[FanFic chaptered] between us
Title : between us
Chapter : 9―Last Chapter
Author : Ai Natha
Fandom : Kuroko no バスケ
Pairing : Kisex? [Let's guess XD]
Rating : PG-16
Genres : Romance | Friendship | Hurt/Comfort | School Life
Length : 3106 words [sorry for taking too long for the last chapter]
Warnings : shonen-ai, possibly typo[s], maybe OOC X3
Disclaimer : I'm not own them how hard I want *exactly*slapped* Yes, these beautiful boys belongs to Fujimaki Tadatoshi Sensei .. But this Fiction is absolutely mine ! XD
Summary :"Sebaiknya kau ceritakan yang jelas pada kekasihmu ini, Dude. Dia harus tahu– KEBRUTALANmu!" | "Na, apa kau sudah menemukan jawabannya?" | "A–apa maksud Senpai? Aku tidak mengerti~ Ja–jawaban apa?" | "Akashi-kun― sempat kehilangan memorinya mengenai kejadian yang menimpanya empat hari lalu." | "Lompatlah dari atas gedung Rumah Sakit pusat ini."
Comments : Yep, final chapter is comiiiiiinnngg~ :D karena saya lagi ngganggur, kerangka scenes nya juga sudah ada, dan tinggal membuat scenes lengkapnya, maka ini saya selesaikan dalam waktu kurang lebih 4―5 jam .. yah, anggaplah seharian plus dengan editingnya yang memakan waktu lebih lama XD
Ohya, last chapter ini 'sedikit' lebih panjang, kira-kira 500 kata lebih panja― *itu banyak woy!* XDD hai, please bear with it ne~ it takes― 3000 words for this chapter, gomeeeeeennn~~ *bows*
Oke, daripada kelamaan, please read and enjoy~ :D
.
.
Between Us
Final―Chapter nine
.
.
"Pulang sajalah, kalian. Kau hanya akan membebani Akashi." Sergah Aomine.
"Aomine!" Tegur Midorima yang sedari tadi bungkam.
"Benar, kan? Kedatangan mereka takkan membantu apa-apa, Midorima." Pemuda tinggi bersurai navy blue itu kemudian menghampiri Kasamatsu. "Sebaiknya kau ceritakan yang jelas pada kekasihmu ini, Dude. Dia harus tahu– KEBRUTALANmu!" Bisiknya yang mampu sampai ke telinga Kise di sebelah Kasamatsu, bahkan mampu didengar Midorima di belakang sana, sebelum terdengar dentuman pintu yang tertutup pelan.
Kasamatsu meneguk ludah usai mendengar kalimat terakhir Aomine yang penuh penekanan. Kise yang juga mendengarnya pun mengarahkan manik emasnya pada pemuda bersurai hitam disampingnya. "Senpai~"
"Kise." Teguran Midorima membuat Kise menoleh pada pemuda tinggi berkaca-mata itu. "Sebaiknya kau pulang dulu. Situasi masih belum membaik." Ujar Midorima bijak. Ia kemudian menepuk bahu Kise sebelum menghilang dibalik pintu putih itu.
.
*55*
.
"A–akashicchi~" Sepasang manik madu itu basah begitu mendengar cerita lengkap dari Kasamatsu. Ia tak habis pikir, jika emosi kekasihnya ini sudah tersulut ia akan melakukan tindakan diluar kendalinya. Ya, sekalipun Kasamatsu sudah membayarnya dengan melempar tinjunya pada kaca atau mungkin dinding di apatonya (apaertmentnya)―ia tahu sekalipun kekasihnya itu tak menceritakannya―tapi tetap saja apa yang Kasamatsu lakukan itu salah. Kise tak berani membayangkannya, bagaimana sosok mungil Akashi yang terlempar begitu dipukul kepalanya dengan sebongkah besi.
Kise menumpu siku pada kedua pahanya, sementara telapak tangannya ia tangkupkan menutupi wajah manisnya. Ia hanya sanggup menggelengkan kepala, berharap semua ini hanyalah mimpi, mimpi terburuknya sepanjang hidupnya.
