;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;
The Devil Never Cry
;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;
.
.
.
Kacau! Semua benar-benar di luar kendali. Jika saja bukan karena mereka, jika bukan karena kenyataan bahwa aku bergantung kepada mereka, jika bukan kelemahan konyol yang membuatku tak jauh beda bodohnya dengan mereka, malam purnama ini pasti telah ku jadikan surga. Surga ku. Di mana hanya ada aku dan bidadari bernama Hatsune Miku yang gemetar ketakutan dalam dekapanku. Bidadari jelita menggigil saat kerangka lengan melingkar di pinggulnya, melenyapkan jarak di antara aku dan dia. Dia menjerit kecil, dia menangis, terbelalak namun tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti permainanku untuk menjadikannya sebuah boneka. Ku hirup wangi aliran kehidupan di balik leher seputih pualam layaknya sebuah cerutu berharga. Ku bisikkan segala hal yang ku gemari sekaligus yang ia takuti, serta apa yang kuharapkan darinya. Membuatnya semakin terpuruk dalam tarian nadi, iringan jantung berketuk menggila, udara yang semakin menipis di balik jeruji diafragma.
Sungguh menyenangkan.
Tapi semua itu pupus! Ku terpaksa harus meredam segala kegilaan fantasi dalam gerusan geraham yang saling beradu menahan geramanku. Musik masih bertalu dari sepasang lengan yang ku tanggalkan di atas piano tua, namun sama sekali tidak bisa menghiburku. Amarah terlanjur meradang hingga ubun-ubun.
"Persetan!"
Kalap. Ku layangkan satu kepalan tangan pada kotak hitam berisi rangkaian dawai di hadapanku. Menghancurkannya dalam sekali hantam. Terima kasih untuk malam ini, sekarang kau bisa beristirahat dengan tenang. Tak perlu lagi merana. Kutukan penantian abadi menunggu seseorang yang akan bersedia menggunakanmu lagi sekarang telah ku lenyapkan.
Ku hampiri bagian tubuhku yang menggeliat heran dengan sikapku. Mereka menggerutu dengan bahasa isyarat jari satu sama lain karena aku mengusik duet mereka. Ayolah anak-anak, waktu bermain sudah habis. Ku acuhkan apapun obrolan mereka dan kembali ku sarungkan pada tulang tempat mereka berasal. Kugerakkan sedikit hingga bunyi gemeretak bisa ku dengar, dan sekarang lebih baik.
Ah, mungkin soal gadis itu bisa ku hiraukan untuk sementara, yang jelas sekarang jiwa terpilih yang menjadi kunci penggerak utama Titan Gate tersebut sudah berada dalam kuasa ku. Tak perlu lagi khawatir akan bala tentara yang akan mereka seret kemari. Di dimensi ini, mereka pasti akan ku lenyapkan.
Satu demi satu.
Sebagai balasan atas semua sikap mereka padaku selama ini. Mengasingkanku, memandangku bak sampah. Hama yang perlu di lenyapkan. Hanya karena aku, satu-satunya di antara mereka yang menyembunyikan seorang Fallen Angel, makhluk terbuang dari Sanctuary para Divine. Para Arogan sejenis dengan mereka, namun berbeda rupa.
Bagi Dark Being, Fallen Angel adalah "barang" tak ternilai. Atau bisa disetarakan gunungan logam mulia. Mereka di jadikan budak para Duke, tidak sedikit juga bernasib menjadi hidangan mahal. Bagi yang sedikit lebih beruntung, setidaknya mereka menjadi "piaraan". Karena memang, makhluk dari kehidupan dalam gemerlap cahaya terbuang ke dasar Chaotic Abyss adalah hal langka. Mereka tidak akan berakhir di tempat tinggalku berada jika bukan karena melanggar aturan para Divine atau di singkirkan oleh sesamanya demi mendapat sebuah kedudukan serta status terpandang dan di akui oleh para cecunguk angkuh semacam Cardinal Seven. Konspirasi busuk di balik sosok sok suci dan mulia.
Semua Fallen Angel, layaknya semua ras mereka, pada awalnya memiliki cahaya benderang bagai bintang, sayap seputih kapas dan cincin kesucian melayang bak mahkota di atas kepala mereka. Sebelum akhirnya cahaya itu di padamkan, sayap indah di nodai hingga menghitam legam, lambang kebanggaan di renggut dan mereka di buang bak rongsokan tak berguna.
x-X-x
Hikari. Shiroishino Hikari. Dialah Fallen Angel yang ku temui saat ku bosan berdiam diri di kediaman besar keluargaku. Mansion of Death. Dia bersembunyi di balik rerimbunan mawar hitam berduri dengan pakaian yang terkoyak dan luka di sekujur tubuh. Dugaanku, selama ini dia menghindar dari kejaran para lesser demon yang melihat keberuntungan di depan mata mereka.
