Title: Dating With The Dark

Cast:

-Kim Ryeowook

-Kim Yesung

-Lee Donghae

-Choi Kyuhyun

-Lee Eunhyuk

-Yoona and other

Genre: Romance, little bit Crime

Disclaimer: Ini ff remake karya Santhy Agatha. Saya hanya memberikan beberapa perubahan seperlunya.

Summary: Ryeowook merupakan target pembunuhan oleh "Sang Pembunuh". Tapi bagaimana jika "Sang Pembunuh" itu adalah orang terpenting dalam hidup Ryeowook di masa lalu?

Warning: Genderswitch, Typho(s) bertebaran. Don't Like Don't Read, ok?

.

.

Mandi? Apakah maksud lelaki ini, dia akan mandi di sini. Bersama Ryeowook?

Wajah Ryeowook merah padam, selain karena uap hangat air mandinya juga karena perkataan Yesung yang seolah tidak peduli itu. "Jangan kau kira kau bisa melecehkanku seenaknya!" Ryeowook memandang Yesung dengan marah, "Keluar!"

Tetapi rupanya kemarahan Ryeowook tidak mengganggu Yesung, lelaki itu hanya berdiri dengan nyaman di sana, tampak tidak peduli dengan ketelanjangannya, sementara Ryeowook semakin tidak nyaman, berusaha mengalihkan pandangannya dari bagian tubuh Yesung itu...dia tidak boleh melihat! Meskipun kemudian dia tidak bisa menahan diri dan menyadari bahwa lelaki itu sedang sangat terangsang! Oh Tuhan, apakah dia akan berakhir diperkosa di kamar mandi oleh Yesung?

"Tidakkah engkau tertarik untuk merasakan nikmatnya mandi bersamaku, Ryeowook? Aku akan memijat punggungmu."

Lelaki itu malahan melangkah, mulai masuk ke dalam kolam mandi itu, membuat Ryeowook panik, dia langsung beringsut ke ujung yang paling jauh dari Yesung menyadari dilema yang dirasakannya, kalau dia berdiri, dia dalam keadaan telanjang bulat dan Yesung akan melihat semuanya...

Yesung makin masuk ke kamar mandi dan melangkah mendekat, membuat Ryeowook tidak bisa berpikir panjang, dia langsung berdiri, berusaha tidak mempedulikan ketelanjangannya dan hendak melompat dari kolam mandi itu dan melarikan diri. Sayangnya, Yesung lebih sigap, dengan cepat lelaki itu mencekal lengan Ryeowook dan kemudian menarik tubuh Ryeowook yang membelakanginya hingga punggung Ryeowook menempel di dadanya.

Ryeowook langsung gemetar ketika jemari Yesung mencekal kedua lengannya dengan mudahnya dan menjadikannya satu di depan tubuhnya. Yesung bisa dibilang memeluk Ryeowook dengan eratnya dari belakang. Seluruh punggung Ryeowook menempel ke bagian tubuh depan Yesung yang keras, dan Ryeowook bisa merasakan bagaimana kejantanan Yesung yang keras mendesak di lekukan panggul atasnya.

"Lepaskan aku." Ryeowook bergumam, berusaha menyembunyikan gemetar di suara dan tubuhnya. Yesung yang berdiri di belakangnya menumpukan dagunya di puncak kepala Ryeowook, Ryeowook bisa merasakan lelaki itu tersenyum mengejeknya.

"Kita tidak perlu bertingkah seperti ini, Ryeowook...aku ingin memperlakukanmu dengan baik, seharusnya kau menerimanya begitu saja, dengan begitu mungkin aku akan mengampunimu."

"Kau mengejarku karena ingin membunuhku." Ryeowook menggertakkan giginya, "Kenapa kau tidak langsung membunuhku saja? Kenapa kau melakukan ini kepadaku? Kenapa kau menyekap dan melecehkanku?"

Yesung mengetatkan pelukannya, memastikan Ryeowook tidak bisa menggerakkan tubuhnya, "Aku tidak ingin melecehkanmu." Lelaki itu menundukkan kepalanya dan kemudian bibirnya merayap ke samping kepala Ryeowook, Ryeowook bisa merasakan hembusan napas panas di sana, yang membuatnya meremang, sebelum kemudian bibir Yesung melumat telinganya, mengecup dan memainkan lidahnya di sana, penuh rayuan, "Aku cuma ingin memujamu."

