Two Sides Girl's Butler
Chapter 9: Gift.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: SasuXFemnaru
Rated: T
Warning: Gaje, aneh, boring, typo(s),OOC stadium akhir(khususnya Sai and Sasuke),de-el-el.
Genre: Apa yah? Humornya sedikit,sih. Tentuin sendiri aja, deh!
Summary: Bagaimanakah jika Naruto,seorang gadis otaku tomboy dikutuk menjadi gadis berkepribadian ganda? Lalu apa yang terjadi jika seorang butler tampan nan perfect diutus untuk melayani hidupnya?
DON'T LIKE,DON'T READ!
.
.
.
Naruto sama sekali tidak mendapat ide kemana Sasuke akan membawanya. Jemari mungil namun sekokoh beton itu pasrah saja digiring oleh butlernya, sementara matanya memicing waspada. Napasnya sedikit memburu mengingat betapa cepat pemuda itu berjalan.
"Hei..." panggil Naruto, jengah juga diseret-seret tanpa diajak bicara sedikit pun. "Sebenarnya kita mau kemana?"
Sasuke hanya mendengus pelan, dan memilih untuk tidak menjawab.
Dia tahu hari ini pasti akan datang. Namun dia tidak menyangka akan secepat ini, sefrontal ini. Memberitahukan kenyataan pada orang seperti Naruto adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya di dunia ini. Dia tidak mau menyaksikan mata biru cemerlang itu meredup. Dia tidak mau menatap wajah itu tertekuk. Dia tidak mau… melihat gadis itu bersedih.
Namun pilihan lain apa yang ia punya? Semua sudah terlanjur. Si pirang itu sudah melihat sosok dirinya sendiri. Dan untuk orang yang sudah bersumpah akan melakukan apapun yang ia perintahkan seperti dirinya , pantaskah ia menolak memberitahukan kenyataan?
Sasuke tertawa pahit. Sejak kapan dia menjadi orang yang peduli pada perasaan orang lain?
"Berjanjilah," bisik Sasuke lirih. "Kalau kau akan bertanggungjawab karena telah merubahku menjadi orang yang menyedihkan seperti ini."
"Eh? Tadi kau bilang apa?" Tanya Naruto keras seraya mendekati Sasuke, membuat napasnya menerpa tengkuk pemuda onyx itu.
'Dan karena telah membuatku lemah jantung.'
"Hn. Sekali Dobe, tetap Dobe." Ujar Sasuke dengan wajah stoic andalannya. Jantungnya berdebar kencang dan membuatnya tanpa sadar mengeratkan genggaman tangannya.
"Apa? Kau mau mati ya, Teme?" balas Naruto dengan suara melengking. Ditepisnya tangannya yang masih digenggam Sasuke dengan kasar.
"Kau," tunjuknya di depan hidung Sasuke. "Sudah cukup dengan semua ini! Kau cukup jelaskan saja apa yang sebenarnya terjadi padaku."
Untuk sekejap, kedua onyx Sasuke melebar sebelum akhirnya menyipit tajam. Garis-garis wajahnya begitu kaku dan tampangnya sedingin es, tak memiliki ekspresi sama sekali. Lama mereka saling menatap tajam hingga seulas seringai meremehkan tercetak jelas di bibir Sasuke.
"Naruto… Namikaze Naruto…" katanya dengan nada mendayu yang dibuat-buat. Seringai itu semakin lebar. "Kau tipe orang yang to the point, hm? Orang yang selalu berpikir bahwa dirinya kuat, begitu?" ujarnya lagi seraya tersenyum menyebalkan.
"Aku tidak butuh omong kosongmu, Sasuke." Desis Naruto tajam. Sungguh, dia benci dipermainkan seperti ini. Tidak tahukah Sasuke kalau jantungnya berdebar sedari tadi, cemas dengan kemungkinan-kemungkinan buruk mengenai dirinya? Tidak mengertikah Sasuke, bahwa sedari tadi dia merasa tersiksa karena tak kunjung mendapatkan penjelasan?
Tak tahukah Sasuke, kalau dia merasa kecewa karena pemuda itu telah menyembunyikan sesuatu dari dirinya?
"Tapi pada kenyataannya, kau lemah, Namikaze Naruto. Kau terlalu lemah, bahkan untuk mendengar kebenaran. Aku berani bertaruh, kau akan menangis dan kehilangan kepercayaan dirimu jika kau mengetahui kenyataannya. Atau bagian terbaiknya; kau akan hancur." Bisik Sasuke tepat di telinga Naruto, tak lupa dengan desis menghina yang pasti akan membuat siapapun panas.
DEG!
Seketika tubuh Naruto menegang. Seburuk itukah hal yang terjadi pada dirinya?
"Oh, lihatlah. Kenapa kau jadi kaku seperti ini? Takut, eh? Yah… aku tidak akan menyalahkanmu untuk itu. Aku pun pasti akan merasa begitu kalau 'hal itu' terjadi padaku." Tambahnya, masih dengan nada menyenangkan yang dibuat-buat.
"Memuakkan, mengerikan, dan menyebalkan adalah tiga kata yang tepat untuk menggambarkan keadaanmu sekarang, Tuan Namikaze. Sebenarnya masih ada kata-kata yang lebih tepat, namun aku yakin kau tidak akan mau mendengarnya. Terlalu menyakitkan, kurasa." Katanya lagi, kali ini lebih frontal. Kemudian dia terkekeh kecil sembari mengucapkan ketiga kata itu berulang-ulang.
Diam.
Gadis itu hanya diam.
Sasuke menjauhkan wajahnya dari Naruto, dan mendapati gadis itu tertunduk dalam. Well, haruskah dia diberi selamat karena telah berhasil menghempaskan Naruto sejauh itu?
"Karena itu, lupakan saja, Dobe. Kau tidak akan sanggup mendengar kenyataannya. Lupakan semuanya, dan jalanilah hidupmu seperti biasa. Kau mengerti?" ucapnya dingin dengan kedua tangan dalam saku. Wajahnya terdongak angkuh,terkesan benar-benar memandang rendah sosok di depannya.
