Chapter 9:

Another Truth


Rin POV


Saat itu, aku merasakan sesuatu seperti sengatan listrik dari tangannya yang menyentuh dahiku…
Lalu semuanya menjadi gelap,
tapi aku masih bisa mendengar perkataannya…

"Aku tau kau pasti berniat membunuhku… Silahkan saja, lakukan sesukamu…"
"Tapi, sepertinya kau perlu menunggu ratusan tahun lagi kalau ingin membunuhku…"
"Dan itu juga kalau kau masih HIDUP."

.
"Bye bye, Rin."

.


.

Rasanya seolah-olah aku dilemparkan kembali ke lantai batu yang dingin dan lembap.

Ah, aku baru menyadari sesuatu…
Suara vampire yang mengubah Len itu, sama seperti suara yang kudengar di kepalaku saat aku terjebak dalam ruangan penuh darah ini…

Aku membuka mataku.
Aku sudah kembali lagi ke dunia sekarang… Di dalam ruangan batu yang masih dipenuhi dengan darah dimana-mana…

Disampingku,
Gumi duduk sambil memangku tubuhku.

Aku menatapnya.
Dia nampak sedih, lalu berkata,

"Selamat datang kembali, Rin… Sepertinya kau mengalami mimpi yang sangat buruk dalam tidurmu..."

Aku mencoba untuk bangun,
"Apa… Aku tertidur di sini? Berapa lama?"
"Apa hal-hal yang barusan kulihat… Hanyalah mimpi?"

Gumi menggelengkan kepalanya,
"Kau hanya tertidur selama 10 menit…"
"Dan, tidak… Apapun itu yang kau lihat barusan, semua itu adalah kejadian sebenarnya dari hidupmu ratusan tahun yang lalu… Maaf, Rin… Aku tau pasti menyakitkan untuk melihat dan mendengar semua hal itu…"

Aku memejamkan mata dan menarik napas panjang, lalu menghembuskannya — mencoba untuk menjernihkan pikiranku.

"Rin…? Kau tidak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja… Hanya saja… Sudah terlalu banyak hal yang kualami selama 1 hari ini… Dan aku sedikit pusing, karena ingatan-ingatanku sudah kembali…"

Gumi tersenyum lembut padaku,
"Aku merindukanmu, Rin… Apa kau sudah mengingatku sekarang?"

Aku memejamkan mataku dan berpikir…
Kilasan-kilasan bayangan hidupku ratusan tahun yang lalu terlintas di benakku,
Aku mencari-cari sosok Gumi dalam bayangan-bayangan itu…

.

Gumi adalah anak tunggal dari keluarga pemburu vampire — satu-satunya yang tersisa.
Di suatu malam, saat aku masih berumur 5 tahun, aku menemukannya tergeletak tak berdaya di hutan…
Aku membawanya pulang, dan merawatnya hingga sembuh,
Dan sejak itu, Gumi menjadi seorang pelayan serta sahabat bagiku…
Dia selalu menolongku, dan tak pernah meninggalkanku…

.

"Aku ingat… Kau adalah teman terbaikku, Gumi… Tidak mungkin aku bisa melupakanmu…"
"Terima kasih, karena kau mau mengurus diriku dan Len, serta menjadi sahabatku ratusan tahun yang lalu… Dan terima kasih banyak, karena kau juga masih mau menolongku, dan menjadi sahabatku lagi sekarang ini…"
ujarku sambil tersenyum lembut padanya.

Mata Gumi nampak berkaca-kaca mendengar ucapanku,
"Sebuah kesenangan bagiku untuk melayanimu, Rin…"

.

"Erm, Gumi… Masih ada beberapa hal yang ingin ku ketahui…"

"Apa itu? Tanyakan saja, aku akan mencoba untuk menjawab sebisaku…"

"Ini soal… Ruangan rahasia di rumah Len… Apa kau tau sesuatu soal hal itu?"

Gumi berpikir sejenak, lalu menjawab,
"Ya…"
"Ruangan itu adalah sebuah gudang penyimpanan, yang berisi barang-barang yang tersisa dan masih bisa diselamatkan dari rumahmu yang terbakar ratusan tahun yang lalu…"
"Ruangan di rumah itu terhubung langsung ke kastil tempat kita berada ini…"
"Lukisan-lukisan di ruangan itu dibuat oleh anggota-anggota keluarga Kagamine, termasuk kau dan Len…"
"Aku yakin, kau pasti juga melihat 2 lukisan yang dibingkai dengan bingkai kayu berwarna merah gelap, yang berbeda dari lukisan lainnya yang dibingkai dengan warna kuning cerah…"

