Chapter Sebelumnya...
Di saat bersamaan, Zeref, Lucy dan Wendy datang, namun melalui pintu yang berbeda. Mereka mengambil tempat duduk di samping keluarga masing-masing.
"Konbanwa."
Semua orang di meja besar itu menoleh bersamaan. Natsu, Lucy, Zeref dan Wendy membulatkan kedua mata mereka.
"Lucy?"
"Zeref?"
"Natsu?"
'Onii-chan?'
Pada malam ini mereka dipertemukan di satu tempat yang sama.
Melihat manik mata yang sama
Dan suara yang sama
Kali ini, apakah yang akan Tuhan lakukan pada mereka?
Natsu membeku di tempatnya berdiri usai membungkukkan badan hormat kepada para bangsawan di depannya. Hening merayapi, keringat dingin pun meluncur dari pelipis Natsu karena telah menjadi objek perhatian tamu istimewa ini.
Maniknya dapat menangkap dua laki-laki paru baya, satu berambut pirang kecokelatan dan satu berambut hitam legam. Juga ada wanita berambut panjang warna biru tua. Dan lagi yang membuatnya tambah gelisah adalah tiga orang yang sangat di kenalnya juga ada di sana.
Gadis blonde bermanik cokelat madu, laki-laki berambut kelam serta gadis sekolah menengah pertama yang berambut biru tua sebahu.
Jika memungkinkan, ia ingin segera lenyap dari dunia ini sekarang juga! Daripada larut dalam pandangan manik masing-masing orang itu.
Berapa menit hening melingkupi, Grandine berdeham cukup kuat. Hasilnya ia dapat merenggut suasana hening barusan.
"Ekhem! Anak muda, kaukah yang membuat kue cokelat blackberry ini?"
Ada sedikit kegelisahan bergejolak dalam hati Natsu, ketika wanita itu bicara padanya.
"I-iya, benar. Apakah Anda yang memanggil saya kesini, nyonya?"
"Ya, aku yang memanggilmu. Bisa ikut aku sebentar?"
Grandine berdiri dari duduknya, mengajak Natsu keluar restoran sebentar.
Natsu sendiri mengikuti sosoknya yang berjalan anggun tersebut.
Mereka berhenti sedikit jauh dari pintu restoran. Keduanya berdiri berhadapan.
"Bakatmu bagus sekali, nak. Kau sangat pandai memasak, dilihat dari penampilanmu apa kau siswa menengah atas?
"Ya. Saya siswa menengah atas, nyonya."
Grandine menyipitkan mata, tampak memperhatikan lekat manik lavender milik pemuda bersurai dua warna.
Tanpa diduga Grandine mundur berapa langkah ke belakang. Ia mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya, membuat isyarat angka dua.
"Apa kau tahu, ini angka berapa?" Grandine bertanya dalam jarak sepuluh meter di depan Natsu.
Sedikit membingungkan tentang apa yang dilakukan wanita ini, Natsu menjawab seadanya.
"Dua."
Apa yang di jawab Natsu benar. Kemudian ia mundur kembali, kini jarak mereka terpaut dua kali lipat.
Grandine mengangkat tiga jari tangannya. "Kalau sekarang, angka berapa?"
Natsu memicingkan kedua matanya. Bayangan antara jari-jemari tersebut tampak berputar dan tidak mau diam.
Sial! Kacamatanya rusak karena Zeref disekolah siang tadi.
"E-engg, li-lima. E-empat, mungkin?" Natsu menjawab ragu-ragu.
"Salah, jawabannya tiga." Grandine berjalan mendekat.
"Sudah kuduga ada masalah dalam penglihatanmu."
"B-bagaimana nyonya tahu?"
Sudah lama sekali Natsu tak berbincang dengannya sampai membuatnya lupa profesi seorang ibu di depannya ini.
"Karena aku seorang dokter."
"O-oh, begitu."
Natsu sedikit heran.
Apa penyamarannya begitu sempurna sehingga wanita di depannya ini tidak menyadari identitasnya? Ataukah ia sudah dilupakan dan sekarang hanyalah sebuah memori berdebu? Bibir Natsu sedikit berkedut karena hipotesisnya sendiri.
"Matamu minus, kenapa kau tidak memakai kacamatamu?"
