Part 9
"Harry? Sudah pulang? Besok bisa temani Hermione menonton latihanku? Aku masuk tim inti tahun ini!" Itu kalimat antusias Ron yang Harry dengar dari mesin penjawab telepon tadi pagi.
Bagus sekali, pikir Harry.
Ia berharap bisa beristirahat di rumah barang sehari. Tapi sahabatnya butuh dukungan moril dan Harry tidak ingin mengecewakan sahabatnya itu. Sialnya lagi tim inti yang Ron maksud adalah tim inti sepakbola. Yang artinya kemungkinan besar Harry akan bertemu wajah angkuh si Pangeran Malfoy lagi.
Harry hanys sungguh-sungguh berdoa agar Draco terlalu lelah untuk datang latihan hari ini.
"Harry!"Hermione berpenampilan sedikit lebih rai dari biasanya. Ia menggelung rambutnya dan menggunakan topi putih yang kelihatan sporty berpadu dengan kaus putih berlengan pendek dan celana jins biru laut yang manis. Terlihat terlalu cantik untuk sekedar pergi menonton latihan tim ekskul sepakbola sekolah. Terlebih karna ia pergi bersama Harry yang datang dengan kaus bergambar Neil Amstrong dan sebuah kalimat terkenal dari astronaut itu- That's one small step for man, one giant leap for mankind. Dipadu celana khaki yang kedodoran dan rambut yang lupa ia sisir. Bayangkanlah sendiri betapa berantakannya Harry pagi itu.
"Kamu terlambat!" sampai di dekat gadis itu Hermione langsung menyemprotnya.
"Maaf, Aku baru sampai rumah jam 8 malam dan baru tahu soal rencana latihan tadi pagi saat ibu mengecek mesin penjawab telepon.."Harry biasanya tidak suka berbohong, karna dia memang tidak pandai soal hal itu. Tapi kali ini ia berbohong soal satu hal, ia sampai rumah jam setengah 5 sore. Tapi kemudian terlalu lelah untuk sekedar mengangkat tubuhnya dari ranjang dan terlelap sampai ibunya pulang dari kantor jam 8 malam.
Hermione menatap Harry lekat beberapa detik, lalu mengangkat bahu," Sinyal di kota kakekmu jelek sekali ya? Kami mengirimimu sms berkali-kali, bahkan Ron berani mengorbankan tagihan teleponnya untuk menelponmu. Tapi sama sekali tidak ada respon."sebenarnya Harry mematikan ponselnya. Entah kenapa. Mungkin karna ia merasa harus melakukan itu. Memutuskan hubungannya untuk beberapa saat dengan dunia luar. Dunia di luar dirinya dan kota kecil Kakeknya.
Dan Draco, tentu saja.
"Tidak. Aku lupa membawa charger."Harry terkekeh meminta pemakluman, dia berbohong lagi. Sepertinya Harry semakin pandai.
Hermione memukul kepala pemuda itu dengan buku kecil dalam genggamannya."Ceroboh!" gadis cantik itu mendengus.
Harry Cuma memamerkan cengiran andalannya. "Kamu tetap membawa bacaan ke latihan sepakbola?" Harry memandangi heran buku di tangan Hermione.
"Ini?" Harry memabaca sampulnya,'Panduan Peraturan Permainan Sepakbola FIFA'. "Aku sudah pernah membaca beberapa buku. Tapi tidak pernah benar-benar melihat praktek langsung. Jadi kurasa aku harus sedikit membandingkan referensi terbaik yang aku punya dengan fakta di lapangan."Harry mengernyit. Hermione terlihat lebih antusias soal ini ketimbang ide soal menyemangati pacarnya.
"Terserah.."Harry menyodorkan sebotol pepsi dingin pada Hermione. Gadis itu melirik bungkusan plastik putih yang ditenteng Harry.
"Trik lama. Mau menyuapku soal keterlambatanmu?" Hermione tersenyum riang berbanding terbalik dengan nada menyindirnya. Tapi ia mengambil juga botol itu.
Mereka berjalan masuk ke lapangan sekolah. Sambil bergandengan tangan mereka berjalan menuju tempat duduk penonton. Ron dan timnya sudah mulai melakukan pemanasan. Hermione melambai ke arah Ron dan melepaskan begitu saja gandengan tangan Harry. Harry tersenyum tenang saja saat Hermione kemudian cemberut tidak mendapat lamabaian balasan dari Ron. Terang saja karna Ron sedang sibuk menyelsaikan putaran lapangan yang kesepuluh.
"3 menit 12 detik! Lebih cepat lagi Ronald Weasley!"catatan waktu Ron di putaran terakhir sepertinya tidak terlalu bagus.
"Duduk dulu!"Harry menarik lengan Hermione untuk menuju bangku yang lebih atas. Mereka duduk di barisan ketiga teratas.
"Dia serius sekali soal ini."Hermione membuka pembicaraan begitu keduanya sudah menyamankan posisi duduk.
"Sepakbola?"
"Mhmm.."Hermione menggumam mengiyakan lalu membuka botol pepsinya dan meminum beberapa teguk." Kamu tahu? Dia bahkan sudah mulai membicarakan universitas yang bisa memberikan beasiswa prestasi untuk bidang sepakbola."
"Sejauh itu?"Harry membuka sebotol lain, pepsi juga.
Hermione mulai membuka lembar-lembar awal bukunya,"Yah.. Semester depan kita sudah akan kelas 3 lagipula.."
Lalu mereka terdiam. Hermione sudah sibuk dengan kalimat-kalimat dalam bukunya, sementara Harry berusaha fokus pada rangkaian latihan yang sedang dijalani Ron. Setidaknya ada 30 pemain yang sedang berlatih, Harry malas menghitungnya dengan teliti. Latihan kali ini, Harry tidak melihat pelatih tim sepakbola Hogwarts. Tapi ia melihat ada beberapa senior angkatan yang telah lulus tahun ini memantau jalannya latihan.
"Draco!" "Draco!" "Draco!"
Hermione dan Harry mau tidak mau mengalihkan perhatian mereka pada sekelompok gadis yang dipimpin oleh Pansy Parkinson.
"Gadis-gadis penghibur.."Bisa dibilang mereka cheerleader tidak resmi klub sepakbola. Meskipun Harry tidak yakin sejak kapan sepakbola membutuhkan cheerleader. Yang jelas kehadiran mereka mempertegas seberapa jauh perbedaan anatara Draco dan Harry.
Harry adalah pemuda lusuh yang duduk di bangku penonton untuk menyemangati sahabat karibnya yang akhirnya masuk tim inti di tahun terakhir masa highschool mereka. Sedangkan Draco.. Apa harus diperjelas? Sepertinya tidak perlu.
"Mereka memilih kapten hari inikan?" Harry berbalik kembali melihat ke lapangan. Hermione kembali menurunkan bukunya karna Harry mengajaknya bicara.