"Ya, aku sudah melihatnya…"
"Lukisan yang pertama menggambarkan 4 orang, yang wajah serta seluruh bagian kepalanya tidak dilukiskan dengan jelas... Bagian wajah serta kepalanya, hanya berupa kanvas putih kosong, sementara bagian tubuh lainnya serta pemandangannya penuh dengan warna-warna indah… Di bawah lukisan itu terukir tulisan 'Kagamine —' yang sudah dicoret…"
"Sementara, lukisan yang kedua, menggambarkan diriku ratusan tahun yang lalu yang memakai gaun berwarna hitam serta sebuah pita besar berwarna merah pekat. Dalam lukisan itu, aku sedang duduk di sebuah ruangan yang sama persis dengan kamarku yang ada di rumahku sekarang ini… Bahkan corak dinding dalam lukisan itu sama persis dengan corak dinding di kamarku... Hanya saja, wajahku dalam lukisan itu tertutupi oleh percikan darah…"
"Aku penasaran soal kedua lukisan itu…"
jelasku panjang lebar pada Gumi.

Gumi mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu menjawab,

"Lukisan pertama itu dibuat olehmu, Rin… Lukisan itu menggambarkan keluarga kalian, keluarga Kagamine. Tulisan 'Kagamine —' itu sebenarnya adalah 'Kagamine Rin, Len, Lenka, Rinto', yang merupakan namamu, Len, dan nama kedua orang tua kalian…"

.

Orang tua ku…
Kagamine Lenka & Kagamine Rinto…
Nama yang indah…

.

"T-Tapi… Kenapa tulisan itu dicoret? Dan kenapa wajah mereka tidak terlihat?"

"Ahh, Kalau soal itu, aku kurang yakin… Tapi menurutku itu mungkin ada hubungannya soal ingatanmu serta ingatan Len yang dihapus sementara…"

"Ingatan kami?"

"Ya, menurutku begitu... Nanti akan kujelaskan…"
"Selanjutnya, lukisan kedua itu dibuat oleh Len, sebagai hadiah ulang tahun untukmu, sebelum… 'Tragedi' itu terjadi…"

"Kalau begitu kenapa corak dinding pada lukisan itu sama seperti dinding kamar rumahku yang sekarang? Bukannya seharusnya itu adalah corak dinding kamarku ratusan tahun yang lalu?"

"Itu… Adalah permintaan Len sendiri… Dia ingin agar kau merasa nyaman… Dia meminta agar kamarmu yang sekarang dibuat semirip mungkin dengan kamarmu ratusan tahun yang lalu…"
"Dan, sebenarnya… Kastil tempat kita berada ini juga dibuat dengan sisa-sisa bangunan rumahmu yang terbakar ratusan tahun yang lalu…"

"Eh?"
"La-lalu… Darah pada lukisan itu…?"

"Aku juga tidak tau pasti… Tapi, dari informasi yang ku dengar… Darah pada lukisan itu adalah… Darah kedua orang tuamu… Mereka… Meninggal tepat di depan lukisan itu…"

.

"Eh-?!"
"T-Tapi, kalau begitu, k-kenapa tidak ada yang… Menghapuskan darah itu..?"

"Itu… Itu juga adalah perintah dari Sang Raja, Len sendiri… Tidak ada vampire yang dapat membantah apapun yang dkatakannya…"

.

"Len itu special… Dia memiliki kekuatan untuk mengendalikan vampire yang diubahnya…"

.

"Erm, G-Gumi… S-Sebenarnya… Sekarang ini… Len itu… Siapa? Kenapa kau memanggilnya 'Sang Raja'…?"

Gumi mendesah, lalu berkata,
"Kau pasti sudah ingat, bagaimana Len menjadi seorang vampire, kan?"
"Pada masa itu, satu-satunya vampire yang tersisa hanyalah Len, dan… Vampire pertama — Vampire yang mengubahnya…"
"Dan setelah 'Tragedi' itu terjadi, Len seolah-olah dimanipulasi oleh vampire pertama itu untuk memperbanyak kaum vampire… Dia merubah hampir seluruh penduduk kota pada saat itu…"
"Karena dia meminum langsung darah vampire pertama, Len memiliki kekuatan yang jauh diatas para vampire lainnya… Juga karena dia memiliki kemampuan untuk mengendalikan para vampire, kami menyebutnya 'Sang Raja' dan menjadikannya sebagai pemimpin kami, para kaum vampire…"
"Dia telah memimpin kami — para vampire — selama beratus-ratus tahun… Tapi dari yang kulihat, dia melakukan semua itu dibawah pengaruh vampire pertama yang mengubahnya…"
"Semakin banyak jumlah vampire, semakin banyak pula jumlah orang yang ingin memusnahkannya — para pemburu vampire…"
"Lalu, kira-kira 100 tahun yang lalu, para pemburu vampire, menemukan tempat persembunyian kami, dan menyerang kami secara langsung…"
"Perang pun terjadi… Dan Len hampir terbunuh dalam perang itu…"
"Akhirnya, kami pun memutuskan untuk menyembunyikan Len dari para pemburu…"
"Ingatannya dihapuskan sementara, dan kekuatannya disegel… Tapi kekuatannya terlalu besar, hingga bahkan segel kami tidak mempan…"
"Jadi, diputuskan bahwa sebagian kekuatannya harus dipindahkan ke dalam suatu 'wadah'…"

