HE'S MINE
Author: Me a.k.a Jaehan KimYunjae
Pairing: Yunjae
Length: 9/?
Rating: T
Genre: Romance / Drama / Mpreg
Cast:
Kim Jaejoong
Jung Yunho
Park Yoochun
Kim Junsu
Shim Changmin
Others
DISCLAIMER:
I don't own Yunjae. They own each other but I hope I can own them. The plot, story and poster are mine.
WARNING!
This is YAOI fanfic means boy x boy story, so if you can't take it just leaves already. I don't wanna hear bad comments. I don't care with your comments
A/N:
Sebelumnya Jaehan mau minta maaf, karena Jaehan mau bikin ff ini se-alami mungkin
Jadi, mungkin alurnya bakal sedikit lambat dan panjang juga agak berbelit
Semoga temen-temen engga keberatan
Happy Read ^^
Keheningan kembali terjadi dalam ruangan yang cukup luas itu, tidak ada seorang pun yang berbicara. Tiga orang yang kini berada di hadapan pria tua itu tidak mampu mengatakan apapun mendengar ucapannya sebelumnya 'Jung Jaejoong tidak ada di rumah ini' Apa maksudnya?
"Apa maksud Anda Tuan Jung?" ucap pria yang mengaku paman Jaejoong
"Bukankah aku sudah mengatakannya dengan jelas, Jung Jaejoong tidak ada di rumah ini" jelas Tuan Jung dengan senyum puas diwajahnya
"Apa maksud Anda dengan Jung Jaejoong?! Keponakan kami bernama Kim Jaejoong" marah Paman tua itu
"Sayang sekali Tuan Kim, saat ini ia telah menjadi Jung Jaejoong bukan Kim Jaejoong lagi" jawab Tuan Jung bangga
"Apa maksud Anda. Jangan harap Anda bisa mengganti nama belakang Jaejoong sesuka Anda. Kami adalah walinya yang sah, walaupun Anda mengangkatnya menjadi anak Anda, Anda tetap tidak bisa menahannya untuk kembali pada kami. Bukankah seperti itu Tuan Choi" jelas paman itu dan bertanya pada pengacara mereka
"Apa yang dikatakan Tuan Kim benar Tuan Jung. Anda tidak bisa mengambil Kim Jaejoong dari keluarganya walaupun Anda mencoba untuk mengangkatnya menjadi anak Anda yang sah"
"Aku tidak mengangkatkannya menjadi anak ku yang sah" balas Tuan Jung
"Lalu apa maksud Anda mengganti nama belakang Jaejoong dengan Jung?" balas wanita yang berwajah lebih tuan dari usianya itu
"Nama belakang Jaejoong memang sudah berubah menjadi Jung, karena ia sudah menikah dengan putra ku Jung Yunho" jelas Tuan Jung masih dengan senyum puas diwajahnya
"Apa?!" teriak kelima orang yang berada di depan Tuan Jung dengan wajah tidak percaya
"Apa maksud Anda dengan menikahkan Jaejoong dengan Putra Anda?" Tanya si pengacara tidak percaya
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Jaejoong sudah menikah dengan Yunho dan Jaejoong memakai nama belakang Yunho di belakang namanya karena Jaejoong adalah istri Yunho yang sah sekarang"
"Apa maksudnya itu, Anda jangan mengarang sesuatu?" marah paman tua itu
"Aku tidak mengarang sesuatu. Jika kalian tidak percaya, kalian bisa melihat sendiri surat pernikahan mereka. Bukankah sebelumnya kalian katakan padaku bahwa kalian pernah ke rumah ini tapi aku tidak ada. Karena saat itu aku sedang berada di Canada untuk menikahkan kedua putraku" seru Tuan Jung tersenyum melihat wajah menegangkan ketiga orang dihadapannya
"Jangan gila Tuan, mereka berdua sama-sama laki-laki, bagaimana mungkin Anda bisa menikahkan keduanya?" Tanya wanita tua itu menambahkan ucapan suaminya
"Aku masih dapat berpikir dengan baik Ny. Kim. Makanya aku menikahkan mereka di Canada, karena disana pernikahan sejenis sudah dilegalkan" tawa Tuan Jung melihat mereka dengan pandangan hina
