Perjalanan Yongguk dan Daehyun terus berlanjut. Percakapan di antara mereka berdua sudah hilang tak lama setelah mereka keluar dari area pom bensin tadi. Keduanya merasa tak nyaman dengan suasana yang ada di mobil itu namun keduanya juga sudah terbiasa dengan ketidak nyamanan itu. Berusaha tidak memperhatikan lelaki di sebelahnya, Daehyun hanya memusatkan perhatiannya ke luar jendela. Dengan bosan dia melihat kaca sepion mobil hanya untuk melihat satu mobil yang sama dengan yang dilihatnya tadi.

"Hyung, tidakkah menurutmu mobil itu sudah mengikuti kita cukup lama?" kata Daehyun mengungkapkan ketidak wajaran yang dirasakannya.

Mendengar itu Yongguk langsung melihat kaca sepion tengah mobilnya. Dia mendapati dirinya tak asing dengan mobil itu. "Itu mobil lelaki yang mau menawar mobilku tadi." Kata Yongguk. Senyumnya mengembang, dengan cepat dia mengurangi kopling mobilnya sebelum akhirnya memperlambat laju mobil tersebut. "Mungkin dia ingin bernegosiasi lagi." Lanjut Yongguk.

"Kalau dia memang benar ingin bernegosiasi, kenapa dia memerlukan sebuah pistol sepanjang itu?" kata Daehyun yang mulai ketakutan di kursinya. Dari tadi dia memang tidak mengalihkan pandangannya dari mobil itu, lebih lagi karena sekarang pengendara mobil di belakangnya itu mengeluarkan sebuah pistol lengkap dengan pengedap suaranya.

"Apa?" kata Yongguk. Dengan gerakan cepat dia menoleh ke belakang dan sebuah peluruh sudah mulai menyerang kaca belakang mobilnya. Dan meskipun ini bukan saatnya untuk berbangga diri, Yongguk tak bisa menahan rasa bangganya pada mobil tua itu. Berkat desain tuanya yang selalu memakai bahan serba tebal, peluru tadi hanya membuat kaca belakang mobilnya retak dan tak bisa memecahkan kaca itu. Namun sadar kalau lelaki itu tak mungkin hanya membawa satu peluruh saja, Yongguk mulai mempercepat laju mobilnya.

"Kau tidak mencuri apa-apa kan dari lelaki itu?" Tanya Daehyun yang sudah bersembunyi di balik kursinya dan tak lagi berani menoleh ke belakang. Yongguk hanya melihat Daehyun dengan tajam karena menanyakan hal yang tidak membantu sama sekali. Dan disaat Yongguk sudah mengembalikan perhatiannya ke jalan, sebuah peluruh sudah bisa menembus kaca belakang mobilnya. Dengan itu, sambil mengumpat dia mulai menambah lagi kecepatan mobilnya, memaksakan mesin tua kesayangannya itu bekerja lebih keras lagi.

Beberapa ratus meter Yongguk mengemudi ditemani dengan tembakan-tembakan yang merusak bagian belakang mobilnya. Lalu entah mengapa, tembakan itu berhenti. Awalnya Yongguk mengira itu hanya jeda isi ulang peluruh, namun nyatanya tembakan itu terhenti karena mereka sudah memasuki jalanan yang cukup ramai. Memanfaatkan hal itu, Yongguk mulai melesatkan mobilnya ke jalanan yang lebih ramai lagi.

"Tundukkan terus kepalamu sampai kita keluar dari mobil." Perintah Yongguk sambil menunduk paksakan kepala Daehyun yang ingin melihat apakah semuanya sudah berakhir. Dan meskipun rasa penasaran Daehyun sangat besar, dia hanya menurut. Lalu Yongguk mulai merogoh kantong celananya, mengambil sebuah kunci kecil. "Buka borgolmu dan lepas sabuk pengamanmu." Lanjut Yongguk sambil melemparkan kunci kecil itu ke arah Daehyun. Yakin sepenuhnya kepada Yongguk, Daehyun hanya melaksanakan setiap perintah Yongguk dengan cepat dan sedikit bergemetar.

