Disclaimer : semua karakter milik J.K. Rowling. I don't own here.

Pairing : Draco Malfoy / Hermione Granger

Rated : T

Timeline : Tahun ketujuh setelah perang Hogwarts. Hermione dan Draco menjadi Ketua Murid.

Summary : Draco Malfoy menerima tantangan untuk menaklukkan hati Hermione Granger. Apa saja usaha yang akan dilakukannya? Berhasilkah?

A/N : Pergantian genre jadi Romance/Friendship :D. Walaupun begitu, tetap saja mohon maaf kalo romancenya kurang atau belum muncul. Aku mulai agak kehilangan feel nulis dramione. Mungkin karena udah lama nggak nulis ya…Tapi mau gimana lagi, tugas sekolah udah numpuk. Nasib jadi anak kelas 3..*curhat. Okelah, langsung aja ya dicek ceritanya…

Warning! Super OOC, GaJe, Typo, Humor garing, alur nggak jelas dan kekurangan lainnya. Boleh dikritik kok, selama kritik itu membangun..:)

Happy Read and Review, please.

Don't like? Don't read...

.

Mission Impossible

.

#9: Mission Five : Bersikap dewasa

.


Bersikap dewasa—seperti kata Theo.

Bersikap dewasa juga Draco temukan sebagai salah satu cara yang dicantumkan dalam buku Duabelas Cara Memikat Penyihir Perempuan. Bersikap dewasa—menurut kesaksian pria-pria lain adalah salah satu cara paling ampuh menaklukkan hati seorang wanita. Bersikap dewasa—juga adalah satu hal yang paling sulit dilakukan oleh seorang Draco Malfoy.

Draco membuka-buka halaman buku ramalan yang ada di tangannya. Akhirnya dia berhasil meminjam buku ini dari perpustakaan tadi pagi—dengan madam Pince yang masih memelototinya, Draco cukup heran dia bisa keluar perpustakaan dengan selamat.

Menurut buku ramalan yang dipegangnya saat ini, seorang Virgo (Entah darimana dia bisa mengingat tanggal ulangtahun Hermione, Draco sendiri juga bingung) adalah seorang cewek yang ambisisus, rapi dan ingin segala sesuatunya berjalan sempurna ("Perfect, sangat Granger," dengus Draco). Cewek Virgo tidak menyukai cowok yang berantakan. Bagi mereka yang berbintang Virgo, kualitas dalam diri seseorang itu sangatlah penting.

'Great! Ini sudah cukup menjelaskan mengapa Granger sulit sekali ditaklukkan!' Batin Draco. Hei! Bukan berarti Draco bukan orang yang berkualitas. Dia sudah cukup berkualitas sebagai—darah murni. Tapi—akui sajalah Draco, kau memang bukan orang yang rapi.

Draco melempar bukunya tanpa melihat kemana buku itu jatuh dan segera turun dari kamarnya. Di ruang rekreasi dia bertemu dengan Hermione. Gadis itu sedang duduk di atas sofa melakukan kegiatan favoritnya—membaca. Hermione mengangkat kepala dari bukunya ketika dia melihat Draco.

"Mau kemana kau, Malfoy?" Tanya Hermione.

"Kenapa aku harus memberitahumu?" Jawab Draco.

"Baiklah kalau kau tidak mau memberitahu," kata Hermione sambil mengangkat bahunya dan melanjutkan membaca.

"Oke, aku mau ke asrama Slytherin. Hanya itu saja yang mau kau ketahui?" Akhirnya Draco sendiri yang memberitahu tujuannya tanpa diminta.

"Aku tidak memaksamu untuk memberitahuku kemana kau akan pergi. Bukankah tadi sudah kukatakan tidak apa-apa?" Sahut Hermione dengan pandangan masih terfokus pada bukunya.

Draco sudah ingin menjawab dengan jawaban yang pedas jika saja dia tidak ingat untuk bersikap dewasa. Setidaknya sampai taruhannya selesai dan harga dirinya terselamatkan. Bagaimanapun seorang Draco Malfoy tidak mau kehilangan mukanya di depan Blaise 'sialan' Zabini.