"Kau pasti memaksa Jaejoong untuk melakukannya?" tuduh paman tua itu dengan pandangan menyelidik
"Aku tidak memaksa siapapun, Jaejoong dan Yunho saling mencintai. Lalu apa masalahnya jika aku menikahkan mereka berdua? Bahkan Jaejoong menerimanya dengan senang hati"
"Itu tidak mungkin. Jaejoong bukan orang seperti itu" ucap wanita itu menggelengkan kepalanya tidak percaya
"Tapi itu kenyataannya Ny. Kim. Sepertinya Anda tidak mengenal keponakan Anda dengan baik" jawab Tuan Jung yang semakin membuat wanita itu geram
"Dan Tuan pengacara, apakah ini berarti mereka masih memiliki hak untuk mengambil Jaejoong?" Tanya Tuan Jung untuk memastikan
"Untuk itu… Jika seperti ini, berarti Kim Jaejoong harus mengikuti su-suaminya" jawab pengacara itu ragu
"Berarti mereka sudah tidak memiliki hak apapun atas Jaejoong, kan?" sahut Tuang Jung mantap
"Ya, di depan hukum Jung Yunho memiliki hak penuh atas dirinya, tapi jika Anda dapat membuktikan pernikahan mereka" jawab pengacara itu lagi sedikit menatap kepada pasangan yang ada disisinya
"Aku akan mengambil surat-suratnya" balas Tuan Jung dan mulai bergerak
Tuan Jung berjalan menuju ruangan tempatnya menyimpan semua berkas-berkas penting yang mungkin dibutuhkan sewaktu-waktu dengan senyum yang tidak pernah hilang dari wajahnya karena usahanya yang berhasil dengan sempurna
"Bagaimana ini sayang?" bisik paman tua itu kepada istrinya yang masih dapat di dengar si pengacara setelah melihat Tuan Jung menghilang dari pandangan mereka
"Kita tidak akan membiarkan ini. Jika Jaejoong tidak berada di tangan kita, kita tidak akan pernah mendapatkan uang itu" balas si wanita tua
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Jika surat-surat itu memang sah dihadapan hukum kita tidak bisa melakukan apapun" pasrah pria tua itu
"Jika kita tidak bisa mengambilnya dengan cara halus, maka kita akan menggunakan cara kasar untuk mendapatkannya" jawab wanita tua itu dengan senyum licik di wajahnya
"Kau benar, kau memang istri yang pintar sayang" balas pria tua itu sambil mengusap perlahan rambut istrinya
"Tugas kita untuk saat ini adalah mencari tahu dimana Jaejoong tinggal sekarang dan menyusun rencana selanjutnya" tambah wanita tua itu
"Benar, kita harus menanyakannya pada pria tua itu" angguk sang suami
Keduanya berhenti berbisik saat mendengar suara pintu tertutup yang menampakkan Tuan Jung dengan map coklat yang cukup besar di kedua lengannya dan berjalan menghampiri mereka kembali
"Ini adalah bukti-bukti dan surat-surat resmi pernikahan mereka, Anda bisa melihatnya" ujar Tuan Jung menyerahkan map itu kepada si pengacara
Pengacara itu mengambil map yang diberikan Tuan Jung dan melihat seluruh isinya. Tak kalah penasaran Tuan Kim dan Istrinya ikut mengambil beberapa surat dari dalamnya dan membaca isi yang tertulis dalam surat itu
"Ini tidak mungkin! Jaejoong benar-benar sudah menikah dengan Jung Yunho" kesal wanita tua itu
"Itu mungkin saja Ny. Kim, buktinya sudah ada didepan Anda" ucap Tuan Jung yang membuat wanita itu kesal
"Aku tidak akan membiarkan ini. Lihat saja nanti" gumam wanita tua itu dengan suara pelan yang tidak di dengar oleh Tuan Jung
"Anda mengatakan sesuatu Ny. Kim?" Tanya tuan Jung
"Tidak. Tidak ada" jawabnya
"Bagaimana Tuan, apa surat-surat itu sah?" Tanya Tuan Jung mengalihkan perhatiannya kembali kepada pengacara itu
