Chapter 8 dataang~~
Buat yang udah baca dan review, thankyou so much ya
Buat guest yang review tanpa akun, maaf gk bisa bales review kalian dan sebutin satu-satu, tapi pokoknya thankyou so much
Makasih juga yg udah follow dan favouritin ff ini, terharu aku T_T
Di chapter ini bakal terungkap sedikit masa lalu RenLe dan gimana ceritanya mereka bisa sampe di rumah Nyonya Kim..hehehe
Happy Reading~
.
.
.
Renjun baru saja akan melangkahkan kakinya memasuki ruangan bercat putih tersebut, namun langkahnya terhenti. Tangannya bahkan masih memegang knop pintu, dan bocah itu mematung di dekat pintu yang sudah ia buka setengahnya. Bocah kelas 2 sekolah menengah itu terdiam ditempatnya. Tubuhnya mendadak kaku melihat apa yang sedang terjadi di dalam ruangan yang akan ia masuki. Sesaat kemudian tubuh mungilnya mulai bergetar ketakutan.
Di dalam ruangan itu, ia melihat Jeno yang sedang memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Wajahnya pucat dan dipenuhi oleh keringat, terlihat begitu kesakitan dan lelah. Bocah itu terus saja berusaha memuntahkan seuatu dari mulutnya. Namun yang keluar dari mulutnya hanyalah cairan, dan Renjun yakin hal itu bahkan lebih menyakitkan dibandingkan ketika memuntahkan sisa makanan. Sedangkan di dekat Jeno ada sang ibu, yang tangan kirinya memegang baskom untuk menampung muntahan Jeno serta tangan kanannya memijat tengkuk Jeno. Mungkin bermaksud untuk membuat Jeno sedikit mudah untuk memuntahkan semuanya.
Sebisa mungkin, Renjun berusaha menetralkan perasaannya. Mencoba menghilangkan semua ketakutan agar tubuhnya berhenti bergetar. Lalu ia mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan setelah sebelumnya menutup pintu ruangan tersebut dengan begitu pelan. Bahkan kedua orang yang ada di dalam ruangan tersebut tidak menyadarinya. Ia kemudian terduduk dilantai samping pintu kamar tersebut dan menyandarkan tubuhnya ke dinding.
Semua yang ia lihat tadi membuat sebuah rekaman yang tidak pernah lagi ingin Renjun lihat kembali muncul, berputar di benak Renjun seperti sebuah film.
Menunjukkan dirinya sedang berada disebuah bangsal rumah sakit, membantu sang ibu yang terus saja memuntahkan isi perutnya yang bercampur darah kedalam baskom yang ia pegang. Renjun menangis. Ia masih berumur 10 tahun saat itu, seorang bocah tentu akan merasa ketakutan setengah mati melihat ibu yang ia sayangi sedang dalam kondisi seperti itu. Namun tiba-tiba saja ayahnya datang, menjambak rambut Renjun dan meyeretnya keluar. Meninggalkan ibunya yang berteriak memanggil namanya dengan suara lemah disertai tangisan. Ayahnya memukulnya, menendangnya dan juga berteriak padanya. Ia bahkan tidak tahu dimana salahnya, namun memang itulah yang akan ayahnya lakukan jika ia pulang atau berhadapan ayahnya tanpa sepeserpun uang. Ayahnya akan mengamuk jika ia lebih memilih merawat ibunya dibanding bekerja serabutan di pasar ataupun mengemis. Tentu saja, tanpa uang yang ia hasilkan ayahnya mana bisa berjudi dan bermain dengan wanita.
