AN: Baca habis buka ya. Yang ga puasa, baca sekarang juga gpp hoho. Eh kalo udah baca jangan lupa review =
P.s.: ga boleh nabok crell di review. sekian
.:xxx:.
Kyungsoo sampai ikut berkeringat.
Pasalnya, masa birahi Baekhyun lumayan dahsyat sampai membuatnya, seorang submisif, ikut-ikutan panas.
Walau tidak separah efek aroma stroberi itu pada Jongin, Zitao, dan Yifan. Makanya, Junma membuat mereka bertiga berjaga di luar dan tidak dekat-dekat.
Berjaga dari apa? Tentu saja dari macan putih dan jaguar sialan itu. Makan Junmyeon menyembunyikan Baekhyun di pondok bekas milik Jongdae dan menyuruh Chanyeol dan Yixing jauh-jauh.
Junma sendiri sedang sibuk mengurusi dua singa kecilnya, sehingga Kyungsoo selaku satu-satunya submisif yang tersisa di desa itu harus merawat Baekhyun. Sahabatnya, adiknya, teman serumahnya, yang sekarang sedang sange hampir mati dan kaki tangannya diikat pakai tali tambang ke sudut-sudut ranjang.
Jongin dan Zitao yang mengikatnya, sementara Yifan memegangi tubuh si mungil yang menggeliat minta ditunggangi. Ketiganya sendiri sampai memakai daun bidara untuk menutupi hidung mereka—agar tidak khilaf.
Bukan, bukannya mau coba BDSM, tapi supaya Baekhyun tidak kabur.
"Aaahh..." rintihan Baekhyun terdengar sampai ke dapur. "Nghh... uuung..."
Kyungsoo sedang membuatkan minuman dengan ekstrak mint agar birahi Baekhyun agak mendingan. Sebenarnya ia kasihan dengan Baekhyun yang begini. Karena Kyungsoo sudah berkali-kali melewati masa birahi tanpa ada yang menemani. Padahal pondok Jongin cuma lima langkah dari rumah.
Begitu juga saat Jongin sedang masuk musim kawin. Erangan Jongin dari pondok itu keras sekali, Kyungsoo yang sedang membersihkan sarang laba-laba di atap pondoknya sampai gemetaran. Tapi eh, kenapa malah cerita tentang Jongin.
"Baek..." tegur Kyungsoo saat si lynx masuk ke kamar dan langsung disambut ombak besar wangi manis stroberi. "Baek...!"
Pergelangan tangan dan kaki Baekhyun sampai merah. Melihat si kucing yang menangis begitu, Kyungsoo jadi tidak tega.
Si lynx mengambil pisau dari dapur, lalu mengiris tali-talinya sampai lepas. Baekhyun menarik tangan kakinya, lalu bangkit duduk. Rambut kecokelatannya yang biasanya empuk seperti gula kapas sekarang basah, lepek, menempel di kulit oleh keringat. Matanya yang biasanya berbinar sekarang gelap, sayu, dan bibirnya yang merah muda sekarang jadi merah merona.
"Haa..." Napas Baekhyun tersengal. "Soo... Soonyaaah..."
"Iya, Baek?" Kyungsoo mengelus kepalanya, perhatian. "Kenapa? Kamu haus lagi? Aku udah buatin—"
"Panas, Soonyaaah..." Baekhyun malah menggesekkan kepalanya ke tangan Kyungsoo, lalu ke lekukan leher si lynx. "Lepasin baju Baekkieee..."
"Baek, jangan," Tubuh Kyungsoo menegang. "Kalau kamu lepas baju, nanti baumu malah makin kuat..."
"Bau apa... Baekkie mau mandii... Baekkie bauuu..."
"Nggak boleh mandi sekarang," Ekor lynx mencuat untuk menahan tangan Baekhyun yang mau melepasi bajunya sendiri. "Baekhyun tidur aja lagi, ya?"
"Ungg..." si kucing menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Mau cuci muka... nyaa..."
"Baekhyun tidur aja, ya? Baekhyun nggak boleh keluar—WAH!"
Kyungsoo memekik, saat Baekhyun tiba-tiba saja mendorong pundaknya sampai ia jatuh ke ranjang. Lalu si kucing mengangkanginya, duduk di atas pahanya, dan menatap ke bawah, ke Kyungsoo, dengan lapar.