Gumi menoleh ke arahku,
"Wadah itu adalah kau, Rin…"

.

Aku?!
Ah, ya…
Kalau dipikir-pikir…
Dalam ingatan terakhirku ratusan tahun yang lalu,
Aku dalam keadaan sangat sekarat, dan tidak mungkin terselamatkan…

Kalau begitu… Kenapa aku masih hidup sekarang ini?!

Bukankah seharusnya…
Aku sudah meninggal…?

.

"A-Aku?! T-Tapi… Kenapa aku?!"
"L-Lagipula… Bukannya… Ratusan tahun lalu… S-Seharusnya aku sudah… Meninggal…?!"

"Yah, kau benar… Seharusnya… Kau memang sudah meninggal…"

"K-Kalau begitu, kenapa sekarang aku—"

Ucapanku terhenti saat melihat amarah yang terpintas di wajah Gumi...
"Seharusnya… Kau memang… Sudah meninggal… Tapi… Len tidak mengizinkannya!"

Tubuh Gumi bergetar karena amarah…

"Eh-? G-Gumi…? A-Apa maksudmu…? T-Tenanglah… Kendalikan emosimu…"

Gumi menarik napas dan menghembuskannya beberapa kali, untuk menenangkan dirinya…
Setelah dia sudah mulai tenang, Gumi mulai menjelaskan,

"Rin… Kau ingat, kan? Keadaanmu saat itu?"
"Seluruh tubuhmu penuh dengan luka, dan kau bisa mati karena kehabisan darah… Kau tidak mungkin terselamatkan lagi… Bahkan jika kau meminum darah dan berubah menjadi vampire, kau tetap tidak akan bisa terselamatkan…"
"Saat itu vampire pertama itu membuatmu pingsan, dan membawamu ke tempat Len… Aku tidak bisa mengikutinya… Tapi aku yakin kalau Len tidak akan mampu untuk melukaimu…"
"Atas dasar itulah, aku memutuskan untuk menjadi seorang vampire… Untuk mencari tau tentang apa yang dilakukan Len pada tubuhmu…"
"Dan akhirnya, beberapa tahun kemudian, saat aku berhasil menjadi salah satu dari para vampire, aku menyusup ke ruangan pribadi Len… Dan disitu… Aku menemukanmu…"

"Kau ada di dalam sebuah tabung yang sangat besar — seperti tabung yang biasa digunakan para ilmuwan untuk menyimpan makhluk percobaan mereka…"
"Tubuhmu dipenuhi dengan selang-selang — seperti selang yang digunakan di rumah sakit untuk menyokong kehidupan seseorang… Tapi walaupun begitu, tubuhmu tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan…"
"Tabung itu dipenuhi dengan cairan merah… Aku tidak tau apa itu darah atau bukan… Yang kutau hanyalah, bahwa selama bertahun-tahun, Len menyimpan tubuhmu yang sudah tak bernyawa di dalam tabung itu…"
"Aku menemukan sebuah buku kecil yang berisi tentang dirimu di salah satu meja di dekat tabung…"

"Di situ tertulis bahwa, saat vampire pertama membawamu pada Len, kau sudah tidak bernyawa lagi… Len tidak bisa menerima itu… Dia tidak mau kehilanganmu… Vampire pertama itu menjelaskan syarat mengubah seseorang menjadi vampire pada Len… Jadi Len meminumkan darahnya padamu…"
"Tubuhmu mulai menunjukkan perubahan-perubahan menjadi seorang vampire… Tapi jantungmu tetap tidak berdetak… Nyawamu sudah tak terselamatkan lagi…"
"Tetapi, bukannya menguburkanmu, Len malah menyimpanmu di dalam tabung yang ternyata berisi darah itu — berharap bahwa suatu hari… Kau akan hidup kembali…"

"Dia… Dia tidak ingin kau meninggal… Dia tidak bisa mengizinkanmu untuk meninggalkannya…"
"Karena itu… Karena itu, dia memaksamu untuk terus hidup… Meskipun hal itu tidak akan pernah mungkin terjadi…"

.

