Disclaimer: Kishimoto Masashi.
Author tau kalau ultah Sasu udah kelewat lama banget. Bukannya lupa, tapi emang belom selesai. Eniwei, buat semua reviewer Hey, Sasuke makasih banyak! Kalo nggak ada kalian, nggak akan ada yang ngucapin hepi bday untuk orang nggak penting ini (selain orang terdekatku).
Juga buat seluruh reviewer fic ini, ch 9 tak akan ditulis tanpa dukungan kalian! Makasiih!!
Chapter nine: July 23rd
Gaun yang berwarna merah itu sudah melekat ketat pada tubuhnya. Gaun itu tidak memiliki lengan atau kerah, panjangnya diatas lutut, serta bergelombang pada ujung bawahnya. Gaun itu memang ketat tapi ia leluasa untuk bergerak, dan potongan gaun itu benar-benar sesuai dengan bentuk tubuhnya. Kemudian ia mengenakan rompi mini warna merah muda berbahan lembut. Lalu ia memasang bros bunga sakura pada bagian dada sebelah kanan rompi tersebut. Tidak terlalu dewasa tapi manis.
Setelah itu ia mengikat rambutnya ke atas dengan ikat rambut bermodel ceri dan memakai anting kecil dengan model serupa. Lalu ia memoleskan bedak pada wajahnya dan lipgloss rasa strawberry ke bibirnya yang mungil. Setelah ia memakai sepatu boots berwarna hitam, ia berjalan menuju cermin untuk memastikan sekali lagi bahwa semuanya sudah sempurna.
Dilihatnya seorang gadis cantik dalam cermin yang mengisyaratkan bahwa ia sudah siap untuk pergi ke pesta.
"Sakura, ada yang mencarimu!" panggil Satsuki pada putri semata wayangnya.
"Iya bu!" jawab Sakura, "Itu pasti teman-teman" lanjutnya berkata pada dirinya sendiri. Kemudian ia mengambil tasnya yang berisi kado untuk Sasuke lalu menuju ke tempat di mana Ino, Tenten, dan Hinata sudah menunggu.
"Cantik sekali" komentar Ino begitu Sakura tiba di ruang tamu.
"Kalian juga" kata Sakura pada ketiganya. Sedikit ada rasa puas di hati Sakura melihat teman-temannya cocok mengenakan baju yang ia pilihkan. Ah tidak! Dia benar-benar tersanjung.
"Ayo pergi" ajak Tenten. Lalu mereka berpamitan pada ibu Sakura.
"Hati-hati di jalan" kata Satsuki yang melambaikan tangan pada mobil yang membawa putrinya dan yang lain.
oxoxoxoxoxo
"HEI!! TEME!! SELAMAT ULANG TAHUN YAA!" seru Naruto yang baru tiba, sedangkan yang lainnya sudah datang sejak tadi. Kemudian Naruto memberikan sebuah kado yang luarbiasa besar pada Sasuke.
"Terima kasih. Dan bersikaplah lebih tenang sedikit, Dobe!" ujar Sasuke pada sahabatnya yang kelihatan lumayan keren malam itu dengan setelan berwarna cokelat tua. Dia sendiri mengenakan kemeja biru dan celana hitam yang membuatnya berlipat kali lebih tampan daripada biasanya.
"Mana ramennya?!" Naruto mulai menengok ke kanan dan ke kiri, berusaha mencari makanan favoritnya di tengah-tengah semua sajian yang ada.
"Memang kau kira di sini toserba?" kata Sasuke.
"Jadi tidak ada ya?!" keluh si pirang.
"Tentu saja ada bodoh! Cari saja sendiri!"
"Yaahuu!!" secepat kilat, Naruto melesat menelusuri tempat itu setelah Sasuke mengatakan bahwa ramen favorit Naruto juga disediakan di pestanya. Tak lama kemudian Tenten, Hinata dan Ino datang untuk menyalaminya.
"Selamat ulang tahun, ya!" kata ketiganya. Dan mereka memberikan kado mereka pada pemuda yang sedang berulang tahun itu.
"Terima kasih. Hanya bertiga saja?"
"Kami ke sini dengan Sakura, tapi ia masih di luar karena mengobrol dengan teman satu klubnya jadi kami duluan" terang Tenten.
