"Sasuke-kun, tolong aku!"
.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
AU/OOC/Romance/a bit of Drama and Humor (Maybe)/Lime/Lemon (Coming Soon)
.
.
.
.
.
"Hmmpp!"
Haruno Sakura membelalakkan matanya kaget ketika Sasori menciumnya tiba-tiba dan kasar. Bibir gadis itu menjadi bengkak karena Sasori mengulum dan terkadang mengigit gemas bibir tersebut. Sakit.
"Ukh!"
Ini bukan Sasori.
Sasori yang ia kenal tidak sejahat ini.
"Sasori—ukh!"
Sakura merintih kesakitan ketika Sasori kembali menggigit bibirnya. Kedua tangan Sakura ia kunci erat. Tubuh gadis itu ia himpit ke arah pintu rumah.
'Sakura adalah milikku!'
'Milikku!'
Haruno Sakura hampir kehabisan nafas jika ia tidak menghentakkan kakinya dengan keras. Sasori paham. Pemuda merah itu kemudian melepaskan ciuman mereka berdua. Sakura dengan rakus menghirup oksigen itu sekuat yang ia bisa.
Beberapa detik kemudian, sebelum Sakura angkat bicara, Sasori kembali menciumnya. Kali ini berbeda. Lidah pemuda itu langsung masuk kedalam mulut gadis berambut soft pink tersebut. Sakura tersentak kaget. Ia membelalakkan matanya. Lidah Sasori mengobrak-abrik mulutnya dengan ganas. Tidak. Tidak. Sakura tidak suka seperti ini. Sakura tidak suka jika ada yang memperlakukannya seperti ini.
Ah, terkecuali Uchiha Sasuke.
"Urrmmh—akh!"
Sakura menggeram benci. Didalam hatinya, ia mengutuk Sasori yang sudah memperlakukannya seperti ini. Airmata sudah berkumpul di pelupuk mata gadis tersebut.
'Sasuke-kun...tolong...'
Andai saja Sasuke belum pulang, hal ini tidak akan terjadi.
Selang beberapa menit. Sasori melepaskan lidah Sakura. Gadis itu bernafas tidak teratur. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
'Kenapa Sasori bersikap aneh seperti ini?'—hanya itu yang ia pikirkan.
Dalam diam, pemuda itu kembali melanjutkan aksinya. Leher jenjang Sakura belum ia sentuh.
"Sakura..." desis Sasori lemah.
"Hyaaaaaa!" Sakura berteriak kaget ketika lidah Sasori menjilati lehernya pelan. "He-hentikan!"
Sasori tetap diam seakan tak peduli.
Ia hisap leher jenjang tersebut dengan kuat kemudian menggigitnya pelan. Ruam kemerahan tak lama muncul di leher tersebut.
Bagi Sasori itu adalah tanda bahwa Sakura hanya miliknya.
Miliknya seorang.
Bukan milik Uchiha Sasuke.
Ah, obsesi.
"Hentikan! Ukh!" Sakura mencoba berontak. "Sa-sasori—akh!"
Sasori tidak peduli Sakura menolak perlakuannya yang sudah kelewat batas ini.
Airmata mengalir di pipi gadis tersebut.
Sasori yang ia kira pemuda yang polos, kenapa jadi seperti ini?
Kenapa ia diperlakukan seperti ini?
Apa salah gadis tersebut?
Ini sudah kelewat batas.
"AKU BILANG HENTIKAN DASAR PEMUDA SIALAN!"
BRUK!—PLAK!
Sasori terdiam kaget.
Ini adalah kalipertamanya Akasuna Sasori didorong sampai jatuh terduduk kemudian ditampar oleh seorang perempuan. Demi Tuhan, ibunya saja tidak pernah melakukan hal seperti ini.
Ia melirik Sakura sejenak.
Mata gadis itu sembab dan juga memerah. Menangis.
Ah, sial. Apa yang telah ia lakukan pada gadis ini?
"Sa-sakura..." ucap Sasori sembari berdiri. Ia gemetar. "...kau ti-tidak apa-apa?"
PLAK!—tangan Sasori ia tepis mentah-mentah. "Pergi…" lirih Sakura pelan sembari menunduk.
"Ta-tapi..."
"AKU BILANG PERGI! APA KAU TULI, HAH?!"
Sasori kembali tersentak kaget.
Sepertinya ia sudah melakukan hal terburuk pada Sakura.
Sungguh, Sasori benar-benar tidak sadar.
Dengan segenap perasaan bersalah, Sasori berjalan pelan menuju pintu. Ia berhenti sejenak, mencoba melirik gadis soft pink yang berdiri gemetar disamping pintu rumahnya sendiri.
Sasori memutar knop pintu. "Maaf..." lirih Sasori pelan—Blam. Pintu tertutup rapat dengan pelan.
Meninggalkan Haruno Sakura yang masih berdiam diri disamping pintu rumahnya.