"Yah, kupikir tidak ada salahnya memberitahumu kan? Lagipula tadi kau bertanya," ujar Draco.

"Terserah kau sajalah, Malfoy," Hermione mengangkat bahunya.

"Oke, baiklah. Tadi kau bertanya dan sudah kujawab, tapi ternyata kau sama sekali tidak mengacuhkanku. Bagus sekali, Granger," kata Draco sebal sambil berjalan keluar dari asrama ketua murid.

Dari balik punggungnya, Hermione menatap Draco dengan pandangan aneh.

.

.

Draco masuk ke asrama Slytherin dan langsung menuju kamar Theo dan Blaise. Walaupun sebenarnya Draco sedang malas bertemu Blaise, karena dia tahu bahwa Blaise hanya akan menggodanya dan mengatakan bahwa batas waktunya sudah semakin dekat. Tapi sayangnya, Draco membutuhkan Theo saat ini. Tidak seperti Blaise, Theo selalu bisa memberikan masukan-masukan yang cukup bermanfaat bagi Draco.

Sialnya, hari itu ternyata Draco sama sekali tidak bisa meminta bantuan Theo karena begitu dia membuka kamar Blaise dan Theo, pemandangan aneh terlihat didepannya. Seorang Blaise Zabini, yang selalu penuh percaya diri, sekarang tampak terpuruk di atas tempat tidurnya. Wajahnya kusut, matanya sayu dan rambutnya berantakan. Sementara itu Theo sedang duduk di sebelah Blaise dan tampak sedang menghibur pemuda itu.

"Blaise? Apa yang terjadi?" Draco segera menutup pintu dan menghampiri Blaise.

Blaise tidak menjawab. Dia bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia tahu Draco ada disitu.

Tidak mendapat jawaban dari Blaise, Draco pun beralih pada Theo. Tanpa memerlukan pertanyaan dari Draco, Theo sudah langsung menjawab, "Turpin. Dia mendengar pembicaraanku dengan Blaise soal taruhan itu dan dia marah besar. Dia merasa dipermainkan dan langsung memutuskan Blaise saat itu juga tanpa mau mendengarkan penjelasan Blaise. Yah, aku juga tidak heran kalau Turpin akan semarah itu. Siapa yang tidak akan marah jika tahu dirinya hanya dijadikan sebagai alat taruhan?"

DEG!

Ditengah rasa simpatinya pada Blaise setelah mendengar cerita Theo, Draco mulai berpikir, bagaimana jika nantinya Hermione tahu bahwa dia dijadikan alat taruhan oleh Draco dan kedua temannya? Draco tahu benar sifat Hermione. Gadis itu bukan saja akan meledak marah, mungkin juga akan mengutuk Draco menjadi musang putih seperti yang dulu dilakukan oleh—Draco bergidik—Mad-eye Moody gadungan. Dan herannya, Draco merasa tidak keberatan di ubah menjadi musang putih. Tidak—bukan menjadi musang putihlah yang dia takutkan sekarang, tapi—

"Kita bisa hentikan semua ini sekarang, Draco," Blaise akhirnya mengeluarkan suaranya walaupun terdengar sangat parau. "Hentikan saja permainan ini."

Draco terdiam menatap Blaise. Dia tahu bahwa Blaise memang benar-benar menyukai Lisa Turpin. Dan dengan marahnya Lisa ini, pastilah Blaise sudah sangat malas melanjutkan permainan, walaupun Draco belum selesai pada tugasnya.

"Bagaimana dengan Zeller?" Draco bertanya pada Theo.

"Dia itu polos sekali. Aku sudah menjelaskan semua padanya dan dia memaafkanku. Dia percaya padaku—Demi Merlin! Aku bahkan tidak menyangka akan semudah itu dia memaafkanku," jawab Theo.

"Yeah, seandainya Lisa juga begitu," sahut Blaise muram.

