Arc II: Pandora's Box
Chapter 9: Awakening Mode
~Opening Song: Toumei Datta Sekai by Motohiro Hata~
"Gabriel-senpai."
Naruto menyuarakan nama itu dengan tidak sadar. Ya, perkataan itu keluar begitu saja saat melihat sosok wanita cantik layaknya bidadari yang turun ke bumi hanya untuk dirinya seorang. Naruto yang sadar dengan kelakuannya segera menutup mulut. Membatin kesal. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Dua orang di sana mendengar perkataan Naruto lalu memandangnya.
Gabriel hanya sebentar memandang Naruto dan kembali berkutat pada buku tebal di atas meja.
Samui yang berada di meja resepsionis tersenyum simpul, "Selamat datang di perpustakaan Donquixote Academy. Etoo .. Namikaze Naruto-kun, benar?"
Naruto mengangguk. Dalam hatinya ia sedikit badmood karena bahkan kakak kelasnya sudah mengenal namanya. Dia yang sebagai murid baru sudah sangat terkenal dan itu merepotkan.
"Boleh aku masuk?"
"Tidak ada alasan yang membuatku melarangmu masuk ke sini, Namikaze-kun. Silahkan masuk."
"Terima kasih."
Naruto masuk tak lupa menutup pintu kemudian berjalan pelan menuju Samui. Perpustakaan ini selalu sepi karena kebanyakan murid tak terlalu mementingkan teori. Samui menyambut Naruto dengan selayaknya menyambut The Ten Grace of God.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Samui lembut.
Naruto mengangguk pelan, "Bolehkah aku meminjam buku sihir dasar tentang [Time-Space Magic] dan [Body Magic]?"
Samui balas mengangguk lalu tanpa membuang waktu ia pergi mencari buku yang dimaksud Naruto setelah menyuruhnya untuk duduk di meja yang sama dengan Gabriel. Naruto hanya mengikuti ucapan Samui saja dan sekarang ia tengah duduk di depan bidadari cantik.
Tak ada pembicaraan di sana. Gabriel juga terlihat tak peduli dan tak terganggu oleh kehadiran Naruto. Ia masih menggerak-gerakkan matanya senada dengan paragraph yang dirinya baca. Samui muncul beberapa menit kemudian dengan dua buku cukup tebal yang bertuliskan masing-masing tipe magic.
"Ini buku yang kau maksud," Samui menyerahkan dua buku itu.
Naruto menerimanya dengan senyum simpul, "Terima kasih, Senpai."
"Sama-sama. Kalau ada apa-apa panggil aku di meja resepsionis."
"Baiklah."
Samui kembali ke tempatnya. Buku yang pertama kali Naruto buka adalah buku tentang dasar-dasar [Time-Space Magic]. Kalimat-kalimat yang sebagian besar berupa konsep dasar langsung menempel di kepala Naruto yang termasuk ke dalam golongan orang cerdas.
Pertama, konsep tentang waktu. Remaja pirang itu membacanya dengan teliti tanpa melewatkan satu kata pun. Penjelasan itu memakan beberapa lembar tapi Naruto dapat memahami kesimpulannya dalam sekali baca.
Kedua adalah tentang konsep ruang. Penjelasan ini sedikit lebih panjang dari sebelumnya dan lebih sulit dicerna di otak. Ia membaca kata per kata dengan lebuh teliti. Samui yang berada di meja resepsionis sweatdrop saat melirik Naruto yang sama seriusnya dengan Gabriel. Mereka memiliki kebiasaan yang sama, mungkin.
Berselang beberapa menit selama keheningan. Gabriel terlihat menutup bukunya lalu menghela napas. Ia telah menyelesaikan membaca buku sihir tentang peningkatan [Light Magic]. Ia kemudian memandang Naruto yang berada di depannya. Menopang dagu dengan senyum tipis. Matanya sedikit melirik isi yang dibaca oleh Naruto.
'Oh … magic dasar ya.'
Gabriel menguap pelan. Semua magic dasar yang ia bisa kembangkan sudah dikuasai dengan sempurna. Melihat Naruto yang berkutat dengan buku-buku membuat Gabriel teringat masa lalu saat dirinya masih berstatus murid baru di sini. Sebenarnya masih banyak kesamaan dirinya dengan pemuda itu.
Contoh paling penting adalah mereka sama-sama menduduki The Ten Grace of God saat kelas satu. Gabriel memandang Naruto bagaikan memandang dirinya sendiri.
