-11th Day-
PAGI-PAGI sekali Sehun sudah menangis memanggil-manggil ibunya dan itu membuat Minseok dan itu membuat Minseok kewalahan. Akhirnya lagi-lagi Minseok mengeluarkan cara licik, ia membujuk Sehun untuk sarapan dengan menu kue tart plus es krim Vanilla. Mata Sehun berbinar-binar mendengar es Krim di sebut-sebut. Bocah itu berhenti menangis dan mengikut Minseok keruang makan dengan suka rela. Sehun duduk menanti Minseok selesai menyiapkan sarapan untuknya dan bocah itu hanya memandangi Minseok yang kewalahan di bantu oleh Halmeoni. Minseok
bukan orang yang biasa di dapur, kelihatan sekali kalau dirinya kurang cekatan dan menyajikan sarapan Sehun dengan tampilan yang berantakan. Tapi kelihatannya bagi Sehun penampilannya tidak masalah, yang penting eskrim dan tart.
Minseok tau meja makan terlalu tinggi untuk Sehun, jadi dengan tenaga penuh Minseok berusaha menaikkan Sehun kepangkuannya agar bocah itu bisa menyendok makanannya sendiri. Minseok senang melihat Sehun menyendok kue tart dan memakakannya dengan hati-hati. Sehun mengunyah dengan sangat pelan dan teratur, berbeda sekali dengan saat bocah itu makan pizza semalam.
"Sayang, bisa bantu aku?" Luhan berteriak dari pintu kamarnya.
Hari ini Minseok lupa menyiapkan pakaiannya seperti biasa, begitu bangun tidur dirinya benar-benar konsentrasi untuk menghentikan tangisan Sehun dengan berbagai cara. Minseok memandang Halmeoni yang juga menatapnya. Ia menghela nafas berat karena ternyata kesibukannya belum berhenti sampai di situ.
"Kau pergilah bantu suamimu, biar Sehun disini bersamaku!" Minseok merasa lega, tapi hanya sebentar karena ternyata Sehun tidak mau di tinggal. Pada akhirnya Minseok terpaksa memutuskan untuk membawa piring berisi kue tart dan es krim serta susu Sehun ke kamarnya. Mungkin dirinya akan membiarkan Sehun makan di atas sofa Da Vincinya. Bayangan tentang sofa Da vinci putih yang belepotan dengan eskrim dan tart melintas, Minseok menggeleng tidak terima.
"Baiklah. Sehun ikut bibi kekamar, kita sarapan disana. Tapi janji ya, makannya jangan belepotan di sofa!"
Sehun mengangguk senang. Dengan gerakan cepat Minseok menyusun semua sarapan Sehun di atas nampan kayu dan membawanya kedalam kamar, Sehun mengikuti Minseok sambil bergelayutan di ujung blouse biru tua yang Minseok kenakan.
Setelah meletakkan Sehun beserta sarapannya di atas sofa Da Vinci yang di alasi kain hitam, Minseok bergegas ke lemari dan memilihkan kemeja yang akan Luhan pakai ke kantor. Luhan keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkapnya lalu melotot melihat Sehun ada di kamarnya.
Minseok juga mendengus. Jika Luhan sudah memilih pakaiannya sendiri untuk apa memanggil Minseok segala? Minseok hanya memberi tatapan kesal kepada Luhan dan mengembalikan kemeja pilihannya kelemari.
"Kenapa kau bawa dia kemari? Kau tidak mengerti dengan yang namanya isyarat? Aku ingin bermesraan sebelum berangkat ke kantor." Bisik Luhan.
"Dia tidak mau di tinggal. Mau bagaimana lagi." Minseok mengambil dasi berwarna dasar Abu-abu dan membantu Luhan memakainya.
Rutinitasnya setiap pagi, ia benar-benar sudah menghayati perannya dengana baik untuk yang satu ini. Minseok juga kesal, tapi ia tidak bisa marah kepada Sehun. Sehun tidak mengerti dengan hasrat Minseok maupun Luhan, yang anak itu tau adalah bagaimana caranya ia bisa bermanja. Luhan merampas sebuah ciuman di bibir Minseok dan Minseok segera melepaskan diri lalu memandangi Sehun. Ia bersyukur Sehun sedang sibuk dengan tartnya dan kelihatannya tidak melihat kejadian tadi. Minseok memukul dada Luhan geram. "Bagaimana kalau Sehun melihatnya?"
