penuh perhatian.

"Aku tidak bisa seperti ini terus." tolak Hinata. "Atau aku akan ikut menggila!"

"Jangan berkata seperti itu. Semua yang kau khawatirkan belum tentu terjadi, Hinata-chan."

Hinata hanya terdiam. Jauh di lubuk hatinya dia setuju dengan apa yang diucapkan oleh laki-laki pirang itu. Tapi, dia juga mempunyai sisi lainnya yang ragu dengan ucapannya. Bagaimana jika apa yang dikhawatirkannya benar-benar akan terjadi? Bagaimana jika dia akan berakhir gila?

"Hinata." panggil Naruto.

"Um?"

"Jangan khawatir."

"Eh?"

Naruto menatap kedua manik amethyst Hinata dengan intens. "Akan kupastikan kau selalu aman. Karena itu, mulai sekarang, cukup sampai disini saja. Kau mengerti?"

Hinata tampak berpikir. Dirinya penuh keraguan. Dan Naruto sangat menyadari hal itu. "Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Aku akan membantumu."

Hinata menatap ragu, menatap kedua manik biru laut itu dengan tak yakin. Tapi perlahan-lahan, Hinata dapat melihat kepastian dari dua manik biru laut yang indah itu. Hinata mengangguk pelan. Dia mengiyakan ucapan Naruto.

"Baiklah, aku akan berhenti." ucap Hinata.

"Akan?" tanya Naruto, memberikan penekanan pada kata 'akan'.

"Um, maksudmu?" Hinata menatap bingung.

"Haha." Naruto terkekeh kecil. "Kau tidak akan berhenti, Hinata-chan. Kau SUDAH berhenti." ucapnya kembali memberikan penekanan.

Hinata tersipu malu. "M-maafkan aku!" serunya malu dengan kedua matanya yang terpejam, seperti tidak mau menatap lawan bicaranya. "A-aku sudah berhenti!"

"Baguslah, kalau seperti itu." Naruto tersenyum kecil. Eksistensi tubuhnya semakin menipis. "Aku pergi dulu. Beristirahatlah, Hinata-chan."


Kediaman Uchiha.

Sasuke perlahan-lahan membuka kedua matanya. Cukup lama Sasuke tertidur setelah kakaknya yang adalah seorang dokter membawanya pulang dan mengobati luka-luka akibat sayatan yang dilakukannya.

Pandangan Sasuke masih kabur. Seluruh benda di kamarnya terlihat samar. 'Ini, dimana?' tanyanya dalam hati, belum bisa menyadari kamarnya sendiri.

'Aku, tidak akan pernah meninggalkanmu, Sasuke. Seberapa buruknya dirimu.'

"Ugh..." Sasuke meringis. Kepalanya mulai terisi dengan ingatan-ingatannya tentang Sai.

'Kalau tidak bisa lebih baik jangan dipaksakan. Semua yang dipaksakan tidak akan bagus.'

'Naruto? Oh. Dia sahabatku. Kenapa?'

"..." Sasuke memejamkan kedua matanya, serta mengernyitkan dahinya. Tangan meremas ujung selimutnya. Sementar di luar kamarnya, Itachi tengah menelepon seseorang. Dilihat dari raut wajah Itachi, sepertinya dirinya dan lawan bicaranya tengah membicarakan sesuatu yang serius.

'Sasuke! Apa yang kau lakukan sudah keterlaluan!'

'Hentikan ini semua, Sasuke!'

'Kau tidak boleh mengambil sesuatu yang telah menjadi milik orang lain. Kau tidak boleh merebut kebahagiaannya!'

Sasuke kembali meringis. Ingatan-ingatannya itu membawa kepedihan sendiri bagi dirinya.

'Untukku? Kau tidak perlu melakukannya. Aku tidak suka bermain curang!'

Ingatan tentang ucapan-ucapan Sai membuat Sasuke semakin sedih. Entah kapan terakhir kali Sasuke mendengar kembarannya berbicara padanya. Sasuke ingin mendengarnya lagi, meski untuk yang terakhir kalinya.

