Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: OOC, alur ngebut, tokoh OC, alur tidak jelas, Dewasa (harusnya ratingnya M) dll


Pertempuran

chapter 9


Normal POV

Rin membuka matanya meski dengan bersusah payah, ia mengerjapkan kedua matanya, ia masih tak terbiasa dengan ruangan yang redup ini. Ia terkesiap ketika dirinya sadar, ia berada di sebuah ruangan yang miskin cahaya, jantungnya berdebar-debar, ia takut kalau-kalau ada anggota Akatsuki yang sedang mengawasinya. Tangannya yang diikat membuatnya tambah susah untuk meloloskan diri, ia masih berusaha untuk mencari benda-benda yang dapat ia gunakan untuk melepaskan ikatan tali itu.

Tiba-tiba terdengar suara dari suatu sudut di ruangan tersebut, seperti suara sambungan telepon, "tsssk...tsssk... sepertinya kau sudah sadar, hahahahaha." suara itu menggema di seantero ruangan.

"Siapa kau? anggota Akatsuki kah?" tanya Rin.

"Kau ini idiot atau apa, haaah? tssk... tsssk... sudah tentu kami adalah bawahan tuan Lucifer hahaha tsssk..." jawab suara itu.

Rin meringis, bekas luka di kepalanya kembali terasa sakit, ia sekuat mungkin menahan sakitnya. "ternyata tikus dari ANBU tidak sekuat yang kukira, kalau tahu seperti ini seharusnya aku tidak perlu repot-repot menyiapkan pasukan yang banyak ...tsssk..."

Rin berharap sesuatu yang buruk tidak terjadi pada teman-temannya, ia masih berdoa dalam hati agar misi kali ini lancar. Rin baru menyadari kebodohan dirinya yang tidak memberi teman-temannya alat penghubung sekaligus alat pelacak, karena kedua alat itu sangat penting dalam situasi seperti ini. Dalam keadaan gelap seperti ini, Rin benar-benar kalut memikirkan nasib teman-temannya, ia tak mau kebodohannya di masa silam terulang.

...

Sementara itu di tempat Naruto

"Sial, untung hanya lewat." ujar Naruto sambil meringis. Ia mengusap darah di pipinya, ia sungguh beruntung, dapat bersembunyi di balik sebongkah batu yang tidak terlalu besar.

Untungnya sang penembak telah pergi karena mengira pemuda bersurai kuning itu telah mati, Naruto pun selamat. Entah kenapa pula ada sebongkah batu misterius di lorong ini, Naruto memeriksa bagian batu itu, penuh dengan huruf-huruf Mesir kuno, Naruto penasaran, namun tidak ada waktu untuk main-main, ia harus tetap melaju.

Akhirnya di ujung lorong ada sebuah pintu, Naruto menemukan sebuah harapan, ia mulai mempercepat langkahnya kembali. Ia berhasil keluar dari lorong tersebut, namun ia masuk ke sebuah ruangan aneh yang penuh berisi miniatur patung Sphinx, yaitu patung kucing berkepala manusia. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, Naruto mulai waspada, ia mulai mengokang pistol miliknya, saat ia bersiap, seketika itu ia kaget karena melihat sebuah sosok.

...

Di tempat Shikamaru, Shion, dan killer bee

"Siapa kau?" tanya Shikamaru penasaran.

Siluet itu hanya tertawa kecil penuh misteri, Shikamaru, Shion, dan Bee telah sampai di lantai tiga, namun halangan suah menghadang mereka. "Kalian adalah musuh dari Hipnos dan Hisminai, sementara aku telah menjalin kerjasama dengan mereka dengan imbalan beberapa unit senjata, jadi aku harus menepati janjiku." ujar siluet itu, kemudian diikuti aksi peembakan.

Door! Door! Door!

Tembakan bertubi-tubi itu hampir mengenai mereka bertiga, namun meleset. Killer Bee berusaha membalas dan nekad maju untuk mencapai targetnya. Dengan pistol jenis magnum, ia terus menembak tanpa memberi ampun, untungnya Bee sudah mengisi penuh peluru dalam pistol tersebut, ia hampir mengarahkan pistol itu tepat ke wajah target, namun sang target menepisnya, hingga pistol Killer Bee terpental jauh.

Hal itu dijadikan kesempatan bagi sang target untuk menendang tepat perut Bee, saat ia hendak melakukannya lagi, maka peluru dari pistol Shikamaru tepat mengenai pergelangan tangannya.