"Baiklah. Kita sepakat hentikan saja permainan ini, oke. Lagipula, bagus juga—bukannya aku senang atas kesedihanmu, Blaise. Tapi aku juga tidak yakin akan mendapatkan Granger dalam dua puluh empat jam kedepan. Selamanya itu akan menjadi mission impossible untukku," kata Draco.

"Aku akan jadian dengan Mrytle Merana kalau Granger mau jadi pacarmu," gumam Blaise cukup keras untuk didengar Draco.

"Well—aku tetap pegang kata-katamu barusan, Blaise," cengir Draco.

"Sialan kau! Lihat saja, memang kau bisa menaklukkannya?" Tanya Blaise.

Draco merebahkan dirinya di atas kasur yang sudah lama tidak ditempatinya. Kasur itu tetap bersih seperti saat Draco masih menempatinya. Peri-peri rumah di Hogwarts tentu tahu benar bagaimana caranya bekerja.

"Seperti yang kukatakan tadi. Itu benar-benar misi yang mustahil. Aku mau tahu siapa yang bisa menaklukkannya," kata Draco.

"Mungkin si Weasel itu," usul Theo.

Draco melotot, "Kau piker aku akan dikalahkan oleh Weasel itu? Merlin! Aku jauh lebih tampan darinya!"

"Yeah, tapi dia punya peluang seribu kali lebih banyak untuk mendapatkan Granger daripada kau, mate," kata Theo yang mau tak mau harus diakui Draco sangat realistis.

"Kau benar," angguk Draco. 'Yah, lagupula kita sepakat akan mengakhiri semua ini kan? Jadi apa peduliku sekarang?"

.

.

Draco benar-benar tidak fokus dalam perjalanannya kembali ke asrama ketua murid. Entah hal apa saja yang memenuhu pikirannya. Yang jelas, objek dari pikirannya yang bercabang-cabang itu hanya ada satu. Siapa lagi?

Draco membiarkan memori otaknya yang menuntunnya kembali ke asrama ketua murid sementara pikirannya melayang berkecamuk. Ketika berada di depan lukisan yang menjadi pintu masuk asrama ketua murid, Draco membukanya begitu saja dan memanjat masuk tanpa menyadari ada seseorang dengan tumpukan buku tebal juga sedang memanjat keluar.

BRRUUUKKK!

"ADUUH!"

Draco meringis kesakitan ketika sebuah buku menghantamnya dengan telak tepat di dahi dan membuat pandangan Draco seakan berputar. Draco mengerjapkan matanya dan berusaha menjernihkan pikirannya, tetapi yang dilihatnya hanyalah rambut cokelat lebat. Kali ini Draco mencoba menggelangkan kepalanya tapi yang dirasakannya hanyalah beban berat di atas tubuhnya. HE? Di atas?

"Granger! Cepat bangun! Kau itu berat tahu! Jangan keenakan!" Seru Draco.

"Sembarangan saja kau, Malfoy! Kau pikir aku menikmatinya? Sama sekali TIDAK!" Balas Hermione sambil secepatnya bangun dari atas tubuh Draco. Ya, Draco tadi memang menabrak Hermione dengan setumpuk buku yang hendak memanjat keluar asrama.

"Merlin! Buku-bukumu itu sepertinya suka sekali dengan kepalaku, Granger. Ini kedua kalinya kau menghantamku dengan bukumu," ujar Draco sambil mengelus-elus dahinya. Dia hanya bisa berharap tidak akan ada luka berbentuk sambaran petir atau yang mirip dengan itu tercetak di dahinya atau dia tidak akan punya muka untuk bertemu dengan si Harry 'Kepala Pitak' Potter.

"Dan ini juga kedua kalinya kau berjalan tanpa melihat sekelilingmu, Malfoy!" Geram Hermione. "Kau gunakan untuk apa kedua matamu itu?"

Draco hanya diam saja mendengar omelan Hermione. Sebenarnya Draco sudah gatal ingin sekali menjawabnya tapi entah mengapa satu bagian kecil di otaknya terus menyuarakan 'bersikap dewasa' dan tentunya menjawab Hermione saat ini tidak termasuk kategori 'bersikap dewasa'.

