"Aku tidak akan mengubah pikiranku. Kaa-san… Aku sudah bicara padanya. Kuharap Tou-san tidak membuatnya bertambah bingung dengan mengatakan hal-hal aneh."
Onyx redup itu belum menghilang dari mata putranya. Setahunya, Uchiha Sasuke tidak akan pernah berekspresi seperti itu. Atau jangan-jangan…
'Aku yang tidak tahu kalau putraku memiliki ekspresi seperti itu?'
"Tou-san… Aku tidak akan mengubah pikiranku." Ucap Uchiha bungsu. Kali ini dengan kalimat tegas dan sorot mata yang penuh keyakinan.
'Fugaku… Apa yang akan kau lakukan? Apakah masih ada kesempatan bagimu untuk memainkan peran sebagai seorang ayah? Apa saja yang kau lakukan selama ini? Itachi… Sasuke… Apa kau menganggap mereka sebagai putramu?'
Fugaku berbicara kepada dirinya sendiri. Apakah putranya memilih pilihan yung benar?
Ayah dua anak itu memutuskan untuk beranjak meninggalkan kamar puranya. Entah setan apa yang merasukinya, dia berjalan mendekati Sasuke, kemudian mengacak pelan rambut bungsunya.
"Kau adalah putraku." Ucapnya sebelum benar-benar meninggalkan kamar berukuran besar itu.
.
.
There's No Regret in My LIfe –
Sequel of "There's No Next Time"
Disclaimer "Naruto": Kishimoto Masashi
This story: KyuuRiu
Pair: SasuNaru (main)
,
Rated: T
Genre: Hurt/Comfort - Romance
Warning: geje, abal, typo, mis-typo, jelek, bahasa amburadul, pokoknya gak banget, perjuangan panjang setelah lama terabaikan
.
.
Part 9: Bitter Sweet Realm
.
.
Kyuubi's PoV
Pagi yang mendung di musim gugur. Angin bertiup cukup kencang membawa dedaunan kering dan hawa dingin… Ramalan cuaca bilang, sepanjang hari ini akan mendung dan hujan akan mulai turun pada malam hari. Hari ini akan sangat sempurna untuk menjalankan rencana terakhirku.
Hari ini adalah hari yang sudah kami tunggu-tunggu. Suhu yang pas.. kelembaban udara yang pas…
Hari ini akan menjadi sangat sempurna.
Kupandangi adikku yang masih terlelap. Kubelai wajah tan-nya yang terlihat sangat tenang. Mata terpejam dengan bulu mata yang lentik itu… mungkin ini akan menjadi saat-saat terakhirku melihatnya.
Aku ingin memeluknya…
Benar apa yang dikatakan Itachi waktu itu, membayangkan rencanaku sendiri saja, aku sudah merasakan sakit yang teramat sangat di dada. Tapi… aku juga tidak bisa berhenti. Lebih tepatnya, aku tidak mau berhenti.
Mungkin, harga diriku terlalu tinggi untuk menjilat ludahku sendiri,
Aku bukannya menyerah, aku hanya benar-benar ingin Naruto bahagia di kehidupan selanjutnya. Sebagai seorang kakak bodoh yang selalu melarikan diri saat penyakit Naruto kambuh, hanya inilah yang bisa kulakukan untuk membuatnya bahagia.
Mungkin…
Kubelai lembut pipinya, aku bisa merasakan tanganku sendiri gemetar. Dadaku bergemuruh seolah ingin menentang apa yang selama ini kuinginkan..
Tidak! Aku sudah tidak bisa mundur lagi…
Sentuhan lembut di atas telapak tanganku membuatku terlonjak. Entah sejak kapan kelopak mata Naruto terbuka, menunjukkan langit terang yang seolah menusuk jantungku, membuatku sesak.
Orang bialng, berlian yang diasah bisa lebih tajam dari pedang. Dan saat ini, mata , biru seindah berlian itu seolah sedang menghujam jantungku berkali-kali.
Benarkah ini yang terbaik?
Apa ini bukan keegoisanku saja?
"Kyuu-nii menangis?" gumamnya tersenyum. Ia mendudukkan dirinya. masih dengan tangan kanannya yang memegang tangan kiriku, telunjuk kirinya menelusur jejak hangat di pipiku.
Tidak menyangkal, aku hanya bisa tersenyum. Kami pun tersenyum dalam diam… aku bisa merasakan tangannya yang juga gemetar.
Perlahan, kubuka bibirku ragu, "Kau takut? Masih belum terlambat untuk membatalkannya."
Bohong.. aku yang takut.
Pemuda yang sejak lahir selalu ceria itu menggelengkan kepalanya, kemudian mengucapkan sebuah kalimat yang membuat butiran hangat mengalir deras dari mataku.
"Aku sayang Kyuu-nii, Kaa-san, Tou-san, juga Sasuke…"
Sebuah kalimat ambigu yang entah kenapa terasa sangat menyakitkan. Naruto… Dia melakukan semua ini bukan hanya demi kebahagiaannya sendiri…
Kutarik tubuhnya, lalu kupeluk erat. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan. Otakku benar-benar tidak bisa berpikir jernih.
Si pirang cengeng ini sama sekali tidak menangis, terisak pun tidak, bahkan tangannya mengelus puncak kepalaku, mengatakan semua akan baik-baik saja.
"Aku percaya padamu.. juga Sasuke." Ucapku pada akhirnya. Kuacak rambut pirang jabrik Naruto, lalu mulai beranjak dari tempat tidurnya.
"Bersiap-siaplah… semua sudah menunggumu untuk sarapan."
Tanpa menunggu jawaban darinya, aku berjalan menjauhi kamar bernuansa cerah itu. Jujur, kakiku rasanya berat sekali. walau begitu, aku tetap mencoba melangkah maju.
Ini demi Naruto.. demi kebahagiaannya.
Atau… mungkin ini hanya demi diriku sendiri dan keegoisanku yang meluap.
End of Kyuubi's PoV
.
.
Naruto's PoV
"Naruto… Naruto… kau lama sekali!" pekik Kurama, bocah dengan rambut orange berantakan yang duduk berhadapan dengan Shion. Tangan kanannya memegang garpu, sedang tangan kirinya memegang sendok. Walau begitu, piring di hadapannya masih kosong.
