(^_^*~My Wife Is Hinata~*^_^)
Chapter 9.
.
.
.
.
Pairing: Sasuke Uchiha. X Hinata Hyuuga.
Rate: T-M
Genre: Romance/Humor.
Disclaimer: Masashi kishomoto.
Story By: Cahaya yang bersinar Biru. A.k.a Hikari No Aoi.
.
.
.
.
Balas Review chapter 8 dulu, ya! :3
Guest oke ini udah lanjut Guest-san, gomenne Hika updet luama seperti yang uda hika tulis di profil dan DCDSTJ, hika hiatus T,T tapi tenang... semoga chapter ini membawa obat rasa kangen guets-san, reader dan author sekalian untuk mengurangi rasa haus akan pair Sasuhina lover :D selamat membaca, ya... makasih udah mampir :D
Angel Engga kok, meski nanti ada adegan yang mengatakan seolah Sasuke selingkuh, tapi tenang aja dia cowok yang setia kok :3 makasih uda mampir! Moga ga mengecewakan ya ^,^
Luluk Minam Cullen Oke ini udah lanjut :3 makasih uda mampir, maaf ya Hika lama updatenya T,T semoga luluk-san suka! Met membaca :)
kim sang hyun*pundung di pojokan* W-weee.. g-gomen ne T,T hika kena hiatus dan terlena dengan aktifitas osis, dances dll *plak* maaf ya kim-san... :(
Tapi ini hika update, moga ga membuat kecewa ^,^'a hehe yang kuning-kuning itu bukan Naruto, tapi yang kemampul dikali *DIGEPLAK Naruto Fc* hehe itu temen lama Sasuke dam Hinata, Shion :) semoga bisa menghibur kim-san :) maksih udah mampir ..
Date Kaito Date-san ngevafe? O.o aa... ga keliru? *garuk-garuk kepala* ano, apa ga salah? O,o *plak* hika ngrasa ini fic ambruladul yang ga pantes di fav ^^'a hehe tapi makasih udah suport :) semoga Date-san terhibur, makasih uda mampir ^^'a
krystaljung Arigatou ^_^ Hika janji, akan upate teratur dan ini dia chap 9! Hika harap krystaljung-san suka! :D makasih uda mampir...
in my new vers Hehe hika kelamaan hiatus ya? n,na *inosen* gomen ne... tapi hika harap *hika manggil apa nih O.o* dirimu suka dan makasih pujian serta reviewnya :3 arigatou...!
Dewi Natalia Aaa... itu hika yang salah, jadi sasu ambil 2 mata kuliah, sambil kerja sambil nikah *?* gimanabagi waktunya, ya? gini, hika buat dia ambil 2 mata kuliahan karena ada alasan tersendiri *meski gatau dijepang boleh apa ga* tapi setelah menikah, Sasuke disuruh ayahnya berhenti kuliah dan atau milih salahsatu sambil harus bisa fokus ngurus kerja dan hinata. Chapter depan akan hika bahas kok ^,^ maksih uda diingetin... hehe.
Dan si Shion, itu temenya sasuke. Tadinya hika pengen buat gitu, tapi hika pikir2 lagi, kaya monoton banget u,u kemaren gaara sekarang shion. Hehe tapi makasih ya, uda kasih saran! Hika terima dengan senang hati. maksih :D
Githa Aikawa Sama, hika nulis waktu kelas 3 smp, sekarang uda kelas 2 smk! Lama bnget ya O,O *digampar* hehehe tapi hika harap, diujung tanduk fic ini Githa-san suka :) maaf ya buat Githa-san ngulang dari chap 1 n,n'a semoga chap ini bisa menghibur, makasih udah like dan mampir! :D
n satu-hati! :O hika juga lupa semuanya bahkan sehabis ini adeganya gimana, idenya gimana, hika lupa!, *GEPLAKED* gak terasa hiatus kok 2th ya ^,^ *inosen* #plak!
Hehe sebelas itu apa, n-san? O.o oh iya, ini chap hika uda hika update moga ga mengecewakan dan bisa menjadi obat amnesia sementara n-san ^,^'a *kabur sebelum dihajar* arigaou uda mampir! :D
i know what Terimakasih pujian dan reviewya :) ini hika uda update, selamat membaca dan salam kenal :3
Akatsuna Sasuke Menurut hika garing malah ._.a tapi, makasih uda mampir, salam kenal :3
SH IndigoRaven terimakasih :3 ini sudah hika lanjutkan, salam kenal, ya! Makasih juga uda mampir :3
SakuNaruHinaSasuArigatou.. ^_^ salam kenal ya, dari hika. Semoga chap ini tidak mengecewakan!
