A VOCALOID FANFICTION
Disclaimer: Just, Vocaloid [c] YAMAHA
Cozt We Love Each Other!
[c] Rin 'aichii' Kagamine
Chapter 9— Is This Progress?
DON'T LIKE? DON'T READ!
Button back waiting for you!
.
.
NORMAL POV
Seluruh anggota VocaUta nampak berkumpul di depan apartemen mereka. Mereka terlihat menyambut kedatangan manajer yang akan memegang mereka sepenuhnya.
"Oh ya, di sini dingin. Bagaimana kalau kita masuk? Di dalam ada penghangat ruangan." ajak Luka yang memulai pembicaraan pertama dengan manajer baru itu dengan sopan.
'Tumben-tumbennya dia baik hati.' Pikir Kaito bersamaan dengan Mikuo.
"A-Arigato," ucap manajer baru itu dengan malu-malu. Dapat dilihat semburat merah di kedua pipinya, dan juga dapat dilihat kebahagiaan yang terpantri dari wajahnya. Akhirnya, semuanya memasuki apartemen demi menikmati panghangat ruangan.
.
.
"Perkenalkan, namaku Megurine Luka." Ucap Luka dengan sopannya. "Namamu siapa?" tanya Luka pada manajer di hadapannya itu.
"Err… namaku Himuro Hana (1). You can call me Hana." Jawab gadis yang diketahui bernama Hana itu. Seketika wajah beberapa anggota lainnya merona dan juga bingung.
"Hei Luka. Katanya apa? Call me itu apa?" tanya Kaito sedikit berbisik pada Luka. Luka mendengus kesal dengan urat yang mulai terlihat di keningnya.
"'Panggil aku', BaKaito!" desis Luka kesal. "Belajarlah bahasa Inggris lebih banyak! Jangan hanya ice cream!" gerutu Luka. Kaito pundung di tempat dengan nyawa yang nyaris keluar dari raganya.
"Oh ya Hana, kau bisa berbahasa Jepang?" tanya Miku semangat. Hana sedikit menunduk karena malu.
"N-No. I can't." jelas Hana. Kaito lagi-lagi memutar otak demi mentranslate ucapan Hana. Sedangkan Miku dan beberapa anggota lainnya mengangguk, mencoba memahami Hana. "A-Aku bisa mengartikannya. Hanya saja aku tidak bisa mengucapkannya dengan fasih." Lanjut Hana.
"Oh… baguslah kalau begitu. Iya 'kan?" ucap Luka sedikit melirik anggota lainnya. Yang lainnya mengangguk mengiyakannya.
"Dan Hana, kamarmu terletak di lantai dua. Tidak apa, 'kan?" ujar Meiko. Hana mengangguk. "Di samping kamarnya Luka, kok! Dan kalau kau perlu apa-apa, kau bilang saja di Luka. Di antara kami semua, hanya dialah yang paling fasih dalam berbahasa Inggris." Lanjut Meiko. Hana mendongkakkan wajah, mencoba memahaminya.
"T-Terima kasih." Ucap Hana. "Nah, sekarang, kita berdiskusi tentang schedule kalian!" seru Hana dengan mata berbinar-binar. Kaito yang sudah ngantuk setengah mati sweatdrop di tempat. Hana pun kemudian mengeluarkan beberapa kertas dari dalam kopernya.
"Maaf," Kaito mengangkat tangannya. "Tidak bisakah berdiskusinya dilakukan besok? Soalnya aku sudah mengantu—GYAAA!" Kaito meringis setelah hendak menuai protes dengan sopannya. Rupanya sebelum dia menyelesaikan protesnya, dia sudah dihadiahi lebih dulu sebuah jitakan dari Luka.
"Tidak apa Hana-chan. Silahkan." Ujar Luka diiringi senyuman manisnya. Dan Kaito terkapar di lantai dengan batu nisan yang ditancapkan oleh Teto dan juga Ted.
"Ok! Thanks, Luka-chan. Nah, kita mulai dari schedule untuk besok. Dalam data yang kuterima dari penanggung jawab kalian, kalian akan menghadiri beberapa acara besok. Tapi semuanya kubatalkan!" seru Hana dengan wajah innocent. Semuanya hanya dapat sweatdrop.
"Nani? Dibatalkan? Berarti besok jadwal kosong dong?" tebak Kaito yang sudah bangkit dari alam lain. Wajah Len dan juga Rin mulai terlihat lega. 'Berarti besok aku bisa bertemu dengan Ayah.' Pikir mereka berdua.
"Tidak. Aku mengikat beberapa perjanjian baru dengan TV swasta dan juga beberapa studio. Mereka akan meminta persetujuan dariku pukul tiga dini hari nanti." Jelas Hana. Len dan juga Rin melemas. "Oh ya, sebelumnya, ada yang keberatan?" tanya Hana. Semuanya tidak bergeming, lalu Len tiba-tiba angkat tangan. "Ya? Ada apa, -err—"
"Kagamine Len." ujar Len datar. Hana menepuk telapak tangannya.