"Aku harap setelah ini kita punya banyak waktu untuk itu. Ini kamarku dan aku tidak bisa bebas disini!" Desis Luhan kesal.
"Kau sendiri yang menawarkan diri untuk mengurusi Sehun, jadi sekarang tanggunglah akibatnya!"
"Aku tidak suka anak kecil." Bisiknya dan memberikan sebuah ciuman lagi di pipi. Kali ini Sehun melihat dan anak itu terperangah.
"Sampai jumpa, aku berangkat dulu!"
Minseok menggelengkan kepalanya saat melihat Luhan yang terburu-buru. Laki-laki itu sempat juga medekati Sehun dan memberikan ciuman yang sama. Meskipun Luhan mengatakan kalau dirinya tidak suka anak-anak, tapi setidaknya Luhan tidak menyakiti Sehun dan masih menunjukkan kasih sayangnya sebagai seorang paman. Sehun kembali menyantap tartnya dengan lahap.
Sehun tidak mungkin di ajak untuk latihan yoga, maka untuk hari ini Minseok akan latihan yoga di rumah dan saat makan siang nanti barulah Minseok mengajak Sehun makan siang di luar. Maka untuk sementara Minseok menunggui Sehun selesai makan sambil membongkar tasnya. Di sana ada beberapa potong pakaian Sehun dan sekaleng susu. Lalu sebuah boneka Larva yang terbuat dari karet. Minseok memandangi pakaian Sehun dan tertegun. Semuanya berwarna kuning. Seharusnya Sehun bermain robot-robotan bukan boneka. Tapi Sehun cukup nakal dan sepertinya baik boneka ataupun robot-robotan tidak akan merusak sisi kelaki-lakiannya. Lagipula Larva bukan hanya untuk anak perempuan.
Setelah selesai makan Sehun sibuk memanggil-manggil ibunya lagi. Anak itu kembali teringat kalau dirinya sedang di tinggalkan kedua orang tuanya untuk bersenang-senang. Minseok mulai kembali kewalahan, padahal ia baru saja berniat memandikan Sehun.
"Mau, Mami…" rengeknya.
Minseok mendesah lalu duduk di dekat Sehun sambil membelai kepalanya. "Iya, bibi tau. Tapi hari ini sama besok Sehun sama bibi, ya? Untuk sementara ini bibi jadi Mami Sehun dulu."
"Nggak mau…mau Mami!"
"Iya, tapi Maminya Sehun sedang ada urusan. Sekarang Sehun sama bibi ya? Kita mandi dulu, terus pergi jalan-jalan sambil makan French fries. Mau kan?"
Sehun memandangi Minseok dengan tatapan penuh harap. "French Fries?"
"Iya. Kalau Sehun mau, Sehun boleh makan French Fries sesukanya. Boleh minum soda juga, nanti malam mau makan apa?"
"Pizza lagi boleh?"
Yes! Berhasil. Minseok berbisik senang. Sehun mulai terpancing. "Kalau ayam goreng, mau?"
"Tapi Sehun mau Pizza!"
Minseok berdelik. Pizza lagi? Tapi dirinya tidak boleh kehilangan kepercayaan Sehun sekarang. "pizzanya untuk makan siang nanti. Mau kan?"
Sehun tampak berfikir sebentar lalu mengangguk. Ia membuka pakaiannya sendiri dan berkata manja. "Mami, ayo mandi!"
.
.
"Mami?" Yixing tertawa sepuasnya mendengar cerita Minseok. Sejak pagi tadi Sehun terus memanggilnya dengan sebutan Mami.
Sehun benar-benar setuju untuk menjadikan Minseok pengganti Maminya yang sedang pergi bersenang-senang. Minseok memandangi Sehun sekali lagi, bocah itu sedang asyik makan Pizza dan duduk di sebelahnya.
