Final Fantasy VII sepenuhny milik Square-Enix, saia cuma minjem untuk melampiskan hobi saia.
Take VIII : Encounter
Cloud berdiri di tengah ruangan besar tanpa perabotan, cat dinding berwarna abu-abu itu terkena terpaan sinar matahari siang. Ia melangkah menuju jendela. Pemandangannya luar biasa, jelas saja. Ini gedung dua puluh lantai, bagaimana tidak memiliki pemandangan yang menakjubkan? Kota Midgar terlihat sangat kecil dari atas sini. Cloud meletakkan tangan kanannya di atas jendela yang bersih.
"Bagaimana menurutmu, Cloud?" tanya Tifa. Kepalanya tersembul dari balik pintu.
"Lumayan." jawab yang ditanya. Cloud kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjangnya.
Tifa berjalan mendekati Cloud. Mata hitamnya melihat pemandangan di depannya, hamparan langit Midgar. Tidak ada gedung tinggi di hadapannya. Inilah alasan kenapa Tifa memilih tempat ini. Dulu, dia pernah datang ke sini saat tempat ini masih menjadi kantor perusahaan sebuah aksesoris wanita. Tapi dua tahun yang lalu perusahaan itu bangkrut, dan semenjak itu tempat ini kosong. Tifa kenal dengan pemilik gedung ini, dan dia pernah – dengan nada bergurau – mengatakan bahwa suatu hari nanti jika dia memiliki uang, dia akan membeli unit ini. Sang pemiliki nampaknya menyikapi hal itu dengan serius, terbukti dengan tidak dilepasnya tempat ini meski sudah banyak tawaran berdatangan.
Ngomong-ngomong, apa yang dilakukan Cloud dan Tifa sekarang? Keduanya sedang mencari gedung untuk menjadi kantor agensi artis Cloud nanti, setelah Strife Agency sudah memiliki cukup banyak artis, mereka akan pindah ke Midgar. Bersama, mereka akan menaklukan kota metropolitan ini. Tempat yang ditunjukkan ini lumayan strategis. Dia berada di pusat kota Midgar, dan di lantai tujuh ini hanya ada dua perusahaan kecil yang menyewa sebuah ruangan kecil di ujung lantai, jadi tidak perlu takut akan mengganggu dan diganggu. Harga sewanya juga lumayan murah untuk ukuran sebuah unit di wilayah pusat kota.
Seorang pria berkaca mata muncul, ia tersenyum. "Aku sangat senang anda akhirnya datang, Nona Tifa."
Tifa berpaling ke si pria berkaca mata. "Terima kasih karena anda tidak menjual unit ini." Tifa membungkukan badannya sebagai tanda berterima kasih.
Cloud yang tadi sempat melamun memikirkan dekorasi macam apa yang cocok untuk ruangan ini tersentak karena mendengar suara Tifa. "Ah, apa anda pemilik tempat ini?" Cloud bergegas menghampiri pria itu, menjabat tangannya dengan ramah. "Terima kasih."
"Ah, tidak perlu begitu," pria itu melambaikan tangannya. "Aku merupakan penggemar berat Nona Tifa. Bisa membantunya seperti ini, itu merupakan sebuah kepuasaan tersendiri." Ia berkata dengan nada bangga.
"Tapi sayangnya," Cloud menggaruk bagian belakang kepalanya. "anda harus menunggu lebih lama lagi. Apa itu tidak apa-apa untuk anda?"
Pria berkaca mata itu mengangguk. "Tentu saja! Tempat ini sesungguhnya sudah dibeli oleh Nona Tifa," ia tersenyum. Mata hitamnya melirik Tifa yang melemparkan pandangan bingung kepadanya. "dia sudah memberikan tanda tangannya untuk semua anggota keluargaku. Aku anggap tanda tangan itu adalah uang muka."
"AH!" Tifa terkejut. "Aku tidak bisa melakukan hal itu! Itu hanya tanda tangan..."
"Apa anda tidak tahu, Nona Tifa? Tanda tangan anda jika dijual bisa menembus harga sepuluh juta Gil. Apalagi ini tanda yang anda berikan adalah tanda tangan ketika anda masih kecil dulu, harganya bisa mencapai seratus juta Gil!" Ia mengepalkan tangannya di depan dada, wajahnya terlihat sangat bahagia.