Dia tampak lemah dan sepasang sayap di punggungnya tak memungkinkan lagi untuk di gunakan. Patah. Habis terkoyak. Bulu-bulu yang tersisa rontok berjatuhan, luka yang masih mengucurkan darah terlihat jelas. Jika aku seperti semua penghuni tempat terkutuk ini, mungkin aku akan berpikir bahwa aku telah menemukan seekor anjing di antara jeratan sulur tajam berduri, atau buah persik yang hanya bisa tumbuh di taman sanctuary, atau satu-satunya mawar putih yang mustahil bisa terkembang di antara kuncup-kuncup sehitam jelaga, sehingga bisa ku petik dan kulucuti kelopaknya hingga mati. Tapi aku tidak akan bernasib serupa makhluk ini jika aku sama memuakkannya dengan mereka. Hal yang mustahil terlintas di kepala Dark Being adalah melihat Fallen Angel bukan sebagai budak, hidangan, atau sekedar "piaraan", muncul di benakku.
Dia memandangi ku dengan wajah ketakutan setengah mati, mengeluarkan suara isakan sembari mencoba menyeret tubuh yang sudah di ambang batas. Aku berjalan menghampiri dengan tampang datar seperti orang-orang congkak di sekitarku, tak peduli apa yang ingin ia lakukan kemudian. Berdiri menjulang di depannya dan memperhatikannya untuk sejenak. Makhluk itu menundukkan wajah. Menyerah. Lesser demon baginya saat ini sudah termasuk ancaman, apa lagi aku yang selalu menguarkan kabut hitam di matanya? Keturunan salah satu keluarga besar Cardinal Seven.
"Bunuh aku…" gumamnya waktu itu. Ku terdiam, memicing. "terserah kau mau memakanku atau tidak. Aku tidak mau menjadi budak atau apapun yang ada di kepalamu!" lanjutnya lagi, kali ini suaranya lebih tinggi, bercampur isak tangis.
Tapi sayang, aku sama sekali tidak memikirkan hal semacam itu di kepalaku. Ku berjongkok lalu memandangi berlian biru di matanya. 'Masih bercahaya?' atau memang kedua benda bening itu selalu lebih benderang dari para succubi dan incubi? Itulah pengamatan pertamaku pada sosok ternoda ini. Sejauh sejarah yang tertulis, hampir tidak ada satu pun Fallen Angel masih memiliki, bahkan setitik pun, cahaya di diri mereka.
Makhluk ini segera berpaling dariku saat ku menatapnya barusan. Dariku? Heh? seorang darah biru di Chaotic Abyss?aku? di acuhkan? Sedikit geram, ku cengkeram dagunya dan memaksa bulatan biru itu kembali terfokus padaku. Ia mengerjab. Namun entahlah, emosiku tidak biasanya kembali stabil setelah memperoleh perlakuan demikian. Bibir merah jambu itu bergetar, tergigit. Kelopak mata menutup erat, air mata berjatuhan.
"Siapa namamu…" ucapku dingin. Dia tak mau bicara, ku ulang sekali lagi, dia semakin berani.
"Enyah saja kau! Makhluk menjijikkan!" ingin ku lepas rahang bawahnya saat itu juga, namun lagi-lagi…
"Ini yang ketiga kalinya" aku hanya menarik wajah makhluk ini lebih dekat padaku, mengampuninya "kau tahu sedang berhadapan dengan siapa, bukan? Setidaknya kau memilih pilihan yang bijak dengan menghargai nyawamu sendiri karena aku bukan lesser demon. Aku bisa melakukan hal lebih buruk pada nyawamu, sekedar hanya mengupasnya dari raga"
Dia terbelalak, napasnya tercekat. Lalu ekspresi dan reaksi itu lenyap. Berganti penyerahan diri. Mutlak. "Shiroi…Shiroishino Hikari"
Aku pun tersenyum penuh kemenangan.
x-X-x
Sedikit kisah masa lalu. Hikari. Karena dia, aku di buang, di kucilkan, setelah harus menikmati dagingnya di hidangan pada malam di mana semua keluarga besar Cardinal Seven di kumpulkan dalam pesta penjatuhan hukuman. Bahkan aku di pertontonkan pada kerangka tubuhnya yang di lekatkan di tiang salib, hanya menyisakan bagian kepala saja yang utuh, tertunduk menatap lantai mansion, setelah tirai merah di singkap dan semua orang tertawa terbahak-bahak.
Tepatnya tiga belas bulan setelah diam-diam ku menyembunyikannya di balik bayanganku, otoritasku sebagai bagian keluarga.
Aku tahu hidung mereka cukup tajam untuk bisa mengendus bangkai meski terkubur di perut bumi. Mungkin sebenarnya mereka telah tahu apa yang ku lakukan, membiarkanku senang sepuas hati, lalu mengolok-olokku dengan cara paling keji, sebagai si bungsu yang selalu di remehkan dan di pandang rendah serta bahan tertawaan.
Tahukah mereka bahwa hal itu adalah keputusan paling fatal? Tentu tidak. Hingga sebuah gulungan kuno Fantasinian mengatakan bahwa kerajaan kegelapan akan diruntuhkan dan dilahirkan kembali oleh pertemuan cahaya yang meredup dan kegelapan yang mulai meremang. Serta orang yang menjadi korban pertamaku, pewaris gelar Beelzebub, kakak sulungku sendiri.