Kasamatsu mengulurkan tangannya namun terhenti sebelum sempat menyentuh helaian pirang itu. Ia kemudian mengepalkan tangannya erat. Kasamatsu ingin menenangkan pemuda didepannya, setidaknya ia ingin merengkuhnya, membiarkan pemuda pirang itu menangis di pundaknya. Namun, ia tidak bisa. Keputusannya sudah bulat. Pemuda bersurai hitam itu kemudian beranjak dari bangku taman yang berwarna putih bersih itu. Di taman kota yang lengang ditelan kegelapan malam, hanya terdengar isakan Kise. Kasamatsu menarik hembuskan nafasnya berat sebelum sedikit berdeham. "Na, Kise. Bagaimana kalau kita sudahi saja hubungan kita?" Jeda. Hanya terdengar helaan nafas lelah dari sang pembicara. "Akan banyak orang terluka kalau kita tak mengakhirinya."
Kise yang semula tertunduk pun mengangkat kepalanya, ia mendongak. "Senpai~"
"Tenang saja. Aku akan tetap menemui si surai merah itu dan meminta maaf sekalipun pemuda berkulit tan itu takkan segan memukulku lagi." Kembali, Kasamatsu menghembuskan nafasnya. "Maafkan aku, Kise. Aku tak mau membuatmu lebih terluka lagi." Pemilik manik onyx itu memandang lurus manik madu itu. "Na, apa kau sudah menemukan jawabannya? Sekarang kau sudah bebas, kan?"
Kise memicingkan matanya sementara jemarinya usai mengusap lelehan air mata yang menyapa pipinya. "Senpai~ a–apa maksud Senpai? Aku tidak mengerti~ Ja–jawaban apa?"
Sebuah senyuman tulus menyambangi wajah Kasamatsu. "Kau harus menemukan jawaban itu, Kise. Maka dari itu aku melepasmu. Maafkan aku, aku tak bisa menjadi kekasihmu yang baik." Kasamatsu kemudian beranjak.
"Senpai!" Seru Kise masih tak mengerti, tapi ada satu hal yang ingin ia pastikan. "Senpai― yakin dengan keputusan ini?" Kise memburunya dengan beberapa pertayaan. "Apa Senpai akan menjauhiku juga setelah aku menyusulmu ke Kaijou seperti janjiku dulu?"
Hati Kasamatsu mencelos mendengar pertanyaan terakhir yang terucap dari bibir―mantan kekasihnya ini. Ya, dulu, dulu sekali saat mereka masih bersama, saat mereka tak menghadapi berbagai kerumitan yang terjadi, saat Kasamatsu belum menampakkan sisi buruknya, saat semuanya masih baik-baik saja, Kise pernah membuat janji akan menyusulnya ke Kaijou Koukou (High School) dan Kasamatsu berjanji akan menunggunya.
Dan apa-apaan itu? Kenapa kau malah bertanya apa aku yakin dengan keputusanku? Tentu saja. Jangan buat aku bimbang, Kise~ Keputusanku sudah bulat. "―aku tidak akan bisa menjauhimu, Kise, tapi aku juga tak bisa membiarkanmu dekat denganku."
Satu kalimat itu yang berhasil keluar dari bibir gemetar milik Kasamatsu sebelum ia meninggalkan Kise di taman yang sunyi itu.
.
*55*
"Sometimes you just gotta accept that some people can only be in your heart, not in your life."
[ 9GAG]
*55*
.
Malam itu, Kise kembali berdiri didepan pintu bertuliskan nomor 547. Ia hanya memandangi papan nama yang bertuliskan Akashi Seijuurou itu dalam diam. Menggigit bibir bawahnya, ia kemudian berbalik dan melangkah menjauh.
Pemuda bersurai blue aqua yang baru saja keluar dari kamar itu keluar hendak membeli minum saat manik saffirnya menangkap sosok pirang Kise. "Kise-kun?"
Mendengar panggilan yang akrab mengunjungi telinganya, Kise pun menoleh. "Ah, Kurokocchi~" Senyumnya.
