TITLE : LOVE QUADRILATERAL

DISCLAIMER: NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

PAIRING : GAAINO & SASUHINA

GENRE : ROMANCE/FRIENDSHIP

RATE : T

WARNING : OOC, ABAL, BANYAK TYPO, DAN KEEKSOTISAN LAINNYA.

Masashi Kishimoto-sama~ pinjam chara-nya, ya!

Iya!

THANKZ! ;3 -sakarepe dewe-


Chapter sebelumnya :

"Baiklah jika kau memaksa," ucap Gaara pasrah dengan berakting seperti terpaksa.

Ino tertawa kecil, Gaara ikut tersenyum melihatnya.

"Mau lagu apa?" tanya Gaara, jemarinya sudah siap menekan tuts lagi.

"Apa saja," pinta Ino. Gaara berpikir sejenak, lalu mulai bermain.

.

.

.

Chapter 9 :

Ino terbengong-bengong dengan apa yang baru saja ia dengar. "Sasuke… suka Hinata?" tanyanya tak percaya. Sekarang ia sudah tidak memanggil Sasuke dengan suffix-kun lagi. Entah kapan ia akan memanggil Sasuke dengan suffix-san.

"Hn," gumam Gaara. Ia baru saja menceritakan bagaimana ia dan Sasuke bertukar tubuh hingga keadaan mereka sekarang. Kini mereka tidak berada di studio dan sedang bercakap-cakap di sofa ruang tengah.

Ino mengerjapkan matanya. "Lalu, bagaimana kalian akan kembali?" tanyanya lagi.

Gaara menghela napas, sejujurnya ia juga bingung bagaimana caranya. "Entahlah, apa aku dan Sasuke harus bertabrakan lagi?" ucap Gaara menerawang.

Ino membulatkan matanya. "Jangan! Aku tidak mau melihat kalian masuk rumah sakit lagi!" serunya panik.

Gaara mengacak rambut gadis yang duduk di sampingnya pelan. "Baiklah jika kau yang meminta, my princess."

Ino merona. "Ja-jangan memanggilku seperti itu!" ucapnya gugup.

Gaara mengangkat alisnya dan menyeringai nakal. "Ada apa denganmu Honey?" goda Gaara.

Warna merah di pipi Ino semakin menjadi. "Hentikan!" serunya panik. Otaknya mulai berputar mencari cara. Kedua matanya berkilat-kilat ketika ia menemukan sebuah ide.

"Dear?" goda Gaara lagi.

"Yes, my prince?" Kali ini giliran Gaara yang merona. Ino nyaris tertawa terbahak-bahak melihat wajah Gaara.

"Darling?" balas Gaara tak mau kalah. Tadi Ino benar-benar berhasil membuatnya kalah telak.

"Romeo!"

"Juliet!"

"Prince charming!"

"Cinderella!"

"What Mr. Perfect?"

"I love you. Do you love me, too?"

Ino blushing. Ia tidak menyangka niatnya untuk mengakhiri pemanggilan sayang di antara mereka akan berakhir seperti ini.

"What's your answer, Baby doll?"

"Me, too," ucap Ino. Ia menyerah, pria yang duduk di sampingnya ini benar-benar berhasil membongkar perasaannya.

.

.

.

Hinata bersenandung saat keluar dari pusat perbelanjaan. Ia memasuki sebuah café untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah berjam-jam menghabiskan waktu untuk membeli beberapa stel baju baru dan tentu saja yang paling penting, kado natal.

Natal sudah tinggal dua hari lagi. Rencananya, Hinata dkk bersama staf-staf pemotretan akan merayakan natal bersama di restoran sea side dekat hotel pukul 8 malam. Oleh karenanya, Hinata menyiapkan 4 buah kado, kado untuk Sasuke, Ino, Gaara, dan Temari. Terkadang Hinata merasa kangen dengan keluarganya di Konoha. Tapi ia hanya perlu menunggu 9 hari lagi -dua hari setelah tahun baru- untuk bertemu mereka.