Lalu terlihat Renjun yang sedang menangis disebuah makam. Makam itu terlihat begitu sederhana, tanpa dihiasi oleh batu nisan yang layak. Hanya kayu bertuliskan nama ibunya dan juga ada foto sang ibu di dekat nisannya. Renjun tidak sendiri, ada bocah laki-laki lain disana. Bocah yang lebih muda 2 tahun dari Renjun. Bocah itu adalah Chenle, yang saat itu juga ikut menangis karena merasakan kesedihannya, bahkan ketika ayahnya sendiri tidak peduli akan kematian ibu mereka. Chenle bukan adik ataupun saudara Renjun, Chenle hanya bocah 8 tahun yang tinggal dengan paman dan bibinya karena kedua orangtuanya sudah meninggal. Nasibnya tak jauh beda dengan Renjun. Bocah itu juga hampir setiap hari dipukuli oleh paman dan bibinya apabila pulang ke rumah tanpa membawa uang, itu sebabnya hampir setiap hari juga Chenle menemaninya bekerja dipasar ataupun mengemis. Ibu Renjun pernah bilang kalau mengemis itu perbuatan buruk, tapi Renjun tidak ada cara lain. Saat itu ia harus memberikan uang kepada ayahnya dan membayar pengobatan ibunya, sedangkan Chenle harus menyerahkan uang pada paman dan bibinya agar kedua orang itu bisa bersenang-senang.
Renjun teringat saat ketika ia dan Chenle merasakan suatu kebahagiaan yang luar biasa. Seorang lelaki tua yang mereka temui di pasar, yang bahkan tidak mereka kenal, memberikan 2 tiket pelayaran menuju Busan. Mereka hanya bocah saat itu, mereka tidak tahu dimana Busan dan seperti apa tempat itu. Tapi kakek itu bilang, mereka bisa bebas dari segala penderitaan mereka jika mereka pergi ke tempat bernama Busan itu. Kakek itu seperti malaikat yang sengaja Tuhan kirim khusus untuk mereka. Mereka hanya bocah polos yang selama hidupnya dipenuhi oleh segala kerja dan juga penderitaan, mendengar hal semacam itu mana mungkin meereka akan menolaknya. Dan suatu pagi, bahkan disaat ayam belum berkokok, ia menghampiri Chenle. Yang sudah siap di depan rumah kumuhnya dengan sebuah tas berisikan beberapa pakaian dan juga bekal makanan yang kakek itu juga berikan kemarin. Mereka akan pergi. Dan mereka sungguh tidak ingin kembali lagi ketempat itu. Walau bagi Renjun sedikit berat, karena kenangan tentang ibunya semua ada disana. Tapi kenangan itu akan Renjun simpan dalam hati, dimanapun ia berada nanti.
Di pagi yang dingin, mereka berjalan menyusuri jalan, bertanya pada setiap orang dimana letak pelabuhan terdekat. Setelah hampir 2 hari berjalan, kaki mereka terasa begitu lelah dan rasanya hampir putus, bahkan Chenle sempat pingsan karena kelelahan. Tuhan mengulurkan tangan-Nya pada mereka, seorang dermawan dengan baiknya mau mengantarkan mereka menuju ke pelabuhan. Disana mereka mengikuti seperti apa yang kakek itu katakan, memberikan tiket itu pada paman yang ada di kapal dan masuk ke dalam kapal. Perjalanan mereka cukup panjang, hampir seminggu. Dan selama itu jugalah mereka kelaparan disana. Ia dan Chenle hanya membawa sedikit bekal, yang hampir habis ketika mereka berjalan kaki menuju pelabuhan. Bersyukur mereka berdua bisa makan dari belas kasihan beberapa penumpang kapal. Walaupun hanya sedikit dan itupun hanya sisa, tapi mereka bersyukur.
Pertama kali mereka tiba di pelabuhan Busan, mereka bingung. Mereka sama sekali tidak kenal tempat ini dan juga para orangnya berbicara dengan bahasa yang sama sekali tidak mereka mengerti. Mereka bergegas meninggalkan pelabuhan, berjalan tanpa tujuan dengan kaki kusam mereka yang kecil. Tidur di emperan toko lalu diusir, itu yang mereka alami. Bahkan ketika mereka meminta makanan pada beberapa orang, hanya ada satu atau dua orang yang mau memberikannya. Sedangkan lainnya hanya memandang mereka jijik atau melempari mereka dengan sebungkus makanan sisa.