"Mau menjenguk Akashi-kun?" Tanya pemuda mungil itu yang dijawab dengan anggukan pelan dari Kise. "Masuklah~" Ujar Kuroko kemudian.
Kise menatap pemuda mungil itu. "Eh? Tidak usah, Kurokocchi~" Ia mundur selangkah, menggelengkan kepalanya, menolak tawaran Kuroko dengan senyum tipis. Senyum palsu, tentu saja. "Aominecchi tak mengijinkanku menemui Akashicchi~"
"Tidak apa, Kise-kun. Aku yang berjaga malam ini. Masuklah~ Tapi Akashi-kun sedang istirahat."
Dengan canggung, Kise pun mengekor Kuroko yang masuk terlebih dulu. Samar, ia menggumamkan "Terima kasih, Kurokocchi~" yang sampai di telinga Kuroko dan dijawab dengan sebuah senyuman manis.
"Akashi-kun― sempat kehilangan memorinya mengenai kejadian yang menimpanya empat hari lalu, namun, sekarang sudah tidak apa-apa." Ujar Kuroko memberitahukan.
Manik emas itu mengedarkan pandangannya. Melihat sosok mungil Akashi yang terpejam, masih dengan balutan kain kasa yang melilit dahinya, membuat Kise tak sanggup menahan air matanya. Ia kembali menggigit bibirnya menahan agar isakannya tak keluar. Dadanya sesak. Sungguh tak pernah terbayangkan bagaimana keadaan Akashi saat darah masih mengalir dari kepalanya, saat Akashi berjam-jam berada di ruang operasi mempertahankan hidupnya, saat ia hampir dinyatakan koma, saat pemuda bersurai merah itu tak dapat mengingat kejadian yang menimpanya beberapa hari lalu. Bahkan melihat Akashi saat asmanya kambuh saja mampu membuat Kise meneteskan air mata. Kise berniat untuk menjaganya. Tapi apa yang ia lakukan? Ia malah membawa Akashi masuk dalam masalahnya hingga kekasihnya―ah bukan, Senpainya itu malah sampai melukai orang yang sangat ingin Kise lindungi.
Kise hanya mampu menggenggam jemari Akashi, sementara bibirnya terus merapalkan beribu permintaan maafnya. Tangannya yang lain mengelus permukaan perban yang membalut dahi pemuda itu, sebelum berakhir dengan mengelus helaian merah Akashi yang lembut.
.
*55*
.
Keesokan harinya, teman-temannya tetap saja bungkam, tak menyapanya, bahkan mungkin menganggap Kise tidak ada. Setelah mengetahui semuanya, Kise juga tak bisa menyalahkan teman-temannya yang sampai berbuat seperti itu. Kise membaca ulang e-mail yang ia kirim setelah menekan tombol sent pada ponselnya.
To : YukioKasamatsu
Subject : (no subject)
Senpai, kau ada waktu? Ayo menjenguk Akashicchi sama-sama.
.
*55*
.
Langkah Kise dan Kasamatsu kembali terhenti sebelum mereka sempat mendekati pintu putih bertuliskan nomor 547 itu. Seperti sebelumnya, Aomine melarang mereka. Namun, pemuda blue aqua itu keluar dari kamar rawat, mencoba bernegosiasi dengan partnernya itu.
"Aomine-kun, biarkan―"
Pemuda bersurai navy blue itu melotot pada Kuroko yang berdiri disebelahya. "Mana mungkin, Tetsu. Aku takkan membiarkan orang ini berada dalam satu ruangan dengan Akashi! Kau masih ingat, kan, saat kita menemukan Akashi beberapa waktu lalu?!"
"Pelankan suaramu, Aomine-kun, kau bisa mengganggu pasien lain." Tegur Kuroko masih dengan wajah datar yang membuat Aomine mendengus. "Aomine-kun, kau ingat ceritaku? Akashi-kun ingin bertemu dengan Kise-kun~ Setidaknya biarkan mereka masuk. Kalaupun terjadi sesuatu, aku bisa mengandalkan Aomine-kun, kan?"