Ryeowook langsung meronta, berusaha melepaskan diri dari pengaruh hipnotis rayuan Yesung. Tetapi lengan lelaki itu masih kuat memeluknya, membuatnya tidak berdaya.

"Ryeowook..." tiba-tiba saja suara Yesung terdengar sedih, membuat Ryeowook tertegun. Lelaki itu menundukkan kepalanya, memeluk Ryeowook erat-erat dari belakang, dan menenggelamkan kepalanya di cekungan di antara leher dan pundak Ryeowook.

Ryeowook membeku dipeluk dengan penuh perasaan seperti itu, sehingga tanpa sadar dia terdiam dan membiarkannya. Sampai lama kemudian, Yesung mengecup lembut pundaknya dan melepaskan pelukannya. "Mandilah." Lelaki itu menjauh, dari sudut matanya Ryeowook melihat Yesung meraih jubah mandi yang tersedia di rak samping kamar mandi dan mengenakannya, lalu tanpa kata, seolah-olah sudah menjadi kebiasaannya, dia melangkah pergi.

Ryeowook menghela napas panjang setelah pintu itu di tutup. Jemarinya memegang dadanya, berusaha menghentikan debaran di sana.

xXxXx

Yesung keluar dari kamar mandi itu dengan marah, marah kepada dirinya yang lemah, marah karena tidak mampu melaksanakan maksudnya. Dia masuk ke kamar mandi itu, telanjang, jelas-jelas untuk memaksa Ryeowook melayani nafsunya. Yesung sangat bergairah ketika memasuki kamar mandi itu, membayangkan bagaimana paha Ryeowook akan terbuka untuknya dan dia bisa menenggelamkan dirinya dalam kehangatan yang manis tubuh Ryeowook, mencapai kepuasannya sendiri dan memberikan kepuasan untuk Ryeowook. Dia akan memiliki Ryeowook!

Tetapi kemudian, ketika dia memeluk Ryeowook dari belakang, merasakan seluruh tubuh Ryeowook gemetar dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, Yesung tiba-tiba saja merasa luruh dan tidak mampu. Itulah yang membuatnya marah, Ryeowook selalu berhasil membuatnya lemah bahkan ketika perempuan itu tidak menyadarinya.

xXxXx

Kyuhyun yang sedang mengunjungi rumah Yesung duduk di ruang tamu yang mewah itu dan mengamati sekelilingnya penuh penilaian. Yesung kaya, tentu saja, dan ketika memilih rumah sebagai tempat tinggalnya, dia tetap saja menunjukkan selera tingginya.

Tak lama kemudian, Yesung keluar, tampak muram meskipun segar sehabis mandi, dia mandi di kamar mandi lain dengan marah dan masih mengutuk dirinya sendiri, rambutnya basah dan lelaki itu mengenakan kemeja sutera warna hitam yang dipadu dengan celana jeans warna senada. Penampilannya santai karena sedang berada di rumah.

Kyuhyun melihat ekspresi wajah Yesung dan mengangkat alisnya, "Kau sudah mendapatkan Ryeowook, dan ekspresimu tetap saja muram." Lelaki itu menggoda

sahabatnya, membuat bibir Yesung menipis karena kata-kata Kyuhyun tepat mengenai sasaran.

"Aku belum mendapatkannya." Yesung menyimpulkan sendiri. Tidak. Belum. Dia belum sepenuhnya mendapatkan Ryeowook. Perempuan itu sudah jelas tertarik kepadanya, tetapi rasa tertariknya itu tertutup oleh rasa takut dan waspada yang mendominasi, seluruh penjelasan Donghae tentangnya kepada Ryeowook sudah pasti membawa pengaruh besar bagi pandangan Ryeowook kepada Yesung, perempuan itu ketakutan. Takut bahwa Yesung akan membunuhnya.