Sebotol susu balita ada di pangkuannya, empat tahun dan suka Pizza. Minseok nyaris saja tertawa tapi dia sedang berusaha menahannya. Yixing sengaja bolos untuk makan siang dan mengajak Minseok ke café ini. Dia ingin menunjukkan seseorang yang katanya sedang di sukainya. Minseok terkejut saat tau kalau yang Yixing sukai adalah pemilik café yang baru buka ini dan orang itu tidak lain adalah Jongin. Tapi Jongin tidak tau dengan perasaan Yixing tentunya, Yixing juga tidak pernah serius dan Minseok sedang malas untuk jadi comblang. Dirinya juga heran mengapa sempat berfikir begitu. Jongin datang mengantarkan pesanan Minseok dan Yixing dengan tangannya sendiri dan sekarang laki-laki itu sedang duduk bersama mereka. Dia ikut mengobrol dengan semangat dan itu membuat Minseok merasa tenang, setidaknya Jongin dan Minseok tidak bermusuhan dan bisa berteman seperti sekarang. Ya, berteman seperti yang dikatakannya kepada Yixing saat gadis itu bertanya apakah Minseok dan Jongin saling kenal.
"Jadi ini keponakan suamimu yang kau bilang kemarin?" Jongin sedang berusaha mendekati Sehun tapi Sehun tidak perduli. Dia lebih perduli kepada Pizzanya.
"Iya, Dia di titipkan di rumah sampai weekend ini, orang tuanya sedang bulan madu yang kedua dan mungkin sedang bersenang-senang disuatu tempat."
Yixing berdesis. "Orang tua seperti apa mereka? Bagaimana mungkin bisa bersenang-senang dan meninggalkan anaknya pada orang lain!"
Untuk kata-katanya yang terakhir Yixing mengatakannya dengan nada melengking karena ponselnya berbunyi. Ia terkesiap dan membaca pesan di ponselnya dengan cepat. "Astaga, Manager Lu sepertinya punya kontak batin dengan saudaranya, ia punya firasat karena aku bergosip tentang orang tua Sehun."
"Ada apa?" Tanya Minseok.
"Dia memerintahkanku untuk segera kembali ke kantor. Aku pergi dulu ya? Sampai jumpa! Sampai jumpa Jongin!" Yixing kembali menyimpan ponselnya di dalam tas dan pergi sambil melambaikan tangan.
Sekarang Minseok kembali risih karena di tinggal berdua dengan Jongin. Ia mulai merasa kikuk dan berusaha pura-pura memperhatikan Sehun sambil membujukknya untuk berhenti makan dan minum susu.
Minseok mendengar deheman Jongin dan ia kembali menoleh kepada laki-laki itu. Harus berkata apa? Minseok benar-benar di landa kebingungan sekarang.
"Kau tinggal sini?" Akhirnya Minseok menemukan sesuatu yang ingin di katakan. Ia teringat tentang dirinya yang mencari Jongin waktu itu dan tidak menemukan Jongin dimana-mana.
"Ya, tentu saja. Kau tidak ingat kalau dulu kita berencana membeli cafe ini setelah menikah? Di atas ada kamar, karena itu kita ingin membeli café ini."
"Maksudku bukan itu." Minseok mengelak." Maksudku, kenapa kau menjual café yang lama dan pindah kemari? Bukannya itu adalah rencana kita berdua? Ku fikir setelah aku menikah dengan orang lain kau bahkan tidak akan mau lewat di tempat ini."
"Aku Bosan dengan tempat yang kemarin!" Jongin menjawab diplomatis. Tapi sesaat kemudian dia tertawa. "Café yang ini lebih luas di bandingkan yang kemarin. Makanya aku pindah kesini, karena pelangganku makin banyak dan menyarankanku untuk pindah ke tempat yang lebih luas. Aku sempat berfikir untuk membuka cabang tapi sepertinya aku belum sanggup mengurusi lebih dari satu café!"
Minseok mengangguk-angguk. "Kau kenal Yixing dimana?"
"Dia pernah kesini bersama temannya dan kami berkenalan. Lalu dia menjadi pelanggan tetapku!"
"Sepertinya dia menyukaimu!"
Jongin tertawa lagi. "Benarkah? Aku belum memikirkan itu lagi sekarang. Cafeku sangat laris dan aku sangat sibuk. Kalau begitu ku tinggal dulu, ya?"
Minseok mengangguk, hanya itu dan Jongin benar-benar pergi meninggalkannya bersama Sehun. Minseok sempat berdiam diri lama disana sampai akhirnya Sehun mulai mengantuk dan ia memutuskan untuk pulang.
.
.
