Kenapa kau belum tertidur?"

"Aku menunggumu," Baekhyun tersenyum, ia segera merapat pada Chanyeol tepat setelah namja itu duduk di pinggir kasur.

"Ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?"

"Apa kau lelah?" Baekhyun balik bertanya,

"Tidak," Chanyeol mengerutkan kening, "Memangnya kenapa?"

"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Aku hanya berfikir jika saja kau ingin mendengarkan..."

"Apa itu?"

Chanyeol dapat melihat, Baekhyun dengan jelas menghela nafasya pelan. Kemudian ia menariknya lagi, dan menahan nafasnya agar tetap di dalam tubuhnya

"Apakah.. Kau menyesal?"

Alis Chanyeol dengan cepat menukik, "Memangnya apa yang perlu kusesali?"

Baekhyun menatapnya lama, terlihat seperti sedang menimbang nimbang apakah ia harus menjelaskannya pada Chanyeol atau tidak. Setelah itu, namja yang lebih mungil menghela nafasnya lagi dengan berat. Memutuskan untuk menenggelamkan diri dikasur dan selimutnya yang tebal. Memunggungi Chanyeol dan berkata dengan amat pelan,

"Lupakan"
"Katakan" Chanyeol memaksa, "Katakan sekarang, apa yang harus kusesali?"

Hanya hembusan nafas Baekhyun yang membalas perkataannya

"Baek," Panggilnya pelan, ia meringsut ke dalam selimut dan menghadap punggung Baekhyun

"Daehye.." Baekhyun bergumam

"Kau sudah membiarkan Kim membunuhnya" Baekhyun melanjutkan.

Chanyeol terdiam, "Apakah kau berfikir.."

"Ya" Potong Baekhyun, lalu ia berbalik menatap Chanyeol tepat di maniknya.

"Untuk apa aku menyesalinya?" Chanyeol menjawab dengan datar "Ia bahkan tak berharga bagiku"

"Lalu kalau aku yang ada di posisi Daehye, dan Daehye berada di posisiku, siapa yang akan kuselamatkan?"

Chanyeol terdiam, menatap Baekhyun dengan manik yang penuh emosi didalamnya. Sepersekian tahun yang ia lewati bersama Baekhyun, ia baru menyadarinya sekarang. Cinta Baekhyun padanya telah membuat namja itu sesak. Cintanya telah membunuhnya. Ia dengan begitu mudah tergoyahkan pada suatu masalah sepele, karena cintanya telah berubah menjadi racun yang begitu kental.

Tapi ia menyukainya.

Chanyeol tersenyum, dan mengecup kening Baekhyun

"Aku tak akan membiarkanmu ada di posisi Daehye"

Chanyeol tetap tersenyum

"Karena kau adalah aku. Aku adalah kau."

Baekhyun menatap siluetnya dari manik Chanyeol

"Karena cinta kita telah menjadi racun"

Melihat Baekhyun yang diam dan tertegun, Chanyeol tertawa kecil

"Cintamu dan cintaku. Melebur dan membentuk racun"
Ia menjulurkan tangannya, mengelus tangan Baekhyun. Mengelusnya dalam tawanya

"Kau tau kenapa aku tak pernah mencintai Daehye?"
Baekhyun mengangkat kepalanya untuk kembali menatap Chanyeol. Bibirnya bergerak dan terangkat, "Kenapa?"

"Ia tak membuatku merasa ingin melindunginya"

Chanyeol menyeringgai

"Ia memaksaku untuk melindunginya"


Bagian Ke Sembilan

"Katakan padaku"


"Hanya berikan mereka kepadaku" Jaemin mengeratkan cengkramannya pada pistol yang dipegangnya "Bukankah dengan begitu, urusan kita selesai? Kau akan mendapatkan kembali milikmu dengan kepala yang utuh, dan aku akan mendapatkan kembali saudaraku dan kekasihnya? Bukankah itu sudah cukup adil?"

