BREAKOUT!
Naruto Belongs to Mashashi K.
Thanks for Support. Yeaay!
INO'S ROOM
Matahari sudah turun dari peraduannya. Sinarnya cukup terik di pagi ini. Titik-titik embun di jendela bekas hujan tadi malam mulai menguap. Melihat jam berapa ini, orang-orang bergegas mulai bekerja atau melakukan aktivitas sibuknya seperti biasanya. Namun tidak dengan Ino, dia hanya berguling-guling dikasur king size-nya dengan pipi yang merona.
"Oh fuck!" teriak Ino sambil menjambak rambut pirangnya.
INO POV
Lagi. Aku menjadi headline berita hari ini. Aku benar-benar heran. Kenapa berita cepat menyebar? Video, foto? Aku belum lihat yang versi videonya. Tapi apakah orang-orang disana tidak punya kegiatan sehingga mengabadikan moment itu? Kurang kerjaan sekali mereka!
Aku hanya berguling-guling seperti orang gila. Tapi tak masalah untukku. Aku lebih baik mendekam di balik dinding kamarku daripada harus keluar menghadapi tatapan aneh Lee dan Tenten. Aku benar-benar tak punya kata-kata untuk menjawab berbagai macam pertanyaan mereka tentang adegan drama di Naru's Cafe tadi malam. Aku juga tak habis pikir. Bagaimana bisa aku punya inisiatif melakukan drama telenovela tadi malam dengan Sakura? Bgaimana cara aku akan menghadapinya setelah adegan itu? Oh Shit!
TOKTOKTOKTOK
"I-ino, kamu di dalam?"
Oh, shit! Sakura.
"Y-ya. Ada apa?" teriakku tanpa beranjak dari kasur dengan selimut hampir menutupi wajahku. Aku masih terlalu takut menghadapinya sekarang.
"Bo-bolehkan aku ma-masuk? A-aku ada perlu se-sebentar denganmu Ino." teriak Sakura gagap.
"Se-sebentar."
Kubuka laci putih dimeja samping kasurku, mengambil sebuah buku bacaan berat. Aku ganti posisi dudukku, dengan bersandar dikepala tempat tidurku. Kaki selonjoran yang terutupi selimut, membuka buku, raut wajah yang serius. Aku ingin Sakura melihatku sebagai wanita yang cerdas. Eh! Tunggu! Kenapa aku repot-repot melakukan ini? Entahlah.
"Masuklah." teriakku lebih elegan.
CEKLEEEK
Sakura masuk ke kamarku. Inilah pertama kali gadis bublegum penghuni depan kamarku masuk ke ruangan pribadiku. Aku tidak melihat seperti apa wajah Sakura sekarang, pandangan mataku masih setia kebuku tebal yang kupangku. Oh Sial! Kuatkan dirimu Ino!
"Kamu sedang membaca buku? Maafkan aku. Haruskan aku kembali nanti?" kata Sakura.
Hahaha. Sakura percaya. Aktingku pasti benar-benar bagus. Aku melihat kearahnya. Dia benar-benar gugup, menggaruk kepala, terus tangan. Pandangan matanya juga memutar-mutar, khas seseorang yang sedang nervous. Ada apa dengannya? Apa karena berita-berita yang lagi booming itu?
"Aku tidak terlalu sibuk Sakura. Ada apa?" kataku sambil menutup bacaan propertiku berakting.
"Oh ya itu um ano Ino. Kemarin laptopku basah, sedangkan aku harus ada tugas..."
Perasaanku mulai tak enak.
"Bo-bolehkah aku pi-pinjam laptopmu se-sebentar?"
"TIDAK BOLEH!"
Aku mantap menjawabnya. Dilaptopkulah segala sesuatu yang menyankut pribadi aku simpan.
"A-apa? Ke-kenapa?" tanya Sakura tak percaya dengan jawabanku barusan.
