Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
.
SASUKE
"Ng-ngapain kamu di sini?" Tanyanya gelisah.
Aku nyengir. Demi rambut gondrong Neji yang sering pingin kupotong, ini cewek manis banget kalau lagi sendirian dan ketakutan gini. Mirip anak ayam yang terpisah dari induknya dan ketemu sama seekor elang gagah. Sakura anak ayamnya, Menma induknya, sementara aku elang gagahnya. Hahahaha. Apa, mau protes soal monolog batinku? Sini, maju. Biar ta' kepret.
"Nemenin kamu," jawabku manis.
Sakura meringis. "Aku nggak perlu ditemenin. Udah sana pergi!" Usirnya, tampak tak nyaman dengan keberadaanku. Diam-diam kuperhatikan dia menggeser pelan duduknya hingga ke ujung bangku, agar bisa berjauhan denganku.
Aduh Neng jangan gitu dong. Sini atuh lebih deket. Abang ganteng nggak gigit kok.
"Tapi aku lagi pengen nemenin kamu."
"Huh!" Dia mendengus sebal. Mencoba memandang apapun di sekitarnya, menolak untuk menatap ataupun bertemu pandang denganku. Mungkin dia takut pesonaku akan merontokan hatinya. Uchiha gitu loh!
...
"Apaan sih ngeliatin aku sampai kayak gitu? Risih tahu!" Protesnya setelah sekitar sepuluh menit mendiamkanku. Membiarkan duduk di sisinya, sambil menatap wajah cantiknya, yang kelihatan jauh lebih cantik kalau berada di bawahku nanti. Jadi nggak sabar.
"Kamu cantik."
Wajahnya tampak memerah manis. Dia merona malu mendengar pujianku. Ah. Rupanya daku masih belum sepenuhnya kehilangan taji sebagai seorang Cassanova di Universitas Konoha. Buktinya Sakura yang susah dirayu, sekarang bisa tersipu.
Menurut Sai, sobatku dari fakultas psikologi, tipe cewek macam Sakura nggak suka dibohongi. Dia lebih welcome sama cowok yang jujur. Jadi jujur sama Sakura tentang apa yang kupikirkan sekarang, nggak akan kenapa-napa kan?
"Tapi kamu akan lebih cantik lagi kalau telanjang bulat di bawahku."
Sakura melotot. Mulutnya menganga lebar, dan ... Mukanya memerah. Kali ini bukan karena tersipu. Sepertinya dia sedang ... Marah? Lho?
"DASAR MESUM SIALAN!"
PLAAAK!
BUGHH! Mendadak badanku tersungkur dari bangku setelah mendapatkan tamparan keras dari Sakura di pipi kiri, dan tonjokan tak terduga bersarang di pipi kanan. Gila. Lumayan sakit. Si Menma ngajarin kakaknya karate juga ya?
Ingatkan aku untuk membunuh Sai-pucat-sialan saat kami bertemu nanti. Saran darinya benar-benar tidak berguna. Mahasiswa psikologi apaan? Kampret!
.
.
.
Setelah nampar dan nonjok aku semena-mena di kantin, Sakura kabur. Aku tidak dapat menemukan dia. Cewek sialan (yang sampai sekarang masih kutaksir) itu sudah sukses membuatku diketawain anak-anak lain di kantin.
Aku bersumpah akan membuat cewek itu takluk-setakluk-takluknya. Dia harus kudapatkan untuk membayar rasa malu ini. Seriusan deh. Kalau aku udah dapatin dia di ranjang, aku bakal hajar dia sampai sepuluh ronde, sampai dia nggak bisa bangun dan jalan lagi. Itu pasti.
Aku baru saja sampai di tempatku memarkirkan mobil, dan baru saja akan membuka pintunya, ketika suara ponsel di sakuku berdering nyaring.
Karin? Sebelah alisku terangkat saat membaca ID-call si penelpon. Sepupu kampret?
"Hallo Rin?" Aku menekan tombol jawab.
"Gue nggak tahu kalau lo segila itu!" Semburnya marah.
Apa-apaan? "Maksud lo?" Nih anak gila kali ya? Marahin orang seenaknya, tanpa permisi lagi. Beuh. Kenapa Om Madara bisa punya anak perempuan kurang asem kek gini sih?
"Lo itu nekat ya?"
Nih anak ngomel-ngomel tanpa ngasihh tahu penyebab yang jelas. Oh ya, apa dia marah gara-gara masalah Sakura? Dia tahu soal aku yang ngerayu kakak Menma itu? Ah, Karin, masalah itu doang di besar-besarin.
Aku mendengus. "Kalau ini mengenai masalah Sakura, aku ..."
"Ini bukan mengenai masalah Sakuraaaa!" Dia menjerit gemas di telpon.
"Trus apaan?"
"Kamu bilang kamu udah putus sama Asahi."
Heeeh? Keningku mendadak kribo saat mendengar Karin menyebutkan nama mantan cewekku yang pertama, yang dulu sangat kucinta, dan bikin hati ini cekat-cekit karena kelakuannya.
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Cewek sialan itu sekarang lagi ada di Rumah utama keluarga Uchiha. Lagi ngobrol serius sama Kakek dan Paman. Aku pikir kamu masih pacaran sama dia, makannya dia berani nongol disini."
"Hueee. Enak aja, udah nggak kok."
"Ampun deh Sas, dari tema pembicaraan Kakek; Paman, sama Asahi, kayaknya pulang-pulang kamu bakal langsung dikawinin deh."
"Idiih ogah!"
"Makanya cepatan pulang!" Sambungan ponsel di putus.
Sialaaaaaan! Mungkin hari ini adalah hari sial untukku, udah kena tampar sama kena tonjok Sakura, eh sekarang aku mesti berurusan lagi sama mantan cewek gilaku yang patut disantet pake boneka voodoo.
Arghhhh! Mendadak pala jadi nyut-nyutan mikirin apa saja yang akan Asahi katakan pada Kakek dan Ayahku. Dia terobsesi pada kegantenganku (Apa? Mau protes kalau aku ganteng? Sini tak jadiin bubur ente!) Dan tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang menjadi tujuannya. Aku khawatir memikirkan kebohongan apa saja yang dikarang Asahi pada keluargaku.
Mengabaikan tatapan aneh para mahasiswa-mahasiswi di sekitar area parkir, karena tingkahku yang pastinya seperti orang gila. Aku terus memutar otak memikirkan bagaimana cara untuk menyingkirkan Asahi.
Dan ...
Kepala merah muda yang muncul sendirian dari arah selatan, memberiku ide cemerlang. Mumpung dua bodyguardnya belum nongol sebaiknya kubawa aja nih anak.
"Eh? Apa-apaan ini? Eh Sasuke, turunin! Kamu mau bawa aku kemana?!" Sakura menjerit ketakutan saat aku tiba-tiba menghampiri, menggendong dia seperti karung beras, lalu melemparkannya ke jok belakang mobilku. Tanpa memberi si pink itu waktu untuk bereaksi, aku segera masuk mobil dan tancap gas dari sana. Kalau sampai Menma atau Naruto liat bisa mampus aku.
"TOLOOONG! TOLOOONG SAYA DICULIK!"
Aduh sayangku lebay deh.
*BERSAMBUNG*
Note : sebenarnya chap ini sama chap kemarin satu chapter. Cuma ngesave di Ms. Office java jar, kepotong. Jadinya pendek-pendek. :,( maaf.