Kakasaku Potter Hai, salam kenal juga :D hika juga pendatang baru! *plaked* -padahal udah lama gara-gara kelamaan hiatus* jangan tiru sikap buruk hika, ya :3 makasih uda mampir!
Malfoy1409 Maksih dukunganya, ini uda update. Salam kenal dan makasih uda mampir! :D
.
.
.
WARNING!:
Gaje, ada hal rancau yang belum hika jelaskan, typo, garing dll. So, jika anda bukan SH lovers, silahkan tekan tombol back :3
.
.
.
My Wife Is Hinata
Saat Hinata Tertawa, Sasuke Berduka. Hinata Bahagia, Sasuke merana. Hinata mangut-mangut, Sasuke merengut. Dan saat Hinata beraksi, Sasuke akhrirnya pilih lari. Kenapa?
Let's begin the story!
.
.
.
Hinata duduk manis di kursi samping kemudi, mata Lavendernya yang pucat namun memesona melirik dengan semangat pemandangan yang tersaji di luar jendela mobil. Sambil mengelus perutnya yang sudah besar, Hinata terus menikmati suasana nyaman yang ia nikmati sekarang, hahhh... ia benar-benar merasa hidupnya telah sempurna.
Namun, begitu ia sadar karna semenjak tadi Sasuke bungkam, Hinata segera menolehkan kepalanya pelan dan menatap suaminya tersebut, dengan hati-hati ia berkata:
"S-Sasuke-kun?"
"Hn?" tak ada tolehan, tak ada kata sayang, dan tak ada senyuman. Pria Uchiha itu masih menatap lurus jalan raya yang kini dilewatinya, seolah-olah menganggap Hinata itu tak ada.
"Sasuke-kun... m-marah, ya?" Hinata menekuk wajahnya yang tadi ceria menjadi lesu. Apa ia keterlaluan lagi, ya?
"Tidak, kok."
"T-tapi... k-kenapa.."
"Kenapa apanya?" dengan suara dingin, Sasuke memutar setir kemudi dan membelokkan mobilnya ke arah kanan setelah menyalakan lampu Reeting. Masih bersikap ngambek ternyata.
"A-aku rasa, Sasuke-kun j-jadi marah karna a-aku membawa hewan peliharaan..." ujar Hinata pelan nyaris berbisik, sekarang tidak ada lagi senyum yang mengukir di bibir mungil wanita Uchiha itu. Yang ada, ia malah menunduk sedih.
"Yah, kurasa bisa kamu pikirkan sendiri." Balas Sasuke seadanya.
Hinata mendesah lemah, padahal baru semalam ia dan Sasuke bersenang-senang dan sangat bahagia dengan kehidupan mereka sekarang. Tapi, pertengkaran kecil yang terjadi saat ini, membuat Hinata merasa yang semalam itu hanyalah mimpi.
"A-aku minta berhenti," setelah difikirkan matang-matang, Hinata mantap ingin mengalah. isteri mana yang betah diperlakukan dingin terus oleh Suaminya sendiri? Tapi Hinata kira, Sasuke telah menerima ngidamnya, jadi Hinata berfikir bahwa ia membawa hewan peliharaan ke kantor itu tidak apa-apa, tapi sepertinya ia salah dalam hal berencana.
Permintaan dari Hinata yang tiba-tiba, menarik diri Sasuke untuk menoleh, 'dia ingin apalagi?'.
"Ada apa?" tanya suaminya datar, biasanya jika Sasuke heran, ia kan menarik sebelah alisnya keatas dan menunjukkan ekspresi heran, bukan datar seperti ini. Berarti jika begini Sasuke benar-benar marah.
"P-pokoknya berhenti," Hinata mengulang permintaanya. Mau tidak mau Sasuke menurutinya, sedikit memepetkan mobil kesayanganya tersebut ke tepian jalan raya dan menghentikanya dengan perlahan.