Ah bodoh! Ada satu folder yang bernama Sakura dengan huruf dicapslock yang berisi foto-foto gadis pink didepanku ini. Dari yang aku ambil diinternet, foto yang kami ambil saat di Naru's cafe, dan foto yang kuambil secara tida... bukan maksudku sedikit kusengaja. Mau ditaruh mana muka dan harga diriku jika Sakura melihatnya. Hell No!
"Pokoknya tidak boleh Sakura! Aku pinjamkan ke Lee atau Tenten." kataku sambil mengambil ponselku di meja.
"Aku sudah bertanya ke mereka Ino. Laptop Tenten sedang rusak, sedangkan punya Lee hanya berisi games saja."
Sakura berlari kearahku. Duduk dikasurku. Eheeem! Tenanglah Ino!
"Kumohon Ino. Please. Kali ini saja. Aku benar-benar butuh. Kumohon."
Aku menatap mata hijau yang berkaca-kaca itu dengan seksama. Benar-benar indah ciptaan Tuhan didepanku ini.
"Oke. Baiklah."
Ke-kenapa aku bisa lu-luh? A-ada apa dengan matanya? Penyirhir!
Sakura senang bukan main. Sepertinya dia benar-benar membutuhkan laptopku sekarang. Kuambil laptop di meja samping kasurku. Aku ingat ada aplikasi kunci untuk membatasi ruang privasi. Setelah kupastikan Sakura tak akan bisa melihat isi laptopku, kuserahkan kepadanya.
"Kata sandinya Ino?" tanya Sakura.
"Jika butuh passwordnya datang lagi kesini. Ahh! Dan jangan membantah!"
Sakura keluar dari kamarku dengan bibir yang dimanyun-manyunkan. Aku hampir saja hilang kendali setelah melihatnya. bergaya imut seperti itu. Dasar!
Kulanjutkan acara berguling-gulingku di kasur yang nyaman ini. Ahh lebih baik aku nonton video tentang diriku dan Sakura tadi malam.
TOKTOKTOK
"Ino, kata sandinya?"
"Masuklah Sakura."
Sakura datang lagi ke kamarku, meminta kata sandi untuk laptop yang dipinjamnya.
"Ayolah Ino, berikan saja sandinya. Daripada ribet seperti ini." kata Sakura
"TIDAK! Sudahlah. Lanjutkan belajarmu!"
Mana mungkin aku biarkan Sakura mengotak-atik laptopku. Hell big no!
Ya Tuhan! Kami benar-benar seperti sedang akting film saja. Ada sedikit cubitan tak terlihat diperutku saat melihat adeganku saat berjalan mengahampiri Sakura dengan wajah ... menyesal? Oh God.
TOKTOKTOK
"Ino, passwordnya?"
Brengsek! Aku langsung menyembunyikan ponselku kebalik bantal.
"Sa-sakura, Aku belum menyuruhmu masuk!"
"Makanya berikan passwordnya pada.."
"TIDAK!"
Aku tidak sebodoh itu memberika password laptop yang penuh rahasia terdalamku.
"Dasar pelit, memangnya ..."
Sakura keluar kamar dengan mulut berkomat-kamit. Sedikit banyak, aku tahu apa yang diucap barusan. Dasar gadis aneh! Kenapa bisa aku menyukai gadis macam itu? Tak bisa dipercaya.
Aku melanjutkan kegiatanku menonton video telenovelaku dengan Sakura tadi pause video tepat wajah berantakan Sakura sedang dizoom out. Maskaranya meluber, lipstik yang berantakan, mata sembab, dan pancaran kesedihan dimata emeraldnya yang begitu kentara. Berapa lama dia menangis? Apa dia merasakan apa yang aku rasakan? Sakit kecewa dan tersakiti? Uhhh. Hatiku terasa tertonjok saat memikirkan hal ini. Ada bagian hatiku yang sakit melihat kepedihan dari mata hijau itu.