"Maaf.. Maaf… habisnya aku mengantuk sekali." ucapku menunjukkan cengiran khasku. Perlahan aku duduk di samping Kurama, lalu mengacak rambutnya asal. Kucubit pipinya cukup keras, meninggalkan bekas kemerahan dan jeritan yang dilanjutkan dengan tangisan keponakan manisku itu.
Tentu saja, Kyuu-nii mengamuk gara-gara aku menyakiti putra kesayangannya, sementara Shion hanya terkikik sambil mengelus pipi Kurama.
Kaa-san dan Tou-san melerai kami dengan ucapan tanpa beranjak sedikitpun dari kursinya, seolah pertengkaran kami adalah sebuah tayangan yang sangat 'menghibur'. Dan aku serta Kyuu-nii masih terus berdebat, bahkan sekarang, makhluk menyebalkan berambut orange itu menarik kedua pipiku kuat-kuat.
"Rasakan pembalasan dendamku!"
"Gaaahhh~~ Kuuww-nww… heefaahhhkaaannn~~ (Kyuu-nii, lepaskan!)"
"Tidak sebelum kedua pipimu copot!"
"Hentikan kalian berdua! Jangan ribut di meja makan!"
"Huwee~~ Papaaaa~ "
"Naruto… Kyuu.. kalian membuat tangisan Kurama makin keras.."
"…"
...
Sarapan kami pun dimulai dengan Kurama yang masih sesenggukan, Tou-san yang memindahkan kursinya diantara aku dan Kyuu-nii, dan Shion serta Kaa-san yang masih sibuk menghibur Kurama.
Sebuah potret keluarga yang bahagia…
Ahh. Andai saja begini sudah cukup bagiku…
Andai saja…
Sayangnya aku terlanjur menginginkan sesuatu yang lebih. Sesuatu yang hanya bisa kudapatkan jika aku bersamanya, Sasuke…
Bukan! Ini bukan 'sayangnya'.. aku beruntung memiliki perasaan ini. Tidak ada yang perlu disayangkan. Semua akan baik-baik saja..
"Naruto, hari ini ada kuliah jam berapa?" gumam Tou-san menghentikan ocehanku dan Kyuu-nii yang sejak tadi belum berhenti.
"Mulai kuliah jam 9.. aku akan berangkat bersama Sasuke lagi." Jawabku sebelum menyuapkan sesendok besar sup ke dalam mulutku.
"Ja –jangan lupa membawa bento yang sudah Kaa-san buatkan…" sambung Kaa-san.
Beberapa hari ini Kaa-san terlihat gelisah saat sarapan. Kurasa Kyuu-nii sudah memeberi tahu rencana 'gila'-nya. Walau begitu, aku berani bertaruh kalau Kaa-san tidak tahu bahwa rencana itu akan dilaksanakan hari ini. Kalau wanita berambut merah itu tahu, dia pasti sudah menangis sekarang.
Aku hanya meng-iya kan sebelum melanjutkan sarapan pagi paling tidak enak selama hidupku ini.
Benar-benar tidak enak… Semua yang masuk ke perutku pagi ini terasa seperti makanan basi, membuatku ingin memuntahkannya. Walau bagaimanapun, aku tetap menghabiskannya.
Ahh.. mungkin hanya Kurama yang beranggapan bahwa sarapan kami terasa enak. Hanya dia yang tidak mengetahui semuanya.
Selesai makan, aku kembali naik ke kamarku untuk mengambil tas. Untuk terakhir kalinya, kupandangi seisi kamarku dengan teliti.
Warna cerah favoritku…
Meja belajar berukuran sedang di dekat jendela…
Ranjang empuk yang hangat..
Almari super besar berisi kostum-kostum untuk cosplay milikku dan Sasuke..
Aroma citrus pengharum ruangan..
Aku pasti akan sangat merindukan kamarku.
Entah kenapa bibirku tersenyum, tanpa beban sedikitpun aku melangkahkan kaki keluar.
"Aku harus segera turun untuk 'berpamitan' dengan semuanya." Gumamku sambil menutup pintu.
Aku berjalan menuruni tangga dengan langkah cepat. Aku ingin segera keluar dari rumah ini dan 'hidup bahagia' dengan Sasuke.
"Kurama!" pekikku saat melihat putra tunggal Kyuu-nii menginjak anak tangga pertama dan hampir bertabrakan denganku.
Kugendong tubuh mungil itu, lalu kucium pipinya dalam. Sebuah ciuman kasih sayang dari seorang paman untuk keponakannya.
Dia tertawa terbahak kegelian. Tangan mungilnya mendorong-dorong wajahku, meminta untuk dilepaskan.
"Gyaahaa~ Naru lepaskan akuuu! Papaaa~~"
"Ssstt… jangan panggil papamu.." bisikku menghentikan dorongan bibir dan hidungku ke pipi tembemnya.
Tangan kiriku menyangga tubuhnya sementara tangan kananku merogoh kantong celanaku sendiri.
"Dengar.. ini rahasia di antara kita. Jangan beri tahu siapa-siapa, OK?"
Bocah polos itu menutup mulut dengan kedua tangannya, lalu mengangguk cepat. Lucu sekali, tapi entah kenapa dadaku rasanya sangat nyeri.
"Ulurkan tanganmu…"
'clankk'
Kuletakkan sebuah gantungan tas berbahan stainless steel di telapak tangan mungil yang terulur itu, "Ini apa Naruto?"
"Hmm.. Ini jimat rubah dariku. Kalau kau menjaganya baik-baik, suatu hari nanti kau akan menemukan putri yang sangat cantik." Bibirnya membentuk huruf 'o', mata bulatnya tampak serius menatapku dan gantungan berbandul rubah berwarna orange tua di tangannya. Tali berwarna hitam yang menjuntai diantara gantungan rubah dan pengait membuat benda itu terlihat besar.
"Berikan ini padanya saat kau mengutarakan perasaanmu, OK?"
Kurama mengangguk mantab. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Ia lalu menyimpan 'jimat' pemberianku di kantong celananya.
"Yosh! Sekarang, temani aku menunggu Sasuke." Teriakku menggendongnya sambil berjalan cepat.
Lagi-lagi ia mengangguk, kali ini sambil memelukku, "Terima kasih Naru.. akan kujaga baik-baik."
Maaf, Kurama…
Aku bohong.
Itu bukan jimat…
Itu gantungan biasa yang seharusnya kuberikan kepada –
"Naruto, kau kelihatan senang sekali.." sapa Iruka-san saat aku mengambil bento buatan Kaa-san di dapur. Disana juga kulihat Kakashi-san sedang berkutat dengan kran di tempat cuci piring yang macet.