Door

Sang target pun terjatuh, ia meringis menahan sakitnya bekas tembakan, Killer bee mencoba berdiri dan merebut senjata dari sang target dengan sangat mudah. Shikamaru serta shion pun maju untuk melucuti sang target, "Shion! periksa denyut nadinya!" perintah Shikamaru, dimaksudkan agar sang target masih tetap hidup untuk memberikan informasi.

Akhirnya sang target tak berkutik, tak berusaha melawan, sang target masih menahan kesakitan. Shikamaru berusaha mencari benda disekelilingny yang dapat menghentikan pendarahan di tangan sang target. Akhirnya ia menyobek bagian dari kemejanya sendiri untuk menghentikan pendarahan tersebut, saat itu benar-benar waktu yang genting yang pernah mereka lewati.

~oOo~

Markas ANBU

Kakashi masih mengscroll layar laptopnya kebawah, ia tengah membaca berita-berita dari mancanegara, takut-takut kalau Akatsuki kembali berbuat ulah. Ia tersenyum ketus dibalik masker hitamnya, apa yang sedang ia cari tak menemui titik terang, bukan, bukan perbuatan baru Akatsuki yang benar-benar ia cari, tapi lebih dalam daripada itu, sebuah fakta yang ingin ia ketahui kebenarannya.

kemudian datanglah seorang agen ANBU keruangannya dengan terengah-engah, sepertinya ia membawa berita yang besar. "Tuan Kakashi, ada berita yang benar-benar mengejutkan dari tim intelejen jepang, baru saja terjadi ledakan yang cukup besar di markas kepolisian bagian prefektur Saitama, dan setelah api dipadamkan yang tersisa di meja sang Inspektur hanyalah sebuah sapu tangan berlogo awan merah."

"Hnn, Akatsuki kembali menunjukan taringnya." komentar Kakashi singkat.

"Kalau begitu, kirim agen Kiba untuk menyelidiki tempat kejadiannya, aku percaya padanya." ujar Kakashi dengan tenang tanpa ada rasa khawatir. Tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka dan dengan santai dan sambil menghisap sebatang rokok, kemudian ia menaruh tumpukan berkas ke meja kerja Kakashi.

"Sudah semua kau cari tahu, Asuma?" tanya kakashi.

"Hampir semuanya, masih ada beberapa hal yang sulit untuk kucari tahu." jawab agen yang bernama Asuma itu.

"Bagaimana tentang beberapa legenda itu?" kakashi mulai menunjukan mimik seriusnya.

"Ya, beberapa legenda itu juga terlampir di dalam berkasnya, tapi salah satu yang kutahu, legenda telur burung Phoenix yang bisa saja membuat tim yang kau kirim ke mesir itu dalam keadaaan super bahaya." jawab agen Asuma dengan lengkap.

"Ya, aku tahu itu, kita tidak boleh bermain-main lagi, segera beritahu pada Genma agar mengirim pesawat jet untuk menjemput mereka, jika Lucifer sampai tahu, maka akan menjadis masalah yang besar, sekarang akan kucoba untuk menghubungi Rin." ujar kakashi.

'Lucifer! takan kubiarkan kau merenggut nyawa orang-orangku yang berharga lagi.' ujar kakashi dalam hati.

...

Di suatu tempat

Astaroth datang menghadap ke kursi dimana Lucifer membelakanginya, "tuanku, untuk apakah kau memanggilku kesini, unn?" tanyanya dengan sopan. "Bagaimana keadaan di Mesir sana? apakah Hipnos dan Hisminai dapat menjalankan tugas dengan lancar?" tanya Lucifer to the point.

"Memang ada sedikit kendala, datang dari agen-agen ANBU, namun sepertinya mereka berdua dibantu dengan pasukan pemberontak dapat menumpas habis orang-orang ANBU itu." jawab Astaroth dengan gugup.

"Kuharap begitu, tetapi kalau tidak berjalan sesuai rencana, kau habisi saja semuanya, termasuk mereka." ujar Lucifer.

"Siap! dengan senang hati perintahmu ini kulaksanakan, untuk ini aku mohon diri untuk pergi ke Mesir." Astaroth meminta restu pada Lucifer, dan sesaat kemudian ia mengundurkan diri dari pandangan Lucifer.

