Surprise,ㅋㅋㅋ.
Enjoy the story
.
A Supplementary Story
Sistem Planet EXO, Invasi PertamaLuhan memeluk Samdong yang menatapnya bingung. Mengapa sang ibu menangis sambil menggenggam lightsaber-nya? Mengapa, untuk pertama kalinya, ibunya mengenakan jubah Jedi, yang biasanya tersimpan rapi di balik lemari, ketika hendak pergi ke istana?
"Kau harus tetap disini, Samdong-ah, jaga yang lain."
"Eommoni akan pergi?"
"Sebentar." Jawabnya, tersenyum paksa. "Eommoni akan pergi sebentar, tapi kau harus tetap disini bersama Myungsoo. Master Lee akan menjaga kalian."
"Aku tak mau dengan Master Lee, Eommoni." Rengeknya, namun Luhan hanya menyerahkan sebuah pedang perunggu yang tersimpan dalam sebuah miniatur kecil. "Eommoni,"
"Ini akan melindungimu. Tak sebaik lightsaber, tapi cukup kuat." Pesannya, "Kau tahu apa yang harus kau lakukan jika kalian terdesak, kan?" putranya mengangguk. "Bagus, bawa Myungsoo bersamamu, ada cukup kapsul untuk kalian."
"Luhan," panggil Baekhyun dari belakang, "Kita harus pergi sekarang."
Jedi itu memeluk putranya, mengecup pucuk kepala Samdong sebelum berjalan pergi bersama keenam Jedi lain, meninggalkan dua anak kecil di kuil tempat mereka tumbuh. Mungkin ini adalah kali terakhir, mungkin tidak, tak ada yang tahu. Ini adalah perang, dimana mereka tak tahu sampai kapan mereka akan bertahan.
.
"Apa yang kau isi di dalam sini?" tanya Minseok, melihat benda setengah bola yang diberikan pasangannya padanya. Bulir-bulir kebiruan terang menghiasi bagian dalam bom yang Jongdae buat.
"Oh, sedikit coaxium, jadi hati-hatilah." Pesannya, menyerahkan pemantik. "Henry akan menunggu di sayap barat, aku akan benar-benar membuatmu bersumpah untuk menunggunya dan tidak kemana-mana, tidak membuat dirimu sendiri tertangkap atau lebih buruk lagi–"
"Kim Jongdae." Tahan Minseok, nyaris tertawa di wajah khawatir pasangannya. "Aku akan baik-baik saja, aku janji."
"Ini masih setengah jam lagi," ujarnya, melihat badai yang baru saja mengguncang langit. "Kukira kita sepakat untuk menahanmu di kuil hingga kau harus berada disini."
"Kami turun atas perintah langsung Master Lee, youngling sudah ada disana semua. Apa sudah ada pemberitahuan bagi rakyat untuk mengunci rumah dan tidak melakukan aktivitas apapun selama badai berlangsung?"
"Sehun yang melakukannya." Jawabnya, menyangga kepalanya di pundak Minseok. "Aku benar-benar ketakutan, siapa yang tak takut perang, Hyung, aku benar-benar takut."
"Jongdae, sudah kubilang aku akan baik-baik saja, tak ada hal buruk yang akan menimpaku." Namun wajah si dominan masih saja mengusut, "Hei," panggilnya, "Aku janji."
Tanpa ragu, senator itu meraih pasangannya untuk mengecup bibirnya, lama dan lembut, tanpa paksaan atau apapun hingga – mungkin untuk terakhir kalinya – mereka merasakan diri mereka masing-masing. Minseok memainkan rambut Jongdae yang terbaring di atasnya, berkeringat dan basah, lelah atas apa yang mereka lakukan.
"Apa aku menganggu?" tanya sebuah suara dan keduanya dengan kalut meraih pakaian masing-masing. "Demi apapun, aku ini masih dibawah umur." Gerutu Sehun, melihat kedua kakaknya berebut mengambil kain yang tercecer di lantai.
"Kau sudah dua puluh tiga tahun, Sehun." Jawab Jongdae.
"Ya, tapi aku masih yang paling muda. Mataku yang kelewat polos ini harus melihat kalian baru selesai melakukan–"
"Jangan, kuulangi, jangan, katakan apapun." Tahan Minseok, tangannya menarik ujung jubahnya untuk menutupi wajahnya yang memerah. "Aku akan ke hanggar." Ucapnya, meninggalkan Jongdae yang menelan ludah, melihat seringai Sehun.
"Jadi," ucap yang lebih muda, "Kau sudah melakukan itu, Hyung?"
"Kami sudah menikah," bela Jongdae, tak mau kalah. "Normal untuk melakukan itu. Aku tak sepertimu yang sudah memberontak sejak ulang tahun ke sembilan belas."
"Apa kita akan membahas itu?" Sehun menggaruk belakang lehernya. "Aku menyesal mengatakan itu pada kalian, bagaimana bisa seluruh senator di istana ini tahu?"
"Karena kau dan Luhan membawa Samdong tentu saja, bukankah itu jelas?"
"Ah."
Sehun ingat ketika pernikahannya dengan Luhan, keduanya sepakat untuk memutuskan bahwa Samdong harus datang ke acara itu, dan si carrier menggendongnya sepanjang waktu. Pernikahan itu, tentu saja, tertutup, sama seperti pernikahan senator lain, yang membedakan hanyalah anak mereka saat itu. Dan semuanya tak habis-habis menggoda mereka.
"Aku akan ke hanggar juga, mengantar Minseok."
"Hanya mengantar, Hyung." Tawanya, menerima lemparan sepatu dari yang lebih tua. "Kau mau kesana tanpa sebelah sepatu, Hyung?"
.
Luhan membantu Minseok memasukkan barang-barangnya ke tas kanvas yang disiapkan untuknya, yang membawanya adalah sebuah Speeder, memuat dua orang. Luhan telah mengusulkan diri untuk menjadi pilot serta pendamping sahabatnya itu.