Gabriel yang mendapatkan sedikit ide untuk menyegarkan pikirannya dan tubuhnya seketika langsung mengetukkan jari pelan di depan Naruto. Perhatian remaja itu sukses teralihkan dan kini ia memandang bidadari cantik.
"Ada apa?" tanya Naruto.
"Kau terlihat sedang sibuk mempelajari magic dasar eh, Namikaze-chan?"
'Chan?' batin Naruto sedikit kesal. Namun ia tak menanggapi itu. "Seperti yang Gabriel-senpai lihat." Balasnya datar dan kembali mengalihkan pandangan menuju buku di bawah.
"Maa~ jangan dingin seperti itu kepadaku. Aku memiliki niatan baik untukmu."
Perkataan Gabriel itu membuat perhatian Naruto tertuju padanya lagi, "Niatan?"
Gabriel mengangguk, "Aku akan mengajarimu sesuatu yang penting. Terutama tentang sihir langkamu itu. Ikuti aku!"
Gabriel berdiri lalu pergi menuju lapangan yang berada di belakang perpustakaan. Naruto mengikuti di belakang sedangkan Samui masih dalam keadaan terkejut karena Gabriel yang seorang maniak buku dapat terlepas dari bukunya. Ini semakin membuat penasaran dirinya tentang seorang bernama Namikaze Naruto. Alhasil Samui pun menyusul mereka berdua.
Mereka berdua berada di tengah lapang, duduk saling menghadap sedangkan Samui hanya menonton di pinggir lapangan. Berkas yang dibawa remaja kuning itu disimpan di atas meja perpustakaan. Angin berhembus pelan menggerakkan rambut yang warnanya senada. Tidak kemiripan itu yang mereka punya. Warna mata pun sama.
Mereka seperti adik kakak jika dilihat sekilas.
Naruto mengangkat suara bersamaan dengan angin yang berhenti berhembus, "Jadi, apa yang akan Gabriel-senpai ajarkan padaku?"
"Sebelum masuk ke pembicaraan ini, aku ingin bertanya satu hal,"
"Dan apa itu?"
"Apa Namikaze-chan mengetahui tingkatan setiap elemen?" tanya Gabriel.
Naruto menggerakkan bola mata ke sudut. "Maksud Senpai apa tentang pembagian jenis elemen?"
Gabriel menggeleng pelan, "Bukan itu yang aku maksud. Hmm, sepertinya Namikaze-chan belum mengetahui tentang ini." Gadis super cantik itu menghirup udara cukup panjang sebelum kembali bersuara.
"Tingkatan –atau yang mudah dipahami adalah mode elemen terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah mode [Normal] dan tahap kedua adalah mode [Awakening]. Jika dalam mode normal, seperti yang banyak kita lihat penggunannya. Namun, mode [Awakening] dapat meningkatkan kekuatan elemen secara drastis. Tidak semua orang sanggup membangkitkan mode ini."
Naruto mengelus dagu yang tidak ada janggutnya itu dengan pelan. Ingatannya samar-samar mengingat perkataan ayahnya tentang hal ini. Namun mungkin ia telah lupa karena itu terjadi saat ia masih kecil yang belum bisa menyimpan ingatan dengan baik.
"Apa kau sudah mengerti?" tanya Gabriel yang melihat Naruto diam saja dari tadi.
Naruto sedikit tersentak lalu mengangguk. "Ya. Sebagian besar aku telah mengerti apa maksud penjelasan Gabriel-senpai. Singkatnya mode [Normal] adalah mode yang kita gunakan sehari-hari dalam mengolah elemen. Tapi mode [Awakening] adalah mode yang jarang dimiliki kebanyakan penyihir."
"Humu~ humu~ Namikaze-chan memiliki otak yang cerdas. Aku akan lebih mudah menjelaskan tentang mode [Awakening]."
"Hmm, aku juga jadi tertarik mengetahui tentang mode yang Gabriel-senpai sebutkan."
Samui diam berkonsentrasi mendengarkan pembicaraan kedua kembaran itu tapi beda orangtua. Sesekali ia sulit mendengarkan akibat angin yang berhembus. Meski begitu Samui dapat mengetahui topik yang sedang dibicarakan mereka berdua.
Gabriel menyingkabkan poni yang agak tak rapi akibat hembusan angin tadi, membuat kesan cantiknya berubah jadi imut. Naruto menunggu dengan tidak sabar akan penjelasan tentang mode [Awakening]. Ia benar-benar baru tahu tentang hal ini.