Renjun tidak begitu ingat bagaimana ia bisa sampai di tempat Nyonya Kim, tempat dimana ia bertemu dengan keluarga yang membuatnya begitu bahagia. Yang ia ingat saat itu ia hanya berjalan bersama Chenle, menyusuri jalan tanpa tujuan dan berhenti pada sebuah rumah yang entah kenapa saat itu seperti menariknya untuk memasuki gerbangnya. Ia memasuki gerbang rumah itu, dan tepat saat itu seorang wanita paruh baya keluar dari dalam dalam rumah dan tersenyum hangat padanya dan juga Chenle. Mereka tidak bisa bahasa Korea sedikitpun sat itu, jadi mereka berbicara dengan bahasa China disertai dengan gerakan agar wanita itu mengerti. Wanita itu menyuruh mereka masuk, memberikan mereka pakaian dan menyuruh mereka mandi. Dan mereka ingat, sesaat setelah mereka mandi, ada beberapa macam makanan di meja makan, juga ada 2 anak laki-laki yang lebih tua dari mareka dan satu balita yang berada di dalam gendongan bocah laki-laki bermata sipit. Ia juga ingat bahwa saat itu bukan hanya Nyonya Kim yang menyambut Renjun dan Chenle dengan hangat, melainkan juga ada Mark, Jeno dan Jisung yang masih sangat kecil. Tanpa berkata apapun, seolah mengerti keadaan Renjun dan Chenle, Jeno mengantarkan mereka pada sabuah kamar, berbicara dengan bahasa China yang pas-pasan mengatakan bahwa itu adalah kamar barunya dengan Chenle. Bertemu dengan mereka sungguh merupakan keajaiban tersendiri bagi Renjun dan Chenle.
Sebuah tepukan di pundaknya menyadarkan Renjun dari lamunannya, membuyarkan segala bayangan masa lalu yang sedang berputar di otaknya. Renjun mendongak, ia melihat ibunya tersenyum padanya. Raut ibunya terlihat lelah, namun ada juga raut lega di wajah ibunya.
"Kenapa tidak masuk, sayang?" Nyonya Kim bertanya, wanita itu mengelus rambut Renjun dengan sayang.
Renjun menggeleng, bocah itu malah menangis sesenggukan sambil memeluk ibunya.
"Eomma, aku takut.. hiks"
Nyonya Kim mengernyitkan kening.
"Apa yang kau takutkan, hm?"
Dengan suara yang serak Renjun menjawab, "Aku takut melihat Jeno hyung, ia begitu kesakitan tadi. Bagaimana jika Jeno hyung meninggalkan kita?"
Pertanyaan renjun sukses membuat Nyonya Kim tertohok.
"Jeno hyung baik-baik saja, sayang. Semua yang kau lihat tadi hanyalah efek dari kemoterapi, dan itu adalah pengobatan agar Jeno hyung sembuh. Besok Jeno hyung sudah bisa pulang kok, jadi jangan takut ya"
Renjun tahu betul apa itu kemoterapi. Pengobatan yang akan membuat orang kesakitan dan nanti akan merontokkan rambut mereka dan membuat kulit mereka berkeriput, sama seperti yang dialami ibu Renjun dulu.
"Apa yang kau bawa di kantung itu? Kenapa tidak pulang dulu untuk berganti baju,hm?" Nyonya Kim mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia idak ingin melihat putranya ketakutan seperti itu.
Renjun melirik kantung berupa tas kertas yang ada di genggaman tangan kirinya. Ia sendiri bahkan lupa bahwa tujuannya kemari adalah untuk memberikan hadiah spesial untuk Jeno yang tadi debelinya khusus untuk Jeno.