"Ukh!" Sakura terduduk lemas. Airmata kembali menetes. Dengan gemetar, ia memeluk erat tubuhnya sendiri. "Sial! Hiks!"
Ah, sepertinya ia harus mandi.
Yap, ia harus membersihkan seluruh tubuhnya.
Sekarang juga.
.
.
.
.
My Hentai Prince
.
Chapter 9
.
.
Original Story from Azuka-nyan
.
.
Rate M for Lime and Lemon
.
.
Happy Reading
.
.
.
.
Bunyi shower di kamar mandi terdengar sangat deras. Gadis berambut soft pink itu menyalakan shower ke volume yang lebih tinggi tekanan airnya sembari menggosok daerah lehernya. Ia gosok lebih keras dan semakin keras.
Setelah selesai menggosok, gadis itu kemudian berjalan ke arah cermin yang ada dibelakangnya. Ia tatap cermin itu dengan seksama kemudian airmatanya kembali mengalir perlahan.
Di lehernya ada tiga tanda 'bekas' Sasori.
Bagaimana kalau Sasuke tahu?
Bagaimana kalau Sasuke murka dan memukuli Sasori habis-habisan?
Yah, mungkin pemuda berambut merah itu pantas mendapatkannya.
Intinya ia harus menutupi kiss mark ini.
Ia takut kalau Sasuke tahu.
Drrtt—drrrttt!
Dari kejauhan, Sakura merasa Handphone-nya bergetar. Dengan cepat, ia matikan shower lalu mengambil handuk kemudian melilitkannya ke tubuhnya yang ramping.
'You have one message.'
Hei, siapa yang mengiriminya pesan?
From: 076-xxx-xxx
"Boleh aku menelponmu?"
Ini siapa? Batin Sakura bingung.
Jangan-jangan si merah itu.
Cih, jangan harap Sakura membalasnya.
Belum sempat ia membalas pesan tersebut, Sakura langsung mendapat telepon dari orang yang sama. Gadis itu merasa was-was entah harus mengangkatnya atau tidak.
Ia hanya takut kalau itu adalah Akasuna Sasori.
Mengesampingkan rasa takut, Sakura memberanikan diri untuk mengangkat telepon tersebut.
"Ha-halo?"
"Hai, Honey."
Ah, syukurlah. Itu suara kekasihnya, Sasuke.
"Ka-kau!" Ucap Sakura kaget. "Da-darimana kau dapat nomor teleponku?!" Jauh dilubuk hati Sakura, ia bersyukur bukan Sasori yang menghubunginya.
"Ino." Jawab Sasuke dengan santai.
Sakura menepuk jidatnya keras.
Dasar Ino. Huh!
"Baiklah, baiklah, sekarang…ada apa kau meneleponku, hm?"
"Tak apa," ucap Sasuke masih santai. "hanya kangen."
Wajah Sakura memanas. "Ja-jangan mengatakan hal seperti itu, ba-baka!"
"Habisnya, saat kau mengatakan bahwa kau mencintaiku, aku senang sekali,"
Oke. Sakura semakin memerah.
Sakura terdiam. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ini kalipertama Sakura dalam istilah 'lagi-teleponan-sama-pacar-nih' dalam hidupnya. Namanya juga baru pertamakali pacaran.
"Kenapa diam?" Sasuke memecah keheningan. "Gugup?"
Tepat sekali.
Sakura mengangguk pelan. "U-um,"
Dapat Sakura dengar, Sasuke tertawa. "Kau lucu sekali."
Dasar!
"Sudah pu-puas tertawanya, hah?! Kalau sudah aku tutup saja!"
"Hei! Aku belum sampai ke inti pembicaraan!"
"Ya sudah, cepat katakan!"
"Begini," Sasuke berdehem pelan. "hari Minggu sibuk?"
"Tidak, kenapa?"
"Ba-bagaimana kalau kita kencan lagi?" Dari nada bicara, Sakura tahu kalau Sasuke juga gugup. "Yah, sebagai ganti untuk kencan yang pernah gagal dulu."
Yap. Kencan gagal karena adegan panas di kereta.
"Aku tidak ingin hal aneh lagi yang terjadi."
"Tidak. Aku berjanji."
Gadis soft pink itu tersenyum. "Baiklah, aku terima tawaranmu." mungkin ia harus percaya Sasuke kali ini.
"Sampai bertemu hari Minggu." Ucap Sasuke yang juga tersenyum disana. "Aku mencintaimu, Sakura,"
BLUSH!—Wajah Sakura kembali memerah.
"Ba-baka!"
Sasuke kembali tertawa keras. "Selamat malam, Honey,"
Piip!—Sambungan telepon langsung Sakura putuskan. Entah perasaannya atau tidak, Sasuke semakin genit.
Tapi dalam hatinya, Sakura senang. Sangat senang sampai rasanya ingin berteriak.
Akhirnya ia bisa merasakan kencan yang normal.