"Ya."Lalu Hermione kembali membicarakan Ron dan rencana kuliah yang sedang disusunnya bersama Hermione. Harry tidak begitu menyimak. Untuk beberapa saat ia melamunkan sebuah tembok teramat tebal yang harus diakuinya, memisahkan dirinya dan Draco. Bahwa Draco yang kini tengah memimpin kawan-kawannya untuk latihan mendribbel bola, bukan Draco yang sembunyi-sembunyi mencium bibirnya kemarin di kereta.
Bahwa Draco yang kini dengan gagah menggunakan seragam kesebelasan Hogwarts, bukan Draco yang 2 hari lalu memakai kostum jagung untuk membantunya menjual produk popcorn.
"Kamu sudah memikirkannya, Harry?"
"Hah?" fokus Harry berbalik pada Hermione. Gadis itu merengut.
"Kutanya, apa kamu sudah memikirkan universitas mana yang akan kamu tuju?"
"Belum" Harry tersenyum tengil meminta pemakluman. Hermione memainkan ekspresi untuk mencibir pemuda itu.
"Hei! Lihat!"Hermione menunjuk ke barisan bangku pemain cadangan, barisan bangku panjang yang berada di pinggir lapangan. Ada Cedric disana tengah mengobrol bersama pelatih klub sepakbola mereka.
"Cedric maksudmu?"tanya Harry.
Hermione menggeleng,"Bukan bodoh!" Hermione mengarahkan kepala Harry agar sedikit naik ke atas. Ke tempat duduk penonton di barisan paling bawah. Ada Cho Chang disana, sedang mengobrol dengan salah satu temannya.
Hermione tersenyum penuh makna,"Hari ini dia terlihat cantik. Kamu masih menyukainya kan?"Harry ingin tertawa, jujur saja. Ia bahkan tidak tahu apa setelah ini masih menyukai perempuan seperti seharusnya? Atau..
Harry menggaruk rambutnya yang sudah sedari tadi acak-acakan,"Apa menurutmu aku punya kesempatan?"
Hermione memasang tampang berfikir yang serius. Kemudian menggendikan bahu.
"Waktu itu Aku dan Ron tidak sengaja memergoki Dia dan Cedric bertengkar di toko es krim. Kurasa Dia masih berharap untuk tetap bersama pemuda itu."
Harry menatap sahabat perempuannya kali ini dengan lebih serius,"Kamu jelas-jelas sedang tidak mengatakan aku punya peluang bagus."
Hermione terkekeh,"Setidaknya bukan tidak punya peluang sama sekali."
"Waaaaaah~!"tanpa keduanya sadari sesi latihan sudah berganti. Kali ini mereka sedang berlatih tendangan satu-persatu pemain. Ron yang bertugas menjaga gawang baru saja menyelamatkan gawangnya dari tendangan keras Blaise Zabini.
"Ayo Ron!"Hermione mendadak melupakan bacaannya dan jadi ikut riuh dengan sorak-sorai suara setiap kali Ron berhasil menyelamatkan gawangnya.
"Wah! Lawan si Ferret!" untuk beberapa alasan tertentu Hermione terlihat lebih antusias dari tendangan-tendangan sebelumnya. Harry juga menahan nafas detik itu saat Draco menendang bolanya.
"Goal!"Hermione mendesah kecewa, Harry menyembunyikan senyum tipis di wajahnya.
"Tidak terelakan. Draco berhasil menipu Ron dan menendang ke arah sebaliknya dari yang Ron duga.."
"Kamu kelihatan lumayan sebagai pengamat"Hermione berkomentar pada komentar Harry.
"Jika seseorang ingin mengetahui ke arah mana seorang penendang akan menendang bolanya, lihat ke arah mana kaki kanannya mengarah ketika ia meletakan bola.. yah atau kaki kirinya jika pemain itu kidal."
"Waw!"Hermione nampak terkesan. "Biasanya kamu kelihatan tidak tertarik soal sepakbola, kenapa kamu tidak mencoba masuk klub?"Hermione memberi saran.
"Aku tidak berbakat soal olahraga. Terima kasih sudah bertanya."Harry dan nada skeptisnya. Hermione tertawa riang mendengarnya.
Sementara Harry menghabiskan tegukan-tegukan terakhir di botol pepsinya. Hermione kembali bicara,"kamu tidak akan terlalu buruk jika mencoba. Ayahmu atlet andalan tim sepakbola Hogwarts pada zamannya.."
"Dan juga tim basket."Harry menambahkan sambil mendengus. Mengerikan sekali , tapi Harry sama sekali tidak mewarisi satupun bakat olahraga Ayahnya.
"Coba Lihat!" Hermione menyikut Harry. Pandangan pemuda berkcamata bulat itu bergulir ke pinggir lapangan. Para pemain kini membuat 2 barisan rapi. Pelatih dan Cedric-mantan kapten tim sepakbola Hogwatrs tahun lalu berdiri berdampingan di hadapan mereka.
"Mereka akan memilih kapten sekarang?"
"Menyebalkan sekali.."Hermione mendengus ke arah lapangan.
"Kenapa?"
"Kita harus mengakui bahwa tidak ada pemain lain yang lebih baik selian Malfoy sombong itu untuk menduduki posisi kapten saat ini."
"Begitukan?"
Harry memperhatikan bahwa sepertinya pengujian telah dilakukan sebelumnya pada setiap calon kapten. Ia memperhatikan bahwa yang memimpin proses pengambilan suara adalah Cedric. Proses pengambilan suara cukup sederhana, kedua calon kapten- yang nantinya juga akan menjabat sebahgai ketua klub- diberi penutup mata. Dua orang itu tahun ini adalah Draco Malfoy dan Oliver dari kelas tetangga Harry. Para anggota klub kemudian diminta berbaris di belakang calon ketua yang mereka pilih. Jadi yang terakhir tahu siapa yang terpilih untuk menjadi kapten.. Ya para si calon kapten sendiri.
Harry mengingat percakapannya dengan Draco, beberapa hari yang lalu, ketika mereka berjalan-jalan di hutan.
Dan ia benar.
"Baiklah! Calon Kapten! Buka penutup mata kalian!" Suara Cedric menggema sampai ke bangku tempat duduk Harry.
"DRACO MALFOY!"ada sorakan dan teriakan, juga riuh tepuk tangan. Ada 23 pemain berdiri di belakang Draco ketika ia berbalik. Hampir ¾ dari keseluruhan jumlah tim.
"Pantas saja dari tadi kuperhatikan lapangan ramai sekali.."Hermione berkomentar soal tiba-tiba saja lapangan itu penuh dengan gempita.
Harry ingin saja bertepuk tangan. Tapi ia merasa berada di bagian lain keramaian. Rasanya ada satu dinding lagi yang mempertebal batasan keduanya.
Draco Malfoy, Kapten Tim Sepakbola Hogwarts.
Draco yang tersenyum senang dan menerima ucapan selamat. Harry merekamnya sebagai bagian lain Draco yang tak akan pernah dimilikinya.