"Hadiah untuk Jeno hyung..hehe" Renjun tersenyum polos, memperlihatkan gingsulnya. Bocah itu seperti lupa bahwa ia baru saja menangis.
Nyonya Kim ikut tersenyum.
"Hadiah untuk Jeno hyung? Bagaimana kalau kau masuk dan memberikannya pada Jeno hyung? Ia pasti akan senang"
Renjun mengangguk semangat. Senyumnya kembali melebar.
"Eomma akan kembali ke toko sekarang. Bisakah kau temani Jeno hyung sampai Mark hyung datang nanti?" Nyonya Kim menatap lembut. Renjun mengangguk menanggapi permintaan ibunya.
Bocah itu lalu berjalan memasuki ruangan itu. Dimana ada Jeno terbaring di ranjangnya dengan mata terbuka. Dan Jeno tersenyum begitu melihat adiknya datang dan sedang mendekat ke arahnya.
Begitu sampai di dekat ranjang Jeno, ia langsung saja meletakkan kantung itu di atas perut Jeno. Renjun tersenyum lebar, sedang Jeno mengernyit bingung.
"Hadiah untuk hyung. Bukan sesuatu yang mahal sih, tapi aku harap hyung menyukainya"
Jeno mencoba mengubah posisinya menjadi duduk, namun tubuhnya masih lemas dan membuatnya sedikit kesusahan. Renjun dengan sigap membantu Jeno untuk duduk.
"Boleh hyung buka?" tanya Jeno. Renjun mengangguk.
Jeno membuka kantung itu dengan pelan, benar-benar tidak ingin merusak hadiah dari adiknya. Ia tersenyum melihat apa yang ada di dalam kantung itu, sebuah mantel tebal berwarna biru laut dan juga syalnya yang berwarna putih. Sebentar lagi musim dingin akan datang, dan pasti akan sangat hangat jika digunakan. Apalagi ini adalah hadiah dari adiknya, pastilah kehangatnnya akan bertambah.
"Hyung suka?" tanya Renjun sedikit ragu, ia takut jika Jeno tidak menyukainya.
Jeno mengangguk cepat, tersenyum lebar kearah Renjun. "Suka, sangat suka. Hyung menyukai apapun yang duberikan oleh orang-orang yang hyung sayangi"
Renjun memekik saking senangnya, hingga Jeno terkekeh dan menatapnya. Membuat Renjun jadi sedikit malu.
"Kau pasti bersusah payah mengumpulkan uang sakumu untuk membeli ini, terimakasih banyak, Renjun-ah"
Renjun menggeleng cepat. Tidak, tidak, ia tidak membeli itu dari uang sakunya. Uang sakunya kan selalu ia kumpulkan untuk membayar sekolah, berjaga-jaga jika nanti ibunya tidak ada uang untuk sekolahnya ataupun sekolah saudaranya yang lain.
"Aku membelinya dari uang hasil menjual lukisanku. Ada orang yang tertarik dan ia membeli beberapa lukisanku..hehe" Renjun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia sedikit malu mengatakan hal ini.
Jeno terkejut, namun kemudian senyuman bangga muncul dari wajahnya. Ia terkejut bukan karena heran sih, tapi karena kagum. Renjun suka menggambar, dan gambarannya luar biasa bagus. Bocah itu juga bisa melukis, dan tentu saja lukisannya juga indah. Jeno benar-benar kagum akan bakat adiknya yang satu ini. Jelas saja jika lukisannya diminati orang. Jika saja jeno punya banyak uang, ia pasti akan membeli semua lukisan renjun yang mengagumkan itu.
"Adikku benar-benar luar biasa , ya? Hyung tau kau anak yang hebat, Renjun-ah" Jeno meraih tangan Renjun dan menarik bocah itu kepelukannya.
"Hyung, suatu saat nanti aku akan menjadi seniman hebat. Aku akan membuka banyak galeri seni, Jeno hyung dan lainnya juga harus datang ke galeriku. Ah! Jeno hyung juga harus mengajak Jungsoo-samchon dan Sora-Imo juga ya, arasseo?" Renjun tersenyum, Jeno bisa merasakannya.