"Baek! Apa-apaan kamu! Sadar!"
"Panas..." Baekhyun terisak. "Soonyah bantu Baekkie... Baekkie... belum mandi... Baekkie... gatal..."
"Gatal?" Kyungsoo jadi agak kasihan. "Ya sudah, sini aku bantu garuk. Mana yang gatal?"
Tanpa dicegah, Baekhyun menarik lepas celana putihnya sehingga bokongnya tampak jelas, lalu menarik tangan Kyungsoo dan menempelkannya di lubang bokongnya.
Kyungsoo beku saat jarinya menyentuh lipatan kerut pink itu.
"B-b-b-b-b-b-b—"
"Di sini..." Baekhyun mendesah. "Di sini gatal... nyaa..."
"Baekkie..." Kyungsoo menarik tangannya lagi, tapi dicegah.
"Bantu Baekkie..." Si kucing menggeliat manja, menggerakkan pinggulnya dan jari Kyungsoo agar mau masuk. "Soonyaaah..."
"Ya sudah..." Kyungsoo napasnya jadi ikut tersengal juga. Ia bolak balik mengambil napas dari mulut, tangannya yang kaku lama-lama jadi lemas saat ujung jarinya membelai pinggir lubang itu. "Baekhyun... T-tapi kita ini sama-sama submisif. Ingat, ya?"
"Ummm..." Baekhyun merem, mengerang keenakan.
Kyungsoo menghela napas lalu mengusap-usap, menggelitik pinggiran lubang Baekhyun, menyiapkan diri untuk didamprat Junma setelah ini. Tapi mau bagaimana lagi. Kyungsoo juga tahu rasanya sange tapi tidak ada yang membelai.
Serius.
"Sudah?"
"Uuu..." Baekhyun menggeleng. "Masukin nyaa..."
"Eh?" Kyungsoo berkedip. "T-tapi Baek..."
"Masukin! Atau nanti Baekkie yang masukin punya Baekkie ke Soonyah, nih!"
Kyungsoo kaget dibentak begitu. Jarinya secara autopilot masuk, lalu bergoyang pelan di dalam dubur Baekhyun.
"Khh... hrr..."
Si kucing malah mendengkur keenakan. Kyungsoo jadi merona sendiri. Anunya ikut bangun pelan-pelan.
"U-udah masuk belum nyaa?" Baekhyun membuka matanya sedikit. Mungkin jari Kyungsoo terlalu kecil sampai tidak terasa.
"Udah, Baek... udah dua malahan..."
"Tambah lagiii~"
Kyungsoo melongo. Tidak tahu kalau Baekhyun punya bibit-bibit suka dicabuli dalam dirinya.
Tapi si lynx menurut, menambah satu jari lagi.
"Ungyaaa..." Si kucing melenguh, merem melek keenakan. "Enakk... Emm... Putar, Soonyaaah~"
"Hah?"
"Putar jarinyaaa... hrrr..." Kyungsoo menambah satu jari lagi, lalu memutarnya sampai lubang Baekhyun melebar. "Enyaaak..."
Baekhyun tidak melihat—seberapa besar usaha Kyungsoo menahan cairan pelumas alaminya sendiri dari menetes keluar lubangnya sementara ia membantu Baekhyun seperti ini.
"SOONYAH!" Baekhyun menjerit kesal saat Kyungsoo tiba-tiba menarik semua jarinya keluar.
"Baek," potong si lynx, mendorong Baekhyun ke belakang sementara ia sendiri berdiri. "Aku nggak bisa..."
Kyungsoo menghambur, menepi, ke arah jendela. Mengatur napasnya dan melongok keluar mencari-cari seekor macan kumbang yang harusnya sedang berjaga di luar.
Tidak ada.
"Hiks... Soonyah... Baekkie... Baekkie sa-sakiit..."
Baekhyun menangis. Sekarang dia sedang menggesekkan penis mungilnya pada sprei sambil mendesah-desah kecil.
"Baek," Kyungsoo lama-lama tidak tega. "Aku kasih tahu sesuatu buat ngeredam birahimu, ya..."