Aku hanya tertawa terbahak sebelum kuberikan isyarat mata kepada keponakanku. Aku memulai aksiku setelah mendapat anggukan darinya.
Kutarik-tarik kuncir rambut Iruka-san, lalu berlari ke arah Kakashi-san untuk melepas maskernya dan membuang keduanya keluar jendela. Setelahnya aku kabur bersama Kurama yang ikutan tertawa bersamaku.
Menjahili Kakashi-san dan Iruka-san… entah kapan terakhir kali aku melakukan kenakalan seperti ini, yang jelas, barusan aku melakukannya lagi. Bersama Kurama… rasanya sepuluh kali lebih menyenangkan dari biasanya.
"Gyaahahah… Naruto jali.. haha nakal.. ahahah~"
Teriaknya memukuli pundakku pelan saat kami berlari. Ia tertawa begitu keras hingga air mata menetes di pipinya. Mengingat aku yang dulu pernah sangat membencinya… aku ingin memeluknya lebih lama!
"Hosh.. haa~hh.. capeknya.." keluhku saat kami tiba di ruang tengah dan berhenti berlari.
"Dasar anak jali…" ucapnya mencubit pipiku keras.
"Aww.. lepaskan… tuyul –aduh!"
OK, yang barusan benar-benar sakit. Seseorang memukul kepalaku dengan Koran.
"Jangan ajari cucuku yang aneh-aneh."
Tch. Tou-san menyebalkan!
"Ahahaha… Jii-chan juga jali.. mukul Naruto. Itu tidak boleh.. namanya nakal."
Pria yang sudah berpakaian kantoran rapi itu mengeryitkan keningnya, "Jali..?"
"Mungkin maksudnya 'jahil'.. ya kan, Kurama?"
Bocah di gendonganku mengangguk senang melihat Obaa-chan kesayangannya datang. Ia lalu bercerita riang tentang aku yang menjahili Kakashi-san dan Iruka-san. Otomatis, aku mendapat ceramah singkat dari mereka berdua.
"Kau ini.. bagaimana kalau Iruka berhenti bekerja disini gara-gara kau nakal begitu?" Kaa-san memarahiku dengan kalimat yang sama seperti dulu.
Sama seperti waktu dulu.
Aku yang menjahili mereka berdua..
Aku yang terbahak sambil berlari menjauh…
Aku yang dimarahi Kaa-san dan Tou-san..
Bedanya saat ini ada Kurama dan rasa nyeri di hatiku saat melihat wajah marah kedua orangtuaku.
Aku akan merindukannya…
"Wahh, sepertinya di sini ramai sekali ya.." suara lembut seorang wanita memaksaku menolehkan wajah. Kudapati Shion yang tersenyum manis, Kyuu-nii berjalan di belakangnya.
"Haa~ Papa to Mama!" seru Kurama mengulurkan tangan ke arah mereka, walau begitu aku sama sekali tidak merasakan tanda-tanda ingin turun dari bocah yang pernah menyatakan perasaannya padaku ini.
"Hmm.. sepertinya kau habis bersenang-senang dengan Naruto ya?" gumam Kyuu-nii menunjukkan cengiran khas-nya. Tangan besarnya bengacak rambut Kurama.
Cengiran khas yang selalu kuanggap tampan dan keren..
Tangan besar yang selalu menggandengku, tangan yang selalu terasa hangat…
"Benar sekali.. Tuyul!"
Aku terdiam mendengar kata terakhir Kurama. Mataku takut-takut melirik ke arah pak detektif yang hanya memakai celana selutut dan kaos oblong.
"Nee.. Kurama, siapa yang mengajarimu bicara begitu?"
Perasaanku tidak enak saat Kyuu-nii menyentuh pundak kiriku. Bibirnya tersenyum ke arah Kurama, namun ruby penuh dendamnya mengarah ke mataku.
"Naruto bilang tuyul saat aku mencubitnya." Jawab bocah berwajah polos itu dengan tatapan dan nada yang kekanakan.
Masih tersenyum, Kyuu-nii mengambil Kurama dari gendonganku, lalu menyerahkannya ke Shion yang lagi-lagi terkikik geli.
"Narutoo~~" rengek Kurama mengulurkan tangannya ke arahku.
"Kurama sama Mama sebentar, Papa ada perlu sama Naruto…" gumam Kyuu-nii dengan nada yang sangat ramah. Namun demikian, tangannya menyeret krah bajuku, membuatku terpaksa mengikutinya berjalan ke arah kamar mandi.
Bibirku terkunci rapat. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirku. Kyuu-nii memang menyeretku, namun entah bagaimana aku bisa merasakan helaan nafas berat dan aura yang mencair saat aku mulai berjalan mengikutinya.
"Kau ini…" gumamnya dengan nada sebal sesampainya kami di kamar mandi. Aku hanya tertawa. Sudah kuduga, kakakku yang sangat keren ini tidak punya waktu untuk memarahiku, tidak untuk saat ini.
"Bawa ini bersamamu…" gumamnya saat mengambilkan satu tas berukuran sedang yang dia simpan di kotak obat di belakang cermin wastafel.
"Ini…"
"Jangan diminum sekarang." Ucapnya memotongku. Tangannya cekatan memasukkan tas berukuran sedang itu ke dalam tas punggungku, "Yang putih untukmu, yang biru untuk Sasuke."
"Kyuu-nii terima kasih…" gumamku memeluknya.
Tangan besarnya mengelus punggungku. Mengatakan sekali lagi apa yang harus kulakukan. Dan aku berulang kali mengangguk, mengatakan bahwa aku sudah mengerti dan dia tidak usah mengkhawatirkanku lagi.
Setelahnya, kami berjalan keluar menuju ruang keluarga. Semua orang berkumpul disana. Shion menemani Kurama yang entah sejak kapan suka sekali nonton anime, sedangkan Kaa-san seolah membetulkan dasi Tou-san. Aku tahu… Kaa-san hanya mengulur waktu agar Tou-san berpamitan denganku sebelum berangkat ke kantor. Akhir-akhir ini memang Tou-san selalu berpamitan padaku saat mau berangkat. Kaa-san juga selalu mengantarkanku sampai ke depan pintu setiap kali aku akan pergi kuliah.
Tou-san mendekati Kurama, lalu mengacak rambutnya, "Jii-chan berangkat kerja dulu ya. Jangan nakal-nakal.."