"Mm, hyung harap kelak hyung bisa datang ke galerimu" jawab Jeno. Entah kenapa nadanya terdengar sedih.
Renjun mengangkat kepalanya dari pelukan Jeno dan mengacungkan jari kelingkingnya, "Janji?"
Dengan berat, Jeno mengaitkan kelingkingnya pada kelingkin Renjung, "Janji"
"Hyung akan berusaha sembuh untuk kalian, hyung sungguh ingin melihat kesuksesan kalian di masa depan"
Mereka berdua tersenyum.
Dalam hati mereka sungguh berharap, bahwa malaikat akan mendengar segala keinginan mereka dan menyampaikannya pada Tuhan. Dan semoga kelak Tuhan akan mengirimkan keajaibannya pada mereka.
.
.
.
"Jeno-hyuuuung~!"
Jeno tersenyum mendengar gabungan dua suara cempreng memanggil namanya. Setelah melepas celemek yang tadi ia gunakan untuk memasak, ia bergegas menuju ruang keluarga. Melihat ada yang sedang berlari dengan semangat menuju ke arahnya, Jeno merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum hangat. Dan kedua bocah yang masih lengkap dengan seragamnya itu berhambur ke arahnya, memeluk Jeno dengan pelukan khas anak-anak SD. Manja dan penuh kasih sayang.
"Hyung, lihat apa yang kami bawa!" Chenle berseru sambil menunjukkan sebuah kantung plastik hitam yang ada di genggaman tangannya. Yang kemudian diikuti oleh Jisung, yang juga membawa satu kantung plastic hitam di tangannya.
Jeno mengernyit, "Apa itu?"
"Oreo!" seru mereka bersamaan. Kedua adiknya ini memang paling semangat jika sudah mendengar atau melihat yang namanya 'oreo', makanan hitam bulat yang ada krim padat di tengahnya. Mereka paling suka rasa strawberry dan nantinya juga akan dicelupkan ke susu rasa strawberry juga. Dan Jeno yakin, setelah ini mereka pasti akan minta dibuatkan susu strawberry olehnya.
"Hyung, buatkan kami susu strawberry ya? Susu strawberry buatan hyung kan terenak kedua setelah buatan Nana-hyung, yayaya?" Jisung mulai menarik-narik bajunya dan menatapnya dengan mata memohon.
Jeno tersenyum sambil mengangguk, yang sontak membuat kedua bocah itu memekik senang.
"Siapa yang membelikan oreo sebanyak ini?" tanya Jeno.
"Donghyuk-hyung" jawab mereka kompak.
"Bukan membelikan, tapi kalian yang merampokku!" suara Donghyuk terdengar, bocah itu baru saja masuk ke dalam rumah diikuti dengan Jaemin dan Renjun di belakangnya.
"Mereka terus saja merengek padaku agar aku membelikan mereka oreo, dan itu membuat telingaku sakit. Mereka bilang hanya akan mengambil satu bungkus saja, tapi mereka malah mengambil masing-masing dua bungkus" adu Donghyuk pada Jeno, wajahnya dibuat semelas mungkin.
Jeno menatap Chenle dan Jisung bergantian. "Lain kali kalau bilang hanya ingin satu seharusnya ambil satu saja ya? Itu kan namanya ingkar janji, sayang"
Chenle dan Jisung menunduk dalam. Merasa bersalah sekaligus khawatir jika Jeno marah pada mereka, padahal mereka sendiri tahu bahwa Jeno tidak pernah sekalipun marah pada mereka.
"kenapa diam saja saja? Tidak ingin menjawab pertanyaa hyung?" tanya Jeno lagi, kali ini kedua tangannya ia gunakan untuk mengelus kedua rambut adiknya dengan sayang.