Mulut Cloud terbuka lebar. Semahal itukah tanda tangan Tifa? Dia bahkan baru tahu bahwa tanda tangan bisa diperjual-belikan. Sementara Tifa hanya tersenyum canggung.
"Jadi, anda boleh menganggap bahwa anda sudah membeli tempat ini, Nona Tifa. Saya pastikan itu," pria berkaca mata itu membungkuk. "Kami akan menunggu kehadiran anda di tempat ini."
.
.
.
.
.
Keduanya keluar dari gedung dalam diam. Seharusnya mereka naik pesawat pagi ini, tetapi ketika Cloud membeli tiket, petugas yang melayaninya tidak sengaja memilihkan tiket dengan jam keberangkatan sore hari. Rasanya tidak apa-apa, kesalahan kecil ini memberikan waktu bagi Cloud dan Tifa untuk menikmati Midgar berdua. Tifa sendiri sudah selesai berbenah. Dia tidak memindahkan semua barangnya ke tempat Cloud, mengingat bahwa nanti pasti mereka akan sering bolak-balik Midgar dan fakta bahwa sangat sulit untuk mencari tempat tinggal atau sebuah gedung untuk menjadi kantor, Tifa menawarkan diri untuk menjadikan apartemennya sebagai kantor sementara jika mereka berada di Midgar.
Cloud berhenti sejenak untuk menunggu Tifa yang tertinggal di belakang. "Setelah ini kita mau kemana lagi? Masih ada waktu sekitar lima jam lagi." Dalam hati Cloud sedikit kecewa karena Don Corneo sedang pergi ke Junon. Seandainya tidak, mungkin dia dan Tifa sudah pergi ke tempat pria itu untuk membicarakan film yang akan dibintangi Tifa tersebut. Sementara syuting iklan pertama Tifa akan dilakukan minggu depan, dan lokasinya di Nibelheim.
Tifa yang sudah berada di sebelah Cloud menggeleng polos. Dia memang tinggal di Midgar, tetapi tidak pernah memiliki banyak waktu untuk berjalan-jalan di sini. Jadi, jangan tanya kepada Tifa mengenai cara untuk menghabiskan waktu sebagai turis.
"Wah, wah, sebuah kebetulan yang menyenangkan bisa berjumpa kalian di tempat ini..."
Cloud dan Tifa menoleh ke sumber suara, dan tidak akan percaya dengan apa yang mereka lihat. Sosok pria berambut silver berdiri dengan gagah dalam balutan jas, mata hijaunya menatap ke depan dengan tatapan tajam, bibir tipisnya menyunggingkan senyuman ramah tetapi terlihat begitu dingin. Pupil Tifa membesar, ritme detak jantungnya naik dengan kecepatan penuh dan membuatnya jadi berantakan, rasa dingin muncul dari telapak kakinya dan segera menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Sephiroth Senpai." Cloud yang bersuara.
Tifa melirik Cloud tidak percaya. Apa pendengarannya sudah kacau atau tadi Cloud memang memanggil Sephiroth dengan sebutan Senpai? "Eh, Senpai?"
"Ya, dia kakak angkatanku saat kuliah dulu. Dia satu angkatan dengan Zack, setahun diatasku." Cloud menjelaskan dengan wajah berseri.
"Aku senang kau masih meingatku, Cloud." ucap Sephiroth. Matanya melirik Tifa yang menyadari bahwa sudah menjadi fokus mata Sephiroth dan sedikit menunjukkan gestur tubuh bertahan. "Apa kabarmu, Tifa?"
"Baik, seperti yang kau lihat." Tifa menjawab dengan ragu.
Suasana menjadi canggung seketika itu juga. Cloud yang tidak mengerti hanya bisa mengerutkan kening dan melemparkan pandangan bergantian ke arah Tifa dan Senpainya.
"Aku dengar Don Corneo memberikan tawaran untuk bermain di film terbarunya untukmu. Apa kau menerimanya?"
"Ya. Bukannya Reno juga bermain di film itu?"