Kurama tersenyum menatap Jii-channya. Ia menyatukan ujung ibu jari dan ujung jari telunjuknya, membiarkan ketiga jari lainnya terbuka.
"OK, tuyul." Pekiknya riang.
Tou-san terkikik geli, sementara Shion meminta maaf kepada Tou-san. Wanita cantik itu lalu menceramahi si bocah berkaos gambar beruang sambil sesekali mengangkat jarinya.
Menahan tawa, aku melihat Tou-san berjalan ke arahku dan Kyuu-nii. sorot matanya berubah drastis. Tangannya langsung meraih puncak kepalaku begitu jarak kami cukup dekat.
"Berbahagialah dengan pilihanmu." Gumamnya menarikku dalam pelukan singkat. Tangannya mengacak rambutku, bibirnya tersenyum kecut. Apa Tou-san tahu kalau hari ini aku akan…
Aku hanya bisa berterima kasih sambil membalas senyumannya. Sementara Kyuu-nii membuang muka.
Setelahnya, Tou-san berjalan keluar menuju mobilnya. Hari ini dia diantar Kakashi-san. Kalau saja benar dia tahu bahwa rencana Kyuu-nii akan dilaksanakan hari ini… pria yang menurunkan mata birunya padaku itu tidak akan sanggup menyetir mobil sendiri.
Ya.. pasti dia tidak akan bisa berkonsentrasi dengan apapun.
Ponselku berbunyi, menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Kubuka pesan itu… Sasuke sudah hampir sampai rupanya..
Aku pun mendekati Kaa-san dan memeluknya.
Wanita berambut indah berwarna merah yang sangat kusayangi tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Namun aku bisa merasakan hangat tangannya mengelus punggungku.
Kyuu-nii tidak bilang padaku apakah mereka sudah tahu aku akan pergi hari ini. Tidak ada perubahan sikap dari Kaa-san, tapi ucapan Tou-san barusan itu…
"Aku juga mau dipeluuuukkk~" rengek sebuah suara dibarengi dengan tarikan kuat di ujung bajuku. Otomatis aku melepas pelukan Kaa-san.
Aku tertawa melihat wajah cemberut Kurama. Pipinya yang menggembung serta bibirnya yang manyun mengingatkanku pada seseorang. Diriku sendiri.
Ya.. Sasuke bilang, wajah ngambekku terlihat begini.
Aku mencium pipinya, lalu kuangkat tubuh mungil itu tinggi-tinggi. Bocah bermatbiru pucat itu merengek minta diturunkan. Walau begitu, ia terbahak keras sekali.
"Aku mau berangkat..." Gumamku sambil berjalan menuju ruang tamu, lalu keluar lewat pintu utama. Berkali-kali Kurama merengek memintaku untuk tidak berangkat kuliah. Dia bilang, dia ingin main game denganku.
Aku hanya bisa tertawa getir. Tidak menolak ataupun meng-iya-kan permintaannya.
Kaa-san dan Kyuu-nii berjalan mengikutiku, begitu juga dengan Shion yang membawa segelas susu untuk putranya.
"Kau mainnya sama Papa saja.." ucapku sambil menurunkan Kurama dari gendonganku. Aku berjongkok, lalu mengacak rambutnya, "Aku berangkat dulu.. Sasuke sudah menunggu."
Kurama menggembungkan pipinya sambil membuang muka. Aku hanya bisa tertawa.
"Aku berangkat …" ucapku cukup keras seraya berbalik. Sekuat tenaga aku coba berjalan santai walau sejujurnya aku ingin berlari kencang dan segera masuk ke mobil yang dikendarai Sasuke.
Mobil milik Deidara?
Entah kenapa Sasuke memakai mobil milik kakak iparnya itu, padahal setahuku… sejak Dei-nee dinyatakan hamil, dia tidak pernah mengendarai mobil ini.
"Narutoooo!" teriak suara cempreng saat aku akan masuk mobil.
"Janji ya.. Nanti kalau pulang, main game dengankuuuuuu!"
Jantungku seolah tertohok. Aku tidak bisa membayangkan apakah Kurama masih bisa tersenyum lebar seperti itu jika dia tahu pamannya akan pergi.. tidak akan pernah kembali.
"Naruto.." gumam Sasuke menyadarkan lamunanku.
Aku mengangkat jempol kiriku tinggi-tinggi ke arah keponakanku, mendapatkan 'yayy' riang sebagai balasannya, lalu masuk ke mobil.
Aku… tidak berbohong kok. Yang barusan itu, bukannya aku meng-iya-kan ajakan Kurama. Aku hanya memberikan tanda bahwa itu adalah ide yang bagus.
Andai saja aku masih bisa bertemu dia esok hari…
"Hei.." gumam Sasuke. Ia menarik tubuhku, lalu memberi kecupan singkat di bibir. Setelahnya, ia mengacak rambutku.
"Kau menyebalkan." Gumamku merapikan helaian pirang kebanggaanku. Sasuke tidak menjawab. Kakinya yang berbalut sepatu sneakers biru tua mengunjak pedal gas. Kami mulai berjalan menuju takdir hari ini…
Takdir yang menentukan kebahagiaan kami.
Jika berhasil, aku dan Uchiha termuda di sampingku akan 'hidup bahagia'…
Kalau gagal… semua akan tahu kalau yang akan terjadi nanti sudah direncanakan… Nama baik perusahaan dan keluargaku akan kembali diperbincangkan, hal yang sama akan berlaku pada Sasuke.
End of Naruto's PoV
.
.
5 pm, Bukit Hokage, Konoha
"Apa Kyuubi memberimu sesuatu" gumam seseorang yang sedang menyetir. Mata kelamnya menatap lurus ke depan, menatap jalanan menurun yang licin dan lembab akibat cuaca mendung sejak pagi.
"Kyuu-nii memberiku ini." gumam pemuda pirang di sampingnya. Tangan karamelnya mengeluarkan tas berukuran sedang dari dalam tas kuliahnya. Ia lalu mengambil sebuah kotak berisi dua buah tablet berwarna biru dan putih.
Sasuke mengulurkan sebotol air mineral pada Naruto, "Minum bagianmu.."
Naruto tersenyum simpul. Diambilnya botol itu dari tangan Sasuke, lalu melakukan apa yang barusan dikatakan kekasihnya.
