Wife in your life

By. Hikari Hyun Arisawa

.

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, but this fic is mine!

Rated : M

Pair : SasuSaku

Genre : Drama, Hurt/comfort

Summary : Bagaimana kehidupan Sakura yang kini berstatus sebagai istri kedua dari Uchiha Sasuke? Inilah kisah mereka yang bermula dari janji suci yang diikrarkan dalam suatu ritual yang disebut 'Pernikahan'.

AU. Normal POV. OOC. RnR please.

.

.

===000===

.

.

Sekali lagi senyum bahagia menghiasi wajah manis Sakura ketika Sasuke memeluknya dari belakang. Rasanya hangat meski angin di padang rumput saat sore hari terlalu sejuk.

Kini Sakura mulai menggumamkan nada dari sebuah lagu yang tiba-tiba saja terlintas di benaknya. Dia tidak yakin itu lagu apa. Hanya menggumamkan nadanya saja di saat seperti ini sudah membuatnya begitu tenang.

"Apa kau lelah? Kita sudah cukup lama berada di sini," tanya Sasuke sambil mengecup pelan pelipis Sakura.

Sakura menggeleng cepat. Dia mengangkat kepalanya untuk menatap wajah suaminya.

"Aku masih ingin menikmati hari ini bersamamu. Jarang-jarang 'kan Sasuke-kun baik padaku,"

"Hey, kau menyindirku lagi," dengus Sasuke.

Sakura hanya tersenyum kecil. Dia berbalik dan berjinjit untuk memberi sebuah ciuman kecil di bibir suaminya.

Mau tidak mau Sasuke tersenyum melihat istrinya yang kini terlihat begitu bahagia.

Dia mengelus pelan rambut halus Sakura dan mendekatkan dirinya untuk mencium wanita yang begitu dicintainya itu.

Sakura tersenyum di tengah ciumannya dengan Sasuke. Sudah sangat lama sejak mereka berdua datang kemari secara bersama-sama. Dan ciuman panjang ini membuat mereka berdua seperti memutar kembali waktu yang telah mereka lalui bersama. Dari masa kecil mereka sampai hari ini. Menyimpan kenangan yang menyakitkan dan menjadikan itu semua bagian dari pelajaran dalam perjalanan hidup mereka. Kemudian, mengenang dan menyimpan dengan jelas semua kenangan indah yang akan selalu membuat mereka merasa saling jatuh cinta satu sama lain setiap mengingatnya.

.

.

.

"Untuk apa kita kemari? Kita sudah berkali-kali datang ke sini dan tidak ada Sakura di tempat ini," kata Ino dengan nada sedikit kesal.

"Aku hanya ingin memastikannya sekali lagi," jawab Gaara sambil melihat-lihat ke sekitar padang rumput itu.

Dia menghentikan jalannya ketika dia melihat mobil Sasuke terparkir di seberang sana. Kemudian pria berambut merah itu cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke padang rumput untuk mencari sosok wanita yang dicarinya selama beberapa hari ini.

Kini tatapannya terpaku pada dua orang yang saling memagut bibir dengan mesra di tengah padang rumput. Hatinya seakan kembali hancur melihat itu semua. Rasa sakit yang melebihi ketika Sasuke merebut Sakura darinya. Jauh melebihi itu. Rasa sakit hatinya sekarang lebih kepada rasa kecewa terhadap dirinya sendiri yang tidak pernah mampu menjadi sosok yang diinginkan oleh Sakura.

Dan sekarang perasaan itu benar-benar melukai hatinya –terlalu dalam.

Ino sedikit bingung pada Gaara yang tiba-tiba saja berhenti berjalan. Dia mengikuti arah pandangan Gaara dan melihat Sasuke dan Sakura di tengah padang rumput. Mereka kini terlihat tersenyum satu sama lain sambil sesekali saling memagut bibir.

"Gaara," panggil Ino pelan sambil menatap khawatir pada pria berambut merah di sebelahnya.

Gadis berambut blonde itu tahu jelas kalau Gaara pasti benar-benar terluka. Pria di sebelahnya sudah terlalu lama memiliki perasaan pada Sakura.