Sephiroth mengangkat dagunya dengan sombong. "Ya. Aku harap kau bisa membimbing Reno nanti."
Tifa mengepalkan tangan. "Tentu saja, Manager Sephiroth."
Pria itu tersenyum. "Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu." Ia berjalan di antara Cloud dan Tifa. Ia berhenti dan menoleh ke arah Cloud. "Tolong jaga Tifa baik-baik. Dan selamat, karena telah mendapatkan Tifa."
Cloud mengangguk kikuk dan berterima kasih, Sephiroth melanjutkan langkahnya. Setelah punggung pria itu tidak terlihat, Tifa terjatuh ke bawah. Membuat Cloud terkejut. "Tifa, kau kenapa?"
Wajahnya terlihat pucat dan menyiratkan ketakutan. Tetapi Tifa menggeleng. "Tidak apa-apa. Hei, aku lapar. Bagaimana kalau kita makan dulu?" Wanita berambut hitam itu mengalihkan pembicaran.
Cloud terdiam menatap Tifa yang sudah berjalan meninggalkannya. Perasaan itu muncul. Perasaan yang cukup menganggu, tetapi memang seharusnya muncul setelah melihat kejadian barusan...
Penasaran.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Mungkin pergi ke mall bukan pilihan terbaik, tetapi hanya ini satu-satunya hiburan yang dimiliki Midgar. Yah, memang ada beberapa taman kecil di luar sana, tetapi hawa panas membuat tempat di luar ruangan menjadi pilihan terakhir untuk menghabiskan waktu. Midgar jauh dari laut, jadi tidak bisa mengharapkan untuk bisa pergi ke pantai. Jika ingin pergi ke gunung, butuh waktu sekitar empat jam, dan itu tidak bisa dilakukan sekarang. Meingat waktu yang tersisa tidak sebanyak itu.
Tifa tidak pernah menolak atau berusaha lari dari penggemarnya yang selalu muncul entah darimana, mengajaknya berfoto atau meminta tanda tangannya. Dan Tifa selalu tersenyum ramah. Tadinya Cloud ingin menarik Tifa ke tempat sepi, dimana tidak akan ada orang yang mengganggu Tifa, tapi jika dia melakukan itu. Apa yang akan dikatakan penggemar Tifa? Cloud Strife, manager baru Tifa menjauhkannya dari penggemar setianya? Itu pasti akan menjadi berita utama yang sangat menjual bagi para pencinta gosip.
Setelah suasana agak sepi, Cloud mengajak Tifa untuk makan siang. Tujuan utama mereka ke mall, dua jam yang lalu. Cloud melirik wanita yang berdiri di sebelahnya, dia terlihat ceria mengamati barang-barang yang dijual di mall.
"Maaf..."
"Hah?" Tifa menoleh.
"Kau... Apa kau tidak pernah lelah, Tifa? Terus tersenyum dan melayani mereka? Apa kau tidak pernah menginginkan waktu untuk dirimu sendiri?" Cloud memberondong Tifa dengan pertanyaan.
Yang ditanya terkekeh geli. "Ya, kau benar. Sebetulnya, aku lelah. Tapi, bukankah ini tugasku sebagai seorang artis?"
Cloud berhenti berjalan. "Tapi terkadang seorang artis ingin menikmati waktu sendiri, kan?"
"Waktuku sendiri, adalah ketika aku berada di rumahku." Tifa berjalan mendekati Cloud. "Di sana, aku bisa menjadi Tifa Lockhart yang hobi masak, membaca buku sambil tiduran, makan cemilan sambil menonton televisi, bangun siang hari, dan melakukan hal-hal lain yang hanya bisa aku lakukan di rumah. Itu adalah, waktu sendiriku." Tifa berjinjit, mendekatkan bibirnya ke telinga Cloud. "Dan hanya orang-orang yang aku sayang yang boleh melihatku seperti itu." Ia tersenyum.
Pipi Cloud memerah, entah kenapa. Ini gawat, bagaimana jika ada wartawan yang melihat mereka? Atau penggemar Tifa yang memotret kejadian ini dan menyebarkannya melalui internet? Cloud bisa merasakan nafas Tifa yang hangat, tetapi kehangatan itu membuat tubuhnya dingin. Dia berusaha keras untuk mengingatkan diri sendiri bahwa dia adalah manager Tifa, dia harus bisa menjaga sikap!