"Kau diciptakan dengan dua mata tentunya bukan hanya untuk memandang rendah orang-orang dibawahmu, Malfoy! Tapi juga untuk melihat sekelilingmu! Lihat kan? Kau membuat bukuku berantakan dan apa sekarang kau juga mau menyalahkanku lagi seperti tempo hari la—"

"Baik. Aku minta maaf!"

Hermione langsung terdiam dan menatap Draco tidak percaya dengan mulut menganga. Telinganya sama sekali menolak untuk mempercayai apa yang baru saja dia dengar.

"Apa katamu?" Bisik Hermione.

"Aku minta maaf, Granger. Seharusnya aku lebih berhati-hati. Aku sedang tidak konsentrasi. Maaf," ulang Draco sambil memunguti buku-buku Hermione yang terjatuh.

Hermione menatap Draco yang sedang memunguti bukunya dengan pandangan aneh. Merlin! Apa yang terjadi pada pemuda sombong, arogan dan tidak berperasaan itu? Apakah otaknya jadi konslet gara-gara tertimpa buku tadi? Oke, Hermione khawatir kalau itu memang disebabkan oleh hantaman bukunya.

"Kenapa kau memandangku seperti itu, Granger?" Suara Draco menyadarkan Hermione. Rupanya sejak tadi Hermione terus saja menatap Draco sambil tetap sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tidak menyadari bahwa Draco sudah berdiri dihadapannya dan menyodorkan buku-bukunya.

"Err—terima kasih, Malfoy. Dan—errr—apa kau mau ke rumah sakit?" Tanya Hermione.

Draco mengerutkan keningnya, "Rumah sakit? Untuk apa?"

"Yah—umm—memeriksakan kepalamu? Siapa tahu ada saraf-saraf otakmu yang sedikit konslet karena hantaman bukuku tadi," ujar Hermione.

"Dan kenapa kau bisa berpikir kalau otakku sedang konslet?" Tanya Draco semakin bingung.

"Yah—" Hermione menimbang-nimbang, "kau mengucapkan maaf."

"Memangnya ada apa dengan itu?"

"Merlin, Draco! Apa benar kau baik-baik saja? Tujuh belas tahun aku mengenalmu—baiklah—tujuh belas tahun kupikir aku tahu siapa kau dan aku cukup yakin bahwa memoriku sebelumnya tidak pernah merekam kau yang sedang meminta maaf. Kau yakin tidak salah makan tadi pagi?" Hermione masih saja bertanya dengan pandangan aneh.

"Dan demi Merlin! Granger, memangnya tidak boleh kalau aku ingin berusaha menjadi lebih baik lagi? Hei, bagaimanapun aku juga ingin jadi orang baik. Aku hanya sedang berusaha, tahu! Kau pikir itu mudah?" Gerutu Draco.

Hermione mengangkat kedua alisnya. "Katakan satu hal padaku!"

"Apa?"

"Benarkah kau Draco Malfoy dan bukan Harry Potter atau Neville atau siapapun yang sedang meminum ramuan polijus?"

Draco melotot. Sampai sebegitukah Hermione tidak percaya bahwa dia memang ingin jadi orang baik? Atau memang dirinya di masa lalu memang begitu buruk? Oke, mungkin memang dirinya di masa lalu sangatlah buruk. Apa? Kau mengakui dirimu buruk, Draco Malfoy? 'Diamlah otak sialan!' Umpat Draco dalam pikirannya sendiri.

"Ah—kau sangat melukai hatiku, Granger. Apakah aku tidak pantas jadi orang baik?" Tanya Draco.

"Umm—bukan begitu, Malfoy. Aku senang kalau kau mau berubah, hanya saja—yah, memang aneh saja untuk dilihat awalnya. Tapi—semoga berhasil dengan usahamu kalau begitu," kata Hermione sambil tersenyum tipis.

Hermione sudah memeluk buku-bukunya dan tidak lagi menatap Draco dengan aneh. Sudut bibirnya masih membentuk senyum untuk Draco—yang entah mengapa merasa tercengang.