Kalau boleh jujur, barusan Naruto merasakan sesuatu…
Gemetar…
Ia bisa merasakan tangan Sasuke yang gemetar melalui sentuhan pada botol. Walau begitu, Naruto memilih untuk diam. Dia sangat memahami fakta bahwa mereka sama-sama takut.
Mati dan menghilang dari kehidupan orang-orang yang disayangi bukanlah pilihan yang mudah. Tapi mau bagaimana lagi? Hanya ini yang bisa mereka lakukan agar bahagia.
"Bagianmu.." gumam Naruto menyentuh bibir Sasuke dengan tablet berwarna biru pemberian Kyuubi.
Sasuke membuka mulutnya, membiarkan sang kekasih menyuapinya obat. Setelahnya, Sasuke menggelontor obat yang barusan diminum dengan air.
Sepuluh menit berlalu tanpa sepatah katapun dari keduanya. Mereka sama-sama sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Apakah ini akan berhasil?
Apakah mereka akan bahagia di kehidupan yang akan datang?
Benarkah ini yang terbaik?
'Lama sekali…' gumam Sasuke dalam hati. Onyx tajamnya melirik Naruto yang masih asyik mengamati lukisan setengah jadi yang tadi dibuatnya di kelas.
Tanpa sadar jemari pemuda berkulit pucat itu mengetuk-ngetuk stir yang dikemudikannya. Bibirnya berdecak beberapa kali. Jantungnya berdetak makin cepat karena tempat eksekusi untuk rencananya semakin dekat, ditambah obat yang barusan diminum Naruto belum juga bereaksi.
"Ngghh.." lenguh Naruto tanpa sadar. Tangan kanannya reflek memegang dada kirinya sendiri.
Terasa ada yang aneh, dan kepalanya juga mendadak pusing.
"Naruto.." gumam Sasuke. Tangan kirinya menyentuh lembut dada Naruto. Detak jantung teratur.. namun lemah.
"Sa –suke…" gumam Naruto lirih. Susah payah ia menyebut nama sang kekasih. Pemuda berambut keemasan itu mencoba meraih lengan Sasuke, namun tenaganya seolah hilang.
Si pemuda berkulit tan menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan dirinya. dadanya sama sekali tidak terasa nyeri, nafasnya tidak sesak.. tapi kenapa?
"Sa –"
Sakit..
Hati Naruto terasa sakit…
Bukan karena tubuhnya yang terasa lemas, bukan karena ia tidak mampu memanggil nama seseorang yang sangat dicintainya. Tapi karena..
"Baguslah…" Sasuke tersenyum meliriknya. Dan entah apa yang terjadi, dia terlihat senang.
Naruto bisa merasakan mobilnya berhenti. Matanya mulai nanar menatap Sasuke yang kini sibuk mengambil sesuatu di kursi belakang. Ingin rasanya Naruto berteriak meminta penjelasan atas apa yang sedang terjadi.
Kenapa tubuhnya lemas?
Kenapa Sasuke malah terlihat senang?
Kenapa Sasuke tidak berusaha menolongnya?
Nihil!
Bibir Naruto bahkan Sudah tidak bisa bergerak. Kelima inderanya seakan lumpuh..
"Ingatlah satu hal.." gumam Sasuke mendekatkan sesuatu berwarna putih ke wajah Naruto.
Mati-matian Naruto berusaha mempertahankan kesadarannya. Ia tidak boleh tidur! Hari ini.. bersama Sasuke, Naruto akan menjalankan rencana yang telah disusun kakaknya.
Dia akan mati bersama Sasuke…
Tapi kenapa? Kenapa Sasuke malah… Apa ada sesuatu yang tidak diketahuinya? ? Apa yang Sasuke lakukan? Apa ini bagian dari rencana?
Kenapa? ?
'Kenapa semuanya mulai gelap? Kenapa Sasuke..'
" –Aku mencintaimu, Naruto.. Aku tidak ingin kau melihatku mati…"
Gumam sebuah suara bernada rendah yang ditangkap oleh pendengaran Naruto sebelum semuanya menjadi benar-benar gelap…
.
.
5 pm, Kediaman Uzumaki, Konoha
'Apa mereka bisa melakukannya?' tanya Kyuubi pada dirinya sendiri. Dari tadi ia berkutat dengan pikirannya sendiri. Tangannya memegang control game, namun pikirannya seolah tidak menyatu dengan tubuhnya.
"Aaa~ Papa kalah lagi! Papa tidak bisa main!" gerutu seorang anak kecil yang duduk di sebelahnya, Kurama.
"Aku maunya main sama Naruto~~ Kenapa dia belum pulang? Lama.. lamaa~~" rengeknya merajuk. Dari tadi putra dari Kyuubi dan Shion it terus mengeluh karena Papanya sangat payah dalam game balapan yang mereka mainkan. Namun sang ayah sama sekali tidak menggubris.
"Kurama, main sama Mama ya.." gumam Shion yang dari tadi duduk di belakang mereka. Matanya menatap Kyuu dengan sorot yang sulit diartikan.
"Kurama, maaf ya. Papa harus menelfon seseorang." Gumam Kyuu pada akhirnya. Ia megecup puncak kepala Kurama, lalu menyerahkan control game kepada Shion. Wanita yang memakai terusan jingga itu hanya bisa menglena nafas.
"Papa menyebalkan! Tidak mau main sama Kurama!" bocah berusia dua setengah tahun itu menggembungkan pipinya.
"Maaf ya.. Papa sedang ada urusan. Boleh pergi sebentar ya? Nanti Papa temani main yang lain.."
"Papa tidak bisa main balapan.. Biar sekarang Papa cari permainan lain dulu ya?" bisik Shion mengusap lembut pipi putranya. Ia tahu betul apa yang dipikirkan Kyuubi. Dalam keadaan begini, suaminya itu tidak akan bisa konsentrasi.
"Benar, Papa?" tanya Kyuu dengan mata berbinar. Ia berteriak riang saat mendapati anggukan dari Papanya.
"Ayo Mama main sama aku.." pekik kurama riang menarik baju sang mama, memintanya untuk duduk, lalu tanding balap dengan Kurama.
"Kyuu.."
"Hmm." Balas Kyuubi yang baru saja akan beranjak.
"Kalau ada yang mengganggu pikiranmu, ceritakanlah padaku… jangan pada orang lain." Ucap Shion tersenyum manis, walau begitu.. Kyuu bisa melihat kesedihan yang tersirat.