"Akan lebih mudah untuk kujelaskan jika praktek langsung," ucap Gabriel kemudian menyuruh Naruto membuat dinding emas tidak jauh dari posisi mereka.
Naruto mengangguk singkat lalu melakukan apa yang gadis itu katakan. Dengan cepat ia membuat dinding emas yang tak terlalu besar seperti biasanya. Samui diseberang sana melihat emas Naruto seketika matanya berbinar. Kilauan emas murni hasil dari kompresi Mana memang mengagumkan.
"Terus apa lagi?" tanya Naruto.
Gabriel tak menjawab pertanyaan pemuda pirang itu. Ia merentangkan tangan ke depan dengan telapak tangan di atas. Beberapa detik kemudian muncul sinar keemasan yang membuat hawa di sekeliling mereka menjadi hangat dan menenangkan.
"Ini adalah elemen cahaya, bukan?" Naruto hanya memastikan saja.
Gabriel mengangguk. "Dan Namikaze-chan tahu bukan bagaimana karakteristik dari elemen cahaya?"
Naruto menganggukkan kepala. Elemen cahaya memiliki sifat penyembuh. Itu adalah fakta yang tak bisa diubah oleh siapapun. Jadi elemen cahaya dapat dikatakan sebagai elemen support, bukan elemen berbasis penghancur seperti yang lainnya. Elemen cahaya nyaris tak dapat melukai seseorang mengakibatkan elemen itu sering dianggap sebagai elemen terlemah.
Ada yang menarik perhatian Naruto dan ia bertanya-tanya dalam hatinya. Pertanyaannya, bagaimana bisa Gabriel menduduki kursi ke-2 dengan elemen cahaya bahkan saat ini ia baru kelas 2?
"Ya. Aku tahu elemen cahaya berguna untuk menyembuhkan luka dan berkontribusi besar dalam dunia medis modern."
Gabriel mengangguk dengan senyum tipis menghiasi wajah putihnya. Ia menonaktifkan elemen cahaya yang ada di tangannya. "Seperti yang Namikaze-chan bilang, elemen cahaya nyaris tak berguna di dalam pertarungan. Elemen cahaya hanya berguna saat ada seseorang yang terluka. Seperti ini,"
Gabriel sedikit menggoreskan [Pisau Mana] ke kulit mulusnya yang seketika ternodai oleh cairan berwarna merah. Kemudian gadis itu menyembuhkan kembali luka tadi dengan elemen yang ia kuasai. Naruto dibuat kagum oleh kecepatan penyembuhan Gabriel, membuatnya sadar bahwa gadis yang ada di depannya sudah memasteri elemen cahaya.
Gabriel hanya butuh kurang dari setengah detik untuk menutup luka yang panjangnya sekitar 2 cm.
"Menakjubkan …." Gumam Naruto.
"Ya … memang menakjubkan. Tidak seperti kebanyakan pendapat orang lain …." Kata Gabriel yang suaranya perlahan menghilang.
Naruto menatap bingung. Ia tidak terlalu mendengar perkataan terakhir Gabriel. Namun sudahlah, mungkin bukan hal penting.
"Seperti itulah karakteristik dari elemen cahaya dan juga mode [Normal]. Aku akan memperlihatkan kepada Namikaze-chan bagaimana mode [Awakening] dari elemen cahayaku."
Nah ini yang ditunggu-tunggu.
Gabriel mengarahkan tangan tepat ke hadapan dinding emas Naruto. Lingkaran sihir berwarna senada dengan lingkaran sihir Naruto tercipta. Berukuran tidak terlalu besar dan berputar pelan. Dari lingkaran sihir tersebut keluar bola cahaya pekat yang melesat menuju dinding emas.
Saat bola cahaya itu menyentuh permukaan dinding emas. Kedua mata Naruto membulat sempurna ketika pandangannya menangkap sedikit demi sedikit dinding yang ia buat terkikis oleh bola cahaya itu. Hingga akhirnya dinding emas Naruto lenyap tanpa sisa. Meninggalkan bola cahaya Gabriel yang diam di atas udara.
"Bagaimana bisa?"
"Itulah kekuatan [Awakening]-ku. Prinsipnya sama seperti menyembuhkan luka."
"Aku masih tidak mengerti."