Tubuh Ino sedikit bergetar ketika Gaara tiba-tiba saja menggenggam erat tangannya. Dia tahu bahwa sekarang Gaara butuh seseorang untuk menopangnya. Perlahan, dengan satu tangan yang lain, dia menepuk bahu Gaara untuk menguatkan pria itu.

Gaara hanya terdiam. Dia melangkah pergi dari padang rumput itu untuk kembali menuju mobilnya –dengan masih menggenggam tangan Ino.

.

.

===000===

.

.

"Gaara, cukup. Kau sudah terlalu mabuk," kata Ino sambil mencegah Gaara yang akan meraih lagi botol wine di depannya.

Gaara yang sudah terlalu mabuk pun menjatuhkan kepalanya di meja bar dengan tangannya sendiri sebagai alasnya. Dia menggumam tidak jelas meski sesekali menyebut nama Sakura. Dan itu sejujurnya juga membuat Ino terluka.

"Ayo pulang! Ini sudah larut malam," ajak Ino.

"Nghh," Gaara yang sudah tidak sadar hanya bisa menurut saat Ino memapahnya keluar dari bar.

.

.

.

Ino membaringkan tubuh Gaara di kamar tamu yang dulu ditempati Sakura sewaktu wanita berambut pink itu menginap di rumahnya. Ino menghela nafas berat. Dia benar-benar kesulitan memapah Gaara dari bar menuju mobilnya, sampai akhirnya dia kembali memapah Gaara menuju kamar ini.

Perlahan, dia melepas sepatu yang dipakai pria berambut merah itu. Dia agak miris melihat pria yang dicintainya kini benar-benar terlihat menyedihkan.

Gaara kembali terdengar menggumamkan sesuatu sampai akhirnya dia setengah sadar mencoba untuk duduk dan menatap sekeliling dengan pandangan bingung.

"Kau di rumahku," kata Ino yang seolah dapat membaca pikiran Gaara yang sebenarnya sekarang tidak begitu sadar.

Dia kembali menatap Ino yang duduk di tepi ranjang dengan tatapan aneh. Entah apa yang merasukinya sampai dengan tiba-tiba dia mendekatkan dirinya pada Ino. Dia menangkup pipi wanita berambut blonde itu dan mencium bibirnya dengan kasar.

Ino perlu beberapa detik sampai dia sadar dari keterkejutannya. Dia berusaha memberontak saat Gaara merebahkannya di tempat tidur secara paksa. Dia berusaha melawan dan berteriak sampai sebuah tamparan mendarat di pipinya.

Ino terdiam menyadari bahwa Gaara baru saja menamparnya. Dia merasa ketakutan. Entah kenapa dia benar-benar takut pada sosok Gaara sekarang.

Seakan tidak merasa telah menampar Ino adalah sebuah kesalahan, Gaara menenggelamkan kepalanya di leher Ino. Mencium dan menggigitnya di berbagai tempat dan tidak segan-segan membentak wanita itu jika kembali memberontak.

"Jangan lakukan itu... ku mohon," bisik Ino sambil menutup matanya.

.

.

===000===

.

.

"Hey... aku hanya sebentar ke sana," kata Sasuke sambil membujuk Sakura yang terlihat merajuk.

Ini hari kedua Sasuke menginap di tempat Sakura. Pria itu kini merasa benar-benar yakin dengan pilihannya sekarang. Dia ingin menyelesaikan semuanya. Menyelesaikan semua hal yang dari awal tidak pernah dia inginkan. Mengakhiri apa yang harusnya sejak dulu dia akhiri. Urusannya dengan Hinata, pria itu berniat mengakhiri semuanya –hari ini juga.

"Aku tidak suka kau kembali ke rumah itu. Aku tidak suka kau bertemu dengan Hinata!"

Sasuke tersenyum simpul dan memeluk istrinya erat.

"Dengar, aku ke sana hanya untuk menyelesaikan beberapa urusan dengannya. Setelah itu aku janji kita akan hidup tanpa bayang-bayangnya lagi. Kau mengerti maksudku 'kan?"