"Ya! Ada apa, Len-kun?" tanya Hana, "Kau keberatan?" lanjut Hana. Len mengangguk.
"Bukannya aku keberatan, hanya saja besok aku punya kegiatan lain. Yah… aku sebenarnya membuat janji dengan Ayahku, jadi besok aku akan menginap selama seminggu di rumahku." jelas Len. Hana memanggut-manggut pertanda mengerti.
"Um… baiklah. Schedule –mu kucoret selama tujuh hari. Tapi kuharap kau tidak putus sambungan dengan kami selama tujuh hari itu, Len-kun. Agar kami lebih mudah menghubungimu." Ujar Hana diiringi persyaratan darinya.
"Ya, terima kasih, Hana-chan." Ucap Len dengan leganya.
"Your welcome! Apa masih ada yang memiliki kesibukan lain?" Hana menatap anggota lainnya. Semuanya menggelengkan kepalanya, kecuali Rin yang nampak berpikir keras. Lalu, Rin segera mengangkat tangannya. "Ya? Kau juga memiliki kesibukan, Rin-chan?" tanya Hana. Rin mengangguk.
"Sebenarnya aku memiliki kesibukan yang sama dengannya—" ucap Rin sedikit tidak enak. "Aku juga hendak mengunjungi Ayahku." Lanjut Rin. Hana menatap kertas di hadapannya, kemudian dia mencoret schedule untuk Rin dan juga Len di kertas itu.
"Oke, asalkan jangan putus sambungan dengan kami. Oke?" syarat Hana dengan wink-nya. Ted yang melihatnya langsung blushing.
"Terima kasih, Hanaaaa~!" seru Rin yang memeluk Hana dengan erat. Hana tertawa kecil dan membalas pelukan itu. Semuanya hanya bisa menggelengkan kepala mereka dengan perasaan lega bahwa menajer baru itu bisa beradaptasi dengan yang lainnya. Kecuali—
Mikuo. Sedaritadi, saat mendengar nama Rin dan juga Len yang diberi schedule kosong untuk beberapa hari kedepan, perasaan Mikuo mulai tidak enak. Memang, Mikuo harus memaklumi kalau mereka satu Ayah, hanya saja menebak apa yang akan mereka lakukan sudah membuat Mikuo meneguk ludahnya, saking takutnya.
"Oke, semuanya. Luka-chan bersama dia juga dia, dan dia akan menghadiri studio H." ujar Hana sembari menunjuk Luka, Kaito, Mikuo dan juga Teto. "Lalu, kalian berdua menghadiri studio N." Hana menunjuk pada Neru dan juga Akaito. "Lalu sisanya kalian memiliki schedule di TV K, kecuali Rin-chan dan juga Len-kun." terang Hana. Hana mengumpulkan kembali kertasnya, lalu memasukkannya ke dalam koper. Serempak, semuanya mengangguk memahami. "Sudah malam, lebih baik kalian semua tidur demi memantapkan stamina kalian." Saran Hana yang mulai berdiri dan menenteng kopernya. Hana, Luka dan juga Gumi mulai berlalu dari ruang tengah dan menaiki tangga.
.
.
LEN POV
Oke, harus kuakui kalau manajer baru ini begitu baik. Yeah, dengan begitu, selama beberapa hari kedepan, aku bisa bebas dari pekerjaan. Hehehe, atasan kami memang baik.
"Hoaaa~ aku ngantuk, mau tidur…" gumam Kaito-nii yang menyandarkan kepalanya pada sisi sofa. Dia nampak menggeliat pada Akaito, saudara kembarnya sendiri. Saudaranya yang memiliki IQ lebih baik ketibang BaKaito.
"Tidur saja sana!" perintah Meiko-neechan yang kembali meneguk sakenya. Ouch, hidupnya tidak pernah lepas dari yang namanya sake.
Kaito-nii pun segera menaiki tangga, menuju kamarnya. Bukan hanya Kaito-nii, Teto, Miku, Mikuo dan juga Ted mulai menaiki tangga, hendak menuju ke kamar mereka masing-masing.
Berbeda dengan mareka, kami – aku, Rin, Akaito, Neru, dan Meiko-neechan – sama sekali belum beranjak menuju kamar kami. Kalau mereka – Akaito, Neru, dan Meiko-neechan – kamar mereka memang terletak di lantai satu, jadi mereka masih memilih untuk duduk saja.
"Aku juga ingin tidur. Oyasumi." Setelah belasan menit tenggelam dalam diam, Rin beranjak meninggalkan ruang tengah. Oh baik, setelah Rin pergi mereka malah memicingkan mata padaku. Haha, terpaksa aku berpura-pura saja untuk mengikuti Rin.