Kyungsoo pelan-pelan beranjak ke pintu. Baekhyun menatapnya sendu.
"Pakai ekormu."
.:xxx:.
"Jongin?"
Si macan kumbang menoleh saat Yifan memberi sinyal padanya. Lalu ia mengangguk.
"Aman."
Yifan mengangguk, lalu kembali ke tempat ia menjaga.
Si macan kumbang menghela napas.
Kapan lagi dijadikan pengawal submisif yang sedang birahi seperti ini. Terakhir kali ia ingat Junma menyuruh mereka menyembunyikan submisif adalah saat birahi pertama Kyungsoo dan Baekhyun... tapi itu dulu sekali. Sekarang Kyungsoo sudah bisa mengontrol aroma saat birahinya—tapi Baekhyun belum bisa.
Bukannya Jongin tidak terpengaruh dengan bau Baekhyun. Malah tadi ia sempat pusing dan segera melesat keluar dari pondok saat mata kecil Baekhyun terus-terusan memandangnya. Lengah sedikit saja, tahu-tahu penis Jongin sudah tertancap dalam lubang surga si kucing.
Jongin juga tadi menahan napasnya saat ia mengikat tangan kaki Baekhyun.
"Sial," bisik si macan kumbang. "Pasti seneng itu macan-macan sakit jiwa... ngeliat Baekhyun diiket di dalam. Semoga aja ap—HEI!"
Belum apa-apa penglihatannya memburam, dan Jongin ambruk, pingsan.
"Jongin?"
Yifan mendengar suara ribut-ribut itu. Ia berjalan mendekati sisi pondok yang harusnya dijaga Jongin.
Hanya untuk melihat si macan hitam sudah terkapar.
Yifan melotot, lalu mendongak. Pada sosok yang masuk melalui genteng pondok yang dibuka paksa.
Ekor tutul.
Dan pada sosok yang masuk lewat jendela yang dirusak.
Ekor putih
"SIALAN!"
.:xxx:
"Aah... aaanghh! Uuh, uh, uh, uuuh!"
Cring-cring-cring!
Baekhyun telentang, kakinya dilebarkan, kepalanya tertoleh kiri-kanan kebingungan. Kucing kecil itu lalu membuka mulutnya lebar-lebar, sementara ekornya melewati selangkangannya dan ia mengulumnya seolah sedang mengulum kejantanan.
Bulu-bulu ekor Baekhyun tersangkut di lidahnya, tetapi Baekhyun tidak sampai tersedak. Ekornya yang basah lalu ujungnya diarahkan pada lubangnya.
Cring-cring-cring!
"Uuungh!"
Bel buntut Baekhyun tidak berhenti-berhenti berbunyi sementara ia dengan putus asa berusaha membuat ujung ekornya masuk ke lubang senggamanya—dan setelah masuk, ia berusaha membuatnya masuk sedalam mungkin.
"Hiks... buntut Baekkie pendek..."
Sebenarnya bukan. Lebih ke otot Baekhyun yang lemah sehingga kekuatan ekornya tidak bisa mengalahkan cepitan ketat lubang bokong Baekhyun yang masih perawan.
PRANG!
BUM!
DUAK!
"MINGGIR LO!"
"SIALAN!"
"BRENGSEK!"
Baekhyun melompat, kaget. Ekornya keluar secara otomatis, saat ia melihat Yixing jatuh dari genteng dan Chanyeol bergulung masuk dari jendela.
Secara bersamaan.
Dan mereka membawa bau dominan yang sangat... sangat kuat.
Dan desah napas mereka yang keras. Dan geraman posesif dan gerakan agresif...
Dubur Baekhyun tiba-tiba saja menghasilkan cairan pelumas dalam jumlah besar tiba-tiba, menetes keluar ke seprai seolah Baekhyun mengompol.
"Baekhyun? Baekhyun, Baekhyun sayang," Chanyeol berucap dengan suaranya yang dalam, menerjang si kucing sampai telentang di bawah kungkungannya. "Jangan takut lagi, pasanganmu udah di sini buat kamu. Akhirnya aku bisa dapat kamu, Baekh..."
Baekhyun bisa mengelak, bisa menyelinap pergi, tetapi ia tidak mau.