"Tapi perasaanku tidak enak. Aku takut kau tidak akan kembali padaku lagi," entah kenapa kali ini Sakura menangis. Tidak biasanya dia sesensitif ini padahal Sasuke hanya akan kembali ke rumahnya sebentar.

"Ssshhh, jangan menangis. Aku janji, begitu urusanku selesai, aku akan kembali secepatnya. Kau percaya padaku 'kan?" Sasuke menenangkan Sakura sambil mengelus pelan rambut panjangnya.

Sakura hanya mengangguk lemah untuk menjawab pertanyaan suaminya. Entah kenapa dia enggan untuk berbicara lebih lanjut. Perasaannya benar-benar tidak enak. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di benaknya tapi dia tidak tahu mengapa.

Bagi wanita itu, yang dirasakannya sekarang begitu membingungkan. Tanpa alasan, hatinya terasa begitu berat untuk mengijinkan Sasuke pergi –meski suaminya hanya pergi ke tempat Hinata.

"Aku akan menyuruh orang untuk kemari agar membantumu mengurus rumah. Jangan terlalu memaksakan diri, aku tidak mau kau kelelahan," ucap Sasuke sambil melepaskan pelukannya.

"Jaga anak kita selagi aku pergi. Aku mencintaimu," Sasuke mengecup singkat kening istrinya, kemudian melangkah menuju mobilnya.

Sakura masih terpaku di tempat. Menatap nanar pada sosok Sasuke yang telah meninggalkan halaman depan rumah dengan mobilnya.

"Aku juga mencintaimu," gumam Sakura pelan, meski ia tahu Sasuke sudah tidak di situ dan tidak mungkin mendengarnya.

Lagi-lagi dia tidak tahu mengapa hari ini begitu terasa rumit. Bahkan dia tidak punya alasan mengapa sekarang air matanya keluar. Dia hanya berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk lagi dalam hidupnya.

.

.

"Setelah ini, semuanya akan baik-baik saja. Aku janji," gumam Sasuke lirih sambil mengemudikan mobilnya.

.

===000===

.

Ino melangkah masuk ke rumah orang tuanya dengan sedikit tertatih. Rasa nyeri masih ia rasakan di bagian bawah tubuhnya setelah semalam Gaara menidurinya secara paksa.

Dia tidak ingin menangis lagi.

Kini ia lebih memilih pergi bersembunyi di rumah orang tuanya agar tidak bertemu dengan Gaara. Dia benar-benar tidak mau bertemu dengan pria itu.

.

.

===000===

.

Sasuke melangkah masuk ke dalam rumah setelah Hinata membukakan pintu. Wanita itu terlihat lelah. Raut wajahnya begitu sayu meski saat ini ia sedang tersenyum manis menatap suaminya yang baru saja pulang ke rumah.

"Aku merindukanmu," ucap Hinata sambil memeluk tubuh Sasuke dengan erat.

Pria berambut raven itu hanya terdiam. Ia sedikit mendorong pelan tubuh Hinata agar wanita itu melepaskan rengkuhannya. Ia merasa harus mengakhiri semuanya sekarang. Semua yang dari awal tidak ia inginkan –seharusnya ia sudah berniat melakukan ini dari dulu. Meninggalkan wanita ini dan hidup bersama wanita berambut merah muda itu menjadi prioritas utamanya sekarang.

Kedua bola mata Hinata menatap bingung menerima reaksi dingin dari suaminya. Tidak biasanya Sasuke bersikap begitu dingin padanya.

"Aku ingin bicara denganmu," kata Sasuke sambil melangkah masuk ke dalam rumah.

Hinata ikut duduk di samping suaminya di sofa ruang tamu. Pandangannya begitu menyiratkan kebingungan. Ada rasa curiga, penasaran, serta rasa takut yang tiba-tiba saja dirasakan olehnya. Ya! Wanita itu mendadak merasa takut melihat suaminya sekarang. Bukan rasa takut karena sosoknya. Namun lebih kepada situasi yang kini terjadi.