"Aku juga ingin tidur." Ucapku yang juga meninggalkan ruang tengah. Dengan langkah cepat, aku menyusul Rin. Ada yang sekalian ingin kuucapkan padanya.
NORMAL POV
Drap! Drap! Drap! Len menaiki anak tangga dengan setengah berlari. Dia hendak menyusul Rin yang sudah setengah jalan mendahului Len.
"R-Rin!" Len memendekkan jarak dengan cara meraih tangan Rin. Sontak Rin berhenti dan menoleh padanya. Terlihat wajah Rin yang sedikit kaget dan juga panik.
RIN POV
"R-Rin!" langkahku terhenti begitu Len memotong jarak di antara kami dengan cara meraih tanganku. Aku menoleh, dan memicingkan mata padanya.
"A-Ada apa, Len?" tanyaku dengan pandangan yang kusapukan pada penjuru apartemen. Aku tidak mau menatap bocah pisang itu. Karena pasti, pertahananku akan hancur. Dan kebohonganku pun akan terbongkar dengan mudahnya.
"Ayah mengajakmu ke rumah, bukan?" tanya Len dengan nafas yang tidak seirama. Aku mengangguk pelan, namun dengan pandangan yang masih menyisir ke sembarang arah. "Kalau begitu, kuharap kita akan pergi sama-sama. Supaya Ayah tidak curiga." Tutur Len. Aku menelan ludah.
Wajahku mulai memanas. Dapat kurasakan bibirku yang bergetar. Oh Tuhan, apa yang dikatakan oleh Luka-nee itu benar? Apa aku menyukainya?
"Terserah kau." Ucapku. Mataku mulai menatap pergelangan tanganku yang terikat oleh tangan Adikku itu. "Maaf Len, bisa kau lepaskan tanganmu?" tanyaku. Len tersentak.
"M-Maaf," dengan cepat Len melepas tangannya. Satu kehangatan mulai lepas dariku. Yah, aku mengakuinya. "Kalau begitu kita pergi jam delapan besok." Ujar Len. Aku mengangguk saja. Lalu, Len pun pergi dan memasuki kamarnya.
"Kh…" saat Len pergi, aku mulai memasrahkan air mata ini untuk keluar dari pelupuk mataku. Ayolah Tuhan… kenapa aku harus menangis? Apa aku harus meralat perasaan ini di hadapannya?
UNKNOWN POV
Aku menatap punggung Rin dari kejauhan. Gelas yang kugenggam entah kenapa terasa mengiris telapak tanganku. Jangan bilang kalau Rin memang menyukai Len. Kalau mereka bersatu, lalu bagaimana denganku? Aku tahu aku egois karena memiliki perasaan ini, tapi— aku menyukainya, dan aku—ingin memilikinya, seutuhnya.
PRAK! Kurasakan gelas yang kugenggam pecah. Suaranya tidak ribut, dan Rin yang sedaritadi menangis tidak menyadari suara itu. Syukurlah kalau begitu.
"Darah…" gumamku sembari menatap nanar telapak tanganku yang berbalut cairan kental berwarna merah. "Tapi kenapa tidak sakit…? Dan kenapa dadaku yang sakit? Bukan tangan ini..?" lanjutku. Rasa sakit yang seharusnya menjalar di tanganku tidak terasa sama sekali. Malahan, dadaku yang sakit, sangat sakit. Sulit dituliskan dengan kata-kata rasa sakit itu.
Aku mengacuhkan tanganku yang terus-terusan saja mengeluarkan darah. Kini, aku kembali menatap punggung Rin dengan mata yang kusipitkan. Dapat kulihat Rin yang segera memasuki kamarnya.
"Rasa sakit ini… kenapa harus muncul segala?"
.
.
NORMAL POV
Len berdiri di dekat ruang makan setelah menikmati sarapan pagi buatan Luka. Len menunggu Rin yang masih menikmati sarapannya. Sesekali Len melirik jam tangannya yang terpasang di pergelangan tangannya demi melihat waktu yang terus saja berjalan.
"Luka-nee, aku pergi ya!" seru Rin yang berjalan meninggalkan ruang makan. Ruang makan memang masih sepi, sebab yang lainnya masih sibuk bergeliat di tempat tidur mereka masing-masing, termasuk Hana sendiri. "O ya, Hana-chan belum bangun oneechan?" tanya Rin yang masih sempat-sempatnya menunda waktu. Luka yang tengah disibukkan dengan beberapa perabotan dapur berbalik pada Rin.
"Bagitulah. Nampaknya dia kelelahan." Jawab Luka dengan senyuman tipis.
"Bagitu ya. Kalau begitu aku pergi duluan. Maaf aku tidak bisa pamit pada yang lainnya…" tutur Rin merasa bersalah.