"Ini terlalu berbahaya, kita tak boleh lebih dekat dari lima ratus tahun cahaya untuk ini." Ucapnya, melihat bom yang disiapkan oleh Jongdae. "Aku tak peduli jika hanya sejumput, in sangat sangat sangat berbahaya."
"Kita akan baik-baik saja." Jawab yang lebih tua, "Kita akan berikan itu pada Henry, biarkan dia masuk ke ruang mesin, lalu kita terbang. Biarkan mereka meledak setelah kita pergi, takkan ada yang terjadi, percayalah."
"Percayalah," ucap Zitao yang ada di samping mereka, "Aku takkan pernah setuju dengan ini, aku akan memilih menghabisi federasi langsung tanpa meledakkan apapun kecuali wajah jelek Yang Palgye. Dan aku yakin Kaisar akan lebih setuju dengan pendapatku."
"Wow, Huang Zitao." Siul Luhan, "Bagaimana Kaisar? Beliau baik-baik saja?"
"Sebaik yang dia bisa." Yang paling muda menarik nafas, "Dia mengurung diri di ruang belajar tanpa tidur dan aku yang harus menyeretnya ke tempat tidur sebelum dia benar-benar terlelap di tumpukan kertas."
"Tidur?" Zitao memerah. "Omong-omong tidur, Sehun tadi– Tidak jadi."
"Apa lagi yang Sehun lakukan?"
"Cukup memalukan hingga membuatnya menyiram air dingin ke kepala, dan percayalah, itu mimpi buruk bagiku." Ucap Sehun yang tiba-tiba datang, mengecup kepala Luhan. "Kau baik-baik saja?"
"Apa yang kau lakukan pada Minseok, Oh Sehun?"
"Tepatnya," dia melihat Luhan yang menatapnya tajam, "Apa yang dilakukan Jongdae Hyung padanya."
"Baik, cukup. Luhan ayo berangkat." Sehun hanya menyeringai ketika melihat yang lebih tua menarik pasangannya pergi, terlalu malu untuk berada di satu ruangan bersamanya. Sementara Luhan yang telah masuk ke dalam kokpit hanya menatap sahabatnya. "Apa?"
"Aku benar-benar penasaran."
Minseok menghela nafas, "Anggap saja, aku dan Jongdae sedang kekurangan kain saat pasangan kurang kerjaanmu datang." Jawabnya. "Kau tahu, itu hal paling memalukan yang pernah dia lakukan. Itu lebih memalukan daripada segala hal yang lain."
Luhan tertawa, memangku bom di atas pahanya. "Kalian yang kurang kerjaan, ini sudah saat perang, bagaimana bisa kalian masih punya kesempatan untuk–"
"Baik, kita berangkat."
Terpaksa, Luhan menghentikan ucapannya dan menarik kemudi, membiarkan sebuah pod meluncurkan speeder mereka keluar atmosfer. Teknisnya, speeder tak bisa keluar planet tanpa bantuan apapun, paling jauh adalah beberapa kaki dari atmosfer dan dibutuhkan pod untuk meluncurkannya. Setelah mereka jauh dari atmosfer, pod akan lepas dan speeder mereka terbang. Simpel.
Mereka akan menunggu beberapa menit di selatan bulan sementara Deahstar sedang dalam perjalanan. Namun teropong Minseok menangkap beberapa transportasi yang mungkin saja mengangkut pasukan. Dia menyerahkan teropongnya pada Luhan.
"Aku sudah mengirim sinyal ke Sehun, dia akan tahu mereka datang." Jawab Luhan, "Sepertinya mereka sengaja seperti ini agar kita tak menyadari keberadaan Deathstar."
"Apa Henry baik-baik saja disana?"
"Kemungkinan besar." Ujarnya, "Tak ada yang tahu bahwa dia adalah mata-mata kita dan dia juga tak pernah jauh dari ruang mesin, mereka takkan menyadarinya." Dia meraih jamnya, lima belas menit sebelum kemunculan Deathstar. Luhan menyerahkan teropongnya, "Kita akan berangkat dalam dua puluh menit."
.
Henry masih menunggu dengan sabar di samping barat alat penghancur itu. Sudah begitu lama dia tak pulang ke planet halamannya dan cara dia kembali sekarang adalah dengan mengekori Deathstar. Itu membuatnya letih setengah mati.
Dia tak begitu mafhum akan kenapa perang ini terjadi, satu-satunya alasan dia terlibat dalam kekaisaran adalah pekerjaan turun temurun yang dilakukan oleh keluarganya, membawanya menjadi salah satu kepercayaan para senator dan jedi yang menjadi teman masa kecilnya. Bahkan kaisar sendiri adalah sahabatnya semasa belia.
Ibu dan leluhurnya menutup matanya akan sejarah, melarangnya membuka buju-buku kuno yang menyangkut sejarah keluarga kerajaan dan hubungan-hubungan mereka satu sama lain. Setelah ibunya meninggal, dia adalah tali terakhir yang ada di istana kekaisaran, tombak yang mempertahankan keberadaan mereka di sisi kaisar.
"HN-24, melapor segera dalam lima menit." Perintah sebuah droid manusia, seorang wanita dengan baju zirah. Orang-orang yang baru berada disini akan mengira dia benar-benar seorang manusia, alih-alih mata kristal dan baterai yang membuatnya tetap terjaga di bawah dadanya, menggantikan jantung di tempatnya seharusnya berada.
"Saya baru saja melapor tiga puluh menit yang lalu." Ucap Henry, masih membelakangi. Dia tak bisa meninggalkan sisi barat, jika Minseok dan Luhan menyadari ketidakhadirannya, misi akan gagal. "Dan saya baru saja melepas jaket."
"Bukan tempatmu untuk menolak, HN-24." Perintahnya tegas. "Sekarang melapor ke ruanganku dalam lima menit."
Dia menghela nafas ketika droid itu beranjak pergi, beberapa serdadu droid lainnya mengikuti langkahnya, berderap dalam satu irama mengerikan, menggema memenuhi sisi barat ruang mesin. Membuatnya berdoa semoga kedua Jedi yang mengemban misi tersebut segera tiba.
.