TOKTOKTOK
"Ino, passwordnya!"
TOKTOKTOK
"Ino, password lagi"
TOKTOKTOK
"Ino, lagi. Kata sandinya!"
TOKTOKTOK
TOKTOKTOK
TOKTOKTOK
Brengsek! Jika Sakura seperti ini terus, bagaimana bisa aku menonton videonya sampai selesai.
"Demi Tuhan Sakura! Apa kamu bermain-main denganku haah? Ambil bukumu, belajar disini. Sekarang!"
"Tapi Ino?"
"Jangan membantah! Cepat lakukan!" teriakku jengkel ke Sakura. Salah dia sendiri bukan?
Kali ini Sakura datang ke kamarku dengan tidak mengetuk pintu kamarku. Dia membawa beberapa tumpuk buku tebal, alat tulis, oh dan kacamata berbingkai hitam di kepalanya.
"Dimana aku harus duduk Ino? Disini tak ada meja belajar." tanya Sakura dengan wajah lugu.
"Dilantai. Tentu saja disini Sakura. Ayo cepat!" kataku cepat sambil menepuk sisi kasur sebelahku.
Sakura langsung duduk disisi kasur yang aku tunjukan tadi, tepat disebelahku. Membuka beberapa buku tebal yang tadi dibawanya. Oh God, melihat deretan huruf-huruf kecil dibuku milik Sakura membuat mataku sakit. Sisi yang jarang kutemukan pada Sakura, tampak sangat amat serius membaca deretan huruf yang hampir tak kasat mata itu, sambil sesekali mengetikan sesuatu diprogram .
"Ino. Passwordnya." ucap Sakura lirih sambil menepuk pahaku.
Sakura menoleh kearahku. Cantik! Sesaat pemandangan ini membuatku lupa password laptop yang sudah kuhafal diluar kepala. Sakura tersenyum kepadaku dengan mata menyipit. Manis! Jantungku berhenti, aku tak lagi butuh udara untuk bernafas. Aku mencintai gadis didepanku.
"Ino?"
Ucapan Sakura menyadarkanku dari lamunan indah tentangnya. Aku berdeham keras untuk menetralisir desiran aneh didadaku, lalu kuketikan deretan sandi dikomputer jinjing ini.
Aku benar-benar tak ada kerjaan sekarang, jika aku melanjutkan kegatanku tadi menonton 'video' itu, Sakura bisa melihatnya. Gengsi! Aku hanya menyuri pandang gadis disampingku. Tak pernah kulihat Sakura seserius ini, apa dia benar-benar serius ingin jadi dokter?
"Sakura? Kenapa kamu ingin sekali jadi dokter?" tanyaku tiba-tiba ke Sakura.
Sakura hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyanku. Cantiknya! Ya Tuhan! Kenapa otakku jadi error seperti ini?
"Done! Ino. Kamu punya film yang bagus? Nonton dong!" kata Sakura dengan senyum lebarnya. Uhh.
Aku membuka sebuah folder dengan nama 'Film' yang isinya adalah hanya film-film yang aku bintangi. Aku merekomendasikan beberapa film yang menurutku bagus, tapi tidak menurutnya. Terlalu banyak ciumanlah, adegan dewasanya mengganggulah, aktor prianya mesumlah. Seleranya aneh! Bukankah itu yang disukai penonton.
"Ya Tuhan Sakura! Ini sudah film yang terakhir, sebenarnya film apa yang menurutmu bagus haah! Apa yang tidak ada ciumannya? Dasar nerd!" kataku jengkel ke Sakura.
"Aku tak masalah jika aktris lain yang ciuman atau make out di film. Hanya saja jika kamu yang melakukannya aku tidak suka." jawab Sakura dengan mata yang fokus ke layar laptop.
"Haah? Kenapa?" aku heran, bukankah sama saja?
"Karena aku menyukaimu Ino! Itu saja harus dijelaskan. Dasar gapeka!"