'Sasuke, kau tidak perlu bertindak sejauh itu pada Naruto. Itu sudah menjadi haknya.'

"..."

'Sai?! Sai?!'

Sangat jelas di dalam ingatan Sasuke dimana Sai berlumuran darah. Pelipisnya robek, dan lengannya patah. Beberapa sendinya juga ada yang bergeser.

'Sasuke! Sudah berapa kali kukatakan? Kau tidak perlu bertindak sampai sejauh ini!'

Sasuke teringat saat dirinya dan Sai bertengkar. Entah apa yang mereka perkarakan, tapi sepertinya itu adalah perkara serius. Sai sangat marah di dalam ingatannya itu. Sementara Sasuke hanya memberikan ekspresi yang keukeuh dan tak akan menyerah.

'Kau membuatku gila, Sasuke.'

Ingatan-ingatan Sasuke bercampur aduk. Dari saat dirinya menemukan Sai dalam keadaan sekarat, kemudian mundur lagi ke saat dirinya dan Sai bertengkar, lalu kembali saat hubungan pertemanan mereka masih menyenangkan.

'Sasuke... K-Kau...'

'BUSUK.'

"ARGH!" Sasuke melonjak, terbangun dari posisi tidurnya. Busuk? Dirinya busuk? Terlebih, yang mengatakannya bukanlah orang lain, orang yang tak dikenal Sasuke. Tapi kembarannya sendiri!

Mendengar suara jeritan dari dalam kamar adiknya, Itachi segera memutuskan sambungan teleponnya dan bergegas memasukki kamar Sasuke.

"Sasuke, ada apa?!" pekik Itachi panik.

"Hhhhh.. Hhhhhhh... Hahhh..." terengah-engah, Sasuke kembali teringat di detik-detik sebelum Sai menghembuskan nafas terakhirnya. Itu adalah saat dimana Sasuke merasa jantungnya dihujam oleh ribuan pisau yang sangat tajam.

"Sasuke!" Itachi berlari mendekati tempat tidur Sasuke. "Ada apa? Kau mimpi buruk?"

"HHhhh... Hhhhh.. Hhh.." Sasuke masih terengah-engah. Keringat dingin semakin deras membasahi pelipisnya.

"Sasuke! Jawab kakak!" Itachi menaikkan nada suaranya, sambil mengguncang-guncangkan tubuh adiknya.

Sasuke menatap Itachi. "Kakak.. Aku tadi- NGH!" kedua manik hitam pekat Sasuke membulat sempurna. Tidak, bukan wajah panik Itachi yang membuatnya membelalak ketakutan. Tapi sosok kembarannya yang berdiri tepat di belakang Itachi dengan darah yang berlumuran di tubuhnyalah yang membuatnya ketakutan.

"ARGH!" Sasuke segera menutup kedua matanya dengan tangannya. "PERGI! PERGI KAU! KAU SUDAH MATI!" seru Sasuke sambil meronta.

Itachi menahan adiknya, berusaha untuk menenangkannya. "Tenanglah, Sasuke! Siapa yang kau maksud sudah mati?" tanyanya yang semakin memperkuat cengkeramannya.

"KAKAK, SAI KEMBALI! DIA SANGAT MENGERIKAN!" seru Sasuke yang masih meronta. Kedua tangannya tetap menutupi matanya.

"Apa yang kau katakan?! Tidak ada siapa-siapa disini selain kita berdua!"

"TIDAK! SAI DISANA! DI BELAKANG KAKAK!"

Cengkeraman Itachi semakin kuat. Dia berpikir adiknya benar-benar gila.

"AGH! LEPASKAN, KAK! SAKIT!" pinta Sasuke yang merasakan sakit di pergelangan tangannya. Pergelangan tangannya yang tersayat kembali mengeluarkan darah.

Itachi yang sadar akan sesuatu yang membasahi tangannya segera melepaskan cengkeramannya. Kedua matanya membulat cemas saat pergelangan tangan Sasuke yang beberapa hari lalu diobatinya kini kembali mengeluarkan darah.