Namun pada kenyataannya, dia ingin sekali merobek mulut kurang ajar yang berani menghina gadis pirang itu. Ingin sekali menyembunyikan wajah pongah yang berani-beraninya mengejek sosok ceria itu. Tapi apa lagi yang bisa ia lakukan selain ini? Dia tidak mau sosok pirang itu mengetahui bahwa dia dikutuk dan akhirnya jatuh terpuruk begitu dalam. Dia tidak ingin kristal sepasang sapphire itu mencair dalam keputusasaan. Dia tidak mau Naruto membenci dirinya sendiri hanya karena dia berbeda.
Karena itu, biarlah Naruto membenci dirinya saja. Membenci seorang Uchiha Sasuke…
Lagipula, bukankah dia sudah biasa dibenci oleh orang lain?
"Tidak."
BRUAGHH!
Dan dengan satu pukulan di wajah, Sasuke terpental kebelakang dengan sukses.
"Jangan bercanda kau, sialan! Menyuruhku melupakannya? Enak saja! Memangnya kau ibuku? KUSO no BAKA TEME!" maki Naruto menggebu-gebu. Urat vena tercetak jelas di ujung dahinya dan giginya bergemerutuk keras, tanda bahwa kehancuran akan segera terjadi.
"Aku tidak percaya dengan segala omong kosong yang kau ucapkan, Sasuke! Jadi berhentilah berpura-pura karena aku sama sekali tidak akan mendengarmu!" teriaknya di depan wajah Sasuke, lengkap dengan semburan hujan lokal gratisnya. Tangannya mencengkram kerah Sasuke dan mengguncang-guncangkannya hingga membuat tubuh pemuda itu terayun kedepan dan kebelakang.
"Le-lepas Dobe! Kau membuatku-uhuk-ti… dak bisa ber-ber…napas!" erang Sasuke tersiksa dengan tenaga gorilla Naruto. Dan dia pun menghirup napas sebanyak-banyaknya begitu cengkraman di lehernya terlepas.
"Cih! Berterimakasihlah karena aku masih punya hati nurani. Kalau tidak, sudah kuhajar kau sampai mulut sombongmu itu mengatakan hal yang sebenarnya. Apa kau pikir aku tidak sakit hati dikata-katai seperti itu, heh? Walaupun kau berbuat begitu agar aku menyerah, tetap saja buat telinga panas! Kau benar-benar bodoh!" kicau Naruto tanpa henti sambil memaju-majukan bibirnya. Entah mengapa mendadak dia terlihat seperti tante-tante sekarang.
Sasuke hanya bisa terduduk kaku di atas rerumputan seraya menyentuh pipinya yang baru saja dipukul Naruto. Matanya membulat sempurna, menatap sosok pirang yang masih saja mengeluh tentang 'kelayakan dan standar mutu berbicara' dengan berapi-api.
Dia sangat yakin bahwa aktingnya tadi sudah sangat sempurna. Baik dari tingkah, nada bicara, bahkan tatapan matanya benar-benar terkesan menghina. Tapi kenapa dia tahu?
"… Dan lagi, mengatakan orang lain lemah sangat tidak bisa diterima oleh etika disini! Belum lagi dengan omong kosong yang sama sekali tidak ada artinya itu. Aku tidak habis pikir kenapa kau yang katanya jenius ini bisa sampai berbuat sekonyol itu. Dasar-"
"Kenapa kau menyadarinya?"
"Eh?" Tanya Naruto tak mengerti.
Sasuke mendongak menatap Naruto. Matanya memandang tajam.
"Kenapa kau sadar bahwa aku berbohong?" ulang Sasuke, kali ini lebih jelas. Sudah cukup… dia tidak mau terus dibuat terperangah seperti ini. Dia tidak mau terus berdebar-debar hanya karena kata-kata bocah ini!
Naruto memiringkan kepalanya tak mengerti. "Bukankah itu sudah jelas?" tanyanya balik dengan dahi berkerut.
"Tidak." Sanggah Sasuke cepat. "Tidak ada kejelasan disini, kau tahu itu." Lanjutnya lagi dengan kepala tertunduk. Sial! Gadis ini membuka luka lama di hatinya lagi. Naruto telah membuka lama yang telah susah payah ditutupnya karena kehilangan 'dia'. Telah menyiramkan air garam dan membuat dadanya terasa perih.
"Well, coba kulihat…" terdengar Naruto menggumam pelan. Sasuke bisa merasakan gadis itu berjalan mendekat kearahnya. Namun dia tidak peduli pada Naruto lagi sekarang. Dia terlalu fokus pada rasa nyeri di dadanya hingga ia tidak peduli lagi pada sekitarnya.
Sampai sebuah rengkuhan hangat menyelimuti tubuhnya.
"Kau mau tahu mengapa aku bisa menyadarinya, Sasuke?" bisik Naruto seraya mengeratkan pelukannya pada punggung Sasuke. Seulas senyum terpatri di bibirnya.
"Karena aku Namikaze Naruto."
Dan kedua onyx Sasuke pun membesar.
Sasuke tidak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya. Dia tidak tahu mengapa jantungnya seolah berhenti berdetak begitu mendengar kata-kata Naruto, kemudian berdenyut kembali dengan begitu keras. Dia bahkan bisa merasakan dadanya bertalu-talu tanpa ampun.
Namun rasa perih itu kini menghilang.
"Dan aku bukan orang yang begitu bodoh sampai tidak bisa menyadari kebohonganmu. Kalau kau lupa, Sasuke; kita telah tinggal bersama selama lebih dari 3 bulan. Itu waktu yang cukup untuk membuatku lebih memahamimu." Lanjut Naruto lagi tanpa melonggarkan pelukannya, pelukan yang membuat siapapun akan meleleh dalam kehangatannya.
Rasanya Sasuke terlalu lelah untuk merespon sentuhan yang diberikan gadis itu. Tubuhnya terasa lemas, dan debaran di dadanya tak kunjung berhenti. Tapi kini ia sadar, rasa perih di dadanya ini bukan karena Naruto telah mengoyak luka lamanya.
Melainkan karena Naruto telah memberinya harapan…
Harapan untuk dicintai, dan mencintai.