"Tidak apa. Bukannya tadi malam kau memang bilang akan pergi 'kan? Mereka akan mengerti, kok." Ucap Luka. Wajah Rin menjadi cerah seketika. Dengan sangat semangat Rin menenteng kopernya yang berukuran sedang dan hilang di pandangan Luka.
"Huft… semoga saja semuanya lancar." Gumam Luka yang kembali berkutat pada berbagai macam bahan makanan di hadapannya. "Ya, Kagamine Ren…"
.
.
RIN POV
Aku dan juga Len segera memasuki taksi yang kebetulan lewat di depan apartemen. Disepanjang perjalanan, keheningan melanda kami. Harus kuakui, aku tidak suka dengan keadaan seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak bisa mencairkannya.
Perjalanan dari apartemen menuju rumah kami memakan waktu sekitar satu setengah jam. Itu semua disebabkan oleh jalanan yang macet. Kalau seandainya tidak macet, mungkin perjalanan yang kami lewati hanya berkisar satu jam kurang.
CKIIT! Mobil berhenti di depan rumah yang bergaya ala eropa di sebuah perumahan elit. Yeah, rumah siapa lagi kalau bukan rumahnya Len. Aku 'kan hanya numpang selama ini.
"Aku saja yang bayar," tutur Len saat aku hampir saja membayar taksi dengan uangku sendiri. Mau tidak mau aku menurutinya saja. Dan mungkin aku sebaiknya mempersiapkan diri untuk terlihat akrab dengan Len di depan Ayah.
Aku dan juga Len segera keluar dari taksi. Beberapa pelayan yang berada di halaman saat itu segera membukakan pintu untuk kami.
"Len-sama, Rin-sama, selamat datang." Ucap mereka. Aku dan juga Len tersenyum menanggapinya.
"Tuan Ren telah menunggu kalian di ruang tengah." Ujar salah seorang pelayan. Aku dan Len langsung melesatkan langkah kaki kami menuju ruang tengah.
LEN POV
"Tuan Ren telah menunggu kalian di ruang tengah." Ujar salah seorang pelayan padaku kami – aku dan Rin –. Kami pun segera menuju pintu ruang tamu yang memang menyambungkan pada ruang tengah. Sebelumnya, aku sempat berbisik pada Rin;
"Rin, kau tahu 'kan?" bisikku. Rin memicingkan matanya.
"Aku tahu." Balas Rin dengan tatapan lurus. Kami masih diselingi kediaman hingga kami telah sampai di ruang tengah dan melihat sosok Ayah.
"Ayah!" seruku. Aku berlari mendahului Rin karena begitu senang melihat Ayah. Sudah berapa tahun aku tidak bertemu dengan Ayah. Ayah terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan aku terlalu sibuk dengan jadwal show-ku di beberapa tempat.
"Len! Rin! Kupikir kalian tidak akan datang!" seru Ayah dengan wajah yang terbilang senang.
"Tidak akan Ayah. Bagaimana pun Ayahlah yang utama bagi kami." Tutur Rin diiringi senyuman. Senyuman itu— terkesan hangat ketibang senyuman Rin beberapa hari terakhir ini.
"Terima kasih." Ucap Ayah. Oh ya, ketahuilah. Ayahku inilah yang memungut Rin untuk menjadi Kakakku. Aku tidak tahu alasan pastinya. Yang jelas, dia membawakan Rin ke hadapanku saat aku masih berumur lima tahun.
"Oh ya Ayah, bagaimana keadaan Ayah di Amerika? Ayah baik-baik saja?" tanyaku khawatir. Aku memandang Ayah dari atas ke bawah demi melihat keadaan fisik Ayahku secara langsung.
"Tentu Len! Ayah masih sehat! Kau tidak lihat kalau Ayahmu ini seperti pemuda berumur 15 tahun?" canda Ayah. Rin tertawa kecil mendengarnya. "Lalu, bagaimana dengan kalian? Ayah yakin kalau kalian semakin terlihat seperti lem, bukan? Seperti dulu. Hahaha." Ayah tertawa dengan polosnya di hadapan kebohongan dari kami berdua. Aku merasa sedikit bersalah.
"Tentu Ayah. Aku dan Rin masih seperti yang dulu." Ujarku meyakinkan Ayah. Dengan polosnya Ayah tersenyum menanggapinya.
"Ya, Ayah percaya pada kalian."
NORMAL POV
"Ya, Ayah percaya pada kalian."
DEG! Rin tersentak mendengar penyataan dari sosok Kagamine Ren itu. Rin hanya bisa memegang dadanya, merasakan perasaan sakit apabila membohongi orang yang selalu mempercayainya. Rin memang tidak pandai berbohong selain berbohong di atas panggung dengan nyanyiannya.