"Kakak akan mengobatimu lagi-"

"Kakak jangan pergi!" pinta Sasuke. "Aku takut dengan Sai yang sekarang. Dia tidak sama seperti Sai yang dulu." racaunya.

Itachi meringis mendengar racauan adiknya. Apa yang sebenarnya diucapkan oleh adiknya itu?

"Sasuke, tenanglah. Kau hanya berhalusinasi." Itachi menenangkan adiknya.

"Aku tidak berhalusinasi!" pekik Sasuke. Sasuke menunjukkan sayatan di pergelangan tangannya pada Itachi. "Apa kau lihat ini, kak? Kakak pikir siapa yang melakukannya?!"

Kedua manik hitam pekat Sasuke kembali menatap ke sekeliling kamarnya dengan was-was. Dia takut kembarannya akan menampakkan dirinya lagi padanya.

"Kakak, Sai kembali. Dia jahat dan dia pasti akan membunuhku!" ucap Sasuke semakin tak masuk akal. "Dan dia pasti akan membunuh kakak, ayah, dan juga ibu!"

Ekspresi wajah Itachi terlihat tak tenang. Dia menggeleng pelan, tidak percaya dengan kondisi adiknya saat ini. "Seharusnya aku menuruti ucapan ibu." ucap Itachi.

"Huh? Apa maksudmu, kak?" tanya Sasuke bingung.

"Seharusnya kau memang tidak disini."


Gadis pirang berkuncir empat itu telah menunggu di depan pintu kelas Shikamaru. Dia menunggu murid berambut nanas itu keluar dari kelasnya. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Sesuatu yang membuatnya mulai tidak nyaman.

"Apa kau sudah lama menunggu?" tanya Shikamaru yang baru saja meninggalkan kelasnya.

"15 Menit." jawab Temari ketus.

"Maaf, deh. Kakashi sensei tidak masuk. Jadi kami mendapatkan tugas pengganti." Shikamaru menjelaskan.

"Tidak apa. Aku tidak terlalu peduli." ucap Temari.

"Lalu, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Shikamaru langsung ke intinya. "Ayo kita ke kantin. Kita akan bicara sambil istirahat."

Kantin sekolah. Shikamaru dan Temari duduk di kursi paling pojok sambil menunggu makanan mereka datang. Mereka berdua sengaja mencari tempat duduk paling pojok agar tidak ada murid lain yang menguping. Sambil menunggu, Temari memulai pembicaraan.

"Apa Neji sudah memberitahu kalian? Tentang dia dan Naruto?" Temari memulai pembicaraannya, sambil menatap tajam es jeruk di hadapannya.

"Sudah." jawab Shikamaru. "Awalnya aku tidak percaya dengan ucapan Neji. Tapi melihat tingkahnya akhir-akhir ini, semua yang diucapkan Neji sangat masuk akal." lanjutnya dengan kedua lengannya yang disilangkan. "Memangnya ada apa?"

"Apa saja yang sudah Neji beritahukan padamu?"

"Hmmm." Shikamaru mengingat-ingat ucapan Neji. Cukup panjang hingga dia harus merangkum ucapannya agar dirinya tidak perlu mengucapkannya panjang lebar. "Sebenarnya bagi 'Sasuke', Naruto itu masih hidup. Dan dia, umhh." Shikamaru mendehum pelan. Dia tampak tak ingin melanjutkan ucapannya. "Dia menganggap Naruto ada di antara kita bahkan saat kita sedang berbicara."

Temari masih terdiam. Tetapi ekspresinya sangat serius.

"Dia selalu tidak nyambung ketika diajak bicara. Terkadang dia memanggil kami pembunuh. Dia menyangkut-pautkan kami dalam kematian kembarannya. Padahal, kami hanya membantu."

"Hhhh." Temari menghela nafas cepat. "Kau tahu? Sebenarnya aku ingin berhenti sejak dulu. Hanya saja, aku kasihan padanya."

"Maksudmu?" Shikamaru mengerutkan dahinya.