"Hmph," dengus Sasuke. "Jangan terlalu percaya diri, Dobe. Kau tidak tahu apa-apa tentangku." Sergahnya lagi. Namun tangannya mulai bergerak untuk membalas pelukan hangat itu.
Naruto menyeringai jahil. Untuk sesaat dia melupakan masalah video itu. "Kau meragukanku, hm? Baiklah… kutebak kau suka mengendap-endap di dapur,menyelundupkan tomat dalam kamarmu, selalu memakai kaus putih di bawah jaketmu, diam-diam menonton Esmeralda saat aku tidur, memakai pakaian dalam bewarna-"
"Oke, oke! Kau menang, Dobe! Cih, sekarang diamlah. Suaramu membuat telingaku sakit." Desis Sasuke tajam sebelum aibnya yang lain dibongkar oleh Naruto. Tapi kenapa bocah ini bisa tahu semua itu, ya?
Naruto terkekeh pelan, sebelum akhirnya seulas senyum manis bertengger di bibirnya. Sudahlah… mungkin lain kali saja. Dia tidak mau menukar momen langka ini dengan penjelasan Sasuke tentang video itu; pastinya akan membuat suasana menjadi buruk. Dia sudah terlalu sering bertengkar dengan Sasuke dan sesekali, ada baiknya juga mereka akrab seperti ini.
Namun dia tidak akan memungkiri bahwa dalam hati dia bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Seburuk itukah sampai orang bermental es seperti Sasuke lebih memilih untuk mengumpankan dirinya sendiri dibandingkan dengan menceritakan kebenarannya?
"Aku hanya tidak ingin kau terluka." Bisik Sasuke lirih diantara hembusan angin. Kelopak alabasternya terpejam erat, menikmati setiap kehangatan yang ia dapatkan dari sosok kuat di depannya. Dia begitu merindukan sentuhan seperti ini sejak 'dia' meninggal. Cukup mengejutkan, memang, melihat seorang Uchiha Sasuke yang terkenal stoic dapat dengan mudah meleleh seperti ini. Namun… dia juga manusia, kan?
"Maaf." Hanya itu yang bisa Naruto katakan. Egois. Dia merasa menjadi orang yang paling egois sedunia. Pasti berat bagi Sasuke untuk menjelaskannya. Tapi kenapa bisa-bisanya dia memaksa pemuda itu? Bukankah itu artinya dia melukai perasaan satu-satunya orang yang selama ini menemaninya?
Naruto melepaskan pelukannya, dan Sasuke merasakan suatu kekosongan ganjil saat kehangatan itu hilang. "Aku mengerti. Kau tidak perlu menjelaskannya. Aku akan mencari tahu sendiri." Ujar Naruto seraya tersenyum kecil. Kemudian dia berbalik, berniat kembali ke kelas sebelum sebuah tangan putih mencekal lengannya.
"Tidak, Naruto." Ucap Sasuke. "Aku akan menjelaskannya padamu, hari ini juga. Tapi… tidak sekarang; kumohon, berikan aku waktu." Pinta Sasuke dengan nada datar. Bagaimanapun juga, ini merupakan salah satu tanggung jawabnya. Dia tidak bisa membiarkan Naruto berjalan sendiri tanpa ada dia disampingnya.
Dia akan selalu ada, untuk menggenggam sebelah tangannya.
Naruto menoleh kebelakang. Ditatapnya pemuda itu dengan pandangan hangat, dengan mata berbinar-binar.
"Tidak masalah."
.
.
.
Naruto tahu, dia terlalu naïf untuk menganggap bahwa ada baiknya sesekali akrab dengan Sasuke.
Karena kini dia dalam masalah besar.
Flashback
"Tidak masalah."
Untuk sesaat sosok pemuda dihadapannya terdiam, seolah sedang memikirkan sesuatu. Lalu tiba-tiba sebuah seringai terpatri di bibirnya dan sukses membuat Naruto takut. Pasalnya itu bukan seringai meremehkan yang biasa ditunjukkannya. Seringai itu terlihat err… mesum?
"GYAAA! APA YANG KAU LAKUKAN?" teriak Naruto kaget ketika mendadak Sasuke mengangkatnya dan memanggulnya di pundak dengan sebelah tangan. Persis karung beras.
"Bukankah kau mengatakan bahwa kau akan memberikanku waktu?" Tanya Sasuke balik, santai luar biasa.
"IYA! TAPI APA MAKSUDNYA INI? BUKANKAH BARUSAN TADI KITA SEDANG BER-ANGST RIA? HEI, TURUNKAN AKU!" bentak gadis itu lagi, tak lupa mengayunkan kakinya sekeras mungkin dengan penuh nafsu, berharap Sasuke akan terkapar jika kena sasaran. Lebih bagus lagi jika ia mati.
"Berpegangan." kata Sasuke santai tanpa menoleh, membuat Naruto cengo sejenak.
"APA YANG-HUAH!" jeritnya histeris saat Sasuke menjejakkan kakinya kuat-kuat dan melompati tembok pembatas sekolah setinggi 3 meter dengan mudahnya, seolah-olah gravitasi tidak berpengaruh apa-apa. Pupil Naruto langsung mengecil begitu dia melihat koin di saku kemejanya terjatuh dan menimbulkan efek kejatuhan yang dramatis, menegaskan betapa tinggi posisinya sekarang.
"GYYYAAAAA!" jerit Naruto luar biasa histeris. "HUWAAA!"
"Jangan banyak bergerak, Dobe! Kalau kau takut ketinggian, pejamkan saja-"
"KOINKUU! TURUNKAN AKU, SIALAN! RECEHANKU JATUH!" bentak Naruto murka seraya memukul punggung Sasuke dengan beringas. Wajahnya memerah menahan emosi yang membuncah-buncah saat manik sapphirenya menatap nanar ke arah koinnya yang ditelan oleh gaya gravitasi.
'Dasar bodoh...' batin Sasuke setelah menjejakkan kakinya di tanah kembali.