Satu mata rantai telah putus jauh di masa lalu.
Fantasinian, sudah lama mereka bersitegang dengan dunia bawah. Kehadiranku di antara mereka tentu membawa angin segar akan harapan keseimbangan yang semakin rusak akibat kebrutalan kaumku sendiri. Meski aku termasuk di antara mereka. Ah apa peduliku. Aku akan membayar harga hidangan yang mereka suguhkan khusus untukku malam itu.
"Hei, tidak lapar?" aroma orang mati kucium dari tubuh makhluk yang mengusik waktu sendiriku kali ini. Satu-satunya makhluk aneh yang pernah sampai di gambarkan memilki kulit bersinar jika terpoles cahaya matahari. Padahal sebenarnya, dia akan lemas seperti siput menyeret cangkang sendiri sambil menguap berkali-kali.
"Ternyata hanya sebuah terong berjalan" sindir ku sambil tetap membelakanginya.
"Ayolah, mengapa semua memangilku terong? Adakah julukan yang lebih baik?" gerutunya. "bahkan gadis yang mirip bawang musim semi itu menertawaiku"
Miku menertawaimu? Aku bersyukur. "Baiklah, Om-om cabul lebih cocok untukmu" kali ini aku seperti mendengar suara benda jatuh membentur lantai.
"Selain terong dan om-om cabul?!" protesnya.
"Maaf Kamui, aku bukan orang tuamu, jadi aku tidak punya hak memberimu nama" simpel. Habis perkara. Kurasa dia akan pergi entah kemana lagi, dasar pengacau.
"Berdiri melamun memandang rembulan, huh?" kelebihan seseorang berpredikat playboy? Pertanyaan atau ungkapan yang sama pada satu tema pasti akan ia ulang-ulang dengan berbagai versi "cukup lama ku dengar kisah seorang The Forgotten One, namun ku tak pernah tahu siapa gerangan orang yang menjadi sumbu penyulut amukannya"
"Aku bukan orang yang akan membagi rahasia dengan mudah, Kamui" lebih tepatnya aku tak suka seseorang mencampuri urusanku "apa kau siap ku lenyapkan? Karena mustahil orang yang sudah mati untuk mengalami hal serupa dua kali"
Lelaki ini melenguh, mengabaikan ancamanku. "Setidaknya sesekali kau meluapkannya. Memendam terlalu lama bisa membuatmu sinting"
"Sinting? Aku sudah lama menjadi sinting, menjadi gila, tidak waras. Sebutkan saja satu persatu. Itu lah motor penggerak roda gigi bernama dendam hingga aku bisa sejauh ini" aku berpaling padanya, vampire berseragam hampir menyerupai pasukan shogun itu malah sibuk dengan pedang yang ia hunus dari sarungnya. Membersihkan permukaan yang mengkilat tajam dan memperhatikan pantulan di sana lekat-lekat. Lalu tertawa.
"Ku pikir, iblis boleh saja menangis" apa kau bercanda? Permainan video game pasti meracuni otakmu. Lucu sekali. Tetapi…
"Bagiku, Iblis tak pernah menangis, Kamui" jika iblis yang kau maksud adalah aku. Aku tidak ingin dia melihatku sebagai sosok lemah di sini. Jiwanya mungkin lenyap, atau mungkin juga karena aku tidak memperoleh kesempatan untuk kembali berjumpa, siapa tahu? Meski seumpama dia ada di sini dan kemampuanku tak mampu melacak keberadaannya. Aku tidak akan menangis, karena di malam pesta itu pun aku tidak ingin melihat ilusi optik yang membuat bibirnya tampak tersenyum bahagia saat aku harus menelan setiap sisa-sisa tubuhnya dengan tenggorokan serasa gersang tak berair serta mata yang perih bagai terbakar.
.
.
.
A/N : Terima kasih atas waktu luangnya untuk menyempatkan diri membaca Fic abal-abal author. Maaf jika sedikit mengecewakan karena ini bukan Miku Part. Karena author sudah menjelaskan bahwa fic ini akan berubah dari rencana awal yaitu pairing antara OC dan Miku menjadi dua Arc yang berbeda, OC dan Miku x Rinto. Kurang Dark jika di bandingkan chapter-chapter sebelumnya? T-T, Dilemma ngelanjutin fic lama. Hmm, sedikit pertanyaan, apakah ini adalah orific berkedok fanfic atau fanfic menurut kalian? soalnya OC bertebaran sih. n_na
Beelzebub:"apanya yang beterbaran, agan doang yang nongol, aneh malah di bunuh dengan kejam, T-T. bayangin aja, reader, belum nongol uda tinggal nisan, padahal di bawah masih seger penuh bacotan?! Hatiku sakit..."
-_- Kebanyakan nonton sinetron lu Beelz. Lagian emang uda gatel gue pingin bikin lu diem, soalnya ga ada tombol mute nya. abis-abisin kuota aja. XDDD
Beelzebub:"ente kan paket unlimit, :D"