Dan akhirnya dengan terpaksa pemuda tan itu mengijinkan dua orang itu masuk. Kuroko dan Aomine pun melangkah masuk lebih dulu.
Akashi yang duduk bersandar pada kepala ranjang itu mengalihkan perhatiannya dari novel yang dibacanya. "Ada apa, Tetsuya, Daiki?" Tanyanya meliht wajah Aomine yang ditekuk.
Kuroko mengulas senyum tipis. "Ada yang ingin bertemu Akashi-kun."
Dan sosok pirang itu memasuki ruang rawat Akashi. Manik heterochrome Akashi terbeliak, sosok yang ia tunggu akhirnya menampakkan dirinya. Ia hendak mengulaskan senyumnya saat sosok pemuda bersurai hitam itu masuk― Tatapan Akashi berubah datar. Ia meletakkan pembatas buku pada halaman yang terakhir dibaca sebelum menutup novelnya. Tatapan datarnya beralih pada sosok ramping pemuda pirang itu. "Ryouta, kau tak pernah datang menjengukku?"
"Huh? Temanmu itu yang melara―"
"Maafkan aku, Akashicchi~" Kise menyela kalimat Senpainya. Ia kemudian mengulaskan senyum. "Bagaimana keadaanmu?"
Akashi mengangkat bahu, "Sudah mulai membaik."
"Hmm~" Kise menganggukkan kepalanya seraya mengedarkan manik madunya, mencari topik baru untuk menghilangkan suasana canggung ini, hingga pandangannya menangkap keranjang buah di atas nakas disamping ranjang Akashi. "Ah, kukupaskan apel, ya?" Ia melangkah ke ranjang Akashi.
Akashi mendongak menatap pemuda yang kini sudah bediri disampingnya. "Ryouta, kau tak seharusnya memperhatikan orang lain didepan kekasihmu, kan?"
"Kami sudah putus." Sela Kasamatsu, membuat semua pandangan tertuju padanya, kecuali Kise, yang semakin menatap apel merah dalam genggamannya.
Akashi kemudian bergantian memandang Kasamatsu dan Kise, begitu juga dengan Aomine dan Kuroko.
"Maa, Akashi~ Maksud kedatanganku kemari― aku ingin minta maaf padamu. Aku benar-benar minta maaf." Kasamatsu membungkukkan badannya sembilan puluh derajat, menandakan kalau ia bersungguh-sungguh meminta maaf atas kesalahannya.
Sementara pemuda bersurai merah itu hanya memandangnya datar, tak menanggapi. "Bisa aku minta suatu hal untuk menebus darah yang sudah keluar dari kepalaku setelah kau pukul?" Akashi menuntut.
Kasmatsu kembali menegakkan kepalanya. Manik onyxnya membalas tatapan tajam manik beda warna Akashi. "Apapun yang aku bisa, aku akan melakukannya."
Melihat kesungguhan pemuda bersurai hitam itu, Akashi tersenyum. "Lompatlah dari atas gedung Rumah Sakit pusat ini."
Permintaan Akashi membuat keempat lainnya membelalakkan matanya dan menghentikan kegiatannya. "Akashicchi!/Akashi-kun./Woy, Akashi!" Tegur Kise, Kuroko dan Aomine bersamaan, tak menyangka Akashi akan meminta hal yang tragis seperti itu.
Yang benar saja. Ini adalah Rumah Sakit pusat. Bisa dibilang Rumah Sakit terbesar yang ada di Tokyo. Bisa kau bayangkan Rumah Sakit ini memiliki berapa banyak lantai? Mereka begidik, enggan menghitungnya.
Melihat wajah pucat Kasamatsu, Akashi lalu tertawa kecil. Tawa yang jarang dilakukannya. "Nante ne~ (Bohong kok~)" Ujarnya kembali menghangatkan suasana, membuat teman-temannya dapat menghela nafas setelah menahannya karena tercekat. "Maa, aku ingin jalan-jalan." Akashi mengarahkan pandangannya pada pemuda bersurai hitam itu. "Bisa kau dorongkan kursi rodanya untukku, Kasamatsu Yukio?"
