Cast :
Do Kyungsoo, Kim Jongin, Park Chanyeol
Oh Sehun, Wu Yifan, Xi Luhan
other cast;
Warning : GS for Kyungsoo and Baekhyun!
..
..
..
AUTHOR POV
Sehun baru saja selesai menerima telpon dari seseorang dan raut pemuda itu benar-benar tak menyenangkan. Ia bahkan menggenggam ponselnya sangat erat seperti akan menghancurkannya dalam satu remasan kuat. Setidaknya begitulah gambaran Sehun saat ini dimata Kyungsoo. Gadis itu tak henti-hentinya berdoa dalam hati untuk Jongin yang saat ini seolah tersudut dan tak memiliki celah untuk bebas. Kemudian Sehun datang dengan raut suram seperti itu, membuat suasana pagi yang dingin dan mendung ini menjadi semakin buruk.
"Ada apa?" Luhan bertanya begitu Sehun sudah duduk kembali di karpet yang mereka gelar di samping mini bus.
"Aku baru saja menerima telpon dari Kim Myungsoo." jawabnya sambil menatap datar ponsel ditangan.
"Myungsoo?" Chanyeol mengerutkan keningnya.
"Ya. Dan aku jamin kalian akan sangat tertarik dengan apa yang baru saja ia katakan padaku." Sehun mendecih.
"Apa itu?" Yifan mulai penasaran sekarang.
"Byun Baekhyun. Kecurigaanku selama ini terhadapnya menjadi jelas sekarang." Sehun memandang wajah semua sahabatnya dengan serius. "Dia pengkhianat. Selama ini dialah yang merencanakan semua hal untuk Kyungsoo. Termasuk kejadian di apartemen Myungsoo malam itu." Sehun menghela nafasnya lega karena sudah mengatakan beban itu kepada semua sahabatnya.
"Apa?!" Jongin ikut bersuara. "Jadi dia gadis yang seperti itu." komentarnya.
"Tidak disangka." Chanyeol tersenyum sinis. "Gadis itu, kukira dia bersungguh-sungguh pada Kyungsoo."
"Begitulah." Sehun melipat kedua tangannya didepan dada. Aku sudah mencurigainya sejak lama memang. Tapi aku tak tahu jika dia dalang dari semua kejadian termasuk kegilaan yang dilakukan Myungsoo."
"Si brengsek itu tak mau jatuh seorang diri rupanya." kalimat Yifan itu ditujukan untuk Myungsoo.
Kyungsoo terdiam. Satu kenyataan lagi yang memukulnya begitu telak pagi ini. Sahabat perempuan satu-satunya adalah orang yang bertanggung jawab untuk semua tetes air mata yang ia keluarkan dalam beberapa waktu kebelakang. Kyungsoo sakit sekali mengetahuinya. Sahabat yang selalu memberikan senyum terbaik untuknya, yang selalu memberikan kalimat penenang untuknya, yang selalu ada dalam beberapa kesempatan ia tampak akan jatuh, menghempaskannya. Kyungsoo ingin sekali menangis, namun air matanya tertahan didalam sana. Seperti terkubur oleh semua kenangan palsu yang Baekhyun berikan kepadanya.
Kyungsoo menyesali semuanya. Mengapa harus Baekhyun yang melakukan ini padanya? Seseorang yang sangat ia hargai dan hormati sebagai seorang teman, mampu menyakitinya sampai sedalam itu. Miris.
Ketika tiba saatnya Kyungsoo menemui gadis itu nanti, ia ingin sekali setidaknya mendengar satu saja kenangan mereka yang Baekhyun hargai, yang ingin gadis itu ingat sebagai sesuatu yang berarti untuknya bersama Kyungsoo. Hanya dengan begitu saja, Kyungsoo akan melupakan semuanya dan memaafkan Baekhyun untuk semua perlakuannya. Karena demi apapun, Kyungsoo tak pernah bisa membenci Baekhyun.
