Pair : Gaara x Tenten

Genre : Romance, Fantasy, a bit of Humor—might more or less than "a bit"

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto, She is a Psychic © Izumi Nairi :D

Rate : K+

Story's note : AU, court-centric, some out of character—I hope no…


She is a Psychic

Chapter 9

.

Pagi itu diselimuti cahaya matahari yang berpendar lemah di balik gelapnya awan. Kekaisaran Suna yang sejak beberapa hari lalu berada dalam bayang-bayang langit mendung yang kian hari kian berhawa dingin. Pepohonan yang sebagian besar sudah rontok daunnya karena terhempas angin, seolah menandakan sebentar lagi musim gugur yang sepi akan berlalu. Bagi Sang Kaisar, berarti mengantarkan musim yang lebih suram ke kekaisarannya.

Wajahnya masih sama datarnya seperti saat dia menatap sebuah gazebo di seberang kolam yang bening. Namun perlahan-lahan, matanya menunjukkan ekspresi yang bahkan dia sendiri tak mau mengakuinya. Dia sedikit bersyukur karena para pengawalnya berada jauh darinya, sehingga tak ada yang menyadari seperti apa wajahnya sekarang.

"Kau tampak khawatir, kalau aku tak salah lihat, Yang Mulia."

Dia menoleh.

"Oh, kau sudah datang," katanya hambar, detik itu juga mengubah air mukanya menjadi lebih tenang. "Kenapa lama sekali, Kiba?"

Lelaki berambut coklat itu mengernyitkan kening. Dia berjalan mendekati Sang Kaisar yang memperhatikan sebuah gazebo yang berdiri kokoh di seberang kolam di hadapannya. "Kau sudah menunggu sedari tadi?"

"Sejak aku menyuruh pelayanku menghubungimu, aku sudah berada di sini," jelas Gaara.

Kiba menelan ludah. Dia baru mau membuka mulut, sebelum sebuah pikiran terlintas di kepalanya, 'Akhir-akhir ini Gaara agak sedikit sensitif. Mungkin lebih baik aku tidak membela diri. Kalau tidak—aku tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi padaku nanti.' Akhirnya, dia hanya berkata, "Maafkan aku."

"Tidak apa-apa," kata Gaara datar. "Sekarang, kita ke sana? Aku kedinginan sekali."

Setelah melihat Kiba mengangguk, dia melangkahkan kakinya menjauhi taman itu. Diikuti oleh Kiba, dan pengawal yang sedari tadi hanya berdiri sambil menatapnya yang cuma berdiri diam, Gaara berjalan tanpa menyadari seseorang melihatnya dari kejauhan. Orang tersebut menunggu sampai seluruh pengawal Gaara menghilang, kemudian berjalan ke arah berlawanan.

"Kudengar mereka sama sekali tidak mau menjawab apapun yang kau tanyakan saat sebelum mereka masuk penjara?" Gaara membuka pembicaraan.

Kiba tidak langsung menjawab, melainkan menoleh ke kanan kirinya, seakan memastikan tak ada orang yang mendengar. Dan mengingat jarak antara mereka dan pengawal Gaara lumayan jauh, dia menjawab pelan, "Ya, seperti itulah."

"Apa alasannya?" tanya Gaara sambil mengernyitkan kening. "Apa yang mendasari mereka tidak menjawab pertanyaan semudah itu?"

"Tidak yakin," kata Kiba. "Mungkin kau bisa bertanya pada mereka kalau udah sampai nanti."

"Yah… mungkin saja." Gaara menghela napas panjang, sebelum kembali bertanya, "Kau sudah mengatakan pada kepala sipir kalau aku datang, bukan?"

"Iya. Tapi aku memperingatkannya untuk tidak mengatakannya pada siapapun, terutama ke pemerintahan. Aku khawatir akan terjadi sesuatu nantinya kalau ada orang tak diinginkan tahu tentang hal ini."

"Bagus sekali," komentar Gaara datar.

Kiba mengerucutkan bibirnya, namun detik berikutnya dia tersenyum tipis. "Aku penasaran sekali…" ujarnya sambil melirik Sang Kaisar, "apa yang akan kau tanyakan pada mereka."

Gaara hanya memutar bola matanya.

Mereka berjalan hingga sampai di sebuah lapangan yang luas. Di tengah lapangan itu berdiri sebuah bangunan kecil bercat putih. Meskipun dari jauh terlihat rapuh dan tidak aman, namun bangunan tersebut merupakan penjara terketat kedua di Kekaisaran Suna, di bawah penjara pengasingan di pulau kecil di sebelah timur Suna untuk penjahat kelas atas dan yang akan menerima hukuman mati. Di sampingnya tumbuh sebuah pohon beringin yang tumbuh sejak ribuan tahun yang lalu.

Gaara berhenti berjalan. Dia menoleh ke belakang, melirik bawahannya. Dengan nada datar dia berkata, "Kalian tunggu di sini, biar aku dan Kiba saja yang masuk. Ayo, Kiba."