"Hey Akashi, kau kira aku akan membiarkanmu bersama orang brengsek macam dia dan membiarkanmu dipukulinya lagi?!" Aomine menolak keinginan Akashi.
"Aomine-kun." Tegur Kuroko.
"Daiki,"
Belum sempat Akashi menyuarakan kalimatnya, Kasamatsu menghadap pada pemuda tinggi itu. "Kau bisa pegang kata-kataku. Kalau Akashi benar menyuruhku untuk lompat, aku akan lompat sebagai penebusan kesalahanku."
"Tenanglah, Daiki~ Semua akan baik-baik saja." Akashi menyela. "Saa, Kasamatsu Yukio, jadi, kau mau lompat sekarang?" Akashi menelengkan kepala.
Kasamatsu mendengus. "Tentu kalau kau yang meminta."
Akashi kemudian terkekeh kecil. "Tidak perlu, kau dorongkan kursi rodaku saja."
.
*55*
.
Sebelah tangan Akashi memegang infus, sementara Kasamatsu mendorong kursi roda Akashi. Sempat mereka bertemu dengan ayah Midorima di lift. Beliau menanyakan keadaan Akashi, apakah ia masih merasa pusing ataukah ada keluhan lain, dan juga memberikan nasihat-nasihat pada pemuda bersurai merah itu. Mereka masih sedikit bergurau hingga mereka berpisah di koridor lantai satu.
Kasamatsu kembali mendorong kursi roda Akashi usai membungkuk sopan, memberikan hormat pada dokter yang merawat Akashi. Mereka berjalan dalam diam hingga Akashi menyeletuk, "Berhenti." saat mereka sampai diujung koridor dekat dengan taman Rumah Sakit di lantai satu. Kasamatsu menghentikan langkahnya.
Tak jauh dari tempat mereka, sebuah miniatur air terjun kecil membuat gemericik air yang menemani keheningan diantara mereka. Akashi kemudian angkat bicara. "Ne, aku ada satu permintaan." Ujarnya seraya menolehkan kepalanya ke belakang, menatap Kasamatsu yang masih berdiri di belakangnya.
Usai mengunci roda kursi roda milik Akashi, Kasamatsu pun beralih agar berhadapan dengan pemuda bersurai merah itu. "Apa yang bisa kulakukan untukmu?"
Manik merah-emas Akashi memandang lurus manik onyx itu. "Bisa kau jaga Ryouta untukku?"
Kasamatsu terkesiap dengan permintaan pemuda mungil dihadapannya. "A–akashi?! Kau tak takut aku akan melukainya lagi?"
"Itu― apa yang kau jadikan sasaran untuk tinjumu?" Akashi mengalihkan pandangannya pada plester yang masih melekat pada sebelah tangan Kasamatsu.
Pemuda bersurai hitam itu mengikuti arah pandang Akashi. Ia mengelus punggung tangan kanannya. "Cermin di apatoku." Jawabnya jujur.
Akashi kemudian mengulaskan senyum. "Dia sudah bukan milikmu lagi, kan?" Pertanyaan itu membuat Akashi kembali menatap manik onyx itu. "Kau tak akan melukainya, aku tahu kau tak akan pernah mengulanginya."
Hening.
Kasamatsu membuang muka, menatap jauh pada rumput hijau di taman Rumah Sakit itu.
"Kau tahu, dia ingin menyusulmu ke Kaijou?"
Kasamatsu kembali menatap Akashi. Akashi tahu, Kise hendak menyusul Senpainya ke Kaijou. Kasamatsu membuka bibirnya untuk kemudian mengatupkannya lagi, sebelum bertanya, "Lalu kau?"
Akashi masih memaku manik beda warnanya pada pemuda yang menjulang didepannya. "Aku akan kembali ke Kyoto dan masuk ke salah satu sekolah disana. Rakuzan." Jeda. Akashi menunggu reaksi Kasamatsu, namun pemuda itu hanya bungkam. "Karena itu, aku ingin kau menjaganya. Jagalah dia untukku." Lanjutnya.