"Kau ingat foto-foto Karin yang kutunjukkan padamu waktu itu?" tanya Temari dan mendapat sebuah anggukan dari Shikamaru. "Aku sangat ketakutan saat itu. Aku meletakkan 'tubuh' dan 'kepala' Karin secara terpisah. Masuk ke dalam toilet perempuan, dan membuatnya seolah-olah dia dibunuh di dalam toilet."

Shikamaru hanya mendengarkan setiap ucapan Temari. Dia mengerti dengan keadaan gadis itu. Melakukan semua hal itu tentu saja sangat berbahaya. Tidak secara fisik, tapi secara mental.

"Dan aku membantu semuanya. SEMUA! Dari Neji sampai Tenten. Orang itu benar-benar sakit!" gerutu Temari. Dia tampak kesal. Sangat kesal hingga membuatnya lebih sensitif dari biasanya.

"Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Kita semua tidak berarti apa-apa baginya." tanya Shikamaru tenang.

"Aku tidak tahu." jawab Temari singkat. "Tapi kurasa, kita harus serempak menyadarkannya. Kalau terus dibiarkan, dia akan membahayakan kita semua."

"Aku sudah tahu tentang itu." ucap Shikamaru. "Yang menjadi pertanyaannya adalah, bagaimana cara kita untuk menyadarkannya?"

Temari tampak berpikir. Dia setuju dengan pendapat Shikamaru. Benar, mereka memang harus menyadarkan Sasuke. Tapi bagaimana caranya agar sang Uchiha sadar?

"Hhhh. Tck." Temari berdecak. "Susah. Ini sangat susah." gerutunya. "Aku tidak yakin dia akan mendengarkan kita. Bahkan saat berbicara dengan kita pun sepertinya dia mempunyai dunianya sendiri. Kupikir itulah yang membuatnya terkadang tidak nyambung saat kita ajak bicara."

"Hm. Kau benar." Shikamaru mengangguk setuju. "Aku penasaran apa yang dia lihat saat kita berbicara dengannya. Apa kita mengucapkan sesuatu yang menyinggung di dalam imajinasinya? Dia sepertinya sangat membenci kita. Dan aksinya itu tak lain adalah bentuk kebenciannya pada kita. Dengan kata lain, dia hanya balas dendam."

"Untuk kematian orang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita?"

"Ya." jawab Shikamaru cepat. "Tapi, kita tidak sepenuhnya tak bersalah."

Mendengar ucapan Shikamaru, Temari melemparkan tatapan tajamnya. "Maksudmu?"

"Apa kau ingat? Kita salah memberikan alamat pada petugas rumah sakit."

Temari terdiam untuk beberapa detik, teringat dengan keteledoran mereka beberapa bulan lalu. Mereka salah memberikan alamat hingga membuat ambulans terlambat menyelamatkan kembaran Sasuke.

"Ah.. Kau benar." nada suara Temari melemah. "Kalau saja kita lebih berhati-hati, pasti dia masih bisa tertolong."

"Ya.." Shikamaru menghela pelan. "Tidak usah dipikirkan. Kita tidak bisa menyelamatkannya. Tapi kita masih bisa menyelamatkan kembarannya!"

"Apa kau yakin?" tanya Temari penuh sindir. "Ingat, kita bukan siapa-siapa di matanya. Dia tidak akan mendengarkan kita."

"Lalu apa kau mau diam saja dan membiarkannya semakin gila?"

"Tentu tidak!"

"Kalau begitu, jangan menyerah! Pasti ada cara lain."

"Contohnya?"

"Contohnya-"

"Permisi, pesanan kalian sudah jadi." ucap pelayan kantin sambil menata makanan-makanan sesuai pesanan.

"Selamat dinikmati."

Setelah selesai dengan tugasnya, pelayan kantin itu meninggalkan tempat duduk Shikamaru dan Temari. Shikamaru dan Temari menunggu hingga pelayan kantin itu berada cukup jauh dari tempat duduk mereka sebelum mereka melanjutkan percakapan mereka.

"Contohnya?" Temari mengulang pertanyaannya, membuat Shikamaru sedikit terkejut.