Perasaan takut untuk hidup sendiri membuatnya begitu tidak tenang sekarang. Ia tidak mau lagi jika Sasuke berniat untuk meninggalkannya seperti dulu. Entah kenapa ia mempunyai firasat ke arah sana.

"Kita... bercerai saja," ucap Sasuke lirih.

Hinata tidak percaya dengan apa yang kini ia dengar. Sedikit tertawa sinis, dia menatap Sasuke dengan pandangan sengit. Perasaan takutnya kini berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Ia takut kalah. Kalah dari wanita merah muda itu. Dan membiarkan mereka bahagia atas kesendiriannya bukanlah tujuannya. Ia akan melakukan segala cara untuk mempertahankan situasi yang telah dibuatnya. Mereka belum cukup menderita seperti yang ia rasakan. Dan mereka pantas untuk menerima itu semua. Setidaknya itulah yang kini ada di pikiran Hinata.

"Aku yang akan memutuskan kapan kita berpisah –atau bahkan tidak berpisah sama sekali! Dengarkan aku, Sasuke, kau tidak berhak mengatakan itu padaku setelah apa yang telah kau perbuat pada keluargaku!" Hinata sedikit meninggikan suaranya. Sekali lagi ia menatap Sasuke dengan wajah sengit.

Mendapat perkataan seperti itu dari Hinata, Sasuke pun beranjak dari duduknya. Ia menatap wanita itu dengan tatapan tajamnya. Sedikit menghela nafas sebelum akhirnya ia mengatakan apa yang ingin dikatakannya selama ini.

"Persetan dengan semua itu! Aku sudah jenuh menghadapimu! Aku akan pergi darimu –tak peduli kau suka atau tidak!"

Hinata ikut berdiri. Ia balas menatap Sasuke dengan tatapan marah yang luar biasa. Kedua jemari tangannya mengepal erat. Ia benar-benar kesal sekarang.

"Kau mau aku bagaimana, Sasuke? Membiarkan kau pergi dan bahagia bersama wanita jalang itu? Cih! Sampai mati pun aku tidak rela kau bahagia!"

Plak!

Sebuh tamparan keras dari Sasuke membuat tubuh Hinata terjatuh di sofa.

"Jaga ucapanmu, Hinata! Jika kau berani mengatakan istriku adalah wanita jalang, lalu kau bisa sebut dirimu sendiri sebagai apa? Kau bahkan lebih rendah dari pelacur jalanan!"

Dengan langkah cepat, Sasuke melangkah menaiki tangga. Ia bergegas masuk ke kamarnya untuk mengemasi seluruh barang-barangnya. Dia sudah tidak ingin tinggal di tempat ini lagi.

Pria itu sedang menata baju di kopernya saat Hinata menyusulnya masuk ke dalam kamar. Wanita itu duduk di tepi ranjang sambil menatap Sasuke yang masih sibuk mengemasi barang-barangnya.

"Kali ini kau serius akan pergi? Kau sudah lupa saat tempo hari kau ingin pergi dariku? Aku bisa melakukan apa saja yang lebih buruk dari itu!"

Sasuke menghentikan kegiatannya. Kali ini ia menatap Hinata dengan raut marah. Masih dia ingat saat ia bilang pada Hinata bahwa ia ingin mengakhiri semua ini. Saat itu Hinata begitu marah. Hal buruk yang Hinata lakukan waktu itu adalah mendorong Sakura dan membuat perutnya terbentur. Hampir saja Sasuke dan Sakura kehilangan calon bayinya karena kemarahan Hinata waktu itu. Dan saat itu, ia tidak tahu harus bersikap seperti apa.

"Aku ingin mengakhiri ini dengan cara yang semestinya. Kau tidak perlu khawatir masalah tempat tinggal dan pekerjaanmu. Aku sudah mengurus semuanya."

Sasuke mengambil sebuah dokumen di dalam tas kerjanya. Ia menyerahkan dokumen itu pada Hinata yang masih duduk di pinggir ranjang.