Yesung memandang jemarinya dan tercenung, Akankah dia membunuh Ryeowook dengan

tangannya sendiri? Waktu itu gagal melakukannya...dan sekarangpun alasannya menyekap Ryeowook bukanlah untuk memperbaiki reputasinya?

"Aku kemari untuk mengabarkan bahwa semuanya sudah siap." Kyuhyun bergumam, memecah keheningan karena Yesung hanya tercenung dan sibuk dengan pemikirannya sendiri.

Yesung menganggukkan kepalanya, "Terima kasih Kyuhyun." Lelaki itu melangkah pelan menuju bar yang tersedia di sudut ruangan, menuang brendi tua berwarna keemasan dari botol ke dua buah gelas lalu membawanya kepada Kyuhyun.

Kyuhyun menerima gelas itu dan mengernyit, "Segelas brendi di siang bolong?" tetapi tak urung disesapnya minuman itu sambil mengernyit.

Yesung menyesap gelasnya, "Agen itu, seorang agen yang sempat menyusup ke perusahaanmu demi mendekati Ryeowook, dia pasti sedang berusaha melacak jejakku. Rumah ini terlalu mencolok, karena itu aku memerlukan bantuanmu."

Kyuhyun mengangkat bahunya, "Donghae. Aku sudah melihat berkasnya di kantorku, penyamarannya sangat bagus hingga aku tidak menyangka bahwa dia seorang agen khusus. Kau tidak perlu kuatir Yesung, lelaki itu tidak akan berhasil melacakmu dan Ryeowook, mereka tidak akan bisa mengaitkanmu dengan keluarga Choi."

Yesung terkekeh, "Ayahmu pasti akan membunuhmu kalau tahu kau melibatkan diri ke dalam hal berbahaya seperti ini."

"Mungkin." Kyuhyun tersenyum mengingat ayahnya yang luar biasa. Ayahnya adalah panutan, Kyuhyun ingin menjadi seperti ayahnya di usia matangnya nanti, seorang ayah dan lelaki yang sempurna. "Tetapi kalau dia tahu aku melakukannya untuk menolong sahabatku, kurasa dia akan mengerti."

Yesung mengangguk dan tersenyum, "Kau beruntung memiliki ayah seperti dia." Lelaki itu lalu duduk di depan Kyuhyun, "Jadi kemana aku bisa membawa Ryeowook?"

"Ke sebuah pulau." Kyuhyun menyandarkan tubuhnya di sofa, tampak puas, "Pulau itu bukan milik keluargaku, tetapi milik keluarga Jung, mungkin kau pernah mendengarnya, Jung Yunho adalah sahabat ayahku."

"Aku pernah mendengarnya." Tiba-tiba wajah Yesung tampak misterius, "Sungguh suatu kebetulan."

Kyuhyun menatap Yesung dengan bingung, "Kebetulan? Apa maksudmu?"

Yesung menggelengkan kepalanya, "Bukan apa-apa." Ada sebuah penyelidikan yang

dilakukan Yesung berkaitan dengan keluarga Jung, tetapi penyelidikan itu masih mentah dan Yesung memutuskan untuk menyimpannya dulu sambil memastikan bahwa semuanya sudah bisa dibuktikan.

Lama Kyuhyun menatap Yesung penuh ingin tahu, tetapi kemudian dia sadar bahwa tidak ada gunanya memaksa Yesung berbicara, sahabatnya itu selalu penuh rahasia, dan ketika dia memutuskan untuk berahasia, tidak akan ada apapun yang bisa memaksanya untuk berbicara.

"Kau bisa membawanya ke sana kapan saja, aku sudah meminjam pulau itu dari Yunho Ahjussi dan beliau mempersilahkanku menggunakannya sesukanya, pulau itu biasanya hanya dikunjungi setahun sekali ketika keluarga Jung berlibur. Jadi sekarang kau bisa leluasa menggunakannya."

"Aku tidak akan lama di sana." Yesung tersenyum, "Segera setelah seluruh persiapan beres, aku akan kembali ke Italia."