-12th Day-
RASA lelah karena terteror oleh pekerjaan hari ini benar-benar membuat Luhan tertekan. Ia harus lembur dan melewatkan makan malam. Tapi untungnya semua karyawan siap membantunya sehingga pekerjaan selesai sebelum jam Sembilan malam. Luhan mengusap wajahnya dan membuka pintu kamar. Ia ingin segera mandi dan tidur.
Tapi sepertinya ia harus mengurungkan niatnya untuk tidur karena Minseok. Luhan menggigit bibirnya sejenak saat melihat Minseok duduk di atas ranjang hanya dengan berbalut handuk. Ia sedang menggosok-gosok lengannya dengan sesuatu dan Sehun meniru semua gerakannya.
Minseok memandang Luhan dan tersenyum. "Kau sudah pulang?"
Luhan membalas senyumanya. Minseok selalu mandi sebelum tidur, dan itu selalu menjadi hal yang membangkitkan gairahnya untuk sekedar berciuman dan menyentuhnya. Tapi melihat Sehun yang berada di sebelah Minseok membuat Luhan segera menyimpan gairahnya. "Aku lembur hari ini."
"Ya, aku tau. Kalau pulang terlambat pasti lembur. Mau mandi?"
Luhan mengangguk.
Minseok beranjak meninggalkan Sehun sebentar untuk masuk ke kamar mandi. Ia sedang menyiapkan air panas untuk Luhan. Selang beberapa saat Minseok kembali duduk di atas tempat tidur dan kembali membaluri tubuhnya dengan Shea Butter cream dan mengatakan bahwa kamar mandi sudah siap di pakai. Luhan tidak banyak berkata-kata. Ia segera masuk kekamar mandi dan membuka pakaiannya. Ia membasahi seluruh tubuhnya dengan air hangat dengan cepat. Luhan sangat lelah dan ingin segera memejamkan mata. Ia mandi dengan cepat dan segera keluar setelah memakai piamanya. Tapi Minseok masih seperti tadi, kali ini ia mengusap betisnya dengan lembut.
"Sehun belum tidur?" tanya Luhan begitu ia sudah berada di atas ranjang yang sama.
"Dia siang tadi sudah tidur, jadi sekarang aku kesulitan untuk membuatnya mengantuk. Bisa bantu aku?"
Luhan menaikkan sebelah alisnya."Apa yang bisa ku bantu?"
"Bantu aku menggosokkan krim ini di punggungku." Jawab Minseok sambil menyodorkan mangkuk kaca yang menjadi wadah krim yang rutin di kenakannya. "Biasanya aku minta bantuan Halmeoni. Tapi dia sudah tidur karena sedang tidak enak badan."
Luhan mengangguk. Ia mengambil alih Shea Butter Krim yang Minseok sodorkan dan bergerak menghadap punggung Minseok. Minseok akan mengendurkan handuknya?
"Tidurkan Sehun dulu. Aku akan melakukannya setelah Sehun tidur."
Minseok menoleh kebelakang berusaha menatap wajah Luhan. "Kalau begitu tidak akan kering sebelum waktu tidur!"
"Aku juga tidak bisa membiarkan Sehun melihatku menyentuhmu. Ayahnya bisa di pastikan tidak pernah menggosok punggung ibunya yang hanya memakai handuk di depan Sehun." Luhan kembali meletakkan Shea Butter cream di tangan Minseok dan berbaring.
Minseok termenung sesaat begitu melihat Luhan memejamkan mata. Luhan akan segera tidur dan dia tidak akan menepati janjinya. Minseok memandangi jam di dinding dan sadar kalau sekarang memang sudah waktunya untuk Sehun tidur. Sehun agak susah di bujuk, tapi dengan sabar Minseok terus berusaha membujukknya agar Sehun mau berbaring dan tidur.
Bocah itu akhirnya terlelap sambil memeluk botol susunya. Empat tahun dan masih minum susu dari botol? Seharusnya Sehun sudah belajar untuk minum susu dengan gelas.
Minseok berbaring tapi dirinya masih belum ingin tidur. Tadi siang Minseok juga tertidur saat menemani Sehun tidur sehingga sekarang ia mengalami kesulitan bahkan untuk memejamkan mata. Minseok berbalik sebentar memandangi wajah Luhan yang sudah tenang di iringi desah nafas yang teratur. Dia sudah tidur. Sehun menggeliat dan memeluk Minseok lagi dan mengigau dengan sebutan Mami. Anak itu masih merindukan ibunya.
