Kebencian Menjadi Cinta

Chapter 9 "Bad Insiden"

Disclaimer: Hiro Mashima.. Fic ini punya saya :p

Genre: Romance, school life

Pair : Jellal X Erza

Hola~ ada yang kangen dengan author? XD /kurasa tidak

Gomen minna, sudah lama sangat aku ga update ni cerita, maklum udah mau pas lulus makanya banyak tugas jadi terbengkalai , gomen minna..

Ok, Author balas dulu review kalian satu-satu, makasih minna yang review ^^

Azusa Vermillion : Haha, Gomen, maaf ya juga ga bisa update kilat bisanya update sekarang Met baca, makasih ya udah review ^^

Ayane75 : Hehe gomen-gomen XD gomen juga ga update kilat dikarenakan sibuk nee, gomen , met baca, makasih udah kasih spirit ^^

Kuze S Fernandes : Hehe, iya makasih udah review ^^

Alecia Marianne : Hehe ^^v maaf ya nee baru update sekarang, hehe makasih reviewnya

Naira-chan : Hehe, lihat saja ceritanya, gomen baru update dan makasih reviewnya ^^

Jellalzxz : Haha, aku juga begitu, makasih review dan keep spiritnya buat saya lanjutkan fic ini ^^ btw, aku juga punya fic JerZa yang lain, silahkan obrak abrik XD

Yosh kelar balasnya ^^ gomen minna updatenya lama banget karena banyak tugas maklum aja ya :3

Nah, kelar saatnya back to story, mohon Reviewnya ya karna tanpa review kalian fanfic ini belum tentu saya bisa melanjutkannya.

Hate To Love Chapter 2

.

L

O

A

D

I

N

G

.

"Lepaskan mereka.." Ucap Jellal gusar melihat oang yang sangat ia kenal terikat tak berdaya.

"Uhmm.. uhmm.." Ucap wanita yang terikat di sudut lain dengan Erza.

"Ibu" Ucap Jellal ingin menghampiri ibunya , Lady yang dari tadi ingin bicara namun tidak bisa namun tertahan oleh anak buah orang berambut hitam yang sebaya dengan Jellal, meletakkan pisau tepat di leher Jellal seraya mengancam "Sekali kau berjalan.. maka habis nyawamu".

"Kau laknat Zeref" Ucap Jellal ke bos dari penyergap itu, Zeref.

"Hahahah.. aku laknat? aku itu hebat.. kau tahu? aku akan menjual ibumu, Lady yang cantik ini ke club malam.. dan Erza akan ku nikahi" Jawab Zeref seraya tertawa.

"Kau,, takkan ku biarkan bajingan..." Balas Jellal .

"Kau tahu kenapa? karna aku gelap mata.. aku tak ingin kehilangan Erza yang direbut olehmu" Ucap Zeref sambil mengambil balok kayu.

Erza yang tiba-tiba terbangun dan mendengar perkataan Zeref lalu melihat sesuatu yang tajam yang dekat dengannya.

"Kaca" Gumam Erza lalu dengan hati-hati ia mengambilnya dengan tangan yang terikat lalu ia mengerahkan kekuatannya untuk melepaskan ikatan tali itu.

"Bagaimana dengan penawaran?" Tanya Jellal.

"Penawaran..? menarik.. apa?" Tanya Zeref.

"Aku akan pergi dari jepang.. lalu bebaskan ibuku.. kemudaian kau bisa menikah dengan Erza.. aku juga sudah bosan dengan kehidupanku.." Jawab Jellal.

"Umm.. ummhh.."Say Lady sambil menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Jellal seraya menangis.

"Oh.. begitukah?.. baiklah.. " Balas Zeref.

"Sebelum itu.. ibu maaf.. aku ga bisa jadi yang terbaik buat ibu.. aku anak yang nakal.. abal-abalan.. maaf ibu" Ucap jellal seakan-akan sebagai salam perpisahan untuk ibunya.