"Sudah tertebak, bahkan Ron ada di belakang barisan si ferret itu.."Harry tidak berbalik pada Hermione atau menjawab kalimat sahabatnya itu.
"Aku.."sebuah gumaman. Harry merasa bahagia, karena pemuda itu bahagia. Tapi ia juga merasa sesak.
Pada detik ketika rasa sesaknya memuncak. Draco berpaling ke tribun, tepat ke arah Harry. Seperti mengonfirmasi keberadaan Harry. Pria itu menatapnya dalam geming selama beberapa detik. Dan tangan Harry bergerak dengan sendirinya, bertepuk tangan.
Detik ketika Harry tersenyum tipis ke arahnya. Draco justru buru-buru berbalik, menerima pelukan dari Daphne, sahabatnya.
"Kamu ingin turun dan menyelamatinya?"Hermione bertanya usil.
"Tidak. Ayo cari makanan! Aku lapar!"Hermione mengernyit bingung. Namun begitu, ia mengikuti langkah Harry berjalan keluar dari tribun penonton dengan terburu-buru. Sekilas ia menangkap moment Cho Chang yang turun dari tribunnya dan menghampiri Cedric. Mereka berpelukan selama beberapa menit.
Mungkin Harry cemburu, pikir Hermione.
Jadi, ia tidak bertanya apa-apa. Tapi ia tahu Harry merasa tidak nyaman.
"Harry! Ada telepon!" Lily memanggilnya dari tangga bawah dengan teriakan yang lumayan kencang.
Harry sedang berguling-guling dan membaca ulang ensiklopedia mengenai atom untuk menghilangkan kegundahannya ketika itu. "Ya, Mum.." Ini baru jam 9 malam dan Harry berharap segara bisa mengantuk. Ia ingin berhenti memikirkan kejadian hari ini di lapangan bola.
Atau kejadian-kejadian lain yang berkaitan dengan Draco.
Harry menuruni tangga sambil bertanya-tanya dalam hati. Aneh sekali. Telepon rumah, jika bukan tagihan kartu kredit biasanya hanya berdering untuk menawarkan jasa asuransi. Atau teman-teman ibunya di gereja yang terlalu tua untuk menggunakan telepon genggam.
Tidak pernah ada telepon untuknya melalui telepon rumah.
"Potter?"pemuda berkacamata itu merasa familiar dengan suara riang di sebrang telepon. "Aku tadinya ingin menanyakan pada Ron soal nomor handphonemu tapi kalian keburu pulang tadi.."Ada suara lega di ujung sana. Harry makin dibuat tidak mengerti.
Harry merasa tidak sopan, tapi akhirnya ia bertanya juga dengan siapa ia bicara sekarang."Maaf, ini dengan siapa?"
"Ah!"suara di sebrang sana seakan baru tersadar. "Ini Diggory. Cedric Diggory."
Mata Harry membulat. Itu jelas bukan nama yang ia duga-duga akan menelponnya saat ini,"Ouh.. Ya. Ada apa?" Harry berusaha menjernihkan suaranya yang terkesan ogah-ogahan barusan.
"Hmm.. begini.."penelponnya nampak berfikir beberapa detik untuk menyampaikan sebuah informasi. "Senin depan kamu tidak ada acara? Panitia Olimpiade Fisika London tahun ini akan menjadikan Hogwarts tuan rumah. Kita diundang untuk acara pembukaan tahun ini. Kamu bisa datang?"
"Tentu. Kenapa tidak? Hari senin minggu depan kan?" Harry terdiam sejenak. "Sebentar.. Bukannya senin depan juga pembukaan Hogwarts League?"
"Ya, kurasa panitia memang sengaja menyatukan dua acara itu."
"Hogwarts sibuk sekali tahun ini.."Harry berkomentar. "Ini acara formal?"
"Ya, kalau bisa pakai tuxedo. Atau kalau tidak kemeja biasa saja. Mau berangkat bersama?"
Harry selalu suka cara hangat pria ini bicara pada setiap orang. Itu sebabnya ketika ia tahu Cho Chang gadis yang ditaksirnya berpacaran dengan pemuda ini. Ia nyaris sama sekali tidak keberatan. Gadis itu berada di tangan yang baik, pikirnya saat itu. Dia hangat, baik pada setiap orang, dan cerdas. Harry sedikit bingung ketika kemudian mereka putus. Meskipun ia senang juga.
Tidak tahu juga untuk apa, sebenarnya. Toh dengan Cedric tidak lagi jadian dengan Chochang pun, Harry tidak pernah cukup berani mendekati gadis itu.
"Kurasa tidak masalah. Jam berapa acaranya?"
"Ini semacam pesta penyambutan bagi peserta.. Kurasa sebaiknya kita datang lebih awal, sekitar jam 7 malam? Aku jemput kamu jam 6, bagaimana?"
"Tidak perlu. Kita bisa janjian di stasiun dan naik kereta bawah tanah saja."
"Hey! Jangan begitu. Aku punya kendaraan, kenapa tidak dimanfaatkan?"Harry tidak yakin begaimana tapi terkadang pria ini terlalu baik kepada semua orang.
Dia memang pernah sedikit sinis pada Harry ketika semua orang percaya bahwa Harry telah curang agar dapat bisa mengikuti olimpiade fisika yang dilaksanakan hanya 2 tahun sekali itu. Tapi kemudian mereka jadi berteman cukup akrab dan bekerja sama untuk membawa nama baik sekolah mereka.
Sialnya, bagaimana ya mengatakannya, Harry seringkali salah tingkah dengan kebaikan Cedric. Terkadang pemuda ini memperlakukannya terlalu manis seperti pada seorang gadis. Dan ide untuk menjemput ke rumah dengan mobil, apa ya? Rasanya seperti anak gadis yang dijemput untuk kencan pertamanya? Ya, semacam itulah.
"Potter? Harry?!"
Sial! Dia melamun,"Ya?"
Ada tawa kikuk Cedric yang menggema kemudian,"Kamu tahu? Aku menelpon ke nomor ponselmu sejak seminggu kemarin tapi handphonemu terus menerus tidak aktif. Kamu ganti nomor?"
"Ah.. Tidak. Seminggu lalu aku menginap di tempat Kakekku dan lupa membawa charger."
"Ceroboh sekali.."Harry ikut tertawa mendengar tawa Cedric yang terdengar renyah di ujung sana.
"Masalahnya begini... Panitia Olimpiade memintamu untuk memberikan pidato singkat, kamu tahu? Semacam sambutan sebagai juara pertama periode sebelumnya. Dan karena sejak beberapa hari lalu Kamu tidak bisa dihubungi, mereka menghubungiku untuk menggantikanmu sebagai juara 2. Tapi kubilang biar aku coba dulu menghubungimu. Dan karna kamu sudah bisa dihubungi sebaiknya sesuai rencana awal, kamu yang memberi pidato."
"Tungu dulu.." suara Harry mendadak panik. "Pidato singkat? Maksudnya?"