"Jasmine tea," pesan Hinata pada waitress yang menanyainya. Tring! Hinata mengeluarkan ponselnya dan membaca pesan yang baru masuk.

From : Gaara-kun

Message : Kau ada di mana?

Hinata tersenyum membacanya. Ia kembali teringat janjinya untuk memberitahu di mana ia berada pada Sasuke.

To : Gaara-kun

Message : Aku di Bridgehead Coffee dekat Grand Mall.

Hinata mengirim smsnya. Tak sampai semenit, ia mendapat balasan.

From : Gaara-kun

Message : Tunggu aku.

Hinata tersenyum simpul dan mengalihkan pandangannya keluar kafe yang bernuansa rumah itu. Jalanan di luar tidak bersalju dan suhu udaranya pun tidak sedingin Konoha bila musim dingin. Benar-benar pulau yang mengagumkan, puji Hinata dalam hati. Hinata memandang orang-orang yang berlalu-lalang sambil sesekali menyesap jasmine tea yang dihidangkan. Iris Lavender-nya terhenti pada sebuah sosok bersurai murah yang muncul di pintu café. Tanpa Hinata sadari, seulas senyum tersungging di bibirnya saat Sasuke menghampirinya.

"Ayo pulang," ajak Sasuke. Hinata memandang Sasuke yang berdiri di depannya dengan tatapan memelas, memohon untuk tetap berada di sana lebih lama. Sasuke mendengus dan duduk di hadapan Hinata, ia tersenyum samar saat melihat Hinata yang menjadi riang karena permohonannya dituruti.

Sasuke melirik tumpukan belanjaan di bawah meja. "Kau beli apa saja?" tanyanya heran.

Hinata tersenyum simpul. "Persiapan natal."

Natal? Ah, Sasuke belum menyiapkan apapun untuk natal, karena selama 4 tahun ini Sasuke tak pernah merayakan natal satu kalipun. Selama ini ia hanya berpikir, memberikan kado natal untuk ayahnya? Yang benar saja. Tapi kali ini Sasuke akan mengirimkan kado natal untuk Fuga –ralat, Otou-sannya. Kebencian di hatinya sudah mencair dan sepertinya Sasuke harus sesegera mungkin mengirimkan kado, mengingat natal sudah menjadi H-2.

Sasuke memandang Hinata yang meletakkan cangkir yang telah kosong dengan iris Jade-nya.

"Ayo pulang," ajak Hinata, ia mengambil belanjaannya dan berjalan menuju kasir. Selagi Hinata kerepotan mengambil dompetnya, Sasuke beinisiatif membantunya, ia mengeluarkan uangnya dan mengambil kantung belanjaan dari tangan Hinata.

Refleks Hinata menoleh dan tersenyum. "Arigatou, Gaara-kun."

Gaara-kun. Entah kenapa hatinya terasa tidak nyaman saat Hinata mengucapkan nama itu. Astaga, ia ingin sesegera mungkin kembali ke tubuh aslinya dan memberitahu hal sebenarnya pada Hinata.

"Hn," balas Sasuke datar mempercepat langkahnya keluar café agar Hinata tidak menyadari wajahnya yang agak masam.

Mereka berjalan menyusuri trotoar beriringan, jalanan menjadi lebih sepi setelah mereka berbelok. Secara tak sengaja tangan Sasuke yang mengangkut belanjaan menyentuh tangan Hinata. Sasuke terkejut, tangan Hinata yang tidak menggunakan sarung tangan terasa dingin dan segera ia mengoper kantung belanjaannya ke tangannya yang satu lagi. Sasuke meraih tangan mungil Hinata dan memasukkannya ke saku mantelnya. Sontak Hinata merona, ia menoleh ke Sasuke.

Lavender bertemu Jade. Hinata merasa jantungnya berdebar begitu cepat hingga ia takut Sasuke akan mendengarnya. Jade Sasuke membuatnya merasa terhanyut seperti sebelumnya. Hinata menahan napas ketika Sasuke tersenyum kecil padanya. "Sudah tidak dingin 'kan?"