Sehun berderap menuju ruang kontrol, pesan dari Luhan sudah cukup untuk membuatnya begitu cemas akan apa yang sebentar lagi menuju planet mereka. Badai bergemuruh di atap istana sementara dia dengab cepat mencapai Ruang Kontrol.
"Ada transportasi menuju–"
"Kami tahu." Potong Baekhyun, yang saat itu tengah mengawasi radar navigasi. "Sepertinya mereka mengabaikan Speeder Minseok dan Luhan, perhatian mereka terfokus pada atmosfer. Lebih tepatnya, kita."
"Lebih baik seperti itu." Ujar yang lebih muda, "Badai sudah hampir berhenti, kau seharusnya bersama Zitao sekarang."
"Aku akan kesana sebentar lagi, hanya ingin memastikan sesuatu." Jawabnya, mengetuk radar dengan jemari lentiknya sebelum beranjak pergi, menuju tempat dimana para Jedi berkumpul.
Dia melirik yang lebih tua, menilingkan kepalanya, heran. Namun sebelum Sehun dapat menyuarakan apapun, gemuruh badai menghilang, langit malam padang menggantikan mendung hujan yang menyiram planet mereka.
Warna gelap pun terhapus di atas langit kuil, Samdong yang sedari tadi mengintip dari jendela bersama Master Lee hanya bisa melihat Jedi tua itu menghela nafas, menyadari bahwa hidup mereka semakin dekat dengan kehancuran.
"Puluhan tahun yang lalu," mulai sang master. "Legenda mengatakan adanya seorang Master Jedi, begitu hebat walau begitu ringkih." Samdong menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. "Jedi Master itu bernama Yoda. Ingatanku yang lemah tak begitu mengingatnya, namun sesuatu yang dia katakan terdengar seperti ini. Jangan berduka akan kematian, karena kematian akan membawa kita menyatu bersama Force."
Dia tersenyum pada Samdong.
"Pergi dari sini, Oh Samdong." Ujarnya. "Jika memang benar ibu kalian telah mencari cara menyelamatkan kalian, kalian bisa menyelamatkan kami nantinya."
"Saya tak mengerti."
Tangan mungilnya menerima sebuah lighsaber, berat namun ringan di saat yang bersamaan. "Aku pernah memasuki banyak peperangan, dan ini adalah salah satunya. Dari reruntuhan Star Destroyer Republik, dia tersembunyi. Gunakan ini dengan baik," pintanya. "Dan lindungi keluargamu dengan baik."
Master Lee tersenyum, mungkin menjadi sebuah senyum terakhir yang diberikan padanya, sebelum tubuh mungilnya berlari mencari teman yang telah dia kenal begitu cepat, sebuah teman yang dia yakin dimaksud sang master.
.
Luhan mengendarai Speeder-nya, mengejar Deathstar yang menuju planet halamannya. Speeder seharusnya tak dikenali, sebagai sebuah kendaraan yang cukup mungil, sehingga dia dapat dengan mudah menyelusup masuk ke dalam, menuju daerah ruang mesin dengan cepat.
Dia dapat melihat Henry melambaikan tangan dari kejauhan, membuatnya menepi dan turun. Minseok segera melompat turun dari kendaraan mereka, namun Henry memberinya kode lewat tangan.
Jangan mendekat.
Indera kedua Jedi terbuka, ada seseorang mengawasi mereka – tidak, ada begitu banyak. Luhan dapat merasakan blaster yang tertodong di belakang kepalanya, tepat sasaran. Henry menunduk, menggelengkan kepala.
"Bagus, HN-24, kau berhasil membawa mereka." Sosok droid wanita itu muncul dari kegelapan, tersenyum pwnuh kemenangan dengan blaster yang moncongnya menghadap pada sanderanya. "Bodoh atau putus asa, kalian ini?"
"Apa yang kau lakukan?" tanya Minseok.
"Oh, bukan salahnya." Jawab si droid. "Kuberi sedikit suntikan dan dia membeberkan semuanya, benar, kan, HN-24?"
Henry meringis dalam todongan senjata, "Itu bukan namaku."
"Oh, aku yakin sekali akan hal itu." Dia tersenyum licik, menatap mereka satu persatu. "Sepertinya negosiasi tak begitu berguna. Bunuh mereka semua, perlahan."
Dan Luhan serta Minseok, diikuti Henry, terjatuh ke lantai, berlutut karena belakang kaki mereka yang tertebas.
.
Baekhyun terkesiap, dadanya terasa sakit seketika. Ini bukanlah saat yang tepat, mengingat pasukan droideka telah turun dari transportasi, menyapu rakyat nereka dalam setiap tebasan, sisanya lurus menuju istana kekaisaran tenpat mereka berada.
Dia sendiri tengah berada di gerbang, mencoba menahan mereka bersama para Jedi yang lain. Setiap blaster mereka tak sebanding dengan lightsaber, namun cukup untuk menguras energi mereka. Dan rasa sakit itu semakin menyeruak, dia yakin, yang lainnya juga merasakan hal itu.
Seolah ada sebagian dari diri mereka yang hancur, luluh lantak, menghilang menuju ketiadaan. Seorang Jedi telah mati. Baekhyun yakin itu. Jika tidak mati, rasa sakit yang dia rasakan pasti amatlah pedih.
Baekhyun merasakan dirinya terlempar, jauh dari gerbang, bersamaan dengan yang lain. Di depannya, berjalan lurus adalah Yang Palgye. Seorang Sith dengan lightsaber-nya yang merah menyala, dengan mantap berderap ke ruang singgasana.
Palgye tersenyum dengaan liciknya. "Kau masih ingin mempertahankannya?" dia menatap Yifan, yang berdiri menggenggam pedang perunggunya, berkilat di bawah sinar bulan. "Tak ada gunanya, bukankah begitu?"
"Yang tak ada gunanya adalah kau, yang menyerang rakyat tak bersalahku. Tarik kembali pasukanmu dan bertarung saja disini, lebih baik, bukan?"