"Surat-surat ini sah, dan memang Kim Jaejoong sudah resmi menjadi su-suami Jung Yunho"
"Seharusnya kau menyebutnya istri Jung Yunho, karena Jaejoong mengikuti nama belakang Yunho" senyum jail Tuan Jung
"Ya, is-istri Jung Yunho"
"Bagaimana Tuan Kim, apa Anda masih tidak percaya?" Tanya Tuan Jung lagi kepada paman tua itu
"A-aku percaya. Kalau begitu boleh aku tahu dimana mereka tinggal saat ini, aku ingin mengucapkan selamat" ucap paman tua itu dengan senyum terpaksa
"Maaf Tuan Kim, untuk hal itu lebih baik Anda menanyakannya langsung pada Jaejoong" jawab Tuan Jung menahan tawanya
"Bagaimana caranya?" bingung paman tua itu
"Bukankah Anda keluarga dekatnya, tentu Anda tahu bagaiman cara menghubunginya, bukan?" jawab Tuang Jung lagi tetap menahan tawanya agar tidak meledak
"Aish… Pria tua ini mempermainkanku" gumam paman tua itu kesal
"Anda mengatakan sesuatu Tuan?" Tanya Tuan Jung kembali dengan tawa jahil
"Ti-tidak ada. Baiklah Tuan Jung, sepertinya kami harus permisi pulang, karena masih ada urusan yang harus kami selesaikan" lanjut paman tua itu mengumpulkan surat-surat pernikahan Jaejoong dan mengambil paksa dari tangan istrinya
"Aku benar-benar tidak bisa menerima ini" gumam wanita tua itu
"Sshhh- kita akan memikirkan cara lain, sekarang lebih baik kita mengalah dan pergi" bisik paman tua itu
"Tapi uang ku…" sedih wanita tua itu
"Sabar sayang, aku pastikan kita akan mendapatkan sumber uang kita kembali dengan cara apapun"
"Ada masalah Tuan" Tanya Tuan Jung yang melihat pasangan itu berbisik di depannya
"Tidak ada Tuan. Baiklah, kami permisi dulu" lanjut paman tua itu dan mereka semua mulai berjalan keluar
"Terima kasih atas kedatangannya tuan-tuan" ucap Tuan Jung dengan senyum mengejek
"Sama-sama tuan" jawab mereka terpaksa dan bergerak menjauh
"Hahh- akhirnya satu masalah selesai, aku harus memberitahukan ini pada Yunho. Sepertinya mengunjungi anak dan menantu bukan hal yang buruk, dari pada aku hanya termenung sendirian di rumah ini seperti kakek tua yang payah" ucap Tuan Jung pada dirinya sendiri
Mungkin terlihat jika satu masalah telah terselesaikan dengan baik, tapi pikiran manusia tidak ada siapapun yang bisa menebaknya. Kadang kala bisa saja orang yang kita pikir baik ternyata memiliki maksud busuk dalam setiap perbuatannnya, namun terkadang orang yang kita anggap buruk nyatanya memiliki hati yang sangat tulus. Semuanya sulit ditebak, karena manusia berjalan sesuai dengan pemahaman kehidupan yang dimilikinya
Kembali pada kehidupan dua pasangan yang baru menikah ini. Angin dingin bulan Desember memberikan suasana tertentu bagi pasangan muda yang baru saja mendapatkan kabar menyenangkan tentang sang buah hati. Suasana hati keduanya tidak pernah teluput dari perasaan bahagia dan riang yang belum tentu dirasakan orang lain, Jaejoong mengusapkan sebelah lengannya di perutnya lembut
Saat ini Jaejoong tengah duduk di pangkuan Yunho yang menyuapinya Baechu Kimchi, makanan yang sangat diinginkan Jaejoong saat ini, sepertinya ia sedang mengidam dan sejak tadi pagi ia terus meminta Yunho untuk membelikannya. Tentu saja, dengan senang hati Yunho membawakannya untuk Jaejoong saat pekerjaannya di kantornya sudah selesai