"Kau akan membayar untuk semua ini, Sasuke!" serapah Naruto setelah ia berdiri tegak. Tangannya terkepal erat, berusaha menahan nafsu untuk meremukkan tulang lelaki di depannya. Cih, kalau saja ini bukan tempat umum, pasti sudah dia hajar bocah ayam itu sampai babak belur, lengkap dengan memar, tulang patah, gigi hancur, vena pecah...
Dan jangan lupa dengan dompetnya.
"Khukhukhu..." Naruto ketawa iblis, lupa sama sekali dengan video itu dan mulai fokus dengan tips trik menyiksa Sasuke. Dia bahkan mulai membayangkan tubuh Sasuke tergantung dengan kepala di bawah sementara uang berjatuhan dari sakunya, membuatnya merasakan bagaimana sakitnya kehilangan koin di saat uang itu akan digunakan untuk membeli marchandise gantungan kunci Sesshomaru limited edition yang baru saja keluar.
Percayalah, rasanya sakit sekali.
Pemuda raven itu memutar kedua bola matanya malas begitu mendengar tawa sadis Naruto. Mempunyai majikan seperti Naruto ada sisi positifnya juga. Dia hanya perlu mengalihkan perhatian Naruto untuk membuat gadis itu melupakan masalahnya untuk sementara.
Ya, hanya sementara.
Karena dia butuh waktu untuk menjelaskan hal ini padanya.
"Rapikan pakaianmu." Kata Sasuke datar. Naruto mengedipkan matanya beberapa kali. Memangnya sejak kapan mereka sudah berada di jalan?
Sasuke mendengus sinis. Dengan cepat ditariknya kerah kemeja Naruto yang masih cengo di hadapannya dan mulai membenarkan letak dasinya. Tak lupa meluruskan lipatan kemeja dan merapikan poni Naruto yang berantakan karena ulah barbarnya tadi. Dan voila! Tak akan ada yang menyangka bahwa Naruto adalah seorang gadis jika penampilannya se-borjuis itu.
Naruto masih bergeming, matanya membelalak sempurna menatap Sasuke yang masih memasang tampang dinginnya, tak berniat bicara. Lalu setelah beberapa saat penuh dengan keheningan, ekspresi keras itu melunak. Perlahan tangan tannya menyentuh pipi kanan Sasuke dengan lembut dan
BUAGH!
Dan menonjoknya.
"Itu untuk koinku, Teme!" bentak Naruto sambil berjalan mendahului Sasuke dengan menghentak-hentakkan kakinya, tak lupa menggembungkan pipinya sebagai bentuk deklarasi perang pada pemuda itu.
Sasuke meringis, mengusap-usap pipinya yang memar. A-apa yang barusan itu? Gadis itu-memukulnya?
Terdiam sejenak.
"Hmph." Sasuke mendengus geli. Onyx gelapnya menatap lekat punggung kokoh di depannya, tak lupa dengan seulas senyum langka menghiasi wajahnya yang tampan.
Dia benar-benar gadis yang menarik.
"Hei! Apa yang kau lakukan?" seru Naruto mencoba menepis tangan Sasuke yang menggenggamnya begitu saja. Namun bukannya terlepas, genggaman itu malah semakin erat.
"Jaga sikapmu, Dobe," Sasuke menaikkan salah satu sudut bibirnya. "Ini akan menjadi hari yang istimewa." Lanjutnya lagi dengan ekspresi menggoda, membuat bulu roma Naruto meremang saking ngerinya. Se-seringai macam apa itu?
"Apa maksudmu? Jangan main-main denganku!" seru Naruto seraya memalingkan wajahnya, tak berminat menatap ekspresi Sasuke yang seksi di mata orang lain, namun mesum di matanya.
"Bukankah sudah jelas?" bisik Sasuke tepat di telinganya, ekspresinya berubah jahil dengan seringai menggoda di bibirnya.
"Kita kencan."
.
.
.
Dan disinilah dia sekarang. Di taman bermain dengan Sasuke berdiri tegak disampingnya.
Ayolah, seharusnya disini dia bergembira. Coba lihat roller coaster, komidi putar, merry go round, dan permainan asyik lain yang bisa kau dapatkan disini dibandingkan dengan berada di sekolah yang membosankan. Tapi pada kenyataannya, di mata Naruto, suasana surga bermain ini sama saja seperti neraka.
"Sa…suke? Yakin kau membolos sekolah hanya untuk ini?" Tanya Naruto lambat-lambat. Sebulir keringat besar bertengger di dahinya.
"Ya."
"Kau serius?"
"Hn."
"Tapi apa yang harus kita lakukan dengan seragam seperti ini? Kita akan ditangkap Komite Disiplin Sekolah."
"Tidak peduli."
"Jangan bercanda, Teme. Kau tidak serius mengatakan itu."
"Hn.
"Kau benar-benar gila! Aku tidak sepertimu yang punya catatan baik disekolah, dan tertangkap disini hanya akan memperburuk citraku!"
"Bukan urusanku."
"Apa maksudmu? Mungkin kau tidak peduli, tapi aku menolak! Terima kasih!"
"Hn."
"Jangan kata-"
"Ano… permisi…" tiba-tiba seorang pegawai taman bermain menghampiri mereka. "Anda membuat pengantri lain menunggu, Tuan." Katanya sopan seraya menunjuk orang-orang di belakangnya. Sasuke hanya mendengus sinis.
"Kemari kau, Dobe." Ujarnya dingin seraya menarik tangan Naruto untuk memasuki taman bermain dan menghentakkannya.
"Mainkanlah semua permainan yang kau suka." Ujarnya datar tanpa menoleh pada Naruto. Mendengar itu sang gadis hanya mendecih, lalu melipat tangannya dengan pandangan meremehkan.
"Aku bukan anak-anak." Desisnya kejam.
"Tapi kau otaku." Sambar Sasuke tenang seraya menunjuk sebuah rumah aneh dengan berbagai tulisan mencurigakan di dindingnya. Mata Naruto membulat ketika membacanya.
Anime and Manga House, Just for Freaky and -tiiitt- Otaku (censored).
Hm, nama yang mencurigakan sekali…
"Err… itu… sejak kapan didirikan?" tunjuk Naruto dengan sebulir keringat besar menggantung di kepalanya. Sepas-pasannya otak Naruto, tetap saja dia berpikir dua kali untuk masuk ke bangunan yang namanya saja sudah menimbulkan efek horror dalam sekali lihat.