"S-sasuke-kun, gomenasai." Ujar Hinata lemah mulai membuka pendapatnya tentang hal yang membuat mood Sasuke down mendadak.
"Aku gak marah karna kamu tiba-tiba ingin ikut ke kantor, sekalian ketemu lagi ma Shion." Jawab Sasuke sedikit melunak.
"B-bukan karena itu,"
"Lalu?"
"S-soal Peliharaan kita," Hinata mencicit, takut Sasuke menjadi lebih Sensitif dengan kata-kata 'Peliharaan'nya.
"Itu..." Sasuke nampak mempertimbangkan.
Flashback
.
.
.
"Terimakasih untuk sarapannya, untuk semuanya…
Aku mencintaimu," ujar Sasuke tersenyum lembut seusai mencium dahi Hinata.
"Ich Liebe Dicht." Jawab Hinata sambil tersenyum lebar.
"Tidak adil ah, kamu pakai bahasa Jerman!" Sasuke merengut.
"Mentang-mentang aku 'gak bisa…" ujarnya lagi.
"Hihihi, sudah. Yang penting maknanya juga sama," tutur Hinata halus.
"Sudah, ayo waktunya berangkat, nanti telat, Suke!"
" .. aku pamitan dengan dedek dulu ya," izin Sasuke sambil berjongkok dan mengelus perut Hinata dengan lembut.
"Sayang, ayah pamit dulu, ya. Ingat pesan ayah, jangan nakal. Jangan minta aneh-aneh –supaya ayah ga kerepotan-, dan… nurut ma ibu ya, ayah bekerja dulu. Ayah janji deh, nanti waktu pulang ayah beliin marsmellow mau?"
"Ah, jangan marsmellow, S-suke. Aku.. aku tiba-tiba maunya nonton langsung Konser JKT48 saja!"
GUBRAAAKKKKKKKKK!
"H-Hinata, d-disini kan, Di jepang kan s-sudah ada AKB48? K-kenapa minta yang jauh?"
"Ngga tau dedek.." enteng banget ya jawabnya?
WHAT THE-?!
"Nggak! Aku ga setuju! Pokoknya ga ada JKT."
"Sasu-chaaaann..." Hinata mulai melas. "Ya? Ya?"
"Hmmh, nanti kufikirkan lagi, ya. Uku sudah ditunggu Shion-chan."
"Eh? Shion-chan datang?" kemudian, konsentrasi Hinata mulai beralih.
"Iya, seminggu lalu. Sekarang dia yang memegang Saham ayahnya, dan dia ingin bekerjasama dengan perusahaan kita. Kenapa, sayang?"
"A-aku mau ikut! Bagaimanapun juga, dia temanku juga, kan. Sudah lama kita tidak bertemu."
"Baiklah, tapi janji. Bilang padaku, ya kalau capek?" dalam Hati, Sasuke merasa lega karena Hinata akhirnya ga jadi ngidam konser. Yess!
" ... tunggu, ya! Aku ganti baju dulu." Ujar Hinata sambil berlari kecil ke Arah Lemari dan berganti pakaian secepat mungkin untuk menghemat waktu.
.
.
.
Sasuke menunggu Hinata di mobil Sambil mengecek pesan yang masuk di hpnya. Ada beberapa dari Naruto yang ngotot ingin ketemu karena pingin Curhat dan minta tolong tentang mata kuliahnya yang bejibun, Ayah Hinata a.k.a Mertuanya yang menanyakan kondisi Hinata, Itachi yang pamer karna lagi ada di Paris dan pas waktu Hinata lahiran akan pulang sambil bawa oleh-oleh, dan terakhir Sekertarisnya Hanako yang melas-melas supaya Sasuke cepat datang karna Shion sudah menguras setengah tenaganya berkeliling kantor yang besarnya minta ampun untuk menunggu Sasuke.
Mulanya Sasuke hanya bisa garuk-garuk kepala karna bingung yang mana dulu yang harus dibalas dan bagaimana membalasnya. Tapi, sedetik kemudian ia ingat sebuah pepatah lama; bahwa yang tua dulu yang harus di dahulukan. So Pasti mertua dulu lah...
Tapi kayaknya kalau Cuma sms ga' sopan, telfon adalah solusi yang tepat. Mumpung kemaren juga mama Mikoto beliin pulsa, mubazir ga dipake.