Jika diperhatikan, pantas saja Yunho melupakan ayahnya yang berada jauh disana, tentu saja seluruh perhatiannya akan tercurah sepenuhnya pada istri cantiknya yang tengah mengandung anak pertamanya. Siapa yang akan mengingat seseorang yang tidak terlihat di depan mata? Sungguh pria tua yang malang
"Bagaimana rasanya Joongie, enak?" Tanya Yunho menatap istrinya penuh kasih
"Eumm… Sangat enak Yunnie" angguk Jaejoong sambil mengunyah makanan dimulutnya dengan riang
"Seenak itukah?" Tanya Yunho lagi yang melihat Jaejoong begitu lahap menyantap makanannya
"Umm… Umm…" angguk Jaejoong meyakinkan
"Yunnie mau coba?" tawar Jaejoong memberikan makanannya pada Yunho
"Suapi aku" pinta Yunho manja
"Ini… Aaaa-" ucap Jaejoong memasukkan Baechu Kimchi ke dalam mulut Yunho dengan riang
"Mhmm… kau benar Joongie, sangat enak. Aku tidak salah memilih untuk membelinya di tempat itu ternyata" senyum Yunho
"Yunnie membelinya dimana?" Tanya Jaejoong menatap Yunho ingin tahu
"Tidak terlalu jauh dari sini, jadi jika kau menginginkannya lagi aku bisa dengan mudah membelikannya untukmu" senyum Yunho menyentuhkan hidung mancungnya dengan hidung mungil Jaejoong
"Tapi Yunnie…" ucap Jaejoong ragu
"Eumm… Kenapa Joongie?" Tanya Yunho penasaran
"Joongie maunya Yunnie yang membuatkannya untuk Joongie"
"Kau ingin aku memasak ini untukmu, Joongie!" kaget Yunho tersadar
"Eumm…" angguk Jaejoong dengan mata berkaca-kaca
"Kau yakin Joongie? Aku tidak bisa memasak, jadinya pasti tidak akan enak" ucap Yunho meyakinkan Jaejoong
"Tapi maunya Yunnie yang buat" paksa Jaejoong
"Baiklah, aku akan mulai belajar untuk memasaknya"
"Benarkah?" Tanya Jaejoong riang
"Tentu saja, apapun akan aku lakukan untuk istriku" jawab Yunho
"Yunnie sangat baik" riang Jaejoong memeluk Yunho
"Itu karena aku mencintaimu Joongie" jawab Yunho balas memeluk Jaejoong
"Joongie juga"
Tanpa memikirkan semua masalah yang mungkin akan menghadang jalan mereka, keduanya hanya memikirkan kebahagian yang akan diraih, bagaimana cara membahagiakan pasangan masing-masing dan juga untuk mempertahankannya. Semua masalah pasti dapat diselesaikan dan itu bisa dipikirkan saat masalahnya muncul. Pemikiran yang sangat lugu
Kemesraan keduanya terganggu saat Yunho mendengar suara pintu depan yang diketuk dengan keras dan sangat tidak bersahabat, Yunho melepaskan rangkulannya di tubuh Jaejoong dan menatap Jaejoong bingung
"Siapa Joongie?" tanyanya
"Joongie tidak tahu" jawab Jaejoong menggelengkan kepalanya takut
"Biar aku lihat dulu, ya" ucap Yunho mengangkat tubuh Jaejoong dari pangkuannya
"Joongie ikut" balas Jaejoong yang telah berdiri disisi Yunho dan menarik ujung kemeja Yunho
"Ayo" Yunho menarik tangan Jaejoong dan membawanya berjalan disisinya
"Joongie di belakang saja" ucap Jaejoong bersembunyi di belakang tubuh Yunho sambil tetap menarik ujung kemeja Yunho seperti anak kecil yang mengekor pada ibunya
"Kenapa di belakang?" Tanya Yunho bingung
"Joongie takut" jawab Jaejoong langsung dan Yunho hanya tersenyum mendengarnya
Keduanya berjalan beriringan menuju pintu depan dan ketukan itu tetap tidak berubah, masih terkesan tidak bersahabat. Yunho mendekati pintu depan dan membukanya perlahan yang menujukkan wajah Yoochun yang terlihat sangat menunjukkan kegembiraan
"Yunho!" teriaknya dan langsung memeluk Yunho
"Yoochun! Junsu! Ada apa? Sepertinya kau sangat senang" balas Yunho balas memeluk Yoochun dan melihat keduanya bergantian