Di lain tempat, Uchiha Sasuke menatap layar smartphone-nya dengan senyuman manis. Selang beberapa menit senyuman itu masih menghiasi wajahnya. Kalian tahu kan, Uchiha Sasuke yang tersenyum adalah sebuah kejadian yang langka. Ia masih tersenyum dan terus tersenyum. Tanpa henti.
Alasan pemuda ini tersenyum adalah foto Sakura yang dia ambil saat gadis itu tengah belajar di kelas dengan serius telah dia jadikan wallpaper layarnya tersebut.
Oh, bidadarinya manis sekali~
Boleh Sasuke mencicipinya, Tuhan?
"Hentikan senyumanmu itu dasar mesum."
Sasuke terlonjak kaget dari tempat tidurnya. "Apa yang kau lakukan, Ita-hi?!" Teriak Sasuke. "Sembarangan masuk!"
"Hentikan julukan kurang ajarmu itu!" Itachi balas teriak.
"Apa yang kau inginkan dariku, BakAniki?" Sasuke semakin curiga. Kakak kandungnya jangan-jangan—
—"KAU KIRA AKU AKAN MELAKUKAN APA, HAH?!"
.
.
.
.
Hari ini Sakura pergi ke sekolah tidak seperti biasanya. Di lehernya terdapat tiga tempelan plester luka. Mata gadis itu juga terlihat bengkak. Yap. Inilah hasil dari kelakuan Akasuna Sasori kematin. Sungguh, Sakura benar-benar marah besar pada pemuda merah tersebut. Ia malah tidak bisa tidur nyenyak. Kejadian itu terus berputar di otaknya, bagai kaset yang rusak. Andai saja dia tidak membolehkan si Akasuna itu masuk, hal ini tidak mungkin akan seperti ini.
Tapi nasi telah menjadi bubur. Semuanya telah terjadi.
Yang terlebih penting adalah Sasuke tidak boleh tahu. Kejadian kemarin harus dia rahasiakan.
Karena jika kekasihnya itu tahu, hal buruk akan terjadi.
Aarrgghh! Apa alasan yang harus Sakura katakan jika Sasuke bertanya tentang plester yang ada di lehernya ini? Memikirkan alasannya saja sudah membuat kepala Sakura sakit.
Tenang Sakura. Tenang.
Drrtt—drrtt!
Sakura sedikit tersentak ketika handphone-nya bergetar pelan. Ia kemudian mengambil benda tersebut dari dalam tasnya kemudian memeriksanya.
'Kau dimana? Tumben telat.'
Sebuah senyuman pun kemudian terukir pada wajah cantik milik Haruno Sakura. Ini pesan dari Sasuke. Lumayan, jadi penyemangat pagi.
'Aku merasa tak enak badan. Jadi, sedikit terlambat untuk ke sekolah.'
Tak sampai satu menit Sakura mengirim pesan, balasannya sudah masuk.
'Kau tidak bisa tidur karena memikirkan kencan denganku minggu ini, kan?'
"Percaya diri sekali dia," Sakura terkekeh geli.
'Bodoh, bweee,'
'Cepatlah datang ke kelas, aku kesepian. Love you.'
Oh, demi Tuhan. Siapapun akan berteriak kegirangan jika mendapat pesan seperti itu dari Uchiha Sasuke, termasuk Sakura. Sudah bisa dipastikan wajah gadis tersebut telah menjadi kepiting rebus.
Sasuke benar-benar membuat mood-nya jadi lebih baik.
Aduh, jadi bingung deh Sakura harus balas apa.
Gadis ini terlalu malu untuk mengungkapkan perasaannya.
Tanpa sadar, Sakura sudah berada di depan kelasnya.
"Ohayou Sakura-chan." Ucap salah satu teman sekelas Sakura.
"Ohayou."
Sasuke yang mendengar nama Sakura disebut refleks melirik ke arah pintu kelas. Tepat disana telah beridiri kekasihnya—Haruno Sakura. Pemuda itu kemudian berjalan ke arah Sakura. Membuat semua mata tertuju kepada kedua insan tersebut.
"Kau terlambat, Honey," ujar Sasuke sambil menepuk pelan kepala Sakura kemudian mengelusnya lembut. "aku merindukanmu."
Padahal mereka baru saja bertemu kemarin.
Sakura dengan wajahnya yang sudah semerah tomat hanya bisa tersenyum manis. Entah kenapa sikap Sasuke sedikit manja hari ini. "Dasar."
Sakura tidak perlu menyembunyikan lagi rasa malunya saat bersama Sasuke. Karena ia telah jujur pada pemuda tersebut.
Ini yang Sasuke tunggu dari Sakura. Gadis itu menjadi terbuka padanya.
Dan detik itu juga semua murid yang ada di kelas, di koridor, dan para fans Sasuke menjerit iri.
Inilah pasangan romantis Higashi Gakuen.
.
.
.
.