"Sudah rusak."
"Kenapa bisa-"
"-Maaf menyela nyonya, tolong katakan apa tujuan Anda membawa saya kesini, karena sebentar lagi saya akan lanjut bekerja."
Grandine terdiam, sejujurnya ia ingin bicara lebih banyak lagi melihat kemiripan anak ini dengan anaknya yang menghilang dulu.
"Ma-maaf bila saya menyinggung Anda, nyonya." Natsu membungkuk minta maaf, bisa-bisa ia akan di pecat oleh Kakek Yajima karena tidak sopan pada seorang istri pemilik perusahaan terkenal.
"Tidak-tidak tenang saja. Sebenarnya aku sangat kagum denganmu, kau tahu? Kue buatanmu itu mengingatkanku pada kue buatan anakku dulu."
"Namanya Zeref, anak laki-kali berambut hitam bersamaku tadi. Kau melihatnya kan? Entah kenapa dia tidak bisa membuatnya lagi sekarang."
JDEAAAR!!!!
Sambaran petir telak mengenai Natsu, hatinya seperti dicubit secara tak kasat mata.
Zeref, katanya?
Dulu, sepenuh hati ia membuat kue-kue tersebut agar Grandine senang dan berharap menemukan sedikit celah untuk meminta maaf atas kejadian itu sampai-sampai Natsu yang saat itu menjadi korban, mendapat status tersangka di mata Grandine.
Tapi, kenapa malah Zeref?
Di saat ia tengah larut dalam pikirannya, Grandine menarik tangan kanan Natsu dan menaruh sesuatu di sana.
"Terima kasih sudah membuatku bernostalgia tentang anakku dulu, jujur saja aku rindu dengan anakku satu itu, terimalah ini. Anggap saja hadiah dariku."
"Jagalah kesehatan matamu!"
Sosok Grandine berlari kecil masuk ke dalam restoran setelah menyelipkan lembaran uang yen jumlah tinggi di tangan Natsu dan melambai singkat.
Senyum hangat itu, ucapan terima kasihnya, sentuhan tangannya, membuat Natsu bertambah rindu.
Natsu tak marah dengan mereka yang mungkin melupakannya ataupun mungkin dendam padanya. Karena ia selalu berpikir positif, berulang-ulang. Tidak pernah berprasangka buruk terhadap wanita yang sudah membuatnya ada di dunia ini.
Tapi kenapa, Zeref yang selalu disebut? Bukan dirinya?
"Kenapa selalu Zeref? Apa kau benar-benar rindu padaku..."
Setitik cairan bening mengalir di permukaan kedua pipinya, lalu jatuh pada tempatnya berpijak.
Tes..
"... ibu..?"
A Fanfiction Fairy Tail
Fairy Tail Hiro Mashima-sensei
Nanairo Sakura C. Koyuki
Terima kasih pada Tuhan Yang Maha Esa, karena Dia-lah, Koyuki bisa buat fanfic
And
Thanks to Kikoy-senpai (Kikoylogia) because already make an account for me
Riuh rendah bisikan perbisikan memenuhi setiap pelosok di Magnolia High School mulai dari lapangan sampai di tiap koridor. Padahal masih sangat pagi, tapi kenapa sudah seramai ini? Dan lagi ada apa dengan murid-murid bergosip sambil mendelik tajam ke arahnya?
Begitulah yang ada di kepala Lucy sekarang. Tatapan demi tatapan semakin membuat bulu kuduknya meremang.
Tak mau mendapat yang lebih buruk dari sekedar tatapan, Lucy mempercepat langkahnya menuju kelas dan ingin segera duduk tenang sambil membaca buku-buku panduan yang sangkut-menyangkut tentang penggunaan senjata api atau SenPi. Karena itulah materi yang akan dibahas pada pelajaran militer beberapa hari ke depan.
-Tapi tak akan bisa terjadi, khususnya saat ini. Saat di mana segerombolan siswi-siswi yang tidak di kenal mengerumuninya dengan teriakan-teriakan heboh.
"Kyaaa Lucy, bagaimana kau bisa dekat dengan senpai si pangeran sekolah itu??!!!"
"Iya, iya bagaimana Lucyyyy???!!"