"K-Kalau begitu a-aku ke kamar dulu, Ayah. Aku lelah." Tutur Rin sedikit gelagapan. Kagamine Ren, Ayah dari mereka berdua mengangguk dengan Len yang duduk manis di sampingnya.
"Ya, kau pasti lelah Rin. Dan kopermu simpan saja di sini. Nanti kusuruh pelayan yang membawakannya ke kemarmu." Ujar Ren. Rin mengangguk dan segera berlalu dari ruang tengah.
"Ayah…" gumam Len risih, "Aku juga cukup lelah. –err aku juga ingin tidur sebentar. Boleh 'kan?" tanya Len. Ren menaikkan sebelah alisnya, lalu dia hanya mengangguk. "Terima kasih Ayah." Ucap Len dan menenteng kopernya sendiri. Ren hanya diam, menatap punggung anaknya itu dengan tatapan heran dan juga curiga.
"Ada apa dengan mereka?" gumam Ren.
.
.
RIN POV
Langkah kakiku kubuat tenang dan juga pelan. Aku terus berjalan dengan tatapan lurus ke depan. Hingga aku berhenti di depan sebuah kamar. Di depan pintu kamar itu tertera nama 'Len's Room' dengan berbagai motif buah pisang yang menghiasinya.
"Huh," kulanjutkan kembali langkahku yang sempat berhenti tadi. Aku menghampiri kamar yang terletak di samping kamar Len, yaitu kamarku sendiri. Tanpa perlu basa basi, aku mengeluarkan kunci kamarku dan memasukkannya ke lubang kunci.
KRIEET. Pintu terbuka. Pandanganku kusapukan pada setiap sudut kamarku yang sedikit berdebu karena tidak pernah terpakai. Lumayan kotor juga. Aku sebenarnya ingin membersihkannya, tapi aku terlalu lelah untuk itu. Mending tidur dan menikmati setiap interior yang selama ini kurindukan.
"Hahaha, sudah berapa tahun aku tidak menyentuh tempat tidurku sendiri!" seruku sembari menepuk-nepuk permukaan kasurku dengan senang. Aku merindukannya. Ya, setiap detail dari kamar ini kurindukan sejak lama.
Aku mengangkat tubuhku, kembali mengamati seluruh kamarku dengan perasaan rindu. Tidak ada yang berubah. TV terletak pada tempatnya, buku-buku yang tertata di dalam rak, dan juga beberapa interior lainnya yang masih tetap pada tempatnya.
"Huh, mungkin sebaiknya kubersihkan sedikit ya?" gumamku. Mumpung aku ini orang yang cukup rajin, jadi kuputuskan untuk membersihkan beberapa buku yang mungkin berdebu dan juga beberapa benda lainnya.
Aku sedikit berjinjit pada saat membuka lemariku bagian atas. Aku sudah lupa benda apa yang kutaruh di bagian atas sana. Tapi, pada saat aku membuka lemari itu, aku tersentak.
"KYAAAA!" beberapa benda terjatuh dari atas lemari dan langsung saja menimpa tubuhku. Aku meringis kecil. Aku mulai kaget saat melihat beberapa kaset dan juga buku yang berserakan di lantai. "Lho ini—"
Aku termangu menatap beberapa kaset dan juga buku cerita bergambar yang terletak di lantai. Kuamati satu persatu benda itu, dan—
"Ah, ini—" aku tersenyum tipis saat membuka buku bergambar dengan cerita 'Cinderella' yang memang populer di kalangan anak-anak. Bukan hanya itu, masih banyak cerita lainnya. Entah kenapa, mataku mulai memanas melihatnya. "—ini barang-barang yang dulu sering kugunakan sama Len, ya?" gumamku tersenyum kecut.
Aku mendecak lidah, berusaha menutupi hatiku yang terus-terusan saja meminta ingin diputarkan kembali memori kecil dan juga tua itu – saat aku dan Len masih kecil –.
Karena merasa kesal, aku mengumpulkan berbagai buku bergambar itu dan juga kaset-kaset yang terdiri dari film 'Dora The Explorer, Spongebob Squarepants, Chalk Zone dan juga beberapa cerita Pokemon yang sangat disukai Len'. (Len+Rin: Apa-apaan itu? ==")
"Yah, dengan begitu lebih baik!" tuturku dengan semangat begitu kenangan kecil itu kusembunyikan di bawah tempat tidur. Aku tidak peduli dengan hati kecilku yang menolak untuk menyembunyikan benda-benda itu, tapi bagaimana pun, ini adalah cara terbaik untuk—
KRIEET,
—melupakannya.
"Rin?"
Aku yang tadinya bersandar-sandar pada tempat tidurku langsung terlonjak begitu pintu kamarku terbuka. Bukan hanya itu, yang membuatku begitu kaget adalah sosok Len yang berdiri di ambang pintu dengan wajah heran.