"Entahlah, tapi yang kutahu kau pasti akan menyukainya." Ujar Sasuke, datar banget. "Ada beberapa patung lilin chara dan games anime favoritmu disana, kurasa." Tambahnya begitu melihat tampang sangsi Naruto. Mendengar itu otomatis membuat wajah bocah pirang itu berbinar bahagia, namun berganti menjadi tampang bodoh setelah Sasuke menyerahkan selembar kertas padanya.
"Tiket VIP." Jelas Sasuke singkat untuk menjawab wajah bertanya Naruto. Dan tak perlu loading, mata Naruto membelalak sempurna.
"Be-benarkah?" gumam Naruto seraya memandang tiket yang telah beralih ke tangannya itu dengan mata blink-blink, plus dengan air mata disana-sini.
"Hn." Sahut Sasuke datar.
"BANZAI!"
"Urusai, Dobe! Pelankan suara mu sedi-"
Chu~
"Eh?"
"Terima kasih, Sasuke." ucap Naruto tulus. Kedua langit dalam kelopak matanya memancarkan rasa terima kasih yang amat sangat, bahagia, dan juga rasa… sayang?
Sasuke tidak bereaksi. Tubuhnya membatu seketika tanpa mampu digerakkan sedikitpun, walau Naruto sudah berlari meninggalkannya menuju rumah aneh itu. Matanya membulat besar, dengan mulut sedikit ternganga.
Lalu setelah beberapa menit dalam keadaan trans, perlahan jemari Sasuke menyentuh pipinya yang baru saja dikecup Naruto.
'Tadi itu apa?' batin Sasuke tak percaya. Sangat tidak Uchiha sekali.
.
.
.
Sasuke masih saja tak mampu berpikir jernih, bahkan setelah 2 jam berlalu dan mereka sedang beristirahat di bangku taman.
"Tadi itu sangat menyenangkan!" seru Naruto senang setelah menghabiskan potongan terakhir es krim batangnya. "Kau lihat bagaimana aku menendang sadako yang mencoba menakutiku di rumah hantu dan mencakar hantu Neko sampai kostumnya koyak? GYAHAHA!" Naruto tertawa laknat sembari memegangi perutnya yang bergejolak karena terlalu banyak tertawa.
"Oh, apa kau tahu kalau tadi aku sempat menjatuhkan dompetku saat main roller coaster, dan langsung memijak kepala orang yang berusaha mengambil dan memasukkan dompetku ke sakunya? Harusnya kau lihat tampang pencuri nista itu. Melas banget. Khu… khu… khu…" kini Naruto tertawa iblis, benar-benar senang.
"Lalu apa kau tahu apa yang kulihat di Rumah Anime itu? Patung Natsu! Sebastian Michelis! Hinagiku Katsura! Dan Sesshomaru! Semuanya ada disana! Ya ampun… aku sangat bahagia~" desah Naruto, persis seperti nenek-nenek. Sedangkan Sasuke hanya terdiam tanpa merespon apapun.
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa makhluk dingin, angkuh, elite nan stoic macam Sasuke bisa dibantai hanya dengan satu kecupan?
Entahlah, tidak ada yang tahu.
"Sasuke? Kau kenapa?" Tanya Naruto, tak sadar bahwa Sasuke dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Hei, hei… Aku bertanya padamu, 'Suke." Naruto mendengus kesal karena pertanyaannya tak kunjung dijawab. Dengan tak sabar dia meraih pundak Sasuke yang duduk di sampingnya dan mengguncang-guncangkannya dengan keras.
"HEI! KAU KENAPA?" teriak Naruto kesal. Disentilnya dahi Sasuke berkali-kali.
Sasuke terhenyak, lalu mengedip-edipkan matanya beberapa kali seperti orang kelilipan.
"Naruto?" panggil Sasuke dengan sebelah alis terangkat. Dia berpikir keras tentang apa yang terjadi sebelum ingatan tentang kecupan Naruto menghantamnya dengan keras.
Blush…
Wajah Sasuke memanas.
Tunggu! Sebenarnya disini siapa yang menjadi seme-nya?
'Kenapa kau bertingkah seperti seorang gadis labil yang kasmaran, Sasuke?' terdengar suara-suara di dalam kepala pemuda raven itu, dan sukses membuatnya sweat drop.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Naruto khawatir. Tidak biasanya Sasuke bisa melamun sampai seperti ini. Apa mungkin… dia sedang berpikir mengenai bagaimana cara memberitahukan rahasia itu padanya?
DEG!
Oh, ya…
'Cih, dia benar-benar tahu cara mengalihkan perhatianku.' Batin Naruto, sebal.
"Waktumu sudah habis," ujar Naruto, dingin. "Sekarang terserah padamu, Sasuke." lanjutnya dengan ekspresi serius yang jarang sekali diperlihatkannya.
Sasuke menghela napas panjang. Ini dia. Jujur, dia belum tahu bagaimana cara memberitahukannya pada Naruto tanpa membuat gadis itu syok. Ayolah… siapa yang tidak akan frustasi kalau mengetahui dirimu dikutuk? Seorang otaku seperti Naruto saja bisa-
EITS!
Tunggu dulu…
Otaku?
"…"
"…"
"…"
"…"
Sebuah seringai muncul di bibir Sasuke dengan indahnya.
"Naruto…" panggil Sasuke tenang. Naruto segera menajamkan pendengarannya. Ini dia… saatnya dia mengetahui kebenaran. Dia harus tenang. Tenang! Walaupun kenyataan yang akan diterimanya sangat pahit, dia harus tegar.
"Kau pernah membaca komik Samurai Deeper Kyo?" Tanya Sasuke datar.
"…"
Seekor gagak imajiner melintas di atas kepala Naruto dan Sasuke.
"Hah?" ulang Naruto tak mengerti. Sasuke hanya mendengus sinis.
"Sa. Mu. Rai. Dee. Per. Kyo. Otaku sepertimu pasti pernah membacanya." Ulang Sasuke dengan penekanan di setiap kata aneh itu.
