Chapter 9: For You
swaggysuga presents…
.
.
.
The Postponed Victory
Cast: all BTS member, Bang PD, etc.
Cast punya Tuhan dan keluarganya!
Yaoi / T / Yoonmin / Minyoon
Uke!Yoongi, Seme!Jimin
slight!Vkook, Namjin. Crack!Yoonseok
Enjoy!
.
.
.
"Paris?!"
Namjoon mengangguk malas. Pertanyaan Jimin menggantung di udara, tangannya masih menggenggam erat kartu pos bergambar menara Eiffel yang diberikan Namjoon barusan. Seolhyun melongo tak percaya.
"Apa kita harus menyusulnya ke Paris?" Seolhyun meringis.
"Gila. Dia gila," Jimin menggelengkan kepalanya.
"Aku rasa dia menantang kita. Mungkin dia tahu sejauh apapun dirinya, kita akan mengejarnya."
Jimin tertawa miris. "Sia-siakah pencarian kita, hyung?"
"Kalau kau nekat, kita bisa mencarinya di Paris. Tapi harus ada informasi pasti akan keberadaannya," Namjoon mengusap dagunya, berpikir keras.
"Kurasa aku akan lebih lama disini," Seolhyun menggigit bibir bawahnya. "Apakah kita sudah selesai? Aku rasa aku akan menghubungi Kyungsoo oppa untuk kembali ke rumahnya."
"Baik, kita antarkan Seolhyun dulu, ya?" Namjoon bertanya pada Jimin. Yang ditanya hanya mengangguk.
Namjoon mengendarai mobilnya meninggalkan rumah yang sempat ditempati oleh Jennie itu. Otak mereka disesaki pikiran masing-masing.
Tanpa terasa, rumah mewah Kyungsoo sudah di depan mata. Kyungsoo yang kebetulan sedang berada di luar langsung menyambut Seolhyun, Jimin dan Namjoon yang datang mendadak.
"Oppa," Seolhyun menampakkan wajah lelah. "Dia… dia kabur lagi."
Kyungsoo menghela nafas. "Aku bahkan tidak tahu siapa yang kau maksud, Seolhyun. Masuklah, ceritakanlah di dalam. Dari kemarin kau selalu merahasiakannya dariku. Padahal, siapa yang tahu kalau aku punya solusi?"
Seolhyun, Jimin dan Namjoon mengikuti langkah Kyungsoo ke dalam rumah. Mereka mendudukkan diri ke sofa nyaman di tengah ruangan.
"Jadi… apakah kalian sudah bersedia untuk membagi cerita kepadaku?"
Ketiganya bertatapan, seolah meminta persetujuan satu dengan lainnya. Alis Kyungsoo terangkat sebelah, menunggu jawaban mereka.
"Kami mencari seseorang yang membawa kabur demo musik kami," Namjoon bersuara.
Kyungsoo mengangguk paham. "Dan dimana dia sekarang?"
"Dugaan sementara di Paris, Oppa," timpal Seolhyun.
"Astaga, jauh sekali," Kyungsoo membelalakkan matanya yang besar. "Lalu apakah kalian mau mengejarnya kesana? Kalian tahu dimana persisnya dia berada?"
"Tidak Oppa, kami tidak tahu."
"Begini saja," Kyungsoo memajukan tubuhnya. "Kalian harus tenang. Cari informasi sebanyak mungkin. Sebaiknya kalian pergi setelah kalian yakin dimana dia berada. Paris itu luas, kalian tidak bisa terlunta-lunta disana demi mencari orang itu. Lagipula, memangnya siapa yang berani mencuri demo musik kalian?"
"Dia… sepupuku, Jennie," Seolhyun menggigit bibir bawahnya.
"Jennie? Aish," Kyungsoo mengusap wajahnya. "Oke, oke. Aku paham bahwa kalian sangat ingin menemukannya dan mengambil demo musik kalian. Tapi yang harus kalian pahami, Jennie adalah seorang belut yang licin, dia lihai dan bisa menjebak siapapun yang dia mau. Bersabarlah sedikit, biar kita menemukan solusi yang paling tepat untuk masalah ini."
Seolhyun memicingkan mata. "Oppa, kenapa kau seolah kenal sekali dengannya?"
"Karena dia mantan pacarku."
Suara itu berasal dari seseorang selain mereka. Kemunculan Jongin yang mendadak di ruangan itu membuat keempatnya tersentak. Jongin tersenyum santai kepada ketiga tamu kekasihnya. Dengan seenaknya ia duduk di lengan kursi dan menyampirkan tangannya ke bahu Kyungsoo. Si mungil itu hanya tersipu.