"Aku tidak mau cerita, soalnya kau sudah tahu semuanya…" ucap Kyuu tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya ke Shion, lalu mengecup puncak kepalanya, "Aku lupa memberi tahu Keriput kalau rencananya berjalan hari ini. dia pasti mengamuk.."
Dan Shion hanya bisa menahan tawa. Ia menertawakan dirinya yang barusan mencurigai sang suami. Ternyata.. Kyuu lupa memberitahu Itachi soal rencananya. Kalau urusan begini sih.. memang harus jadi pikiran.
"Deidara?"
"Dia orang pertama yang tahu segalanya setelah kau dan Sasuke.."
"Ya sudah.. beritahu Itachi sa –"
"Mama jangan pacaran sama Papa! Katanya mau main? Bohong.. bohong~ bohoooongg~~"
"Ahaha… iyaa.. iyaaa…" Shion tak bisa lagi menahan tawanya. Putranya ini memang gampang sekali cemburu. Ingin selalu menjadi pusat perhatian.. ingin selalu diperhatikan. Sifat khas anak-anak yang lucu.
.
"Haa~aahh… bisa-bisanya aku lupa memberi tahunya." Gumam Kyuu. Ia memandang sebuah kontak layar di gadget-nya. Jarinya ragu menyentuh tombol hijau, lalu merah berkali-kali sebelum panggilannya sempat tersambung.
Bukan apa-apa, hanya saja… Kyuubi sedang malas berurusan dengan Itachi yang sedang mengamuk. Dan kali ini, bisa dipastikan Itachi akan mengamuk.
Walau begitu, Kyuu tetap harus bilang padanya…
'ddrrtt~~ drrrrrr~~'
Ponsel Kyuu bergetar sebelum sempat ia melakukan panggilan. Sebuah nama yang tak asing muncul.
"Deidara?" gumam Kyuu membaca tulisan di layar gadget berwarna hitamnya.
"Moshi-mo –"
"Kyuu. Aku ingin bicara." Ucap suara yang sangat Kyuu kenali. Jantung pemuda bermata crimson itu berdegup kencang.
Bukan!
Kyuu bukannya berdebar karena perasaan yang sama seperti saat dia masih kuliah dulu. Hanya saja… Itachi yang menelfonnya dengan ponsel Deidara, ditambah nada bicaranya yang terdengar lebih rendah dari biasanya…
'Dia sudah tahu?' tanya Kyuu dalam hati.
Keduanya diam beberapa saat. Kyuubi sibuk dengan pertanyaan kepada dirinya sendiri, sementara Itachi sibuk menunggu jawaban dari seseorang yang dulu sangat dicintainya itu.
"Kyuu?"
"Kau.. tahu sesuatu ya?" gumam Kyuubu pada akhirnya. Ia mendengar helaan nafas berat dari seberang.
"Begitulah.. Hari ini ya?"
"Apa Dei memberitahumu?" Kyuubi balik bertanya. tangan kirinya memainkan ujung rambut yang mulai memanjang. Ahh.. mungkin dia harus memotongnya sedikit.
"Tidak juga. Tapi tingkahnya sejak pagi membuatku curiga."
Kyuubi terdiam. Tadi dia gelisah karena lupa memberi tahu Itachi. Ia bahkan sempat ragu apa yang harus dikatakan kepada sulung Uchiha kalau panggilannya diangkat. Dan sekarang.. Itachi malah menelfonnya. Pria berambut panjang itu juga mengatakan bahwa ia sudah menyadari kalau rencana Kyuubi akan dilaksanakan hari ini. tidak ada sedikitpun tanda-tanda yang menunjukkan kalau Itachi marah.
Lalu… sekarang apa?
"Boleh kutanya sesuatu?"
Kyuubi mengangguk singkat. Ia sadar betul kalau Itachi tidak bisa melihatnya. Walau begitu, ia tetap saja enggan untuk menjawab Itachi. Bukankan 'boleh kutanya sesuatu' juga merupakan sebuah pertanyaan?
"Kenapa kau malah memberi tahu Dei? Kenapa bukan memberi tahuku saja? Kau tahu sendiri kan Kyuu.. "
Kyuubi menghela nafas. Selalu saja berakhir begini kalau dia ngobrol dengan Itachi, "Aku tahu. Makanya aku menceritakan semuanya pada Deidara. Kurasa wajar kalau ia jadi kepikiran, tapi… bayangkan saja! Semisal aku tidak bercerita padanya, dan dia tiba-tiba mendengar kabar 'mengejutkan'.. pasti dia akan lebih shock. Akibat yang ditimbulkan akan lebih parah."
Itachi diam. Percuma saja berdebat dengan Kyuubi atas apa yang sudah terlanjur terjadi. Tohh lawan bicaranya adalah seorang detektif terkenal yang sangat pandai menganalisis. Salah bicara sedikit saja, Kyuu pasti akan menggunakan kesempatan itu untuk membalikkan ucapan Itachi. Kadang sulung Uchiha berpikir, bagaimana jadinya jika Kyuu dan Istrinya berdebat. Mana yang akan menang?
Itachi tidak bisa membayangkannya. Untungnya, mereka berdua berada di kubu yang sama…
"Kau masih belum percaya pada keteguhan hati istrimu ya?" ucap Kyuu. Nada bicaranya berubah. Ia tidak mau pusing-pusing memikirkan hal sepele begini. Masih banyak yang harus dia urus.
"Aku percaya padanya.. sangat."
"Baguslah.." gumam Kyuu terkekeh.
Kalau Itachi yang dulu, pasti lebih memilih untuk memborbardir Kyuu dengar pertanyaan-pertanyaan nonsense ketimbang melihat semuanya dari sisi positif.
Ya.. Itachi berubah. Mereka berdua berubah.. dan sebentar lagi, dunia di sekitar mereka yang akan berubah.
"Kenapa kau pakai ponsel Deidara?"
"Punyaku mati…"
Dan kali ini pria berambut orange yang tengah duduk di balkon kamarnya di lantai dua itu tertawa, "Kau masih saja sering lupa menge-charge ponselmu. Dasar keriput."
Suara di seberang berdecak sebal. Walau begitu, ia sama sekali tidak protes. Yaa.. begini lebih baik. Bagi Itachi, Kyuubi yang mengatai dan mengejeknya lebih baik ketimbang Kyuubi yang mengacuhkannya.
"Setan kecil.."