NORMAL POV
"Rin?" Len terlihat keheranan dengan Rin yang sepertinya menyembunyikan sesuatu di bawah tempat tidurnya itu. Sedangkan Rin, ia hanya membulatkan matanya dengan perasaan yang mulai menjadi canggung.
"Apa yang kau lakukan? Tidak sopan memasuki kamar orang tanpa permisi." Rin membuang muka. Ia nampaknya berusaha untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Memangnya kenapa? Bukannya itu yang sering kulakukan dulu?" ujar Len. Rin langsung terdiam di tempat.
"T-Tapi itu namanya tidak sopan!" bentak Rin. Len berjalan dengan langkah tenang menuju tempat tidur. Len sama sekali tidak mempedulikan Rin yang terus-terusan saja mengatainya dengan sebutan 'tidak sopan'.
"Lalu? Bukannya kau juga senang kalau aku datang ke kamarmu?" Len membalas dengan pertanyaan. Rin tercekang saat mendengarkan pertanyaan itu. "Ini—" mata sapphire Len membulat saat tangannya menyusuri bawah tempat tidur Rin yang terlihat gelap. "Ini— kau menyembunyikannya?" tanya Len dengan suara yang terdengar tenang.
"Eh? M-Memangnya kenapa? Apa urusanmu?" Rin mulai risih. Dia merasa benar-benar 'ganjil' saat melihat ekspresi yang dituturkan oleh adiknya itu. Memang, Len kadang mengeluarkan ekspresi seperti itu – tenang dan juga dingin – namun entah kenapa Rin malah merasa takut.
"Bukan apa-apa. Tapi bukannya lebih baik kalau kau membuangnya?" ujar Len. Rin menunduk.
"Ah, itu—" Rin menenggelamkan wajahnya. Matanya terlihat berkaca-kaca saat ini.
Len menoleh sebentar dan mendapati Rin yang nampak menekuk lututnya dengan wajah yang ditenggelamkannya di antara lutut. Lalu, Len kembali menatap lurus dengan ekspresi yang terbilang tenang.
"Kau pernah bilang, kalau kau ingkar, aku boleh membencimu." tutur Len tiba-tiba. Rin memasang mimik penuh keheranan. Sepertinya dia memang lupa tutur katanya beberapa tahun yang lalu.
"A-Apa? B-Benci?" Rin mendongkakkan wajahnya, sedangkan Len hanya diam dan duduk di sampingnya dengan tubuh menghadap ke tempat tidur.
.
DEG! Setelah memutar memorinya dengan keras, Rin mulai mengingatnya. Ucapannya yang mengatakan bahwa Len dapat membencinya jikalau Rin ingkar. Satu hal yang membuat Rin terpukau saat ini, yaitu dia telah mengingkarnya. Semua tutur katanya dia lupakan. 'Berarti Len—'
"M-Maaf…" Rin menekuk kedua lututnya. Wajahnya dia tenggelamkan di antara kedua lututnya. "Maaf, Len…" ucap Rin dengan air mata yang mulai menuruni kedua pipinya. Len hanya acuh tak acuh. "Aku— mengingkarinya…" lanjut Rin. Len tidak menggubris sama sekali, malahan tatapannya tetap lurus ke depan.
"Lalu?" tanya Len.
"Maaf. Karenanya, bencilah aku…" tutur Rin. Len menghela nafas.
"Itu— tidak akan pernah."
"Eh?"
"Aku— tidak akan pernah bisa membenci Rin."
.
.
Anggota VocaUta kini berkumpul di ruang makan – minus Len dan Rin – mereka nampak menikmati sarapan pagi mereka yang dibuatkan oleh Luka.
"Luka-chan, masakanmu enak sekali!" seru Hana takjub. Luka tersipu malu mendengarnya, sedangkan Kaito dan juga Mikuo berpikir dengan kompak, 'Tumben-tumbennya tersipu? Biasanya malah menyeringai dengan tutur ejekan.'
"Yah, bagaimana pun di antara kami Luka-neechan-lah yang paling pandai dalam hal memasak!" balas Teto dengan jempol yang dinaikkannya dan mata yang dikedipkan sebelah.
"Oh ya Teto-chan, kau bersama Luka-chan, Kaito-kun dan juga Mikuo-kun akan menghadiri acara di studio H, 'kan?" Hana menghentikan sarapannya sejenak dan mengingatkan pada Teto, Luka, Kaito dan juga Mikuo pekerjaan mereka. "Kalian sebaiknya pergi cepat, karena acaranya akan dimulai dari pukul 01.00 PM sampai 08.00 PM." Ujar Hana. Teto dan beberapa nama yang disebutkan hanya mengangguk paham, dan serempak mereka menuju ke kamar mereka masing-masing demi mengganti pakaian mereka.
Tidak lama, Luka, Kaito, Teto dan juga Mikuo mulai muncul satu-persatu dari kamar mereka masing-masing. Mereka segera berpamitan pada yang lainnya dan menuju mobil mereka.