Melihat Daehyun sudah menyelesaikan semua perintahnya, Yongguk membelokkan mobilnya ke sebuah jalan yang menuju pusat kota, menuju keramaian. Dan selang beberapa mobil di belakangnya, mobil yang tadi masih mengikuti mereka. Dan seperti yang sudah diperkirakan Yongguk, setelah berjalan di jalan itu cukup lama mereka berdua akhirnya terjebak macet. Ribuan mobil mendesaki jalan itu dan di trotoarnya pun tak kalah banyak pejalan kaki yang berdesak-desakan.

"Sebentar lagi, kita akan keluar dari mobil dan kau harus bisa mengimbangi lariku." Kata Yongguk memberi instruksi kepada Daehyun. Dengan gugup Daehyun hanya menganggukkan kepalanya kaku. "Baiklah." Yongguk menghirup nafas dalam-dalam. "Sekarang." katanya sambil membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobil itu dengan cepat. Butuh waktu beberapa detik untuk Daehyun bisa benar-benar bereaksi pada perkataan Yongguk tadi. Dan dengan sedikit ketinggalan, Daehyun pun mulai keluar dari mobil itu dan dengan cepat mengikuti Yongguk. Mereka berdua memasuki kerumunan jutaan manusia itu dengan susah payah, dan kemudian sambil sedikit terlalu tergesah-gesah berjalan melewati orang-orang yang digunakan mereka sebagai pelindung hidup dari lelaki yang juga sudah berada didalam kerumunan itu.

Dengan cermat Yongguk memikirkan jalan keluar untuk mereka. Beberapa tetes keringat jatuh dari pelipisnya. Rasa frustasi mulai menyelubunginya dan sedetik kemudian dia melihat lampu penyebrangan berkedip-kedip menghitung mundur. Dengan segala perhitungannya, dia pun mendapatkan sebuah cara yang sedikit mustahil dilakukannya di tengah-tengah keramaian ini. Dia harus sampai di tempat penyebrangan itu secepat mungkin. Namun dia sadar kalau dia harus menjadi super cepat untuk bisa sampai di tempat penyebrangan itu tepat waktu. Dan karena tak mempunyai banyak pilihan, Yongguk mulai menggandeng tangan Daehyun dan menyeretnya paksa ke tempat penyebrangan itu. Berharap setelah menyebrangi jalan itu mereka bisa terbebas dari siapapun yang mengejar mereka karena setelah lampu penyebrangan yang menghitung mundur itu mencapai angka 'nol', akan memakan waktu selamanya untuk bisa menyebrang lagi. Dan dengan segala keberuntungan mereka, mereka berdua bisa menyebrang di detik-detik terakhir.

Yongguk dan Daehyun berhenti saat mereka sampai di sebrang namun sialnya lelaki itu masih mengejar dan lampu penyebrangan belum mencapai angka terakhirnya. Sambil mengumpat lagi, Yongguk menarik tangan Daehyun, menyuruh Daehyun untuk berlari lagi sebelum akhirnya suara mobil mengerem mendadak dan teriakan beberapa orang menghentikan gerakan mereka berdua. Bersamaan mereka berdua menoleh ke belakang hanya untuk mendapati lelaki yang mengejar mereka tadi telah tersungkur penuh darah di tanah didampingi seorang lelaki yang terlihat seperti kariyawan kantoran yang baru pulang kerja dalam kebingungannya.

"Aku tidak tahu apa-apa! Dia tiba-tiba saja berlari dari sana disaat lampu lalu lintas sudah hijau." Kata lelaki kantoran itu membela dirinya. "Aku akan menelepon ambulan." Lanjutnya sambil mulai mengeluarkan ponselnya. "Apa dia mati? Ya Tuhan, istriku akan membunuhku." Katanya tanpa henti lebih kepada dirinya sendiri setelah ponsel sudah berada di telinganya.