"Moshi-Moshi." Sasuke menyapa dengan ramah setelah telfon diangkat oleh sang Ayah Hiasi.
"Moshi-Moshi yo, Sasuke." Terdengar jawaban Hiasi yang hangat di ujung telepon.
"Ah, saya hanya mengabarkan. Ayah tidak usah khawatir, kondisi Hinata Baik-baik saja." Ujar Sasuke mengawali pembicaraan.
"Benarkah? Bagaimana kandunganya?"
"Semakin sehat, beberapa hari lalu kami sudah periksa dan diperkirakan 1 bulan lagi akan lahir. Tenang saja, Ayah. Saya akan menjaganya dengan sebaik mungkin." Ujar Sasuke Gentle.
"Baguslah, bagaimana dengan perlengkapanya? Ayah ingin membelikan sesuatu untuk cucuku."
"Maaf, membuat ayah kecewa, tapi semua sudah saya persiapkan." Ujar Sasuke sambil tersenyum lebar.
"Lalu aku harus membelikan apa? Kau ini menatu yang bagaimana, teganya membiarkan mertua tidak di beri kesempatan membelikan popok untuk cucunya. Hahhaha." Jawab Hiasi yang tidak terima.
Dari kaca Spion, Sasuke dapat melihat Hinata berjalan mendekati mobilnya yang terparkir rapi di pinggir jalan, siap untuk berangkat.
"Sekali lagi maaf, hehe. Baiklah, ada apa-apa akan saya kabari lagi, ayah. Saat ini Saya dan Hinata akan kekantor." Jawab Sasuke menyudahi pembicaraan.
"Ya, ya. Tolong jaga putri dan cucuku ya, Sasuke! Hati-hati."
Lalu Hinata membuka pintu, masuk ke mobi Sasuke dan duduk manis disebelah suaminya dengan senyuman manis diwajahnya.
"Pasti, ayah. Jaa.."
"Jaa.."
Klik
"Siapa, Sasuke-kun?" ekspresi Hinata kini berubah menjadi Heran.
"Hiasi Tou-san, ia bertanya bagaimana kabarmu. Bagaimana, sudah siap, sayang?"
"Ohh... , sudah."
"Baiklah, mari berangkat." Jawab Sasuke sambil menyalakan mobil dan mengemudikanya keluar dari kompleks apartemen yang mereka tinggali.
"Eh, Sasuke-kun aku tadi bawa sesuatu, lho!" ujar Hinata dengan antusias.
Penasaran, Sasuke menoleh. "Hmm? Apa sayang?"
"Peliharaan kita. Taraaa!" jawab Hinata sambil menunjukkan keranjang kecil yang berisi 1 belalang dengan riang gembira pada Sasuke.
Seketika, mata Sasuke langsung membulat lebar dan jantungnya berdegup kencang.
Selama beberapa detik, ia kehilangan kendali dan tidak fokus pada kemudi mobil yang ia kendarai, karena Shock tingkat 2 lantai apartmen. *?* tidak, tidak mungkin di depanya ini adalah belelang, tidak ada belalang, Tidak ada belalang!
Lupa di capslock: TIDAK ADA BELALANG!
Sasuke baru dapat menguasai dirinya kembali setelah Hinata yang berteriak dengan histeris bahwa mobil mereka akan menabrak seekor siput yang sedang menyebrang. Untunglah, Sasuke sadar pada waktu yang sangat tepat sehingga calon kecelakaan yang tadinya akan terjadi dapat dihindari *?*. berusaha Konsentrasi sekuat tenaga, Sasuke mengatur kembali pikiranya yang sempat lari berpencar entah kemana. Okay, Sasuke. Ini hanya mimpi buruk. Tenang, dan hadapilah dengan fikiran dingin, ingat Hinata sedang mengandung anakmu, kalahkan rasa takutmu, kalahkan rasa takutmu! Inner mencoba Sasuke menyemangati dirinya sendiri.
"Hinata," Ujarnya masih dengan rasa gugup sambil memindahkan gigi mobil. "Aku rasa kamu sudah tahu bahwa aku benci Belalang?" kemudian, sikap Sasuke mulai berubah dengan perlahan. Tentu, siapapun pasti akan berbuat demikian. Atau, marah, atau menangis, atau ngambek jika hal yang dibenci malah dibawa saat ada jam penting dan disaat yang tidak tepat seperti ini. Sudah menjadi rahasia umum *?* bahwa Seorang Sasuke Uchiha adalah seorang phobia akut dengan belalang kayu, karena dahulu sekali, sewaktu Sasuke masih kecil, ia memiliki kenangan buruk tentang belalang kayu. Bagaimana ceritanya? Author rasa ia tak mau berbagi cerita dengan kita.