Gabriel menghela napas pelan. "Cara kerja elemen cahaya dalam menyembuhkan luka adalah membuat kembali sel-sel tubuh yang rusak. Menggantinya dengan yang baru secara sempurna sehingga terciptalah apa yang dinamakan, regenerasi. Itu adalah mode [Normal] dari elemen cahaya. Dan [Awakening]-nya memiliki prinsip yang hampir sama. Yaitu mengembalikan elemen ke bentuk semula alias Mana."
'Souka, kekuatan yang sanggup membuat elemen jadi berubah menjadi komponen pokok alias Mana. Sudah dapat dipastikan segala hal yang berhubungan dengan Mana akan dihapuskan oleh kekuatan Gabriel-senpai. Dia kuat!'
"Ada syarat yang harus dipenuhi agar kau membangunkan mode [Awakening] dalam dirimu, Namikaze-chan."
"Dan apa itu?"
"Pertama kau harus menguasai dengan penuh elemen emas milikmu. Kedua Namikaze-chan wajib memahami bagaimana sifat dari elemen emasmu. Kebanyakan orang menguasai elemen yang mereka miliki tapi tidak memahami sifat dan jati diri elemen tersebut. Lalu yang ketiga sekaligus terakhir …."
"Terakhir …."
"Namikaze-chan harus menemukannya sendiri."
Naruto mendengus sebal. Ini sama saja bohong jika semua syarat yang harus dipenuhi tidak ia ketahui salah satunya. Namun bagaimanapun ia harus mengucapkan banyak terima kasih kepada gadis di depannya karena sudah membuka wawasan baru bagi dirinya.
"Itu saja yang ingin kukatakan," Gabriel berdiri lalu merapikan roknya. "Aku tak tahu kenapa aku ingin sekali berbicara denganmu tapi … aku menikmatinya. Sampai bertemu lagi, Namikaze-chan."
"Terima kasih banyak, Gabriel-senpai."
Naruto pergi dari perpustakaan setelah mengambil buku dan dokumen yang ada di dalam. Tak terasa waktu berlalu dengan cepat dan ia harus sampai di markasnya. Jika tidak maka ia akan dicap sebagai pemimpin yang lelet. Ah, itu sangat buruk.
Shalba Beelzebub. Siapa yang tidak mengenal nama itu di sekolahan ini. Orang yang menyandang kursi ke-9 dalam jajaran The Ten Grace of God itu sangat dikagumi oleh kebanyakan siswi karena parasnya yang rupawan. Belum lagi latar belakang keluarganya yang termasuk ke dalam bangsawan kelas tinggi.
Di samping Shalba, ada seseorang yang sudah tak asing lagi. Vali Lucifer. Remaja ganteng tapi sayangnya hanya tertarik pada pertarungan, alias maniak petarung. Duduk tenang di sofa empuk dengan seringai tanda ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
Saat ini mereka sedang berada di ruang kepala sekolah dan menghadap langsung Azazel yang sedang terlihat serius membaca laporan dari dua orang itu.
"Bagaimana menurutmu tentang masalah ini, Shalba?" tanya Vali.
"Merepotkan."
"Ngahaha, aku malah semakin bersemangat dengan ini!"
Shalba melirik Vali dengan pandangan kurang suka, "Apanya yang semakin menarik? Jelas masalah ini akan merepotkan sekolah kita di masa depan!"
"Dan itulah yang menarik bagiku."
"Cih, aku tak akan pernah mengerti bagaimana otak kecilmu berjalan, Vali."
"Ya ya … dan aku tak peduli."
Kedua laki-laki itu nampaknya kurang akur satu sama lain. Beberapa saat kemudian Azazel menyimpan laporan itu pertanda sudah selesai di baca. Ia menatap serius kepada Shalba dan Vali. Ekspresinya dapat ditebak bahwa isi laporan itu bukan hal main-main.
"Aku ingin kalian berdua tetap mengawasi pergerakan mereka. Laporkan apa saja yang kalian ketahui bahkan hal yang paling kecil. Aku akan menghubungi kepala sekolah lain dan membicarakan masalah ini."
"Baik Azazel-sama," ucap kompak Vali dan Shalba.
'Ck! Masalah merepotkan malah menghampiri di saat-saat seperti ini. Sial, sepertinya aku harus menunda rencanaku terpadap Naruto.'
Naruto berjalan agak cepat menuju markasnya yang memang letaknya cukup jauh dari gedung utama. Sesekali ia berpapasan dengan murid lain dan mendapatkan anggukan hormat. Remaja itu hanya membalasnya. Mungkin mereka menghormati dirinya sebagai pemegang kursi ke-7.