"Berhenti bicara," ujarnya, membuka lightsaber, dengung elektrik berpijar. "Dalam sepuluh menit kau akan meronta meminta ampun akan hidupmu, sementara rakyatmu akan sepenuhnya mati. Jadi, bisakah kita mulai?"
.
"Sepertinya negosiasi tak begitu berguna. Bunuh mereka semua, perlahan."
Minseok merasakan perih ketika belakang lututnya tersabet. Betapa mengerikan, merasakan darahnya mengucur ketika pedang perunggu menebasnya. Mereka, para Jedi, tak pernah menumpahkan darah sekalipun. Membunuh adalah hal yang amat sangat lain.
Lightsaber mereka terdesain dengan baik untuk menggosongkan luka hingga tak ada satupun darah yang tumpah, tak ada yang perlu dibersihkan. Merasakan darahnya sendiri mengalir sangat mengerikan baginya. Dan dia yakin Luhan merasakan itu juga.
Henry sedari tadi diam, pipinya menempel pada tombak elektrik yang memancarkan energi dari kedua sisinya, sedikit sentuhan dan dia akan merasakan kejang, panas listrik akan membunuhnya. Mereka benar-benar hendak menyiksa, bukan membunuh, persis seperti apa yang dikatakan droid wanita itu.
Dan disitulah letak kesalahan mereka.
Luhan yang menutup mata segera membukanya, lightsaber terhunus pada orang-orang yang menahannya, meninggalkan mereka yang mati terjembab ke tanah dengan punggung gosong. Minseok meraih kesempatan itu dan ikut menebas, melemparkan satu tombak pada Henry yang segera melarikan diri.
"Henry!" teriaknya, namun pria itu masih tertahan oleh beberapa, bsgitu kewalahan dan Minseok tak bisa membantunya. Bsgitu banyak yang menahan mereka dan dia yakin masih ada yang lain lagi datang. "Luhan!" Minseok berhasil menarik perhatiannya. "Waktu! Lihat waktu!"
Luhan menebas yang menahannya, membabi buta. Dalam beberapa menit, Deathstar akan menembakkan peledak ke planet mereka, dan Henry masih tak bisa membawa bom ke ruang mesin. Mereka tak punya pilihan lain.
"Pergi duluan! Aku akan menyusul! Terserah, pokoknya pergi duluan!"
.
Sepuluh menit.
Palgye berhasil menahannya dalam waktu sepuluh menit.
Sang ketua federasi tersenyum penuh kemenangan, menatap sang kaisar yang tertunduk di bawab lightsaber merahnya. "Ada kalimat terakhir, Yang Mulia?"
Yifan balas menatapnya, matanya berkilat. "Keluar dari planet kami."
"Kau masih angkuh?"
Desing lightsaber lain terdengar dari belakangnya, menodong lehernya. "Menyingkir, Yang Palgye."
"Huang Zitao!" serunya, suaranya penuh ejekan. "Sangat menyenangkan bisa bertemu denganmu, kau datang untuk melihat rajamu mati?"
"Tepatnya," jawab Jedi itu. "Aku datang untuk melihatmu mati." Rautnya menggelap, "Jadi berhenti bicara dan bertarung denganku. Sith melawan Jedi. Ini akan seperti puluhan tahun yang lalu."
"Huang Zitao."
"Diterima!" seru Palgye, mendorong Yifan jauh ke belakang, menghunuskan lightsaber merahnya.
Zitao adalah yang terkuat diantara keenam Jedi yang menjadi murid Master Lee, namun sepertinya kekuatannya tak pernah sebanding dengan Palgye. Selalu seperti itu. Seorang Jedi tak bisa mengalahkan seorang Sith, tidak ketika sendirian. Dia membutuhkan seseorang untuk membantunya.
Dan sepertinya Yifan mengerti akan hal itu.
Tangannya dengan sigap meraih pedang perunggu yang tergeletak di sampingnya, menyusul pasangannya yang dengan kewalahan bertarung. Dia dapat menangkap raut tak setuju dalam wajah Zitao ketika dia ikut terjun ke pertarungan.
Namun itu cukup untuk membuat indera Palgye bingung, dia kesulitan mengikuti alur Yifan yang terlatih bertahun-tahun. Menjadi seorang kaisar membuat masa mudanya dipenuhi pelatihan, tak sekuat Jedi, namun cukup.
Hanya saja, Yifan melakukan sedikit kesalahan, membiarkan sisi kanannya terbuka dan membuat Palgye dengan mudah menyabetnya, menusuk tepat menemnus tulang rusuknya. Dan jeritan Zitao adalah hal terakhir yang dia dengar.
Jedi tak bisa mengendalikan kekuatannya dalam kemarahan. Sumber mereka tak lain adalah ketenangan, membuat kekalutannya benar-benar tak berguna. Zitao merasakan ujung merah lightsaber Sith tersebut menenbus perutnya.
"Huang Zitao!"
Sehun.
Diikuti Yixing, Joonmyeon, dan Chanyeol.
Dua dominan itu bertarung bersama, sementara Yixing berlari ke sisi sahabatnya yang sekarat. Keduanya mungkin berhasil membunuh sang ketua federasi, namun mereka tak bisa menyelamatkan sang kaisar dan pasangannya.
"Kita harus pergi." Ujar Joonmyeon, merangkul Yixing yang meratapi jubah Zitao yang kosong, sementara jasad sang Jedi telah melebur di udara, jenazah Yifan di sampingnya. "Zhang Yixing, kita harus pergi sekarang."
.
Samdong menarik-narik Myungsoo, menjauhi Kuil Jedi yang menjadi tempat persembunyian mereka. Ibunya telah memberitahunya sesuatu trntang kapsul dan kapal tak berawak yang bisa membawa mereka pergi dengan selamat tanpa terdeteksi.
"Lewat sini." Ujarnya, namun sebelum mereka melangkah lebih jauh, yang lebih tua menariknya turun, bersembunyi di dalam lebatnya semak widuri, tepat ketika antek-antek federasi berjalan ke arah mereka.