Bahkan walau hanya disentuh lengannya saja, Baekhyun merasa seperti di surga.
Di sinilah tempatnya, di bawah kontrol dominannya. Pasrah menerima apapun yang akan dilakukan terhadapnya, dan tubuhnya.
Lalu Chanyeol ditendang. Baekhyun merintih sedih karena keberadaan dominannya menghilang, tapi tidak lama.
Lalu Baekhyun dipeluk dari belakang. Diangkat dan didorong ke depan sampai ia berada pada lutut dan lengannya. Menungging.
"Baekhyun, ini aku, Yixing," Suara lembut itu menarik hatinya. Yixing mengeluarkan lidah, dan menjilat lubang telinga si kucing seolah ia adalah kudapan manis di hari yang terik. "Ayo sayang... Penisku udah siap..."
Baekhyun mengerang manja saat Yixing memainkan putingnya dengan telunjuk yang bergerak memantulkan putingnya sangat cepat, dan Yixing yang menabrakkan penisnya berkali-kali ke lubangnya tanpa akurasi.
Baekhyun memejamkan mata, punggungnya melengkung sementara ia menggesekkan bokongnya juga ke belakang. Memaksa Yixing memasukkan monsternya pada lubang Baekhyun yang sudah basah dan terbuka.
Lalu pelukan erat itu dienyahkan lagi. Baekhyun mengerang, si submisif terisak sedih.
Tak lama kemudian, setelah pergumulan yang tak bisa ia lihat, sang harimau putih sekarang merengkuh dagunya, menarik mulut Baekhyun hingga terbuka paksa dan melesakkan lidahnya masuk.
Bola mata Baekhyun berputar ke belakang. Mabuk.
Ini adalah pertama kalinya ia dicium.
"Ung... Ahk... ahk..." Si kucing tersedak saat Chanyeol menciumnya dengan ganas, melesakkan ludahnya dalam jumlah besar untuk ia telan.
Dominan memang begitu. Akan berusaha memasukkan cairannya dalam jumlah sebanyak mungkin pada submisifnya. Spermanya, ludahnya, keringatnya, kencingnya.
Itu adalah bentuk dominansi mereka, yang terpengaruh oleh gen binatang tak tahu adab.
"Yixing udah aku beresin, Sayang," Chanyeol menyobek kausnya. "Mmhh... Fuck... badan kamu panas, sayangh..."
Baekhyun ditarik hingga ke atas pangkuan Chanyeol, digerakkan naik turun oleh tangan kokoh Chanyeol seolah-olah mereka sedang bersetubuh dalam kecepatan luar biasa.
"Aaangh... nyaaah..." Baekhyun tak bisa menutup mulutnya, liurnya menetes ke dada si macan putih. "Iyahh.. hyah, hyah, hyaah~"
"Enak, Baekkie?"
"Enyaak!" Baekhyun menjerit. "Enak, enak, enaaak!"
Chanyeol juga mengerang. Malah lebih terdengar seperti geraman. Tubuh Baekhyun mungil dan gemetaran di tangannya, dan Chanyeol tak ingin apapun selain menguasainya, menghancurkannya, menghabisinya, melumatnya—mencintainya.
"Ohk—! Fuck!"
Yixing bangkit dengan hidung mimisan dan bibir berdarah di bawah sana, dan ia mendekap Baekhyun dari belakang, sampai kucing itu terjepit di antara dua dada bidang yang terengah oleh nafsu.
"Yi-Yixing… hiks…"
Lalu—Chanyeol sendiri sebenarnya tidak sadar.
Tangan Baekhyun mendorongnya, kepala kucing itu menoleh ke belakang.
"Mau… mau Yixing… uung…"
Jantung Chanyeol berhenti untuk beberapa saat.
Apa?
Tidak.
Tidak lagi.
"Yixing...?" Si jaguar dengan kurang ajar tertawa mengejek. "Kamu nggak mau Chanyeol, sayang?"
Baekhyun menggeleng. "Yixiiing..."
Chanyeol menatap nanar.
Bibirnya yang kaku berhenti mendesah.
Lalu tersenyum.
Lalu menyeringai.
Lalu tertawa.
"Sialan..." Chanyeol tergelak. "SIALAN!"
Baekhyun berhenti mleenguh, matanya terbuka lebar.
