Chapter 9

~Kenyataan ini begitu menyakitkanku. Hey, Cinta, tahukah kau betapa sakitnya aku karenamu?~

"Kippei, aku hamil."

Kata-kata itu lepas begitu saja dari mulutku. Tangan Tachibana masih menggenggamku, aku pun masih menatap wajahnya sampai aku sendiri tidak mampu melepaskan padanganku darinya. Ruang makan yang tadinya hangat, kini terasa dingin dan hampa karena kami membuat keheningan setelahnya.

"Mit-chan, bilang sekali lagi?"

"Aku hamil, Kippei."

"…"

"Aku baru mengetahuinya pagi ini. Periksa ke dokter juga belum."

"Bagaimana kau tahu kalau kau hamil, Mit-chan?"

"Pagi tadi aku beli alat test kehamilan di apotik lantai dasar, dan hasilnya positif."

"Kau yakin?"

"…" *nods*

"Aku mau lihat."

Raut wajah Tachibana yang tadinya sudah sangat santai, kini berubah menjadi sangat tegang dan sedikit terkejut bercampur marah. Aku beranjak dari ruang makan ke toilet untuk mengambil alat tes kehamilan dan kutunjukkan pada Tachibana.

"Dua alat ini hasilnya sama semua."

"…"

"…"

"Aku berpikir, kapan kita terakhir kali 'melakukan'nya? Dan baru sekarang kau bisa hamil. Aku berada di Jerman sudah hampir 4 bulan, Mit-chan. Seingatku, kita 'melakukan'nya dua hari sebelum aku berangkat."

"Ya, aku tahu."

"…"

"Hm…"

"Ada yang ingin kau katakan lagi, sayang?"

"I-iya…"

"OK, berkaitan dengan kehamilanmu?"

"Un."

"Aku tidak bermaksud mendahuluimu. Tapi, semoga anggapanku salah. Kau…"

"…"

"Hamil…karena orang lain?"

Ketika dia mengatakan ini, aku tidak bisa lagi menyembunyikan tangisku. Air mataku keluar membasahi wajah, dan aku berlutut di depan Tachibana sambil menggenggam erat dua alat tes kehamilan di tanganku. Bagaimana mungkin dia bisa setenang itu mengatakannya? Gara-gara itu, aku jadi tidak berani berbohong padanya. Aku terpaksa mengakuinya.

"Iya, Kippei…iya…"

"Dengan siapa, Mit-chan?"

"Eh?"

"Aku bertanya, dengan siapa kau hamil?"

"…"

"Seperti yang aku bilang tadi. Aku akan mendengarkanmu kali ini. Jadi, bicaralah, sayang."

"Kippei…aku tidak berani mengatakannya padamu. Demi Tuhan, maafkan aku…"

"Aku akan dengar penjelasanmu nanti. Tapi beritahu aku siapa yang menghamilimu."

"…Seorang pengacara…"

"Rekan kerjamu?"

"Tidak, kami baru kenal."

"Siapa namanya?"

"Sanada Geniichirou. T-tapi…dia juga sudah berkeluarga! Aku bertemu tidak sengaja dengan dia dan keluarganya. Waktu itu aku ingin menolong istrinya yang sedang sakit."

"Lalu?"

"Aku berteman baik dengan istrinya. Kemudian Sanada-san juga sering mengunjungiku. Awalnya dia hanya teman curhatku saja. Dan semua itu berlanjut sampai…"

"OK, aku mengerti. Kau bilang tadi teman curhat? Kau cerita apa saja padanya? Mengenai kita, Mit-chan?"

"…"

"Mit-chan, apa yang sudah kau ceritakan pada orang lain mengenai kita dan aku tidak tahu?"

"Aku…aku hanya bilang kalau aku kesepian tanpamu. Aku merindukanmu, aku tidak tahan ditinggal sendirian olehmu! Kau tidak bisa dihubungi! Kau tidak tahu betapa tersiksanya aku sampai akhirnya aku selingkuh! Kau tahu, Kippei? Kau menyiksaku!"

"Hey hey…Mit-chan! Tenanglah!"

"Bagaimana mungkin aku bisa tenang? Kau terlalu lama pergi dariku, Kippei! Sungguh, sebenarnya aku ingin menyalahkanmu! Gara-gara kau, aku jadi merasa tidak aman dan membiarkan diriku dijamah orang lain seperti ini!"

"Mit-chan! Kau bahkan belum menjelaskan semuanya padaku. Kenapa sekarang kau jadi marah-marah padaku? Coba pikir, kau sedang hamil. Apa baik untuk kandunganmu kalau kau emosional seperti ini?"

"Kippei…!"

"Aku tidak akan bicara padamu sampai kau bisa tenang. Kita akhiri dulu. Demi Tuhan, aku baru saja pulang dari Jerman, dan harus menerima kabar seperti ini. Aku tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Kau istirahatlah dulu, aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu."

"…"

"Aku mau tidur."

Setelah dia menenangkanku, dia langsung meninggalkanku untuk tidur. Aku masih berlutut di lantai dapur. Aku masih terdiam, kepalaku mendadak pusing dan nafasku tersengal. Aku berpindah ke sofa, mencoba menenangkan diri.

Sekarang Tachibana sedang tidur. Aku sangat berharap dia tidur agak lama. Perasaan ini kembali berkecamuk dalam diriku. Setelah membiarkan dia tidur lelap, aku diam-diam berganti pakaian dan pergi meninggalkan apartemen. Aku menghubungi Sanada dan bilang akan menemui dia di kantornya.