Luhan menangkap semua ekspesi yang Kyungsoo keluarkan. Ia tersenyum miris. "Lalu sekarang apa yang harus dilakukan?" tanyanya pada semua orang.
Sehun menoleh kepada Jongin. "Kita berlima perlu bicara." putusnya.
"Kau bisa tunggu didalam mobil, Soo. Dan kami akan bicara didekat dermaga." Chanyeol mengusap rambut Kyungsoo dan gadis itu mengangguk patuh.
Kyungsoo duduk didalam mobil dan memperhatikan langkah kelima pemuda itu menuju tepian dermaga. Pikirannya berkecamuk. Mengira-ngira apa yang mungkin dibicarakan oleh kelima sahabatnya. Tapi ia tak mempunyai gambaran apapun. Ia baru sadar jika selama ini ada sesuatu yang tak terbaca olehnya. Sesuatu yang hanya para pria yang mengetahui. Sebuah percakapan yang hanya para pria itu yang mengerti.
Kyungsoo menggenggam erat ponselnya. Meski dilarang untuk menggunakannya, tak dipungkiri kalau ia dan kelima sahabatnya selalu menggunakannya secara diam-diam. Kyungsoo menimbang-nimbang untuk menelpon Baekhyun. Tapi tatapan kecewa kelima sahabatnya terus terngiang dalam pikiran Kyungsoo. Ia kembali berpikir tentang apa yang seharusnya ia lakukan sekarang. Terkurung didalam mini bus seorang diri. Hanya menunggu. Menebak-nebak keputusan apa kiranya yang akan diambil oleh kelima sahabatnya.
..
..
Kelima pemuda itu menimbang-nimbang kalimat pertama yang harus mereka keluarkan, atau siapapun boleh memulainya karena ini sudah menit ketujuh mereka hanya berdiam diri seperti kehilangan pita suara. Batin kelimanya bergejolak, antara memulai dengan serius, atau santai seperti yang biasa mereka lakukan. Tapi sekarang situasinya berbeda. Ya. Situasinya memang tak akan pernah sama lagi. Berharap dapat membuatnya mirip.
"Kita semua mencintainya, benar?" Yifan yang pertama memulai. Keempat pemuda lainnya bernafas lega. Sesungguhnya memanglah Yifan yang paling mereka harapkan untuk memulai.
"Kurasa begitu." Chanyeol menghela nafas menanggapi.
"Kita semua mencintainya sebagai seorang gadis." Luhan menimpali. Menumpu dagunya dengan kedua tangan.
Kelima pemuda itu kembali terdiam beberapa saat. Berpikir. Tak terkecuali Jongin yang justru mengalami hal berat di pagi hari ini. Ia masih saja menyesali perlakuannya terhadap Kyungsoo pagi ini dan disaksikan oleh Yifan. Kalau mengenai stiker yang Kyungsoo berikan, ia sedikit mengerti kalau Sehun dan yang lainnya merasa kecewa. Tapi Jongin akan tetap berdalih bahwa Kyungsoo memberikannya stiker itu karena ponsel miliknya yang tergores. Dan sekarang ini Jongin berharap Sehun atau yang lainnya tak akan membahas hal itu lagi. Ia tak sanggup menjawab apapun pertanyaan memojok -setidaknya menurut Jongin- yang akan dilemparkan kepadanya. Aku berharap mereka membahas hal lain saja, batin Jongin miris.
"Kyungsoo khusus membelikannya untukmu." Sehun menunjuk stiker di ponsel Jongin. Oh baiklah. Sepertinya Jongin memang harus menghadapi bahasan ini. Baru saja ia memikirkannya, dan Sehun sudah mengangangkat topik pembicaraan itu ke permukaan. Ataukah kekhawatiran itu nampak jelas diwajahnya?
"Aku tidak tahu." Jongin memilih jawaban yang dapat menghindarinya dari bencana.