"Jadi, min x dikalikan dengan y, dan hasilnya kita letakkan disini kemudian dikalikan dengan yang ini lagi. Kalian mengerti?"
Bagi Akasuna Sasori, matematika adalah pelajaran yang paling membosankan. Beberapa kali pemuda itu terlihat menghela nafas karena bosan yang berlebihan.
Yap. Hari ini benar-benar membosankan.
Bahkan notifikasi ramalan hari ini pun belum muncul. Tidak ada yang terbaru. Hal tersebut semakin menambah kebosanannya.
"Hei, hei. Apa kau melihat si Sasuke dengan Sakura sudah bermesraan pagi tadi?"
"Iya, pasangan dari kelas sebelah memang romantis sekali ya. Aku juga ingin seperti mereka."
Sasori kembali menghela nafas. Kali ini terasa berat.
Jika menyangkut tentang si gadis soft pink tersebut, sekecil apapun mereka berbicara, Sasori pasti akan berusaha agar ia bisa mendengar pembicaraan itu.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuat mood-nya semakin hancur.
Andai saja di kelas ini tidak ada guru, mungkin Sasori akan menggebrak meja para gadis penggosip tersebut dan menyuruh mereka diam.
"Cih," pemuda itu mengeratkan kepalan tangannya. Kejadian kemarin sore benar-benar membuatnya menyesal. Sakura telah kecewa dan benci padanya. "sakit." Lirihnya sembari mengelus pelan pipinya yang terkena tamparan Sakura.
Sasori masih ingat ekspresi gadis tersebut yang telah diselubungi kekecewaan besar. Itu membuat hati kecil Sasori terasa dicubit keras.
Ingin rasanya Sasori keluar dari kelasnya dan pergi menuju kelas sebelah—kelas Sakura kemudian meminta maaf dan menjelaskan semuanya dengan benar. Tapi ia urungkan niatnya. Ia takut jika Sakura mengabaikannya atau menunjukkan wajah yang penuh dengan amarah.
Sungguh. Sasori benar-benar tidak sengaja melakukan hal yang kemarin.
Sasori akui bahwa kemarin dia termakan api asmara. Dia terlalu benci kenapa hanya si Uchiha itu yang selalu diperhatikan oleh Sakura? Kenapa selalu pemuda pantat ayam itu?
Jauh di dalam lubuk hatinya, Sasori iri.
Ia juga ingin merasakan cinta—cinta Sakura.
Kena Sakura malah memilih si pemuda mesum laknat itu? Apa bagusnya dia?
Pikirannya semakin kacau sekarang. Beberapa kali ia meremas helaian rambut merahnya gemas. Sasori benar-benar tidak tahan. Ingin rasanya memukul wajah si Uchiha tersebut kemudian merebut Sakura dari tangan kotor Uchiha Sasuke.
Sakura ibarat permata yang seharusnya dilindungi.
Tapi, ia tak bisa lagi melihat senyum bahagia Sakura yang khusus ditujukan untuknya. Kejadian kemarin merubah segalanya.
Sakura telah menjauh.
Menjauh dari gapaian tangannya.
"Sial, sial, sial!" Sasori merutuki dirinya sendiri. Keinginan kuat untuk merebut Sakura semakin meningkat.
Ia bertekad bahwa dirinya akan merebut Sakura, baik itu dengan cara yang lembut maupun kasar.
"Perang yang sebenarnya akan dimulai, Uchiha."
.
.
.
.
"Hei, sampai kapan kau akan melamun seperti itu, Honey?"
Sakura tersentak kaget ketika tangan Sasuke mengelus rambut di kepalanya dengan pelan. "Ti-tidak apa-apa." Balasnya gelagapan.
Sakura terlihat murung hari ini. Bahkan bekalnya pun belum dia makan. Gadis itu hanya menatap bekalnya sedari tadi. Hal tersebut membuat Sasuke bingung. Padahal...Sakura yang mengajaknya untuk makan bekal berdua di atap sekolah.
Apakah ada yang disembunyikan Sakura darinya?
"Kau sakit?"
"Ti-tidak."
"Ada yang aneh denganmu hari ini."
"A-aku...ba-baik-baik saja! Sungguh!"
"Bohong," balas Sasuke sembari mengintimidasi kelakuan Sakura yang setengah gugup. "Katakan."
Sakura meneguk ludahnya. Bingung hendak mencari alasan yang tepat.
"A-anu... se-sebenarnya—ummffhh!"
Belum sempat gadis itu meneruskan kalimatnya, mulutnya malah dijejalkan tempura oleh Sasuke. Sakura terdiam sejenak, kaget. Kemudian, wajah Sasuke mendekat kearahnya. Memakan sepenggal tempura yang ada di mulut Sakura. Bibir mereka sedikit bersentuhan.
Wajah Sakura sukses merah merona.
"Itu ciuman pemberi semangat," ucap Sasuke santai sembari tersenyum tipis. "mau lagi?"