Myungsoo memaksa Samdong untuk diam, tidak membuat suara apapun. Tangis pecah di atara mereka berdua, terdengar suara ledakan di sana-sini, tepat di pusat kota tempat orang tua mereka berada. Hanya ada mereka disini dan mereka harus segera lolos.
Carrier mungil itu menggerakkan satu batang pohon, dia telah belajar bagaimana menggunakan Force dengan baik. Dan itu cukup untuk membuat antek-antek bodoh itu mengira ada semacam hantu yang menunggu di atara pohon-pohon rindang tersebut.
"Sudah." Ujarnya, melihat Samdong yang masih menangis. Reflek, Myungsoo meraih kepalanya dan mengecupnya pelan. Sebuah cara untuk menenangkan seseorang yang dia ketahui dari ibunya. "Sekarang kita mau kemana?"
"Kemari." Jawabnya, menarik semak-semak berduri tak jauh dari tempat mereka berada, menampakkan sebuah Starship tanpa awak, didesain sebegitu mungkin untuk mengangkut mereka berdua.
"Apa ini?" tanya Myungsoo, menatap takjub ke kendaraan di depan mereka.
"Nanti, Hyung." Jawab Samdong. "Sekarang kita harus naik."
.
Setelah memastikan Minseok telah berada di Speeder, bersama Henry yang terluka karena – ternyata, Henry tak memiliki kemampuan bertarung sama sekali. Membuat keputusan Luhan ternyata tepat untuk menuju ruang mesin sendirian.
Perjalanan ke ruang mesin yang sedemikian dekat ternyata tak berjalan mulus. Beberapa droid menyadarinya yang tengah lewat dan Luhan hanya perlu menebas mereka. Dia memang berhasil meletakkan bom di sisi mesin, namun seorang anak kecil menghentikannya di perjalanan kembali.
Dia mungkin seumuran dengan Samdong, atau lebih tua. Tangannya yang bersandar di dinding menggenggam sebuah saklar, yang amat sangat Luhan curigai. Matanya menyipit ketika melihat bocah itu menatapnya tajam. Terlalu tajam untuk seorang anak kecil.
"Bagaimana kau bisa ada disini."
"Abeoji memintaku menunggu disini."
"Siapa ayahmu?" dia tak menjawab. "Apa margamu?"
"Yang."
Tentu. Jelas sekali. Anak ini adalah putra dati Yang Palgye, dia yakin sekali. "Dengar, nak." Ujar Luhan. "Jangan sentuh apapun, semua yang ada disini berbahaya." Walaupun dia tak begitu yakin entah itu akan berhasil atau tidak pada putra sang ketua federasi.
Dia melirik detonator yang Luhan pegang. "Jika kau menekan itu, aku juga akan menekan ini." Ancamnya.
Jadi itu adalah pengaktif Deathstar. Mereka benar-benar memodifikasi mesin ini dari desain yang lama. "Baik," Luhan menurunkan dotonator ke lantai, "Aku takkan menekan apapun." Bocah itu tersenyum picik, tepat setelah Luhan berdiri, dia menjatuhkan saklar ke bawah. Deathstar telah aktif. "Kau curang."
"Apa ada yang mengajakmu bermain adil?"
Luhan berhasil meraih detonator sebelum bocah itu, yang ternyata melarikan diri ke sebuah kendaraan terbengkalai. Entah bagaimana mengendarai transportasi itu sendirian. Dia dapat merasakan desing energi Deathstar yang sebentar lagi mencapai planet halamannya.
Dan dia meneteskan air mata.
Luhan adalah seorang Jedi. Yang dilatih sedemikian rupa tak hanya untuk melindungi orang-orang di planetnya, namun juga sebagai penjaga perdamaian. Dia akan datang dengan terhormat... dan mati dengan terhormat.
"Kematian, adalah sebuah kehormatan."
Dengan itu, Luhan menekan detonator, memusnahkan dirinya besera Deathstar yang telah memancarkan energi. Bertepatan dengan itu, Sistem Planet EXO, sistem planetnya, meledak. Hancur lebur beserta puing-puing Deathstar yang juga ikut musnah.
Bersama Luhan di dalamnya.
.
Sistem Planet Maroo, satu hari setelah invasiMyungsoo mengerjapkan matanya, tubuhnya telah sedikit menghitam karena abu kapsul yang meledak tepat setelah dia keluar. Kecelakaan terjadi, federasi mengetahui mereka yang keluar dari planet, menghancurkan tangki bahan bakar dan membuat dua kapsul tempat mereka bersembunyi terpisah.
Dia tak tahu dimana dia berada sekarang, badannya kotor dan perutnya kosong. Beberapa jam kemudian, Myungsoo masih menemukan dirinya sama seperti saat pertama dia datang. Kotor dan kelaparan. Paling beruntung adalah ketika dia menemukan kelapa atau tupai, yang bisa dia makan.
Berjalan ke kota adalah pilihannya yang terakhir setelah menemukan sebuah sungai bersih yang membuatnya membersihkan diri. Namun dia hanya perlu tahu dimana dia berada. Baru tiba di gerbang kota, dia menarik satu selebaran yang dijejalkan ke wajahnya.
Hancurnya Sistem Planet EXO membuat Senat Ibukota kewalahan!
Tak terasa, air mata Myungsoo menetes. Tak ada lagi yang tersisa untuknya di seluruh Galaksi. Semua orang yang dia kenal telah pergi, dan dia sendiran di planet ini. Orang-orang takkan percaya jika dia mengatakan dia berasal dari EXO, juga, dia terlalu takut untuk memberitahu namanya.
Dia bahkan tak tahu kemana dia harus mencari Samdong. Sahabatnya itu pasti telah pergi bersama kapsul yang membawanya, entah terdampar di planet lain atau berada di tempat yang tak jauh disini. Dimanapun itu, Myungsoo tak bisa menemukannya.
Myungsoo terduduk di sisi stan pedagang buah. Layaknya seorang gelandangan. Benar sekali, dia tak lebih baik dari seorang gelandangan. Seorang yatim piatu yang tak memiliki apapun di Galaksi ini. Hanya lightsaber yang tak berani dia gunakan, tersembunyi dalam jaket usangnya.