"Ceritakan pada kami bagaimana cara menarik perhatiannya!!!"
"Atau beritahu kami hal apa saja yang sukainya!!"
Lucy kebingungan. Selain karena teriakan dan pertanyaan mereka, satu hal lagi yang tidak dimengertinya adalah... senpai?
Seingatnya ia belum pernah dekat dengan kakak kelas mana pun!
"T-tunggu dulu! Aku tidak mengerti, apa yang kalian bicarakan. Senpai? Senpai yang mana??"
Di saat siswi yang lain masih menunggu jawaban tentang pertanyaan mereka, salah satu siswi merespon Lucy dengan sedikit ketus.
"Kau itu bodoh atau apa sih, senpai yang kami maksud itu Zeref. Zeref Dragneel, pangeran sekolah dari kelas Fairy Tail-2(C) ituuu, yang kemarin makan bersama dengan kau di kantin!"
Dengan wajah innocentnya Lucy mengangguk. "Oooh, Zeref."
Tanpa melihat betapa datarnya tatapan para siswi yang mengerumuninya sekarang.
"E-eh? Zeref? ZEREF DRAGNEEEELL????"
Teriak Lucy menggema, sampai menimbulkan sedikit getaran pada jendela-jendela kaca.
Jadi Zeref adalah kakak kelasnya? Ya ampun! Di mana sopan santunnya sebagai adik kelas karena bisa-bisanya memanggil seorang kakak kelas dengan nama depan tanpa imbuhan 'senpai'?
"Ada apa mencariku, Lucy?"
Entah datang dari mana, dan entah bagaimana ia menerobos kerumunan gadis, tahu-tahu Zeref sudah ada di depannya. Sama sekali tak menghiraukan para gadis yang mulai berteriak heboh dari berbagai sisi.
"Kyaaa, senpaiii!!!!!"
"Zeref-senpai~~"
"Zeref-sama, lihat aku!!"
"Kyaaaaa!!!!"
Telat menyadari sekitar, Zeref menarik tangan mungil Lucy menapaki tiap lantai dengan kedua kaki mereka yang melaju cepat. Secepat para gadis yang mengikuti mereka di belakang.
Sudah lumayan jauh mereka berlari, dan para gadis-gadis itu masih saja mengikuti mereka.
Zeref kebingungan, selama mereka berlari tidak ada satu pun tempat yang bisa di jadikan tempat bersembunyi.
Dirasanya gadis-gadis tersebut lumayan jauh tepat saat di belokan koridor, tanpa berpikir lagi Zeref mengapit Lucy di dinding dengan salah satu tangan menarik pinggang ramping gadis itu mendekat padanya. Sementara satu tangannya menempel pada dinding seakan mengunci gadis itu agar ia tidak kabur.
Posisi mereka seperti sepasang kekasih yang sedang berciuman. Wajah mereka berdua benar-benar dekat, nyaris membuat kedua permukaan bibir remaja tersebut bersentuhan.
Hal ini dilakukannya agar para siswi barusan terkecoh dan mengira mereka cuma siswa-siswi biasa yang sedang berpacaran.
Jantung Lucy berdegup tak karuan, antara lelah berlari dan sensasi aneh ketika manik kelam Zeref menatap langsung ke mata karamelnya.
Suara-suara gadis tadi sudah menjauh, namun tak lantas Zeref merubah posisi mereka saat ini.
Lucy tak berdaya, jika ia bicara satu kata saja terjadilah hal itu. Hal itu juga akan terjadi jika ia bergerak sedikit saja karena jarak antara wajah keduanya yang terpaut tak sampai lima centimeter.
Entah apa yang merasukinya, Zeref memajukan wajahnya dan berniat menempelkan bibir keduanya.
Walaupun pemuda ini termasuk tampan, mapan, kaya, memiliki ketenaran di sekolah, Lucy masih saja takut. Ia belum siap untuk melakukan hal-hal di luar kendalinya seperti ini. Ia baru saja kenal kemarin dengan Zeref, dan ia bukan siapa-siapanya.
'Siapa saja, tolong akuu!!!'
Lucy menjerit dalam hati, minta pertolongan pada Tuhan agar mendatangkan seorang malaikat yang bisa menghentikan tindakan Zeref ini!