"T-tapi mereka imut," Hinata berusaha membela hewan peliharaanya tersebut. Bagaimanapun juga, ia tak terima kalau peliharaan yang ia dapatkan dari penyelamatan mendadak seekor burung pemakan serangga ingin menerkam si belalang yang tak berdaya di balkon apartemen mereka sekitar 15 menit yang lalu.
Hening. Sasuke akhirnyan memilih bungkam.
.
.
End Of Flashback
.
.
"A-aku minta turun." Ulang Hinata sekali lagi.Meski setelah diturunkan nanti Hinata belum memutuskan mau kemana. Tapi daripada situasinya semakin amburadul begini, Hinata milih mengalah aja deh.
Dengan tetap membisu, Sasuke mendekatkan tubuhnya kearah Hinata dan membuka pintu mobil di samping Hinata tanpa banyak gerakan yang berlebihan. HAH? diturunin Beneran?
"S-suke-kun?" Hinata hanya mampu menatap onyxs suaminya itu dengan tatapan tak percaya. Gerakan yang reflek dari Sasuke yang beneran ngabulin permintaan Hinata membuatnya terdiam kelu. Mata Hitam Uchiha itu beradu pandang dengan Mata gading Hinata yang membulat karena kaget. Sasuke benar-benar akan... menurunkanya?
Namun bukan itu saja yang membuat Hinata terkejut, bibir hangat milik suaminya itu kini telah menempel sempurna pada bibirnya. Memberikan ciuman hangat yang juga tiba-tiba. Hinata makin ngelu. Gak tahu harus gimana.
Namun sedetik kemudian, hati kecilnya merasa tenang. Seolah ia menemukan setitik jalan keluar dari labirin yang membingungkan. Dengan sikap dingin Sasuke tadi, ia merasa sangat jauh dari suaminya itu. Namun, ciuman tulus yang diberikan sang suami membuatnya kembali merasa utuh sebagai seorang istri. Dengan senang hatipun Hinata membalas ciuman Sasuke lembut.
Beberapa saat kemudian, mereka melepaskan tautan bibir mereka dan Saling menatap mata pasanganya. Hinata menatap –masih- dengan tatapan tanda tanya, sedangakan Sasuke menatap dengan kalem dan penuh kelembutan.
"S-suke-kun... akan menurunkanku?" Hinata bertanya dengan takut.
"Bukan kamu, sayang." Ujarnya sambil tersenyum lembut dan meraih keranjang mungil yang ada di pangkuan Hinata. "Boleh?" ujarnya kalem.
"Belum tentu ia bahagia kamu kurung seperti itu." Imbuhnya sambil tersnyum bijak.
Hinata mengerti sekarang, kalau binatang ini membuat Hinata dan Sasuke bertengkar dan membuatnya tidak nyaman, maka ia harus merelakanya hidup bebas kembali. Toh, belum tentu belalang ini akan senang hidup terkungkung dalam keranjang jangkrik Hinata. Meskipun Hinata telah menyelamatkan nyawanya. Hinata menggangguk pelan dan tersenyum pada suaminya. Jadi, ayo kita ambil Hikmahnya...
Cobalah mengerti pasanganmu dan jangan memaksakan diri alias egois.
Belum tentu apa yang kita sangka baik, juga baik untuk orang/hewan lain (dalam fic ini).
Sikap sabar dan pengertian pasti kelak akan berbuah manis ;)
.
.
.
Hanako duduk dengan lesu di Cafe yang lokasinya dekat perusahaan. Lututnya terasa lemas dan tenaganya seolah telah terkuras habis menamani Nona Shion yang ngotot memintanya untuk menemani dirinya yang sedang menunggu pak Sasuke, mana arsip penting harus ia tangani lagi. Huft. Semoga saja gajinya naik.
"Ne, Hanako-chan, kamu mau pesan apa lagi? Hmm makanan disini enak-enak!" tawar Shion sambil melihat-lihat daftar menu berwarna Cokelat yang ada ditanganya.