"Jangan pernah mencoba untuk bernegosiasi denganku, brengsek" Chanyeol menggeram marah, ia maju selangkah dan menodongkan pistolnya tepat pada dada Jaemin "Cepat berikan Baekhyun kepadaku, setelah itu, aku akan mengantarkanmu kepada kematian yang sesungguhnya"

Jaemin dapat merasakan tengkuknya merinding karena perkataan Chanyeol. Tapi ia tidak boleh menyerah, masih banyak yang harus ia lakukan agar Jaeyeol dan Daehye kembali kepadanya.
"Jaemin," Sehun membuka suaranya "Cukup berikan Baekhyun kepadanya, sebelum-"

"Memangnya apa yang penting dari Baekhyun, huh?!" Jaemin mengeraskan suaranya, merangkul Baekhyun dengan kasar. "Ia hanyalah seorang kelinci kecil, yang jatuh ke wilayahnmu, dan kau secara tiba tiba membuang Daehye yang amat mencintaimu, membuat gadis itu terpuruk bertahun tahun. Tapi kenapa?! Apa yang Baekhyun punya yang tidak dimiliki oleh Daehye?!"

Jaeyeol terkejut. Ia terdiam dan mendongakkan kepalanya, menatap kakaknya yang terlihat berantakan.

"Cuih" Chanyeol meludah dan terkekeh

"Daehye? Kelebihan Baekhyun yang tidak dimiliki oleh jalang itu?"

DOR

"JAGA MULUTMU BRENGSEK!" Chanyeol melepaskan pelurunya dan menembak tepat pada tangan Jaemin,

DOR

"JALANG BODOHMU ITU BAHKAN TAK LEBIH MENARIK DARI JARI BAEKHYUN-KU!"

Dilanjutkan dengan dada kanannya, Jaemin terjatuh, ia terbatuk dan warna merah segera mengucur mewarnai lantai.
Luhan bergerak cepat, ia meraih Baekhyun dari lengan Jaemin dan melindunginya di balik punggungnya

"Tidak aman bagimu untuk terus berada disini" Luhan berbisik, ia melirik Baekhyun yang bergetar hebat

"Sehun tolong bawa dia ke belakang, aku harus mengatasi Jaeyeol dan Daehye!"

Sehun menoleh dan begitu ia mendapati Baekhyun yang terlihat seperti ingin menangis, ia segera menangkap Baekhyun ke pelukannya dan membawanya ke ruang terjauh dari medan baku tembak Chanyeol dan Jaemin. Sehun mengelus surai Baekhyun dan memeluknya, membisikkan kata kata penenang di telinganya dan menepuk nepuk bahu anak itu agar tangisannya mereda.

"S-sehun"
Sehun berdehem sebagai jawaban,

"A-a-apakah aku dan Chanyeol memang tidak bisa bersama?"

Sehun tertegun.

"B-b-benarkah kata Daehye, kalau aku hanya menjadi penghambat dari Chanyeol? Kalau aku hanya jadi penghalang untuknya?"

"Tidak, Baek. Kau tidak pernah menjadi penghalang Chanyeol"

"L-l-lalu-"

"Baekhyun, ketika kau disandera seperti ini lagi dikemudian hari, biarpun aku tak ingin ini kembali terjadi, hanya ingatlah satu hal"

"A-a-apa itu?"

"Biarpun kau, dibawa oleh mereka ke neraka, Chanyeol akan menyusulmu. Biarpun kau, dibawa oleh mereka ke lautan yang paling dingin di dunia, Chanyeol akan disana bersamamu. Biarpun kau, dibawa mereka ke sebuah tempat dimana kau tak akan bisa menarik nafas, Chanyeol akan berada disana untuk membantumu bernafas. Kau tahu mengapa?"

Baekhyun terdiam, menatap Sehun yang juga balas menatapnya dengan manik yang tersenyum

DOR!

Satu tembakan terdengar, tapi Baekhyun maupun Sehun tidak mengakhiri kontak mata mereka.

"K-kenapa?" Baekhyun akhirnya bertanya

"Karena ia, amat sangat mencintaimu"

Dan hanya dengan frase sederhana itu, Baekhyun merasa aman. Ia tenggelam dalam pelukan Sehun dan memejamkan matanya dalam ketenangan.

"Ya, Chanyeol mencintaimu." Sehun berbisik di telinga Baekhyun yang terlelap

"Teruslah hidup dengan kalimat itu,"

Baekhyun mengeliat nyaman. Sehun mengendongnya dan kembali berbisik, "Kumohon, hiduplah hanya dengan seperti itu"


"Bunuh dia" Chanyeol berujar dingin kepada mafiosonya, yang dengan cepat bergerak dan menembak Jaemin di berbagai tempat. Chanyeol lalu beralik dan menatap Jaeyeol. Yang masih terdiam dengan wajah yang menunduk.