A-apa? Kupingku bermasalah? Ya Tuhan! Sakura menyukaiku? Aku hanya diam melihatnya dengan segudang pertanyaan diotakku.
"Oh God. He-he-he. Ano Ino itu aduh apa ya..." ucap Sakura kebingungan. Lucu.
GUBRAAAK
Sakura langsung berlari keluar kamarku dengan kekuatan maksimalnya, tanpa membawa buku-buku tugas kuliahnya. Hahaha. Kurasa Sakura malu sekali. Kurasa dia benar-benar menyukaiku. Hahahaha. Rasakan itu.
INO POV END
Ino bergulung-gulung dikasurnya dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibir manisnya. Rona merah dipipi Ino semakin merona setiap kali senyum tersungging dibibirnya. Maklum saja, begitulah kelakukan seorang wanita saat sedang jatuh cinta.
xxxxxxxxxx
RUANG TENGAH. INO'S APARTMENT
"Ahh, itu dia Haruno Sakura!"
Sepertinya berdiam diri di perpustakaan sampai jam setengag delapan malam tak membuat Sakura merasa aman. Sesaat setelah dia keluar, Sakura langsung berlari ketika seseorang yang tak dikenalnya memangginya. Apalagi melihat penampilan orang-orang itu, mencolok dengan kamera atau recorder yang selalu dibawanya. Wartawan, paparazi.
Sakura tergopoh-gopoh membawa tas dan buku-buku dengan tangan yang masih diperban, apalagi harus berlari menghindar para pencari berita. Menghentikan taksi yang untung saja lewat dijalan ini.
SAKURA POV
Tulang-tulang dikakiku serasa akan lepas dari tempatnya, tangan kiriku serasa kebas, sedangkan tangan kananku, jangan ditanya bagaimana nyerinya. Apa para paparazi itu tidak kasihan melihatku? Maksudku, mengejar seorang gadis manis dengan perban ditangan kanannya, apalagi dengan membawa tas dan beberapa buku. Benar-benar tak bisa dipercaya.
"Aku pulang."
Aku langsung masuk dengan langkah kaki tergopoh-gopoh.
"Sakura, kamu sudah pulang." tanya Tenten yang langsung bangkit dari kursinya, dengan wajah kelegaan yang terlihat jelas diwajah orientalnya.
"Oh, i-itu tadi..."
"Dari mana saja kau ini? Haah? Mengapa baru pulang? Aku menunggumu hampir dua jam! Aku mencarimu ke tempat kau biasa berada!" teriak Ino jengkel.
Saat marah dia benar-benar menakutkan. Auranya gelap. Benar-benar gadis yang mendominasi. Dia menungguku? Mencariku? Benarkah? Apa dia merasa khawatir? Tanpa sadar senyum terpatri diwajahku.
"Kenapa tersenyum? Apa kau mengolokku hah?" senyum langsung hilang dari wajahku, berganti ekspresi ketakutan.
"Ma-mafkan aku Ino. Segerombolan wartawan mengejarku, aku takut. Aku bersembunyi saja di perpustakaan. Maafkan aku Ino." kataku gagap. Wajar saja! Dia melihatku seperti ingin memakanku!
"Mereka sudah tahu universitasmu?" tanya Lee prihatin kepadaku.
Lee menyuruhku duduk disebelahnya kanannya.
"Brengsek!" teriak Tenten tiba-tiba.
"Mereka benar-benar pengganggu!" sambung Tenten berapi-api.
Diperhatikan seperti ini, aku serasa punya orangtua lagi.
"Kenapa kamu tak menghubungiku tadi?" kata Ino pelan.
Ino duduk disebelah kananku, melihatku dengan pandangan kasihan? Yah. Seperti itu. Tapi tak masalah, berarti ada sedikit dihati Ino untukku. Thanks God!
"Bukankah kamu sudah punya nomorku?" sambungnya.