"Ah, arigatou Shion-san. Saya sudah kenyang," meski begitu kesal dengan sikap teman bosnya ini, Hanako harus tetap bersikap sopan, demi nama baik perusahaan.
"Benar? Tapi sungguh, enak-enak lh-"
"Hai Shion," ada suara yang menegurnya, Shion segera mendongak dan menatap orang yang barusaja menyapanya.
"Sasuke!" ujarnya setelah mengetahui siapa yang menegurnya. Namun dia ternyata tak sendiri, disampingnya ada seorang wanita yang kini telah resmi menjadi Nona Uchiha. Juga sahabatnya sedari kecil, Hinata.
"Hinata-chan!" Shion berdiri dan tersenyum ramah, berjabat tangan dan mempersilahkan pasangan suami-istri tersebut untuk bergabung serta memesankan mereka makanan pada pelayan. Merasa tuganya telah selesai, Hanako segera mohon diri dan kembali ke perusahaan untuk mengurus persetujuan dokumen yang menumpuk di mejanya.
"Wah, sudah berapa bulan sekarang, Hinata-chan?" mata Shion berbinar mengetahui sahabat kecilnya kini telah menjadi wanita dewasa dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Kapan ya ia akan menyusul?.
"Um... depalan bulan, beberapa bulan lagi akan melahirkan." Jawab Hinata dengan senang sambil menatap sahabatnya dengan tatapan hangat. Sudah lama sekali ya, mereka tidak bertemu... dia sudah sukses dan semakin cantik sekarang.
"Jadi kamu juga kapan nyusul? Ga malu di dahului Hinata?" ujar Sasuke sambil tersenyum mengejek, meski begitu, Shion tahu bahwa Sasuke sedang mengajaknya bercanda.
"Dasar ga berubah, yah... setidaknya aku bukan sahabat yang kalau menikah tidak mengundangi teman kecilnya sendiri." Jawab Shion sinis dan menjulurkan lidahnya untuk membalas perkataan Sasuke.
"Itu kan bukan kemauanku?" ujar Sasuke tak mau kalah.
"Ah.. sudah-sudah, sebaiknya a-ayo kita makan dulu sambil membahas p-proyek Shion-san diperusahaan Sasuke-kun," Ujar Hinata menengahi.
"Yare-yare.." Shion mengerucutkan bibirnya dan mulai membahas proyeknya dengan perusahaan Uchiha. Nanum dalam hati, Shion masih merasa jengkel 'Menyebalkan sekali membiarkan Sasuke menang dan menyeringai. Huh.'
Ternyata mereka tidak ada yang berubah.
.
.
.
Apartemen Sasuke, 22.40 P.m
Sasuke tengah menggendong anak laki-lakinya yang berusia 6 tahun untuk masuk pertama kali sekolah. Didepanya sudah ada SD konohagakuen yang kualitasnya sudah tak diragukan lagi, alias internasional.
"Nah, Ryouta. Kamu janji ga boleh nakal, ya?" Ujar Sasuke begitu menurunkan anak semata wayangnya dan berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan putranya.
"Ini hari pertamamu masuk sekolah, buatlah ayah bangga. Oke?" ucapnya sambil mengusap pipi sang penerus Hyuuga-Uchihanya.
"Iya, ayah. Ayah juga janji ga nakal dengan wanita lain." Ujar anak kecil berambut birutua dengan gayarambut yang hampir mirip bapaknya itu dengan kalem dan polos.
"Nakal dengan wanita lain?" Alis Sasuke naik sebelah, tidak mengerti dengan ucapan anaknya yang masih polos ini. 'mungkin hanya bercanda,'
"Iya, kemarin aku lihat ayah sama tante yang rambutnya pirang. Ayah ga boleh maen lagi ma dia, meskipun ibu sudah meninggal," jawab Uchiha Ryouta dengan sungguh-sungguh. Sasuke tak mengerti, Hinata meninggal? Ia dan Shion pergi bersama? Maksudnya?.
"Tidak, Ryouta-chan." Sasuke tersenyum dan menenangkan buah hatinya. "Ayah nggak maen sama tante Shion, dan ibumu masih hidup."