"Jaeyeol,"
Jaeyeol mengangkat kepalanya, "Y-y-ya Tuan"

"Aku menghargai kesetiaanmu" Chanyeol berujar, mengalihkan pandangannya ke arah wajah Jaemin yang sudah tidak terbentuk akibat pukulan brutal Chanyeol kepadanya. "Kau tau apa artinya?"
Jaeyeol menunduk hormat, "Ya, Tuan. Aku akan menghargai kepercayaanmu sampai aku mati"

"Biarlah kau tetap disini dengan menatap Wajah Jaemin"

Chanyeol menyeringgai iblis dan berbalik menatap Daehye.

"Agar ini sebagai sebuah peringatan bagimu, betapa bahaya-nya kalau kau sekali kali mengendorkan kesetiaanmu kepadaku. Ketika kau melakukan itu, aku akan memastikan kalau, kau tak akan mati dengan mudah seperti kakakmu. Aku akan memastikan, setiap malam, setiap kau ingin tertidur, semua luka yang kuberikan kepadamu akan berdenyut dan mengingatkanmu kepada, pedihnya penyiksaan itu jika kau menghianati ku."

"T-t-t-entu, Tuan"

"Dan kau, Daehye" Chanyeol memanggil, menatap gadis cantik itu dengan mata yang berkabut dengan amarah

"Kalau kau bukan seorang perempuan lemah," Daehye menahan nafas
"Hari ini mungkin aku sudah melihat nisanmu"

Dan dengan itu, Chanyeol serta para mafiosonya melangkah keluar. Meninggalkan Jaeyeol dan Daehye yang terdiam menatap mayat Jaemin yang hancur. Jaeyeol perlahan merangkak dan mengelus darah yang bercucuran menghiasi lantai. Ia mengeram marah dan kemudian menatap ke arah Daehye

"Kau tau, Daehye?"

Daehye menatap Jaeyeol dengan manik ketakutan

"Aku akan membunuhnya"

Daehye terkejut, "Oppa, kita tak boleh melakukannya!"

"Aku akan mengajarkan kepada Park bajingan itu, apa itu perpisahan"

Daehye ikut mendekat, menahan tangan Jaeyeol dan mengecup pipinya dalam sayang

"Oppa, hanya hidup sebagai mafia yang tenang. Apakah itu tak bisa kau lakukan?"

"Mata dibalas mata, darah dibalas darah, nyawa dibalas nyawa." ujar Jaeyeol dingin.

"Tuan Hyun,"

Hyun Kim, yang ternyata masih ada di balik pintu, menyeringai dan keluar dari tempat persembunyiannya. Ia tersenyum licik, menatap Jaeyeol dan Daehye bergantian

"Aku tau kau adalah mafia terkuat setelah Noires" Ujar Jaeyeol

"Izinkan aku menjadi anggotamu. Izinkan aku, menjadi anggota rahasiamu"

Hyun Kim tertawa keras, "Aku sudah kapok bermain main dengan Noires. Aku mungkin akan bersembunyi agar Richard Park tak mencabikku menjadi bagian bagian"

"Tuan Kim," Jaeyeol memanggil "Aku akan membayarnya dengan apapun. Tolong"

"Kalau begitu," Hyun menyeringgai "Berikan gadis cantikmu itu kepadaku"

Jaeyeol terkejut

"Berikan atau kau tak akan pernah kembali menjadi bagian dari Kim"


"Dimana Baekhyun"

Luhan menunduk begitu ia melihat Chanyeol, "Ia ada kamarnya, Tuan Park"

"Apakah lukanya parah?"

"Ia memiliki satu goresan di tengkuknya"

"Satu goresan?" manik Chanyeol mengelap. Ia segera menuju ke lantai atas kediamannya, dimana Baekhyun tengah terlelap dengan Ny. Park di sampingnya

"Chanyeol?"

"Eomma" Chanyeol mendekat dan kemudian duduk di samping eommanya.
"Bagaimana dengan Jaemin?" Ny. Park berujar dengan tenang. Jemarinya masih mengenggam jemari lentik Baekhyun dan mengelusnya pelan.