"Nikmati pestanya" kata Sasuke. Kemudian ketiga gadis itu membaur dengan pesta tersebut. Tak lama kemudian, Sakura pun masuk ke dalam ruangan.
oxoxoxoxoxo
Sasuke PoV
Aku sempat pesimis dan berpikir dia tidak akan datang. Tidak akan pernah datang! Alasanku berpikir begitu adalah karena aku ingat betul pada semua kebencian yang ia tunjukkan padaku selama ini. Jika melihat sikapnya padaku semua orang bakal dapat menyimpulkan kalau dia benci padaku. Bahkan ia berjanji datang ke pesta ini karena aku membuatnya naik pitam. Oke, itu perkecualian. Saat itu aku sengaja.
Kalau dipikir-pikir bodoh sekali aku. Mengapa aku harus mempedulikan ketidakhadiran satu orang saja bila dibandingkan semua di sini yang sudah datang untukku. Mengapa juga aku harus mengharap-harap kehadiran satu orang dengan was-was bila sudah banyak orang yang hadir demi diriku. Jawabannya mudah, karena aku menyukainya!
Ia membenciku, tapi aku justru menyukainya. Adakah hal yang lebih bodoh dari ini?
Tentu saja ada. Yaitu aku yang masih juga was-was menunggu dan semakin pesimis ketika melihat Ino, Hinata, dan Tenten hanya datang bertiga. Tanpanya!
Harusnya aku tahu dia tidak akan datang. Namun akhirnya kutanyakan juga pada mereka bertiga. Dengan kalimat yang tentu saja natural namun tepat sasaran yaitu "Kalian hanya datang bertiga?"
Terdengar basa-basi tapi toh Tenten memberi jawaban sesuai apa yang aku mau. "Kami ke sini dengan Sakura, tapi ia masih di luar karena mengobrol dengan teman satu klubnya jadi kami duluan" katanya.
Dan ternyata gadis itu memang benar-benar datang! Entah aku merasa apa saat ini. Geli juga melihatnya mengorbankan dendamnya hanya demi harga diri yang benar-benar tinggi. Kepribadiannya menarik. Penampilannya juga, terutama rambut pinknya yang berwarna seperti yang dimiliki seseorang yang sedang berjalan ke arahku saat ini.
Eh?
End of Sasuke PoV
oxoxoxoxoxo
"Hei Uchiha, selamat ulang tahun" ucap Sakura seraya memberikan sebuah kotak berisi jam tangan yang sudah terbalut rapi dalam kertas kado."Hei!" seru Sakura pada Sasuke yang terdiam sejenak sebelum ia buru-buru menerima bungkusan itu kemudian sedikit menggoncang-goncangkannya.
"Apa ini?" rujuk Sasuke pada kado yang ada pada genggamannya.
"Aku tidak tahu kau benci apa jadi aku beli sekenanya saja. Kalau aku tahu hal apa yang paling kau benci pasti sudah aku belikan" jawaban yang diluar dugaan, membuat Sasuke tidak bisa menahan tawa kecilnya lepas. Melihat tawa pemuda itu, Sakura menekuk wajahnya kemudian berpaling. Tapi sebelum ia beranjak tiba-tiba Sasuke berkata,
"Hei" tentu saja membuat Sakura refleks menengok padanya. Kemudian Sasuke melanjutkan apa yang ia ingin katakan sebelum gadis itu dapat mengucapkan sepatah kata sekalipun,
"Terima kasih" hanya itu yang pemuda itu ucapkan pada akhirnya. Singkat dan sangat umum memang. Namun ada nuansa lain yang hadir ketika dia mengucapkan kalimat sederhana itu walau pada kenyataannya pemuda itu hanya berkata sambil tersenyum simpul. Nuansa asing hadir di antara mereka tepat ketika sepasang mata hitam beradu pandang pada sepasang lain yang berwarna seperti zamrud.
Entah perasaan aneh apa itu, namun yang pasti telah membuat pipi Sakura terasa panas sehingga ia buru-buru beranjak dari sana untuk mencari angin.
oxoxoxoxoxo
Dalam hingar-bingar pesta itu, tanpa sadar ekor matanya selalu menangkap siluet dari sosok yang kini sudah tidak asing lagi. Di manapun ia berada apapun yang ia lakukan, tetap saja orang itu selalu terlihat olehnya. Walaupun hanya sosok orang itu dari belakang maupun rambutnya yang terlihat dari kejauhan namun sosok itu tampak paling menonjol.