Dan lagi, kenapa koridor disini tiba-tiba sepi?!!
Ia menutup matanya erat, tak berani melihat apa yang akan terjadi padanya.
Harapannya sangat besar, Tuhan pasti menolongnya!
BUAAKKH!!!
Tuh kan, malaikat penolongnya sudah datang.
"Brengsek kau, Zeref!!!"
'Suara ini?'
'Natsu?'
"Apa ada yang salah denganku?"
Natsu bertanya-tanya dalam hatinya ketika hampir seluruh siswi yang berlalu lalang di koridor nampak memperhatikannya, ada pula yang sampai wajahnya memerah ketika Natsu balik memperhatikan mereka.
Semuanya membingungkan sampai pada saat ketika ada kerumunan bergosip di salah satu bangku yang memang tersedia di tiap teras kelas.
"Hei, kalian tahu tidak? Si Natsu itu kelihatan tampan sekali pagi ini loh~"
"Ha? Natsu? Natsu yang memiliki dua warna rambut, si adiknya Erza itu kan? Tidak mungkin, selama ini dia biasa-biasa saja dengan kacamatanya."
"Ini berbeda, kali ini dia terlihat sangat keren."
"Bohong!"
"Kalian tidak akan tahu jika tidak melihatnya sendiri."
"Eh, itu orangnya!"
Manik gadis-gadis tadi membulat sempurna saat melihat Natsu yang kini berjalan tegap tanpa kacamata yang selalu bertengger di pangkal hidungnya tersebut. Tanpa basa basi, mereka berlari mengerumuni Natsu dengan teriakan lebay-lebay ala penonton bayaran.
Teriakan mereka terasa seperti memekakkan gendang telinga Natsu secara langsung, terlalu nyaring sampai Natsu hanya bisa menutup telinganya dengan jari telunjuk.
"Wah, sudah jadi populer ya?"
Nada suara mengejek tersebut dapat menarik perhatian para gadis yang mengerumuni Natsu. Terlihatlah seorang pemuda berambut hitam berjalan angkuh dengan kepala yang sedikit mendongak ke atas.
"Zeref."
"Berterima kasihlah padaku, Natsu. Akulah yang menghancurkan kacamata milikmu kemarin."
Bisikan kecil mulai bersuara, (bisik-bisik tetangga, kini mulai terdengar di telinga~, me- *plaak) para gadis terlihat tertarik dengan apa yang dikatakan pangeran sekolah itu.
"Menghancurkan kacamata? Apa senpai yang membuat Natsu melepaskan kacamatanya?" salah satu siswi bertanya.
Zeref menyahut, "Tentu saja!"
"Apa Zeref-senpai tidak takut kalau nanti Erza akan marah?"
Tersenyum miring, tanda ia benar-benar percaya diri. "Dia tidak akan marah padaku jika aku melakukan hal baik pada adiknya. Lagi pula, kau tidak akan mengadu kan, Natsu?"
Natsu menggertakkan giginya menahan amarah, ia berusaha menahan amarahnya agar tidak lepas kendali dan membuat image kakaknya jatuh.
Ia menarik nafas, sedikit mengatur emosi. "Kau kira aku anak manja heh? Apa kau tidak sadar, kaulah yang suka mengadu disini. Apa kau tidak ingat dengan kejadian beberapa bulan lalu ketika aku tidak sengaja menyiram kau dengan air pel karena mengira tidak ada orang saat aku membersihkan WC yang memang atas permintaanmu saat itu?"
Ya, hal itu memang benar-benar terjadi.
Kala itu, Zeref mendapat hukuman dari guru BK untuk membersihkan WC karena membuat masalah lagi.
Malas mengerjakannya, ia memutar otak meninta seseorang untuk menggantikan tugasnya tersebut. Jadilah Natsu yang dipilih, alasannya sih sedang tidak enak badan.
Sebagai siswa yang baik, ia menurut saja apa yang diminta Zeref. Membersihkan WC, mengelap kaca, sampai mengepel pun ia kerjakan.
Bukannya berterima kasih, Zeref malah memiliki niat lain.
