My Husband
Rated T
Genre Romance/Drama/Family
Characters Wonwoo, Mingyu, rest of Seventeen members
Warning! Typos everywhere, ooc, oc-
Summary Ia tidak pernah mengeluh, selalu memuji masakan Wonwoo yang sebenarnya tidak begitu enak, ia juga tidak pernah mau menyusahkan Wonwoo walau ia sendiri lelah. Wonwoo terkadang selalu meruntuki dirinya yang selalu memiliki mood yang berubah-rubah dengan cepat bagaikan tangan yang dibalikkan dengan mudahnya pada suaminya itu. Meanie!
Enjoy~
000
.
.
.
"Mingyu!"
"Mingyu-ah, jangan-"
BRAKK
"Dimana?!" Mingyu membuka pintu ruangan itu kasar, Wonwoo yang matanya sedang terpejam seketika terbuka lebar dan memandang Mingyu kaget. Namun sebenarnya tubuhnya lemas untuk membuka mata tapi terpaksa ia reflek membuka matanya karena Mingyu.
"Mingyu, kau membangunkannya-"
"Diam! Jelas kau yang membunuh ibunya!"
Jantung Wonwoo seketika hampir berhenti mendengar itu, ia berusaha mungkin memandang duang orang dihadapannya, walau ia berusaha mungkin untuk membuka matanya. Kepalanya terasa sangat pusing. Mingyu pun langsung memadang Wonwoo, terasa ditatapi oleh laki-laki yang kini tengah berbaring diatas ranjang rumah sakit.
Wonwoo juga terkejut melihat Mingyu yang kini ada di hadapannya, pasalnya mereka tidak pernah dekat bahkan saling menyapa pun tak pernah. Tapi yang Wonwoo heran, adalah dirinya yang bingung mengapa ada di rumah sakit dan Mingyu ada disana.
"Ibuku?..." tanya Wonwoo dengan suara serak, tiba-tiba ia mengingat ibunya "Ibu..?" perempuan paruh baya yang berdiri tak jauh dari Mingyu, berjalan mendekati Wonwoo dan memeluknya "Kamu siapa.."
Wonwoo merasa bahunya panas, sosok yang memeluknya itu menangis di bahunya. Wonwoo beralih memandnag Mingyu yang tersenyum pahit padanya.
"Kenapa?" tanya Wonwoo bingung, tiba-tiba seorang pria masuk dan istrinya, memandang Wonwoo dengan sedih.
"Jadi.. Wonwoo-ah... Kami turut berduka atas kematian ibumu" Wonwoo memandang mereka dalam diam "Dan... Maafkan keluarga kami-"
"Maafkan aku, aku tak sengaja menabrakmu dan ibumu... Maafkan aku uhh hiks" tangis perempuan yang memeluk Wonwoo itu. Setelah itu, tak lama mereka hanya diam memandnagi Wonwoo yang menangis. Sampai akhirnya ayah dari Mingyu, membuka suara.
"Uh.. Mungkin ini sangat mendadak tapi... Aku akan menikahkanmu dengan Mingyu" sontak Mingyu dan Wonwoo saling berpandangan. Mingyu hendak membuka suara tapi sang ayah langsung mengangkat sebelah tangannya keatas "Tak ada penolakan, kita akan berbicara dengan ayahmu, Jeon Wonwoo"
Wonwoo hanya diam, bingung dengan keputusan ayah Mingyu yang tiba-tiba itu, namun ia juga tak bisa menolak.
"Wonwoo-ah" Wonwoo tersadar dari lamunannya dan memandang Seolhyun kaget "Kau pucat"
"E-Eh" Wonwoo sedikit kaget dengan suara perempuan itu, lebih lembut dari yang ia bayangkan. Hanya saja masih terbayang dirinya yang dibentak oleh sosok bernama Seolyun itu di telepon.
"Pucat?" tanya Mingyu, ia berbalik dan memandang tiga sosok yang berarti dalam hidupnya. Namun Wonwoo mengggelengkan kepalanya dan seolah sudah terjawab pertanyaan Mingyu, laki-laki berkulit tan itu pun melanjutkan masaknya.
"Papa! Aku mau coklat!" namun Mingyu tak menanggapi Chani yang terus-terusan memangilnya sedangkan Seolhyun yang ada di sebelahnya hanya menegornya untuk tidak berisik. Seolyun mengalihkan pandangannya pada Wonwoo, tanpa disadari laki-laki berambut hitam itu, jika Seolhyun melihatnya sedang mengelus pelan perut ratanya.
"Kudengar kau... Sedang hamil ya?" tanya Seolhyun tiba-tiba, yang membuat Wonwoo hanya menganggukan kepalanya tanpa berkata apapun. Seolhyun ingin berkata lagi namun mengurungkan niatnya ketika melihat Wonwoo yang tiba-tiba berdiri dari duduknya.
"Aku harus membeli susu hamil dulu" ucap Wonwoo, kemudian berjalan keluar dari apartemennya, Seolhyun memandang punggung Mingyu dingin.
"Jadi... Bagaimana keputusanmu "
.
.
.
"Kau bahkan tak mencintainya"
.
.
.
"Dari pada kau harus berusaha lagi, kan capek"
.
.
.
"Lebih baik kau memilih yang sudah pasti saja"
Mingyu hanya diam, tak membalas perkataan-perkataan Seolhyun dan rengekan Chani yang meminta dibelikan coklat.
000
Wonwoo berjalan keluar dari sebuah mini market, ia memandangi langit pagi disana, udara pagi menjelang itu membuatnya bersemangat. Tanpa disadari ia tersenyum-senyum sendiri yang membuat orang-orang disekitarnya memandangnya bingung.
Tiba-tiba ia memikirkan Mingyu, yang memandangnya khawatir tadi pagi, membuatnya berloncat-loncat kecil karena kegirangan. Wonwoo pun dengan tak mempedulikan sekitar, ia hampir berjalan di tengah jalan, bahkan beberapa remaja atau wanita paruh baya memperingatkannya untuk jalan ke pinggir, namun dengan mengingat Mingyu membuatnya hatinya hangat dan melupakan sekitar.
KRIEETTT
BRAK
Wonwoo tak mengerti, ia hanya sedang memikirkan Mingyu, Mingyu dan Mingyu. Seketika ia merasa sesuatu menghantamnya, membuat tubuhnya melayang dan terakhir kali, ia memandang langit biru yang begitu cantik. Matanya mulai tertutup. Terbayang tubuh hangat Mingyu yang memeluknya, membuatnya tersenyum dalam ketidaksadarannya.
"W-Wonwoo-a-ah! Iya itu Wonwoo! Junhoe-ya, cepat berdiri!"
"W-Wonwoo..."
"OMO! P-PANGGIL AMBULAN!"
.
.
.
.
.
.
.
a/n: Kira-kira Wonu keguguran lagi ga ya :? Ato besoknya ada acara pemakaman :?
Makasi udh baca, jan nangis lagi ya para reader :D! /pala lu ga nangis/nyesek, disiksa mulu si Wonwoo, Mingyunya brengsek, meanie y juga mana thor, moment meanie macam apa yang kau buat thor, kemana hati lu thor/ ee..ee.. itu.. itu../lempar author ke sumur/
FF My husband ngegantung-
.
.
.
.
CANDA ATH
:'''V