"Iya, Yang Mulia," kata Kiba.

Gaara dan Kiba lalu berjalan menuju penjara Istana tersebut. Kiba sedari tadi hanya melirik Gaara, seakan mencoba menebak isi pikiran Sang Kaisar berwajah dingin tersebut. Namun makin lama dia melihat wajah Sang Kaisar, makin bosan dia. Akhirnya dia kembali menatap ke depan.

Di depan pintu besi tersebut berdiri tiga orang berbadan kekar dan bertampang menyeramkan. Seorang di antara mereka berdiri lebih ke depan, menandakan bahwa dia pemimpin mereka. Saat Gaara dan Kiba tiba di depan penjara, mereka bertiga langsung memberi hormat.

"Selamat pagi, Yang Mulia," kata lelaki paling depan sambil membungkuk dalam. "Selamat pagi, Inuzuka-sama."

Gaara mengangguk kecil, kemudian berkata, "Langsung saja, antarkan aku dan Kiba ke sel mereka, Iwashi-san."

Iwashi mengangguk, kemudian membuka pintu masuk penjara tersebut yang terbuat dari besi yang berlapis baja, sangat kuat dan berat. Terdengar suara berderit keras sekali, menandakan bahwa pintu tersebut jarang sekali dibuka. Dibantu kedua asistennya, butuh waktu cukup lama untuk Iwashi yang sekuat tenaga mencoba membuka pintu tersebut. Ketika pintu benar-benar terbuka, Iwashi menghela napas lega.

Gaara menoleh dan mengernyitkan keningnya, sementara Kiba dan kedua asisten Iwashi hanya menahan tawa melihat Iwashi yang salah tingkah dan membungkuk-bungkuk meminta maaf pada Sang Kaisar.

"Sudahlah," kata Gaara. "Lebih baik kita cepat."

Mereka memasuki ruang utama menuju ke penjara. Ruangan itu kecil, hanya ada sebuah meja, kursi dan almari di sana. Jendela yang menjadi jalan masuk sinar matahari berada di pojok atas ruangan itu sangat kecil dan tidak sepadan dengan besarnya ruangan. Ketika pintu masuk kembali ditutup, ruangan menjadi gelap dan suram. Iwashi menyalakan lilin di atas meja dan di dekat almari.

"Mereka menunggu di bawah," ujar Iwashi. "Apa saya perlu memanggil mereka ke atas, Yang Mulia?"

"Kita ke sana saja," jawab Gaara singkat. "Ayo."

Sebelum Iwashi memimpin Gaara dan Kiba ke ruang bawah tanah, dia mengambil lilin di atas meja. Lalu dia membuka pintu, yang di baliknya terdapat tangga yang dibuat berputar spiral ke bawah. Iwashi masuk duluan, diikuti oleh Gaara dan Kiba. Mereka bertiga menuruni tangga di balik pintu itu satu persatu.

"Kapan terakhir kali ada yang datang ke sini, Iwashi-san?"

"Tukang masak yang biasa mengantarkan makan ke sini datang dua kali sehari, Yang Mulia," kata Iwashi. Suaranya yang berbenturan dengan dinding yang sempit terdengar bergema. "Kalau untuk menjenguk tahanan, saya pikir tidak pernah ada yang datang.

"Penjara ini jarang digunakan, mungkin untuk tahanan sementara waktu dari Istana sebelum dikirim ke penjara di Maku, pulau kecil tempat penjara pengasingan dibangun," tambah Iwashi, "dalam sejarah saya berada di sini, Yamanaka Ino-san dan Yuhi Kurenai-san adalah tahanan terlama penjara ini. Saya sebenarnya bingung, apakah mereka akan tetap di sini atau dipindah ke penjara pengasingan."

Kiba menelan ludah.

"Iwashi-san, sepertinya bukan otoritasmu mempertanyakan hal itu," kata Gaara dingin, tapi dia tidak bisa menahan senyum. "Tapi aku yakin Kiba tahu jawabannya."

Tidak memikirkan perkataan Gaara yang pertama, Iwashi menahan tawa. Sudah menjadi rahasia umum kalau Kiba dan Ino memiliki hubungan khusus di Istana. Dan ketika Yamanaka Ino ditahan karena membantu 'pelarian' Kōgō-heika ke luar Istana, tidak ada satupun yang tidak penasaran seperti apa hukuman yang diberikan Kiba, selaku wakil kepala divisi pengadilan di Kekaisaran Suna, kepada gadis berambut pirang itu.

"Oh, ya, Kiba. Kapan terakhir kali kau menjenguk Yamanaka-san?" tanya Gaara.

Kiba terbatuk sejenak sebelum menjawab, "Ini yang pertama kalinya, Yang Mulia."

"Begitu?" Gaara mengernyit. "Aneh sekali, mengingat aku dengar kalian sangat dekat. Kuharap Yamanaka-san tidak terlalu kecewa dengan sikapmu."

Pipi Kiba memerah.