Setelah berjalan beberapa menit akhirnya ia sampai dan melihat seluruh anggotanya sedang latihan di lapangan. Ia tidak langsung menghampiri anggotanya melainkan menuju ruangannya untuk menyimpan barang titipan Sirzechs juga menggantungkan blazer-nya karena ia kurang nyaman latihan menggunakan blazer.
Setelah itu Naruto menghampiri mereka tanpa mengeluarkan sepatah kata. Berjalan kecil menuju Coriana yang sedang mengawasi anak kelas satu yang melakukan latih tanding. Tanpa disangka Coriana menyadari kedatangan Naruto membuat remaja itu cukup terkagum.
"Naruto-sama!" pekik Coriana yang kemudian mendapatkan seluruh perhatian anggota. Mereka kompak menghentikan seluruh kegiatan dan menghampiri Naruto.
Kaguya mengucapkan salam, "Okaeri Naruto-kun."
"Ya, tadaima."
"Sudah selesai urusannya dengan Sirzechs-san?" tanya Corianan.
Naruto mengangguk singkat, "Yah … aku mendapatkan tugas yang merepotkan. Oh ya, Kaguya. Apa kau sudah tahu bahwa seluruh murid yang mendapatkan gelar MVP saat MPLS otomatis akan menjadi anggota OSIS?"
Kaguya mengangguk, "Aku sudah tahu dan tinggal menunggu perintah dari kalian."
"Begitu."
Coriana menyerahkan beberapa kertas yang sedari tadi ia pegang. Itu adalah data seluruh kekuatan anggota guild [SACRIFICE]. Dengan data ini Naruto dapat mudah membagi tim yang seimbang. Ia membacanya dengan teliti lalu setelah itu Naruto menyuruh semuanya masuk ke markas untuk membahas pembagian tim.
Seluruh anggota sudah duduk rapi di sofa yang tersedia. Menghadap langsung pada Naruto di depan dengan Coriana yang senantiasa berada di sampingnya.
"Baiklah, aku akan mengumumkan pembagian tim. Tim dibagi menjadi dua yaitu Alpha Team dan Delta Team. Masing-masing memiliki penanggung jawab yaitu murid yang memegang jabatan sebagai Captain dan akan diketuai oleh murid yang memegang jabatan Knight. Berikut pembagian timnya;
Alpha Team
Penganggung jawab: Ootsutsuki Kaguya
Ketua tim: Kuisha Abaddon
Anggota: Asia Argento, Siris, Kira, Mira, dan Isabella.
Delta Team
Penanggung jawab: Nara Shikamaru
Ketua tim: Rock Lee
Anggota: Uzumaki Karin, Liban Crocell, Meru, Xuelan, dan Carlamain.
Itulah susunan pembagian tim. Ada yang keberatan?"
Shikamaru menguap di ujung sana, "Hoamzzz … merepotkan, tidak ada."
Semua menggeleng tanda tidak ada yang keberatan.
"Baiklah, untuk pembagian misinya akan kulakukan sekarang juga. Aku sudah mendapatkan dokumen misi dari Sirzechs-senpai. Coriana-senpai, tolong ambil dokumen di mejaku!"
Coriana mengangguk dengan senyum tipis, "Seperti yang Naruto-sama katakan." Ia lalu melangkah pergi menuju lantai teratas, ruang kerja Naruto.
Sesampainya gadis berambut pirang panjang itu di ruang Naruto. Mata indahnya dengan lincah mencari sebuah dokumen yang dimaksud oleh sang ketua. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan dokumen yang berada di atas meja. Ia mengambil dokumen itu dan membaca tulisan yang ada di depan.
"Ini dokumen yang dimaksud Naruto-sama," gumam Coriana.
Saat hendak berbalik, sudut pandangannya tak sengaja menangkap sesuatu yang ganjil dari blazer Naruto–yang digantungkan di tempatnya–ia menatap intens sesuatu yang mencuat dari saku blazer Naruto.
Coriana mengambil benda yang ia maksud dan mendapat dua buah surat cinta–dia tahu dari desain suratnya dan warna–kini ekspresi gadis itu tak dapat diartikan dengan jelas. Ia menggenggam surat itu di masing-masing tangannya.
'D-dua? Hari pertama Naruto-sama sudah mendapatkan dua surat cintah? Sainganku bertambah banyak!'
Tangannya bergetar dan tak menyadari jika jari-jemarinya meremas kuat kedua surat itu sampai berubah jadi lecek. Itulah akibat dari pikirannya yang entah ke mana. Ah … ia memiliki ide yang sedikit tidak sopan, mengintip isi surat!