"Dia sudah kubunuh" Ujar Chanyeol kejam. Ny. Park terdiam dan menatap wajah Baekhyun yang terlihat gelisah

"Baekhyun-ku yang malang" Ny. Park mendesah, "Kenapa ia harus selalu menjadi incaran dari para bajingan itu"

Chanyeol terdiam, ia menunduk "Ini semua salahku"

Ny. Park terkejut, ia segera meraih wajah Chanyeol dan mengangkatnya untuk menatap kearahnya

"Chanyeol, anakku sayang, ini sama sekali bukan kesalahanmu"

"Tidak, eomma" Chanyeol bersikeras, ia berdiri dan maniknya berkaca kaca

"Semua karenaku. Karena aku adalah penerus appa, maka mereka terus melukai Baekhyunku! Semua adalah salahku!"

"Chanyeol, " Ny. Park ikut berdiri dan memeluk Chanyeol, "kalau memang harus ada seseorang yang disalahkan, itu adalah ayahmu"

Chanyeol dengan cepat menghapus air matanya, "Eomma, bisakah kau meninggalkanku sendiri?"

"Tentu," Ny. Park tersenyum, "Kau masih kecil, Chanyeol. Kau bebas menangis"

"Aku adalah mafia." Chanyeol beralih dan menatap Baekhyun, "Seberat apapun itu, aku tak berhak untuk menangis"

Ny. Park tersenyum sendu dan menutup kamar Chanyeol.

"Kau persis seperti ayahmu" Ny. Park berkata lirih, "Jangan kehilangan orang yang kau cintai seperti ayahmu, Chanyeol"


"Eungh"

"Kau sudah bangun?"

Baekhyun menoleh, mendapati Chanyeol yang berbaring disampingnya. Chanyeol tersenyum dan mengecup dahi Baekhyun dengan sayang, membuat Baekhyun memejamkan matanya dan menikmati kecupan Chanyeol dalam diam.

"Chanyeol, bagaimana dengan Jaemin?"

Baekhyun bertanya lirih. Mengengam tangan Chanyeol yang melingkar di pinggangnya

"Apakah mereka baik baik saja?"

"Kalau mereka baik baik saja, maka aku akan membawa mereka ke neraka hidup untuk membunuh mereka"

Baekhyun menelan ludah gugup. Ia merasakan kalau jemari Chanyeol mengeras. Begitupula dengan rahang namja itu yang digertakkan erat erat.

Kekasihnya pasti masih sangat marah.

"Chan.."

"Hm?" Chanyeol bergumam, ia menaruh kepalanya di ceruk leher Baekhyun. Menyesap bau namja itu dalam dalam

"Apakah.. Daehye-noona baik baik saja?"

Suasana hening melahap mereka sebelum Baekhyun kembali bertanya

"Kau.. Apakah kau tidak marah kerena aku hampir membunuh Daehye-Noona?"

"Kenapa kau bisa berfikir seperti itu, huh?"

"..K-karen-"

"Apakah, selama ini, kau masih meragukan dirimu sendiri?"

Baekhyun terdiam, dalam kegelapan, ia bahkan masih dapat melihat manik Chanyeol yang berkilat kilat penuh amarah

"Bukan seperti itu.."
"Lalu? Seperti apa?"
Baekhyun tak tau harus berkata apa untuk menjawabnya

"Selama ini, apakah kau selalu meragukan cinta yang kuberikan kepadamu? Apakah yang kuberikan masih kurang untuk membuatmu membuang kepercayaan bodohmu itu terhadap Daehye?"

"Tapi dia adalah seorang wanita dan aku adalah seorang pria. Kau bisa saja kapanpun berbalik dan menyukai Daehye. Kau bahkan juga melindungi Daehye. Lalu apa bedanya denganku? Kami berada dalam posisi yang sama. Kau sama sama melindungi kami!"

Chanyeol terdiam, menatap manik Baekhyun yang berkaca Kaca

"Tapi kau adalah satu satunya yang kau cintai" Chanyeol berujar lirih setelahnya.

"Aku melindungi Daehye, bukan berarti aku mencintainya. Aku melindunginya karena ia adalah kakak dari mafiosoku. Keluarga Noires adalah keluargaku juga. Ia juga adalah kekasih Jaeyeol. Dan Jaemin, Biarpun sekarang berdebah itu sudah berkhianat, ia tetaplah dibesarkan oleh ayahku di Noires."