Tawa Kyuu terdengar makin keras. Walau –jujur- rasa nyeri itu masih ada saat Itachi memanggilnya 'Setan', setidaknya itu tidak sesakit saat pertama kali ia mendengar panggilan itu ketika baru kembali ke Konoha.
Sejujurnya ia tidak tahu kenapa Itachi masih memanggilnya begitu. Sudahlah.. itu sudah tidak penting lagi bagi Kyuu.
"Kau.. tidak akan menyesal kan?" kali ini Kyuubi menggeleng. Dan Itachi hanya bisa menghela nafas berat mengetahui lawan bicaranya tidak mau mengeluarkan suara.
Ngomong-ngomong.. kenapa hari ini Itachi banyak menghela nafas? Semoga saja… rencana Kyuu berjalan dengan lancar.
"Ya sudah.. aku akan menyiapkan mentalku." Ucap Itachi lagi-lagi menghela. Kyuubi menanggapinya dengan gumaman tidak jelas, dan Itachi tahu apa yang ingin diucapkan Kyuu.
"Kau juga.. persiapkan dirimu.."
Kyuubi terdiam. Sedikit banyak dia senang karena Itachi bisa mengerti perasaannya yang masih terombang-ambing. Ingin Naruto 'bahagia', tapi takut kehilangannya…
"Terima kasih, dan…" kyuubi mencoba tersenyum. Bukan tersenyum kepada Itachi, dia memberikan senyum getir itu kepada dirinya sendiri…
" –maaf." Gumamnya sebelum mengakhiri percakapan jarak jauh mereka.
Kyuu memandangi layar gadgetnya. Sebuah potret indah yang diambilnya tadi malam terpasang manis sebagai background. Foto Kurama yang sedang duduk di pangkuan Naruto, mereka berdua tersenyum lebar ke arah kamera.
Mendengarkan detak jantungnya yang mulai tidak beraturan, Kyuu memejamkan mata, menyandarkan tubuhnya yang terasa sangat berat ke tembok. Wajah adiknya yang sedang tersenyum, menangis dan tertawa… mereka semua muncul di kepala Kyuubi dalam waktu yang bersamaan.
"Sakit.." gumam Kyuubi tersenyum getir. Mengalir setetes air sudut mata kirinya. Pria yang hanya menginginkan yang terbaik untuk adiknya itu akhirnya sadar, beberapa saat lagi.. akan ada banyak anak panah beracun yang menusuk jantungnya.
"Begini lebih baik. Iya kan, Shion?"
"Oui.. bien sur. (Yes.. of course)"
Kyuubi tersenyum mendengar jawaban dari sang istri. Kepekaannya membuat Kyuu bisa merasakan kehadiran sang istri.
Shion sama sekali tidak coba mengusap setetes air mata suaminya, ia lebih memilih menyandarkan kepala di bahu sang suami. Rasanya hangat… Entah apa yang Shion pikirkan, tubuh wanita itu mulai bergetar.
"Kau tidak bersama Kurama?"
"Main sama Iruka-san. Dia bilang aku payah…" Shion menggeleng pelan.
Mereka berdua sama-sama terdiam.. Ini sangat awkward. Mengetahui bahwa kau tidak akan bisa bertemu lagi dengan orang yang kau sayangi…
'Begini ya rasanya…' gumam Kyuu dalam hati, lagi-lagi tersenyum.
Keheningan tercipta cukup lama sampai akhirnya mereka berdua mendengar teriakan tak teratur yang mendekat.
"Paapaaa~~ Papaaa~~ Mamaaa~~"
Kyuu membuka matanya, Shion bereaksi lebih cepat, ia berdiri lalu berlari ke arah suara itu berasal.
"PAPAAA! MAMAAA!" dan entah apa yang terjadi, teriakannya bertambah keras. Membuat Kyuubi melakukan hal yang sama dengan Shion.
"Papaa.. Mamaa…" teriaknya melemah menahan isakan begitu Kurama bertamu dengan kedua orang tuanya, "Narutoo… Narutooo!"
'degh'
"Kurama.. jangan.. berlari.." ucap Iruka-san tersengal. Ia kehabisan nafas mengejar bocah dua setengah tahun itu. Raut pucat tergambar jelas dari wajahnya.
"Iruka-san, ada apa?" tanya Shion. Ia lebih bisa mengendalikan diri daripada pria bermata ruby yang mematung di belakangnya.
"Barusan.. ada berita yang mengatakan terjadi kecelakaan di jalan Bukit Hokage." Iruka kembali mengambil nafas dalam sebelum melanjutkan, "Dari jenis mobil dan plat nomor, diduga itu adalah mobil yang dikendarai Tuan Muda dan Uchiha-kun."
Kyuubi reflek mengambil remote yang terletak di meja. Buru-buru dia menyalakan TV, mencari channel yang sedang memberitakan kejadian itu…
Ketemu!
Potret pembatas jalan yang jebol dan plat mobil yang tersangkut di atasnya, gambaran kobaran api yang berasal dari jurang di bawahnya… semua terpantul sempurna di mata merah Kyuu.
Tubuh Kyuu melemas hingga ia terduduk di ranjang.
Sebegitu parahkan?
Kenapa kobaran apinya sabesar itu?
Apa Naruto dan Sasuke sempat merasa sakit? Apa rasa sakitnya terlalu lama?
"Naruto.. Narutooo~~ Mamaaa.. Naruto disana! Papaaa tolong Narutoooo!"
Kurama merengek coba meraih lengan Papanya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang bocah polos itu ketahui hanyalah, bahwa api itu panas. Sangat panas..
Dulu saat tangannya terkena api dari lilin, rasanya panas sekali. Kurama menangis keras karena sakitnya begitu luar biasa. Saat itu, Kyuubi menolongnya, ia meniup-niup tangan Kurama, lalu memberinya obat.
Kini ia tahu bahwa pamannya terperangkap dalam kobaran api yang sangat besar. Pasti rasa sakitnya ratusan kali lipat dari yang pernah ia rasakan. Papanya harus datang dan menolong Naruto, lalu meniup lukanya, dan memberi obat.
Naruto…
Naruto pasti akan sembuh. Sang papa pasti akan menolongnya…
"Papa kenapa disini!? Cepat tolong Narutoooooo!" dan Kurama memukuli lengan Papanya. Ia merasa sangat kesal.
'Kenapa Papa malah bersantai-santai?
Kenapa tidak segera menolong Naruto dan Sasuke?
Kalau tidak segera ditip, luka Naruto akan bertambah sakit!'