"Masalah antara aku dengan Junsu sudah selesai, sudah tidak ada masalah" jawab Yoochun dengan suara riang
"Baguslah. Lalu ada apa kalian berdua kemari, hanya untuk menyampaikan kabar itu?" Tanya Yunho lagi
"Kau tahu, kau membuat Joongie ketakutan" tambah Yunho melepaskan pelukannya di tubuh Yoochun dan menghampiri Jaejoong yang masih berada di belakangnya
"Kenapa?" celetuk Junsu
"Kalian mengetuk pintu depan apartemen ku dengan sangat keras, kami pikir entah siapa yang melakukan itu"
"Maaf Yunho, aku terlalu senang, jadi aku ingin segera memberitahumu secepatnya" tawa Yoochun malu dengan tingkahnya
"Lalu, ada apa?" kembali Yunho bertanya dengan pertanyaan yang sama
"Kau ini Yun, setidaknya ijinkan kami masuk terlebih dahulu" ucap Yoochun
"Ah- iya, aku lupa. Masuklah" balas Yunho sedikit menyingkir dan mempersilahkan keduanya masuk
Yunho ikut berjalan masuk ke dalam apartemen mereka sambil melingkarkan sebelah tangannya di pinggang kecil Jaejoong. Mereka berempat duduk di sofa putih di ruang tengah kediaman Yunho dan Jaejoong, Yunho mendudukan Jaejoong disisinya berhadapan dengan Yoochun dan Junsu yang berada di hadapan mereka
"Jadi…?" Tanya Yunho langsung
"Begini, untuk merayakan kembalinya hubungan kami, aku dan Junsu berencana untuk pergi ke Pulau Jeju dan menginap untuk dua malam"
"Dan hubungannya dengan kami?" Tanya Yunho bingung
"Junsu meminta agar kalian berdua juga ikut, biar lebih ramai"
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan di kantor?"
"Tenang saja, kita akan pergi hari ini dan kembali minggu pagi, jadi tidak akan mengganggu pekerjaan, kan?" ucap Yoochun meyakinkan Yunho
"Bagaimana dengan Joongie? Ia sedang hamil Chun, kandungannya masih sangat muda, aku tidak mungkin membawanya"
"Justru karena Jaejoong sedang hamil, dia harus lebih sering merasa nyaman dan berada di suasana yang tenang, kan? Tidak seperti di kota besar yang sibuk ini" jawab Junsu membantu Yoochun
"Benar" tambah Yoochun
"Bagaimana Joongie?" Tanya Yunho berbalik menatap Jaejoong
"Joongie mau ikut, Yunnie. Sepertinya akan menyenangkan" jawab Jaejoong langsung dengan semangat
"Baiklah jika Joongie juga mau ikut aku tidak bisa menolak" jawab Yunho akhirnya
"Kapan kita mulai berangkat?" Tanya Yunho
"Bukankah tadi sudah aku katakan Yun, kita berangkat hari ini dan kembali minggu pagi"
"Maksudmu sekarang… Sekarang juga?" kaget Yunho
"Ya sekarang juga, jadi bersiap-siaplah. Kami sudah menaruh barang kami di mobil, kita pakai mobilku saja" jawab Yoochun
"Baiklah kami akan bersiap-siap. Ayo Joongie" ajak Yunho pada Jaejoong dan membawanya menuju ke kamar mereka
Yunho melingkarkan lengan kanannya di pinggang Jaejoong dan membawanya berjalan bersama disisinya. Setelah tiba di ruangan mereka, Yunho membawa Jaejoong untuk duduk bersandar di ranjang mereka dan mulai menyusun pakaian yang akan mereka bawa dalam sebuah tas berukuran cukup besar
"Yunnie, biar Joongie bantu" Jaejoong menawarkan diri melihat suaminya yang sibuk menyusun pakaian-pakaian itu seorang diri
"Tidak perlu Joongie, biar aku saja, ini pekerjaan mudah" senyum Yunho berbalik menatap Jaejoong dan kembali sibuk dengan pakaiannya
"Tapi itu sangat banyak"
"Tidak masalah. Kau istirahat saja sebentar disana, kita akan melewati perjalanan jauh" jawab Yunho lagi kini tanpa melihat istrinya itu yang mulai berjalan mendekatinya