"Kita sudah sampai, Yang Mulia," kata Iwashi sambil membuka pintu kayu di depannya, kemudian masuk ke dalam.

Suasana di ruangan itu jauh lebih gelap daripada ruangan di atasnya, padahal hanya berjarak satu lantai. Penerangan hanya lilin yang terletak di atas meja yang berada di tengah ruangan tersebut. Sesaat Iwashi mencari tempat menggantung lilin yang dipegangnya sebelum Gaara dan Kiba masuk, sehingga ruangan menjadi sedikit lebih terang. Di sisi lain ruangan, dua orang perempuan berpakaian kimono putih kumal membungkuk memberi hormat pada mereka.

"Yang Mulia," ujar mereka bersamaan sebelum kembali menegakkan badan mereka.

Ruangan menjadi sunyi sejenak. Kemudian Gaara mengangguk dan duduk di kursi di depannya. Dia juga mempersilahkan yang lainnya untuk duduk.

"Saya akan menunggu di luar, Yang Mulia," kata Iwashi. Dia berjalan ke luar dan menutup pintu tanpa suara.

Gaara tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatap lurus ke arah kedua perempuan itu dengan tatapan datar. Sementara di sebelahnya, Kiba hanya mengatupkan bibirnya rapat-rapat sambil membuang muka. Dia setengah berharap tidak pernah mengusulkan untuk bertemu dengan para dayang Sang Permaisuri itu.

"Kalian pasti tahu," kata Gaara membuka pembicaraan, "kalau kedatanganku ke sini tidak hanya untuk mengunjungi mantan dayang Tenten-kōgō, Yuhi-san, Yamanaka-san. Aku ingin bertanya sedikit pada kalian."

"Kami bukan mantan dayang Sang Permaisuri. Kami masih dayangnya," kata Kurenai tajam.

Kiba dan Ino terlonjak kaget mendengar ucapan Kurenai yang terdengar tidak sopan, sementara Gaara tampak tenang-tenang saja.

"Begitukah?" kata Gaara dengan nada merendahkan. "Kalau kalian mengaku masih dayangnya, bukankah kalian harusnya masih berada bersamanya sekarang ini, dan bukannya duduk di hadapanku?"

"Kōgō-heika tidak ingin kami menjadi pelarian lagi, Yang Mulia. Dari awal memang beliau ingin ke luar dari Istana sendirian, dan tidak melibatkan kami berdua," bela Kurenai tanpa sadar. "Kōgō-heika adalah permaisuri terbaik yang pernah dimiliki oleh Kekaisaran Suna."

"Benarkah? Hanya karena dia adalah seorang cenayang, bukan berarti gelar 'permaisuri terbaik' berhak disandingkan padanya," ujar Gaara ringan. Nadanya riang dan mencemooh, tapi tatapannya dingin. "Apa yang dilakukan oleh permaisuri terbaik sekarang ini? Apakah permaisuri terbaik sekarang sedang bersenang-senang di kampung halamannya?"

"Kōgō-heika tidak akan pernah bersenang-senang seperti yang Anda katakan dengan nada merendahkan seperti itu, Yang Mulia," kata Kurenai menahan marah.'Aku tidak peduli lagi dengan siapa aku berbicara. Entah dengan Kaisar atau tidak, aku tidak peduli. Sudah cukup Kōgō-heika menjadi buronan Istana, sudah cukup dengan bahaya yang akan dihadapinya. Bahkan dengan dipenjaranya aku dan Ino-chan di sini, tidak akan sebanding dengan apa yang dirasakannya.'

"K-Kurenai-ba-san…" bisik Ino khawatir.

"Apa yang sedang kau lakukan, Gaara?" bisik Kiba tajam. "Hentikan bermain-main dan langsung tanyakan apa yang mau kau tanyakan pada mereka. Apa yang sedang kau pikirkan?"

Gaara tidak menggubris perkataan Kiba, melainkan hanya memandang perempuan berambut hitam itu dengan tatapan tenang. Dia sengaja berkata seperti itu untuk memancing emosi Kurenai agar tanpa sadar mengatakan semua informasi tentang Sang Permaisuri.

"Sekarang ini, mungkin Kōgō-heika sudah berada di Utara," sambung Kurenai dengan nada tinggi. Dia tidak menggubris perkataan Ino. "Tidak dapat saya katakan bagaimana khawatirnya kami terhadap keselamatannya di sana. Ada pemberontak, ada ribuan prajurit yang berjaga di sana. Belum lagi dengan prajurit yang ditugaskan mencarinya. Kalau tidak ada Neji-sama yang menemaninya, mungkin Kōgō-heika bisa tertangkap kapan saja, atau bahkan—"

Kurenai berhenti berkata. Dia menutup mulutnya rapat-rapat dengan jemarinya yang kurus. Matanya melebar, menampakkan iris matanya yang semerah darah saat menatap ketakutan ke arah Gaara. Bukan soal ucapan yang dia lontarkan pada Gaara, melainkan…

"Tenten… dengan seorang lelaki?" tanya Gaara kaku, melupakan sikap merendahkannya seperti beberapa waktu lalu. "Neji… Hyuuga Neji? Sepupu Hinata-sama?"