"Semacam sambutan dan beberapa penggal kata mutiara dari sang juara untuk menyemangati peserta lomba tahun ini."Cedric terdengar tenang-tenang saja di ujung telephon sana.
Ah! Sial! Sekarang Harry menyesal mengangkat teleponnya.
Berbicara 4 mata dengan seseorang saja sering jadi pekerjaan berat buat Harry. Apalagi jika ia harus berbicara di depan ratusan pasang mata. Cedric benar-benar menjebaknya.
"Uhmm.. baiklah. Kurasa kuhubungi lagi nanti. Tapi nomormu tidak ganti kan? Nanti aku hubungi ke ponselmu oke? Bye.."
"Bye.." harry menjawab lemah. Pengalamannya berbicara di depan banyak orang adalah ketika babak cerdas cermat olimpiade fisika tahun lalu, ketika ia harus menjelaskan sebuah jawaban dari soal fisika. Tidak ada maslaah soal itu karena Harry hanya perlu menjelaskan angka-angka dan teori. Tapi berpidato jelas urusan lain.
Selebihnya, 16 tahun hidup Harry dihabiskan dnegan berusaha keras untuk menghindari sebisa mungkin berbicara di depan banyak orang. Harry tidak ingin memperalukan dirinya di depan orang banyak.
"Kenapa?"Mommynya berbalim sambil membawa kue jahe yang baru dipanggangnya ketika mendengar langkah gusar anaknya. Ia menatapi anaknya yang murung, terduduk di meja dapur.
"Senin depan.."Harry ragu memulai kalimatnya. Mata hijau ibunya menatapnya ingin tahu. Harry mendesah. "Aku tahu, Mom sangat pandai berbicara di depan umum. Tapi pasti ada waktu pertama kali Mom melakukan itu kan? Bagaimana Mom mengatasinya?"
Lilly tersenyum,"Ada 2 langkah mudah melakukannya."
Harry memperhatikan dengans eksama bagaimana Ibunya melepas apronnya denga gerakan gesit yang nampak anggun. " Pertama, Kamu harus mempersiapkan segalanya. Yang utama, tentu saja, Kamu harus mempersiapakan apa yang akan kamu ucapkan, teks pidatomu adalah hal yang sangat krusial. Ketiak membuat teks pidato, perhatikan audiens seperti apa yang akan mendengarkanmu, tema cara, dan lain-lain. Lalu kita bergeser ke penampilanmu dan melatih kemampuan bicaramu."
"Mom, membuat berbagai macam persiapan itu terdnegar mudah sekali.." Harry sambil merengut, mencomot sepotong kue jahe lalu mengunyahnya dengan berisik. Sambil cemberut ia membalas tatapan mengancam ibunya, baru mulai mengunyah makanan itu dengan lebih beradab.
Harry menunjukan tangannya pada Momnya,"Tanganku bersih kok.."
Wanita itu lalu mengambil kursi lain lalu duduk di hadapan Harry, berhadapan dengan putar semata wayangnya. Ia mengusap rambut pemuda itu sayang.
"Lalu tips yang kedua,Mom?"Harry entah mengapa merasa asing dengan sentuhan sayang itu. Jadi ia membelokan kembali ke topik sebelumnya.
"Yang kedua? Lepaskan saja!"
Dahi Harry mengernyit. "Kenyataannya bahwa kamu menyiapkan segalanya sebaik mungkin memang tidak akan membantu kegugupanmu untuk hilang begitu saja. Jadi, ketika pertama kali berbicara di depan umum, Mom memilih 'Masa bodoh!'.. Toh.. kalau pun Mom melakukan kesalahan atau sesuatu yang memalukan, mereka yang mendengarnya akan melupakannya begitu saja dalam beberapa minggu. Tidak akan lama."
Lilly mengangguk meyakinkan, Harry tersenyum pada anggukan itu.
"Thank's Mom" ujarnya sambil menuju tangannya ke potongan kue berikutnya. Tapi sebelum ia mencapai loyang, Ibunya sudah terlanjur menangkap pergelangan tangannya terlebih dahulu.
"Cuci Tangan!"perintah ibunya penuh penekanan.
Harry terkekeh lalu bangkit menuju wastafel. Sambil mengalirkan air, ia berfikir bahwa mungkin tidak buruk juga ia coba. Setidaknya segala persiapan soal pidato ini akan membuatnya seibuk untuk beberapa saat.
Dengan kesibukan itu ia akan lebih mudah melupakan soal Draco. Dan segala kenangannya.
Harry nyaris tidak habis pikir, bisa-bisanya ia dipaksa Hermione untuk datang menemaninya menonton latihan sepakbola. Dan Ron jelas-jelas mengingatkan bahwa sebagai sahabat sudah selayaknya Harry datang untuk menyemangati. Tidak tahu saja mereka kalau Harry sedang menghindari seseorang... Yah.. Kau-tahu siapa. Dan orang itu kapten tim sepakbola, lalu bagaimana bisa ia menghindarinya jika selalu harus datang ke latihannya?
"Mendadak sekali? Kamu juga sih.. pakai ketinggalan charger segala? Repot sendiri kan jadinya?"Harry manyun saja mendengar komentar Hermione soal berlembar-lembar naskah pidato yang kini sedang disusun dan dicoret-coret olehnya.
Hermione kembali fokus memperhatikan Ron dan kawan-kawannya yang sedang melakukan latih tanding satu sama lain. Draco dan Ron yang satu tim sedang unggul 2-1 dari tim satunya. Karena ini persiapan untuk Liga Hogwarts, latihan diadakan cukup intensif hampir setiap hari. Hanya kemarin saja yang libur, kata Ron sih mereka pergi makan bersama untuk merayakan terpilihnya kapten baru. Giliran makan-makan saja, baru Harry tidak diajak.
"Menyebalkan.."Harry frustasi melihat hasil kerjanya sejauh ini. Belum ada kemajuan. Jangankan mulai berlatih, naskah saja dirombaknya terus berulang kali. Sementara waktu Harry tinggal 3 hari lagi.
"Ouh! Mereka istirahat! Ayo temui Ron!"Hermione menarik Harry begitu saja sebelum pemuda itu siap. Beberapa kertas naskahnya berterbangan ke berbagai arah. Untungnya mereka tidak duduk terlalu atas kali ini.
"Mione!"gadis itu Cuma membentuk lambang victory dengan jarinya.
"Aku panggil Ron dulu ya!"Harry ditinggalkan sendirian dengan tumpukan kertas-kertasnya yang berhamburan di tanah.
"Sedang belajar apa, Potterhead?!"Harry hapal sekali suara itu. Dengan malas ia berbalik. Menemukan badan gempal Crabe dan Goyle di hadapannya bukan pertanda baik.
Crabe memungut salah satu kertas Harry,"Fisika? Cih! Dasar sok pintar!" remaja gempal itu menjatuhkan lagi kertas-kertas itu ke tanah, lalu menginjak-injak tulisan berharga Harry yang sudah ia pikirkan susah-susah selama dua hari dua malam.