Ya. Yesung tidak sabar menunggu waktunya tiba, dan dia bisa kembali pulang...

xXxXx

"Kami sudah menyelidiki seluruh rumah di sekitar sini yang dibeli atas nama pengusaha asing, ada banyak sekali, tetapi kami sudah mengerucutkan hanya kepada rumah-rumah yang dibeli beberapa bulan terakhir." Eunhyuk, salah seorang anak buah Donghae menatap atasannya itu dengan gugup, "Datanya terlalu luas, kami tidak tahu harus melacak nama siapa. Tanpa spesifikasi data yang pasti, kita harus melakukan pengecekan terhadap beribu-ribu rumah."

Donghae menghela napas panjang, "Dan itupun belum tentu berhasil, bisa saja 'Sang Pembunuh' membeli atau menyewa rumah atas nama orang lain, atau menggunakan orang local, sehingga kita tidak akan bisa melacaknya." Pandangan Donghae menerawang, menatap foto samar-samar sang pembunuh yang dipasang di white board kantornya. "Oke Eunhyuk, kau bisa pergi. Kabari aku hasil penyelidikan team nanti."

Eunhyuk melempar pandangan penuh rasa kagum kepada bosnya itu sedetik sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan Donghae. Donghae adalah atasannya yang paling tampan, dan masih muda. Biasanya lelaki itu selalu tampak tenang dan terkendali, membuat Eunhyuk kagum. Tetapi sekarang lelaki itu tampak begitu gusar, seolah kasus ini telah begitu mempengaruhinya.

Kenapa? Apakah karena perempuan yang dianggap sebagai kunci itu? Perempuan bernama Ryeowook?

Tiba-tiba Eunhyuk merasa cemburu sekaligus iri, dia belum pernah berjumpa dengan perempuan bernama Ryeowook itu, yang selalu menjadi pusat perhatian bagi misi mereka. Tetapi dia pernah melihat fotonya, Ryeowook perempuan yang cantik dan tampak lembut, dengan rambut panjang dan senyum yang menawan. Mungkin senyum itu pulalah yang membuat Donghae begitu terpengaruh atas hilangnya Ryeowook. Donghae bukannya mencemaskan data penting yang mungkin ada di ingatan Ryeowook yang hilang, yang mungkin bisa jatuh ke tangan sang pembunuh, Donghae sepertinya mencemaskan Ryeowook sendiri. Perempuan itu sepertinya telah mengambil hati atasannya.

Eunhyuk memegang dadanya yang berdenyut oleh perasaan yang mirip cemburu, kemudian dia menghela napas dan melangkah menjauh.

xXxXx

Perempuan itu mengoleskan lipstick merah menyala di bibirnya, menatap puas pada bayangannya di cermin. Dia tampak amat sangat cantik, seperti yang diharapkannya. Dia sudah meng- highlight rambutnya menjadi berwarna kemerahan, dan membungkus tubuhnya dengan gaun merah yang sangat seksi. Semuanya serba merah, mengirimkan pesan tantangan kepada Yesung, menyiratkan makna bahwa dia menantang Yesung untuk memilikinya.

Kim Yesung adalah cinta sejatinya, satu-satunya lelaki sempurna yang dipujanya. Dia akan tetap memuja Yesung meskipun dia tahu bahwa lelaki itu saat ini sedang tidak fokus kepadanya. Yesung masih disilaukan oleh Ryeowook, tetapi dia yakin, akan ada saatnya dimana Yesung bisa menyadari kehadirannya dan kemudian memahami betapa beruntungnya diri Yesung, karena dicintai perempuan seperti dirinya.

Matanya bersinar marah ketika membayangkan Ryeowook, perempuan itu benar-benar merepotkan. Dia mau menerima tugas dari Yesung bukan karena ingin mendekatkan Yesung kepada Ryeowook, itu adalah hal terakhir yang diinginkannya! Dia melakukan semua ini lebih karena keinginannya untuk mengawasi Yesung dan mengetahui semua perkembangan terbaru menyangkut Ryeowook, dan jikalau dia menemukan bahwa Ryeowook akan terlalu dekat dengan Yesung, dia akan langsung bergerak untuk menjauhkan Yesung.