"Itu pernyataan, bukan pertanyaan." sembur Sehun, dan Jongin memilih untuk bungkam lagi. Mari bertindak pengecut untuk kali ini saja, putusnya. Sehun belum mau diajak berdamai.
Suasana hening kembali, sampai Yifan yang kembali memulai. "Kita lupakan dulu tentang stiker itu." Jadi terima kasih kepada Yifan yang baru saja membelokkan topik pembicaraan. Jongin bisa merasa lega sekarang.
"Lalu apa yang akan kita bahas sekarang?" pertanyaan itu terlontar dari bibir Luhan.
"Aku akan bercerita sedikit tentang pembicaraanku dengan Kyungsoo beberapa waktu lalu." Yifan menarik nafas panjang, sementara empat orang lainnya menunggu kalimat pertamanya dengan perasaan tak menentu.
"Hari itu Luhan mengatakan padaku bahwa Kyungsoo tidak mungkin menikah dengan kita berlima, dan sialnya Kyungsoo mendengar itu."
"Jadi dia mendengarnya?!" Luhan memekik. Membuat keempat pemuda lainnya menutup telinga sebelum indera pendengar mereka berhenti berfungsi.
"Ya, dan kau tak perlu berteriak." Yifan menatap pemuda bermata Rusa itu tajam. Luhan mulai merasa tak enak sekarang. Sepertinya akar dari pembicaraan mereka selanjutnya berasal dari perbincangannya bersama Yifan sewaktu itu.
"Lanjutkan!" interupsi Chanyeol serius.
"Kyungsoo meminta padaku untuk tidak memikirkan hal itu dulu, maksudnya tentang pasangan hidup atau semacamnya. Ia hanya ingin kita berjalan bersama-sama seperti saat ini. Menikmati waktu berharga kita sebagai sahabat. Perjalanan yang kita rencanakan dengan penuh keyakinan untuk memperbaiki hubungan persahabatan yang sempat goyah." Yifan menunduk dan mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan.
"Aku mengerti perasaannya. Kyungsoo tentu tengah kalut saat ini. Ini adalah waktu tersulit kedua untuknya. Jadi untuk saat ini, mari kita jangan membahas tentang perasaan kita padanya. Ia mungkin sedang sangat tertekan sekarang."
"Aku setuju." ujar Chanyeol. Semua mata kini menatap padanya.
"Tujuan dari perjalanan ini adalah untuk memulai kisah baru kita dan menata yang sempat berantakan menjadi kembali rapi. Jadi, mari kita hanya terfokus pada kebahagiann Kyungsoo. Kita semua tahu bahwa hari ini ia baru saja menerima satu lagi kenyataan yang sangat menyakiti." ia menambahkan.
"Maafkan aku." Jongin ambil suara. "Untuk waktu tersisa dari liburan kita, aku setuju untuk melewatinya dengan kebahagaiaan dan senyuman. Karena itu, pertama-tama berikanlah maaf kalian untukku."
Sehun terkekeh mendengar kalimat Jongin. "Kau ini! Aku tidak sebegitunya marah. Mungkin aku kesal dan kecewa karena Kyungsoo memilihmu dalam perhatiannya, namun kau adalah sahabatku Jongin. Aku selalu memberikan maafku untukmu." Sehun tersenyum dan memeluk Jongin. Ia merasa bersalah juga karena sudah membuat Jongin sampai seperti ini.
Yifan, Chanyeol, dan Luhan ikut larut dalam keharuan yang dibangun oleh Sehun dan Jongin. Benar. Sahabat tak akan membenci, meski ia kecewa dan tersakiti. Lagipula mereka pernah hancur sekali. Mereka sudah bertekad tak akan memberi kesempatan dan celah untuk kehancuran yang kedua. Setelah ini, hanya boleh ada kebahagiaan dan masa depan.
Begitulah akhir dari pembicaraan mereka siang itu. Fokus pada kebahagiaan Kyungsoo dan menjaga persahabatan mereka. Untuk saat ini, menikmati waktu dengan baik dan membiarkan waktu pula yang memberikan jawabannya.