"Aku tidak punya ponsel Ino, laptopku juga rusak." jawabku dengan innocent.
"Ya Tuhan Sakura. Pinjam! Apa temanmu tak punya ponsel hah?" Ino menaikan sedikit nada bicaranya yang lembut tadi. Kembali ke Ino yang suka teriak-teriak seperti biasanya. Apa tidak sakit tenggorokannya huh?
"Ada. Ta-tapi aku tak ingin mereka tahu nomormu. Mereka akan mengganggumu."
Ino hanya terdiam mendengar jawabanku barusan. Aku tak ingin privasi Ino terganggu karena nomornya tersebar.
"Mandilah Sakura. Akan kumasakan makanan untuk makan malam." kata Tenten.
Aku bergegas kekamarku, dan segera mandi.
RUANG MAKAN. INO'S APARTMENT
Sebenarnya apa yang dia kerjakan? Bukannya makan malah sibuk sendiri dengan ponselnya. Ditambah lagi dengan senyum sendiri. Apa Ino punya gebetan baru? Sial! Siapa yang mau sama gadis yang suka teriak seperti dia? Tidak ada! Kecuali aku.
"Ada apa Sakura? Kenapa tidak makan?" kata Lee tiba-tiba.
Sepertinya dirumah ini hanya Lee dan Tenten yang baik denganku. Tak seperti gadis didepanku itu, sibuk sendiri dengan dunianya.
"Kesulitan memotong dagingnya?" kata Tenten menyambung.
Ino melirik sebentar kearahku, setelah meletakan ponselnya ke meja.
"Benarkah? Kemarikan piringmu?" pinta Ino. Bukan, lebih tepatnya perintah Ino.
"Kenapa?" tanyaku sarkastik.
Ya Tuhan! Kenapa dia tidak peka! Aku ingin sekali melemparkan makan malamku ke arahnya.
"You asked too much!"
Ino langsung mengambil piringku tanpa menunggu jawabanku lagi. Dia benar-benar wanita diktator. Bengis dan tanpa ampun. Ino memotong kecil-kecil daging sapi makan malamku seperti biasanya.
DRRTTTT
"Ini. Makanlah."
Ino mengembalikan piringku tadi. Dengan secepat kilat dia langsung mengambil ponselnya yang tadi sempat bergetar. Matanya kembali fokus ke layar ponsel dengan wajah berseri-seri. Brengsek! Sebenarnya dengan siapa Ino chatting? Apa dia akan terus-terusan bodoh dengan sinyal 'menyukaimu' tadi pagi? Ah! Jika iya, aku menyesal mengatakannya. Brengsek! Aku membencimu Ino!
Haah! Aku merindukan teriakan Ino saat dimeja makan! Apa aku harus melemparkan dagingku kekepalanya agar dia berteriak gitu? Konyol!
SAKURA POV END
Suasana makan kali ini benar-benar kaku, tidak seperti biasanya. Entahlah apa penyebabnya. Tapi yang jelas Sakura tampak gelap sekali auranya, memandang tajam dengan mata membunuh ke arah depannya, Ino. Sakura hanya mengaduk-aduk makanan yang ada didepannya, memaninkan sendok dan garpu tanpa ada niatan untuk memakannya. Melihat Ino selalu terpaku pada ponselnya, membuat amarah Sakura diatas ubun-ubun. Bukannya buta, Lee dan Tenten menyadari hal itu, tapi mereka tidak ingin mengintrupsi pertengkaran pasangan dirumah ini.
xxxxxxxxxx
Lampu ruang tengah apartment mewah ini memang sudah mati, tapi tak membuat tempat berkumpulnya penghuni flat ini gelap. Sakura duduk manis menonton televisi seorang diri. Matanya menatap fokus ke pertandingan tenis yang ditayangkan, terpancar kesenduan dari manik milik Sakura itu.
"Ini minumlah." kata seseorang ynag tiba-tiba saja sudah berada satu ruangan dengan Sakura.