"Jennie yang kalian maksud adalah mantanku, si ular berbisa yang pandai bersilat lidah," Jongin menatap Seolhyun, seakan meminta maaf karena sudah menilai sepupunya sebejat itu. "Berhati-hatilah, ia bukan orang yang akan menyerahkan sesuatu yang dia inginkan semudah itu."
"Apakah sebegitu pentingnya demo musik yang kami buat?" Jimin mengeluh.
"Mungkin demo musik itu punya nilai jual? Begitu-begitu, jangan ragukan naluri bermusik Jennie. Dia salah satu jenius yang dimiliki oleh agensinya. Hanya saja… kelakuannya yang seperti itu layak mendapatkan teguran," Jongin mengangkat bahunya.
Kyungsoo mengiyakan. "Kalau ada apa-apa, tanyakan kepada kami. Sedikit banyak kami tahu tentangnya. Kami akan mencari informasi akan keberadaannya."
"Terima kasih Kyungsoo hyung, Jongin hyung," Jimin memandangi mereka dengan tatapan bersyukur.
"Iya, jangan ragu dan sungkan," ibu jari Jongin teracung kepada Jimin.
"Ngomong-ngomong… kamar yang di atas masih kosong tidak, oppa? Aku mau menumpang disini boleh?" Seolhyun berkata sambil nyengir.
"Huft, kau ini. Ya, ya. Silakan menginap disini sepuasnya, dasar bocah."
"Kalau begitu… kami pamit dulu ya hyung," ujar Namjoon sambil berdiri, disusul oleh Jimin.
"Seolhyun, baik-baiklah disini," pesan Jimin. Seolhyun hanya tersenyum.
"Oke, tenang saja. Ingat, jangan pernah mengikuti nafsu jika berhadapan dengannya," Kyungsoo beramanat.
"Ya, hyung. Terima kasih banyak."
.
.
.
"Hyung, apa kau tidak mau mampir?"
Namjoon menatap rumah kontrakan yang sudah menjadi markas kenangan bagi mereka. Ia melirik Jimin yang masih memandang dirinya dengan harapan, sambil menggenggam tali ranselnya.
"Lain kali saja, Jimin. Aku masih ada urusan," tolak Namjoon halus.
"Oke, hyung. Terima kasih banyak atas bantuannya hari ini. Aku berhutang budi padamu."
"Dasar bodoh, kau berkata seolah kita ini orang asing," kekeh Namjoon. "Sudah, masuk sana. Yoongi hyung pasti sudah menunggu."
"Hyung."
"Ya?"
"Rahasiakan ini dari semua teman kita, ya."
Jari Namjoon terangkat, membentuk lambang 'oke'. Jimin tersenyum, lalu turun dari mobil Namjoon dan melambaikan tangan sampai mobil Namjoon hilang dari pandangannya. Lelaki tampan itu lalu masuk ke rumah.
Sungguh, ia merindukan Yoongi-nya, miliknya yang sudah lama tidak dilihatnya. Namun alangkah kecewa dirinya ketika mendapati Yoongi yang sedang bersenda gurau di dapur bersama sahabatnya sendiri, Hoseok. Ia menunduk, menyadari bahwa semua yang terjadi di depan matanya pasti murni kesalahannya.
Salahnya karena sudah meninggalkan kekasihnya terlalu lama.
Matanya masih setia mengekor keduanya yang tidak menyadari kehadirannya. Seketika Seokjin keluar dari kamar dan melihat Jimin yang sedang memperhatikan kekasihnya sedang berderai tawa dengan Hoseok. Hatinya nyeri, Yoongi bahkan tidak mengabarinya bahwa dia sudah pulang ke rumah.
"Hei," Seokjin menepuk pundaknya, menyadarkan Jimin. "Kemana saja kau?"
"Ah, aku… hanya sedang ada urusan," Jimin menggaruk kepalanya.
Seokjin menarik pelan pergelangan tangan Jimin keluar ke arah teras. Dibimbingnya Jimin untuk duduk di kursi, sementara dirinya sendiri berdiri sambil bersidekap.
"Urusan apa yang lebih penting dari Yoongi sampai-sampai kau meninggalkannya dalam kegalauan luar biasa, membuatnya melamun sepanjang hari sambil memandangi ponselnya, berharap kau mengabarinya?"
"Hyung, aku—"
"Aku tak butuh jawabanmu, Jimin. Tanyalah dirimu sendiri. Apakah kau rela melihat kekasihmu akhirnya asyik dengan yang lain, karena prianya tidak peduli lagi padanya?"
Masih dalam diam, Jimin menunduk, tak berani melihat hyung tertuanya itu. Jari-jarinya ditautkan, bingung mau menimpali apa kepada Seokjin.
"Pergilah ke dalam. Aku tak mau melihat kalian seperti ini," Seokjin melangkah ke dalam.
Jimin berdiri, bingung akan melakukan apa. Ia akhirnya memberanikan diri masuk ke dalam, meskipun resikonya adalah kembali melihat Yoongi bersama Hoseok.