Kelima orang pemuda itu kembali ke mini bus dan menemukan Kyungsoo yang tertidur didalam mobil. Dapat Luhan lihat sisa air mata yang telah mengering dari sudut mata Kyungsoo, gadis itu pasti banyak menangis tadi. Karena itu, untuk saat ini, mari hanya bersenang-senang dan menciptakan kebahagiaan.
..
..
Kyungsoo terheran-heran ketika ia bangun di hampir sore hari. Ia membuka pintu mini bus, dan menemukan kelima sahabatnya tengah bercengkrama dengan suka cita dan sama sekali tak ada suasana canggung dan kelam seperti bayangan Kyungsoo. Ia menghampiri mereka semua dan tak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Aku merasa perkiraanku sedikit berlebihan, tapi ketika terakhir kali aku melihat ekspresi wajah kalian, aku pikir aku akan melihat darah atau lebam." ucap Kyungsoo polos.
Kelima pemuda itu tak dapat menahan tawa dan meledak mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Kyungsoo. Tuan putri mereka benar-benar polos ternyata.
"Aku pikir juga begitu." Chanyeol menanggapi. "Tapi aku tak punya cukup banyak tenaga untuk melakukannya." pemuda itu kembali melanjutkan tawanya.
"Dan itu hanya membuang-buang waktu." Sehun menimpali.
"Lagipula tujuan utama perjalanan ini adalah untuk bersenang-senang." Yifan tersenyum lembut pada Kyungsoo. "Untuk saat ini, mari hanya fokus pada kita dan lupakan yang lainnya, Kyungsoo." Yifan mengulurkan jemarinya untuk mengelus rambut Kyungsoo.
"Setelah semua ini, barulah kita kembali pada realita. Apa kau setuju, Kyungsoo?" Jongin menambahkan.
Kyungsoo mengangguk. Sungguh, ia merasa lega sekarang. Setidaknya, kejadian sebelum ini tidak membuat persahabatan mereka berantakan. Perjalanan ini adalah awal yang baru bagi jalinan persahabatan mereka, Kyungsoo akan jadi semakin sedih jika beberapa kesalahpahaman menghancurkan yang hampir rapi. Kelima sahabatnya benar, untuk saat ini sebaiknya fokus pada perjalanan yang diawali dengan baik ini, dan berakhir dengan luar biasa baik pula.
"Kyungsoo, kami tak akan mendesakmu untuk urusan perasaan-yang-kau-tahulah-apa itu." Luhan tersenyum canggung. "Aku tahu kau mengerti, jadi, bersikaplah seperti biasanya. Kami tak akan memaksamu." ucapnya.
"Dan apapun keputusanmu nanti, kami akan menerimanya." Chanyeol menimpali. "Kau tahu kan, kami selalu ingin kau bahagia." tambahnya.
"Ya. Tentu saja." senyum Kyungsoo semakin mengembang.
Tentu saja aku tak akan mengambil keputusan yang menyakiti kalian, batin Kyungsoo.
Sore hari yang indah dan berharga menurut Kyungsoo. Kesempatan kedua untuk melihat matahari terbenam dari dermaga. Cuaca sore ini seperti mewakili perasaan milik kelima sahabat itu. Dari arah depan mereka, tepat didepan dermaga tempat mereka berenam berdiri sekarang, bias oranye matahari sore menunjukkan keelokkannya. Perlahan-lahan tenggelam bersama lautan. Pemandangan matahari tenggelam dari dermaga yang kemarin ingin Kyungsoo saksikan, kini sedang berlangsung dihadapannya.
Matahari, apakah engkau bahagia? Ataukah terluka? Kyungsoo bertanya dalam hati.
Bisakah kau mendengarnya? Jawaban dari Bulan untukmu, Matahari? batin Jongin.
..
..