Dua tong sampah busuk ia hamburkan di salah satu toilet yang tertutup ketika Natsu sedang fokus dengan pekerjaannya, sekalian di tambahkan cairan -entah apa pun itu yang penting bisa membuat lantai menjadi licin. Namun, perbuatan jahat pasti ada balasannya.
Melangkahkan satu tapak kaki hendak berjalan keluar toilet, ia malah salah melangkah. Terpeleset dan akhirnya terjatuh di tumpukan sampah hasil kerajaannya sendiri.
Naasnya, tepat ia baru saja bangkit dan mengumpat, Natsu tiba-tiba masuk dan menyiram air kotor bekas pel tanpa aba-aba dahulu.
Kesal, Zeref mengamuk di sana, mengoceh dan mengomel sambil membentak tak karuan. Lepas kendali ia hampir melesatkan tinju, namun di tahan memilih pergi mengadu ke guru BK.
Ceroboh adalah kata-kata yang pantas untuk Zeref, ia benar-benar lupa kalau ia sedang dalam masa hukuman membersihkan WC, dan ia malah menyuruh orang lain mengerjakannya ditambah juga kerajaannya yang terpeleset karena sampah-sampah itu.
Poor, Zeref. Hukumannya diperpanjang dan di gandakan dua kali lipat.
Kali ini, Zeref yang menahan amarah. Ia tak bisa menjawab karena hal itu benar-benar terjadi.
"Kenapa? Tidak bisa menjawab?"
Dilihatnya amarah Zeref mulai naik, membuatnya tak bisa menahan kekehan kecil.
"Ada apa senpai? Jawablah pertanyaannya!" tuntut seorang siswi.
"Diam!"
Lagi, bisikan mulai terdengar. Masalah ini akan menjadi trend di majalah dinding sekolah akhir pekan. Sudah dipastikan namanya akan tertera dalam judul besar dan di halaman paling depan di majalah dinding.
"Zeref, Si Pangeran Sekolah Membentak Seorang Siswi Hanya Karena Tidak Bisa Menahan Emosi Kesal Tidak Dapat Menjawab Satu Pertanyaan Dari Sang Pink-Scarlet"
Bahu Natsu di senggol kasar ketika berpapasan, geraman kesal lolos dari sang pelaku namun tak di indahkannya.
Kembali acuh, ia melanjutkan jalannya yang sempat tertunda mengabaikan tatapan orang di sekitar yang tampak menegang oleh tatapan dinginnya.
"Nee-san, ini bukumu. Ibu bilang, kau meninggalkannya di atas lemari etalase."
Disodorkannya buku paket setebal 500 halaman tersebut, disambut uluran tangan seorang perempuan Scarlet.
"Oh iya, aku lupa membawanya. Arigatou, Natsu."
Tersenyum kecil, Natsu berbalik pamit menuju kelas.
"Ano, kau tidak apa-apa?"
Sang kakak bertanya dengan raut khawatir.
"Apanya?"
"Apa kau sakit lagi? Wajahmu agak pucat, mau diantar ke UKS? Lalu, di mana kacamatamu?"
Tidak sopan jika mengabaikan, walaupun ingin di acuhkan tapi karena ia kakak sendiri jadi jawab seadanya saja.
"Sepertinya tidak, tak perlu mengantar ke UKS. Aku bisa sendiri jika ingin. Kacamataku ada di tas, jangan khawatir semuanya aman!"
Kalimat terakhir itu dusta, tak mau ditanyai lebih lanjut ia bergegas pergi meninggalkan Erza dengan kepala yang masih menggantung banyak pertanyaan.
Mendung awan menutupi langit Magnolia sejak semalam, sinar mentari pun cuma bisa samar-samar menembus sedikit di baliknya.
Maniknya yang sedikit rabun itu menatap keluar jendela selagi kakinya terus melangkah perlahan. Cuaca seakan mengejeknya dengan awan hitam, sama seperti hatinya. Kejadian semalam pun tak bisa ia hilangkan dari ingatan walau ia paksakan.
Lorong di koridor sekolah sudah nampak sepi, padahal bel masuk akan di bunyikan sekitar setengah jam lagi.
Langkahnya tetap perlahan ketika objek yang di tatapnya ada sepasang remaja sedang berpacaran di dekat belokan koridor.