.
.
12.05 PM
"Hm... hm…" Teto menikmati music player yang dia dengarkan melalui headphone-nya. Teto dan juga yang lainnya telah selesai dalam riasan mereka, tinggal menunggu acaranya berlangsung saja.
Teto dapat dikatakan kurang kerjaan saat ini. Sesekali Teto melirik Luka yang tengah mengajari Kaito bahasa Inggris, dan kadang-kadang Teto tertawa kecil saat melihat Luka yang kesal dan menarik syal Kaito hingga dia tercekik dan meronta-ronta.
Teto kembali menikmati music player-nya. Namun dia berhenti menikmati lagu yang terlantun dengan indahnya begitu melihat Mikuo yang terlihat risih sendiri. Sepertinya Mikuo tidak memiliki kesibukan tersendiri, sama dengan Teto.
Sedikit takut, Teto menuju pada Mikuo yang tengah duduk di tangga. Teto dengan agresifnya mengambil tempat di samping Mikuo.
"Mikuo-kun?" Teto memainkan telapak tangannya di hadapan wajah Mikuo yang terlihat melamun. "K-Kau tidak apa-apa?" tanya Teto. Mikuo masih tenggelam di dalam lamunannya. "Mikuo-kun?" sekali lagi, Teto memainkan telapak tangannya di depan wajah Mikuo.
"Akh, ma-maaf, Teto-san!" seru Mikuo yang terlepas dari lamunannya. Teto hanya cengo.
"Jangan panggil Teto-san, Teto saja. Oh ya, kau melamunkan apa?" tanya Teto keheranan. 'Pasti Rin.' Lanjut Teto dalam hati. Teto hanya dapat menggembungkan kedua pipinya dengan perasaan kecewa.
"Bukan apa-apa, kok!" elak Mikuo terlihat canggung. Kalau dipikir-pikir, ini adalah pertama kalinya Mikuo berkomunikasi dengan Teto secara empat mata. Biasanya, kalau dia berkomunikasi dengan Teto, pasti ada Ted mau pun Rin yang mendampinginya. Patas saja dia terlihat canggung.
Teto hanya ber'oh'ria saja. Lalu, keheningan pun terjadi, hingga— "AAAAAKH!" teriak Teto tiba-tiba. Reflek Mikuo tersentak.
"A-Apa!" tanya Mikuo dengan panik. Teto menunjuk-nunjuk telapak tangan Mikuo yang dibalut perban dengan penuh tanda tanya. "Oh… maksudmu ini?" tebak Mikuo. Teto mengangguk pelan. "Ini hanya luka biasa." Ujar Mikuo, "Ditutupi dengan sarung tangan juga tidak akan menonjol." Lanjut Mikuo.
"T-Tapi—ITU TIDAK BISA!" Teto mengangkat tubuhnya. Langsung saja Teto berlari meninggalkan Mikuo dan kembali dengan kotak P3K di tangannya. "Kalau hanya membalutnya dengan perban saja, itu tidak baik!" gerutu Teto sambil membongkar kotak P3K itu.
"Ha? Tidak sakit, kok!" elak Mikuo merasa tidak enak. Teto dengan keras kepalanya membuka perban itu.
"Memang tidak akan sakit. Tapi kalau dibiarkan tanpa obat merah, pasti akan infeksi." Jelas Teto yang dengan jelinya mengamati luka di telapak tangan Mikuo itu. Teto sedikit heran saat melihat bekas luka yang seperti— terkena serpihan kaca itu. "Seperti goresan kaca. Kau habis apa?" tanya Teto.
"Bukan apa-apa. Hanya terkena saat aku menjatuhkan gelas kemarin." Tutur Mikuo. Teto mengangguk dan segera memberikannya obat merah, lalu setelah itu dia kembali membalutnya dengan perban.
"Nah, selesai!" seru Teto semangat begitu telapak tangan Mikuo kini berbalut oleh perban secara sempurna.
"Ah, terima kasih Teto." Balas Mikuo dengan beberapa garis merah muda yang terlihat di kedua pipinya.
"Sama-sama!" kembali lagi Teto menyunggingkan senyuman khasnya. Setelah itu mereka kembali bercengkrama layaknya seorang 'sahabat', tidak lebih dari kata itu. Yah, setidaknya Teto sudah merasa senang bisa bercengkrama dengan Mikuo.
Mereka berdua – Teto dan Mikuo – tidak sadar kalau sepasang mata memperhatikan mereka berdua dari kejauhan…
"Khukhukhu," Luka memijit-mijit dagunya diiring dengan tawa kecil yang terlihat darinya. "Benar-benar sebuah kemajuan yang pesat." tutur Luka.
"Kemajuan apa? Cepat ajari aku bahasa super membingungkan ini!" pinta Kaito dengan beberapa kamus bahasa Inggris yang berserakan di hadapannya.