Wanita di depannya mundur beberapa langkah. "Maaf Cloud, tapi aku harus ke kamar mandi sebentar."
"Oh, uh, baiklah..." Cloud tersadar dari lamunannya. "Kalau begitu, aku tunggu di sini saja."
Tifa berlari setelah mengucapkan 'maaf' sekali lagi dan 'aku tidak akan lama'. Setelah ditinggal sendiri, Cloud mengamati keadaan disekitarnya. Ternyata dia sedang berdiri di depan toko bunga. Tanpa memiliki maksud dan tujuan tertentu, dia berjalan masuk. Jemarinya menyentuh bunga berwarna merah muda, yang Cloud tidak tahu namanya apa. Wajahnya sedikit kecewa ketika sadar bahwa itu hanya terbuat dari kertas. Ketika Cloud melihat harganya, dia nyaris jantungan. Harganya seratus kali lipat dari bunga asli yang dibelinya dari gadis penjual bunga yang ia temui beberapa waktu silam.
"Ironis bukan, ketika sesuatu yang mati berhasil menggeser posisi yang hidup." celetuk seseorang dari belakang Cloud.
"KAU!"
Sosok dalam benak Cloud tiba-tiba muncul di dunia nyata. Wanita itu seolah penyihir yang bisa hadir kapan pun dan dimana pun jika seseorang memanggilnya, bahkan hanya dalam pikiran sekali pun! Ia tersenyum dan mendekati Cloud.
"Bunga yang kau sentuh tadi, namanya Camellia. Camellia merah muda artinya 'kerinduan untukmu'." Ia menjelaskan.
"Hah?" Cloud menatapnya bingung.
"Oh, kau tidak tahu? Itu bahasa bunga."
"Bahasa bunga?" Cloud mengeritkan kening.
"Ya," dia terkekeh. "Apa kau tidak tahu? Masing-masing bunga memiliki arti tersendiri. Karena itu, jangan sampai kau salah memberikan bunga kepada orang yang kau kasihi."
Cloud mengangguk-angguk paham.
"Ngomong-ngomong, kau sendirian?"
"Tidak, aku sedang menunggu seseorang." Cloud melirik ke arah Tifa pergi. "Kau sendiri?"
Ia tersenyum. "Nampaknya kita senasib."
.
.
.
.
.
Tifa yang terburu-buru tidak sengaja menabrak seseorang saat ia hendak berbelok. Spontan, Tifa meminta maaf karena dia yang menabrak orang itu. "Ma, maaf..."
"Uwo, Tifa-Chan!"
Tifa menatap wajah orang yang ditabraknya. "Eh?" Di depannya berdiri sosok pria berambut jabrik, hanya saja warnanya hitam. "Ah, Zack!"
Yang dipanggil itu menyengir lebar. "Apa kabarmu, Tifa-Chan? Oh ya, sebelumnya selamat karena telah bergabung dengan Strife Agency." Zack memberi selamat. "Cloud sangat beruntung~~~"
"Eh, kau kenal dengan Cloud?" Tifa ingin memastikan.
"Ya, dia satu tahun dibawahku saat kuliah." Zack mengenang "Ngomong-ngomong, sedang apa kau di sini, Tifa? Tidak bersama Cloud?"
"Ah ya, sebetulnya aku bersama Cloud. Tapi aku harus ke kamar mandi..."
"KEBETULAN!" Zack menepuk tangannya dengan senang. "Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Sekalian aku mendiskusikan film yang akan dibintangi Yuffie nanti!"
Belum sempat Tifa menjawab, Zack sudah menarik tangannya. Tifa agak kesulitan menyeimbangi langkah kaki Zack yang panjang, membuat beberapa orang yang melihat mereka sempat menaikkan alis.