Sasuke berencana berpisah baik-baik dengan Hinata. Di dalam dokumen tersebut, ada surat-surat kepemilikan. Sasuke menyerahkan rumah ini dengan hak kepemilikan atas nama Hinata. Juga memberikan hak kepemilikan butik kecil itu atas nama Hinata. Semua ia serahkan sekaligus uang dengan jumlah besar yang sudah ia kirimkan ke rekening wanita itu.

Sasuke benar-benar ingin pergi. Ia sudah tidak ingin berurusan dengan Hinata lagi. Sakura sudah sangat menderita karenanya. Ia tidak akan membiarkan Hinata merusak kebahagiaannya sekali lagi.

"Cih! Kau pikir dengan memberiku semua ini bisa membuatku pergi dari hidupmu?"

Hinata melempar dokumen itu dengan kasar. Sorot mata tajamnya kembali menatap sengit pada Sasuke.

"Aku tidak butuh uangmu! Kau tidak akan bisa menyingkirkanku semudah itu, Sasuke!"

Sasuke hanya mendecih pelan dan kembali mengemasi barang-barangnya.

Sebuah senyum tipis terlukis di wajahnya begitu ia menutup koper besar miliknya. Ia telah selesai berkemas.

Sebentar lagi... semuanya akan berakhir. Ia akan bebas dan bisa bahagia bersama wanita yang benar-benar ia cintai selama ini.

"Tidak peduli kau suka atau tidak! Aku sudah muak denganmu, Hinata!"

Setelah mengatakan itu, Sasuke menyeret kopernya untuk keluar dari kamar mereka.

Sesaat Hinata terdiam. Ia seperti mendapat sebuah pukulan besar di hatinya saat kini Sasuke benar-benar akan meninggalkannya. Ia takut.

Takut.

Sangat takut.

Sampai rasanya ia akan mati begitu Sasuke keluar dari rumah ini.

Pikiran wanita itu tiba-tiba kalut. Ia bahkan sudah hampir tidak bisa berpikir lagi. Tubuhnya mendadak bergetar. Nafasnya sedikit tercekat. Ia merasa harus menghentikan Sasuke. Ia merasa harus melakukan sesuatu. Sesuatu yang bisa membuat Sasuke tidak akan bisa pergi kemanapun lagi. Pria itu miliknya dan ia akan melakukan apapun untuk mempertahankannya.

Dengan terburu-buru, Hinata mengambil sebuah benda berwarna hitam yang ia sembunyikan di bawah bantalnya. Ia sedikit gemetar saat menggenggam benda itu. Namun rasa takut dan kegundahannya menjadi sebuah kekuatan tersendiri untuknya sekarang.

"SASUKE!" Hinata beranjak dari kamarnya dan sedikit berlari menyusul Sasuke.

Mendengar wanita itu memanggilnya, Sasuke yang sedang menuruni tangga pun menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menemukan sosok Hinata yang kini berdiri agak jauh di belakangnya.

"Aku akan membiarkan kau pergi. Setelah aku membalas semua dendamku!"

.

'Duarr!'

.

"Ugh!" Sasuke hampir kehilangan keseimbangannya saat tiba-tiba sebuah peluru bersarang di dadanya. Lututnya terasa lemas menahan rasa sakit yang ia rasakan. Matanya berkunang-kunang. Namun ia masih sadar dan bisa melihat Hinata yang kini kembali mengarahkan sebuah pistol berwarna hitam tepat ke arahnya sambil tersenyum sinis padanya.

"Itu untuk ayahku!"

.

'Duarr!'

.

"AAARGHH!"

Peluru kedua kembali mengenai dada Sasuke. Agaknya Hinata benar-benar ingin membuat pria itu kehilangan nyawanya.

"Itu untuk Ibuku," ucap Hinata sambil menatap dingin pada sosok Sasuke yang kini mulai berlumuran darah.

Sasuke benar-benar ingin lari. Ia ingin pergi. Menjauh dan menyelamatkan dirinya. Namun ia tidak bisa. Tubuhnya sudah tidak bisa bergerak sama sekali. Rasa sakit begitu hebat menjalari seluruh tubuhnya. Tetesan-tetesan darah terus saja keluar merembes dari luka di dadanya. Bahkan kemejanya pun sudah berubah warna menjadi kemerahan.