"Sehun sudah tidur?" Suara Luhan berbisik.
Minseok kembali menoleh kepada Luhan yang berbaring di belakangnya. Matanya sudah memerah menandakan kalau dia sangat lelah. "Tidur saja. Aku tidak masalah jika tidak memakainya malam ini."
"Aku ini orang yang menepati janji." Jawab Luhan, dia bangkit dari tempat tidur dan mengambil Shea Butter cream yang berada di kaki ranjang. "Kita kekamar lain saja!"
"Disini saja. Sehun sudah tidur. Bagaimana kalau dia terbangun dan menangis?"
"Lebih baik dia berteriak dan menangis karena terbangun dan tidak melihat siapa-siapa daripada terbangun dan melihatku sedang meraba bibinya yang setengah telanjang." Luhan memandangi Minseok yang masih belum mengenakan pakaiannya. Minseok masih menggenakan handuk lebarnya itu. "Ayo, cepatlah. Aku ingin segera tidur."
Kening Minseok menjadi berlipat-lipat. Luhan ingin segera tidur tapi masih ngotot untuk membantu Minseok menggosok punggunya dengan Shea butter. Tapi Minseok tidak melawan. Ia mengikuti kemana Luhan pergi dan Luhan memilih untuk memasuki kamar tamu yang ada di sebelah kamar mereka.
Luhan sudah duduk di atas rajang dan menanti Minseok menunjukkan punggungnya. Entah mengapa Minseok merasa gugup saat melihat Luhan. Biasanya Luhan selalu menyerangnya secara tiba-tiba ketika mereka sudah dekat. Tapi suasana yang begitu perlahan kali ini memberikan kesan mendasar di hatinya. Minseok duduk membelakangi Luhan dan siap membuka handuknya. Ia menurunkan handuknya perlahan-lahan dan memamerkan punggungnya. Rambut panjangnya yang menutupi sebagian punggungnya segera di kumpulkan ke samping sehingga Luhan bisa melihat punggung istrinya secara keseluruhan.
Luhan sangat lelah, tapi dirinya sama sekali tidak mau melewatkan kesempatan ini. Hanya bermesraan saja, tidak akan lama dan setelah itu dirinya bisa segera beristirahat. Hanya sehari ia tidak menyentuh Minseok karena keberadaan Sehun dan Luhan sudah merasa sangat kelaparan. Bukankah tidur dalam keadaan kenyang lebih baik daripada tidur dalam keadaan lapar? Luhan mendehem memberi tanda dan dia tau kalau Minseok mengerti. Gadis itu membiarkan Luhan menghujani punggungnya dengan ciuman dan Minseok hanya bergindik beberapa kali. Luhan pada akhirnya tidak bisa berhenti.
"Kapan kau akan mengoleskan krimnya?" Minseok bertanya pelan.
Luhan menghentikan aksinya sementara. "Bukannya tadi kau bilang tidak masalah jika tidak memakainya sekali saja?"
"Kalau begini aku tidak akan meminta bantuanmu lagi."
Luhan tersenyum dan menepati janjinya. Ia mengoleskan She Butter cream ke punggung Minseok secara perlahan dan selesai dalam waktu singkat. Luhan mengembalikan krim itu ke tangan Minseok dan mengira kalau Minseok akan segera pergi. Minseok tidak beranjak.
"Lakukanlah sekarang!" Desahnya. Minseok membuka handuknya secara sempurna dan meninggalkannya di tempat duduknya semula.
Gadis itu berbaring dan siap menerima semua perlakuan Luhan kepadanya dengan wajah yang merona. "Kali ini bercintalah denganku, dalam arti yang sebenarnya."
"Ya?" Luhan terbelalak. Ia tidak berfikir untuk melakukan sesuatu yang lebih jauh daripada sekedar bermesraan seperti yang mereka lakukan selama ini dan kali ini Minseok memintanya melakukan…
"Kau jangan pura-pura bodoh!" Ujar Minseok lagi. "Ini tujuanmu, kan? Selalu menyentuhku setiap hari karena berharap aku yang meminta hal ini lebih dulu? Aku belum pernah merasakannya dan ingin tau bagaimana rasanya."