Manik onyx itu menatap manik heterochrome Akashi lekat. "Aku mengerti."
.
*55*
.
Beberapa hari setelah Akashi melakukan pemeriksaan, ia pun diperbolehkan pulang. Awalnya ibunya menolak saat Akashi tak mau pulang ke Kyoto. Namun setelah tahu bahwa teman-teman Akashi akan membantu anaknya, beliau pun menyetujuinnya. Selama satu bulan sisa liburan musim panas, beliau kerap berkunjung ke asrama setiap minggunya. Sementara untuk menghabiskan liburannya, Akashi duduk di bench menemani teman-temannya berlatih basket.
Dengan mulai mengenakan seragam musim dingin di awal musim gugur, kegiatan sekolah kembali berjalan seperti biasa. Memasuki musim dingin, mereka disambut dengan ujian di bulan Desember sebelum Natal. Usai menempuh ujian, mereka pun merayakan Natal dengan kue yang dibawa oleh Ibu Akashi dari Kyoto, juga masing-masing mendapatkan selembar syal rajutan dari Ibu Akashi.
Akhir tahun mereka lalui dengan berbincang sepanjang malam, tanpa perlu khawatir penghuni asrama akan mengomeli mereka. Ya, mereka berenam menghabiskan liburan dengan menetap di asrama, sementara yang lainnya memutuskan untuk pulang dan menemui keluarganya.
Detik-detik menjelang tengah malam mereka isi dengan menyalakan kembang api di lapangan outdoor dekat asrama. Angin menghantarkan hawa dingin hingga menembus tulang di sepanjang malam. Mereka kemudian mereka masuk saat hembusan angin yang sedikt kencang menyapa kulit mereka yang sudah terbungkus sweater dan jamper tebal serta syal pemberian Ibu Akashi. Mereka terus berbincang, bergurau, menjahili satu sama lain hingga akhirnya tertidur di ruang duduk, masih dengan televisi menyala, bungkusan snack juga masih tersebar dimana-mana. Kise mengambil selimut tambahan dari lemari kamarnya lalu menangkupkannya pada Akashi sebelum ia ikut menyusup tidur disebelah pemuda bersurai merah itu.
Keesokan paginya, mereka sama-sama pergi ke kuil untuk berdoa, menuliskan permohonannya pada papan kayu kemudian menggantungnya, juga mengambil kertas ramalan keberuntungan.
Hari-hari kemudian dilanjutkan dengan masuk sekolah seperti biasa. Seragam musim dingin yang kini dirangkap dengan jaket tebal, juga tumpukan salju di pinggir jalan menemani mereka setiap harinya. Kegiatan sekolah kembali sibuk dengan tugas akhir sebelum mereka menempuh ujian kelulusan. Mendekati awal bulan maret, mereka diminta mengisi formulir dengan dua pilihan SMU dimana mereka akan mengikuti ujian masuk di masing-masing sekolah yang mereka pilih.
Usai menghadapi ujian akhir, mereka berenam berkumpul di ruang duduk. Usai menuliskan nama SMU yang hendak mereka tuju di sebuah kertas dengan spidol, mereka kemudian membukanya, memposisikannya didepan dada dan memperlihatkan pada temannya yang lain.
"Ah!/Wow!/Oh./Hngg~/Hmm~/Hn~" Kise, Aomine, Kuroko, Murasakibara, Midorima dan Akashi berkomentar dengan seruan mereka masing-masing begitu melihat tujuan SMU yang mereka inginkan tidaklah ada yang sama. Sama sekali.