"Marah, Potter?"Harry menggeram. Tapi ia menahan dirinya untuk tidak balas menyerang. Dia bisa memperhitungkan apa akibatnya jika melawan dua remaja berbadan bongsor ini sendirian.
"Hey! Jangan ganggu Harry!" Ron datang bersama Hermione sambil berlari. Ia masih mengenakan sarung tangan kipernya, sepertinay terburu-buru mendatangi Harry.
"Mau jadi sok pahlawan, Weasel.."nada mengejek Goyle membuat Ron murka dan sudah hendak melayangkan tinjuannya.
"Crabe! Goyle!" sebuah suara angkuh datang dari balik dua tubuh gempal Crabe dan Goyle.
"Apa maumu, Malfoy?!"kali ini Hermione yang mencibir kedatangan sang pewaris Malfoy itu.
Draco memandang melecehkan pada ketiga sahabat itu, sementara Harry berusaha untuk tidak perduli. "Aku tidak ada urusan dengan kalian bertiga!"Draco berbalik congkak, menatap Crabe dan Goyle dengan tatapan memerintah. Membelakangi ketiga orang itu seakan mereka tidak ada disana.
"Bukankah kalian tadi ku tugaskan untuk membawakan bola baru dari gudang perlengkapan?"
Nada mengancam itu membuat Goyle langsung menciut, sementara Crabe terlihat kebingungan.
"Bukannya tadi—" Crabe mencoba membantah.
"Cepat pergi!"keduanya mengangguk patuh dan pergi dari hadapan mereka.
"Cih! Senang sekali kau memerintah orang?!Come on, Harry!"Hermione pergi lebih dulu dari sana disusul langkah berderap Ron yang menyusulnya sambil memandangi kaptennya tajam.
Hermione sudah mengenal Draco sejak Junior Highschool , dan sejak dulu sampai sekarang Draco tidak pernah absen menghinanya di setiap kesempatan, karena ayah Hermione adalah seorang keturunan Irlandia sementara Ibu Hermione adalah orang Amerika. Meski begitu Hermione lahir di Inggris dan ia merasa sebagai orang Inggris, tapi bagi Draco malfoy yang keturunan bangsawan Inggris ia tidak suka melihat seorang yang bukan keturunan Inggris asli bertingkah selayaknya orang Inggris.
Harry pernah mendengar berbagai sebutan jahat dari Draco untuk Hermione. Jadi ia paham jika gadis itu sangat membenci Draco.
"Kau sedang menyusun sesuatu ?"Harry terkesiap. Beberapa saat lamunannya membuatnya lupa jika ia kini berdiri berhadapan sendirian dengan Draco.
Ini konfrontasi pertama mereka, sejak mereka berpisah di stasiun kereta.
"Bukan urusanmu.."Harry meraih kertas yang tadi sudah diinjak oleh Crabe.
"Ya, memang bukan urusanku.."ada nada marah yang menukik pada kalimat Pangeran Malfoy itu barusan saja, sebelum kemudian ia berjalan pergi meninggalkan Harry. Begitu saja.
Harry memberanikan diri memandangi siluet pria itu yang menjauh. Siluet seorang musuh bebuyutan yang sempat menjadi teman temporalnya, kemudian menjadi sahabat yang dicintainya. "Punggung yang aneh.."Harry bergumam pelan. Matanya memerih, ada kaca-kaca yang hampir pecah di sudutnya. Tapi Harry menahannya sebelum sampai terjatuh.
"Hei!"detik itu punggung Harry yang terbiasa sedikit membungkuk, mendadak menegak .
"Diggory? Sedang apa disini?"
Pemuda cemerlang itu tersenyum ramah pada Harry,"Cedric saja.. Aneh sekali dipanggil begitu." Pemuda itu memperhatikan wajah Harry yang nampak kusam oleh kesedihan, untuk sesaat.
Tapi ia tidak bertanya, ia kemudian menjawab pertanyaan Harry yang belum dijawabnya"Mengawasi latihan tim sepakbola.." lalu dia tertawa sendiri tidak lama kemudian. "Sebenarnya, sedang bosan belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi. Jadi kupikir menengok Hogwarts akan sedikit menyegarkan otak." Cedric memperhatikan kertas-kertas di tangan Harry. "Pidatomu?"
Harry mengangguk,"Aku mau ke kafetaria. Sepertinya tadi Ron dan Hermione pergi kesana.. Ikut?"
"Sepertinya?"
"Tadi mereka pergi duluan.."Harry Cuma nyengir kuda.
Lalu keduanya berjalan berdampingan menuju kafetaria. Sesekali Cedric merangkul pundak Harry seperti sahabat dekat. Lalu mereka tertawa dengan cerita-cerita konyol yang dijadikan Cedric sebagai pemancing obrolan. Begitulah keduanya berlalu dari lapangan.
Tanpa menyadari seseorang memandangi keduanya dengan kemurkaan aneh yang tidak dimengerti logikanya. "Diggory.."
Perpustakaan Hogwarts terlihat sepi di musim liburan begini, sebenarnya memang perpustakaan tidak pernah penuh-penuh amat. Paling lumayan ramai ketika musim ujian tiba. Tapi buku-buku disini sudah lama kalah pamor dengan buku-buku dan artikel gratis yang bisa didownload di internet dengan mudah saat ini. Padahal perpustakaan ini adalah perpustakaan kedua terlengkap-menurut rumor- setelah perpustakaan London. Sayang sekali minat membaca buku-yang benar-benar buku- remaja Inggris mulai menurun akhir-akhir ini. Mungkin di seluruh dunia ini.
"Selamat Malam Para Hadirin."Cedric dan Hermione menahan tawa melihat tampang kaku Harry saat memulai latihan pembacaan pidatonya yang sudah ke sekian kalinya sepanjang hari ini.
"Ah! Ini menyebalkan!"untungnya petugas jaga perpustakaan sedang pergi keluar. Jadi, tidak ada yang memprotes suara berisik keluhan Harry barusan.
Hermione meledak tawanya,"Wajahmu itu Harry.. Senyummu jangan dipaksakan begitu! Kaku sekali tahu!"
"Tenanglah.. Rileks! Kamu Cuma akan membaca pidato singkat 4 paragraf! Jangan dibuat tegang!"Cedric berusaha memberikan semangat, meskipun harus diakuinya kalau Harry sama sekali tidak berbakat soal ini.
"Bagaimana ini? Acaranya besok malam!"Harry berputar-putar. Uring-uringan sendiri sejak kemarin. Cedric sengaja bolos dari les privatnya untuk menemani Harry berlatih. Dalam waktu singkat ia sudah akrab dengan Hermione, kalau dengan Ron sih.. mereka berdua memang sudah lama kenal karena Ayah Cedric berteman cukup akrab dengan Mr. Weasley.