Chenle dan Jisung mengangguk, "Ne, hyung. Kami tidak akan mengulanginya lagi"
Jeno tersenyum, "Itu baru adik hyung. Sekarang ganti baju lalu cuci tangan dan kaki, ya? Biar hyung buatkan susu strawberry untuk kalian"
Kedua bocah itu mengangguk semangat, lalu berhambur menuju ke kamar untuk melakukan apa yang Jeno perintahkan.
"Dasar bocah! Kenapa sih mereka hanya menurutimu? Mereka tidak pernah sekalipun mendengarkanku dan bahkan berani merampok uangku!" adu Donghyuk kesal, sedangkan hanya ditanggapi Jeno dengan endikan bahu dan senyuman.
"Aku sudah memasak makan siang untuk kalian, sebaiknya kalian juga berganti baju dan membersihkan diri lalu kita makan bersama"
Setelah mengucapkan kalimat itu, Jeno masuk kedalam kamarnya dan menghilang di balik pintu. Meninggalkan Donghyuk yang masih menggerutu di tempatnya.
PLETAK!
Donghyuk mengaduh keras ketika sebuah pukulan mendarat di kepala belakangnya.
"Dasar perhitungan! Harga oreo tidak semahal harga mobil, jadi jangan berlebihan!"
Siapa pelakunya?
Siapa lagi kalau bukan Na Jaemin yang sedari tadi menyaksikan adegan –mengadu-pada-Jeno- dengan begitu setia bersama Renjun di dekatnya.
"kenapa memukulku sih?!" Donghyuk tidak terima.
"Sudah hitam, perhitungan lagi!"
Bukannya menjawab, Jaemin malah mengatainya lalu meluncur ke kamarnya bersama Renjun yang memasang tampang polos seperti biasa. Tidak menoleh ke belakang sedikitpun, tidak peduli pada Donghyuk yang kin sedang memasang muka cemberut.
Selalu saja Donghyuk yang menjadi korban kedua setan kecil itu dan malangnya tidak ada seorangpun yang membelanya.
.
.
.
Jeno menatap aneh kearah jalan raya yang saat ini sedang mereka lewati, lalu berganti menatap Jungsoo yang sedang fokus menyetir. Mata sipitnya ia sipitkan lagi untuk memastikan pengelihatannya. Jalan yang sedang mereka lalu jelas bukan jalan yang biasa mereka lalui ketika pulang dari rumah Jungsoo. Ini jelas bukan jalan menuju rumahnya maupun jalan menuju rumah sakit.
"Samchon, bukankah kita melewati jalan yang salah?" tanya Jeno pada Jungsoo, nadaya sedikit ragu.
Jungsoo menoleh ke arahnya, tersenyum lembut pada Jeno.
"Jalannya benar kok" jawab Jungsoo.
Jeno menggeleng. Tidak, tidak. Ini jelas bukan jalan yang biasa mereka lalui.
"Mm.. sepertinya samchon salah jalan. Ini bukan jalan menuju rumahku ataupun jalan menuju rumah sakit, samchon" kali ini nada Jeno terdengar yakin. Ia yakin Jungsoo mungkin terlalu lelah hingga tidak mengingat jalan yang benar. Memang aneh sih, tapi Jungsoo memang benar-benar sudah salah jalan.
"Ini memang bukan jalan menuju ke tempat itu, Jeno-ya"
"Lalu?"
Jungsoo menoleh dan tersenyum sekali lagi pada Jeno.
"Samchon ingin membawamu untuk bertemu seseorang"
Jeno mengernyit.
Seseorang?
Siapa?
.
.
.
TBC
Gimana masa lalu RenLe-nya? Sudah terpenuhi kan? Hehehe
Maaf banget kalau mungkin jauh dari harapan kalian, soalnya cuma itu ide yang mampir di kepala author..hehehe
Maaf banget kalau mengecewakan
Kritik saran kalian ditunggu ya~~
Sampai jumpa di next chapter