Ino menoleh ke arah Kurenai yang tampak merasa bersalah sekali. Bahu wanita itu sudah bergetar hebat, dan dari mulutnya keluar segala permohonan maaf, entah ditujukan kepada Gaara yang sekarang mematung atau kepada Sang Permaisuri.

"I-Ino-chan… maksudku, Yamanaka Ino," panggil Kiba. Meski dia masih kaget dengan pernyataan Kurenai, namun dia harus tetap melaksanakan tugasnya. "Begini, kami datang ke sini untuk menanyakan tentang Kōgō-heika."

Ino menoleh ke arah Kiba dengan tatapan lemah.

Kiba menghela napas berat sebelum kembali melanjutkan, "Sekarang, jawab aku. Aku hanya ingin memastikannya saja, karena anak buahku sudah melihat permaisuri memasuki gerbang perbatasan. Ke mana permaisuri pergi?"

"K-ke Utara... rumahnya, " jawab Ino. "K-kupikir tidak ada lagi gunanya diam, mengingat Kurenai-ba-san sudah mengatakannya. Dan kau juga berkata anak buahmu melihatnya."

Kiba merasa pertanyaannya terdengar bodoh sekali. Dengan hati-hati, dia bertanya lagi, "Lalu… apa yang akan dilakukan Kōgō-heika di sana? Maksudku, apa yang direncanakannya?"

"Kōgō-heika—" Ino berhenti sejenak sambil melirik Kurenai. Namun tampaknya Kurenai masih shock, jadi akhirnya dia tetap berkata, "Kōgō-heika berkata, beliau berniat untuk mencari siapa dalang di balik pemberontakan yang terjadi di utara. Beliau berkata, ingin membantu Tennō-heika."

Kiba mengangguk mengerti. "Tapi, kenapa dia berpikir seperti itu? Berpikir bahwa dengan pergi ke Utara dapat membantu Tennō-heika menyelesaikan urusan ini? Apa ada maksud lainnya?"

"Kōgō-heika—banyak yang mendesaknya di sini, bukan? Beliau adalah seorang dari kalangan biasa, yang masuk dan diangkat sebagai permaisuri karena Ibu Suri yang memintanya. Banyak yang tidak menyukainya, aku yakin itu. Semua ini tidak terduga. Tiba-tiba dan terburu-buru. Kalau aku… sudah pasti aku akan bunuh diri sejak dulu."

"Jadi, Kōgō-heika ke luar dari Istana karena tidak kuat menahan desakan dari kalangan Istana?" tanya Kiba.

"Tentu saja tidak. Kōgō-heika bukanlah orang yang seperti itu. Tapi… pasti ada alasan lain. A-aku tidak tahu..."

Suasana menjadi canggung. Kiba sudah tidak tahu harus berkata apa-apa lagi, sementara Gaara masih membeku di tempatnya. Kurenai masih bergumam tidak jelas di tempatnya, sementara Ino hanya menunduk. Sebenarnya, dia juga tidak percaya dengan pernyataan Kurenai, bahwa di dalam perjalanannya ke Utara, Kōgō-heika tidak sendirian, melainkan ditemani oleh seorang lelaki. Mungkin kalau ini sebelum Gaara menyadari perasaannya, hal ini akan menjadi angin lalu. Mungkin Gaara akan bersikap tidak peduli seperti biasanya. Mungkin Gaara malah akan menarik prajurit yang mencari Tenten kembali ke Istana dan melupakan gadis bercepol dua itu, dan bisa bersama dengan Matsuri. Meresmikan hubungan mereka…

Tiba-tiba Gaara berpikir tentang apa yang membuatnya tidak melakukan hal-hal itu. Penasehat Istananya sudah membantunya menemukan alasannya. Akan tetapi, dia baru menyadari perasaannya ketika sesudah Sang Permaisuri meninggalkan Istana. Lalu, apa yang membuatnya bertahan ketika perempuan bercepol dua itu masih di sini? Kalau bukan karena perasaan, lalu apa?

Sudah lebih dari lima menit suasana seperti ini berlangsung. Tidak ada tanda-tanda dari Gaara mau berkata apa-apa. Akhirnya Kiba kembali berkata, "Bagaimana kabarmu, Ino-chan?"

Ino yang kembali menunduk setelah tidak ada pertanyaan yang menderanya, mendongak kaget. Samar-samar, dia melihat tatapan kekhawatiran dan penyesalan pada mata lelaki di hadapannya. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak bertatapan seperti itu.

"A-aku baik-baik saja, Kiba-sama," jawab Ino. "Bagaimana dengan Kiba-sama sendiri?"

"Aku tidak baik-baik saja, Ino-chan. Tidak pernah seburuk ini," keluh Kiba. Tiba-tiba dia tersenyum jahil. "Aku tidak bisa konsentrasi, tidak bisa melakukan apapun dengan baik. Aku hampir selalu lalai dalam tugasku. Mungkin sebaiknya aku keluar dari pekerjaanku dan mulai membajak sawah."