"Ron, tumben belum datang ya?"Hermione menatap ke jendela besar di ujung perpustakaan. Jendela berhias kaca pastri itu akan bersinar jingga jika sudah menjelang senja. Pemandangan yang menyenangkan untuk dilihat berdua dengan seseorang yang special. Sayangnya di hari-hari biasa perpustakaan tutup jam 4 sore. Kebetulan saja sedang liburan dan perpustakaan sedang merapikan koleksi buku baru mereka, jadi Harry dan teman-temannya bisa bertahan sampai jam 6 sore.
Cedric menengok jam tangannya,"Harusnya sih latihan sudah beres. Masih mandi mungkin."Mata biru pemuda berambut coklat madu itu mengonfirmasi waktu yang ditunjukan warna senja di jendela besar itu.
"Aku cari Ron dulu deh!"Hermione nampak khawatir dan pergi begitu saja. Untungnya dia sempat membawa hendphonenya.
"Mereka benar-benar saling jatuh cinta ya?"lelaki yang lebih tua berujar sambil mengawal langkah berderap Hermione ke luar perpustakaan.
"Hah?!"Harry menanggapi tatapan manis Cedric dengan ekspresi stres berat. Dan mulut ternganga yang menyebalkan sekali untuk dilihat. Untuk beberapa detik Cedric akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa melihat ekspresi itu.
"Mau kamu apakan lagi? Itu sudah bagus!"Cedric merebut kertas yang Harry sedang corat-coret lagi saat ini. "Santai sedikit! Kalau stres begitu mana bisa kamu konsentrasi nanti!"
Harry manyun,"Gampang buatmu! Sudah! Kamu saja yang pidato besok!"Harry mengacak rambutnya yang nampak 3 kali lipat lebih berantakan dari biasanya.
"Apa sih?! Marah?"Cedric kaget sendiri dibentak seperti barusan oleh Harry.
Pemuda berambut coklat madu itu berdiri kemudian duduk di sebelah Harry yang kini duduk di lekukan jendela dengan wajah ditekuk. Cedric tersenyum geli pada wajah frustasi pemuda berkacamata itu. mereka kini berada jauh di meja terujung perputakaan. Perpustakaan itu cukup luas, berada di lantai teratas gedung tua sekolah Hogwarts. banyak buku-buku langka yang disimpan disini. Konon.. dulunya gedung ini adalah sebuah gereja besar, perpustakaan ini adalah salah satu bagian yang tidak dirubah sema sekali dari gedung ini.
Cedric mencubit pelan pipi Harry sambil berkata usil,"Duh! Ganteng deh kalau ngambek!" Harry Cuma menambah kadar kemonyongan bibirnya. Lalu turun dari lekukan jendela itu dan merapikan kertas-kertas naskah pidatonya yang lain.
Pemuda yang lebih tua ikut turun dari sana dan membantu Harry mengumpulkan kertas-kertas itu,"Itu Cuma pidato 5 menit. Kamu tidak akan terbunuh karena salah bicara di atas panggung."
"Bagaimana kabar Chochang?"pertanyaan Harry yang tidak diterka sebelumnya oleh Cedric. Sebenarnya Harry sedang mumet untuk mendengar nasihat lain yang tidak membantu menghilangkan kegugupannya. Jadi, ia berusaha membuka topik pembicaraan lain.
"Kurasa baik. Kemarin Dia mengirimiku pesan singkat, katanya hari ini ia akan pergi ke London Eye bersama teman-temannya."
"Pasti di sms itu dia mengajakmu juga..?"
Mata Cedric membulat dengan tebakan Harry,"Ya.. begitulah."
Harry mengembangkan senyum simpul,"Kenapa tidak ikut?"
Cedric tidak mungkin bilang pada Harry kalau ia, entah kenapa, setidaknya untuk saat ini lebih merasa nyaman berada di dekat Harry. Cedric menyatukan terlebih dahulu tumpukan kertas yang ada di tangannya dan di tangan Harry. Membiarkan pemuda itu menunggu.
"Kurasa aku lebih nyaman berada di Hogwarts.."akhirnya ia menemukan jawaban, yang meskipun terdengar konyol, masih lebih baik daripada mengatakan alasan yang sebenarnya.
Harry mengambil sebuah kursi dari meja tempat diskusi itu, menariknya ke dekat lekukan jendela yang sebelumnya dia duduki. Ia duduk di lekukan jendela itu sambil berselonjor kaki,"Kalau sedang malas. Dan Hermione dan Ron sibuk sendiri dengan urusannya aku sering diam di sudut perpustakaan ini, seperti ini."
"Mr. Flinch tidak keberatan?"Cedric menyeret bangku lainnya dan melakukan pose yang sama seperti Harry.
Harry mengendikan bahu,"Kenapa kalian putus sih?"
Ada nada memprotes dari kalimat itu. Cedric membiarkan kernyitan mengalur di wajah ramahnya."Mungkin memang sudah waktunya saja."
"Jawaban menyebalkan.."Harry berkomentar sambil menutup kedua kelopak matanya. Lalu menambahkan,"Padahal kalian pasangan yang serasi."
Cedric terdiam. "Menurutmu pasangan serasi itu seperti apa memangnya?"
Harry menegakkan duduknya, masih dalam keadaan menutup mata ia menjawab,"serasi itu jika pasangannya laki-laki dan perempuan."
Cedric terkekeh dengan jawaban sederhana Harry,"Kamu itu memang unik ya? Memangnya selain itu tidak ada spesifikasi lain?"
"Yang mau jadi mahasiswa, bahasanya.. spesifikasi.."Harry menyindir pemilihan kata Cedric. Yang disindir Cuma terkikik ritmis.
Harry mendesah, lalu meneruskan kalimatnya,"Menurutku, selama itu pria dan wanita dunia seharusnya tidak perlu banyak memprotes. Toh, dunia sudah sibuk menentang pasangan yang sesama pria atau sesama wanita kan?"
Untuk beberapa saat Cedric justru dibuat bertanya-tanya dengan pertanyaan retoris Harry. Kenapa pemuda yang kelihatan sederhana ini sepertinya memikirkan hal-hal yang sangat rumit di dalam kepalanya?
"Apa kau merasa dunia ini tidak adil?"Cedric tiba-tiba saja jadi mengeluarkan pertanyaan filosofis. Harry yang sekarang dibuat terkekeh.
"Aku tidak ingin menghakimi dunia. Well, dunia juga sama seperti kita. Terjebak dalam perputaran waktu yang berlalu begitu saja. Tanpa sempat menangkap apa-apa"Begitulah kalimat Harry. Cedric sekali lagi dibuat terdiam.
Hening di antara keduanya memenuhi udara. Petugas perpustakaan entah pergi kemana. Tidaka da gemerisik apapun. Cedric menatap wajah kelelahan Harry, bertanya-tanya apa wajah tidurnya juga begitu? Ekspresi penat yang sangat.
"Harry! Cedric!" Hermione masuk tergesa ke dalam perpustakaan dan langsung mencari 2 pemuda itu di tempat terakhir ia meninggalkannya.