Yesung adalah miliknya dan akan selalu begitu, Lelaki itu harus disadarkan bahwa tidak akan ada perempuan yang bisa mencintainya sedalam dia mencintai Yesung. Sambil menatap dirinya sendiri di cermin untuk terakhir kalinya, perempuan itu tersenyum, membayangkan masa depannya yang indah, bersama lelaki yang dipujanya.

xXxXx

Ketika Yesung memasuki kamar itu, Ryeowook sedang duduk dengan tatapan mata menerawang, dia hanya mengangkat kepalanya sedikit ketika melihat Yesung, tatapan matanya, seperti biasa, tampak marah yang berlumur dengan ketakutan, "Ada apa?"

Mau tak mau Yesung merasa geli akan sikap Ryeowook yang penuh antisipasi negatif terhadapnya, dia lalu bersandar di lemari tempat meletakkan berbagai hiasan di depan Ryeowook, tampak santai, "Bisakah kau tidak berlaku defensif terhadapku, Ryeowook? Aku tidak akan melukaimu, belum akan." Tatapannya berubah menjadi berbahaya, "Meskipun tidak akan menutup kemungkinan aku bisa melukaimu kalau kau mencoba bertindak bodoh, melarikan diri misalnya."

Ryeowook menatap kesal ke arah Yesung, "Bagaimana bisa aku melarikan diri? Kau mengunci satu-satunya pintu jalan keluar dari kamar ini, dan jendela itu dipasang gerendel yang sangat besar." Ryeowook mendesah jengkel, "Aku tidak tahu kenapa kau mengejarku, mereka semua bilang ini ada hubungannya dengan ayahku, dan juga dengan reputasimu." Tiba-tiba tatapan Ryeowook menajam penuh kebencian ketika menemukan setitik kebenaran. "Apakah kau yang membunuh ayahku?"

Yesung memasang wajah datar tanpa ekspresi, menyandarkan tubuhnya dengan santai. "Apakah menurutmu begitu?" Lelaki itu membalikkan pertanyaan Ryeowook dengan sebuah pertanyaan pula.

Napas Ryeowook mulai terengah ketika menyadari bahwa mungkin saja dia sedang berhadapan dengan pembunuh ayahnya! "Kau yang membunuh ayahku ya? Katanya kau disewa oleh organisasi jahat itu untuk melenyapkan ayahku."

Yesung tidak menjawab, hanya menatap Ryeowook dengan tajam, "Itu yang mereka katakan kepadamu?" Lelaki itu tersenyum tipis, "Kalau begitu kau bisa mempercayai apapapun yang kamu mau."

Ryeowook langsung meradang mendengar jawaban yang sangat tidak berperasaan itu, dia tanpa sadar melonjak dan menerjang Yesung. Dengan marah dia melemparkan telapak tangannya, menampar pipi lelaki itu, "Betapa kejamnya hatimu!" Mata Ryeowook mulai berkaca-kaca, menatap Yesung penuh emosi, "Kau membunuh orang tanpa hati, tanpa menyadari bahwa setiap orang punya kehidupan yang berhak dijalaninya! Manusia sepertimulah yang seharusnya mati! Bukan ayahku!" Dengan histeris Ryeowook memukul-mukulkan tangannya, menyerang Yesung, menampar sebisanya, tetapi Yesung menanggapinya dengan sangat dingin dan tenang,

Lelaki itu kemudian menggerakkan tangannya dan menggenggam pergelangan tangan Ryeowook dengan kedua tangannya. "Order Kecil." Yesung bergumam parau, matanya berkilat, "Begitulah aku menyebutmu, kau adalah tugas yang paling mudah yang pernah kujalankan, aku meremehkanmu dan menganggapmu sambil lalu, bahkan dengan aku memejamkan matapun, aku pasti bisa menjalankan tugas itu." Mata Yesung tampak semakin pekat menatap Ryeowook, "Tapi aku salah, kau adalah tugas paling sulit yang pernah kujalankan, satu-satunya kegagalanku."

Tiba-tiba saja lelaki itu menarik tubuh Ryeowook yang masih terpana dan mencoba menelaah kata-kata Yesung, mendekatkan tubuh Ryeowook sehingga menabrak tubuhnya dan kemudian melumat bibirnya dengan penuh gairah.