"Memangnya, apa yang ada di pikiran Kiba-sama?" tanya Ino khawatir.

"Kau, tentu saja," kata Kiba jengkel, namun senyumnya semakin lebar. "Aku tidak bisa berpikir selain dirimu. Bagaimana kau yang kurus seperti itu bisa kuat di sini. Setelah pergi selama berminggu-minggu, kini datang sebagai tahanan dan dikurung di sini. Kau bahkan sudah tidak cantik lagi seperti dulu—"

"Lakukan hal seperti itu ketika tidak ada aku, Kiba," kata sebuah suara dingin di samping Kiba.

Senyum Kiba menghilang detik itu juga. Dia menunduk malu, menyesal karena lupa kalau sekarang sedang ada Gaara dan Kurenai di ruangan yang sama dengannya dan Ino.

Sang Kaisar menggeleng-gelengkan kepalanya. Tampaknya sekarang dia sudah bisa menguasai diri. Dia menatap Kurenai yang masih bergetar dan mengucapkan segala permohonan maaf.

"Berhenti, Yuhi-san," perintah Gaara. Ada nada marah di dalam setiap suku kata yang diucapkannya saat dia berkata, "Sekarang, di mana dan mengapa kalian berpisah dengan—" Gaara terdiam sedetik sebelum melanjutkan, "dengannya?"

"K-kami berpisah k-karena saat itu ada prajurit yang datang, dipimpin oleh Kiba-sama. Sebenarnya kami masih ingin ikut dengan—dengannya, tetapi beliau tidak memperbolehkannya karena Ino-chan sakit. Akhirnya, beliau bisa selamat dari para prajurit dan pergi—"

"Cukup!" potong Gaara. "Ayo pergi, Kiba."

Gaara berdiri, membalikkan badannya tanpa berkata apa-apa. Tanpa menunggu Kiba yang membungkuk kecil kepada Ino dan Kurenai, dia membuka pintu dengan kasar. Di luar, Iwashi tampak kaget melihat ekspresi Gaara yang luar biasa dingin dan kaku. Ketika Kiba keluar kemudian, Iwashi langsung bertanya.

"A-apa yang terjadi, Inuzuka-sama? Kenapa Yang Mulia—" Iwashi tidak melanjutkan perkataannya saat melihat tatapan tajam Kiba.

"Terima kasih atas hari ini, Iwashi-san. Kami akan kembali, tapi mungkin tidak dalam waktu yang dekat," kata Kiba. "Oh, ya, kalau ada seseorang yang datang ke sini—selain orang yang biasa mengantarkan makanan pada para tahanan—sebaiknya kau hubungi aku. Segera."

"Baik, Inuzuka-sama."

Kiba langsung mengikuti Gaara ke atas, disusul oleh Iwashi yang masih diliputi rasa bingung.

—"—

Tenten menengok ke belakang, menatap ke arah langit di sebelah selatan dengan pandangan tak yakin. Tiba-tiba saja dia merasakan kemurkaan merasuk ke pikirannya, membuatnya merasa bersalah dan tidak nyaman. Tanpa dia sadari, sepasang mata pucat sedari tadi mengamatinya.

"Tenten-san?"

Dia menoleh, lalu tersenyum kecil. "Tidak ada apa-apa, Neji-sama."

Neji mengernyit. Dia tidak begitu saja percaya pada ucapan Tenten. "Ada apa? Kau baik-baik saja?"

"Saya tidak apa-apa, Neji-sama. Mungkin Anda yang harus mengkhawatirkan kesehatan Anda," kata Tenten lembut. "Anda tampak pucat."

Tidak ada balasan. Neji merasa kalau kini Tenten sedang mencoba mengalihkan pembicaraan, jadi sebaiknya dia diam saja. Selain itu, lelaki Hyuuga itu merasa harus menghindari tatapan Tenten kalau dia benar-benar tidak mau terlihat merona setiap saat.

Di perkampungan yang tengah mereka lewati saat ini, tidak banyak orang yang berlalu-lalang. Rumah-rumah sebagian besar ditinggalkan oleh empunya. Sawah-sawah tak terurus, binatang ternak kini pergi entah ke mana. Tidak ada lagi yang berjualan di pasar, apalagi yang membeli. Kebanyakan yang tinggal hanyalah orang-orang tua yang pasrah sudah tidak kuat berjalan jauh.

Tak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di ujung desa. Namun sesaat sebelum meninggalkan desa tersebut, Tenten menyadari bahwa di sampingnya sudah tidak ada siapa-siapa. Dia berbalik, melihat Neji yang tengah menatap rumah tua di ujung desa.

"Ada apa, Neji-sama?" tanya Tenten. Dia berjalan mendekati Neji, kemudian mengarahkan pandangannya ke arah yang sama dengan pandangan lelaki bermata pucat itu.