"Coba lihat di sana, BaKaito!" Luka mengarahkan jari telunjuknya pada Teto dan juga Mikuo. Kaito yang melihatnya langsung cengo di tempat.
"Woah… sejak kapan hal seperti ini—" Kaito yang hendak berseru hanya dapat mengerjapkan kedua matanya begitu Luka menutup mulutnya dengan jari telunjuknya.
"Ssst, biarkan mereka berkembang Kaito. Oke?" satu wink dari Luka sukses membuat pemuda es krim itu termangu di tempat. Kaito hanya dapat mengangguk layaknya manusia yang dihipnotis saja.
.
.
"Aku—tidak akan pernah bisa membenci Rin."
Rin terkesiap saat mendengarkan ucapan dari Len. Rasa senang dan juga rasa bersalah mulai bersemayam di hatinya. Rin sangat senang mendengarkan ucapan dari Len, namun di sisi lain, Rin merasa bersalah pada Ayah Len yang mempercayakannya untuk menjadi seorang 'Kakak' bagi Len. Tidak lupa juga dengan rasa bersalah pada Miku yang juga menyukai Len.
Ya, Rin sudah tahu kalau Miku juga menyukai Len—
"L-Len…?" Rin merasakan kalau dadanya sesak begitu menyebutkan nama adiknya yang satu ini. Sedangkan Len, ia hanya tenggelam dalam kediaman. "A-Apa maksudmu…?" tanya Rin. Memastikan ucapan Len itu bukanlah sebuah ambigu.
"Aku… tidak bisa membenci Rin. Rin selalu dekat denganku, dari dulu." Jelas Len. Rin meneguk ludah. Rin berusaha untuk berasio dengan ucapan Len saat ini.
"L-Len?"
"Aku tahu kalau aku adalah lelaki pengecut yang tidak mampu membuktikan ucapanku, dan aku juga bukanlah lelaki yang atensi pada orang lain." gumam Len, "Tapi aku—tidak bisa membenci Rin. Bukannya kau adalah 'Kakakku'?"
"L-Le—" manik indah milik Rin membulat disaat pemuda blond di sampingnya itu begitu agresif memasukkannya ke dalam pelukannya sendiri. Rin tersentak, ingin memberontak. Namun Len lebih afektif padanya.
"Aku merasa 'ganjil' begitu Rin acuh padaku, karena itu— mari kita kembalikan hubungan kita," bisik Len pada cuping telinga Rin. Rin yang menyerap ucapan itu hanya mampu melelehkan air matanya saja, ia hanya bisa gigit jari degan perasaan afeksi yang tidak pernah dia sangka akan dia tujukan pada adiknya itu.
"M-Maaf Len…" Rin terisak. Air mata menuruni kedua pipinya dan memberikan jejak-jejak kehangatan pada pipinya tersebut. "Maaf karena bersikap dingin selama ini…" isak Rin yang kali ini terlihat seperti seorang adik, sedangkan Len? Dia malah yang terlihat seperti seorang kakak kali ini.
"Ya, aku juga minta maaf kalau ada salah." seru Len dengan suara yang direndahkannya.
"Ng," respon Rin singkat. Mereka berdua masih terhanyut dalam kehangatan masing-masing. Dan, tanpa mereka berdua sadari, sepasang mata sapphire memperhatikan mereka berdua.
"Apa yang 'dia' katakan memang benar…?"
.
.
To Be Continued
(1) Himuro Hana/Hana Himuro: OC buatan Author. Seorang gadis dengan umur 16 tahun dan memiliki rambut brunette. Memiliki iris dengan warna ruby dan senang dengan yang namanya 'cemilan'. Sangat suka makan– ngemil, dan merupakan workaholic. Gadis brunette yang berhasil lulus dengan nilai terbaik di tingkat SMP Inggris. Berhenti melanjutkan SMAnya dan lebih memilih untuk berbaur dengan dunia entertainment sebagai seorang manajer. Yang khas dari Hana adalah bando merah marun miliknya yang tidak pernah sedikit pun lepas dari ubun-ubunnya, sepertinya itu adalah pemberian seseorang yang cukup penting untuknya. Sangat suka dengan warna merah dan juga violet. Item: Berkas-berkas manajer (?)
A/N: Yeeeey! Fic ini sudah hampir jamuran di laptop XDD Buatnya tanggal 15 dipublishnya baru sekarang =="
Aduh… merasa bersalah, nih :/
Maaf … ._.
Kalau updatenya kelamaan ya? :D Gomen, nee~ chapter ini cukup banyak kan untuk membayar dosa aichii? =3
Ok, untuk terakhir, aichii minta masukaaaaaaan! Karena sepertinya fic ini belum sempurna :/
Reviews?
Rin 'aichii' Kagamine