"K –Kurama.. kita keluar sebentar ya.."
"Tidak! Papaaa ayo tolong Narutoo. Papaaaa!" kurama merasa kesal. Sangat kesal.
Dia ingin menolong Naruto bersama Papanya. Kenapa mamanya malah mengajaknya keluar… Kenapa?
Kenapa.. kenapa pipi Mama basah? Kenapa Papa juga, sama seperti dirinya?
Apakah mereka membutuhkan kipas angin untuk meniup luka Naruto karena apinya terlalu besar?
"Mamaa~~" rengek Kurama berhenti menaikkan suara. Ia bingung kenapa Mamanya tiba-tiba memeluknya erat.
"Maafkan Papa ya.. maafkan Mama juga.." bisik Shion.
Ini buruk. Kurama yang seharusnya tidak tahu apa-apa mala jadi orang pertama yang mengetahui berita ini.
Apa yang harus mereka katakan pada anak yang tidak tahu apa-apa itu?
"Tuan Muda.." gumam Iruka memegang erat pundak Kyuu, menyadarkan pria itu dari lamunan tak bergunanya.
"Iruka.. kau beri tahu Kaa-san, tetap berada di sampingnya ya. Tolong temani dia." Kyuu mulai beranjak. Pandangan berkabut mata Iruka masih bisa menangkap getaran dari tubuh Kyuubi.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Iruka meninggalkan kamar tuan mudanya. Ia tahu, kalau ia mencoba bicara, yang akan keluar hanyalah suara bergetar tanpa makna. Mungkin juga teriakan frustasi yang mencoba menanyakan keadaan tuan muda kesayangannya yang belum diketahui keberadaannya.
"Pengecut!" gumam Kyuu memukul dada kirinya. ia mengutuk dirinya sendiri.
Sudah jelas, alasannya meminta sang kepala pembantu memberi tahu sang ibu adalah karena dirinya tidak sanggup membicarakan ini di depan wanita yang telah melahirkannya. Benar-benar pengecut!
Menghirup nafas dalam-dalam, Kyuubi mengeluarkan ponsel dari sakunya, kemudian menghubungi seseorang. Kyuu harus mengurus pemberitaan di media. Kalau kondisi memungkinkan, dia juga harus segera menghilangkan barang bukti yang ada.
Kyuubi mulai mengambil laptop dan tab dari almari. Ayah satu anak itu harus menghubungi banyak orang dalam waktu bersamaan. Menelfon Hyuuga, memantau berita di internet sekaligus mengirin e-mail untuk Pein dari laptopnya, lalu… melakukan video call ke Itachi untuk melihat keadaan Deidara. Dia benar-benar tidak ingin membicarakan apapun dengan Itachi maupun Dei, dia hanya ingin mengetahui keadaannya.
Tidak ada waktu untuk bersedih.
Tidak ada waktu untuk menangis.
Tidak ada waktu untuk menyesal….
.
.
Tbc
.
.
*bungkuk2 lalu sujud*
Akhirnya dic yang udah hampir dua tahun terbengkalai ini berlanjut juga.
Kyuu benar-benar minta maaf sama readers-sama. Pengetik abal yang tidak tega mengeksekusi pasangan favoritnya ini benar-benar abal.
Semoga readers-sama suka dengan chap ini.. Paling gak, gak muntah pas baca *plak
Kyuu dengerin Flower Dance by DJ Okawari sama beberapa OST SnK yang 'agak' galau, misalnya Call Your Name sama Eye Water.
Yahh.. semoga readers-sama suka…
Kalau boleh juga, Kyuu mau bales review yang ada. Mohon maaf (lagi), Kyuu baru bales.. maaf banget….
Kyuu sayang kalian *apasih*
.
Minae cute
Maaf telah menunggu sangat lama. Kyuu benar-beanr minta maaf *bows*
Rencana Kyuubi mulai berjalan..
Kita doakan semoga sukses ya..
Sekali lagi terima kasih *bungkuk2*
.
Sasunaru
Tnang sasunaru-san.. dua chap lagi akan tamat kok :3
Doakan ya..
Maaf banget Kyuu mengacuhkan fic ini. sejujurnya, Kyuu ikutan galau juga.. padahal Kyuu yang nulis sendiri
Sekali lagi terima kasih *bows*
.
Guest
Terima kasih …
Maaf lama banget ya : )
.
LoveKyuubi
Maaf nunggu lama Love-san…
Kalau masalah isi otak Kyuubi,
Nanti akan terjawab kok di dua chap berikutnya..
Arigato~~
.
Icah he
Terima kasih…
.
Aicinta
Maaf menunggu lama ai-san…
Semoga chap ini membuat ai-san senang..
Terima kasih :3
.
Guest
Ini lanjut.. maaf ucah bikin nunggu lama..
Makasih bangeeeeeettt
.
Sila'uchimaki no kitsune
Makasih kitsune-san mau baca fic abal saya..
Maaf karena butuh waktu lama buat saya untuk lanjutin fic ini.
Semoga suka..
Terima kasih banyak..
.
SasuNaru
Kita biarkan jalan cerita menjawab semuanya..
Maaf banget lama update
Terima kasih banyak..
.
CassieFujho12
Seharusnya Kyuu yang minta maaf karena lama banget telat update
Terima kasih supportnya *bow*
\.
Rapexsasunaru
Maaf rape-san, bukan keinginan Kyuu (pengetik) buat nyakitin Kyuu(bi.
Hanya saja.. ini menyenangkan *plak*
Semoga rape-san suka.. maaf telat banget update
Arigato..
.
Kurryoidiamond
Makasih kurry-san..
Maaf banget lama..
Arigato..
.
Onyx sapphireSEA
Makasih sea-san…
Maaf banget gak bisa kilat..
Mohon maaaaafff *nangis darah*
Terima kasih supportnya :3
.
Rosanaru
Rosa-san… Kyuu juga ga tega
Tapi gimana dong DX
Maaf ya telat lama banget…
Terima kasih banget
.
Gunchan Cacunalu Polepel
Kyuu harap juga gitu..
Mari kita doakan..
Maaf lama banget..
Terima kasih :3
.
.Maf banget sekali lagi..
Sejujurnya Kyuu ga yakin apakah masih ada yang mau baca fic Kyuu yang ini
Semoga saja masih ada…
Kyuu akan terus berjuang..
Dua chap lagi, ini akan tamat.
.
.
Akhir kata..
Terima kasih,
Review please :*