Neji tidak menjawab. Dia mengambil tas yang dibawa Tenten, lalu naik ke atas kuda yang sedari tadi berdiri di sampingnya. Kemudian, dia mengulurkan tangan sambil berkata, "Naiklah."

Tenten menerima uluran tangan Neji dengan tatapan bingung, yang kemudian langsung ditarik oleh lelaki itu dengan kuat sehingga detik berikutnya Tenten sudah berada di belakang Neji. Gadis itu kembali menoleh ke arah rumah tua itu, dan sebelum dia berkata, "Oh!" kuda yang mereka tunggangi sudah berlari cepat.

Karena kaget, tanpa sadar Tenten memeluk pinggang Neji. Namun tidak ada satupun dari mereka berdua yang memikirkan hal itu. Satu-satunya yang mereka pikirkan adalah…

"A-ada orang—"

"Itu para pemberontak. Dan aku yakin sekarang mereka sedang mengejar kita."

Terdengar suara hentakan kaki kuda yang bertubi-tubi di belakang mereka. Tidak hanya satu, melainkan belasan pemberontak mengejar mereka. Segala macam teriakan menghina dan ancaman terlontar dari mulut mereka, namun hal itu malah membuat Neji semakin kencang melaju.

"Kenapa mereka mengejar kita?" tanya Tenten. "Apa mereka tahu kalau saya—"

"Tidak ada hubungannya!" potong Neji keras. "Tidak ada yang tahu kau ini apa—atau siapa. Rambutmu yang tidak lagi kau cepol, dan tidak ada yang memanggilmu dengan sebutan 'Yang Mulia', kupikir tidak ada yang tahu siapa kau. Kecuali kalau nama aslimu sudah tersebar."

"T-tapi, mereka mengejar saya. Saya ragu kalau mereka tidak tahu—"

"Diam dan berpegangan yang erat!" seru Neji. "Maaf, tapi ini demi keselamatanmu juga."

Tenten mengangguk. Dia memeluk pinggang Neji erat-erat, tidak tahu harus berbuat apa lagi selain berdoa agar tidak jatuh ke tanah karena kencangnya mereka menunggangi kuda saat ini.

"SYUUT!"

Sebuah anak panah melesat tepat di samping telinga Tenten, disusul dengan puluhan anak panah yang seakan berlarian mengejar mereka. Beberapa berhasil menggores kulit mereka, memberikan rasa perih dan panas yang tak tertandingi. Di situasi seperti ini, rasanya Tenten ingin menangis untuk kedua kalinya dalam hidupnya.

Beruntung mereka melewati hutan belantara. Sedikitnya mereka dapat berkelit dari anak panah yang terus melesat ke arah mereka, meski tak sedikit yang hampir mengenai tubuh. Neji bisa merasakan bahwa kudanya hampir kelelahan, namun seperti dirinya, sang kuda juga tampaknya tak mau menyerah.

"Ugh!" bisik Tenten tertahan. "Akh… s-sakit."

Dia melirik pundaknya. Sebuah anak panah berhasil mengenai pundak kanannya. Kali ini luka yang ditimbulkan lebih dalam dari yang sebelum-sebelumnya. Darah panas perlahan-lahan mengalir di sekitar pundaknya, lalu turun ke tangannya, membuat hampir sebagian lengannya basah karena darahnya.

Tenten sama sekali tidak berusaha menutup lukanya. Malah dia sedikit bersyukur kalau panah tersebut tidak mengenai Neji. Tangannya semakin kuat memeluk lelaki itu, seakan mencoba melupakan rasa sakit yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Neji khawatir. "Aku mendengarmu merintih beberapa waktu lalu."

"Iya, Neji-sama," kata Tenten keras. Lukanya semakin sakit saat dia berbicara, namun dia tetap melanjutkan, "B-bagaimana dengan Anda?"

"Aku baik-baik saja."

Tidak ada satu pun yang berbicara setelah itu. Neji kembali fokus pada jalan di depannya, sementara Tenten berusaha untuk tidak merintih saat beberapa anak panah kembali mengenainya. Dia sengaja menjadi tameng bagi Neji agar tidak ada satupun anak panah mengenainya. Namun terkadang, beberapa anak panah berhasil melewatinya, membuat luka pada tubuh Neji. Seperti saat ini, saat sebuah anak panah tepat mengenai lengan lelaki bermata pucat tersebut.

"Neji-sama!" teriak Tenten. "Lengan Anda—kita harus berhenti."

"Jangan pedulikan, yang penting kau selamat," kata Neji sambil mencabut paksa anak panah itu. Darah dengan cepat merembes ke pakaiannya.

Tenten menatap luka Neji. 'Lukaku tidak seberapa. Neji-sama jauh lebih berat, karena harus mengendalikan laju kuda ini,' batin Tenten prihatin. 'Apa yang kupikirkan? Kalau aku tidak mengajak Neji-sama ke Utara bersamaku, tentu kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi.'