Hinata mengangguk, ia tak berani dan tak ingin melepas pandangannya. Tak berani karena Sasuke pernah berkata akan menghukumnya bila ia tidak memandangnya dan tak ingin karena Jade Sasuke begitu indah di mata Hinata. Membuat Hinata tak bosan memandangnya.

Karena terus memandang Sasuke, Hinata tersandung. Ia hampir terjatuh ketika Sasuke mengeluarkan tangannya dari mantel dan memeluk pinggangnya. Dan oh, kami-sama, Hinata takut akan pingsan saat itu juga. Wajah Sasuke sangat dekat dengannya, bahkan ia bisa merasakan hembusan nafas Sasuke.

Hinata melirik bibir tipis di hadapannya. Hinata meneguk ludah, bibir yang telah merebut ciuman pertamanya terlihat begitu… begitu menggoda. Sasuke menyeringai dalam hati melihat objek mata Hinata, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Hinata dan berbisik. "Tak usah buru-buru, Hinata. Nanti kita bisa melakukannya di villa, bahkan lebih dari itu."

Hinata segera melepaskan diri dari pelukan Sasuke, mengambil sebagian kantung belanjaannya dari tangan Sasuke, dan berlari menuju villa mereka yang sudah dekat. Meninggalkan Sasuke yang mati-matian menahan tawa melihat reaksi Hinata.

.

.

.

Malam Natal. Hinata mematut dirinya di depan kaca, ia mengenakan dress putih selutut dengan sedikit renda di pinggangnya yang ramping. Hinata memutar tubuhnya. Merasa kurang puas, ia menyambar syal putih berbulu yang dibelinya dua hari yang lalu. Sempurna. Syal itu melingkari leher putihnya dan turun melewati bahunya yang sedikit terbuka.

"Hinata?"

Hinata tersentak. "Tunggu sebentar, Gaara-kun," serunya panik. Ia mengambil sebuah hiasan rambut yang terbuat dari berlian dan bulu angsa, lalu menyematkannya di sela-sela rambutnya. Tak lupa ia mengambil tas Chanel mungil berwarna putih di atas meja. Ia berjalan menuju pintu, terdengar bunyi ketukan high heels-nya yang setinggi 12 cm.

Hinata membuka pintu dan nyaris saja ia nosebleed melihat Sasuke yang begitu tampan malam ini. Sasuke mengenakan tuxedo yang berwarna senada dengan baju Hinata, putih.

Mereka terdiam beberapa saat, saling mengagumi sosok indah di hadapannya.

"Terpesona padaku, eh?" goda Sasuke setelah berhasil melepas diri dari apa yang diperbuatnya tadi. Yup, Sasuke juga terpesona melihat Hinata. Surai Indigo yang dipadu dengan hiasan rambut yang Hinata sematkan terlihat begitu indah di mata Sasuke. Belum lagi baju yang dikenakan Hinata yang membuat Sasuke merasa ingin sekali menyuruh Hinata berganti baju dengan baju biasa.

Hinata merona, ia tidak menjawab godaan Sasuke. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa ia terpesona begitu lama dengan tunangannya.

Sasuke mengulurkan tangannya, memberi isyarat pada Hinata untuk menggandeng tangannya. Hinata tersenyum malu dan menyambutnya. Mereka berjalan keluar villa dan menuju restoran yang tak jauh dari villa mereka.

Di depan pintu restoran, Sasuke membuka lengannya. Tanpa pikir panjang Hinata mengamitnya dan mereka masuk. Nuansa natal sangat terasa di dalam restoran itu, terdengar bunyi lonceng bergerimincing dan lampu yang berwarna-warni. Pohon natal yang dihias berdiri di berbagai tempat dan yang paling besar berdiri tepat di tengah ruangan. Mereka berpapasan dengan Gaara dan Ino yang terlihat begitu mesra, setelah bercakap-cakap sejenak, mereka saling memisahkan diri, Sasuke mengajak Hinata untuk makan di teras restoran, teras yang beralaskan pasir pantai. Sementara Ino merayu Gaara agar mengijinkannya meminum wine yang dibawa oleh salah satu pelayan.