Melihat Baekhyun tidak merespon, Chanyeol mengehela nafas dan mengecup bibir Baekhyun dalam

"Aku hanya mencintaimu" Chanyeol berujar tepat di depan bibir Baekhyun

"Hanya ingat itu, Baekhyun. Hanya ingatlah bahwa aku hanya bisa mencintaimu"


"Sajangnim!" Kyungsoo dengan refleks berteriak ketika melihat siluet Chanyeol yang berderap memasuki kamar rawat Baekhyun. Rahang tegasnya terlihat keras, dan raut wajahnya terlampau dingin.

"Apa yang rumah sakit sialan ini lakukan pada Baekhyunku?"

"Peradangan pada vena, Tuan. Mereka menyebutnya flebitis. Mereka sudah menanganinya, ini bukan suatu masalah yang fatal."

Chanyeol menatap Kyungsoo tajam, "Bukan masalah fatal, huh?"

Kyungsoo terpaku, menelan ludahnya saat tatapan tajam Chanyeol seakan menghujaninya dengan pisau

".. Maaf, Tuan"

"Kau harus menjaganya dengan baik, Kyungsoo. Aku akan kembali dalam 5 hari. Kalau terjadi sesuatu kepadanya, aku tak dapat menjamin kepalamu akan selamat dari pistolku"

"Tentu, Tuan," Kyungsoo membungkuk, "Adalah kehormatanku untuk menjaga sesuatu yang merupakan milikmu"

Chanyeol beralih ke Baekhyun. Namja mungil itu terlelap dengan tenang, tangannya terkulai di samping badannya dengan nyaman, dan matanya tertutup dengan sangat indah.

Chanyeol bersumpah akan mengingat pemandangan ini selamanya.

"Keluar" Titah Chanyeol. Kyungsoo membungkuk patuh, ia mundur beberapa langkah dan bergegas keluar. Setelah mendengar bunyi pintu yang tertutup, Chanyeol duduk di samping Baekhyun. Meraih jemari lentiknya yang tak ter infus dan mengecupnya satu persatu.

Baekhyun mengeliat nyaman akan sentuhannya

Chanyeol selalu bangga akan hal Itu.

"Baekhyun," Chanyeol memanggil biarpun ia tahu Baekhyun tak mendengarnya, "Baekhyunku tersayang"

Baekhyun mengerutkan alisnya, tapi kemudian ketika Chanyeol mengecup dahinya, ia kembali terlelap dengan wajah tenang bagaikan malaikat

"Dilihat dari manapun, kau tetap cantik" Chanyeol terkekeh.

"Baekhyunku, kesayanganku" Chanyeol kembali mengecup jemari Baekhyun dengan sayang. Dan kemudian beralih memandang paras namja mungil yang berada di sampingnya.

"Ingatlah kalau aku selalu mencintaimu. Hapus ingatanmu tentang aku yang kejam. Ingatlah aku sebagai orang yang selalu mencintaimu, hanya itu"

Baekhyun mengeliat nyaman, bergumam kecil "Chan.."
"Aku disini, Baek" Chanyeol tersenyum "Aku selalu berada di sampingmu"

Dan seperti sihir, Baekhyun lekas terdiam. Ia kembali tertidur dalam damai.

Kyungsoo menatap mereka dari balik kaca yang terdapat di pintu.
Menatap mereka dengan manik yang berkaca kaca.

Bagaimana mungkin ia akan membiarkan orang yang ia cintai direbut dua kali?


Baekhyun terbangun dan ia langsung merasakan nyeri di kepalanya. Barangkali ini masih malam hari, karena gorden tertutup dan tak ada satupun terdengar langkah perawat yang berlalu lalang di luar. Baekhyun memejamkan mata, menaruh salah satu tangannya diatas kepalanya. Pikirannya menjelajah, kemanapun yang bisa ia raih. Tentang Chanyeol, dan seseorang wanita yang bernama Daehye di dalam mimpinya.

Ia merasa cukup tidak asing dengan nama itu.

Baekhyun merasa pusing dan ia segera menggelengkan kepalanya. Meraih ponselnya yang berada di nakas dan membuka layarnya.

"Aish, aku bahkan merasa asing dengan ponselku sendiri" Ujarnya sambil terkekeh. Ia membuka galeri, dan menemukan ribuan foto disana. Mengulirkan layar ponselnya keatas, ia akhirnya menyadari kalau hampir seluruh isi Galerinya adalah foto Chanyeol.