Matanya seolah terlatih untuk mengenali sosok itu. Mengenali helai-helai rambut hitamnya, mengenali simpul pada wajahnya ketika ia tersenyum, mengenali caranya menggulirkan bola mata dengan sejenak terpejam, mengenali gayanya yang cool ketika berjalan, dan mengenali semua detail yang ada pada diri orang itu. Semua diluar kuasa Sakura bahkan ia tak menyadari sosok yang menonjol itu telah mendominasi penglihatannya.
Dan anehnya ia tak lagi menjadi benci ketika sosok itu tertangkap oleh sudut matanya.
oxoxoxoxoxoxo
"Nii-san kecelakaan?! Baik, aku pulang sekarang!" seru Hinata panik ketika ia menerima telepon di depan hall seusai pesta berlangsung. Tenten yang mendengar hal tersebut ikut panik karena orang yang dipanggil dengan nii-san oleh Hinata tak lain adalah Hyuga Neji, senior yang paling ia kagumi di klub.
"Ada apa?" tanya Sakura pada Hinata yang baru menutup sambungan teleponnya.
"Ano. Neji-niisan kecelakaan saat latihan bela diri dan sepertinya cukup parah. Aku harus pulang sekarang tapi aku tidak tahu harus pulang naik apa karena sopir kami sedang mengantar niisan ke RS"
"Boleh aku ikut, Hinata-chan? Kau bisa ikut di mobilku" kata Tenten.
"Lalu Sakura-chan dan Ino-chan?" Hinata merasa sedikit tidak enak.
"Tidak usah pikirkan kami. Kami akan pulang berdua. Pergilah!" Ino mendorong punggung Hinata yang masih enggan untuk pergi.
"Salam untuk Neji-san. Maaf, aku tidak bisa menjenguknya sekarang karena ini sudah malam" sambung Sakura. Kemudian Hinata dan Tenten masuk ke mobil dan melambaikan tangan mereka sebelum pergi meninggalkan Ino dan Sakura.
"Lho? Hinata-chan kemana?! Tadi aku melihatnya di sini?!" seru Naruto yang berjalan keluar ruangan bersama Sasuke.
"Dia buru-buru pulang karena kakaknya kecelakaan saat latihan" terang Ino.
"Cih!! Padahal aku ingin mengantarnya pulang naik motor baruku!!" gumam Naruto kecewa, "Ya sudah aku pulang sendiri saja!!"
"Eh, Naruto-kun" panggil Sakura, "Rumahmu dan rumah Ino-chan kan satu arah, bisa tolong antar dia?" Sakura memohon.
"Bisa sih..! Ayo Ino!!" Naruto menggenggam pergelangan tangan Ino.
"Eh, tapi Sakura!! Lalu kau pulang naik apa?!" tanya Ino.
"Sudahlah!" kata Sakura sambil melambaikan tangannya sesaat sebelum Naruto menyeret Ino menuju motornya. Setelah motor Naruto tidak tampak lagi, Sakura beranjak meninggalkan tempat itu.
"Hei" panggil Sasuke yang sedari tadi di sana. Sakura yang tidak menyadari kehadiran Sasuke agak sedikit terlonjak kaget, "A-apa?" serunya.
"Kau mau pulang sendiri?" tanya Sasuke.
"Tentu saja" jawab Sakura. Sasuke kemudian terdiam sejenak merenung, lalu ia berkata, "Oke. Hati-hati di jalan"
Sakura yang tidak mengerti maksud Sasuke, dengan alis terangkat, segera berjalan meninggalkan tempat itu.
oxoxoxoxoxoxo
Baru sekitar lima menit lalu Sakura menyanggupi untuk kembali ke rumahnya dengan berjalan kaki seorang diri. Tapi kini ia sudah merasa gentar dan sedikit menyesali apa yang ia lakukan tadi. Namun apa boleh buat? Ia tak dapat melakukan apapun sekarang kecuali menguatkan hatinya untuk terus berjalan di jalanan sepi pada tengah malam dan berharap beberapa langkah lagi ia akan mencapai rumah walau pada kenyataannya rumah Sakura masih sangat jauh.
DIIN!! DIIN!!
"Hya!!" tiba-tiba suara klakson mobil memecah keheningan dan membuat Sakura sangat terkejut. Reflek dia langsung menoleh ke sumber suara tersebut.