Lady yang tak kuasa menahan air matanya mendengar perkataan Jellal hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Tapi membunuhmu lebih baik Jellal" Ucap Zeref tersenyum licik lalu dengan gusar melayangkan balok kayunya ke punggung Jellal.

Seketika dari mulut Jellal mengeluarkan darah.

Anak buah Zeref hanya berdiri dan tertawa melihat kejadian tadi.

"Hei kalian bantu aku untuk membunuh orang bodoh ini.. mereka tidak tahu bahwa kita sindikat penjual wanita" Ucap Zeref lalu melayangkan pukulan balok kayu ke punggung Jellal lagi.

Jellal hanya diam tak mau melawan, ia ditendang, dipiukuli, diinjak oleh mereka karna ia tak mau Lady maupun Erza dilukai oleh mereka.

"Dengan pukulan terakhir ini .. kau bakalan mampus Jellal" Ucap Zeref yang mengganti balok kayunya dengan tongkat besi.

"Nah terima kematianmu..." Teriak Zeref lalu menghantamkan tongkat besi itu ke Jellal tapi Erza yang sudah terbebas langsung melindungi Jellal dan hantaman tongkat besi itu terkena wajah dan kepala Erza hingga kacamata Erza pecah dan mengeluarkan banyak darah.

"Er... Erza.." Ucap Zeref.

"A.. aku sudah menghubungi Lucy untuk memanggil polisi.. uhukk.. uhkk... kau takkan bisa lari.. " Jawab Erza terbata-bata lalu mengeluarkan darah dari mulutnya.

"A.. aku ga mungkin memukulmu,, aku mencintaimu Erza.." Balas Zeref seakan tak percaya yang ia pukul adalah Erza dan menjatuhkan tongkat besinya.

"Kau.. beraninya kau memukul wanita" Ucap Jellal marah ingin menghajar Zeref tapi ditahan oleh Erza.

"E.. Erza.. maafkan aku.." Sambung Jellal.

"Sekasarnya aku.. aku tak pernah memukul perempuan,, bedebah..." Teriak Jellal.

"I.. ini bukan mauku.. aku tak sengaja" Jawab Zeref tersungkur.

"Ze,, zeref.." Ucap Erza.

"Bunuh aku Erza.. bunuh.." Balas Zeref.

"Trim's sudah mencintaiku.." Ucap Erza seraya tersenyum di sela kesakitannya pada Zeref.

"E.. Erza.." Ucap Zeref yang mendengarkan perkataan Erza tak sadar meneteskan air matanya.

Jellal hanya mampu memeluk Erza hingga bajunya bersimbah darah seraya berkata "Kau harus hidup Erza.. kau harus hidup.." seraya meneteskan air matanya.

"Tetap di tempat.. kami dari pihak kepolisian.. kalian tlah terkepung" Ucap polisi lalu mendobrak pintu gudang tua itu.

"Itu pak.. pria berambut hitam dan 2 anak buahnya" Ucap Lucy yang bersama dengan polisi yang menerobos masuk.

"Lucy" Say Erza tersenyum.

"Mereka adalah buronan .. tangkap mereka.. terima kasih nona tlah memberitahukan kami.. ayo kalian berempat bawa mereka ke mobil" Say ketua dari polisi-polisi itu lalu menangkap Zeref dan 2 anak buahnya.

"Baik pak.." Ucap Lucy lalu melepaskan Lady dari tali yang mengikatnya lalu menghampiri Erza.

"Erza bertahanlah..." Ucap Lady di sela isak tangisnya.

Gedung tua itu pun langsung ramai dikerumuni oleh orang-orang.

"Aku tak apa-apa sensei... mengapa kalian menangis.. aku masih sehat .. lihat aja" Ucap Erza tertawa.

"Baka,,," Balas Jellal.

"Kami khawatir Erza.." Ucap Lucy.