"Len… Melakukan hal seperti itu padaku…?"

.

'Memaksa seseorang yang sudah meninggal untuk terus hidup memang kejam…'
'Tapi… Itu juga terdengar... Romantis…'

.

"Tapi… Aku masih kurang mengerti... Kenapa sekarang aku masih hidup…?"

Gumi kembali menjelaskan,
"Kau masih bisa hidup sekarang, dikarenakan oleh kekuatan Len yang ada dalam tubuhmu… Dan karena kekuatan itu juga, kau hidup kembali sebagai seorang vampire…"
"Sebelum disegel, sebagian besar kekuatan Len dipindahkan ke tubuhmu yang sudah tidak bernyawa itu…"
"Walaupun kebanyakan organmu sudah tidak bisa berfungsi lagi, kekuatan Len yang dipindahkan ke tubuhmu itu cukup besar untuk membuat organ-organ dalam tubuhmu berfungsi kembali…"
"Dan kemudian, ingatan kalian berdua dihapuskan, diganti dengan ingatan-ingatan palsu soal keluarga dan teman-teman kalian yang sebenarnya tidak pernah ada…"
"Lalu kalian ditempatkan di dua tempat yang berbeda, lengkap dengan agent-agent khusus yang bertugas untuk mengawasi serta melindungi kalian…"
"Walaupun pada akhirnya, agent yang ditugaskan untuk menjaga Len kehilangan kendalinya, dan malah berbalik menyerangnya… Tapi untunglah, saat itu kau menemukan Len dan menolongnya…"
"Tapi, agent yang bersamamu, Miku dan Kaito, mereka tidak diberitahukan bahwa Len adalah 'Sang Raja' dan kau adalah 'Wadah'nya… Karena itu mereka tidak segan-segan melukai kalian…"

.

"T-Tapi, Gumi… Bagaimana kau bisa tau semua itu?"

"Selama beratus-ratus tahun, aku hidup sebagai seorang mata-mata… Aku mengawasimu… Aku selalu mengawasi kalian berdua…"
jawab Gumi sambil tersenyum lembut padaku.

"Oh, iya… Rin… Bayangan yang kau lihat saat berada di rumah Len itu adalah aku… Aku hanya ingin memastikan keadaan kalian… Dan suara seperti kaca pecah yang kau dengar saat para pengejar kalian hampir menemukan kalian itu adalah aku… Dan sebenarnya aku juga lah yang menyuruh agent yang bertugas sebagai ibu Len untuk memberitahu Len soal ruangan rahasia di kamarnya…"

.

"J-Jadi… Selama ini kau selalu ada di sekitar kami?!"
"Gumi, terima kasih banyak! Kau memang sahabat terbaikku!"
ujarku sambil memeluknya.

Gumi pun membalas pelukanku.

Saat berpelukan, Gumi membisikkan sesuatu di telingaku,
"Rin, dengarkan baik-baik… Sebentar lagi, para penjaga akan datang untuk membawamu, untuk melaksanakan 'Ritual'… Mereka akan mempertemukanmu dengan Len…"
"Tapi, Len yang kau lihat nanti mungkin tidak akan sama seperti Len selama ini… Jadi, bersiaplah…"

"R-Ritual?! T-Tapi, kau belum memberitahukan padaku apapun tentang ritual itu! A-Apa yang harus kulakukan nanti? Apa yang akan terjadi?! S-Sebenarnya 'Ritual' itu ritual apa..?!"
tanyaku, panik.

Gumi mengelus punggungku,
"Tenanglah… Aku akan selalu bersamamu…"
"Aku akan menjelaskannya dalam perjalanan menuju ruangan utama…"

"B-Baik."

.

Dan, setelah itu, dua orang pria bertubuh besar datang dan menuntun kami keluar… Kami berjalan mengitari kastil yang terasa sangat familiar bagiku…
Aku melihat keluar dari salah satu jendela di dalam kastil.
Di luar sudah malam… Dan sekarang adalah malam bulan purnama…

Gumi berjalan disebelahku.
Dia membisikkan padaku hal-hal penting yang perlu kuketahui soal 'Ritual' ini…

.

Dan, akhirnya, kami sampai, di sebuah ruangan batu yang sangat besar.
Tidak ada lampu di ruangan ini.
Sumber penerangan hanya berasal dari lilin-lilin yang menggantung pada tempatnya di dinding.