Ternyata suara itu berasal dari mobil yang sedang dibawa oleh Sasuke. Kemudian Sasuke menyetir mobilnya sehingga sejajar dengan Sakura, lalu ia menurunkan jendela mobilnya. Sakura hanya menatapnya dalam diam karena ia masih terkejut.
"Naiklah" kata Sasuke. Sakura memicingkan matanya, "Tidak. Terima kasih" tolaknya. Ia pun berlalu tanpa mengindahkan tawaran Sasuke. Sekali lagi Sasuke membuat dirinya sejajar dengan Sakura.
"Kau yakin perjalanan ini seaman yang kau pikir?" kali ini ia menakut-nakuti gadis itu. Sakura berhenti sejenak kemudian berjalan lagi. Tanpa sadar Sasuke tersenyum kecil, lalu ia turun dari mobil dan menyeret gadis itu masuk ke dalam mobilnya dengan paksa, "H-hei! Apa-apan ini?!" protes Sakura namun ia tak bisa melawan.
"Kalau memang takut tidak usah ngotot"
oxoxoxoxoxo
Masih ada beberapa belokan lagi yang harus dilalui sebelum mereka tiba di tempat tujuan ketika Sakura memanggil, "Hei" untuk memecahkan keheningan sepanjang perjalanan.
"Hn?"
"Kau ini kenapa sih? Aku benar-benar tidak mengerti! Minta maaf, atau apalah! Katakan sesuatu! Kau dari tadi diam saja, tidak berkata apa-apa! Cowok yang membosankan!"
"Kenapa aku harus minta maaf?"
"Karena kau memaksa untuk mengantarku!!"
"Kau tidak takut?" tanya Sasuke, membuat Sakura menelan kemarahannya lagi. Ia tak bisa berkutik karena pada kenyataannya ia tak cukup berani untuk menempuh perjalanan satu jam dengan berjalan kaki di tengah malam. Sasuke melirik sedikit pada Sakura yang sedang cemberut dan menggumam, tanpa sadar senyum kecilnya mengembang lagi.
"Sudah sampai"
"Kenapa sih kau mau repot-repot mengantarku?!"
"Keberatan?"
"Kau itu menyukaiku atau apa?!" kata Sakura asal karena lagi-lagi emosinya terpancing tapi Sasuke masih tidak bergeming. Ia masih menatap lurus ke depan sedangkan Sakura masih melancarkan tatapan panas padanya. Kemudian gadis itu membuka pintu mobil dan hendak membantingnya ketika pemuda berambut hitam itu berkata, "Iya". Kini gantian gadis berambut pink itu yang terdiam, tak percaya atas apa yang baru saja ia dengar.
"Sudah pulang?" Keheningan diantara mereka diakhiri oleh suara Haruno Satsuki yang membukakan gerbang untuk putrinya. Sasuke turun dari mobilnya kemudian memberi salam kepada Satsuki.
"Selamat malam, tante! Saya Uchiha Sasuke" katanya sambil sedikit membungkuk untuk memperkenalkan diri. Satsuki membalas ojigi tersebut lalu berkata, "Terima kasih sudah repot-repot mengantar Sakura, ya"
"Kalau begitu, saya permisi dulu" kali ini Sasuke membungkuk untuk mohon diri kemudian ia masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Setelah mobil Sasuke menjauh, Satsuki berkata, "Sopan sekali. Jadi itu yang bernama Uchiha? Kok tidak seperti yang kau bilang. Wah, kalau ibu jadi kau pasti ibu sudah naksir padanya!" godanya pada Sakura.
"Aaah!! Ibu!!" seru Sakura yang salah tingkah dan buru-buru masuk ke dalam rumah.
"Ternyata sudah ya?" Satsuki tertawa kecil pada dirinya. Kemudian ia juga masuk dan memastikan semua pintu telah terkunci.
oxoxoxoxoxo
AN:
Ternyata udah chapter sembilan!! Gimana nih?? Sudahkah ceritaya berkembang?? Aku mentok! Ch 10 lagi dalam proses.. tunggu ya!
Oiya, walaupun banyak orang yang sudah tahu, hanya sekedar pingin nulis aja kalau ojigi adalah Japanese Bowing alias membungkuk ala Jepang atau semacam itulah.
Promosi nii.. Bagi yang suka fic humor: R&R fic humor buatanku dong, mereka miskin review... hixhix!