"Tapi Yunnie…" Jaejoong tetap bersikukuh dan kini sudah berjongkok disisi Yunho lalu mencoba mengambil pakaian yang berserakan di lantai kamar mereka
"Joongie!" kaget Yunho melihat Jaejoong yang sudah berada disisinya
"Sudah kubilang tidak apa-apa, mhmm… Aku akan mengaturnya sendiri" senyum Yunho mengambil pakaian yang berada di genggaman Jaejoong dan membawa Jaejoong kembali menuju ranjang
"Joongie istirahat disini saja yah, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan anak kita" lanjut Yunho tersenyum dan mengusap perlahan perut datar Jaejoong
"Eumm…" angguk Jaejoong akhirnya yang melihat Yunho berjalan menuju lemari dan kembali sibuk dengan tumpukkan pakaian itu lalu mulai berbaring
"Disana sangat dingin, kita harus banyak membawa pakaian hangat, apalagi kau harus menghangatkan dua orang sekaligus" ucap Yunho menatap Jaejoong dibelakangnya sambil memasukan beberapa jaket kedalam tas besar itu
"Kira-kira kita butuh selimut atau tidak?" Tanya Yunho bingung
"Untuk apa Yunnie?" Tanya Jaejoong balik yang juga merasa bingung
"Tentu untuk menghangatkan tubuhmu" jawab Yunho
"Tidak perlu Yunnie, bukankah disana juga sudah ada" senyum Jaejoong
"Tapi mungkin saja tidak cukup" paksa Yunho
"Yunnie, mereka disana juga sudah sangat mengerti seberapa dingin pulau Jeju. Jadi pasti mereka sudah mempersiapakannya"
"Tapi…"
"Lagi pula, bukankah Yunnie akan selalu berada disisi Joongie untuk menghangatkan Joongie" lanjut Jaejoong tanpa menyadari ucapannya telah membuat Yunho tersenyum
"Aku suka kata-katamu barusan Joongie" goda Yunho
"Umm…" Jaejoong tertunduk malu
"Baiklah, semuanya sudah siap. Sekarang kita kebawah dan berangkat" ajak Yunho membawa tas besar itu di sebelah tangannya dan berjalan menghampiri Jaejoong
"Kau sudah siap Joongie" sahut Yunho membawa Jaejoong disisi lain tubuhnya, keduanya berjalan menemui Junsu dan Yoochun yang berada di ruang duduk
"Tidak ganti baju dulu Joongie?" Tanya Yunho tersadar setelah memperhatikan pakaian istrinya
"Tidak perlu Yunnie, Joongie pakai ini saja"
"Mhmm… Tapi kau harus memakai jaket ini, udara di luar sangat dingin"
"Eumm…" angguk Jaejoong dan memakai jaket hangat yang diberikan Yunho
"Kami sudah siap Chun" ucap Yunho yang melihat Yoochun dan Junsu tengah berbincang di ruang duduk mereka
"Sudah. Baiklah, kita berangkat sekarang" senyum Yoochun mulai berdiri dan membawa Junsu berjalan menuju mobil mereka yang berada di depan
"Ayo Joongie" Yunho membawa Jaejoong untuk mengikuti mereka berdua dibelakang
Yoochun membuka pintu kursi penumpang untuk Junsu dan membiarkannya masuk lalu bergerak menuju kursi kemudi dan membukakan pintu bagasi untuk Yunho. Jaejoong melihat Yunho memasukan tas besar mereka kedalam bagasi mobil Yoochun bagian belakang yang sudah hampir penuh dengan barang bawaan pasangan itu dan menutupnya perlahan. Kemudian Yunho membawa Jaejoong untuk masuk kedalam mobil di kursi belakang bersamanya
"Hei Chun, bawaan kalian banyak sekali?" Tanya Yunho
"Junsu yang menginginkannya. Junsu ingin membeli banyak hadiah disana, jadi kami membawa banyak tas" sahut Yoochun memandang Yunho dari cermin di depannya
"Benar sekali, barang-barang di pulau Jeju itu sangat bagus dan tahan lama, aku akan membeli banyak hadiah disana" senyum Junsu membenarkan ucapan Yoochun