"JONGIN OI BANGUN OI SI KUPRET DUO ADA DI DALEM!"
"BANGSAT LO BAEKHYUN!"
Yang berteriak adalah Chanyeol.
Kuping Baekhyun layu, tertutup dan jatuh ke atas kepalanya.
Yixing menggeram marah.
"CHANYEOL!"
"TAI LO YIXING, MATI AJA KALIAN!" Jongin dan Yifan cepat berada di belakang si harimau putih yang mengamuk, dan menahan lengannya. "MATI KALIAN!"
Chanyeol mengaum, menyingkirkan dua bajingan yang menahannya dan meraih Baekhyun—begitu kasar, hingga kuku-kukunya menancap dan meninggalkan bekas pada kulit kucing itu.
"NYAAAA!"
Chanyeol memberi hantaman keras pada wajah Yixing hingga ia terlempar ke sisi ruangan. Lalu mengurung Baekhyun di bawahnya, mencengkeram erat paha Baekhyun yang tebal, dan melepas celananya sendiri
"Kenapa Yixing, ha? Kenapa Yixing?!"
Jeritan Baekhyun berubah jadi desah-desah menja ketika Chanyeol menggesekkan penis mereka berdua.
"Aku lebih baik dari Yixing, sayang... Aku seribu kali lebih baik dari dia." Chanyeol mendesis geram, memberi cupang-cupang biru kehitaman pada leher Baekhyun sampai ia mengerang kesakitan. "Aku lebih kuat. Lebih tampan. Aku lebih besar. Aku bisa muasin kamu, sayang, lebih baik dari dia!"
Jongin dan Yifannya nampaknya ikut tegang. Melihat bagaimana Chanyeol begitu bernafsu untuk mengawini anak itu—keduanya terbelalak.
"Aku bisa beri kamu anak yang banyak! Aku udah cinta sama kamu dari lama!" Chanyeol meraung marah, mencakar sprei di samping kepala Baekhyun sampai robek menjadi tiga, membuat kucing itu memekik mau. "Baekhyun! Baekhyun, dengar aku?!"
"Minggir, Chanyeol!"
Itu suara Junmyeon, yang horor melihat Chanyeol sudah memompa penisnya dan memasukkan ujungnya yang tidak bersunat ke lubang basah Baekhyun
"Aaah~" si kucing merengek, memompa tubuhnya ke bawah, minta lebih. "Aaaw... unggg... Xiiiiing~!"
Yixing yang pertama bergerak, memiting tubuhnya, menjauhkannya paksa dari Baekhyun dan membantingnya ke lantai.
"Lo yang minggir, bajingan!" raung si jaguar.
"Baekhyun!" Chanyeol membentak. "Lo bakal nyesel kalau ga milih gue, denger?!
Kucing itu kakinya menendang-nendang, berguling-guling payah menginginkan sentuhan dominan seperti sebelumnya.
"Chanyeol!" jerit Junmyeon frustasi.
"BAEKHYUN!" Chanyeol tak bisa berbuat apa-apa saat kali ini tiga dominan yang menyeretnya keluar. "SIAPAPUN ITU YANG NGEKLAIM LO SELAIN GUE—BAKAL GUE BUNUH! DENGER LO?! GUE BUNUH!"
Baekhyun menangis. Meremas sprei erat-erat sementara duburnya berkedut panas.
Dominannya...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Gue mau pergi."
"Kemana?"
"Gue mau cari Jongdae-hyung sama Minseok-hyung."
"Chanyeol—"
"Gue pergi."
Bahkan walau itu Yifan dan Jongin dan Zitao melihatnya sedih—dan Yixing, yang menatapnya tanpa perasaan, Chanyeol tak bisa dihentikan.
Yixing sendiri perasaannya campur aduk. Setelah mereka jauh dari Baekhyun, hormon mereka surut, dan sekarang sudah bisa berpikir jernih lagi.
Hybrid harimau putih itu sudah memanggul tasnya, dan ia menatap tajam pada mereka.
"Yixing," desisnya. "Kalau Baekhyun sampai terluka selama gue ga ada di sini, gue bakal putusin kepala lo."
Jaguar itu mengangguk singkat.