"Contohnya... Ugh." Shikamaru tampak berpikir. Dia belum mendapatkan rencana atau apa pun untuk menyadarkan Sasuke.

"Ugh." Shikamaru mendesah pelan. "Aku tidak tahu." ucapnya. "Aku masih belum tahu caranya."


Makan malam keluarga Uchiha. Sasuke terus menunduk. Bahkan saat menyuap makan malamnya pun Sasuke tetap menunduk. Tangannya terkadang terlihat bergetar. Serta mulutnya mencerna makanannya dengan gelisah. Seperti, ketakutan terhadap sesuatu.

Fugaku Uchiha, ayah mereka, merasa tidak nyaman dengan keanehan pada anak laki-lakinya itu. Kepala keluarga Uchiha itu sudah berhari-hari, bahkan berbulan-bulan mengawasi bungsu Uchiha tersebut. Memang ada beberapa keanehan pada anaknya itu semenjak kembarannya 'meninggal'. Fugaku mengerti akan hal itu. Tapi, keanehan Sasuke semakin menjadi, membuat sang kepala keluarga Uchiha semakin khawatir.

"Kau kenapa, Sasuke?" tanya Fugaku datar, membuat Itachi dan Mikoto ibu mereka menghentikan aktifitasnya.

"Ugh!" pekik Sasuke yang terkejut mendengar pertanyaan ayahnya. "Ah, aku-!" serunya gelagapan.

Sasuke kembali menunduk dengan cepat. Dia tampak ketakutan. Bibir bawahnya digigitnya, genggaman pada sumpit di tangan kanannya menguat. Dia melihat SAI berdiri di belakang ayahnya dengan keadaan yang sama persis seperti saat dia ditemukan tewas.

"Pergi..." gumam Sasuke pelan. "Kumohon pergilah..." lanjutnya.

Fugaku mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu, Sasuke? Siapa yang kau suruh pergi?"

Sasuke tidak menjawab. Dia masih ketakutan. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya yang gemetar.

Glup.

Matanya dipejamkan secara paksa, berharap kedua manik pekatnya tidak akan pernah terbuka untuk selamanya. Meski kedua maniknya terpejam, Sasuke masih dapat melihat sosok Sai yang terus menghantuinya. Entah untuk apa Sai menghantuinya, tapi yang jelas, Sasuke terlalu takut untuk mengetahui jawabannya.

"Hhhh." Fugaku menghela nafas panjang. Kedua lengannya disilangkan di depan dadanya. Pembicaraannya mulai serius. "Kau benar-benar harus dirawat." ucap kepala keluarga Uchiha itu. Dia menyerah dengan keadaan anaknya.

"AH!" Sasuke membelalakkan kedua matanya. Dirawat? Apa bagi ayahnya dia sedang sakit? Apa ayahnya pikir dirinya hanya berhalusinasi saat melihat sosok Sai yang menghantuinya? Tidak. Itu semua bukan sekedar imajinasi!

"Aku tidak setuju, ayah!" bantah Itachi yang sejak tadi diam. "Sasuke tidak gila. Dia tidak memerlukan semua itu. Biarkan dia disini bersama kita. Aku yakin dia hanya trauma." jelasnya.

"Apa kau tidak melihat bagaimana adikmu ini? Halusinasinya semakin parah. Dan omongannya semakin tidak jelas. Jika dibiarkan seperti ini mau jadi apa dia? Ayah tidak mau nama Uchiha menjadi buruk hanya karena kesalahan satu orang." tegas Fugaku.

"Ayah. Ini semua bukan kesalahannya. Aku yakin dia sendiri pun tidak mau mengalami trauma."

"Kenapa kau terus membelanya, Itachi? Kejadian itu sudah terjadi 5 bulan lalu dan kesadarannya jauh dari kata normal."

"Ayah, itu hanya-"

"Sejak kapan kau belajar untuk membantahku, Itachi?" potong Fugaku, membuat Itachi sedikit gemetar.

"Maafkan aku." Itachi menunduk, meminta maaf meski pun terasa berat di hatinya.