Hinata mengagumi pemandangan di hadapannya. Alunan lagu Jingle Bels yang disahut oleh deburan ombak serasa membentuk permainan musik yang kontras. Ia juga dapat melihat langit biru navy tanpa awan, memperlihatkan kerlap-kerlip bintang malam.

"Indah sekali," gumamnya lirih.

"Hn. Bagaimana kalau kita makan sekarang?" tanya Sasuke, matanya masih tak lepas memandangi pemandangan di sekitarnya. Ia juga turut mengaguminya, benar-benar indah, puji Sasuke dalam hati.

Hinata mengangguk dan mereka memesan makanan. Tak sampai 30 menit, makanan yang mereka pesan mengepul hangat di hadapan mereka. Tanpa basa-basi mereka segera melahapnya. Setelah memakan hidangan penutup, Hinata akhirnya berdiri dan turun ke laut. Ia meninggalkan high heels-nya di teras dan berjalan melewati pasir yang berwarna-warni, ada warna hitam, putih, dan merah.

Hinata memekik ketika air laut yang hangat mengenai kulitnya. "Hangat!" serunya riang. Sasuke mengekor di belakangnya dan tersenyum melihat kegembiraan Hinata. Tiba-tiba mata Hinata menangkap sebuah batu koral yang indah, Hinata membungkuk untuk mengambilnya. Tapi, pada saat bersamaan, deburan ombak membuat kakinya goyah dan ia nyaris terjatuh. Sasuke yang awalnya diam saja, terkejut dan segera menangkap Hinata. Sasuke membantu Hinata berdiri dan membawanya menjauh 3 meter dari laut. Saat Hinata mendongak untuk mengucapkan terima kasih, jari telunjuk Sasuke menempel di bibirnya.

"Tutup matamu." Hinata mematuhi perintah Sasuke, ia menutup matanya. Jantungnya berdebar kencang dan pikirannya berkeliaran ke mana-mana. Apa yang akan dilakukan Gaara-kun? Hinata bertanya-tanya dalam hati.

"Sudah." Hinata membuka matanya dan merasakan sebuah rantai dingin yang melingkari lehernya. Hinata menunduk dan terkejut melihat sebuah liontin perak berbandul angsa tergantung di lehernya. Ia kembali mendongak dan memandang Sasuke dengan senyum manisnya. "Arigatou, Gaara-kun."

"Hn." Mati-matian Sasuke menahan diri untuk tidak menyerang Hinata saat itu juga. Hinata tampak begitu manis dengan senyumannya, bahu putih Hinata yang agak terbuka membuat Sasuke meneguk ludah, oh tidak, Sasuke bisa gila. Sasuke melepaskan blazer-nya dan memakaikannya pada Hinata.

"Supaya kau tidak masuk angin," ucap Sasuke saat Hinata bertanya. Ia tidak mungkin menjawab yang sebenarnya 'kan?

Sasuke dan Hinata kembali menuju meja yang sempat mereka tinggalkan. Piring dan gelas sudah dibereskan oleh pelayan. Sasuke dan Hinata ke sana hanya untuk mengambil high heels Hinata yang tergeletak rapi menunggu pemiliknya. Begitu Hinata selesai mengenakan high heels-nya, ia segera menarik ujung kemeja Sasuke yang hendak pergi. Sasuke berbalik dan mengangkat alisnya, belum sempat ia bertanya Hinata menyodorkan dua buah kotak, yang satu berbentuk balok sepanjang lengan Sasuke dan yang satunya lagi lebih mungil dengan bentuk kubus. Sasuke mengambil kotak balok terlebih dulu,

"Boleh kubuka?" Hinata mengangguk cepat.

Sasuke membukanya dan mengernyit heran saat ia membuka kotak itu. Ia mendapati banyak potongan koran di dalamnya. Sasuke mengeluarkan potongan-potongan koran itu dengan hati-hati ke atas meja dan tangannya menyentuh sesuatu yang keras. Dengan cepat, Sasuke segera menariknya keluar dari dalam kotak dan berseru kagum.