Tidak ada jendela, ventilasi, atau benda apapun — selain lilin — di ruangan ini.
Tapi walaupun begitu, aku bisa merasakan hawa dingin yang mengelilingiku sejak aku masuk ke ruangan ini…

Ruangan ini dipenuhi oleh orang-orang yang mengenakan jubah hitam, yang menutupi bagian kepala hingga kaki mereka.
Orang-orang itu berdiri membentuk sebuah lingkaran besar dalam ruangan ini, mengelilingi sesuatu — atau seseorang.
Aku tidak tau apa itu…
Tapi dari penjelasan Gumi, kira-kira aku sudah bisa menebak 'siapa' itu…

.

Salah seorang dari pria besar yang membawaku kesini tadi menarik Gumi dan menuntunnya ke suatu tempat.
Sebelum pergi, Gumi tersenyum padaku,
seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja…

.

Lalu, seorang wanita — dengan rambut pink panjang, juga jubah hitam yang hanya menampakkan bagian kepalanya — datang menghampiriku.
Ekspresinya jelas-jelas menunjukkan ekspresi jijik terhadapku.

Wanita itu menarik tanganku sambil tersenyum sinis.
Dia lalu menuntunku melewati kerumunan orang yang langsung memberi jalan pada kami menuju bagian tengah lingkaran kerumunan ini.

Lantai di bagian tengah kerumunan ini terbuat dari batu, berbentuk lingkaran, yang dipenuhi dengan ukiran-ukiran aneh…
Aku mendapat firasat yang aneh saat kakiku menyentuh lantai batu itu.

.

Dan…
Di tengah lantai batu ini…
Berdiri seorang anak laki-laki berambut honey blonde, dengan mata berwarna merah darah…
Wajahnya pucat,
Tatapannya kosong,
Ekspresinya menunjukkan seolah dia haus akan darah…

.

Adikku tersayang,
'Len Kagamine'

.

.

.


Len POV


Sebelum taringnya merobek leherku, aku merasakan sepasang tangan menarikku ke belakang, dan menjauhkanku darinya. Tapi sepertinya taringnya malah mengenai sepasang tangan itu.

Aku bisa mendengar suara geraman rendah, yang berasal dari Rin…

Aku melihat ke belakang, ke arah pemilik sepasang tangan itu.

Luka.

Dia membawaku keluar dari ruangan itu, meninggalkan Rin sendirian dalam ruangan itu...


Luka membawaku keluar menjauhi ruangan itu…
Tak lama kemudian, aku melihat seorang gadis dengan rambut pendek berwarna hijau memasuki ruangan batu tempat Rin berada.

Luka berbicara padaku. Sepertinya dia menanyakan sesuatu…
Aku tidak tau, dan tidak mau tau apa yang dikatakannya…

Dia menuntunku keluar, menuju suatu tempat.
Aku hanya diam dan mengikutinya…

.

Barusan itu… Apa itu memang benar-benar Rin?
Dia… Menakutkan…

'Aku takut…'

.


Kami akhirnya sampai di sebuah ruangan yang sangat besar.
Ruangan ini dipenuhi oleh orang-orang yang mengenakan jubah hitam, yang menutupi bagian kepala hingga kaki mereka. Mereka berdiri membentuk sebuah lingkaran besar dalam ruangan ini.

Saat kami masuk ke dalam ruangan, orang-orang itu langsung berlutut dan memberi jalan pada kami menuju bagian tengah lingkaran.

Luka menuntunku ke tengah-tengah lingkaran.
Aku mendapat firasat yang aneh saat kakiku menyentuh lantai batu di tengah lingkaran ini… Ukiran pada lantai batu ini terasa familiar… Dan seolah-olah aku ditarik masuk ke dalamnya…

Tapi aku tidak menghiraukannya… Aku masih terlalu shock sejak melihat Rin yang menyerangku…

Luka membisikkan sesuatu padaku,
"Master, bersabarlah sebentar lagi… Anda akan mendapatkan kekuatan Anda kembali secepatnya…"

Dia berdiri di belakangku, lalu mendekatkan taringnya ke leherku, sambil berbisik,
"Maaf, Master… Ini mungkin akan terasa sakit…"

Lalu…

Aku merasakan sesuatu yang menusuk leherku…
Rasanya sangat-SANGAT sakit…
Seolah-olah sekujur tubuhku ditusuk dengan ribuan jarum…

Dan di tengah rasa sakit itu,

Aku mendengar suara tawa seorang anak perempuan…
Suara tawa yang terasa familiar bagiku…

Dan ditengah tawanya, suara itu berkata,
"Lama tidak berjumpa, Len…"

Lalu semuanya menjadi gelap…