Pedagang itu menyerahkan sebuah apel, tanda rasa iba, dan Myungsoo menerimanya.
"Siapa namamu, nak?"
Pertanyaan itu membuatnya berpikir. Perlukah dia bersembunyi dan menutupi dirinya sepenuhnya? Menenggelamkan namanya yang menjadi kebanggaan orangtuanya untuk bertahan hidup di dunianya yang sepenuhnya baru?
Mungkin.
Bisa saja.
Myungsoo menghela nafas.
"Jihoon." Jawabnya. Ya, itu adalah namanya sekarang. Dia tersenyum lemah. "Park Jihoon."
.
Sistem Planet Cube, satu hari setelah invasiSamdong terbatuk. Terdampar di gurun adalah pilihan terakhir baginya sekarang. Beruntung, kapsulnya melempar dengan sangat baik dan menjauhkannya dari puing-puing. Tidak, tunggu. Seingatnya, dia berada di gurun saat itu, bukan di kasur kapuk hangat.
Seorang anak laki-laki menatapnya, menunggu matanya terbuka sebelum berlari keluar. "Dia sudah bangun, Bibi Lai, dia sudah bangun!" Dia hanya bisa menatap siluet anak itu, bersama seseorang yang lebih tua. Seorwng wanita muda dengan gaun kebiruan sederhana, di tangannya ada nampan berisi mangkuk bubur dan air minum. Bocah itu menuju sampingnya lagi, "Kau sudah pingsan sejak kami temukan."
"Seonho," panggil wanita itu, "Jangan menakutinya."
"Aku tidak, Bibi Lai." Jawab Seonho. "Siapa namamu? Bagaimana kau bisa ada di puing-puing? Kau berasal darimana, aku belum pernah melihatmu sebelumnya? Apa kau berasal dari sistem lain?"
"Yoo Seonho," tahan Bibi Lai. "Cukup."
"Maaf."
Bibi Lai hanya nenghela nafas, menatap langit yanh cahayanya mulai redup. "Pulanglah, desamu begitu jauh dan kau harus tiba sebelum malam."
"Baik, Bibi Lai." Jawabnya, patuh, berlari meraih sepatunya. Dia melambaikan tangan pada Samdong. "Sampai nanti!"
Wanita itu menghela nafas, mengalihkan perhatiannya pada Samdong. "Aku juga penasaran," ujarnya. "Kau berasal dari mana? Tak ada anak kecil yang muncul begitu saja di puing-puing ketika kami megumpulkannya." Samdong merengut mundur, terlalu takut. "Tak apa jika kau tak mau memberitahuku."
Dia semakin menunduk.
"Siapa orangtuamu?"
Samdong tak ingin menjawabnya, namun, "Aku tak ingat siapa." Itu adalah setidaknya yang bisa dia lakukan. Setelah apa yang terjadi di planetnya, menyembunyikan identitasnya adalah yang terbaik. Dia bukanlah anak kecil lugu yang tak tahu menahu akan persoalan pelik yang menimpa mereka.
Sebelum Bibi Lai dapat menjawab apapun, ketukan terdengar di pintu. "Zhirou!" seorang pemuda berada di depan mereka, terengah. "Aku mendengar dari Seonho, ada anak kecil disini." Dia melirik Samdong. "Apa yang akan kau lakukan? Dia akan menjadi masalah jika tetap tinggal."
Lai Zhirou menariknya keluar, jauh dari pendengaran bocah itu. "Dia tak ingat siapa orangtuanya, sekarang kau mau aku mengusirnya keluar?" bisiknya, pelan dan tajam. "Apa kau sudah hilang akal?"
"Kau tahu bagaimana ketatnya planet kita, Zhirou-er. Kau yang bisa terkena masalah jika kau menjaganya. Bahkan membawanya pulang sudah menjadi keputusan yang salah."
Dia benar. Orang-orang akan mempertanyakan bagaimana bisa ada anak kecil yang muncul tiba-tiba di rumahnya. Kalaupun tidak begitu, dia hanyalah pengumpul barang bekas yang kemudian dia jual di toko loak, beserta dengan penyalin buku yang dibayar murah.
Namun pasti ada cara. Anak ini tak bisa dia lepaskan keluar, tak ada yang bisa menjamin keselamatannya selama saat itu dan dia takkan membiarkan resiko itu terwujud. Ya. Dia bisa mendaftarkan anak ini sebagai putranya, tentu saja.
"Bisa saja." Ujarnya mantap, tak menghiraukan raut tak setuju sahabatnya.
"Kau tak serius."
"Aku serius." Zhirou merengsek masuk, menghindari temannya, menemui Samdong yang masih terduduk di dalam. "Anak manis, kau masih ingat siapa namamu?"
Samdong menggelengkan kepala, berbohong.
"Kau mau nama yang baru?"
Dia mengangguk dan Zhirou tersenyum.
"Lai Guanlin?" tebaknya. "Kau suka? Namamu Lai Guanlin sekarang, dan kau akan menjadi putraku."
.
Sistem Planet One, empat belas tahun setelah invasiGuanlin turun dari Starship yang membawanya, bertahun-tahun tinggal dengan ibu angkatnya membuatnya menginginkan kebahagiaan baginya. Tinggal sebagai anak yang tak jelas asal-usulnya membuat sang ibu dicemooh terus menerus, dia merasa bersalah karena harus berbohong sejak dulu.
Walaupun kertas telah menyatakan bahwa dia adalah putra seorang Lai Zhirou, orang-orang melihat. Dan mereka mengerti bahwa dia bukanlah anak dari seorang wanita muda yang telah lama menjanda dari suaminya terdahulu.
Seonho menepuk pundaknya dari belakang, keduanya telah bersama-sama sejak kecil, tumbuh seadanya dalam perhatian orang yang sama. Persahabatan itu juga membawanya ke sistem ini, bersama-sama mendaftar sebagai anggota dalam politik yang nantinya akan diseleksi lagi.
"Aku gugup." Ucap yang lebih muda. "Kau?"