Walaupun Sakura belum menyetujuinya, Sasuke tanpa basa-basi langsung melumat bibir manis Sakura. Ia lumat gemas. Sungguh, Sasuke amat sangat tergoda—atau bahkan ketagihan dengan bibir tipis kekasihnya tersebut.
"Ummrrh," geram Sakura ketika tangan kiri Sasuke meremas dada kananya pelan. "A-aaakh..."
Tanpa Sakura sadari, tangan kanan milik Uchiha Sasuke menarik plester luka yang ada leher gadis soft pink itu. Setelah berhasil menariknya, ia hentikan aksi ciuman dan remasannya.
Pemuda itu menatap Sakura tajam.
"Siapa yang membuat tanda seperti itu di lehermu, Haruno Sakura?"
Sakura tersentak kaget. Tangannya mengelus lehernya pelan. Gadis itu sadar, plester lukanya hilang.
"Katakan, siapa yang membuatnya! Jangan berpikir aku tidak sadar bahwa kau menggunakan plester ini tadi sejak masuk kelas."
Sakura menjadi ciut. "A-anu—"
"—Jangan bilang si wajah bayi itu!"
Akasuna Sasori memang pelakunya.
"Kenapa kau membiarkan dia memberi tanda seperti itu hah?!"
Sakura kembali tersentak kaget. Kedua tangannya mendingin.
"JAWAB AKU HARUNO! KAU MASIH MILIKKU!"
Teriakan Sasuke sukses membuat Sakura menangis. Sasuke murka. Gadis itu mengaku salah telah menyembunyikan hal tersebut. Sasuke sudah naik darah.
"Ma-maafkan aku..."
Angin kencang berhembus kearah mereka. Sasuke menatap lurus kearah gadis soft pink tersebut.
"Kita putus saja, Sakura."
Ucapan itu sukses membuat kepala Sakura yang sedari tadi tertunduk, terangkat kembali.
"A-apa katamu?"
"Aku lelah," lirih Sasuke pelan. "lebih baik kau dengan si wajah bayi itu saja," Sasuke kemudian berjalan membelakangi Sakura.
"Tu-tunggu!" Sergah Sakura sembari menarik pergelangan tangan Sasuke. Meminta penjelasan.
"Lepaskan, Haruno. Kau...bukan milikku lagi."
Detik berikutnya, Sakura melepas tangan Uchiha. Pemuda itu pun menjauh dari pandangan Sakura. Tangan gadis itu gemetar. Ia tidak percaya, Sasuke benar-benar memutuskannya.
Ingin rasanya gadis itu menangis, tapi ia tahan.
Padahal tempat ini adalah tempat pertamakali Sasuke menyatakan perasaannya.
Bel istirahat selesai telah berbunyi. Dengan secepat mungkin ia membereskan kotak bekal makannya dan milik Sasuke kemudian berlari menuju kelasnya dengan sekuat tenaga. Berusaha menjelaskan semuanya dengan benar.
Tapi sayang, setelah Sakura sampai kelas, ia tidak menemukan sosok kekasihnya tersebut. Yang ada hanya seorang guru yang sudah siap untuk mengajar.
Gadis itu pun berlari keluar dari kelasnya. Ia berlari, terus berlari. Tak peduli sang guru yang telah meneriaki namanya dengan keras agar gadis itu kembali ke kelas. Tapi nihil, Sakura sudah berlari jauh dari kelasnya.
Sakura tidak peduli.
Dalam pikirannya, ia harus mencari kekasihnya.
Uchiha Sasuke.
Langkah gadis soft pink itu terhenti di lantai tiga gedung sekolah—tepatnya di Lab. Biologi.
Ruangan itu pintunya terbuka sedikit. Membuat Sakura diselubungi rasa penasaran.
"Akh!"
Rintihan kecil dari dalam ruangan tersebut membuat Sakura tersentak kaget. Itu...suara perempuan.
"Sa-sasuke-kun..." lirih Sakura pelan sembari mendekat ke ruangan tersebut. "...kau ada didalam?"
"Le-lebih cepat—ukh!"
Jantung gadis itu seketika berdetak kencang ketika suara perempuan itu muncul lagi.
Pikiran aneh mulai menyelimuti Sakura.
Ia merasa ada yang salah.
Dengan keberanian yang ia kumpulkan dengan susah payah. Gadis itu mencoba mengintip kedalam.
Beberapa detik kemudian, mata Sakura membulat sempurna. Hal yang ia pikirkan pun terjadi.
Disana. Yap. Didalam sana, kekasihnya—Uchiha Sasuke bersama dengan seorang gadis—dengan penampilan baju seragam yang telah terbuka dan rok yang dinaikkan keatas—melakukan hal yang pernah ia lakukan bersama Sasuke.
Jemari kekasihnya itu sedang bermain di liang seorang gadis yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Sa-Sasuke...A-aku—akh!" Gadis itu meremas rambut raven Sasuke. Ia menggigit bibirnya. Matanya terpejam, mencoba menikmati perlakukan Sasuke.