Tidak sopan, ini tempat umum. Kenapa perempuan bersurai blonde dan laki-laki bersurai kelam itu melakukan hal itu pagi-pagi seperti sekarang.
Eh?
Apa ia tak salah lihat?
Blonde dan hitam kelam?
Ia yakin, sangat yakin itu adalah mereka. Semoga saja dugaannya salah. Walaupun matanya minus, terlihat jelas bahwa kedua orang tersebut akan melakukan adegan romantis seperti di film k-drama.
Perlahan, bertambah cepat, bertambah cepat, akhirnya ia berlari kencang seirama dengan detak jantungnya yang berpacu cepat.
Saat berjarak satu meter dari mereka, Natsu dapat melihat raut wajah ketakutan dari sang gadis dengan kedua manik karamel bersembunyi di balik kelopaknya yang tertutup.
Refleks, semua emosi ia kumpulkan dalam satu kepalan tangan. Ia jarang, sangat jarang melakukannya. Namun kali ini ia akan melakukannya serius, dengan amarah untuk menyadarkan Zeref bahwa yang dilakukannya adalah hal salah.
BUAAKKH!!!
"Brengsek kau, Zeref!!!"
Sepersekian detik kemudian, Zeref terhempas ke lantai putih tanpa alas, memegangi pipi tanpa tahu apa yang barusan terjadi.
Natsu mendekati Lucy yang merosot terduduk di lantai, kepalanya tertunduk dalam. Disembunyikannya tetesan carian bening dari mata, namun tak bisa. Natsu sangat tahu, gadis itu sedang menangis.
Geram, ia menarik kasar kerah kemeja Zeref. "Apa kau tidak berpikir tentang apa yang barusan kau lakukan?! Lihat! Kau membuatnya menangis, kau membuat Luce yang selalu tersenyum itu kini menangis!!"
Sulit menjawab, ia sendiri kebingungan dengan apa yang hampir dilakukannya pada gadis itu.
"A-aku-"
"Sudalah! Minta maaf pada dia nanti, itu pun kalau Luce mah memaafkanmu!"
Natsu memegang kedua pundak Lucy erat namun lembut di tengah tangisnya yang makin menjadi.
"Luce?"
"Kau tidak apa-apa?"
Mau dipaksa bicara pun percuma, sang gadis Heartfilia mendongakkan kepala sembari mengusap kasar jejak-jejak linangan air matanya.
"Sudahlah Natsu, kita ke kelas sekarang."
Langkahnya menjauh, waktu melambat bagai diberi efek slowmotion bagi Zeref pribadi. Ia masih terpaku di tempatnya duduk. Nyeri di pipi masih terasa bekas bogeman Natsu, namun kenapa hatinya juga terasa perih?
SKIP
Angin bertiup ringan, sejuknya mengantarkan beberapa kelopak bunga Magnolia ungu yang sedikit layu. Udaranya juga bersih walaupun terletak di sebuah kota, tentu saja karena banyaknya pepohonan dan tanaman yang tumbuh sini. Lingkungan juga terawat sangat baik berkat Cosmos dan Kamika yang sedari pagi berada di lapangan.
Natsu kembali memasukkan makanan yang dijepit dalam sumpit ke mulutnya.
Suasana masih terasa tenang sebelum ia kembali mendengar suara bantingan pintu yang memekakkan telinga.
BRAAAAK!!!
Si pelaku pendobrakan pintu mengambil duduk tepat di samping Natsu, memasang wajah muram dengan pipi yang sengaja di kembungkan.
"Kau kenapa? Masuk dengan cara tidak sopan lalu membawa wajah masam yang jelek itu?"
Seperti biasa, nadanya dingin dan datar namun lagi-lagi terdapat unsur mengejek dapat dengan mudah memancing emosi di kepala Lucy.
"Kau bertanya wajahku masam dan jelek ini? Kau tanya kenapa?! Tanya saja pada orang populer di sekolah itu!"
Kata-kata berintonasi kelewat tingginya ditutup dengusan kasar. Memalingkan wajah ke samping, ia tak berniat lanjut dalam pembicaraan bersama pemuda yang selalu bisa memancing emosinya itu.