Dari kejauhan terlihat sosok Cloud yang tengah berdiri di samping seorang wanita berambut cokelat. Dan Tifa (dia bersumpah bahwa matanya masih baik-baik saja) dia melihat Cloud tertawa saat berbincang-bincang dengan wanita itu! Perasaan apa ini? Yang tiba-tiba muncul dan membuat perut Tifa melilit tidak karuan? Perasaan yang menggelitik hatinya karena melihat Cloud tertawa dengan wanita lain?
Zack terlihat gembira, dia meneriakkan nama Cloud, membuat pria jabrik itu menoleh dengan tampang kesal. Dan wanita di samping Cloud ikut menoleh, dan tersenyum kepada pria yang masih menggandeng Tifa. Wajah Cloud menjadi kaku saat menyadari bahwa Zack menggandeng Tifa, dan Tifa tidak kelihatan keberatan digandeng oleh Zack. Apakah hubungan keduanya sudah sedekat itu?
"Jadi, kau sudah kenal dengan pacarku?" Zack bertanya.
"HAH?" Cloud dan Tifa bertanya bersamaan.
Dengan lembut Zack merangkul wanita berambut cokelat itu. "Kenalkan, ini kekasihku."
Wanita yang diakui Zack sebagai kekasihnya itu menundukkan kepalanya. "Salam kenal, namaku Aerith Gainsborough."
Cloud menutup mulutnya karena tidak percaya bahwa Zack yang dikenal sebagai Ladies Man ketika mereka kuliah dulu, akhirnya mulai menjalin hubungan serius dengan satu wanita. Dan dari ekspresi wajah Zack, nampaknya hubungan ini cukup serius.
Dilain pihak, Tifa sedikit lega karena ternyata wanita yang mengobrol dengan Cloud barusan adalah pacarnya Zack. Tapi, perasaan aneh itu masih menggelitik hati Tifa. Perasaan ketika dia melihat Cloud tertawa di samping wanita lain...
"Senang akhirnya bisa berkenalan resmi dengan kalian berdua," Aerith bersuara. "Selama ini aku hanya mendengar tentang kalian dari televisi atau cerita Zack saja."
Manager dan artis itu mengangguk kompak.
"Baiklah, karena sekarang kita sudah berkumpul, waktunya makan!" Zack meninju tangannya ke atas. Apa dia tidak sadar bahwa saat ini mereka berempat sedang menjadi pusat perhatian?
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Dua pria berambut jabrik sedang bersandar dipagar pembatas, yang berambut hitam tengah melihat ke dalam sebuah toko pakaian, sementara yang berambut pirang memunggungi toko tersebut.
"Zack, apa kau pernah mendengar sesuatu yang aneh mengenai hubungan antara Tifa dengan Sephiroth?" Yang berambut pirang bicara.
"Huuum," Zack mengelus dagu. "tidak. Maksudku, aku juga belum terlalu lama terjun di dunia hiburan, jadi aku tidak bisa mengakses beberapa gosip, kau tahu." Ia melirik lawan bicaranya. "Memangnya apa yang terjadi, Cloud?"
Cloud menghembuskan nafas. "Kami bertemu dengannya. Dan, Tifa memberikan reaksi yang aneh. Dia begitu ketakutan saat bertemu dengan Sephiroth."
"Apa menurutmu itu ada hubungannya dengan kepindahan Tifa dari Cresent Agency?"
Mata biru Cloud menatap Tifa yang sedang sibuk memilih-milih baju bersama Aerith. Dia terlihat ceria. Tapi bukan tidak mungkin, dibalik keceriaan itu tersimpan cerita yang kelam. "Aku tidak tahu."
Zack melirik sekilas ke arah Tifa, kemudian kembali menatap Cloud. "Kau juga tidak bisa bertanya kepada Tifa. Satu-satunya yang bisa kau lakukan sekarang adalah, melindungi Tifa. Karena dia sudah menjadi artismu."
"Ya, aku tahu itu..."
.
.
.
.
.
Mereka berpisah setelah puas keliling mall, dan mengingat sekarang sudah jam empat sore. Cloud dan Tifa harus bergegas menuju ke bandara. Cid memberi kabar kepada Cloud bahwa barang-barang Tifa sudah sampai dengan selamat, dan sedikit menggoda Cloud karena dia akan pulang bersama Tifa. Yuffie sudah dibolehkan pulang, dan Shera akan memasak makan malam untuk mereka semua.