"Baiklah kalau begitu, aku harus ke perpustakaan sekarang. Sampai nanti, Malfoy—dan terima kasih sudah mau berbaik hati merapikan bukuku," kata Hermione sambil beranjak pergi dengan senyum masih tertempel di wajahnya.

Sesaat Draco hanya menatap Hermione yang berjalan menjauh sampai gadis itu menghilang di tikungan. Detik berikutnya, Draco seakan baru saja menyadari sesuatu.

'Apa yang barusan aku lakukan? Membantu Granger memunguti bukunya? Berusaha bersikap gentle dengan meminta maaf, eh? Kenapa kulakukan itu? Bukankah seharusnya tidak perlu lagi kulakukan? Taruhanku dengan Blaise sudah selesai. Kenapa aku masih harus berbaik-baik dengan Granger?'

Draco menggaruk sendiri bagian belakang kepalanya. Sekarang kepalanya sudah mulai berdenyut-denyut. Tanpa menunggu lagi, Draco segera memanjat masuk asrama ketua murid dan langsung menuju kamarnya. Saat ini dia benar-benar butuh istirahat untuk menenangkan diri dan menjernihkan pikiran.

.

.

Akhir pekan biasanya menjadi waktu yang sangat menyenangkan bagi siswa-siswi Hogwarts, tapi tampaknya tidak begitu dengan akhir pekan kali ini. Batalnya kunjungan ke Hogsmeade dan tugas-tugas yang tidak terkira banyaknya memperkeruh suasanya dan mood para siswa. Mereka terpaksa menghabiskan waktu di perpustakaan atau asramanya untuk mengerjakan tugas. Halaman yang biasanya dipenuhi anak-anak yang bermain atau sekedar duduk-duduk dibawah pohonpun sekarang terlihat kosong.

Kecuali seorang gadis berambut cokelat lebat yang sedang duduk dibawah pohon dan menghadap danau. Hermione Granger sangat lekat dengan image perpustakaan, tapi siapa yang tahu bahwa dia juga suka belajar di alam terbuka seperti ini? Membaca dibawah rindangnya pohon dan suara air dari danau lebih bisa menjernihkan otaknya daripada keheningan perpustakaan.

Seperti saat ini, Hermione sedang asyik membaca dibawah pohon. Tidak hanya satu buku, masih ada dua buku lain menunggu disebelahnya untuk dibaca. Begitu asyiknya Hermione membaca sampai-sampai dia tidak menyadari kehadiran seseorang didekatnya.

"Aku tidak tahu kalau kau suka membaca disini, Granger."

Hermione menoleh mendengar suara itu dan mendapati Draco Malfoy dengan jubah Slytherinnya sedang berdiri dan menatapnya. Kemudian tanpa menunggu persetujuan Hermione, Draco segera duduk di samping gadis itu dan melihat-lihat buku yang tidak sedang dibaca oleh Hermione.

"Ada apa, Granger?" Tanya Draco tanpa menatap Hermione. Perhatiannya sedang asyik tercurah pada salah satu buku yang dibawa Hermione, tetapi dia juga tahu bahwa Hermione sekarang sedang memandanginya—lagi-lagi dengan tatapan aneh.

"Tidak—hanya bertanya-tanya untuk apa kau datang kemari, Malfoy," kata Hermione.

"Kebiasaan saja. Aku memang sering datang kesini, Granger," jawab Draco yang mulai membaca salah satu buku Hermione.

"Benarkah? Aneh sekali seorang Malfoy ternyata suka menyendiri disini. Kukira kau hanya suka melakukan huru-hara bersama teman-temanmu," ujar Hermione.

"Hey, jaman itu sudah berlalu, Granger," ucap Draco santai.

"Jadi? Apa maumu kesini sekarang?"

"Well, aku berniat menyendiri seperti rutinitasku yang biasa, tapi ternyata kau sudah ada disini dengan buku bagus. Apa salahnya kalau aku ikut membaca disini?"

"Kau tahu, Malfoy? Kau sangat aneh akhir-akhir ini," ujar Hermione.

"Aku sangat tersanjung mendengarnya," kata Draco, "terima kasih."