Sebenarnya ia tak ingin ketemu Natsu, ia hanya ingin ketenangan dalam sunyi di atas atap hitung-hitung juga menjernihkan otaknya yang hampir penuh dengan pikiran aneh akibat perbuatan Zeref pagi tadi. Tapi ia lupa bahwa tempat klasik ini adalah tempat favorit pemuda itu.
"Dasar, kau selalu saja aneh."
Kembali Natsu berkata. Lucy kembali tersulut emosi. "Hei-"
Terhenti, kalimat kasar yang akan dilontarkannya tertelan bersama sesuatu dimasukkan paksa ke dalam mulutnya.
Lucy merasakannya. Manis dan lembut, ada sedikit rasa asam-asam di bagian selai. Apa ini?
Setelah tertelan dan masuk ke dalam lambungnya, ia menatap kesal Natsu yang kini menyeringai puas.
"Apa ini?"
"Bagaimana rasanya?"
Lucy terdiam, tidak kesal seperti biasanya saat pemuda itu dengan berani memotong ucapannya. Ia malah memikirkan pertanyaan Natsu tentang bagaimana rasa 'sesuatu' yang telannya.
"Rasanya... tidak terlalu manis, pas. Juga selainya sedikit terasa asam-asem."
Natsu tersenyum. "Dan, bagaimana perasaanmu?"
"Perasaanku?"
Bingung. Sekarang ia gelisah karena memikirkan bagaimana reaksinya nanti ketika bertemu Zeref setelah kejadian itu? Di sisi lain dirinya sedikit merasa terobati, dan tahu-tahu asalnya dari Natsu.
Eh, dari Natsu?
Lucy memperhatikan kedua manik mata laverder yang tertampang di depannya. Ia merasa, ungu di sana bukanlah warna sebenarnya. Tersembunyi, ada sesuatu yang tersembunyi dan tak pernah di ketahui oleh siapa pun.
Sesuatu yang berbeda dari orang kebanyakan.
Sesuatu yang istimewa.
Sesuatu yang hangat.
Dan... terdapat tujuh bagian di dalamnya.
Namun ada suatu penghalang seperti bunga salju yang tertumpuk menjadi es, dan mengubur sekuntum bunga sakura hitam di bawahnya.
Ia mengibaratkan Natsu dengan sakura hitam. Hitam adalah kepribadian yang menonjol darinya, sementara sakura itu seperti rambut pink-scarletnya.
Lama-lama di perhatikan, Natsu merasa risih. "Kau melihat apa?"
Dasar perusak suasana!
Dengan wajah datar Lucy menjawab seadanya. "Tidak ada."
Detik berikutnya kembali mereka adu mulut, sama-sama tidak ada yang mengalah.
Terlihat saling bermusuhan, padahal terikat kuat pada benang warna merah. Terikat pada salah satu hati.
Dua sahabat yang terpisah lama, dan saat bertemu malah salah satu terlupakan. Memang menyakitkan, tapi Natsu akan mencari tahu apa penyebabnya. Tidak akan suatu hal terjadi tanpa penyebab, bukan?
Untuk Lucy pribadi, ia pun tak pernah bertanya pada papa ataupun mamanya tentang masa kecilnya.
Yang jelas, mereka mempunyai tujuan yang baik. Karena sama-sama terikat, pasti mereka menginginkan yang terbaik. Walaupun salah satu telah melupakannya.
To Be Continue.
A/N:
Gomen, Koyu belum bisa bales riview kalian. Yang jelas Arigatou karena sudah mau menunggu fic aneh nan abal ini dalam waktu lama.
One-shoot yang Koyu janjiin sudah di publish, silahkan di baca ya! Tinggal satu lagi dan masih dalam proses, oh iya kalian ingat nggak di ch 5 Koyu pernah bilang lai proses 1 ff one-shoot dan 1 ff Two-shoot? Nah tuh ff juga masih dalam proses.
Semoga nanti ffnya cepet selesai *aamiin.
Moga ch kali ini sesuai harapan dan tidak mengecewakan.
Di ch depan kita mulai masuk konflik dan membahas tentang 7 warna, yeaay!
Okelah, sekian dari Koyu!
Silahkan tinggalkan saran, kritik, maupun flame membangun dari kalian yak! Agar Koyu tahu bagaimana respon kalian terhadap ff Koyu.
Jaa ne!