"Tifa..." Suara bariton Cloud memecahkan keheningan di dalam taksi.
Tifa yang duduk di sebelah Cloud menoleh. "Ya, ada apa Cloud?" Mata keduanya bertemu, Tifa tidak bisa menghindarinya. Jika dia berpaling sekarang, mungkin Cloud akan mengira yang aneh-aneh.
"Apakah kau mempercayaiku?"
"Eh?"
"Apakah kau mempercayaiku? Sebagai seorang manager?"
Lidah Tifa menjadi kelu, kenapa Cloud tiba-tiba bertanya seperti itu? Apa karena pertemuan mereka dengan mantan manager Tifa tadi siang? "Tentu saja aku percaya kepadamu, Cloud. Kenapa tiba-tiba..."
"Aku harus tahu, apakah orang yang akan aku lindungi dengan segenap jiwa dan raga ini mempercayaiku atau tidak. Apakah dia akan mempertanyakan keputusanku, atau melawanku. Karena sekarang aku berada di sampingmu bukan sebagai teman masa kecilmu, tetapi sebagai managermu." Cloud menelan ludah. Darimana dia mendapat keberanian untuk mengucapkan kalimat barusan? Dan untuk apa, kalimat semacam itu? Untuk mempertegas hubungan mereka? Atau untuk menciptakan jurang antara mereka? Jurang yang teramat lebar, dan tidak dapat dilalui?
Hati Tifa terasa seperti teriris saat mendengar Cloud berbicara. Nada serta wajahnya terlihat sangat serius. Cloud tidak main-main. Sebagai manager, yah? Tentu saja. Kenapa Tifa melupakan faktor penting ini? Sekarang hubungan mereka tidak hanya teman masa kecil, melainkan artis dengan managernya. Wanita bermata cokelat itu menundukkan kepalanya. "Ya, kau benar... Tentu saja aku percaya kepadamu, Manager Cloud..." bisik Tifa dengan suara pelan. Sampai-sampai dia ragu, apakah Cloud mendengarnya atau tidak.
Setelah percakapan di taksi, tidak ada lagi percakapan yang terjadi antara Cloud dengan Tifa hingga mereka sampai di rumah yang merangkap sebagai kantor Cloud. Yuffie yang menyambut kedatangan mereka berdua, dan mengajak Tifa untuk ke ruang makan. Untuk menghindari rasa curiga dari tiga orang lainnya, Cloud dan Tifa bersusah payah untuk menikmati pesta yang direncanakan oleh Yuffie. Dan untungnya, tidak ada yang menyadari kecanggungan antara Cloud dan Tifa.
Baru saat tengah malam, pesta selesai. Yuffie sudah dipapah oleh Shera ke kamarnya, Cid masih tidur di ruang keluarga yang merangkap sebagai ruang makan. Sementara Cloud sedang sibuk dengan laptop-nya, mengerjakan sesuatu dalam kegelapan di ruang kerjanya.
Sebuah ketukan membuat Cloud terkejut, dia melihat sosok Tifa berdiri di ambang pintu. "Kau belum tidur, Cloud?"
Dengan kasar Cloud menutup laptop warna hitam tersebut. "Belum," jawabnya sambil mengusapkan kedua tangannya ke wajahnya. "aku harus membetulkan profil Yuffie, dan juga menambahkan profilmu ke dalam daftar artis Strife Agency."
"Jangan bekerja terlalu keras, Cloud. Kau juga harus istirahat."
"Ya. Aku tahu..." Cloud menatap Tifa yang masih berdiri di ambang pintu.
"Baiklah kalau begitu. Selamat malam, Cloud."
Cloud mengangguk. "Selamat malam, Tifa."
Setelah Tifa pergi, Cloud kembali membuka laptop-nya dan kembali melanjutkan kegiatannya. Membetulkan profil Yuffie dan menambahkan profil Tifa di daftar artis agensinya, dan juga, berselancar di dunia maya dengan tujuan mencari tahu hubungan antara Tifa dan Sephiroth.
Apakah kemunculan Sephi terlalu cepat? I hope not :p
Kritik dan saran amat saia nantikan :)