"Kamu nggak pamit ke Baekhyun?" Kyungsoo berbisik sedih. Baekhyun belum pulih setelah insiden tadi siang, dan malam ini Chanyeol sudah berniat akan pergi. Ia tahu ini karena Chanyeol menghindari murka Junmyeon yang sudah ia anggap seperti ibunya. "Kebetulan birahi dia lagi surut..."
"Nggak usah."
Tampaknya si harimau putih masih sakit hati.
Peduli setan soal birahi. Ini perkara posisinya sebagai pasangan yang tak kunjung diakui.
"Kalau Baekhyun tanya gue ke mana, jawab aja Chanyeol mati bunuh diri."
.
.
.
.
[tbc]
[bercanda, ehe]
.:xxx:.
Selagi orang-orang di desa berkumpul untuk mencegah Chanyeol pergi—Baekhyun kabur.
Jangan menyalahkannya. Baekhyun lengket dan bau. Dan kepanasan. Ia ingin mandi. Jadi ia pergi ke danau dekat sungai, dan merendam dirinya di dalam sana.
Cring. Cring. Cring.
"Ah, ah..."
Kecipak.
Dan bermain dengan penis mungilnya.
Tanpa menyadari ada yang telah lama mengintainya.
Sepatu pantofel itu menapak di atas batu, seringainya miring selagi ia mengawasi sosok mungil yang seperti mabuk tengah berendam di danau.
"Ada kucing kecil yang sedang birahi. Malam-malam begini keluar dan mandi, tanpa ada dominannya melindungi," pria bersurai pirang itu terkekeh. "What a lucky man I am, indeed."
"Si... siapa?"
Mata sayu mendongak. Kuping kucing bergerak, mencari arah sumber suara.
"N-Nyaaa..."
Tiba-tiba saja Baekhyun sudah ada di pangkuannya. Kucing itu berada dalam fase terakhir birahinya—dan masih belum ada yang membuahi.
Mungkin orang ini bisa.
"Why are you grinding your damn fine ass up on me, babe?" Orang asing itu terkekeh. "Isn't this sad... this little pussy is desperate for a good fuck. Now, now, why should I let go such fine chance for a great laid?"
"Cium..." Baekhyun menggeliat. "Cium Baekkie, nyaa..."
"So your name is Baekkie?"
Ia mengangguk.
"Ciummm... Baekkie mau Chanyeollieee~"
Chanyeollie?
Ah, ya, tentu saja. Ia tidak lupa.
Submisif yang sedang birahi suka sekali meracau. Dan menyebut nama-nama orang yang ia inginkan jadi dominannya.
Seperti orang mabuk.
"But first, tell me," Ia memiringkan kepala. "Di mana kalian tinggal?"
"Di... di desa... ungg..."
"Desa?" Pria itu menyeringai, memainkan penis mungil Baekhyun dengan kepal tangannya. "Berapa jauh dari tempat ini, sexy?"
"Lima menit... uh, uh, uh... " Hybrid kucing itu melengkungkan badan. "Ke utara... ungg..! Ayooo... nyaaa.. lagiii B-Baekkie lagiii!"
"Utara?" Ia tertawa. "Lalu siapa yang berjaga?"
"Aaah.. nyahh... Yifan... ungg...!" Baekhyun terengah. "Jongin... Taoziii... Yixing... ahh.. Ch-Chanyeollie... iyaah... Chanyeollieeeeh~!"
Lalu tanpa perintah—Baekhyun orgasme. Spermanya muncrat membasahi tangan pria asing itu, dan lendir bening yang harum keluar dari lubang analnya.
"You're so obedient... I would never say no for a loyal pet kitty as you... Be one of my sex toys... yeah... that's great..." Pria asing itu mengusap tangannya pada rumput di sampingnya, lalu mengembalikan Baekhyun semula ke dalam danau. "Somehow I knew lowly hybrids like you are good for nothing but please us, humans..."
Baekhyun berkedip pelan, melihat pria itu dan berusaha mengenalinya.
"I gotta go, honey. Your alpha is there. He's going after me." Ia menyeringai. "We'll meet again."
.
.
.
[tbc] [beneran]
AN:
Habis ini libur bentar yaaa menjelang hari raya nih =)))
Reviewnya, boleh?