Setelah ruangannya kosong, Lucifer segera membuka salah satu brankas yang dimilikinya, dengan kode-kode yang hanya ia yang tahu, brankas itu berhasil terbuka. Terdapat lembaran berkas di dalam sana, kemudian ia mengambil berkas paling bawah, lalu membacanya,ia tersenyum kecut, "kalau sampai tidak ditemukan, berarti memang keterlaluan, bukan?"

Lucifer menghisap pipa cerutu lalu kemudian menaruhnya di tempat semestinya, asap terhembus dari mulutnya, nampaknya ia mulai berbicara sendiri."Aku menaruh perhatian besar pada kilang minyak di Negeri Piramida itu, namun tujuan sejatiku bukan itu, percuma aku menikmati semua kekayaan ini di sisa umurku." ujarnya, entah pada siapa.

"Nah, baiklah aku penasaran dengan foto ini... ah... Houdini, ternyata ia telah berada di Jepang, aku dapat memintanya untuk meledakan menara Tokyo, bukan?" ujarnya yang masih bicara sendiri.

"Ahh... sebaiknya kuurungkan niat itu, masih ada sesuatu hal yang lebih besar daripada sekedar meledakan menara Tokyo, mungkin aku dapat memintanya untuk menghancurkan seluruh kuil di Jepang? atau mungkin Istana kekaisaran akan jatuh ke tanganku? siapa yang tahu?" ujarnya dengan dengan seringai yang menyeramkan.

~oOo~

Di tempat Naruto

"T-teme?" Naruto benar-benar kaget setengah mati melihat temannya muncul dengan mengejutkan.

"Jangan berisik Dobe! atau kita akan diketahui oleh musuh." pinta Sasuke.

"Lebih baik kita lanjutkan penyelidikan ini berdua, sambil mencari Rin." ujar Sasuke.

Mereka pun akhirnya berjalan bersama, mereka bersiap dengan senjata mereka masing-masing, mata mereka mengawasi setiap sudut ruangan yang mereka lewati. Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan munculah beberapa orang dengan pedang terhunus ditangannya, "jadi kita harus menghabisi mereka berdua ya?" tanya salah seorang pembawa pedang.

"Ya, kata jendral kita harus menghabisi para penyusup." jawab salah seorang temannya.

Akhirnya tanpa banyak basa-basi mereka langsung berlari untuk menyerang Naruto dan Sasuke. Dengan refleks yang tinggi Naruto berlari untuk menghindari serangan orang-orang itu. Sasuke langsung mengambil guci di sebelahnya dan melemparnya pada orang-orang itu, dan mengenai salah satu dari orang-orang itu.

Naruto pun mengarahkan pistolnya keorang-orang itu, ternyata aksi pelariannya tadi hanya untuk mengecoh musuhnya. Ia mulai membidik, dan peluru yang ia lontarkan tepat mengenai pelipis musuh, satu orang terjatuh. Sasuke memukul ujung kepala musuh dengan gagang pistol secara bertubi-tubi, hingga sang musuh pun melepaskan cengkramannya terhadap Sasuke. Namun musuh dari depan datang untuk menusuk pemuda berambut raven tersebut, namun Sasuke masih sempat menembaknya tepat di jantung.

Masih terdapat sekitar empat orang musuh lagi, Sasuke pun membidik musuh yang tadi mencengkramnya, dan menembaknya. Naruto yang ahli dalam menembak, melontarkan pelurunya dari jarak yang jauh dari musuh, dan berhasil melumpuhkan dua musuh sekaligus. Tersisa seorang musuh, dan dengan nekad ia menyerang walau tanpa perlengkapan.

Dengan mudah Naruto melumpuhkannya, dengan menembak bagian kakinya, tepatnya tulang kering di kakinya. Musuh pun ambruk seketika, Sasuke dan Naruto segera menghampiri, dan dengan tatapan tajam mereka meminta penjelasan tentang semua ini.

...

Di tempat Shikamaru, Shion, dan Killer Bee

"Jadi, kau adalah jendral pemimpin pasukan pemberontak?" tanya Shion menelaah.

"Ya, dan aku tak tahu jika ternyata Hipnos dan Hisminai itu orang jahat." ujar sang jendral, sambil menahan luka dan dengan tangan yang terikat.

"Apakah kau tahu sesuatu tentang organisasi Akatsuki?" tanya Shikamaru.