Terima kasih Tuhan. Luhan bergumam dalam hati meskipun dirinya tidak yakin apakah ada hubungannya Tuhan dengan hal ini. Ada, tentu saja ada. Tuhan punya andil besar untuk menjadikan Minseok miliknya selamanya. Luhan mendekatkan tubuhnya, mencium bibir Minseok dengan mesra seolah-olah mereka adalah jalinan yang terpilin erat dan tidak mungkin terlepas lagi. Tidak ingin terlerai dan terpisah.
"Kau merindukanku?" Bisik Luhan.
"Siapa bilang aku merindukanmu? Aku hanya terlibat dalam rencanamu yang memancing hasratku setiap hari." Minseok masih berusaha memungkiri perasaannya dengan ucapan yang terengah-engah. Ia tidak tau apakah dirinya merindukan ini, apakah dirinya merindukan Luhan. Yang di ketahuinya, selama ini Luhan selalu memberikan kenikmatan yang tidak bisa di lukiskan hanya dengan sentuhan dan cumbuan, Luhan membuat Minseok sakau dan ingin merasakan yang lebih dan lebih.
"Baiklah, kalau begitu cukup aku yang mengatakannya. Aku merindukanmu!"
Dan Luhan mencumbunya lagi, Minseok membalas cumbuan Luhan dengan segala upaya yang terbaik. Ia merasakan sesuatu saat itu. Cinta?
Minseok tidak yakin, tapi hatinya tetap merasa jika peleburan yang akan mereka lakukan akan membuat dirinya dan Luhan tidak terpisah, biarlah. Minseok tidak ingin berpisah dari Luhan karena selama ini ia merasakan ketenangan saat bersamanya. Minseok merasa menjadi ratu dan Luhan membuatnya tidak butuh sesuatu yang lain untuk jadi cantik. Luhan yang semula tau bahwa Minseok tidak mencintainya tetap memanjakannya sebisanya. Minseok menatap wajah Luhan yang memegangi wajahnya dengan kedua tangannya. Tatapan Luhan seolah-olah meminta Minseok untuk percaya kepadanya kali ini. Tapi tanpa di pintapun Minseok sudah menyerahkan diri seutuhnya.
Lekaslah, jadikan aku milikmu segera. Minseok mengerang di dalam hati. Jiwanya sudah terdesak dan hampir meledak.
"Minseok, Jangan sampai kita membangunkan Sehun karena ini!" Bisik Luhan.
"Ya, Aku tau. Aku akan menggigit lidahku agar tidak berteriak dan membangunkan Sehun di kamar sebelah."
Luhan hampir saja tertawa. Hanya sebentar lalu semuanya berubah menjadi lebih serius. Ia melindungi Minseok dari rasa sakit, menelan semua teriakannya dengan sebah ciuman dan Minseok benar-benar merasa lebur. Dirinya sudah menjadi milik Tuan Luhan, pria yang tidak begitu di cintainya. Dirinya berjanji untuk setia kepada Luhan selamanya apapun yang terjadi, tidak akan membiarkannya pergi, dan tidak akan membiarkannya lari. Pada akhirnya tubuh Minseok menjadi perjalanan yang panjang untuk Luhan. Menyatu, dan satu. Minseok memandang Luhan yang sudah menakhlukkan tubuhnya yang terkapar.
"Aku merindukanmu". Bisik Luhan di telinganya dengan suara bergetar seiring dengan gerakan lembutnya. Tapi itu belum cukup.
"Aku ingin bersamamu sepanjang hidupku," Dan itu masih belum cukup. "Kenapa kau tidak pernah membuatku bosan Minseok?"
Minseok tertawa pelan di sela desahannya, Luhan sedang melucu disaat seperti ini? "Karena usia pernikahan kita masih sangat muda, tuan!" Bisiknya. Ku fikir kau akan mengatakan kalau dirimu mencintaiku. Pada akhirnya semua itu tidak akan pernah cukup. Bahkan dalam lelahpun mereka masih tidak ingin terlerai. Mereka masih berpelukan meskipun mata sudah terpejam dan keletihan menyerang. Lalu bagaimana semuanya akan berakhir? Setelah ini bagaimana dengan nasib pernikahan misterius ini?
To Be Continue
Gue saranin kalian untuk siapin hati, karena setelah NC xiuhan, konflik yang sesungguhnya bakal muncul lol.