"Aku tak apa.. uhukk.. uhuk.. sudah jangan menangis, kalian terlalu khawatiran" Jawab Erza tersenyum seraya menghapus air mata Lady , Lucy dari wajah mereka dengan tangannya yang bersimbah darah.

"Jellal berjuanglah untuk hidup.. kau harus kuat..." Jawab Erza lalu menghapus air mata Jellal seraya tersenyum.

"Erza bertahanlah.. Lucy panggil ambulance.. cepat..." Ucap Jellal panik.

"Nak bertahanlah..." Sambung Lady juga kepanikkan.

"Arigaatou sensei..." Jawab Erza lalu menutup matanya.

"Erza bangun.. Erza..." Ucap Mereka bertiga.

Ambulance pun datang dan langsung membawa Erza ke RS diikuti Lady, Jellal dan Lucy.

Keesokkan Harinya

Berita ini langsung menyebar luas dari koran hingga stasiun tv.

"Diberitakan penjahat sindikat penjual wanita yang hampir membunuh seorang gadis muda.."

"Pipp" Pencet remote Jellal mematikan tv yang terbaring di ruangannya untuk istirahat seraya berkata " Dasar berita ini juga sampai kemana-mana".

"Jellal" Panggil Lady seraya membuka pintu ruangan Jellal dirawat.

"Kamu udah bisa pulang" Sambung Lady.

"Aku ga mau pulang" Jawab Jellal.

"Aku mau menemui Erza" Sambungnya.

"Hmm,, kamu..." Ucap Lady.

"Aku ga peduli Ma... aku mau sakit atau enggak.. aku harus liat Erza dulu.." Bentak Jellal hingga membuat Lady terdiam.

"Baiklah..." Ucap Lady.

Mereka pun bergegas ke ruangan tempat Erza dirawat.

"Itu dia ruangan 305" Say Lady.

"Iya Ma.. tu ada dokter keluar dari ruangan Erza" Balas Jellal lalu mereka menghampiri dokter itu.

"Dok.. keadaan Erza gimana.. dia baik-baik aja kan?" Tanya Jellal.

"Maaf anda siapanya pasien Erza?" Tanya Dokter itu balik.

"Kami berdua ini adalah keluarganya" Jawab Lady.

"Ah.. maaf ibu.. dengan sangat menyesal saya mengatakan bahwa pasien Erza berada dalam kondisi koma.. kita berharap dan berdoa saja ia segera sadar dari komanya.." Ujar dokter itu.

"Karna apa Erza koma dok?" Tanya Lady.

"Karna benturan benda keras di kepalanya & saya harap setelah ia tersadar.. ia tak kehilangan ingatannya.." Jawab dokter itu lalu meninggalkan Lady & Jellal yang terdiam oleh perkataan dokter tadi.

"Ma.." Panggil Jellal seraya terduduk lesu.

"Iya nak" Balas Lady.

"Aku bodoh.. kenapa tadinya aku ga minta dibunuh aja.." Tanya Jellal.

"Udah.. jangan menyesali hal yang udah terjadi" Jawab Lady seraya memeluk Jellal.

"Iya Ma.." Balas Jellal.

Dokter tadi datang membawa suster.

"Dok.. boleh kami masuk?" Tanya Jellal yang menghampiri dokter itu.

"Kami ingin melihat Erza" Sambung Lady.

"Baiklah kalian boleh masuk tapi jangan menganggu pasien dan juga kami mau mengecek kondisinya,," Jawab dokter itu lalu membuka pintu Erza dirawat.

Lady dan Jellal pun ikut masuk.

'Tiiit,, tiit.. tiit..' suara alat pengecek detak jantung Erza terdengar.

Tubuh Erza terkulai lemas di pembaringan pasien dan wajahnya tampak pucat di balik alat pernapasannya yang berwarna hijau membuat setengah wajahnya tertutup.