Sekarang adalah waktu untuk menikmati perjalanan di malam hari. Jika selama tiga hari kebelakang mini bus ini hanya melaju di siang hingga sore hari, maka di hari keempat ini, Luhan memutuskan untuk menyetir di malam hari. Sekarang adalah gilirannya. Bersenandung membunuh keheningan. Kelima sahabatnya sudah tertidur sejak satu jam yang lalu. Sementara Luhan harus terus terjaga sepanjang jam malam ini untuk mencari tempat yang bagus untuk melihat matahari terbit.
Waktu menunjukkan pukul dua malam. Bulan penuh bersinar menerangi jalanan lurus yang tengah Luhan tempuh, suasana sepi merayapinya. Dan Luhan benar-benar mengutuk perutnya yang keroncongan minta diisi.
"Oh, tidak. Dimana aku harus menemukan tempat makan yang buka pada jam segini, dan.. ditempat seperti ini?" ya, karena jalur yang ia lewati sekarang lebih banyak menunjukkan pepohonan daripada rumah apalagi warung makan atau yang lebih keren lagi yaitu restoran.
Tapi entah suatu keberuntungan bagi Luhan dan perutnya, karena papan berwarna coklat dipinggir jalan sana menunjukkan nama kedai yang buka 24 jam berjarak 100 meter didepan sana. Luhan tidak bisa tidak bahagia dan merasa beruntung kalau begini.
"Asa! Kali ini kau sangat beruntung, Xi Luhan." monolognya setengah berteriak.
"Apa yang kau temukan?" Luhan terlonjak dan dengan spontan menginjak rem karena suara dibelakangnya.
Suara deritan ban mobil dan aspal jalanan tentu saja mengundang keributan dimalam yang sepi. Ditambah suara-suara lain seperti Kyungsoo yang berteriak "Aww!" atau suara kepala Chanyeol dan Yifan yang saling berbenturan. Baguslah si Raja Tidur Kim Jongin sama sekali tak terpengaruh pada keributan itu. Dan tentu saja si sumber keributan Oh Sehun memandang semua orang didalam mobil dengan wajah polos tanpa dosa. Tapi tentu saja itu tak akan mempan untuk empat orang yang merasa dirugikan olehnya.
Awalnya Kyungsoo, Chanyeol, dan Yifan memandang tajam pada Luhan yang mengemudi. Tentu dengan cepat Luhan menunjuk Sehun, dan sekarang mata keempat orang itu mengarah kepada Sehun. Nyali Sehun menciut.
"Luhan-mengatakan-sesuatu-tentang-keberuntungan-dan-aku-hanya-bertanya-lalu-mobilnya-berhenti-mendadak." Sehun mengatakannya dalam satu tarikan nafas.
"Tentu saja aku terkejut karena dia tiba-tiba bicara dari belakangku, sementara yang aku tahu kalian semua sedang tidur." Luhan juga mengatakannya hampir tanpa jeda.
Jadi, siapa yang bersalah?
"Aku terbangun karena lapar." ujar Sehun sambil mengusap-usap perutnya.
"Oh, aku tidak mengerti situasi ini." Chanyeol mengusap wajahnya kasar.
"Itulah yang aku sebut keberuntungan." Luhan kembali bersuara. "Aku juga sedang lapar dan aku melihat papan dipinggir jalan yang tertulis kedai 24 jam 100 meter lagi." ia menghela nafas, seolah lupa melakukannya dalam beberapa detik.
"Baiklah, kita akan berhenti disana untuk makan." putus Yifan, dan diangguki oleh keempat orang lainnya. Kecuali Jongin yang masih tetap tertidur dan nampak tidak terusik sama sekali dengan kericuhan itu.
"Apa dia mati?" tanya Chanyeol polos, sambil menunjuk pada Jongin. Dan tentu saja mendapatkan hadiah sebuah pukulan dikepalanya oleh Yifan.
Mini bus mereka berhenti didepan kedai. Ada beberapa Ahjussi yang bermain kartu ditemani secangkir teh dan kue beras. Duduk bersama, membuat kegaduhan dimalam yang sepi.