"Tentu saja. Maksudmu tentang penjual obat yang memiliki 'orang lain' dalam tubuhnya, kan?" ucap Naruto dengan wajah innocent yang amat menggemaskan. Mendengar itu Sasuke mengangguk.
"Kira-kira seperti itulah yang terjadi pada dirimu," terang Sasuke. Dia menoleh ke samping dan menatap langit biru di mata Naruto dalam-dalam. "Tapi kau lebih istimewa. Kau, Namikaze Naruto, akan kehilangan jiwamu saat malam hari. Dan bersamaan dengan itu, seluruh ingatanmu pada saat malam akan hilang tanpa bekas. Kau tidak bisa merasakan apapun, bahkan perasaan bahagia sekalipun." Lanjut Sasuke tenang. Ekor matanya melirik Naruto, dan nyaris terjungkal menahan ketawa begitu melihat ekspresi dungu Naruto.
"Eh… ah-HAH?" responnya nggak jelas. Mulut gadis pirang itu membuka menutup lambat-lambat. Otaknya yang pas-pasan masih mencerna perkataan Sasuke yang sangat sulit untuk dipahami. Lalu setelah loading beberapa saat, ditambah dengan kerusakan syaraf dan jaringan otak disana-sini, barulah lampu bohlam menyala di kepalanya.
"APA?" teriaknya, terkejut setengah mati. Matanya membulat besar sampai ukuran maksimal, nyaris mau keluar.
"Urusai, Dobe!" seru Sasuke seraya menjauh dari Naruto dan menutup telinganya. Sungguh, sejenius-jeniusnya dia, tak pernah ia sangka bahwa Naruto bisa mengeluarkan suara sekeras itu.
"Jangan menjauh dariku, Sasuke." desis Naruto tajam. Tangannya meraih kerah kemeja Sasuke dan menariknya mendekat hingga hidung mereka bersentuhan. "Dan jangan harap aku akan percaya bualan omong kosong seperti itu." Lanjutnya geram.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, Dobe. Dan bukan urusanku kau percaya atau tidak, karena aku tidak peduli." Sahut Sasuke dingin setelah menghentakkan tangan Naruto yang mengenggam kemejanya dengan kasar dan berdiri. Dia sudah menyangka, bahwa tidak akan semudah itu Naruto mempercayainya. Kenyataan itu terlalu tidak masuk akal, dan dia tidak akan menyalahkan Naruto karena hal itu. Normalnya, dia akan merasa sedih, dan butuh waktu untuk menerima kenyataan. Itu wajar, namun yang lebih buruk lagi jika dia terpuruk dalam kesedihan dan-
"MUAHAHAHA!"
Kegilaan.
Dibelakangnya, terlihat Naruto, sedang tertawa laknat sembari mengangkat dagunya. Tangannya berkacak pinggang. Ekspresi bahagia, dan juga angkuh terpatri jelas. Bahkan rasa-rasanya Sasuke dapat melihat efek deburan ombak dengan serpihan pasir berterbangan di belakangnya.
"Do… be?"
"GYAHAHAHA-Apa, Sasuke?" Tanya Naruto ceria, masih cekikikan sendiri. Melihat itu alis Sasuke naik sebelah.
"Kau gila?" Tanya Sasuke to the point. Diam-diam dia telah mengenggam ponsel di sakunya, jaga-jaga untuk segera menelepon tukang pukul untuk membuat Naruto pingsan jika gadis itu mulai bertingkah yang tidak-tidak.
"Hah?" ulang Naruto dengan ekspresi menyebalkan. "Tidak. Untuk apa kau bertanya begitu?"
"Kau tertawa setelah mengetahui kau dikutuk; dan itu sudah cukup gila, menurutku." Ujar Sasuke dingin, padahal dalam hatinya dia ingin sekali melompat, berputar, dan kayang kesana kemari karena respon Naruto sangat positif.
Oke, itu sangat tidak Uchiha sekali.
Mendengar itu Naruto hanya tertawa kecil. Tawa ringan yang merdu, bukan tawa nista yang menggelegar seperti tadi.
"Aku hanya senang," ucapnya riang. "Akhirnya aku tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku dan ternyata itu tak seburuk yang aku kira." Lanjutnya lagi seraya berjalan ke arah sebuah pohon Sakura di ujung taman tak jauh dari bangku taman tempat mereka duduk.
Alis Sasuke naik semakin tinggi.
"Tidak terlalu buruk?" ulang Sasuke dengan nada rendah. "Kau dikutuk agar jiwamu menghilang, tidak bisa merasakan apapun, dan melupakan semua memori malammu kau bilang tidak terlalu buruk? Jangan bercanda." Sambungnya pelan. Kakinya yang panjang mulai melangkah mendekati sosok di depannya yang sedang menikmati keindahan Sakura dengan cengiran lebar di wajahnya.
"Yup," tegas Naruto tanpa menoleh pada Sasuke. "Bukankah itu bagus? Aku sangat menyukai anime, kau tahu. Bisa mengalami hal yang hampir serupa dengan tokoh anime itu sanggaaat menyenangkan! Aku seperti memiliki dua sisi! KEREN SEKALIII! Aku bahkan tak harus bercosplay supaya mirip dengannya, karena kami senasib! MUAHAHA!" Naruto tertawa senang dengan mulut terbuka lebar, nyaris menganga. Lalu setelah itu terbatuk karena tersedak kelopak Sakura.
"Ohok! Ohok! 'Suke, a…uhuk-air…" desisnya di sela-sela bengeknya. Matanya menatap merana pada Sasuke yang hanya menatapnya dengan pandangan datar.
"Tidak." Cetus Sasuke singkat, dan mampu membuat Naruto mendelik seram. Diam-diam pemuda itu tersenyum tipis. Rasa lega dan kebahagiaan menyelimuti kalbunya dengan begitu hangat saat melihat bocah pirang itu tertawa, tidak bersedih seperti perkiraannya. Sungguh, dia tidak tahu harus berbuat apa jika melihat gadis yang selalu ceria itu sedih. Tapi yang pasti nggak akan jauh-jauh dari kata 'harakiri' atau 'melompat dari tebing'.