'Akan kulihat!'
Setelah memastikan bahwa tidak ada siapa-siapa diruangan ini kecuali dirinya dan menyimpan dokumen itu di meja. Dengan perlahan ia mulai membuka surat yang tidak di lem itu. Mulai dari surat yang berada di tangan kanannya. Saat membuka, wangi bunga melati tercium dari dalam surat tersebut. Itu adalah tanda bahwa sang pengirim ingin menimbulkan kesan nyaman saat Naruto membaca surat darinya.
Jarinya mengambil ujung kertas, mengangkat perlahan dengan detak jantung yang semakin kencang. Sebentar lagi … sebentar lagi ia akan melihat isinya!
"Coriana-senpai, kenapa kau lama sekali?"
DEG!
Suara yang ia kenal mendengung di telinganya dengan jelas! Dengan tergesa-gesa Coriana menyimpan lagi dua surat itu di saku blazer Naruto lalu menyabet dokumen sebelum Naruto sampai di ruangannya.
Benar saja, sesaat kemudian Naruto muncul di muka pintu dengan wajah bingung menatap dirinya. Coriana buru-buru menghampiri Naruto dengan senyum yang ia buat senatural mungkin.
"Maaf Naruto-sama."
"Hmm, tak apa. Ayo kita temui yang lain!"
"Ha'i."
Sore hari yang indah di langit kota Kuoh. Naruto berjalan pelan menyusuri jalanan menuju asramanya. Fisik dan pikirannya agak lelah setelah tadi membagikan misi kepada kedua tim hasil bentukannya. Untuk awalan ia menyuruh melakukan misi kelas terendah seperti membersihkan lingkungan sekolah. Tak perlu terburu-buru.
"Hah … tadi itu melelahkan," gumam Naruto sambil merentangkan kedua tangannya. Menghela napas.
'Lumayan untuk awalan kau menjadi ketua,' Fenrir menyahut tiba-tiba. Nampaknya ia memperhatikan kegiatan Naruto sedari tadi.
'Yah … aku harus melakukan yang terbaik karena ini adalah tanggung jawabku.'
'Hn.'
'Ngomong-ngomong, apa Fenrir-san tahu soal mode [Awakening] yang dibicarakan Gabriel-senpai tadi?'
'Sayangnya tidak. Aku tak tahu menahu soal perkembangan dunia sihir karena jiwaku tersegel sangat lama, dan juga dimasaku tidak ada mode [Awakening] atau apalah yang kau sebutkan tadi.'
'Hmm, mau bagaimana lagi. Aku harus mencari tahu sendiri syarat terakhir yang Gabriel-senpai katakan. Sepertinya ini akan susah.'
Setelah menyudahi perbincangan singkatnya dengan Fenrir, mata Naruto menangkap siluet Azazel dari ujung jalan sana. Mendekati dirinya. Saat Naruto hendak berpapasan dengan kepala sekolah itu ia memberi salam.
"Selamat sore, Azazel-sama."
Namun Azazel sepertinya tak mendengarkan salam dari Naruto dan hanya berjalan begitu saja. Dari wajahnya nampak ia tengah memikirkan sesuatu yang penting.
Naruto berhenti berjalan dan melihat punggung Azazel, "Azazel-sama!" sekali lagi ia berucap.
Kali ini Azazel mendengar. Ia berbalik dan melihat Naruto, "Oh Naruto, maaf aku tidak mendengarmu. Ada apa?" Azazel mendekati muridnya itu.
"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya ingin menyapa Azazel-sama saja. Oh ya, boleh aku bertanya?"
"Tentu."
"Apa aku bisa mendapatkan izin pergi ke suatu tempat selama kurang lebih dua minggu?" tanya Naruto.
Azazel terdiam sebentar sebelum menyahut pertanyaan remaja pirang itu, "Memangnya kapan kau akan meminta izin?"
"Secepatnya … lebih baik."
Azazel menggeleng pelan, "Maafkan aku Naruto. Aku tidak bisa mengabulkan permohonan izinmu. Kau adalah ketua guild baru dan masih dalam pengawasanku. Jadi untuk bulan ini aku tak bisa mengabulkan permohonan izinmu."
Naruto terlihat sedikit kecewa tapi apa yang dikatakan Azazel ada benarnya. Ia masih baru di sini dan tidak etis jika langsung meminta izin pergi selama dua minggu. Waktu yang tak singat.