Belum selesai Tenten berkutat dengan pikirannya, kembali anak panah mengenai tubuhnya. Kali ini kakinya yang terkena anak panah. Rasa perih yang sempat hilang karena kekawatirannya pada Neji kini menjalar dua kali lebih cepat. Dia menggigit bibirnya keras-keras sampai berdarah, berusaha sekuat tenaga agar tidak mengerang kesakitan. Tangannya terkepal kuat sekali, dan pelukannya semakin erat. Tanpa dia sadari, air matanya mengalir perlahan di pipinya.

"Maaf, maafkan aku. Tsunade-sama, maafkan aku. Yugao-nee-san, Ino-san, Kurenai-ba-san, Ibu Suri, maafkan aku. Neji-sama, maafkan aku," racau Tenten tanpa suara. "Yang Mulia—Gaara-tennō, maafkan aku. Maaf, maaf, maaf…"

Setelah beberapa waktu, mereka sampai ke jalan pegunungan di mana tebing berada tepat di samping mereka. Para pemberontak masih mengejar mereka, malah dengan semangat yang lebih daripada sebelumnya karena Neji harus memperlambat laju kudanya untuk lebih berhati-hati.

Tenten menengok ke arah tebing. Hutan yang sebagian besar pohonnya sudah tidak berdaun itu berada tepat di bawah tebing bebatuan yang dalam. Kalau saja situasinya tidak seperti ini, pasti Tenten akan berkata bahwa pemandangan seperti ini lebih indah dari pemandangan saat melihat Istana untuk terakhir kalinya. Sekarang, dia merindukan betapa indahnya lampu Istana kala malam menjelang.

Tiba-tiba kuda yang mereka tunggangi meringkik keras sambil mengangkat kaki depannya hingga Neji dan Tenten hampir menyentuh tanah. Tenten menoleh ke belakang, melihat bahwa sebuah anak panah mengenai paha atas kuda tersebut. Tenten melepaskan pelukannya, mencoba untuk mencabut anak panah yang masih melekat di paha sang kuda. Namun dia kesulitan karena dia masih berada di atas punggung sang kuda, sementara kuda itu tidak mau berhenti bergerak.

Kuda itu terus menggeliat kesakitan, membuat Neji tidak sengaja menarik tali kekang sang kuda sehingga kuda tersebut otomatis kembali berlari. Namun karena kaki belakangnya sudah tidak tidak kuat, sang kuda beserta kedua penunggangnya terjatuh ke arah…

"Neji-sama—tebing!" teriak Tenten. "Lompat—"

—"—

Pyar!

"Yang Mulia—Anda tidak apa-apa?"

Gaara terdiam. Dia hanya menatap gelas yang tidak sengaja dijatuhkannya beberapa saat lalu dengan tatapan nanar. Perlahan-lahan, dia mengangkat tangannya yang seolah-olah tidak bertenaga. Tangannya bergetar kecil, nyaris tidak terlihat, tapi tetap saja ada yang aneh.

"Yang Mulia?"

"Aku tidak apa-apa, Matsuri," jawab Gaara. Dia menatap mata kecoklatan milik gadis itu dengan lembut. "Aku sedang dalam keadaan tidak baik, bisa kau meninggalkan aku?"

Matsuri bergeming sejenak, sebelum mengangguk sekali. Dia memberesi gelas yang dipecahkan oleh Gaara, sebelum akhirnya meninggalkan lelaki berambut merah bata itu sendirian di ruangannya. Namun sebelum menutup pintu kediaman Sang Kaisar, Matsuri berbalik dan berkata, "Kalau Anda memerlukan sesuatu, Anda bisa memanggil saya, Yang Mulia."

Gaara mengangguk. "Terima kasih banyak."

Suasana di ruangannya menjadi hening. Dia menghela napas panjang. Sebuah kotak yang berada di dekatnya menarik perhatiannya. Masih dengan tangan bergetar, dia mengambil kotak itu dan meletakkannya di atas meja di hadapannya. Dia membuka tutup kotak itu.

Di dalamnya terdapat sebuah kimono cantik berwarna kuning cerah yang terlipat rapi, dengan motif bunga teratai putih dan bulan sabit. Di atasnya terdapat sebuah hiasan rambut berbentuk bunga yang sewarna dengan kimononya.

"Ini adalah kimono yang kau pakai saat Festival Bulan Musim Gugur beberapa waktu lalu," kata Gaara. "Dan hiasan bunga itu memang cocok dengan matamu."

Dia melirik sebuah kertas terlipat yang berada di samping hiasan bunga itu. Dengan hati-hati, dia mengambil kertas itu, lalu membukanya. Saat dia mulai membaca tulisan di dalamnya, tenaganya seolah melemah.

.

.

Untuk Gaara-tennō,

Ketika Anda membaca surat ini, di saat yang sama saya sudah berjalan menjauhi Istana, Yang Mulia.