"Kenapa?"dengan sigap pemuda yang lebih tua menghampiri Hermione. Sementara Harry membuka perlahan kelopak matanya dengan malas.
"Dompet Ron hilang! Dia bilang dari tadi sudah mencari ke seluruh kamar ganti tapi tidak menemukannya!"
Setelah mendengar kabar itu Harry baru benar-benar sigap berdiri,"Terakhir dia lihat dimana?"
"Mana kutahu!" hermione menyemprot Harry dengan kalimat panik. "Kenapa kalian para lelaki sering sekali ceroboh sih?"Cedric juga kena semprot gadis itu. Harry menebak kalau Hermione sebenarnya sedang PMS makanya mudah marah-marah seperti ini.
"Aku akan menemui Mr. Flinch. Kalian berdua tolong cari di sekitar lapangan atau kafetaria ya? Siapa tahu ada disana.."
Harry mengambil tas selempangnya dan menyerahkan tas tenteng milik Hermione lalu mereka berpisah di luar ruang perpustakaan. "Aku coba cari di sekitar kafetaria, Kamu cari di sekitar lapangan.."Harry dan Cedric berpisah di ujung lorong.
Ron ada-ada saja, menambah-nambah pikiran Harry saja. Harry menelusuri lorong sekolahnya dengan tergesa. Aneh sekali menelusuri lorong itu dengan terburu-buru. Pemandangan sekelebatan dinding besar terasa lebih mengancam daripada biasanya ketika ia melewatinya perlahan-lahan. Harry biasa berjalan pelan di tengah keramaian lalu lalang. Berusaha sebisa mungkin tidak sampai menabrak orang atau bahkan jangan sampai sekedar diketahui keberadaannya oleh manusia-manusia di sekitarnya.
Harry sampai di luar gedung besar sekolahnya dan berlari menuju lapangan sepakbola yang terpisah cukup jauh jaraknya dengan lapangan sepakbola. Diapit dua lapangan ini ada sebuah bangunan besar yang digunakan sebagai aula. Biasanya digunakan untuk acara wisuda atau promnigth. Dan sekilas Harry bisa melihat kesibukan di sekitar bangunan besar itu untuk persiapan pembukaan dua acara besar Hogwarts besok.
"Bunuh saja aku!"Harry menggeleng, berusaha fokus dulu pada urusan dompet Ron ini. Sebentar saja melupakan soal pidato singkatnya yang berasa seperti pertaruhan hidup mati.
Kaki Harry terhenti mendadak di pinggir lapangan. Di ujung lain ada seseorang dengan seragam klub sepakbola Hogwarts masih melatih tendangan menuju gawang. Harry biasanya sudah semakin merabun menjelang malam begini. Tapi ia masih bisa cukup jelas untuk melihat angka yang tertulis di bagian punggung seragam itu, 7. Angka Draco.
Lelaki itu sedang menyiapkan bola di titik penalti. Harry membeku, memperhatikan saja pemuda itu mengambil ancang-ancang sbelum melakukan tendangan. Ia mundur selangkah, lalu menendang. Dan bola itu seperti melesat begitu saja. Lurus ke arah tengah, namun Harry yakin jika ada Ron disana, ia tetap tidak akan bisa menangkapnya.
Sial.. Draco memang berbakat ternyata.
Harry mengambil nafas dan baru mulai mendekat. Langsung menngarah ke bangku pinggir lapangan yang biasanya digunakan para pemain cadangan dan official saat pertandingan berlangsung. Mengabaikan keberadaan draco disana. Ia langsung mencari. Menunduk dan memeriksa kolong bangku panjang itu selama 2 menit, lalu segear bangkit.
Syukur-syukur jika Draco tidak menyadar—
"Kau sedang apa?"Sial!
Harry berbalik sambil menutup matanya, ia membukanya pelan-pelan ketika sudah benar-benar yakin sedang menghadapi Draco. "Kamu salah makan sesuatu, Boncel?"
Kesal. Harry Cuma menatap sebal Draco selama 5 detik, lalu melangkah pergi.
"Hey!"Abaikan saja..Harry berbicara pada batinnya. Tapi tubuhnya berbalik begitu saja. Seperti tubuhnya dikendalikan oleh kehendak lain selain otaknya.
"Apa?"
Draco mendekat sambil menenteng bola sepaknya,"Apa kabar?" Draco mengulurkan jabat tangan. Harry mengernyit dengan tingkah pria itu.
"Baik.."ucap Harry tak yakin, sambil mendiamkan jabat tangan Draco.
"Kita mungkin menghabiskan liburan selama seminggu di rumah kakekmu, tapi kau sepertinya tidak mengenalku. Jadi, namaku Draco Malfoy."Draco menyodorkan lebih dekat jabat tangannya. Terasa ngotot sekali menurut Harry.
"Lelucon apa ini, Malfoy?"Harry menyingkirkan telapak tangan Draco. "Aku tidak punya waktu untuk leluconmu yang tidak lucu sama sekali. Apa kau melihat sebuah dompet?"Harry bertanyas aja sesuai dengan niat awal kenapa ia kemari.
Bukan maksudnya juga untuk bertemu dengan mahluk ini.
Pemuda berambut platina di hadapannya menjatuhkan bolanya dan menahannya sebelum melaju terlalu jauh dengan kaki kanannya. "Aku tidak melihatnya. Tapi sekedar informasi saja, jika Crabe dan Goyle mengambil barang untuk menjahili seseorang mereka akan menyembunyikannya di belakang loker tua di gudang peralatan."
"Ini idemu?"
"Aku sedang membantumu, kenapa sekarang malah berprasangka buruk padaku?"Draco memasang tampang menyebalkannya yang sok-sok tersinggung. Harry ingin sekali meninju wajah itu.
"Terserah."Harry sudah hendak berbalik, ketika bola Draco mengenai belakang kakinya. Lelaki itu menendangnya pelan ke arah Harry. Harry mengabaikan yang pertama, maka datang gelundungan bola yang kedua, lalu yang ketiga, dan untuk yang keempat Harry akhirnya berbalik.
"Hentikan itu!"Harry berteriak berang pada Draco. Pemuda itu maju beberapa langkah lagi. Hingga jarak mereka kini hanay dua langkah kurang.
"Kenapa kau tidak menjerit seperti itu padaku? Kenapa kau tidak marah? Dan malah mendiamkanku?"Harry tidak mengenali sorot abu itu. Sebuah keputuasaan yang bercampur kemurkaan.
"Aku tidak mau bicara denganmu.."
"Karena sahabat-sahabatmu membenciku?"Harry dan raut terheran-herannya yang seperti tersayat-sayat. Draco tahu betul bahwa bukan sekedar itu masalah mereka.
"Lalu bagaimana dengan teman-temanmu? Sahabat-sahabatmu? Apa mereka akan menerima begitu saja jika Draco Malfoy berteman dengan si freak Potter?"cecaran peratanyaan itu dijawab Draco dengan sebuah tarikan kuat. Ia menarik pergelangan tangan Harry, dan memeluk tubuh pemuda itu. Erat yang menyesakan keduanya.