Dia takkan berbohong. Dia gugup. Tapi Guanlin mengerti bahwa dia bisa melakukan ini. Ayahnya adalah salah seorang senator berpengaruh, dan itu akan memberinya kekuatan yang sama, kemampuan yang sama.
Keduanya berjalan masuk ke ruangan, tempat sembilan puluh sembilan kandidat lainnya berada. Samar-samar, Guanlin dapat melihat sosok yang dia kenali, seseorang yang sangat ia rindukan selama bertahun-tahun tinggal di Cube. Dia tak bisa mengejarnya ketika Seonho menariknya turun karena pembukaan akan segera dimulai.
Dia bahkan tak bisa menemuinya selama pelatihan.
Pelatihan begitu ketat dan dia tak bisa menemukan waktu untuk mencari orang itu. Di pagi hari mereka akan bangun cepat dan mempelajari hukum tata antar-Galaksi, garis haluan, serta aturan perdagangannya, juga dasar-dasar peta dan sejarah Galaktik hingga sore hari. Mereka akan mendapat selingan makan di siang hari dan waktu istirahat sore selama dua jam. Malam mereka akan lanjut mengerjakan tugas dan permasalahan berbeda-beda setiap orangnya. Untuk menguji seberapa besar pemikiran mereka.
Di setiap minggu, mereka akan mendapat penilaian utuh dari guru-guru mereka, hal ini menentukan apakah mereka layak untuk masuk ke ujian selanjutnya atau pulang ke planet mereka masing-masing tiga hari setelah ujian final. Guanlin tak punya waktu untuk memikirkan hal lain kecuali lulus, lulus, dan lulus.
Hinga akhienya tiba waktu pemilihan final, rakyat One juga ikut mmemilih kelayakan mereka. Dia takkan berbohong, tangannya berkeringat dingin hari itu, mereka semua dikumpulkan dalam sebuah aula besar, berbaris di atas panggung yang menjulur ke depan, tepat ke depan sebelas singgasana yabg menanti mereka.
Rakyat juga ikut berkumpul, menunggu dengan sabar di atas tempat duduk mereka, menanti pemimpin yang dianggap layak maju dan membawa mereka ke era kegemilangan lainnya. Guanlin melihat ke sekitar, menyadari bahwa dia berada di atas kakinya sendiri.
Yoon Jisung, Kang Daniel, Ong Seongwoo, Park Woojin, Ha Seungwoon, Kim Jaehwan, Hwang Minhyun, Bae Jinyoung, Lee Daehwi, Park Jihoon... dan Lai Guanlin.
.
Guanlin mengawasi Seonho yang membereskan barang-barangnya, dalam hati dia merasa bersalah karena hanya lolos seorang diri, namun dia tahu dia tak bisa melenggang masuk ke ruang dewan dan berlutut agar dia tetap dibiarkan berada di One.
Yoo Seonho harus pulang.
Sahabatnya itu menepuk pundaknya. "Kau akan baik-baik saja." Ujarnya, tersenyum.
"Seharusnya kau ikut lulus."
"Hei," tahannya, mencoba mencari mata yang lebih tua, "Kau lebih pantas disini, dewan dan rakyat telah membuktikan itu. Sekarang lakukan tugasmu dengan baik, jangan biarkan aku menendang pantatnu sepulang ke Cube karena membuat sistem ini porak poranda."
Guanlin hanya tersenyum kecil. "Katakan pada Eomma, aku mungkin tak bisa pulang hingga kira-kira dua tahun. Aku tak tahu, akan kukabari nanti."
Seonho mengangguk, "Bibi Lai akan mengerti." Dia mulai membereskan beberapa pakaiannya lagu sebekum berbalik pada Guanlin yang melihat-lihat beberapa bukunya. "Oh, aku baru ingat," ujarnya lagi, "Bagaimana dengan orang itu? Maksudku, carrier itu, yang kau ceritakan padaku."
"Ada apa dengannya?"
" Kau tak mau mencarinya? Apa dia lulus? Aku tak tahu karena kau tak pernah memberitahuku namanya, tapi apa kau akan tetap mencarinya? Hari ini adalah hari terakhir, jika dia tak lulus, kau harus mencarinya malam ini."
"Bukannya aku tak memberitahumu secara detail, tapi aku memang tak tahu dia siapa atau darimana planet asalnya. Aku bahkan tak yakin itu adalah dia."
"Tapi kau mengatakan identitasnya, kau kenal dia dengan cukup baik."
"Yah, wajahnya cukup cantik untuk dinyatakan sebagai carrier."
"Kau bilang kau ingat sesuatu tentang masa kecilmu dengannya."
"Yah,"
"Guanlin," panggilnya, "Kau tahu jelas siapa dia. Jika kau tak mengingat orangtuamu taoi mengingatnya, orang itu sangat memlengaruhi hidupmu." Guanlin meringis mendengarnya. "Sekarang cari carrier-mu sebelum aku menendang pantatmu keluar."
.
Guanlin berjalan di tepi-tepi aula, melihat-lihat taman yang tampak dari kaca jendela. Confetti yang dilemparkan tadi malam telah hilang tanpa jejak, menandakan droid pembersih yang bekerja keras semalam suntuk.
Dia tak tahu harus mulai dimana.
Harapannya bahkan hampir sirna tepat ketika seseorang berjalan di taman depannya, rambut coklat terang yang dia kenali bersama dengan seseorang lain. Dia ingat mereka siapa. Park Jihoon dan Park Woojin. Dua orang itu– Tunggu, orang itu. Dia mengenali carrier yang tengah dia cari.
Yang mana?
Park Woojin?
Park Jihoon?
Dia tak ingat yang mana! Dia tak begitu memperhatikan siapa saja yang lulus saking kalutnya sia tadi malam. Guanlin bisa saja menggunakan metode tetakhir – yang sangat dia hindari – dengan lari ke balkon.
Mungkin itu pilihan yang bagus, bukan yang terbaik, tapi bagus.
Jadi dia berbalik dan lari ke balkon, tak membiarkan dua Park itu menghilang dari pandangannya sebelum berteriak. "Park Myungsoo!"