Saya adalah seorang cenayang yang berasal dari Utara, diasuh oleh Senju Tsunade selama bertahun-tahun. Meski begitu, saya tidaklah sehebat yang Anda bayangkan, karena semakin lama saya di sini, saya bisa merasakan bahwa "penglihatan" saya semakin berkurang dan lemah. Jikalau Anda menanyakan kenapa, saya pun tidak tahu jawabannya. Namun, meski demikian, saya tetap bisa merasakan tanda-tandanya, Yang Mulia. Perasaan Anda, perasaan Matsuri-san, dan perasaan saya, saya bisa merasakan keduanya.

Anda pasti masih ingat permintaan saya, bukan? Ketika pertama kali kita bertemu di ruang pertemuan, ketika pertama kali kita berbicara satu sama lain, sebelum pernikahan berlangsung, saya berkata pada Anda, "Saya punya permintaan, Yang Mulia. Satu-satunya permintaan yang saya minta, permintaan seumur hidup saya. Saya selalu bermimpi, bahwa suatu hari, ketika saya sudah dewasa dan bisa menentukan masa depan saya sendiri, ketika tiba saatnya bagi saya untuk menikah, saya berharap lelaki yang saya nikahi tidak akan menikah lagi dengan wanita lain, meskipun dia menyukai wanita itu."

Ketika itu Anda hanya terdiam, sambil menatap saya dalam-dalam. Saya tahu Anda mengerti maksud saya, namun saya tetap melanjutkan, "Saya ingin, Anda tidak menikahi wanita lain, Yang Mulia. Meskipun kaisar-kaisar terdahulu melakukannya, namun untuk kali ini, saya berharap saya akan menjadi satu-satunya. Sama seperti Ibu Suri." Saya ingin memiliki kisah yang bahagia seperti Ibu Suri, ketika dia menjadi satu-satunya bagi Tennō-heika terdahulu.

Anda tidak mengiyakan ataupun menolaknya, dan ketika saat itu tiba, dan Anda sama sekali tidak ada niat untuk membatalkan pernikahan tersebut, saya menyimpulkan bahwa Anda setuju.

Waktu terus berlanjut, dan kita berhubungan seolah-olah saling tidak mengenal. Anda dan kehidupan Anda, dan saya sendirian di Istana yang megah ini. Namun, lama-kelamaan, saya tidak bisa mengingkari bahwa ada Matsuri-san di hati Anda. Apalagi ketika Danzo-sama berbaik hati mengenalkan Anda pada Hinata-sama, saya merasa itu adalah puncaknya. Saya ingin bertahan, namun saya juga seorang manusia. Saya takut menghadapi kenyataan.

Saya juga tahu tentang pemberontakan yang tengah berlangsung di Utara, Yang Mulia. Anda tidak perlu tahu kenapa, tapi yang pasti, itu membuat saya memiliki alasan lain untuk meninggalkan Istana. Bukan karena saya hampir dikaitkan dengan pemberontakan itu, sama sekali bukan. Saya adalah seorang permaisuri, permaisuri yang tidak berbakti pada kaisarnya. Jadi, saya memutuskan, untuk membantu Anda menyelediki langsung kasus tentang hal ini langsung di Utara. Memang tidak ada gunanya, tapi itu yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk Anda sebagai seorang permaisuri.

Saya rasa, saya tidak bisa menuliskan lebih banyak daripada ini, Yang Mulia. Terima kasih banyak atas kebaikan Anda selama ini. Semoga Anda dan Ibu Suri sehat selalu.

Salam,

Tenten

.

.

Gaara menutup kertas yang tengah dipegangnya dengan tangan bergetar, lalu meletakkan kertas itu di atas kimono Tenten. Bisiknya, "Kau kelihatan dewasa dan tegar, namun sebenarnya kau sangat kekanakan dan lemah, kan, Tenten-kōgō?"

Seseorang mengetuk pintu kediaman Gaara. Dengan cepat lelaki bermata jade itu menutup kotak berisi kimono dan surat Tenten, kemudian menyembunyikannya di bawah lemari di dekatnya. Ketika sudah yakin tidak ada barang yang tertinggal, dia berseru, "Masuk!"

Seorang lelaki memasuki kediamannya. Gaara menghela napas, dan hanya menatap lelaki itu dengan pandangan kesal.

"Maaf mengganggu malam Anda, Yang Mulia. Namun saya memiliki informasi baru untuk Anda."

"Katakan, Yamato-sama," ucap Gaara.

"Ini tentang Danzo-sama—" kata Yamato dengan nada menggantung. Kemudian, dia melanjutkan dengan suara rendah, "Dan Kōgō-heika."

.

to be continued…

.


Balasan review: Yuhiko-chan: Hallo, Yuhi—boleh panggil begitu? Ini chap9-nya, semoga lebih baik dari chap sebelumnya. Mohon maaf yang sebesar-besarnya, ya, karena baru bisa update sekarang. Semoga Yuhi nggak bosan menunggu dan tetap baca fic ini (^^) terima kasih banyak…Jerza Loverz: Gomen, saya baru update sekarang :( tapi moga-moga chap ini ada peningkatan dari chap-chap sebelumnya ^-^. Terima kasih karena sudah me-review…*yang log in saya balas lewat PM, ya*