Sekilas tampak senyum simpul mengambang di wajahnya yang setengah tertutup itu dalam tidur indah sementaranya.

"Erza" Say Lady.

"Harusnya pesta dansa itu ga sensei adain.." Sambungnya yang menghampiri Erza seraya menangis.

"Sudah Ma... sudah.." Jawab Jellal memeluk Lady.

"Hmm.. kami permisi dulu" Ucap dokter dan suster itu.

"Iya dok.. makasih" Balas Jellal seraya menepuk punggung Lady pelan untuk menenangkannya.

"Sama-sama" Jawab dokter itu lalu keluar diikuti suster itu.

"Kenapa nak? kenapa gara-gara ini semua Erza jadi korbannya.." Tanya Lady ke Jellal.

"Udah Ma.. udah.." Jawab Jellal mengusap punggung Lady.

Lady hanya menangis di pelukan Jellal.

Jellal hanya mampu menahan perih bahwa ia juga bersalah seraya memandang sekeliling tempat Erza dirawat, lalu ia melihat sesuatu.

"Eh.. Ma.. kacamata Erza patah jadi dua gara-gara kejadian itu" Ucap Jellal.

"Hmm.. Mama tahu.. entar Mama beliin kacamata Erza kok.. lagi pula tanpa itu.. Erza ga bisa ngelihat apa-apa" Jawab Lady lalu melepaskan pelukannya.

"Ga Ma.. ga.. ini semua gara-gara aku.. dengan begitu aku yang bertanggung jawab.. aku akan membetulkan kacamata ini,," Balas Jellal.

"Tapi.. dengan apa? Kamu bisa betulin kacamata Erza yang udah kayak gini?" Tanya Lady tak yakin.

"Aku akan bekerja part time nantinya sepulang sekolah .. apapun yang terjadi aku yang akan bertanggung jawab yang akan membelikannya tanpa uang dari Mama.. kebetulan di dekat sini ada lowongan kerja..aku akan bekerja disana.." Jawab Jellal mantap.

"Baiklah.. tapi bagaimana dengan pelajaranmu?" Tanya Lady.

"Tenang saja bu.. Erza sudah mengajarkan banyak padaku.. " Jawab Jellal lalu memandangi Erza yang tertidur sementara.

"Tenang aku pasti akan menolongmu.. pasti.." Gumamnya dalam hati.

"Baru pertama kali aku melihatnya begitu .. Erza.. kau berhasil nak.." Gumam Lady dalam hati.

"Kita jaga Erza bergantian ya Ma.. Mama malam hari.. aku sepulang sekolah.. gimana?" Tanya Jellal.

"Baiklah" Jawab Lady.

"Ok.. aku pulang dulu Ma.. besok aku bawain mama baju.. aku pulang jalan kaki aja..." Say Jellal sekalian pamit.

"Apa tak apa-apa?" Tanya Lady senada khawatir.

"Tak apa-apa Ma.. sekalian mau lamar kerja.. aku kan laki-laki.." Jawab Jellal seraya tersenyum tipis dengan masalah yang membebaninnya lalu keluar dari ruangan Erza dirawat.

Sepanjang jalan.. Jellal berjalan lesu bahkan menabrak orang-orang yang berjalan di dekatnya, ia seperti orang tanpa tujuan, ia pun melamar kerja dan langsung diterima.

Kemudian ia pun pulang dengan raut muka tanpa semangat, dirumah ia seperti orang yang kehilangan akal sehat. Terkadang mengacak rambutnya., membuang buku-bukunya lalu terbaring. Entah apa yang ada di pikirannya. Hanya satu yang ada di pikirannya "Erza sadarlah" Gumamnya.

~To be contiunued~

Bagaimana nasib Erza? Apa yang akan diperbuat Jellal? Apa Jellal akan berubah? Update chap 10, Keep waiting minna ^^9 and RnR please ^^