Hermione benar-benar melebarkan matanya sekarang. Kemarin kata 'maaf' dan sekarang 'terima kasih'? Haruskah dia percaya bahwa Draco sudah berubah atau curiga pada perubahannya yang cukup mendadak?

"Kenapa kau suka tempat ini?" Tanya Hermione yang sekarang tampaknya lebih tertarik pada Draco daripada bukunya. Cukup aneh.

Draco akhirnya menghentikan aktivitasnya membaca dan menatap Hermione yang balas menatapnya dengan penuh keingintahuan.

"Kau masih saja selalu ingin tahu urusan orang, Granger," ujar Draco sambil menahan tawa.

"Tidak perlu mengomentariku, Malfoy," kata Hermione cemberut.

Draco terdiam sesaat. Matanya menatap sendu pada danau. Sejenak pikirannya melayang pada masa lalunya yang kelam. Sementara itu, Hermione masih dengan setia menunggu jawaban Draco.

"Aku sudah suka tempat ini sejak dulu. Saat aku merasa bosan dengan kehidupanku atau saat aku merasa tertekan dengan kewajibanku, aku pasti kesini untuk menenangkan pikiran. Aku selalu bisa merasa lebih baik ditempat ini, entah mengapa. Aku suka suasana disini. Angin sepoinya, suara gemercik air, semuanya bisa membuatku serasa hidup kembali," kata Draco pelan.

Hermione melongo sesaat. "Tidak kusangka kau bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu, Malfoy," celetuk Hermione.

"Tentu saja bisa, Granger," jawab Draco pura-pura sewot. "Kau pikir aku hanya bisa mengumpat dan menghina orang saja?"

"Bukankah itu yang kau lakukan dulu?"

"Baik, lupakan saja. Tapi aku memang sangat suka tempat ini. Tempat ini adalah tempat favoritku, selain kamar kebutuhan tentunya. Sayang kamar itu sudah terbakar,"

"Ya, dan itu karena ulahmu dan kedua temanmu," guman Hermione pelan tapi cukup keras untuk didengar Draco. Ekspresi Draco sedikit mengeras mendengar gumaman Hermione—yang tampaknya menyadari hal itu.

"Oh—maafkan aku, Malfoy. Aku tidak bermaksud—yah—maksudku, aku tahu kau sudah berubah dan aku juga tahu kau sudah menjadi orang yang lebih baik akhir-akhir ini," ucap Hermione.

"Benarkah? Aku sudah lebih baik?"

"Yah, kau kadang masih sangat menyebalkan, keras kepala dan pemalas (Draco melotot). Tapi secara keseluruhan, kau memang lebih baik daripada dulu. Setidaknya kau tidak lagi mengumpatku dengan—kau-tahu-apa."

"Kalau begitu maafkan aku untuk kesalahanku dulu dan untuk menyebutmu kau-tahu-apa," kata Draco.

"Memang sudah kutunggu permintaan maafmu sejak dulu, Malfoy," jawab Hermione sambil tersenyum.

.

.

"Kau sudah merasa lebih baik, Blaise?"

Draco, Blaise dan Theo berjalan bersama menuju asrama Slytherin. Mereka baru saja dari rumah sakit setelah Blaise muntah hebat. Madam Pomfrey sampai mengomel-ngomel tentang makan yang teratur, istirahat cukup dan blah blah blah. Yang paling menyebalkan bagi Draco adalah dia juga ikut diomeli oleh Madam Pomfrey, padahal kan Blaise sendiri yang membuat dirinya sampai sakit seperti ini. Kalau saja kondisi Blaise tidak sedang lemah, Draco pasti sudah mengutuknya jadi kurcaci atau marmut.

"Yah, cukup baik, Draco. Setidaknya aku tidak merasa mual dan pusing lagi," jawab Blaise.

"Kau masih harus banyak beristirahat, Blaise. Kau masih tampak pucat dan—oh—tidak akan kubiarkan kali ini kau melewatkan makananmu! Putus cinta membuatmu benar-benar gila!" Omel Theo.