"Wow! Kamu membuatkanku cokelat. Terimakasih Ino." kata Sakura langsung meminum cokelat panas buatan Ino.
"Kau merindukannya huh? Tenis?" ucap Ino yang masih berdiri bersandar tembok.
Sakura hanya tersenyum tipis, walaupun pencahayaan di ruang ini remang-remang , tak membuat Ino buta akan makna senyuman itu.
"Duduklah disini! Nonton bersamaku." kata Sakura sambil menepuk sofa disampingnya.
INO POV
"Bukankah ini ponsel miliknya Tenten?" kataku sambil menunjuk ponsel putih diatas meja.
"Yah. Dia tadi menemaniku menonton televisi." matanya tetap saja fokus ke televisi.
"Oh!"
Ini pertama kalinya aku dan Sakura menonton televisi bersama, hanya berdua, dengan lampu yang remang-remang. Jangan berfikir macam-macam! Kami hanya duduk dan menonton pertandingan tenis. Tak ada adegan romantis seperti difilm-film kan biasa kumainkan.
Aneh! Aku pernah disituasi ini sebelumnya. Maksudku, menonton pertandingan tenis bersama Lee dan Tenten. Dan yang kurasakan saat itu adalah kebosanan yang merasuk ke sumsum tulangku. Namun berbeda dengn saat ini, aku merasa senang sekaligus sedih? Yah. Untuk saat ini kalian bisa menganggapku gila! Silahkan! Tapi memang itu yang aku rasakan, merasa senang karena aku bisa menghabiskan waktu dengan Sakura walaupun hanya seperti ini saja. Dan sedih melihatnya seperti ini, aku tahu dia sangat merindukan bermain tenis. Tapi, sepertinya itu sangat tidak mungkin."
"Ino. Soal yang tadi siang di kamarmu..." Oh God! Aku belum siap obrolan yang itu.
"O-oke! Got it! I mean, yah wajar saja jika seorang penggemar menyukai idolanya bukan?" hariku seperti sedikit tersentil saat mengucapkan hal itu.
"Benarkah? Apa menurutmu seperti itu?" Ya Tuhan, mata itu seakan ingin membunuhku!
"Ten-tentu saja! Apa lagi? Ha-ha-ha." Sial! Kenapa aku malah terdengar seperti Lee! Dimana pridemu Ino?
Aku harus kembali kekamar berada disini terus tak baik untuk jantung dan otakku. Memang benar Sakura penyebab ketidakstabilan kesehatanku.
"Aku harus per-.."
"Jangan. Tetaplah disini." Jantungku seperti ingin melompat keluar, Sakura menggenggam erat tanganku.
"Tetaplah seperti ini..." Nafasku tercekat. Mataku tak bisa lepas dari manik emerald Sakura. A-apa yang akan dia la-lakukan haah! Ke-kenapa te-terus mendekatkan wajahnya! Oh Shit.
"Sekali ini saja. Aku menginginkanmu." ucap Sakura lirih. Saat itu pula mataku mulai terpejam. Merasa pasrah dengan apa yang akan terjadi.
Benda kenyal yang aku tahu itu apa tidak hanya menempel dibibirku, ada gerakan-gerakan menggoda disetiap kecupannya. Membuatku tak bisa mengatur nafas dengan benar. Kubuka mulutku tidak lebar, memaksa udara luar masuk untuk supplai nafasku. Bukan udara yang kudapatkan malah ujung lidah Sakura yang bermain-main ke bibir dalamku. Kepalaku semakin pusing, menikmati segala perlakukan erotis Sakura kali ini. Kuuretkan pegangan tanganku yang ada dibahu kiri Sakura, malah membuat tubuhku menempel ketubuhnya.
Aku buat gerakan! Memasukan lidahku kedalam mulut Sakura. Membuarkan lidah kami bermain dan saling membelit disana. Saliva kami bercampuran. Basah. Aku menyukainya!