"Sssttt. Jangan mendesah terlalu keras, senpai."
"Ka-kalau begitu...bungkam mulutku, Uchiha Sasuke—ummpphh!"
Airmata Sakura sukses menetes ketika Uchiha Sasuke melumat mulut senpai perempuan tersebut. Menciptakan suara desahan-desahan yang cukup membuat gadis soft pink itu murka.
Ingin rasanya menjauh dari tempat tersebut, tetapi kedua kakinya terasa kaku dan bergetar hebat. Begitu pula dengan kedua tangannya.
Sungguh. Gadis itu tidak menyangka kalau Sasuke akan melakukan hal segila ini.
"A-akh! Sa-Suke...A-aku...nggghhh!" Peluh menetes dari wajah cantik sang senpai. Sasuke tersenyum puas. Kemudian pemuda raven itu menaikkan tempat kocokannya pada liang tersebut. Membuat si senpai mendesah liar. Tangan kanan Sasuke yang awalnya diam, kini mulai meremas payudara montok tersebut.
Cairan bening pun keluar. Sasuke langsung melepas jemarinya kemudian menjilatinya dengan erotis.
"Cairan senpai manis."
Beberapa saat kemudian, mata onyx milik Uchiha Sasuke melirik ke arah pintu Lab. Tepat disana Sakura masih berdiri kaku.
Tatapan mereka berdua bertemu.
Sasuke jelas melihat jejak airmata Sakura yang belum kering. Mata gadis itu sembab dan tubuhnya bergetar hebat.
Gadis itu shock berat.
Tapi Sasuke tak peduli.
"Bagaimana kalau kita ke intinya saja, senpai?"
Detik berikutnya, Sakura langsung berlari dari tempat tersebut. Ia tidak sanggup lagi. Padahal Sasuke jelas melihat dirinya berdiri terpaku. Kenapa Sasuke malah melanjutkan hal tersebut?
Padahal Sasuke masih ia anggap kekasihnya, walaupun pemuda itu sudah mengatakan putus.
Tapi...ini sudah keterlaluan.
Gadis itu berlari sambil menangis. Ia tidak tahu kemana ia pergi.
"Uchiha kurang ajar!" Teriak Sakura.
Dia...sudah terlalu sakit hati.
Hubungannya benar-benar berakhir hari ini.
.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 16.30 sore. Gadis soft pink itu berjalan gontai. Kepalanya terasa sakit hari ini setelah kejadian yang terjadi di lab. biologi. Nafasnya memburu cepat, keringat dingin pun bercucuran dari wajahnya.
Entah kenapa Haruno Sakura terlihat sangat pucat.
Gadis itu tepat berdiri di penyeberangan jalan. Lampu lalu lintas menyala hijau, sedangkan lampu untuk pejalan kaki berwarna merah. Entah karena ada apa, Sakura merasa kesadarannya semakin menipis. Ia akan segera pingsan.
"Kita putus saja..."
Kalimat itu kembali terulang di kepalanya.
"Sasu..ke-kun..."
GREP!—sedetik sebelum gadis itu pingsan dan jatuh ke jalan raya, Sasori yang sedari tadi mengikuti Sakura langsung menarik pergelangan tangan gadis itu dan menariknya agar tidak tertabrak.
Para pejalan kaki menjadi heboh akibat ulah Sakura yang hampir saja kehilangan nyawanya.
"Sakura! Bangun! Hei!" Teriak Sasori panik. Telapak tangannya ia letakkan di jidat lebat gadis tersebut. "Sial! Panas!" Belum lagi telapak tangan Sakura yang dingin dan berkeringat, juga mata gadis itu yang bengkak.
Langsung saja Sasori menggendong Sakura ala Bridal Style. Pemuda merah itu mencoba memutar otaknya. Rumah Sakit terlalu jauh dari sini. Sakura harus diistirahatkan dulu.
"Cih, terpaksa aku harus membawanya ke hotel untuk sementara."
Tanpa basa-basi, Sasori langsung menuju hotel yang terletak disebelah kirinya. Ia memesan kamar kemudian merebahkan Sakura di atas kasur yang berukuran sedang.
"Sasuke-kun...jangan pergi..." Sakura kembali menangis dalam keadaan tak sadar. "...aku...tidak ingin putus...hiks,"
Gadis itu masih memanggil nama rivalnya.
Tunggu dulu.
Mereka berdua...putus?
Ah, jadi yang menyebabkan Sakura seperti ini adalah Uchiha itu?
Sasori langsung mengeluarkan isi tas Sakura. Mencari handphone gadis tersebut. Setelah menemukannya, pemuda merah itu langsung menghubungi Sasuke.
Ia punya ide.
"Sasuke, Ah, maaf. Aku tiba-tiba menelponmu dengan handphone Sakura, sekarang aku dan pacar—ah maksudku mantan pacarmu sedang ada di hotel dekat sekolah, sampai jumpa besok, sialan."