"Tapi…" suara yang sudah bebas dari tersedak Naruto membuyarkan lamunan Sasuke. "Apa kau tahu, apa yang paling membuatku senang selain itu?" lanjutnya pelan dengan mata terpejam, berniat menikmati belaian Sakura di wajahnya. Sasuke hanya mengangkat kedua alisnya.
"Yaitu kenyataan bahwa kau tidak meninggalkanku walau selama ini aku menyusahkanmu. Bukan hal yang mudah menyimpan rahasia kutukan itu dan menjagaku dengan kondisiku yang seperti ini. Aku tahu, walaupun kau melakukan itu karena kita terikat kontrak, kau bisa saja pergi dan menitipkanku pada kerabatku yang lain. Tapi kau masih disini, dan aku sangat bahagia karena itu." Lirih Naruto pelan. Mata saphhirenya kini terbuka, dan menatap Sasuke yang hanya mematung di dekatnya. Lalu perlahan, bibir itu menyunggingkan senyum tipis.
"Dan apa yang bisa lebih baik daripada memiliki seseorang yang kau sayangi, dan ia selalu berada di sampingmu bahkan ketika kau hanya bisa menyusahkannya?"
DEG!
Rasanya, jantung Sasuke seolah mau meledak saat itu juga. Mata onyxnya yang sehitam malam melebar menatap sosok di depannya. Rasa hangat yang menyengat seperti aliran listrik menjalar dari kakinya, dan bermuara pada sesuatu di dadanya. Sesuatu yang membuat darahnya berdesir kencang, begitu kencang sampai dia tidak sadar bahwa kakinya telah melangkah mendekati sosok tersebut.
"Sasuke?" panggil Naruto heran. Matanya menyipit melihat Sasuke yang berjalan mendekatinya. Ada sesuatu yang… berbeda dari pemuda itu. Dia terlihat aneh dan tampak jauh lebih tampan dari biasanya, membuat Naruto jadi sedikit gugup saat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja seperti sekarang.
"Hanya kau," bisik Sasuke tepat di telinga Naruto. "Hanya kau yang bisa membuatku seperti ini. Terus terpesona dan berpikir bahwa aku tak ada apa-apanya dibandingkan denganmu. Kau adalah orang yang paling aneh, dan satu-satunya yang bisa membuatku tidak bisa berpikir jernih." Bisiknya lagi dengan suara lirih nan berat.
"Sa… Sasuke?" panggil Naruto lagi. Jarak mereka terlalu dekat, dan napas Sasuke di telinganya membuatnya merinding. Belum lagi jari Sasuke yang menyentuh daun telinganya agar bisa mendengar bisikan pemuda itu lebih jelas.
"Dan karena itu, sebagai hadiahnya…" Sasuke menarik kepalanya menjauh dari telinga si pirang. Onyxnya menatap dalam sapphire Naruto yang memandangnya heran sebelum mengeliminasi jarak di antara keduanya-
Dan mencium Naruto dengan lembut.
"Kuberikan ciuman pertamaku padamu."
.
.
.
Madara mengusap sebingkai potret yang berada di genggamannya pelan. Jemarinya yang tetap lentik meski telah dimakan usia mengelus garis yang membentuk wajah seseorang dengan sayang. Matanya memancarkan kesedihan dan cinta di saat yang bersamaan saat melihat potret wanita berambut biru tua cantik yang tengah menggendong seorang bayi dengan ekspresi bahagia.
"Sudah lama sekali aku tidak mendengar suaramu, ya?" kakek tua itu berbicara sendiri. Matanya masih belum lepas dari wajah cantik itu. "Aku masih ingin mendengar saat kau berbicara padaku, bahkan menegurku saat aku lupa minum obat rematikku." Lanjutnya lagi seraya tertawa hampa. Bahunya mulai berguncang pelan.
"Maaf," kali ini bola matanya bergulir, menatap lekat sosok bayi dalam foto tersebut. "Aku kehilangan jejaknya. Kau tahu, dia benar-benar cerdas. Dia berhasil lolos dari pengawasanku selama 3 tahun ini. Namun akan aku pastikan, bahwa aku akan segera menemukannya."
"Hei, aku ada berita untukmu. Aku mengutuk anak salah seorang mantan kolegaku di Konoha. Entah apa yang membuatku melakukan hal konyol seperti itu, aku tak tahu. Yang jelas, saat ini aku tak peduli bagaimana keadaannya, karena itu aku tak mengawasi kehidupannya sebagaimana yang biasanya aku lakukan. Aku hanya peduli soal kau, dan cucuku…" lirihnya pelan dengan sebulir air mata lolos dari pertahanan kelopak matanya.
"Sasuke tak bermaksud membunuhmu. Dia sakit, dan dia tidak sadar apa yang telah ia lakukan. Dia terpuruk dan nyaris menghabisi nyawanya sendiri saat tahu bahwa dia yang telah membunuhmu. Aku sudah berusaha menyembuhkan penyakitnya, namun tidak ada hasil. Malah sekarang dia berhasil kabur dariku."
"Walaupun aku tahu kau tidak akan marah padanya, tapi percayalah, Sasuke sangat mencintaimu. Kau adalah satu-satunya orang yang paling dia cintai di dunia ini. Cinta dan kasih sayangnya padamu sangat besar, sehingga tanpa disadari itu telah menjadi bumerang bagimu dan baginya. Namun aku percaya, suatu saat nanti dia pasti sembuh. Dan berjanjilah bahwa kau akan tersenyum saat melihat putra yang kau sayangi tumbuh dengan sehat. Kau pasti akan merasa amat bahagia melihatnya…"
Madara tersenyum getir, kemudian meletakkan pigura itu di mejanya sebelum mengalihkan pandangannya ke langit dari balik kaca di belakangnya.
"Iya kan, Mikoto?"
.
.
.