"Aku tak tahu, tapi aku pernah mendengar Hisminai menyebut nama itu di telepon." jawabnya.

"Seberapa sering?" tanya Shikamaru kembali.

"Tidak sering, hanya beberapa kali." jawab sang jendral lagi.

Suasana hening untuk beberapa saat, Shikamaru sedang memfokuskan diri untuk berpikir. "Sebenarnya, perjanjian apa yang kau buat dengan orang yang kau sebut Hisminai dan Hipnos tadi?" tanya Shikamaru.

Mata sang jendral sendu, sepertinya ia memang harus menceritakan kronologi cerita menurut versinya. "Dahulu, ketika Mesir dipimpin oleh kepala Negara sebelumnya, negeri ini adalah negeri yang makmur dan tak pernah kekurangan bahan pangan, namun ketika sang kepala Negara meninggal dan digantikan oleh wakilnya yang tamak, negeri ini berubah dan makin terpuruk, maka dari itulah kami melakukan sebuah kudeta untuk menggulingkan pemerintahan yang sekarang."

Mereka bertiga mendengarkan dengan seksama, Shikamaru merenungi setiap kata demi kata yang keluar dari lelaki itu. Kemudian ia melanjutkan ceritanya, "suatu hari ketika kami hampir merasa gagal dan pasrah, datanglah dua orang itu menawarkan bantuan dana, logistik, serta persenjataan dengan imbalan memberikan sebagian kilang minyak yang berhasil kami kuasai, dan meminta kami untuk mencari sebuah artefak kuno."

Seketika Shikamaru terkejut mendengar omongan dari pria di depannya itu, mungkin jika meminta imbalan dengan menguasai kilang minyak adalah hal yang wajar, namun mencari artefak, untuk apa? Bee dan Shion pun ikut berpikir keras. "Sekarang kau telah mengetahui fakta bahwa rekan bisnismu itu adalah orang jahat, dan kalian juga pihak pemerintah telah diadu domba oleh Akatsuki, jadi, maukah kau membantu kami?" tanya Shikamaru dengan nada memohon.

"B-baik, tentu saja aku akan membatu kalian sekaligus menyelamatkan para anggotaku dari kematian yang mendekat!" jawabnya dengan penuh semangat.

"Aku mempunyai firasat buruk tentang apa yang terjadi pada Naruto, Sasuke, dan Rin, apakah kita harus menyusul mereka?" tanya Shion.

"Tak perlu, Shion! tugas yang diberikan pada kita hanyalah menyelidiki, bukan bertarung dengan Akatsuki, sekarang belum waktunya, lagipula aku peraya kalau mereka bertiga adalah orang yang kuat." cegah Shikamaru.

"Ia benar, kita harus tetap menyelidiki semua, meski banyak resiko." Bee menambahkan.

"T-tapi.." Shion masih mengelak.

"Kita harus percaya pada mereka Shion, mereka tidak akan dikirim kesini kalau mereka tak mampu menghadapi bahaya dan resiko." Shikamaru kembali mengemukakan alasan.

Shion pun mengangguk mengerti, ia pasrah dan berharap bisa menyelesaikan misi ini dengan baik. Shion pun melepaskan ikatan sang jendral sehingga tanannya bebas, namun semua tak panik, karena sang jendral telah berjanji untuk membantu mereka. "Apa yang dapat kulakukan untuk kalian?" tanya sang jendral dengan sopan, seperti kesopanan para penduduk Timur Tengah.

"Dapat kau tunjukan dimana ruangan dari Hipnos dan Hisminai?" tanya Shikamaru dengan cermat.

"Ruangan itu berada di lantai paling atas di ruangan ini, kalian dapat menyergapnya karena memang mereka berdua sedang ada disana." ujar sang jendral.

Suasana sejenak hening, Shikamaru sedikit terperanjat mendengar bahwa Hipnos dan Hisminai berada dalam ruangannya. Pikir Shikamaru bahwa jika mereka mengawasi dari sana, maka tak ada harapan untuk mencuri berkas-berkas serta mencari tahu untuk apa keberadaan mereka disini. Kini ia berpikir, mencari cara dengan otak jenius yang dimilikinya, mencoba mencari cara untuk keberhasilan misinya.