Blaise terkekeh, " Kau terdengar seperti ibu-ibu saja, Theo. Yah, walaupun ibuku tidak memperhatikanku sampai seperti itu."

"Tapi Theo benar, Blaise. Kau benar-benar sudah gila! Sampai sebegitu kacaukah kau hanya karena putus cinta? Kejar dia lagi, Blaise. Jangan malah menyakiti dirimu seperti ini. Bisa-bisa kau malah mati, tahu! Apa kau rela memberikan predikat cowok tertampan di Hogwarts ini kepadaku?" Seringai Draco.

Blaise menyikut pelan Draco sambil tertawa, "Tentu saja itu tidak akan pernah terjadi, Drakkie. Predikat itu akan tetap ada padaku, hidup ataupun tidak. Mungkin aku bisa menjadi hantu tertampan."

"Otakmu memang konslet, Blaise," celetuk Theo sambil terkekeh.

"Lagipula Drakkie, Theo, jangan ikut-ikut mengomeliku. Kalian belum pernah berada di posisiku kan? Lihat saja nanti kalau kalian juga putus cinta—oh, siapa tahu saja nanti—" goda Blaise.

"Sial kau, Blaise. Jangan mendoakanku putus dari Rose begitu dong!" Gerutu Theo. Blaise terkekeh.

"Jadi, Turpin masih belum mau bicara padamu?" Tanya Draco hati-hati. Topik ini cukup sensitive bagi Blaise. Tapi tampaknya sekarang Blaise sudah mulai bisa menerima kenyataan dan pasrah.

"Belum. Teman-temannya bahkan sekarang memandangku dengan tatapan seolah-olah ingin mengulitiku—teman-teman cowoknya maksudku—kalau yang cewek sih sudah jelas menyambut gembira status jombloku," kekeh Blaise.

"Percaya diri sekali kau, Zabini," ledek Draco.

"Yah, aku tahu aku memang salah, Draco. Aku juga bersalah padamu sudah menempatkanmu pada mission impossible dalam taruhan kita. Mungkin seharusnya waktu itu aku memasang Pansy atau salah satu dari Patil bersaudara alih-alih Hermione. Aku ingin mengerjaimu saja saat itu, Drakkie. Aku ingin melihat usahamu menaklukkan Hermione untuk memenuhi taruhan harga dirimu," ujar Blaise sambil sedikit terkekeh.

"Sudahlah, Blaise. Lagupula itu sud—"

Suara gema di koridor membuat Draco menghentikan kata-katanya dan menoleh untuk melihat siapa yang berlari. Siapa tahu saja dia bisa mengurangi poin dari siapapun yang berlari di koridor. Tapi Draco segera mencelos ketika melihat sekelebat rambut cokelat lebat menghilang di tikungan.

"Kau benar, Blaise. Sepertinya sekarang giliranku berada dalam posisimu," kata Draco dengan getir.

Blaise dan Theo yang tidak melihat Hermione berlari tadi tidak mengerti apa yang dimaksudkan Draco dan semakin bingung ketika Draco langsung berlari meninggalkan mereka berdua tanpa mengucapkan apapun.

.

.


A/N : Chapter 9 akhirnya bisa dipublish..*ngelap keringet XD Tinggal tersisa satu chapter depan (atau mungkin dua) untuk menyelesaikan fic ini. Jadi intinya kita sudah hamper sampai di penghujung.

Oya, maaf banget kalo chapter ini mengecewakan atau nggak ngena feelnya. Entah kenapa aku juga jadi kehilangan feel nulis Dramione…Mungkin karena aku udah lama nggak nulis ya..T_T Jadi sekarang nih aku lagi belajar nulis lagi. Jadi maaf banget kalo nggak sesuai. Silahkan kritik dan saran kalau mau.

Sekedar info tambahan aja, chapter ini adalah chapter terpanjang di fic ini dengan lebih dari 3+ words, biasanya cumin nyampe 2+ words aja, tapi karena aku udah lama nggak update, jadi aku panjangin sedikit. Maaf kalo kurang panjang. Hehe…:D

Akhir kata, thanks to read and please reviewnya…