To Be Continued
Haiii…. (dadah-dadah ala miss universe) Rei balik nih! Gomenasai… gomenasai… Rei lama banget updatenya, sampai gak enak hati sama readers. Udah ficnya abal, lama update lagi. Sekali lagi Rei minta maaf... ini bukan maunya Rei. Sebenarnya Rei sakit selama beberapa minggu, trus karena makin parah akhirnya terpaksa operasi. Jadinya gak bisa pegang laptop deh… TmT. Kalo nekat pegang pasti digeplak sama mama, jadinya yah, pasrah aja. Trus setelah agak sehatan dikit, pas mau nyentuh keyboard, eh malah kena WB! ASEM BANGEETTT! (banting-banting piring ke lantai).
Jadi jangan heran kalo chapter ini aneh banget, jadul, dan rada-rada gak jelas gitu. Maksa sih soalnya. Dan sekarang, katahuan kan, siapa wanita yang dicintai Sasuke? Hayooo… ada yang gondok nggak, pas tahu ternyata orangnya itu Mikoto? NYEHEHE! (diinjek readers). Eh, bener kan, cinta itu kan ada untuk ortu juga. Hehehe… (ngeles no jutsu)
Err… kayaknya chapter depan bakal rumit deh, soalnya bakal dijelasin sebagian masalahnya. Dan karena Rei masih harus check up selama beberapa kali, plus harus rawat jalan, jadi kalo updatenya lama harap maklum, ya? Jangan lupa reviewnya, ya? ,/ Soalnya Rei masih butuh kritik dan saran dari readers sekalian.
Oh ya, hamper lupa. Sekarang bales reviewnya, nyok! Kali ini Rei aja yang balas. Padahal rencananya 'Suke yang bales, tapi karena lg sibuk sama Naru, jadi… o/_/o #blushing#. Ukh, udah deh, let's we reply the reviews!
Ryoma-chan
Iya… Naru sama DarkNaru emang sama aja, sama-sama konyol. Yang satu otaku, yang satunya lagi tukang gombal. Ini siapa yang bikin, sih? #plak!#
Makasih ya, atas reviewnya. Maaf kalau cerita kali ini gaje n ngebosenin banget. Kena WB, sih. #garuk-garuk tanah# Nanti review lagi, ya?
Utau no Hana
Hiks… makasih Utau-san, udah ngertiin Rei. Menderita banget kan, kalo otak kita dipaksa kerja? Apalagi Rei jarang belajar, mikir males, kerjaannya asik nyoret-nyoret buku doing di sekolah. #Ups, buka kartu#
Hehe… nangis, ya? Kok Rei malah seneng yah? #dirajam# tapi Rei seneng kalau Utau ketawa, soalnya kata kawan-kawan , Rei bisanya buat orang merasa ngeri doang. Padahal Cuma ngelempar uler mainan, kok takut, sih? #sok inosen#
Yosh! Ini udah diapdet. Maaf kalo lama. Arigatou, ya…. ^^
Meg chan
Udah ketauan kan, gimana cara Sasu menjelaskannya? Aneh banget, yak? #garuk-garuk kepala#. Sai? Oh, dia masih syok tuh, jadi lebih lama kayaknya di RS #alesan#. Tp chap depan ada kejutan tentang Sai, kok. Hehehe… tenang aja, sedikit-sedikit semua akan dijelaskan.
Mau mukul kepala Naru? Gak papa! Pukul aja! HAJAR! Rei ikhlas kok! #dicakar Sasu#
Thanks ya, atas updatenya. Maaf kelamaan… ^^'a
Kiriya Diciannove
Oh, jd ini Nana-san, ya? Jadi sekarang manggilnya apa, nih? Nana-san atau Kiriya-san? #ditempeleng karena sok akrab#
Hohoho… entah kenapa rei merasakan suatu kesenangan pribadi kalo bisa nistain Sasuke. rasanya kayak ada taste gimana gitu~ #Sasuke: Apa kau bilang? (diamaterasu)
Makasih ya, atas reviewnya. Maaf jika mengecewakan karena update lama dan ceritanya abal…
Imperiale Nazwa-chan
Yoroshiku ne, Nazwa-san… ^^
Hehehe… masa' sih? Kalo menurut Rei fic ini malah aneh banget. Naruto sama authornya sama" konyol. Tapi Rei senang kok, kalo Nazwa-san bia terhibur. Makasih ya, atas updatenya. Dan maaf kalau kelamaan apdatenya…
Kazuki NightNatsu
Hah? Dibolak-balik? Wah Naru, loe kriminal banget tuh. Masa' tega banget ngebolak-balik hati orang? #ditusuk pake bamboo#
Hehe… makasih, ya. Jadi malu nih, kalo dibilang begitu. Maaf ya, kalau apdetnya kelamaan…
Xxruxx
Aduh, jangan bilang begitu, dong. Malu nih… #blushing gaje# menurut Rei malah fic ini masih perlu perbaikan disana-sini. Di cor juga sekalian. #hah?# o_0?
Makasih ya, atas pujian dan reviewnya. Maaf kalau lama update…
KyuHyun'JiYoon
Err… Rei agak aneh gitu kalo sama BL, jadi buat yang cewek, deh… Tapi tenang aja, penampilan Naruto di fic ini sama dengan kayak di anime kok. Cuma beda gender doang. Hehehe…
Ok, makasih ya atas reviewnya. Maaf kalo kelamaan…
Aoi Ciel ayaiyay kawaii
Iya! Naru emang number one, dah! Sasu kalah jauuhhhhh. #digeplak Sasu#
Makasih ya, atas updatenya. Maaf lama…
Uchiha Hikari
Bisa kok. Rei juga gak tega kalo Naru kelamaan kena kutuk. Kapan jadinya sama Sasuke tuh, kalo begitu terus? #ngelirik SasuNaru#
Yosh, ini udah update. Makasih dan maaf ya, kalo lama updatenya.
NamiUzu femNaru-chan.
Iya, ini udah update. Makasih dan maaf lama… m(-_-)m
Farenheit July.
Iya… Naru emang keren. Sasu sengaja dibuat OOC dsni, soalnya Rei kesel sama Sasu sih, karena ninggalin Naru dan milih sama Bakoro. #Baka Sasuke!
Ok, makasih ya, reviewnya. Dan sori lama update.
Ryuuta Kagami
Yosh! Ini udah diupdate. Makasih ya, dan sori kalo lama…