Sekalipun diantara mereka masih berada di Kantou-chihou (Wilayah/District Kantou), tapi tetap saja, SMU yang mereka sebutkan berbeda. Tiga diantara mereka memilih SMU yang masih dalam kawasan Tokyo-shi (Kota―besar―Tokyo). Kuroko Tetsuya memilih Seirin Koukou, sementara partner baiknya―Aomine Daiki memilih Touou Gakuen (Touou Academy) dan Midorima Shintarou memilih Shuutoku Koukou. Masih di Kantou-chihou sedikit keluar dari Tokyo-shi, Kise Ryouta memilih Kaijou Koukou di Yokohama, Kanagawa-ken (Perfektur Kanagawa). Beralih ke timur, memasuki Kinki-chihou, Akashi Seijuurou memilih Rakuzan Koukou di Kyoto-shi. Dan yang paling jauh ke utara, masuk kawasan Akita-ken di Touhoku-chihou, Murasakibara memilih Yosen Koukou.
.
*55*
"The most painful goodbyes are the ones never said, but the heart already knows it's over."
*55*
[a month left]
.
"Senpai!" Sosok tinggi itu berlari menghampiri Kasamatsu di tengah lapangan indoor Kaijou Koukou siang itu.
Pemuda yang dipanggil itu menghentikan kegiatannya yang hendak membuat three point shoot. "Ah Kise!" Kasamatsu tersenyum lebar, memeluk balik pemuda pirang yang menghampirinya.
"Aku sudah mengetahui jawabannya, Senpai!" Kise mengulaskan senyum lebar seraya menarik selembar kertas dari saku jaketnya. Menunjukkan kertas itu pada Senpainya. Kertas pemberitahuan hasil test ujian masuk High School.
Manik onyx itu menyusuri kertas yang dipajang dihadapannya dan mendapati SMU tujuan adik kelasnya satu ini. Ia tersenyum. "Akhirnya kau sudah memutuskan untuk masuk SMU mana, eh?"
"Un!" Kise mengerlingkan matanya, antusias menjawab.
Kasamatsu menepuk bahu Kise. "Baiklah, ayo one-on-one sebelum upacara pembukaan yang akan jadi hari pertamamu di High School besok!"
.
.
*FIN*
.
.
.
.
Epilogue
.
"Never say goodbye when you still wanna try.
Never give up when you can still take it.
Never say you don't love them when you can't let go."
[ damnitstrue]
.
Akashi menghela nafas begitu turun dari limousine yang mengantarnya hingga depan pintu gerbang sekolahnya. Sejenak mengedarkan pandangannya, ia pun melangkah masuk, menghiraukan sopir yang membungkuk sopan padanya. Memasuki wilayah sekolah barunya, Akashi kembali menghela nafas mengingat ia mendapatkan sedikit "pekerjaan tambahan".
Ya, pada saat upacara pembukaan, nama Akashi Seijuurou tercatat dalam lembar rangkaian acara untuk menyampaikan sedikit pidatonya sebagai siswa berprestasi yang terpilih diantara yang lain sebagai peraih nilai ujian masuk tertinggi di High Schoolnya.
Usai upacara pembukaan, Akashi menenteng tasnya memasuki kelas barunya. Riuh siswa-siswi yang bercengkerama menyapa indera pendengarannya begitu ia melangkah masuk. Tanpa menghiraukannya, ia memilih bangku paling belakang deretan dekat jendela dan menyamankan diri duduk disana setelah adu pandang dengan siswa lain yang hendak memilih bangku yang sama―yang tentu saja siswa itu merelakan bangku ujung pilihannya itu untuk seorang Akashi Seijuurou, siswa peraih rangking satu di sekolah barunya itu.
Sejenak, manik beda warna milik Akashi meredup saat menatap langit biru yang terbentang luas dibalik jendela sampingnya. Tak seberapa lama, beberapa gadis menghampiri bangku ujung miliknya. Iseng menanyakan namanya dan meminta berkenalan dengan wajah memerah malu-malu. Akashi hanya membuang muka dan menjawab, "Kalau kalian benar-benar mengikuti upacara pembukaan, kurasa kalian tak perlu menanyakan namaku."
Ya, Akashi sama sekali tak tertarik barang untuk menyapa dan mengenal teman-teman barunya. Ia akan selalu membuat dinding pembatas hingga hanya sebagian kecil dari mereka yang mampu menemukan dan mengetuk pintu yang tersembunyi diantara dinding itu, seperti yang teman-teman baiknya lakukan saat ia baru pindah ke Teikou Middle School dulu.