"Ada yang sedang mengawasi kita." Kata Yongguk tiba-tiba. Mengganggu Daehyun yang sudah mendapatkan kembali ketenangannya setelah kematian lelaki itu.

"Apa?" kata Daehyun tidak mengerti maksud perkataan Yongguk yang terdengar seperti pertanda buruk di telinganya. Namun tanpa menjawab pertanyaan Daehyun, Yongguk mulai mendorong-dorong Daehyun kembali agar dia tetap berjalan memasuki kerumunan. "Hyung?" Daehyun masih menuntut jawaban Yongguk, dia ingin sebuah penjelasan agar dia bisa sedikit lebih berguna.

"Lelaki berkemeja itu memiliki simbol yang sama dengan lelaki yang mengejar kita di plat nomor mobilnya." Kata Yongguk. "Yang artinya, kecelakaan itu sudah diatur oleh orang yang sama, atasan mereka. Oleh karena itu kita harus cepat-cepat mencari tempat yang aman." Lanjutnya.

"Kalau lelaki berkemeja itu ada di pihak yang sama dengan lelaki yang mengejar kita tadi, lalu mengapa dia harus membunuhnya?" Tanya Daehyun masih tak mengerti.

"Entahlah. Karena dia memakan waktu terlalu lama untuk membunuhmu mungkin?" jawab Yongguk asal tanpa mengurangi kewaspadaannya. "Jangan melihatiku seperti itu. Aku juga tidak tahu jawabannya namun biasanya memang begitulah cara kerja mereka di film-film." Kata Yongguk setelah dia mendapatkan pandangan tak percaya dari Daehyun.

"Mengapa ada orang yang ingin membunuhku?" Tanya Daehyun lagi.

"Demi Tuhan Daehyun. Aku juga tak tahu mengapa! Jadi untuk saat ini, turutilah kata-kataku dan berjalanlah terus mengingat saat ini aku sedang berusaha semampuku untuk menyelamatkan kita berdua, mengerti?!" Daehyun terdiam. "Maaf." Kata Yongguk merasa dia telah berlebihan dengan ucapannya barusan.

"Tidak. Tak apa, aku akan berjalan terlebih dahulu untuk membeli minuman." Jawab Daehyun sambil mulai berjalan mendahului Yongguk.

Yongguk berdecak kesal. Dia kesal dengan segalanya. Dengan Daehyun yang masih kekanak-kanakan dan tak mau menyesuaikan dirinya dengan keadaan yang ada sekarang ini. Dengan dirinya sendiri yang tak bisa melakukan segalanya dengan benar. Dan dengan keadaan yang tak pernah memberinya kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Daehyun meskipun sekarang mereka telah bertemu kembali setelah sekian lama.

Yongguk berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran tak bergunanya agar dia bisa memfokuskan diri dengan masalahnya sekarang. Mungkin setelah semua ini berakhir dia bisa melakukan segala yang ingin dilakukannya. Tapi tidak sekarang, karena sekarang dia perlu menyamarkan keberadaannya dan Daehyun untuk berjaga-jaga kalau saja memang benar ada yang sedang mengawasi mereka berdua. Mungkin dia memang terdengar sedikit berlebihan, namun dia hanya berusaha menghindari kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.

Yongguk merogoh kantongnya dan saat itulah dia sadar bahwa dia telah meninggalkan dompetnya di dalam mobil. Padahal dia sangat membutuhkan uang untuk setidaknya membeli pakaian baru atau topi dan kaca mata yang bisa menyamarkannya dan Daehyun. Dan karena dia tak punya cukup waktu untuk kembali ke mobilnya –yang mungkin sekarang sudah di derek paksa ke tempat penyitaan mobil oleh polisi– maka Yongguk pun memutuskan untuk mencuri beberapa barang berguna dari toko di dekatnya selagi semua orang masih meributkan kecelakaan barusan. Dengan gerakan cepat dia mengambil dua buah topi berwarna gelap.