Ia mendapati sebuah patung kaca Hinata. Tubuh Hinata yang mengenakan rok selutut dan kaus bertali spaghetti terbentuk menjadi sebuah patung kaca bening.

"I… itu agar kau selalu me-mengingatku meski kita tak dapat bertemu. Dan yang lebih kecil itu i-isinya sama tapi lebih mudah dibawa kemana-mana," jelas Hinata.

Sasuke menyeringai. "Kau cemburu pada wanita di sekitarku?"

"A-aku takut kau a-kan pergi dariku," ucap Hinata sambil menunduk. Sejujurnya ia tak mau mengakui ini. Terlalu memalukan. Tapi ia benar-benar ingin Sasuke hanya mengingatnya meski bersama dengan wanita lain. Hinata tahu bahwa di luar sana banyak sekali model dan artis ternama yang lebih cantik darinya, Hinata tahu itu. Tapi ia sungguh tak rela bila Sasuke tertarik pada salah satu diantara mereka.

"Hinata."

"Hai?"

"Ada seuatu di rambutmu."

"Eh?" Hinata panik dan segera meraba-raba rambutnya.

Sasuke mengangkat kedua tangannya. "Biar aku buangkan," ucap Sasuke melancarkan modusnya. Hinata menunduk, wajahnya merona. Sasuke berpura-pura mengambil sesuatu dari rambut Hinata dan perlahan tangannya menurun melingkari leher Hinata tanpa disadari Hinata.

"Ini sesuatunya," dusta Sasuke. Sontak Hinata mengangkat wajahnya dan menahan nafasnya. Wajah Sasuke begitu dekat hingga ia dapat merasakan napas Sasuke di hadapannya. Bernapas Hinata. Tarik, keluarkan, tarik, keluarkan perintah Hinata dalam hati. Baru saja ia mengambil napas untuk yang ketiga kalinya, Sasuke berucap,

"Terima kasih kadonya," Setelah itu Sasuke melumat bibirnya. Kedua tangannya menekan kepala Hinata untuk memperdalam ciumannya. Sasuke mengetuk bibir Hinata dengan lidahnya, meminta izin untuk mengakses mulut Hinata. Hinata menyerah, ia membuka bibirnya dan membiarkan lidah Sasuke menari-nari ganas di mulutnya. Hinata terhanyut dan tanpa sadar ia mulai membalas pelukan Sasuke, terhanyut dalam rasa manis yang diberikan Sasuke padanya. Hinata tersadar, ia sudah terjerat dalam pesona Sasuke. Well, semoga ini menjadi awal yang baik bagi mereka.


TO BE CONTINUE

V

Special Thanks For :

lavenderchia, RisufuyaYUI, Fuyumi Yayoichi, bluerose, Evil Smirk of the Black Swan, aeni hibiki, Yafa mut, Guest, Aihaibara88, grayerzaforever

MAKASIH REVIEWNYA, REVIEW LAGI, YAA! XD

V

AUTHOR'S NOTE :

Okeh, saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang cenderung sama di review*padahal cuma nggak mau njelasin satu-satu doang /dihajar readers* Gimana Sasukenya? Kalo di chap ini, Sasuke cuma nyerang Hinata #plak Kapan Hinata tau yang sebenarnya? Kalo itu akan terjawab di chappie depaaan~ sabar ya readers. Apa Hinata akan tetap suka sama Sasuke? Hohoho.. bagaimana jika hal ini ditentukan lewat review aja, polling, mana yang dipilih, SasuHina pisah atau tetap gabung. Bagaimana cara Sasuke dan Gaara kembali ke tubuh masing-masing? Bukan lewat tabrakan mobil, tapi lebih tragis dari itu #dihajar Yak sekian sesi tanya jawabnya. Ditunggu review kalian yang akan menentukan nasib SasuHina-nya yaa :DD

V

JANGAN LUPA REVIEW, YA!

DON'T BE A SILENT READER, PLEASE...

V

REVIEW KALIAN ADALAH BAHAN BAKAR AUTHOR BUAT NGE-UPDATE!

V

V