"Jadi maksud kalian tas-tas besar itu tidak ada isinya?" kaget Yunho menatap keduanya bergantian
"Tidak juga Yun. Tas yang lumayan besar yang berwarna merah itu berisi pakaian kami berdua"
"Jadi sisa empat tas yang hampir sama besar itu akan berisi hadiah semua?!" Tanya Yunho lagi masih dengan pandangan takjub
"Begitulah Yunho" girang Junsu menatap Yunho dan Jaejoong yang berada di kursi belakang
"Untuk siapa saja hadiah sebanyak itu Junsu?" Tanya Jaejoong polos pada Junsu
"Tentu saja untuk semuanya Jaejoong. Adikku sudah pasti, Appa, Umma, Paman, Bibi, keponakanku, Inhwan, Moobin, Sungwoon, Chanhee, Dongwoon, lalu… Junho hyung lalu…" Junsu mengucapkan satu per satu nama sambil menghitungnya dengan kedua tangannya
"Sudah… Aku sudah mendengarnya, sekarang lebih baik kita berangkat" potong Yunho melihat Junsu yang masih memikirkan orang-orang yang akan diberinya hadiah-hadiah itu
"Chun nyalakan mobilnya, nanti kita sampai terlalu malam disana" lanjut Yunho
"Hei… Aku belum selesai bercerita" kesal Junsu berbalik dan melipat kedua tangannya didadanya
"Itu bisa kau lanjutkan nanti Junsu, sekarang lebih baik kita mulai berangkat" ucap Yunho
"Baiklah…" pasrah Junsu menatap ke depan
"Sudahlah Su, aku akan mendengarkan semua ceritamu nanti. Kau tahu kan Yunho itu seperti apa" senyum Yoochun pada kekasihnya dan mengusap rambut Junsu lembut
"Eumm…" angguk Junsu
"Bagaimana kalau kita mendengar kan berita pagi. Yah, setidaknya kita bisa mengetahui kondisi pulau Jeju di musim dingin tahun ini" saran Yoochun menyalakan radio mobilnya
"Kau benar Yoochun, setidaknya kita bisa bersiap-siap" jawab Yunho
"Bagaimana kalau kita mendengarkan siaran komedi Chunnie?" saran Junsu dengan wajah berbinar
"Hei Junsu, kau ini, bersikaplah dewasa sedikit. Mendengarkan siaran komedi, kau tidak pernah berubah" tawa Yunho
"Aish… Yunho, kau suka sekali menghinaku, setidaknya kita lebih terhibur daripada mendengarkan berita pagi" kesal Junsu berbalik menatap Yunho
"Untuk saat ini kita dengarkan berita pagi dulu ya Su, di musim dingin seperti ini sangat penting untuk mengetahui keadaan sekitar. Hmm"
"Senyum Yoochun menenangkan kekasihnya"
"Baiklah Chunnie"
Namun seperti yang sudah terduga, Junsu sama sekali tidak mendengarkan siaran berita pagi itu, ia hanya bersenandung riang menatap keriuhan kota yang berubah menjadi sunyi dalam perjalanan mereka sedangkan Yoochun sibuk mendengarkan senandung Junsu dan tersenyum dengan sesekali menggenggam lengan Junsu untuk menyalurkan kehangatan
Tidak jauh berbeda dengan Yoochun dan Junsu, Yunho tidak pernah berhenti menggoda istri cantiknya dengan memainkan lengan Jaejoong juga mengusap lembut pipi Jaejoong yang memerah karena ulahnya, bahkan tak jarang Yunho mencuri kecupan dibibir Jaejoong yang berhasil membuat Jaejoong membenamkan wajahnya di dada Yunho karena malu
Dua pasangan ini begitu sibuk dengan kegiatan masing-masing, hingga berita pagi yang awalnya ingin di dengarkan untuk mengetahui keadaan seolah tak terjamah lagi dan terbiarkan. Berita pagi yang memberikan info tentang badai salju yang akan muncul dalam perjalanan mereka bagai sebuah angin lalu yang terlupakan tanpa perhatian
-TBC-
*bows
Sankyuu… Arigatou na…
Buat yang udah mampir dan baca ff ini
Kalau ada kritik dan kurang suka sama alurnya langsung bilang aja. Ne ^^
Sampai ketemu di ff selanjutnya ^^