Chanyeol yang sedang tersenyum dengan memegang sebuah tingkat golf. Juga Chanyeol yang sedang tertawa dengan seorang wanita...
Maniknya melebar

"S-siapa dia?"

Ia segera membuka foto itu. Disana, Chanyeol dengan setelan jas yang amat rapih, sedang tertawa dengan begitu lebar dengan seorang wanita berambut coklat. Foto itu sepertinya diambil dari jarak jauh. Karena Baekhyun tidak bisa memperbesar nya untuk melihat dengan jelas wajah wanita itu.

Jadi, sebelum dirinya, Chanyeol memiliki seorang lagi?
Atau, sebelum dirinya kehilangan ingatannya, apakah Chanyeol bermain api di belakangnya?

Ia menggeser layar.

Foto selanjutnya, adalah foto dirinya dan Chanyeol yang sedang tersenyum satu sama lain, Baekhyun tersenyum manis. Tapi segera luntur ketika ia melihat figure Kyungsoo yang kebetulan ditangkap kamera.

Kyungsoo, yang berdiri di belakang mereka, tersenyum dengan amat perih sambil menatap Chanyeol.

["Tuan, aku ingin mengatakan sesuatu"]

["Ada apa?"]

["Anda tidak perlu khawatir, aku akan menjaga Tuan Park dengan baik"]

["Ah tentu Kyungsoo, kau memang sangat bisa diandalkan"]

["Terimakasih"]

Baekhyun mengerang pelan.

Chanyeol.

Kyungsoo.

Dan wanita itu.

Apa hubungan mereka?

Apakah.. Wanita di foto itu adalah Daehye?

Ataukah, keluarga Chanyeol yang lain?


"Tuan, Jaeyeol tidak ditemukan di Kantor Polisi Pusat. Dia melarikan diri lagi." Sehun menjeda sejenak, menunggu reaksi Chanyeol.

Pria itu terdiam, tetap memfokuskan pandangan kepada kertas putih di atas mejanya.

Sehun menghela nafas pelan, "Apa perlu kita menangkapnya kembali?"

Hening.

Chanyeol meraih sebuah pena yang tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk. Dengan santai-seakan Sehun tidak mengatakan apapun-, Chanyeol membuka tutup pena itu dan Sehun menemukan tinta pena yang berwarna darah itu menetes ke meja segera setelah Chanyeol membuka tutupnya.

".. Tidak ada gunanya."

"M-Maaf, apa?" Sehun terkejut. Ribuan pertanyaan mulai berputar di pikirannya. Apakah akhirnya Chanyeol akan menyerah? Apakah akhirnya Chanyeol akan membiarkan Jaeyeol hidup? Tapi kenapa? Mengapa Chanyeol menyerah? Karena Baekhyun kah?

"Sampai kapan kita akan mengejarnya, menghajarnya, lalu ia diserahkan pada polisi dan kabur. Lalu kita akan mengerjarnya lagi, menghajarnya, dan ia berhasil kabur dari polisi lagi. Sampai kapan kita akan melakukan itu?"

Sehun merenung, "Tuan benar." Ujarnya kecil, "Lalu apa yang harus kita lakukan?"

"Sehun-ah."

"Y-Ya Tuan?" Sehun tersentak. Nada suara Chanyeol berubah dalam sejenak. Suaranya terdengar seperti sebuah geraman rendah.

"Kau percaya kepadaku kan?"

"Tentu, Tuan" Sehun mengerjap bingung,

"Kalau begitu, kembalilah ke Korea." Sahut Chanyeol datar. Sehun tersentak, mendongak menatap Chanyeol.

".. Apakah maksud anda?"

"Kembali lah lebih dulu ke Korea."

Sehun terdiam, sedangkan Chanyeol mengarahkan pena merah itu ke sebuah kertas putih. Mencoreng warna yang putih dengan sebuah garis merah yang melintang.

"Ini perintah." Sambung Chanyeol dingin.

Sehun membeku, menatap penuh tanya,

".. Perintah di terima, Tuan"

"Dan, jangan lakukan apapun untuk menangkap Jaeyeol." Chanyeol menyeringai, menarik bibirnya dari sudut ke sudut. Sehun menemukan pikirannya berkecamuk, tapi ia tidak bisa melakukan apapun selain, membungkuk.