"Apa kau juga membenciku?"itu saja yang Draco bisikan, dalam waktu singkat pelukan itu. Ia melepaskannya, secepat ia mengeratkannya.
"Harry!"suara lain datang dari ujung lain lapangan. Milik Cedric. "Ouh! Draco? Masih berlatih?"ia tersenyum pada penerus pangkatnya sebagai kapten team itu.
"Hmm.. Kurasa sebaiknya aku pergi."lelaki angkuh itu menyempatkan diri menepuk pundak harry dan mengangguk ke arah Cedric.
"Kalian membicarakan sesuatu?" Harry menggeleng dengan senyum hambar.
"Menemukan sesuatu?"
Gilran Cedric yang menggeleng. "Kalian sepertinya cukup akrab? Barusan kalian berpelukan.." pemuda bersurai coklat madu itu tidak yakin dengan kalimatnya.
Harry terkekeh, "Tidak. Kami baru saja berkenalan barusan." Sementara Cedric mengkerut keningnya keheranan. Harry berjalan saja kembali menuju gedung utama.
"Mungkin kita sebaiknya mencari di gudang peralatan." Cedric menyamakan ritme langkahnya dengan Harry.
Seandainya perangai Draco tak terlalu kontradiktif antara satu dengan yang lainnya. Mungkin ini akan sedikit lebih mudah. Jika, Draco menegaskan sesuatu. Jika saja yang Draco bisikan padanya tadi kalimat 'Jangan membenciku!' dan bukan sebuah pertanyaan. Jika saja Draco tahu bahwa ia selalu perduli. Ia selalu memperhatikan pria itu.
Dan kenyataan bahwa ia memberitahu secara tidak langsung siapa pelaku penghilangan dompet Ron. Dan bahwa tadi secara tidak langsung Draco menghentikan aksi bully Crabe dan Goyle. Harry tahu Draco perduli. Tapi apa perduli yang sembunyi-sembunyi saja cukup? Harry berjalan melewati lorong itu perlahan kali ini. Membiarkan Cedric berjalan lebih dulu dan menafikan raut penuh tanya milik pemuda ini. Membiarkan seakan-akan ia ditelan keheningan lorong Hogwarts.
Namaku Draco Malfoy. Harry ingin tertawa sekaligus menangis oleh kalimat barusan. Draco seakan mengatakan bahwa ia bukan lagi Draco Malfoy yang sama yang hari kenal selama beberapa minggu terakhir. Ia Draco Malfoy yang lain yang tidak Harry kenali. Ah.. Terserah dialah,pikir Harry.
Draco tidak ingin menghilangkan eksistensinya dalam hidup Harry juga menolak bahwa eksistensinya disembunyikan oleh pemuda itu.
Maka satu-satunya cara agar segalanya adil bagi keduanya, adalah bahwa –apapun nama hubungan ini- ia tidak pernah ada.
TBC
Author Diary: Aloha Pembaca Budiman! Apa kabar? Pertama biarkan saya jingkrak-jingkrak dulu ok? Ini up-date kilat pertama saya, selama ini paling cepet juga sebulan atau dua bulan. Gila saya sayang banget sama kalian kayaknya sampai semangat gini ngetiknya? *cieee *tebar peluk cium untuk semesta*
Yah, tapi laptop masih belum bener aja. Ini curi-curi ngetik di laptop ade,hehehe *padahal dia benci bgt yaoi*XDDDD
Jadi gimana? Part ini pertanda masuknya peran Cedric. Dia bakal jadi cukup penting buat kelanjutan cerita ini. Ouh iya.. saya ngebuat perubahan latar di pasrt ini, mungkin sebelumnya kebayangnya, Cedric masih kelas 3 terus Harry,dkk. itu kelas 2. tapi Saya pikir agak aneh soalnya mereka udah liburan musim panas yang artinya pergantian tahun ajaran. Saya minta maaf atas salah perhitungan ini. maaf kalau mengganggu kenyamanan Anda-anda semua dalam mengkhayalkan ff ini.*apadah*
Dan kayaknya gara-gara Cedric juga saya ngetik part ini dengan sangat semangat. gak tahu kenapa? Suka aja sama peran dia. Dia itu peran orang ketiga yang efisien, dengan segala kebaikan dia tetep berbahaya buat rivalnya. Dan dengan karakter pejuang cintanya karakter ini bakal bikin si protagonis dilema. Yang jelas Saya demen banget sama tipe tokoh ketiga macam begini, dari pada karakter orang ketiga yang gampang banget dibenci kayak Hello kitty..*ehh? #ketahuan suka nonton sinetronnya.. Gak kok, cuma nemenin ibu nonton aja suer...-_- v
Bentar, bacotannya udah panjang ya? Satu lagi aja ya? Saya mau curhat satu hal lagi.. Saya selalu ngerasa kalau Cedric mati terlalu cepet.. Bukannya mau protes sama jalan cerita. tapi kayaknya bakal rame kalau misalkan nih.. misalkan nih ya.. Cedric cuma dibikin sekarat aja tuh di buku 4. Itu tetep bakal bikin Harry ngerasa bersalah kan? Point yang hilang paling Harry gak bisa kayak Luna, lihat mahluk -apalah itu namanya-yang narik kereta mereka. Terus Cedric yang masih hidup tapi sekarat sampai buku 5 habis, terus di buku 6 dia udah membaik, terus udah bisa sekolah lagi dan lanjut sahabatan sama Harry. Dan ngebantuin Harry di segala kesemptan termasuk buat ngelawan Draco di adegan2 terakhir. Terus dia mati gara-gaar kutukan Draco. nah, tesrus kalau dibikin fanficnya kan seru tuh? hubungan Drarrynya kehalang sama bayang-bayang Cedric yang dibunuh sama Draco padahal dia sahabat penting buat Harry.
Yah begitulah.. Entah kenapa saya kepikiran terus. tapi gak mungkin kalau saya bikin fanficnya, saya belum baca bukunya soalnya. Itu satu. Alesan kedua, fokus ke satu ff aja susah amat. ini aja kayaknya lanjut ke part 10 bakal lama, soalnya saya keburu masuk kuliah kayaknya. Jadi.. Mungkin diantara pembaca budiman saya ada yang mau bikinkan ff soal itu?*puppy eyes*
Oklah.. sebenernya dua paragraf di atas sebaiknya diabaikan saja.. Kalau udah terlanjur baca, hitung-hitung aja amal. Makasih buat review-reviewnya kawan-kawan. Ini hadiah kecil buat yang kemaren saya bikin galau gara-gara nunggu lama dan ceritanya malah nyesek. Maaf buat kesalahan pengetikan, penulisan nama atau kata-kata kurang berkenan. Kritik dan Saran selalu ditunggu, pembacaku yang budiman..:)
*kecup basah buat yang baca*
*lebih basah lagi buat yang review* #digaplok
-Tertanda erelra-