"Tidak, ayah. Ibu meninggal saat melahirkanku." Ruoyta masih bersikukuh pada pendirianya, dan pernyataan Sasuke barusan membuatnya terbentur dan shock. Mana mungkin Hinata...?
Perlahan tapi pasti, sekolah yang tadinya banyak berkeliaran anak-anak SD berubah menjadi gelap dan suram bagikan bangunan angker. Terdegar suara sesegukan tangisan dan lolongan pilu dari berbagai penjuru, seolah minta tolong dengan kondisi yang sudah sekarat. Begitu pula Ryouta yang berubah menjadi bukan Ryouta, matanya berubah merah dan kukunya bertambah panjang. Tatapanya mengisyaratkan kebencian yang mendalam kepadanya "Ayah membunuh ibu, ayah selingkuh!" tuduh sang buah hati kepadanya. Sasuke terbelalak, namun ia hanya bisa terdiam, tubuhnya kaku dan tak mampu bergerak mendapati kondisi yang tiba-tiba berubah seperti ini. Apa yang harus ia lakukan?
"AYAH MEMBUNUH IBU!" teriak Ryouta sambil menggigit lengan kanan Sasuke, sang ayah hanya mampu memekik tertahan karena tak mampu melawan putera tersayangnya. Lagipula, Tubuhnya bagaikan tersihir oleh jurus Kagemane no jutsu dari film ninja yang suka ia tonton. Tapi, kalau seperti ini beda ceritanya.
"Sasuke-kuun..ittai..." bertambah lagi keterkejutan Sasuke atas kejadian yang menimpanya, kini Sasuke melihat sosok Hinata yang berjalan perlahan menuju kearahnya.
"Hina...ta" Sasuke ingin tersenyum, namun saat bola matanya melihat dan mencermati sosok Hinata, Sasuke ternganga. Hinata, isterinya, Ia memakai gaun putih panjang hingga menutup mata kaki, namun yang semakin membuat Sasuke tak mengerti adalah banyak sekali darah yang mengotori baju itu, dan itu darah segar. Hinatanya kenapa? Wajahnya juga pucat pasi, bibirnya merintih seolah meminta pertolongan. Apa yang sebenarnya terjadi?!
"AYAH MEMBUNUH IBU!" jeritan Ryouta yang semakin menjadi membuat Sasuke merasa pening dan lemas, ia tak tahu lagi harus bagaimana. Sasuke tak tahu harus menghadapi Istri dan Anaknya dengan seperti apa semua ini begitu tiba-tiba dan membingungkan.
"Sa-suke...kun.." Sedangkan Hinata mulai semakin dekat. Ia harus berbuat apa?
"Ayah membunuh ibu!"
"Sasuke-k-kun..."
Benarkah ia seorang pembunuh yang membunuh Isterinya sendiri? ARGH! Apa yang sebenarnya terjadi!
"AYAH!"
"SASUKE!" dan wajah Hinata berubah menjadi liar dengan mata yang berdarah dan taringnya yang seolah siap menghisap darah Segar Sasuke yang mengalir dari gigitan Ryouta.
"AHHHH!" Sasuke terbangun, peluh keringat membanjiri wajah tampanya. Ternyata semua Ini hanya mimpi, sedetik kemudian ia merasa lega. Namun, cengkraman erat yang amsih terasa di tangan kananya dan erangan lirih dari isteinya sontak membuatnya menoleh dengan cepat.
"S-sayang? Hinata? Ada apa?" ujarnya khawatir. Hinata menahan sakit dengan menggigit bibir bawahnya.
"I-ittai... Sa-sasuke-kun..."
Hinata Kontraksi.
TBC
.
.
.
Gantung ah endingnya! T,T *dihajar reader* yah, sesuai janji Hika, chapter depan adalah penutup dan pelengkap, gomen ne hika luama updatenya dan membuat minna-san menunggu lama, :) semoga chap ini menghibur meski hika rasa garing dengan ga ada konflik ._.'a
Yah, tapi kritik dan saran tetap hika terima untuk menyelesaikan fic ini dan demi menambah ilmu kita tentang penulisan fic :D *?* mau ikut nyumbang ide yang edingnya gimana juga boleh, soalnya hika belum nemu 'wangsit' lagi baut chap depan T,T *PLAK* sekian dari Hika, semoga tidak terlalu mengecewakan! Jaa! ^,^
Salam hangat, Hikari No Aoi.