0o0o0o0o0

Terus terang aku tidak berani menemui pria ini di kantornya, aku takut bagaimana tanggapan orang melihat kami berbicara berdua di sana. Aku tidak tahu juga seberapa penting posisi Sanada di kantornya itu. Jika dia seorang pengacara, maka pastinya dia sangat disegani.

Nishiura Law Firm ini cukup terkenal. Aku pernah sekali datang kemari untuk mengantar berkas perkara yang tidak bisa ditangani oleh kantorku. Dan sekarang aku datang kemari bukan untuk mengantar berkas, melainkan bertemu dengan orang yang sudah berbuat skandal denganku. Aku bertemu dengan resepsionis yang kemudian menghubungkanku kepada Sanada. Resepsionis ini kemudian menyuruhku menemui Sanada langsung di ruangannya. Aku sangat berharap tidak mengundang komentar tidak baik. Semoga saja orang-orang di sini menganggap aku hanya seorang klien biasa yang mau mengajukan kasus.

"Silakan masuk, Mitsu."

"Sanada-san. Kau harus mendengarkan penjelasanku."

"OK, kau bilang tadi pagi untuk tidak mengunjungimu karena suamimu pulang. Sekarang kau malah datang kemari, apakah sebaiknya kau pulang saja dan menemani suamimu?"

"Justru aku kemari karena aku sudah berbicara kepada suamiku, dan sekarang dengarkan aku!"

"…"

"Sanada-san, aku hamil."

"Apa?"

"Ya, aku hamil. Tadi malam aku mengalami tanda-tanda awalnya. Pagi tadi aku memeriksa kehamilanku dengan alat sederhana. Hasilnya positif."

"Benarkah?"

"Ya, dan aku sudah mengatakan ini kepada suamiku!"

"Kau gila, Mitsu? Secepat itu kau langsung mengaku kepada suamimu? Dia baru saja pulang, seharusnya kau bisa membuat dia tenang dulu baru bisa bicara khan?"

"Aku sudah tidak bisa menahan diri lagi, Sanada-san. Kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini. Aku mengandung anakmu, hasil hubungan gelap antara kau dan aku. Sekarang suamiku sudah pulang, apa yang harus aku lakukan?"

"Ssstt…tenangkan dirimu, Mitsu. Coba duduk dulu."

Sanada mengajakku duduk di sofa ruang kerjanya, dia menyuguhkanku segelas air. Aku meminumnya sampai habis, karena aku sangat gelisah.

"Lalu bagaimana tanggapan suamimu, Mitsu?"

"Dia…tidak bilang apa-apa. Tanpa aku katakan kalau aku selingkuh, dia sudah tahu kalau aku hamil dengan orang lain. Karena kami sudah cukup lama tidak berhubungan badan, maka itu tidak heran jika dia bisa langsung menduga seperti itu."

"…"

"Aku pun sama saja tidak sabaran seperti sekarang saat berbicara dengan dia tadi. Dia menyuruhku diam dulu, sekarang dia sedang tidur di rumah."

"Lalu kau pergi tanpa mengatakan apa pun padanya?"

"Tidak."

"Kira-kira berapa usia kandunganmu? Aku jadi penasaran. Kebetulan aku sedang tidak ada kerjaan sekarang. Kita ke rumah sakit untuk memeriksa?"

"…"

"Mitsu…"

"Aku tidak tahu…"

"Mitsu, coba dengar."

Dia berlutut dihadapanku, menggenggam tanganku erat dan berusaha meyakinkanku kalau segala tindakkan yang diambilnya ini benar. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya setelah ini. Aku ingin tahu apa dia mau bertanggung jawab? Dan bagaimana cara dia mempertanggungjawabkan perbuatannya?

"Kau hamil karena aku, maka aku ingin menunjukkan rasa tanggung jawabku padamu, Mitsu."

"Bagaimana kau akan bertanggung jawab, Sanada-san?"

"Setidaknya, minimal aku harus tahu berapa usia kandunganmu dan bagaimana keadaannya."

"Apa yang kau inginkan dari kandungan ini?"

"…"

"Sanada-san…"

"Sebenarnya aku ingin kau tetap membesarkannya."

"Apa? Itu tidak mungkin! Tachibana tidak akan mau mengakui kalau ini anaknya! Apalagi aku sudah terlanjur bilang kalau aku hamil karena kau."

"Jadi kau memilih untuk menggugurkannya, Mitsu?"

"…"

"Itu akan sangat menyakitkan. Apa yang akan terjadi pada dirimu nantinya kalau kau harus menggugurkan kandunganmu? Ini tidak baik untuk kesehatanmu juga."

"Sanada-san, kau harus tahu satu hal. Ini sangat penting dan aku harap kau mengerti."

"…"

"Aku sangat mencintai suamiku. Aku…sungguh menghormati dia. Karena itu, aku berani memutuskan seperti ini sebelum semuanya menjadi runyam. Bagaimana pun salahnya aku, kita, aku tetap tidak bisa mengkhianati suamiku. Dua tahun kami menikah, dan selama dua tahun itu pula aku meyakinkan diriku bahwa dialah yang terbaik untukku. Biarlah rasa sakit ini aku terima sebagai penebus kesalahanku…"

"Aku tahu, hanya saja…kau yakin? Kau serius untuk menggugurkannya?"

"Maafkan aku, Sanada-san. Sungguh…maafkan aku. Aku sudah merusak kebahagiaanmu dengan Seiichi-san, aku pun sudah menghancurkan masa depanku sendiri."

"Mitsu, sudahlah. Jangan bicara begitu. Bagaimana pun karena ini perbuatanku juga, maka aku akan membantumu. Sekarang, kita ke rumah sakit, OK?"

To be continue~


Btw, FFn kenapa sih akhir2 ini? Gimana saya mau upload kalo error terus? Chapter 10 coming up next!