"Baik, Tuan"

"Tunggu, Sehun" Sehun berhenti melangkah, membalikkan tubuhnya kembali kepada Chanyeol. "Ya, Tuan?"

"Jaga Baekhyun untukku."

Sehun mengangguk, "Perintah di terima, Tuan."

"Juga," Chanyeol menjeda, "Bawa Luhan bersamamu."

".. Boleh aku bertanya alasannya, Tuan?"

"Aku hanya butuh mafioso lainnya disini."

"Baiklah, Tuan. Perintah akan dilaksanakan."

Sehun menunggu sejenak, merasa tidak ada respon, ia berbalik dan bersiap untuk membuka pintu

"Jaga Baekhyun baik baik, Sehun"

Ia terdiam di tempat, "Tentu,"

"Itu adalah tugasku."

Biarpun lidahnya berkata seperti itu, ia menemukan firasatnya memburuk lebih cepat dari yang ia kira.


"Apa yang terjadi?!" Luhan menatap Sehun marah, "Apa yang kau maksudkan dengan kita harus kembali ke Korea?"

"Luhan, calm down." Sehun menghela nafas, "Kita masih ada di umum. Jangan menarik perhatian."

Luhan mengatur nafasnya dengan menatap ke tanah sebelum kembali mendongak dan menatap lurus ke mata Sehun, "Sekarang katakan. Apa maksud Chanyeol, huh?"

"Aku tidak tahu." Katanya singkat. Luhan mengepalkan tangannya, "Sehun! Katakan!" Bentaknya.

"Ia juga melakukan ini saat Jaeyeol menyerang Desember tahun lalu. Ia mengusir kita berdua dari sisinya dan melakukan hal hal gila! Sehun, lakukan sesuatu!"

"Aku tidak bisa menolak perintahnya." Sehun mendesah "Dia Tuanku."

"Ya Tuhan, ini gila. Xi Luhan, kenapa kau bisa bekerja dengan seseorang yang bipolar sepertinya?" Luhan menjerit kecil. Sehun tertawa di sampingnya, lalu berdiri dari duduknya.

"Daripada mengeluh, kita harus segera melaksanakan perintahnya. Kita harus kembali ke Korea."

"Sayang sekali," Luhan menunduk, "Aku bahkan belum sempat berkeliling dengan kakiku sendiri."

Sehun terkekeh, ia menjulurkan tangannya ke arah Luhan dan berkata lembut, "Kalau begitu, ayo,"

Luhan menatapnya bingung, "Hm?"

"Aku akan menjadi pemandu wisatamu," Sehun tertawa. "Jadi ayo segera berdiri, kita kelilingi Paris sebelum jam 12 siang"

Sebuah senyuman dengan cepat terbentuk di wajah Luhan, "Kau yang terbaik, Sehun!"

"Tentu," Ujar Sehun sambil mempertahankan senyumnya. Maniknya melihat Luhan meraih tangannya dan mengenggamnya. Dan ia bisa merasakan degub jantungnya yang berdetak lebih cepat.

'Inikah yang Baekhyun dengar ketika bersama Chanyeol?'


"Baekhyun, lihat mawar ini. Cantik kan?"

"Itu Mawar Lavender" Baekhyun tersenyum pada Sehun, "Kepada siapa kau akan memberikannya?"

"Tuan Chanyeol memintaku untuk memberikan nya pada Daehye Noona," Sehun tersenyum kecil, "Sebentar lagi adalah ulang tahunnya, bukan?"

Baekhyun tertegun. Menatap remaja lelaki di hadapannya yang tersenyum lebar sambil menatap sebuket bunga di gengamannya. ".. Kau benar"

"B-bisakah aku melihatnya sebentar?" Baekhyun terbata, Sehun mengangguk dan memnbiarkan Baekhyun meraih bunga itu pelan dan menelitinya.

"Ini benar benar Mawar Lavender" Gumamnya sendu.

Sehun mengernyit melihat perubahan ekspresi Baekhyun, ia meraih bahu Baekhyun dan berujar lembut, "Ada yang salah?"

Baekhyun terdiam, sebelum menjawab pelan, "Tidak. Bunga yang indah, dengan arti yang indah."

Sehun mengernyit, "Memangnya apa arti dari bunga ini?"