Pemuda bersurai merah itu kemudian mengeluarkan papan shogi miliknya, hendak memainkannya sekedar untuk menghabiskan waktunya. Belum sempat ia menata pion-pion shoginya, sosok jangkung itu menarik kursi bangku depannya.
"Aku duduk disini ya, Akashicchi~" Ujar sosok itu ceria yang sukses membuat Akashi mengalihkan perhatiannya.
Manik heterochrome itu melebar sejenak. Tergores keterkejutan yang samar dibalik wajah dingin yang diperlihatkannya. "Ryouta."
Pemuda pirang itu melemparkan tasnya ke meja tempatnya bersandar, sebelum menumpukan kedua tangannya di meja Akashi guna menyangga berat tubuhnya. Kise berdiri menatap Akashi yang mendongakkan kepalanya. Senyum lebar tak pernah lepas dari wajah manisnya. "Aku kembali untukmu, Akashicchi~"
Kalimat yang Kise lontarkan sukses membuat pemuda bersurai merah itu menarik ujung bibirnya, memamerkan sebuah senyuman manis. "Ryouta," Panggilnya seraya membuat gesture dengan sebelah tangannya, meminta pemuda pirang itu untuk mendekat.
Kise pun membungkukkan tubuh tingginya.
Akashi mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Kise. Sangat dekat, hingga bibir Akashi menyentuh cuping telinga Kise saat berujar, "Selamat datang di Rakuzan." Sebelum beralih dan memberikan kecupan singkat di pipi Kise.
.
.
―o0o―
.
.
"I'm going to ask you to going out with me. All you need to do is answer 'yes'."
Pemuda pirang itu membalasnya dengan sebuah senyuman lebar di wajah tampannya.
.
.
*totally#FIN#!*
.
.
.
.
[Loooonng] A/N : *moga nggak capek bacanya* XD
Haaaaaaiiii~~ yatto owatta~ *tebar konfeti* how ? dou omou no kanaa~? hhe
Did you love the ending, Minna ? Hope you love the ending ne~ hhehe Saa, saya membuatnya sesuai dengan awal rencana saya, sekalipun ini FanFic sempet saya ubah plotnya di chapter ketiga, tapi syukurlah saya tetap membuatnya dengan salah satu pair favorit saya! Yeeeaay! *berisik banget kamu Na!* XDD
Ohya ohya, ada yang masi inget ama scene akhir sebelom tulisan "*totally#FIN#!*" ? hayoo hayoo, masa' nggak ada yang nyadar ? Scene ntu perna kumasukin di salah satu chapter lho~ hhoho *sok misterius*plakk*
Hai, makasih banget buat Minna yang udah setia menunggu kelanjutan FanFic ini~ yang udah dukung saya pe' chapter terakhir ini bisa di apdet~ yang udah ngasi masukan-masukan juga~ yang udah nyempetin waktu buat review~ yang udah ngeluangin waktu buat baca juga .. buat readers, silent readers, reviewers dan semuanya, sankyuuuuu~~ X3
aaaaaa~~~ love you guys :* makasih banget karena review-review yang masuk bener-bener ngebikin saya makin semangat buat bikin kelanjutannya :D
Sekali lagi makasih banyak~ *bows deeply*cium satusatu* Last but not least, ada yang mau ninggalin farewell[?] di kotak review ? :D
Ohya ohya, ditunggu yak gimana pendapat kalian tentang final chapter ini .. Mungkin ada kritik atau saran mohon disampaikan, saya akan berusaha memperbaikinya .. Ohya lagi *plakk* buat yang ikutan baca, mungkin saya bisa kenalan ? Biar saya tau keberadaan[?] kalian~ hhehe lewat PM juga oke, review juga oke .. Mari berteman~ :D
Oke de, di tunggu yak Minna~ skali lagi sankyuuuu~~~ :**
Aaaaahh ketinggalan~ untuk review chapter kemaren dan chapter ini akan saya bales lewat PM yak~ sankyuu :*
_Natha [Alenta93]