~oOo~

Di tempat Naruto dan Sasuke

Naruto dan Sasuke berjalan dengan pedang yang mereka rampas dari musuh mereka tadi, serta dengan pistol yang terselip di tempatnya. Sasuke masih tetap mengawasi keadaan sekitar, sementara Naruto tengah bersiap dengan pedang yang ia pegang. Suasana sangat hening, dan dalam batas penglihatan mereka yang sempit karena ruangan yang miskin cahaya, mereka berdua hanya mengandalkan perasaan mereka.

"Aku rasa Rin kini berada dalam ruangan yang kedap suara, karena pasti dia bisa mendengar suara kita yang sedari tadi memanggil namanya jika itu ia ada di ruangan biasa." ujar Naruto yang berpendapat.

"Hal itu bisa saja terjadi." komentar Sasuke.

"Ayo kita cari ruangan yang tak memiliki celah sama sekali." ujar Naruto dengan penuh semangat, dan ditanggapi dengan seperlunya oleh Sasuke.

...

Sementara di Kedutaan Besar jepang untuk Negeri Mesir sedang gaduh karena mendapat telepon dari Tokyo yang menyatakan bahwa beberapa agen ANBU mereka disekap di sebuah bangunan di daerah pinggiran Kairo. Dan Duta Besar Jepang saat ini tengah menghubungi Kepala Pemerintahan Mesir, agsr dapat membantu menyelamatkan agen-agen dari ANBU tersebut.

Sementara para kumpulan pemberontak telah banyak berkumpul di Tahrir Square tanpa diketahui oleh petugas keamanan setempat. Mereka menunggu saat yang tepat untuk bergerak, menunggu instruksi dari Hipnos dan hisminai, ya kebanyakan dari mereka sudah terpengaruh ideologi dari dua orang anggota Akatsuki itu, yang notabene hanyalah bawahan Lucifer.

Sementara itu salah satu dari mereka akhirnya membuka suara, "kita dapat perintah dari Tuan Hipnos agar membatalkan pemberontakan kali ini, dan langsung menuju markas dari Tuan Hipnos dan Hisminai." ujarnya.

"Lalu, bagaimana dengan keadaan Jendral? apakah ia baik-baik saja? sudah lama kita tak bertemu dengannya." tanya salah seorang lainnya.

"Ya, Jendral baik-baik saja, dan sedang berada di bangunan yang sama dengan Tuan Hipnos dan Hisminai.

Maka semua tentara pemberontak pun mengikuti perintah dari Hipnos dan Hisminai, menuju rencananya. Mereka semua melaju tanpa tahu apa yang akan mereka hadapi.

Bersambung...


Ini mau bales review lho hehehe

Alta0sapphire: nasib Naruto dan yang lainnya? ummm gimana ya? ikutin terus chapter2 selanjutnya ya hehehe ^^ masalah pair, pendapat kamu akan kujadikan pertimbangan kok, makasih atas sarannya :D, dan jangan lupa review lagi yaa...

Retnoelf: Oke, ini udah dilanjutkan kok, silakan menikmati hehehe...

A'raion No Sun: Rin gak mati kok, sorry ya chapter kemaren banyak yg typo hehehe, soalnya keyboard memang lagi bermasalah kemaren, tapi mudah2an chapter kali ini udah diminimalisir typonya ^^, jangan lupa review lagi yaa...

Wsa Krisna: thanks broo, ini udah dilanjutkan kok, monggo dibaca, dan jangan lupa review lagi hehehe ^^

Author Note

Oke minna-san, author kembali lagi dengan berseri...

Pertama-tama aku ingin minta maaf kepada semua readersku karena lama updatenya, sumpah, ini bukan kemauan aku, tapi karena menkominfo brengsek yang memblokir situs dan membuatnya menjadi internet positif, sumpah, gak ngerti kenapa Menkominfo main blokir aja ini situs kesayanganku, padahal sebagian besar aku yakin yang berkunjung ke situs ini pasti minimal sudah remaja, pasti sudah ngerti lah yang namanya fanfiction itu, lagian kan banyak manfaat yang bisa kita ambil dari fanfiction, kita bisa menjadi lebih kreatif, dan bisa menjadi ajang latihan buat para calon penulis. Untungnya aku dapet info dari kawanku sesama author bagaimana membukanya lagi, bener2 garing sebulan lebih gak baca fanfic di sini hehehe.

Arigatou minna sudah mau mendengar curhatan author.

Jangan lupa untuk review ya ^^