Ciuman itu kasar, penuh dengan gairah yang sudah tidak ditahan-tahan lagi. Bibir Yesung melumat bibir Ryeowook tanpa ampun, tanpa ampun! Lelaki itu merenggut punggung Ryeowook, dan merapatkannya semakin rapat ke tubuhnya, Ryeowook merasakan tubuh Yesung yang keras dan kuat menekannya, membuat kehangatan tubuh masing-masing saling menembus dan menimbulkan gelenyar aneh dalam tubuh Ryeowook, gelenyar yang berusaha diusirnya sekuat tenaga. Dan secepat dimulainya, secepat itu pula Yesung mengakhiri ciumannya, lelaki itu menjauhkan kepalanya, masih memeluk Ryeowook, napas keduanya terengah-engah dan mata mereka saling membakar, kemudian, lelaki itu melepaskan Ryeowook. "Kita akan pergi dari sini segera," Gumamnya tenang. Kemudian melangkah ke arah pintu, "bersiap-siaplah Ryeowook." Gumamnya sambil menutup pintu dan menguncinya dari luar.

Ryeowook ditinggalkan seorang diri di dalam kamar yang terkunci itu dalam kebingungan... Pergi? Kemana? Akankah Yesung membawanya ke sebuah tempat terpencil, tempat dimana dia bisa dibunuh dan jasadnya tidak akan bisa ditemukan oleh siapapun? Pikiran itu membuatnya ngeri...

xXxXx

Yesung bersandar di pintu kamarnya yang besar, pintu tempat Ryeowook terkurung di baliknya. Dia memejamkan matanya, merasakan bibirnya yang membara, dan meredakan gairahnya yang membuncah, merindukan sentuhan itu. Hanya sebuah ciuman dan Yesung langsung tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.

"Kau menyekapnya di dalam kamarmu." Sebuah suara yang sangat familiar, membuat Yesung menoleh.

Wanita itu berdiri di sana, dengan gaun merah yang menonjolkan lekuk tubuhnya, buah dadanya hampir tumpah di belahannya yang sangat rendah, rambutnya yang baru di highlight kemerahan tergerai menyala dengan indahnya. Penampilan perempuan itu tampak sangat berbeda ketika dia menjalankan tugasnya dan memaksanya tampil sedikit sederhana. Sekarang perempuan itu benar-benar siap, tidak sedang dalam tugas dan berusaha berdandan secantik mungkin, demi lelaki yang dipujanya: Kim Yesung.

Yesung menatap perempuan itu dan mengerutkan kening, dia merasakan hasrat yang mendalam, perempuan itu jelas-jelas berusaha menggoda dan merayunya, Yesung bisa menangkap pandangan memuja yang dalam, tergila-gila. Well...kebanyakan perempuan memang menatapnya seperti itu, tetapi perempuan ini berbeda, dia perempuan yang berbahaya. Yesung harus berhati-hati kepadanya, "Kenapa kau datang kemari?" Yesung memilih untuk tidak menanggapi perkataan perempuan itu, tentang dia yang menempatkan Ryeowook di kamarnya.

"Untuk menagih janjimu. Kau bilang kau akan mengajakku makan malam setelah kau berhasil menangkap Ryeowook."

Yesung mengangkat alisnya, tentu saja dia tidak pernah berjanji semacam itu. Tetapi perempuan ini dengan tidak tahu malu, sengaja mengatakan kebohongan ini di depannya, menantangnya untuk Yesung berpikir untuk menolak mentah-mentah dan meninggalkan perempuan ini. Tetapi kemudian dia menelaah kembali, dia masih membutuhkan perempuan ini dan kesetiaan perempuan ini kepadanya masih diperlukan, lelaki itu lalu mengangkat bahunya dan tersenyum sinis, "Kurasa kau akan mendapatkan apa yang engkau mau, Yoona."

TBC

Hello... Ga kecepetan kan?

Makasih buat banget yg udah mau baca dan review..

Yang mau berteman sm saya, add fb atau follow twitter saya. Mau jadi temen sms an juga boleh.. Saya lg pengen nambah teman Yws.

See you..