Sasuke menarik kursinya. Dia enggan melanjutkan makan malamnya. Kepalanya masih tertunduk, tanda jika sosok 'Sai' itu masih berada di tempat itu. Sasuke tidak mau sosok itu mengganggunya. Terlebih, keributan yang terjadi pada makam malam itu membuatnya kehilangan selera makan.

"Sasuke, kau-"

"Aku sudah kenyang, ayah." jawab Sasuke, lalu melangkah menuju kamarnya.

"Sasuke-kun, kembalilah. Jangan dipikirkan masalah itu, nak." kali ini giliran Mikoto Uchiha, ibu dari ketiga laki-laki itu yang angkat bicara.

"Ayah benar. Aku pasti berhalusinasi." ucap Sasuke.

"Sasuke-kun.."

"Aku akan istirahat." suara Sasuke terdengar bergetar. Dia terdengar sedih. Sedih, karena bahkan ayahnya sendiri pun menganggapnya gila. Padahal Sasuke dengan jelas melihat sosok Sai di belakang ayahnya. Sasuke tidak gila. Sai benar-benar ada. Dan dia masih berdiri di belakang kepala keluarga Uchiha itu, menatap punggung Sasuke yang menjauh dengan ekspresi yang tak dapat dijelaskan.


Lewat jam 12 malam. Masih di kediaman Uchiha.

Sasuke sudah terlelap dalam tidurnya. Pintu kamarnya perlahan terbuka, menampilkan sosok Itachi yang mengamati adiknya dalam diam. 'Keputusanku sudah bulat. Ayah akan mengirimnya untuk rehabilitasi.'

Lagi, ucapan ayahnya terngiang di kepalanya. Itachi meringis mengingat setiap ucapan dan setiap sindiran yang dilontarkan oleh ayahnya. Kepala keluarga Uchiha itu besikeras untuk mengirim anaknya ke pusat rehabilitasi. Sementara sang sulung Uchiha besikeras agar adiknya tetap tinggal bersama mereka.

"Hhhh." Itachi menghela nafas pelan. Dia tidak tega membiarkan adiknya sendirian di tempat asing seperti itu. Tapi, ucapan ayahnya tidak bisa dibantah. Sasuke akan segera dibawa ke pusat rehabilitasi.

Itachi menutup pintu kamar Sasuke, hendak meninggalkan adiknya sendiri. Tapi-

"ARGH!"

Sasuke berteriak, membuat pintu yang hampir tertutup rapat itu kembali terbuka dengan sedikit kasar.

"Ada apa, Sasuke?!" pekik Itachi panik. Lampu kamar Sasuke sudah dinyalakanya.

Sasuke berkeringat dingin. Nafasnya terengah-engah. Kedua manik hitamnya membulat, dan tubuhnya gemetar.

"Ada apa, Sasuke?!" Itachi kembali melontarkan pertanyaannya. Dia sudah duduk di tepi tempat tidur Sasuke.

Sasuke yang terengah-engah, menggeleng cepat. "Tidak, tidak. Ini bukan mimpi. Ini nyata, kak! Kau harus percaya padaku!" seru Sasuke, sedikit meracau.

"Kakak percaya padamu. Katakan pada kakak apa yang terjadi?" Itachi mencoba untuk menenangkan adiknya.

"Sai!" teriak Sasuke, nafasnya masih tidak terkontrol. "Sai tidur di sebelahku! Aku melihatnya! Wajahnya sangat pucat dan dia tersenyum padaku!"

Itachi sedikit meringis. Dia tahu adiknya hanya berhalusinasi. Tapi dia berpura-pura untuk percaya dengan apa yang adiknya katakan. "Apa yang dia lakukan padamu?" tanya Itachi.

"Dia.." Sasuke menunduk. Kedua tanganya meremas selimutnya. "Dia hanya tersenyum. Seperti.. Seperti ingin membunuhku!"

Sasuke menaikkan selimutnya, membuatnya menutupi sampai batas lehernya. Itachi hanya diam. Dia memilih untuk mendengarkan cerita adiknya daripada mengatakan yang sebenarnya padanya.