Piiip—telepon terputus.
Sasori punya rencana.
Dilain tempat, Sasuke yang sedang dalam tujuan pulang ke rumah, langsung menuju hotel yang dimaksud. Perasaannya mulai tak karuan. Kenapa si wajah bayi itu bisa bersama Sakura?
Apa Sakura termakan ucapan Sasuke yang mengatakan bahwa Sakura lebih baik dengan Sasori saja?
"Sialan!" Sasuke mengumpat.
.
.
.
.
Mata gadis itu terbuka perlahan. Hal pertama yang dia lihat adalah sebuah ruangan putih yang cantik. Gadis itu menajamkan penglihatannya.
Ah, sepertinya ini bukan kamar tidurnya.
"Kau sudah sadar?"
Sakura melirik kearah sumber suara. Ia tersentak kaget. "Sa-sasori!"
"Kau pingsan dan hampir saja kehilangan nyawa! Dasar bodoh! Aku mengkhawatirkanmu!"
Mengkhawatirkan?
Sakura masih takut kepada Sasori. Ia masih ingat kejadian kemarin.
"Maafkan aku Sakura atas perlakuanku yang kemarin, aku...merasa sangat bersalah."
Sakura kemudian bangun dari tempat tidurnya kemudian memeluk Sasori. Walaupun ia masih merasa pusing.
Hangat.
"Tak apa, nasi telah menjadi bubur, Sasori-kun. Semuanya sudah terjadi," Sakura tersenyum. "Aku hargai dan aku terima permintaan maafmu."
Sasori ingin sekali membalas pelukan hangat Sakura. Ingin sekali. Tapi—
—BRAK!—pintu kamar hotel terbuka dengan keras. "Sakura! Kenapa kau bisa bersamanya, hah?!" Mencengkram kedua bahu Sakura dengan kuat, Sasuke menatap tajam gadis tersebut. "Jelaskan padaku!"
"Lepaskan!" Bentak Sakura kasar. "Itu bukan urusanmu lagi Uchiha!"
Sasuke menggeram pelan. "Kau milikku!" Ucapnya. "Kau masih milikku, Haruno! Aku kekasihmu!"
"Ha? Apa katamu?" Sakura berucap sarkastik. "Aku masih milikmu? Kalau begitu kenapa kau mengatakan bahwa kita telah putus dan melakukan hal menjijikkan itu dengan seorang senpai di laboratorium biologi siang kemarin, Hah?!" Airmata gadis itu mulai turun perlahan. "Aku jelas-jelas melihatmu bermesraan dengannya, Uchiha. Kenapa kau malah bertindak seolah kau tidak peduli dan tidak mau tahu bahwa aku memperhatikanmu?"
Uchiha Sasuke terdiam. Pemuda itu mencoba kembali mengingat kejadian yang dikatakan oleh Sakura. Ia diam membisu.
Ia memang melihat Sakura yang sedang mengintipnya saat itu.
Sasuke memang sengaja. Ia hanya kesal.
"Aku bukan mainan! Kau kira aku rela melihatmu dengan senpai tadi, Hah?! Aku tidak bodoh! Aku punya hati!"
Hebat. Kini Sasuke jadi ciut.
"Sa-sakura—"
Gadis itu kecewa.
"—Lebih baik..." Sakura terisak. Rasanya ia benar-benar berat melanjutkan perkataannya. "...kita benar-benar putus."
Sasuke terbelalak kaget.
"A-apa?"
Tu-tunggu dulu.
Sasuke tidak salah dengar kan?
"Kita putus saja," ulang Sakura sembari mengambil tas sekolahnya yang tergeletak tak jauh dari tempat tidur hotel. "aku benar-benar lelah."
"He-hei!" Pemuda raven itu mencoba mencegat Sakura. "Tu-tunggu dulu, aku menolaknya!"
Sasuke meneguk ludahnya pelan.
"A-aku tidak ingin kau putus dariku Sakura!"
"Menjauh dariku." Gadis itu berucap sinis. Kemudian tangannya menarik tangan Sasori yang sedari tadi hanya berdiri sambil menonton pertunjukkan Sasuke dan Sakura. Mencoba pergi dari tempat tersebut.
Detik selanjutnya, Sasuke berani bersumpah. Ia akan berhenti membuat kesalahan yang sangat fatal seperti ini. Ini yang terakhir. Sungguh. Karena ucapan Sakura selanjutnya—
"Aku membencimu. Jangan pernah muncul dihadapanku lagi, brengsek!"
—benar-benar telah merobek hatinya.
.
.
.
.
.
Pangeran berambut raven itu telah membuat si gadis softpink kecewa. Sangat kecewa. Sayangnya pangeran raven itu tidak sadar.
.
.
Jika ia membuat gadis itu kecewa dan semakin kecewa,
.
.
Maka pada ahirnya gadis softpink itu akan memilih si pangeran berambut merah yang telah memperhatikan mereka berdua selama ini.