"Uuuuhhh" lenguhanku tak dapat kubendung saat Sakura menghisap lidahku. Oh God! Dari mana dia belajar seperti itu?
Entah sejak kapan, kain atasan piyamaku sudah terbuka. Menampilkan tubuh bagian atasku yang hanya tertutup bra merah ini. Tangan Sakura memijit pelan perutku, bermain-main diarea pusar. Aku menggelinjang ketika dia melakukannya. Jari lentik Sakura menyelusuri punggungku, membuka pengait bra yang ada disana dengan sekali sentakan. Damn! Pintar sekali dia!
Sakura mendorongku kebelakang, menindih tubuhku yang sudah lagi tak tertutup piyama. Sakura menurunkan ciumannya keleherku, menjilat dan menggigitnya pelan. Mataku semakin gelap kepalaku semakin pusing, apalagi ketika tangan dingin Sakura menangkup dadaku, memijat dan memilin ujung dengan gerak menggoda.
"Oohhhh, Sa-sakura."
Walaupun samar-samar kulihat wajah Sakura tersenyum karena mendengar lenguhanku barusan. Ahh Brengsek! Benar-benar memalukan! Sakura kembali mencium bibirku dengan lembut dan intens.
Aku ingin lebih! Kubuka jaket Sakura tanpa melepaskannya, hanya agar tubuhku dan tubuhnya menempel. Dan yang membuatku senang adalah, oh man Sakura tidak memakai branya. Apa dia merencanakan hal ini sebelumnya? Dasar gadis mesum!
Kuremas pelan dada milik Sakura, memberikan kenikmatan yang tadi sempat diberikannya kepadaku.
"I-inooo" Sakura mendesah. Hell Yeah!
Tak kubiarkan Sakura melepaskan ciumannya. Kucium kembali bibir Sakura dengan kecupan-kecupan terbaikku. Jari-jariku memilin nipple Sakura yang sudah mulai mengeras. Sakura semakin merapatkan tubuhnya ke tubuhku, apalagi gerakan-gerakan tubuh bagian bawahnya.
KRIIIIIIINGKRIIIIIIING
Kulepas ciuman bibirku, Sakura langsung bangun dan menjauh dari tubuhku yang sudah topless. Kulihat dari matanya menunjukan kekagetan yang luar biasa. Jantungku hampir melompat keluar saat mendengar dering telepon milik Tenten diatas meja. Brengseeekk!
Oh man! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Melanjutkan kegiatan tadi? Memulainya kembali? Atau apa? Aku benar-benar seperti orang bodoh sekarang. Kill me now! Please.
Sakura yang sekarang sedang duduk melihatku dengan nafas beratnya. Matanya tak berkedip saat melihatku, bukan sepertinya melihat kearah da-da-ku? Oh Fuck! Fuck!
Aku segera menyambar bra dan piyama atasku yang berserakan dilantai, menutupi tubuh bagian atasku yang sudah telanjang. Dan berlari secepat kilat menuju kamarku. Menetralisir detak jantung yang kian menggila
INO POV END
Sakura menutup kembali jaketnya yang tadi dibuka Ino. Matanya tidak fokus kembali kepertandingan yang disiarkan televisi di depannya. Diambilnya ponsel Tenten yang tadi sempat berdering dengan amat kerasnya, menggangu kegiatannya dengan Ino disofa maroon ini.
"Alarm? Brengsek." ucapnya lirih dengan senyum tipis dibibirnya yang sudah berubah bengkak.
"Mungkin lain kali."
"Mungkin lain kali."
Ucap Ino dan Sakura yang bersamaan, tanpa saling mengetahui satu sama lain. Dengan senyum diwajah mereka masing-masing. Mereka sama-sama menantikan kesempatan yang lainnya.
Sepertinya takdir mulai menyatukan mereka. Semoga saja.
TBC