"Permisi, tapi kau harus membayar dua topi itu sebelum pergi." Kata sebuah suara yang menggagalkan aksi Yongguk. Yongguk telah tertangkap basah dan melarikan diri di tengah-tengah kerumunan manusia ini hanya akan berakhir percuma. Jadi yang bisa dilakukannya hanya membalikkan tubuhnya ke arah asal datangnya suara tersebut. "Yongguk?" kata pemilik suara tersebut sedikit tak percaya setelah mata mereka berdua bertemu.

"Sooyoung?" kata Yongguk kemudian.

"Kenapa kau mencuri?" Tanya perempuan itu. Dia menyibakkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga, kebiasaan yang paling disukai Yongguk. "Tidak, kemana kau selama ini?" lanjut Sooyoung, berbagai pertanyaan mendadak muncul di kepalanya. "Kenapa kau tak pernah menghubungiku?" tak satu pun pertanyaan Sooyoung bisa dijawab oleh Yongguk. Dia hanya bisa melihat perempuan di hadapannya itu dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Sooyoung hanya diam, dia sudah terbiasa dengan tingkah Yongguk, bagaimana tidak mereka pernah menjadi pasangan dahulu meskipun itu tak berlangsung lama. Tak ada yang menjawab dan tak ada yang menuntut sebuah jawaban, hanya ada suara ribut kerumunan dan sirine ambulan yang datang terlambat.

"Hyung? Kenapa kau berhenti di-" Daehyun tak bisa melanjutkan kalimatnya karena ada satu rasa janggal yang tiba-tiba muncul di hatinya. Perasaan tak suka yang muncul karena apa yang baru saja dilihatnya. Sooyoung bersama Yongguk. Dia suka Sooyoung, namun entah mengapa dia benci melihat tangan perempuan itu berada di atas tangan Yongguk seakan-akan memang disitulah tempatnya berada.

"Daehyun." Sooyoung terlihat lebih kaget lagi sekarang. "Kau disini bersama Daehyun?" Tanya Sooyoung pada Yongguk. Yongguk hanya mengangguk. "Kalian berdua sudah berpergian bersama lagi sekarang?"

"Itu hanya karena kasusku." Jelas Daehyun. "Tak lebih." Dan kejanggalan di hatinya semakin membesar. Daehyun tak menyadari tatapan Yongguk padanya saat itu karena Daehyun terlalu sibuk mengalihkan pandangannya.

"Kita harus pergi sekarang." sela Yongguk sebelum Sooyoung bisa menanyakan hal-hal lainnya. "Aku akan membiarkan Daehyun mengangkat teleponnya nanti, jadi kau bisa meneleponnya kapan saja untuk mendengarkan penjelasan yang kau inginkan. Dan tolong bayar dulu dua topi ini, aku akan membayarnya setelah kita bertemu lagi." Lanjutnya setelah menyadari tatapan sinis Sooyoung padanya. "Ayo Daehyun, kita harus pergi sekarang." kata Yongguk sambil mulai mendorong-dorong Daehyun lagi. Mereka berdua memasuki kerumunan orang itu, meninggalkan Sooyoung sendiri dengan kebingunganya.

"Aku membelikanmu minuman." Kata Daehyun sambil menyodorkan gelas plastic ke depan Yongguk setelah mereka sudah membaur diantara kerumunan manusia itu. "Kuharap kau masih menyukai minuman yang sama." Lanjutnya sambil memalingkan wajahnya.

Yongguk melihat gelas itu dan dia harus berjuang setengah mati untuk mencegah sebuah senyuman bodoh muncul di wajahnya. "Terimakasih." Katanya akhirnya sambil mengambil gelas itu dari tangan Daehyun dan memberikan sebuah topi kepada lelaki yang lebih muda darinya itu.