Drabble entah keberapa: BokuAka
Matahari luar biasa terik dan itu bahkan sudah bulan Oktober. Bokuto terengah-engah, Akaashi di punggungnya masih tak sadarkan diri. Sesekali mengerang karena darah yang mengucur dari luka di kakinya yang dipatahkan Bokuto karena tertimpa balok-balok besi di markas musuh. Pasukannya menghilang ditelan hutan tropis mengerikan di kepulauan ini. Mungkin sudah mati. Mati ditembak sekutu, diterkam hewan-hewan buas penghuni hutan, atau bahkan termakan jebakan berbagai flora pembunuh yang memangsa manusia.
Bokuto sudah lupa sekarang tanggal berapa dan apa yang terjadi di luar sana. Bagaimana kabar Jepang, ada informasi apa dari tanah airnya. Ia tak memiliki waktu untuk memikirkan itu semua. Darah juang di dadanya untuk membela tanah air masih membara, dan dia yakin perjuangannya masih sama berkobarnya seperti semangat prajurit lain yang mengingini kemenangan Jepang.
Markas mereka dibakar tentara Inggris semalam, karena itu kini Bokuto pontang-panting berdua dengan Akaashi, mencari-cari gua untuk bisa ia tinggali sebentar demi memberikan pertolongan ringan pada luka di kaki si hitam.
.
.
Bokuto menyeruput air di batok kelapanya. Hujan di luar sana berbunyi mengerikan, menakutkan. Setiap tetesnya seolah-olah jarum-jarum besar yang siap menyobek kulit siapapun yang ada di bawahnya. Hujan tropis selalu menyebalkan, dan meski sudah sepuluh tahun Bokuto dan Akaashi beroperasi di pulau tropis ini, keduanya masih belum terbiasa pada serbuan maha dahsyat itu.
Semalam Bokuto dan Akaashi menemukan satu lagi rekan seperjuangan yang mereka kenali meregang nyawa. Ada kumpulan bisul bernanah menijijikkan di kakinya dan sebilah pisau berlapis daun pisang yang menancap di perutnya. Harakiri. Dan tadi pagi Bokuto membakar mayatnya, hanya dilihati oleh Akaashi berkaki satu yang sudah meniadakan harapan hidupnya. Jika Bokuto tak ada, sudah tidak aneh rasanya jika perut Akaashi sudah terbelah jua.
"Aku heran kenapa tidak ada regu pencarian? Apa yang terjadi pada Jepang?"
Bokuto menatap si hitam dalam diam. Mata emasnya tak berani berlama-lama membalas tatap hijau itu, memperhatikan letup api yang membakar ikan mereka. Mungkin sudah sekitar setengah bulan lamanya dia mendengar informasi terakhir bahwa Tokyo dibombardir sekutu. Itu adalah kabar terakhir yang mereka dengarkan bersama di salah satu kompi sebelum kembali terjun membalaskan dendam jiwa-jiwa rakyat Jepang yang dibunuhi dengan tanpa bisa memberikan perlawanan.
Jas hujan di pintu gua ia perbaiki ketika sedikit tempias Bokuto rasakan. Kini gua itu terasa panas karena unggun yang membara.
"Bokuto-san."
"Entahlah, Akaashi. Kita tunggu saja."
"Mungkinkah perang berakhir? Bagaimana jika kita pergi mencari desa nanti?"
"Dan ditemukan musuh? Menyerah? Tidak mau, Akaashi. Perang belum berakhir. Apa kau tidak lihat tentara Inggris kemarin di pesisir pantai?"
Akaashi terdiam. Bokuto mendekat dan membersihkan lumpur yang ada di pipi si hitam. Kulit orang ini ketika di Jepang dulu berwarna putih bersih, indah, dan segar. Kini dibakar menjadi cokelat gosong meskipun tidak menghilangkan keindahan yang sudah dimiliki Akaashi. Dikecup Bokuto pelan bibir tipis itu dan dijatuhkannya kepala Akaashi ke pundak lebarnya. Dirangkulnya bahu Akaashi, digenggamnya erat saban jari si hitam, dan katanya, "Kita akan terus berjuang. Berdua."