"Kakak, bisakah kau tidur denganku malam ini saja? Kumohon." pinta Sasuke yang semakin gemetar.

Melihat kondisi adiknya yang seperti itu, tentu saja Itachi tidak bisa menolak. Dia sangat sayang pada kedua adiknya. Dan dia tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada adiknya. Sasuke itu, bisa melakukan hal-hal yang berlebihan jika dia merasa terpojok.

"Baiklah. Malam ini kakak akan tidur denganmu." ucap Itachi sambil tersenyum kecil. Sang sulung Uchiha itu dapat melihat ekspresi lega dari adiknya itu.


Keesokan paginya. Sasuke membuka kedua kelopak matanya, mengumpulkan semua kesadarannya. Itachi sudah tidak ada di sebelahnya. Sasuke tahu itu. Kakaknya harus bangun pagi-pagi untuk bekerja.

Sasuke memilih untuk berada di tempat tidurnya sedikit lebih lama. Tubuhnya terasa lelah, dan enggan untuk digerakkan. Seperti tidak mau dipisahkan dari tempat tidurnya yang nyaman.

10 Menit sudah berlalu. Sasuke melewatinya hanya dengan menatap datar langit-langit di atasnya. Setelah merasa cukup, Sasuke pun beranjak ke kamar mandi. Tapi saat melewati cermin besar di kamarnya, Sasuke kembali merasa ketakutan.

"A-Apa ini?!" pekik Sasuke sambil meraba-raba wajahnya.

'Wajah ini...' Sasuke mengerutkan dahinya. Dia benar-benar takut.

Bagaimana Sasuke tidak takut? Pantulan dirinya di dalam cermin bukanlah pantulan wajahnya sehari-hari. Melainkan SAI!

"TIDAK, TIDAK, TIDAK. INI TIDAK MUNGKIN!" pekik Sai pada pantulan wajah Sai di dalam cermin.

"TIDAK MUNGKIN! TIDAK MUNGKIN!"

Sasuke mengambil pisau kecil dari dalam lacinya. Pisau kecil yang dia gunakan untuk menyayat pergelangan tangannya sendiri. "UGH!" ringisnya saat ingatan tentang dirinya yang menyayat pergelangan tangannya terputar di pikirannya.

Sasuke mengarahkan ujung pisau yang tajam itu pada tenggorokannya. Dia kembali berkeringat dingin. Tubuhnya gemetar, dan pikirannya kacau. Berkali-kali Sasuke mencoba mengancam sosok 'Sai' yang berada di pantulan cerminnya itu agar meninggalkannya, tapi Sai tidak mau pergi. Sai tetap terlihat di pantulan cerminnya.

"K-Kumohon... Sai..." ucapnya dengan nada bergetar.

"T-Tolong jangan ganggu aku..."

"Aku masih ingin hidup..."

"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud melakukannya."

"Aku..."

"!"

Kedua mata Sasuke membulat sempurna. Dia tampak marah. Sangat marah. "Ini semua karena kalian." ucapnya datar dan dengan nada suaranya yang berat.

"SEMUA KARENA KALIAN."

"SEMUA KARENA KALIAN."

"SEMUA!"

"KARENA KALIAN!"

SLASH!

"ARGH! HENTIKAN, SAI!"

"..."

"..."

"...-"

Brugh!

Tubuh Sasuke terjatuh lemas.

"Nghhh.."

Sasuke meringis saat darah segar mengalir dari lehernya yang dia gores secara cepat. Untung saja Sasuke tidak menggoresnya terlalu dalam. Jika dia melakukannya, Sasuke akan berhenti bernafas untuk selamanya.

Air mata mulai mengalir dari kedua pelupuk mata Sasuke. Sasuke menangis, menahan perih. "K-Kenapa..." gumam Sasuke pelan.

"Kenapa kau, TCK!"

"K-KENAPA KAU MELAKUKAN INI PADAKU, SAI?!"

TBC.

[ Maaf sekali karena updatenya lama. Author lumayan sibuk karena kerjaan. Thanks untuk semua yang sudah baca, review, dan membuat cerita ini menjadi favorite kalian ya! ]