"Begini saja, jika kinerjamu bagus bulan ini maka aku akan memberikan izin di bulan depan. Bagaimana?"
"Tentu. Aku akan berjuang keras untuk itu, Azazel-sama."
"Bagus. Kalau begitu aku tunggu hasil laporan di akhir bulan. Berjuanglah dengan keras, Naruto."
"Ha'i. Azazel-sama."
Azazel meninggalkan Naruto yang menunduk hormat padanya. Remaja pirang itu lalu kembali berjalan menuju asrama.
'Kau dengar itu, Fenrir-san? Sepertinya kita tidak dapat keluar sekolah dalam waktu yang cepat.'
'Hn. Aku tak keberatan dengan itu. Justru ini waktu yang tepat untukmu berlatih sihir sederhana dan penggabungan kita.'
'Ya, Kau benar.'
Malam hari di halaman belakang asrama. Naruto terlihat sedang berlatih menguasai sihir dasar yang ia sudah pelajari teorinya dari buku di perpustakaan. Ia hanya ditemani oleh lampu taman dan angin dingin menusuk kulit.
Malam ini ia putuskan untuk belajar menguasai teknik dasar dari [Body Magic] yaitu [Boost]. Sebelumnya Naruto hanya menguasai [Accel].
Sihir sederhana [Boost] adalah sihir yang prinsip kerja 'menaikkan kinerja sihir lain' itu artinya jika ia menguasai [Boost] maka ia dapat memaksimalkan kerja sihirnya yang lain. Tidak hanya sihir, fisik pun akan berpengaruh jika memakai [Boost] seperti kekuatan akan bertambah berkali-kali lipat begitu pun dengan kecepatan. Sihir ini sangat berguna.
Untuk menguasai sihir [Boost] Naruto harus mengompresikan Mana-nya ke seluruh tubuh sehingga fisiknya mendapat support dan memaksimalkan kinerja. Ini cukup sederhana untuk dilakukan tapi tentu saja kegagalan akan terjadi, meski hanya sekali.
[Body Magic: Boost]
Dumm!
Dentuman kecil tercipta saat seluruh tubuhnya teraliri oleh Mana. Ia merasakan jika sekarang tubuhnya lebih enteng. Pertama Naruto mencoba untuk berlari sekuat tenaga dan ternyata kecepatannya bertambah dua kali lipat. Lalu ia mencoba untuk mengetes kekuatannya dan sama seperti yang terjadi saat ia mencoba mengetes kecepatan. Semuanya bertambah menjadi dua kali lipat.
"Yosh, aku berhasil menguasainya setelah gagal satu kali!" pekik Naruto cukup puas dengan kemajuannya. Sihir ini akan sangat berguna suatu hari nanti.
Naruto menonaktifkan [Boost] dan kembali merasakan tubuhnya memberat ke keadaan normal. Tangannya kemudian mengambil buku yang tergeletak di sampingnya lalu membaca sihir sederhana berikutnya. Masih dengan [Body Magic].
"Hmm, mungkin sihir ini akan berguna jika aku kuasai."
Karena keasyikan mempelajari sihir baru, Naruto tak menyadari jika ada seseorang yang sedari tadi mengawasinya dari balik jendela kamar. Orang itu tak pernah melunturkan senyumnya saat melihat Naruto berjuang keras membelajari sihir baru.
Keesokan harinya, sesudah bel pertanda istirahat, di koridor menuju kantin, terlihat dua orang yang menjadi pusat perhatian orang-orang lainnya. Kedua orang itu adalah Naruto dan Shikamaru. Namun bukan 'nama' merekalah yang menjadi pusat perhatian, melainkan kelakuan absurb dua remaja itu.
Bayangkan saja, mana ada orang yang mau menyeret orang yang sedang tidur di sepanjang koridor? Dan untuk pertama kalinya Naruto-lah yang memecahkan rekor itu. Ia–dengan wajah sedikit kesal–menyeret Shikamaru yang tidur menuju kantin. Ada beberapa hal yang harus dia bicarakan terkait tentang posisinya sebagai ketua kelas.
"Kuso! Ni orang mirip banget kayak kebo," gerutuk Naruto.
Setelah sampai di kantin dan tak lupa menampar Shikamaru beberapa kali untuk menyadarkannya dari dunia mimpi, mereka berdua duduk di bangku kosong lalu memesan makanan.
"Hoamzz … kau orang yang tidak menghargai orang yang sedang tidur, kuning kampret!"