Baekhyun mendongak, menatap penuh arti kepada bunga itu. Berusaha berkata lewat bahasa tubuhnya namun sepertinya Sehun tidak menyadarinya. Akhirnya Baekhyun menunduk, mengembalikan buket mawar itu kepada Sehun, dan berbalik memunggungi lelaki itu.

"Boleh aku bertanya?"

"Tentu, Baek"

"Apa Chanyeol sendiri yang memilih bunga itu?"

"Tentu. Apa artinya buruk?"

"Tidak. Mawar Lavender.. Itu melambangkan," Baekhyun menahan air matanya. "Mawar itu melambangkan kekaguman."

Sehun tersenyum, "Tuan Chanyeol memang kagum pada Daehye Noona~ Oh ya Hyung, aku akan segera memberikannya sebelum layu."

".. Baiklah" Sahutnya pelan. Baekhyun memejamkan mata, setelah suara langkah kaki mulai terdengar menjauh, sebuah isakan lolos dari bibirnya.

["Mawar Lavender, melambangkan Cinta pada pandangan pertama."]

Ia masih mengingat perkataan Chanyeol hari itu.

Cinta.. Pada pandangan pertama?

Betapa ia berharap Daehye tidak mengetahui artinya.


".. Kau datang."

Chanyeol terkekeh, "Tentu aku akan datang, Noires tidak melanggar janji."

Pria dihadapannya tersenyum, "Jadi, apa yang ingin kau katakan sampai repot repot datang kemari?"

Chanyeol mendekat, berbisik di telinga pria itu

"Aku butuh bantuanmu.."

Pria itu menahan nafasnya.

"... Kris."


"Pagi Tuan Baekhyun" Luhan tersenyum cerah begitu melihat Baekhyun membuka matanya. Baekhyun balas tersenyum, dan berujar kecil "Pagi."

"Apa tidurmu semalam nyenyak?" Luhan mendekat dan memeriksa IV Drip Baekhyun. Menggeliat sejenak, Baekhyun kemudian menggeleng

"Tidak terlalu." Baekhyun mengerjap, "Apakah kau...?"

"Ah, aku Luhan." Luhan tersenyum lembut, "Kau adalah Tuanku."

".. Tuanmu? Aku?"

"Ya," Luhan tertawa, "Kau adalah tuanku, Baekhyun-ah."

"O-oh" Katanya kikuk, "Aku.. tidak mengenalmu. Hehe"

"Tidak apa apa." Luhan menunduk, meraih tangan Baekhyun dan mengelusnya, "Aku senang kau akhirnya sadar."

"Maaf tidak mengunjungimu lebih awal." Sambung Luhan. Baekhyun menjawab dengan tersenyum, merasa nyaman ketika Luhan berada disampingnya.

Maniknya menangkap sesuatu yang terletak diatas nakas kasurnya. Sebuket mawar biru yang indah terpajang dengan cantik disana.

"Siapa yang meletakkannya disana, Luhan?"

"Itu aku," Luhan terkekeh. "Tapi Tuan Chanyeol yang mengirimnya. Lihat warna ini, indah bukan?"

"Indah" Baekhyun tersenyum, "Cantik sekali."

Luhan menatap Baekhyun dan tersenyum, "Chanyeol pasti begitu mencintaimu."

Baekhyun tersenyum kecut, tetap memandang Mawar Biru itu.

"Kuharap begitu,"

My heart is caring I'm still looking at you

Because I keep running out of breath

I'm still watching over you from far away

Why am I being like this?


To Be Continued


[A/N] Hola /muncul dari tembok/

Fastup yeay /abaikan. Karena aku lagi gabut, kuputuskan untuk melanjutkan n ngepublish ini. Nah lho, tiba tiba ada Kris /wkwkwkw/ siapa Kris? Apa hubungan dia dengan Chanyeol? Apa arti dari bunga yang dikasih sama Chanyeol? Penasaran? /readers : g tuh/ /pundung T^T/

Sudah mencium bau bau konflik? Belum? Sudah? Silahkan tuangkan spekulasi kalian di kotak review *smirk*

Terima Kasih untuk yang sudah review kemarin. Maaf tidak bisa kusebut satu persatu, tapi review kalian adalah semangat tersendiri bagi saya. Saya cinta kalian /tebar flying kisseu/~

Review again?