Luhan, Chanyeol, dan Yifan turun lebih dulu dari mini bus, sementara Kyungsoo dan Sehun membangunkan Jongin. Tiga menit berlalu yang bagaikan tiga jam bagi Luhan yang sangat kelaparan sementara menunggu Kyungsoo dan Sehun membangunkan Jongin.
"Sudah kubilang dia mati." ucapan Chanyeol yang lagi-lagi dihadiahi jitakkan oleh Yifan.
Jongin turun dari mini bus setengah sadar dan dituntun oleh Kyungsoo dan Sehun disisi kanan-kirinya.
"Kau itu menelan obat tidur atau apa?" Luhan mendengus dan berjalan lebih dulu menuju kedai diikuti kelima orang lainnya.
Pelayan dikedai itu menyambut mereka dengan ramah. Beberapa hidangan disebutkan olehnya, dan keenam orang itu mulai memesan. Jongin akhirnya benar-benar terbangun ketika hidangan mereka datang satu persatu memenuhi meja. Keenam orang itu kemudian makan dengan tenang. Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan semua pesanan dengan enam orang yang sedang sangat sangat kelaparan.
"Luhan, apa kau sudah menemukan tempat yang bagus untuk melihat matahari terbit?" Yifan bertanya setelah mereka menghabiskan makan hampir pagi mereka.
Luhan menggeleng, "Sepanjang jalan, yang kulihat hanya pepohonan dan beberapa rumah warga. Aku tidak mengerti, kita terdampar atau apa?" ucapnya bingung.
"Ingin melihat matahari terbit?" Keenam sahabat itu menoleh kearah yang sama, yaitu asal suara. Pelayan yang tadi tiba-tiba datang dan melontarkan kalimat pada mereka.
"Benar, Ahjussi." Chanyeol mengangguki. "Apakah Anda tahu tempat yang bagus?" tanyanya.
Ahjussi itu mengangguk. "Hanya sekitar dua kilometer dari sini, kalian akan menemukan jembatan gantung sepanjang 50 meter dengan pemandangan matahari terbit tepat bersinar jika kalian berdiri ditengah-tengah jembatan itu." ujarnya.
Mata keenam sahabat itu berbinar. Itu tempat baru dan tentu saja mereka harus mencobanya. Melihat matahari terbit ditengah jembatan gantung. Pasti menyenangkan.
..
..
..
TBC
..
..
Sorry. Sorry. Sorry. Iya, iya. Saya tahu ini telat banget nget nget nget. Mohon maaf sekali. Saya sudah masuk tahun terakhir perkuliahan dan itu.. ah sudahlah. Kuliah di Pendidikan emang gak gampang, hhu *malah curhat
Saya dengan sekuat tenaga mencicil buat Chap 7B ini disela-sela jadwal bimbingan yang gak tahu kenapa lebih menakutkan daripada film Horor Thailand *loh? #abaikan
Gak tahu chap ini berhasil atau nggak. Saya hanya berharap kalian bisa menikmatinya. Dan buat yang udah lupa sama ceritanya, bisa baca ulang chap-chap sebelumnya karena saya juga melakukan hal yang sama hha
Komentar kalian semuanya saya baca tanpa terkecuali dan saya benar-benar mengucapkan terimakasih untuk segala dukungan, desakkan, saran, kritik, pujian, bahkan bash kalian untuk saya, hhu saya terima semuanya dengan lapang dada Sehun *eh?
Tapi mohon maaf sekali saya tidak bisa balas satupun karena sehari itu hanya 24 jam dan setiap hari hidup saya hanya dihantui oleh proposal dan soal-soal matematika yang.. ah sudahlah.
Saya akan sangat senang sekali jika kalian kembali memberikan review untuk chap 7B yang sangat terlambat ini.
Terimakasih dan Sampai jumpa di Chapter 8 :)