.
.
Karena...pangeran merah tersebut menunggu detik dimana pangeran raven itu menyakiti si gadis sampai si gadis muak akan keadaan tersebut.
.
.
Dan gadis itu akan memilih untuk bersamanya.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
.
.
Kyaaaaaaaaaaaa~! Selesai! XD
Maaf atas keterlambatan updatenya yang sangat-sangat lambat~ lagi sibuk. Entah kenapa tugas sekolah berteberan dan terbengkalai-_- maafkan saya yang selalu menyelesaikan tugas dengan lambat dan suka ngaret. Maafkan~
Mungkin untuk update chapter depan juga akan sangat-sangat lama. Jadi untuk para readers mohon kesabarannya~ bentar lagi saya kelas 3 SMA! Kyaaaa~
HAPPY ANNIVERSARRY MY HENTAI PRINCE YANG KE-2! SEMOGA FICT MENJADI LEBIH BAIK DARI SEBELUMNYA!
HAPPY BIRTHDAY JUGA BUAT HARUNO SAKURA! SEMOGA MAKIN DISAYANG SASUKE DAN SARADA!
Lupakan ucapan diatas karena telat. *ditimpuk*
Dan di chapter ini kita bertemu dengan konflik lagi. Waaaa hubungan SasuSaku makin diuji aja. Lime-nya juga sedikit (Bahkan hampir gak ada?), karena chapter ini yang lebih mendominasi adalah unsur drama dan romansanya.
Untuk masalah humor, maaf banget kalau ada yang kurang suka ._. Hiks hiks. Insyaallah saya akan membuat fict ini menjadi lebih baik dan mengatur kapan waktu yang tepat unsur humor tersebut harus dimasukkan ke dalam fict ini.
Ah iya, mungkin yang sering bingung kenapa saya sering pakai kata 'Pangeran berambut raven, berambut merah, dan gadis berambut softpink' pada akhir cerita, ya~ sebenarnya cuma iseng aja sih. Gak ada apa-apa kok *ditimpuk*
Yang nunggu Lemon sabar dulu. Pasti muncul kok.
Special Thanks to:
DHDD24, hehe, Guest, Seol Han Na, Guest, Guest, Ariadna, SasukeEunji, Kamal Aji, M Aldy, Guest (Gie-chan), Yoona Ramdanii, BluesCherry, Guest (Iqbal), Kagiru Neovandy, rakhul47, hinata, Guest, fikry, desthabiebergomez12, IndahP, mii-chanchan2, Arisha Kyou, Nur indah, rafki uchiha, Loopend Lilia, uchiha, meiko kazama, minanmi-chan, Dheachan, azuka-nyan (?), uchiha, xd, ichigonaruse, himawarihimeka, lenyfeby86, kimaru, lizzy0421, neko, Kozuki Hana, Guest, Naru Fukuhara Suzuno, Sherinaa, KemiloversFC, Ayunie0424, Guest, Na-san, RagilWooW, palvection, Guest, ddahliana1, Nella Ika Sari, Guest, Azae Haruka no Tsuki, Juan Ziang hei, narnialow2003, Dennis Kim-DK, Guest, Guest, Murasakibara, JonesAkut, bayu t blues, yo, CyntaSilluevaSamudra, R, Little FDeer Chanie94, Guest. Aominemomoi, AsakuraRyu, Rukia, Mamimumemo, gadisranti3251, yollapebriana, Mero no Tenshi, UCHISA,Sabaku no Gaa-chan, Dya Onyx, indri, Saskayfr, Dhezthy UchihAruno, Lhylia Kiryu, Yuriko-chan 51, GSdinda2 Kinky Rain, chiciemaulida, nabila nurmalasari1, Kiki RyuSullChan, Nisa Aprilia, harakim98, Guest, silent reader XD, Guest, Mika-chan, SpindleTree, NaruHinaKarin Forever, Aiko Asari, yosikhan amalia, Jun30, aidilla azzahra, Cherryma, yamaneko achil, Guest, wedusgembel41, insri schorpion, hanazono yuri, azhuichan, Natsu no Yuuki Bx 666, Rizuki Yoshida.
Dan orang-orang yang udah nyemangati aku buat ngelanjut fict ini lewat Facebook dan Twitter.
Maaf jika ada nama yang tidak disebut dan penulisan nama yang salah.
Mohon kritik, saran, dan komentar karena itu semua dapat membuatku menjadi lebih semangat.
Sampai bertemu di Chapter selanjutnya!
Maaf ya, saya tidak bisa balas review satu-satu. Soalnya lagi di warnet (updatenya di warnet gara-gara modem macet) sekalian ngerjakan tugas. Billing warnetnya juga naudzubillah banyak banget. Tak punya banyak waktu *hihi*
Sunday, May 3rd 2015, 02.30 WITA. (Jam selesai ceritanya XD ekeke)
Akhir kata,
REVIEW X3