"Haah? Untuk apa aku menghormati orang kayak kebo sepertimu, mendokuse~"
Shikamaru mendecih ketika Naruto menirukan kata khasnya, bahkan dengan intonasinya. Pertengkaran kecil itu reda dalam waktu singkat. Sambil menunggu pesanan, Naruto mengedarkan pandangan ke seluruh murid yang sedang berada di kantin. Beberapa ia melihat murid yang memakai kalung yang sama seperti Coriana dulu. Itu adalah budak.
"Shikamaru," panggil Naruto pelan.
"Apa?" wajahnya terlihat ogah-ogahan.
"Kau tahu bukan jika peraturan di sini mengatakan bahwa murid yang berstatus budak dapat diperintah oleh murid yang tidak berstatus budak?"
"Ya. Memangnya kenapa?"
"Tidak. Aku hanya tak melihat ada orang yang berbuat macam-macam dengan murid berstatus budak."
"Hoammzz … zaman sekarang sudah berbeda dengan zaman dulu. Meski di sini ada peraturan tentang budak tapi kebanyakan murid tidak akan berbuat macam-macam pada mereka. Ini adalah zaman orang pintar, bukan orang licik yang mengambil kesempatan dalam kesempitan."
"Hmm, ya kau benar. Tapi tidak menutup kemungkinan bukan jika satu satu atau dua orang siswa yang mengambil keuntungan dari sistem budak."
"Hoamzz … itu memang tak dapat dihindari. Semua orang memiliki sifat dan sudut padang masing-masing."
Seorang bibi tak lama kemudian menghampiri meja Naruto sambil membawa nampan yang berisikan pesanan dua remaja itu. Dengan lihai wanita yang sudah menginjak umur 40 tahunan itu menata pesanan mereka berdua di meja dengan indah.
"Terima kasih Bibi, berapa totalnya?" tanya Naruto dengan tangan yang sudah merogoh saku celana.
Bibi itu tersenyum singkat kemudian menggeleng pelan, "Kalian tidak perlu membayar pesanan."
"Huh?"
Bibi itu menunjuk pin yang melambangkan MVP di blazer Naruto, "Semua orang yang mendapatkan gelar MVP akan digratiskan dari biaya kantin selama satu tahun. Jadi kalian berdua tak perlu membayar."
Bibi itu lalu pergi melaksanakan tugasnya lagi. Naruto baru tahu soal ini, ia melirik Shikamaru dan dapat menangkap bahwa remaja nanas itu sudah tahu keuntungan MVP selain menjadi anggota OSIS.
'Sigh.'
Mereka berdua lalu menyantap pesanan masing-masing sebelum membicarakan hal yang berhubungan dengan kelas. Hari-hari Naruto berjalan dengan lancar sebagaimana mestinya. Dan ia harus bersiap-siap menghadapi suatu yang merepotkan di masa depan.
Meninggalkan kantin, kini di perpustakaan siswi yang dinobatkan sebagai siswi tercantik dan banyak orang menjulukinya sebagai Princess Donquixote, siapa lagi kalau bukan Gabriel, sedang menghadap seseorang di depannya. Mereka terlihat serius.
"Langsung saja ke intinya, aku ingin membicarakan tentang seseorang … dan membuat kesepakatan."
Bersambung
~Ending Song: Silent Solitude by OxT~
AN: Ghhhh hampir satu bulan tidak update, maafkan saya. Kegiatan kembali berjalan normal dan waktu menulis kian menipis. Untuk mode [Awakening] saya dapat inspirasi dari anime One Piece tentang kekuatan buah iblis yang dapat 'dibangkitkan'. Langsung saja, mode [Awakening] dapat meningkatkan kekuatan seseorang dengan signifikan.
Untuk balasan reviews. Terima kasih kepada akun non-login Monotachi karena sudah mengingatkan kesalahan di harga kepala. Saya sudah membenarkannya.
Untuk Akiho Yoshizawa, coba chek deh PM. Saya membalas reviews yang lagin lewat PM. Via web kalau bisa, bukan apk.
Untuk reviews dari Anon, sudah terjawab bukan salah satu pertanyaanmu tentang budak? Untuk yang lainnya akan terjawab seiring berjalannya cerita, jika saya membeberkannya di sini akan jadi spoiler.
Terima kasih bagi yang telah me-reviews, favs, dan follows. Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih atas support kalian.
Jangan lupa review lagi! Saya tunggu :)
26/01/2019