Dan carrier cantik itu berbalik, reflek ketika namanya dipanggil. Guanlin tersenyum, melambaikan tangan, membuat mereka saling bertatapan.
.
"Kau memanggil siapa tadi?" tanya Jihoon. Setelah mendengar teriakan orang itu, dia berjalan kembali ke atas aula, menjnggalkan Woojin sebentar. Namun Guanlin hanya tersenyum, "Kau tak mendengarku bertanya?"
"Kau tak menyadari namamu?"
"Namaku Jihoon, bukankah itu jelas? Marga yang benar, tapi nama yang kau sebut salah."
"Lalu kenapa kau berbalik?"
"Karena hanya kami berdua di sana."
"Lalu kenapa kau mengganti namamu?"
Jihoon terdiam, menelan ludah. "Aku tak tahu apa maksudmu."
"Entahlah," Guanlin menelusuri ukiran balkon mereka. "Tapi Myungsoo begitu cengeng saat masih kecil."
"Tidak kok!" jerit Jihoon, tak terima. "Siapa bilang dia cengeng?" Guanlin tersenyum penuh kemenangan, membuat carrier di depannya kembali menelan ludah. "Dengar," dia mendekat, "Aku tak tahu kenala kau melakukan ini, tapi jika kau hanya ingin melaporkanku ke dewan karena menggunakan nama palsu, terserah. Aku tak peduli."
Jihoon telah memutar badannya, membelakangi Guanlin ketika si dominan menahan tangannya. "Kau tak mengenaliku, Hyung?" dan carrier itu berhenti bergerak. "Akan ada festival kembang api nanti malam, kau mau menontonnya denganku? Kita belum sempat melihat kembang api dulu."
Dia memutar kembali tubuhnya, berhadapan dengan pria tinggi di depannya. Samar-samar, wajah familiar sahabat kecilnya tercetak di benaknya, mata yang sama... dan senyum yang sama. "Oh Samdong?" senyun Guanlin melebar. "Ini kau?"
"Ini aku." Balasnya, suaranya berupa bisikan lembut. Jihoon menghambur ke pelukannya, air mata merembes di pipi dan membiarkan sosok yang lebih tinggi itu mendekapnya lebih erat. "Aku juga merindukanmu." Ujarnya.
Jihoon memukulnya di pundak ketika pelukan mereka terlepas. "Kemana kau selama ini? Kau tahu betapa takutnya aku? Apa kau tahu aku–" Guanlin membungkamnya, menahan tangannya di belakang leher dan menengadahkan kepalanya, sedikit menurunkan kepalanya sendiri.
Bibir Jihoon terasa lembut dan manis, persis seperti ciuman mereka. Singkat, namun hangat dan lembut. Menumpahkan rasa rindu setelah bertahun-tahun terpisah. Ketika Guanlin melepasnya, Jihoon masih memejamkan mata, terlena.
"Itu ciuman pertamaku." Bisiknya.
"Sama." Jawab yang lebih muda, "Sekarang kau mau aku mengembalikannya?"
Jihoon tersenyum, menarik doninannya turun kembali dan menyentuhkan bibir mereka. Lebih lama dibandingkan yang tadi. Lidah mereka saling bermain sementara tangannya naik ke atas, meremas rambut kelam Guanlin. Seolah semuanya akan selalu baik-baik saja.
.
Kembang api berpendar di atas mereka.
Seluruh anggota menonton dari atas balkon sementara rakyat melanjutkan festival jalanan sebagaimana semestinya. Musik-musik dinyalakan, penari beraksi, dan anak-anak muda bermain. Orangtua akan mengawasi anak-anaknya selama mereka memakan gulali merah muda di ujung jalan.
Sebelas anggota baru itu menatap takjub bebungaan yang meledak di langit, ikut menghiasi malam dalam warna-warni indahnya. Jihoon merasakan tangannya tergenggam dan dia menoleh ke samping, dimana Guanlin tersenyun ke arahnya.
Yang lebih muda menariknya turun dari balkon, menuju ruangan lain yang tertutup, namun masih dapat menikmati indahnya kembang api. Carrier itu menahan tawa ketika kekasihnya membuka gorden dan memeluknya dari belakang dengan hangat.
"Hyung," dia bergumam, "Kau tahu aku mencintaimu, kan?" Jihoon menengadahkan lehernya, mendengarkan. "Selama terpisah, kau tak pernah lepas dari pikiranku. Sudah lima belas tahun, Hyung. Apa kau juga berpikiran sama?"
Dengan cepat, carrier itu mengecup bibirnya. "Apa itu menjawab pertanyaanmu?"
Guanlin tersenyum, menariknya lebih erat dan menautkan jari mereka. "Menikahlah denganku." Bisiknya, tepat di telinga Jihoon malam itu.
Dan keduanya kembali menyatukan bibir mereka, di bawah pendar kembang api yang meledak di angkasa planet mereka.
.
Jadi, dikarenakan aku tak ingin meninggalkan cerita ini, plus aku juga sudah bilang akan membuat Interlude, here we are!
A supplementary story of Cosmic Railway.
Sebenarnya ini tak perlu dibahas, seperti anonymous story or such, but it's panwink and EXO ya'll, who can resist?
Obviously not me. Bruh.
aaaaannnnnddddd...
For You:
Guest (Lin) Wow wow wow, slow down, Eonnie ㅋㅋㅋ aku benar-benar terharu, jinjja jinjja gomawo atas segala pujian yang membuat jantungku dugeun dugeun chu~
Dan aku mau mengaku, aku juga sama kaya Eonnie =D Dan pengakuan dosaku adalah aku nulis pas guru killer-ku ngajar ㅋㅋㅋ. Gak kok, Eonnie, komennya gak panjang-panjang amat ㅋㅋㅋ. Makasih, Eonnie, see ya too.
.
And this is really the end, Guys.
Cosmic Railway resmi berakhir, it's been my pleasure to write and please you as a ff writer. Hiks, I'll miss this and you all very much.
I'm sorry for every grammatical error and typo as usual.
Until we meet again,
Yoon Soo Ji, Out!