Sasuke masih ingin hidup. Ia belum bisa membahagiakan Sakura. Ia belum melihat janinnya tubuh menjadi bayi yang nantinya menjadi anak yang sehat dan pintar. Masih banyak yang belum ia lakukan.

"Uhuk! Ughh... !" Seketika tubuh Sasuke yang terus melemas pun ambruk. Ia terjatuh dan terguling dari anak tangga tengah sampai ke lantai bawah. Tubuh yang kini berlumuran darah itu terlihat bergetar menahan rasa sakit yang begitu besar.

Hinata hanya tertawa keras melihat Sasuke tergeletak tak berdaya di ujung bawah tangga. Perlahan wanita itu menuruni beberapa anak tangga sebelum kembali mengarahkan pistol di tangannya pada tubuh Sasuke.

"Ini untuk janinku!"

.

'Duarr!'

.

"Aghhh!" sebuah pekikan kecil dari Sasuke terdengar saat peluru ketiga kembali bersarang di dadanya.

Pria itu sudah tidak sanggup lagi. Rasa sakit yang ia rasakan begitu hebat. Apa ini sungguh sebuah akhir?

Apa akhir hidupnya memang harus seperti ini?

Ia terus bertanya dalam hati. Sebelum akhirnya ia sudah benar-benar tidak sanggup untuk mempertahankan kesadarannya.

.

'Jika ini memang akhir, maka tidak apa. setidaknya aku sudah sempat membuat Sakura tersenyum. Meski hanya sebentar. Meski begitu singkat.'

.

======0000======

.

.

"Akh!" Sakura memekik kecil saat ia tidak sengaja membuat sebuah sayatan kecil di jarinya ketika mengupas buah apel merah.

Bagai sebuah firasat buruk, ia menatap resah pada buah apel merah di tangannya. Bukankah buah apel merah adalah buah yang membuat Snow White tertidur panjang? Buah beracun yang dikirimkan oleh ratu jahat untuk membunuh Snow White.

Seolah buah apel merah di tangannya adalah buah beracun milik ratu jahat, Sakura merasa tubuhnya sedikit bergetar tanpa alasan yang jelas. Nafasnya sedikit tercekat. Jantungnya berdetak begitu cepat.

Mungkin sebuah pertanda. Mungkin sebuah petunjuk. Bukan karena buah apel tersebut. Namun Sakura tahu firasat buruk yang ia rasakan semenjak Sasuke pergi adalah nyata.

"Sasuke-kun... apa yang telah terjadi..." Sakura menggumam kecil.

Air matanya turun tiba-tiba. Ia tidak sedang sedih. Namun kegundahan yang besar membuatnya tak tahan untuk membendung perasaannya.

Ia tahu ada yang tidak beres dengan Hinata. Sakura tidak begitu mengerti namun ia bisa merasakan bahwa Hinata adalah wanita aneh. Wanita dengan gangguan mental yang berbahaya.

Memikirkan semua itu membuat air mata tak juga berhenti membasahi pipi indah Sakura. Ia sudah tidak tahu harus bagaimana. Ia hanya bisa percaya pada kata-kata Sasuke sebelum pria itu pergi ke tempat Hinata.

.

"Ssshhh, jangan menangis. Aku janji, begitu urusanku selesai, aku akan kembali secepatnya. Kau percaya padaku,'kan?"

.

Dengan mengingat kata-kata itu, Sakura perlahan menyeka air matanya sendiri. Ia tersenyum miris sambil mengumam kecil "Kau akan kembali 'kan, Sasuke-kun?"

.

.

TBC

====0000====

a/n : *ngumpet di kolong meja* jangan bunuh saya kalau fic-nya jadi gini. _ okeh2 saya kasih tahu dikit, chapter depan udah ending. Maaf saya sudah menelantarkan fic ini sekian lama.
Mind to review? ^^