Namun dugaannya salah. Yoongi tengah berdiri di perbatasan dapur dan ruang tengah sambil menatapnya sadis, lalu melengos dan masuk begitu saja ke dalam kamar. Tanpa buang waktu, Jimin segera mengejarnya.
"Hyung, kita perlu bicara."
Yoongi hanya meliriknya dengan sudut matanya, tidak memberi respon apapun dan malah berdiri membelakangi kekasihnya. Jimin meletakkan ransel di dekat kakinya dan mulai bersuara.
"Hyung… aku salah. Aku egois, tidak mengabarimu selama ini, sementara aku menuntutmu untuk terus bersamaku dan melewati semuanya denganku. Tapi… si brengsek ini sekarang meminta maafmu, hyung," Jimin menaruh tangan kanannya di atas dadanya. "Hati ini sakit ketika melihat senyummu kau berikan untuk yang lain. Sumpah hyung, katakanlah aku bodoh karena gagal membuatmu terus tersenyum. Tapi… jangan tampilkan senyum yang berbeda itu di hadapan siapapun."
Yoongi masih teguh, tak berniat melihat Jimin barang sedetik pun.
Jimin paham, sangat paham jika kekasihnya ini marah luar biasa. Maka ia tidak protes ketika Yoongi hanya berbalik, lalu keluar dari kamar, melewatinya begitu saja seolah dirinya adalah angin yang tak kasat mata.
Pemuda tampan itu menghembuskan nafasnya, lelah. Mungkin ketika ia terpisah rumah dari kekasihnya, sesi pertengkaran ini terasa lebih mudah. Tapi sekarang ketika Jimin dan Yoongi sudah sama-sama pulang ke rumah kontrakan, sulit menahan perasaan canggung yang ada karena kemarahan dan kesalahpahaman yang ada di antara mereka.
Kaki Jimin membawa tubuhnya keluar dari kamar. Didapatinya Jungkook yang baru datang dari sekolahnya. Wajahnya sumringah ketika mengetahui Jimin sudah kembali dengan sehat walafiat.
"Ah, hyung sudah pulang!"
Jimin mengangguk. "Baru saja tadi."
Jungkook mengibaskan tangan di depan wajahnya. "Hyung bau! Sana, mandilah dulu. Sini, kemarikan coat-mu, biar kuletakkan di kamar."
Jimin melepas coat-nya dan membiarkan Jungkook membawanya ke kamar, enggan memberi respon lebih lanjut. Sementara Jimin beranjak untuk mandi, Jungkook merapikan sedikit kamar Jimin dan Yoongi. Ketika disampirkannya coat Jimin di hanger, sesuatu terjatuh. Otomatis Jungkook membungkuk untuk mengambilnya.
"Foto…?" Jungkook membalikkan foto itu dan mengernyitkan kening melihat sosok dalam foto tersebut. "Untuk apa dia menyimpan foto orang ini?"
Dengan langkah cepat ia menuju ruang tengah, berniat untuk mendesak Jimin untuk memberikan penjelasan kepadanya. Sekeluarnya Jimin dari kamar mandi—sudah segar dengan kaos putih dan celana jeans yang tadi juga dikenakannya, Jungkook langsung menyerbunya sambil mengacungkan foto itu di depan wajah sahabatnya.
"Jelaskan padaku, apa hubunganmu dengan dia?"
Tak menunjukkan ekspresi apa-apa, Jimin langsung merebut foto itu. "Diamlah, bukan urusanmu."
"Urusanku, hyung. Aku yang pergi ke tempat sialan itu dan aku yang pertama kali mendengar kabar bahwa orang yang di foto itu, kabur. Kim Jennie kabur, membawa jerih payah kita dan menghancurkan mimpi kita, membuat Namjoon hyung pergi. Jadi, apa hubunganmu dengan dia? Kenapa kau sampai memiliki fotonya?! Jelaskan padaku, hyung!"
Jimin menarik nafas, merasa sangat muak. "Aku mencarinya, kau puas?! Dan kau benar. Ia bukan hanya menghancurkanku, menghancurkanmu, menghancurkan semua yang kita punya. Aku hanya ingin menemukannya, mengambil kembali demo musik kita demi melindunginya, melindungi semua kerja keras kita, kerja keras Yoongi hyung!"
"Untuk apa, hyung?" suara Jungkook melemah. "Untuk apa kau mencarinya? Itu tak akan mengubah keadaan. Melindungi demo musik kita katamu, hyung? Percayalah, hal itu tak akan mengubah apa-apa."
"Ini bukan masalahku, Kook. Tapi tentang Yoongi hyung, Yoongi hyung sudah bersusah payah membuat demo musik kita. Aku hanya ingin melindunginya. Aku menjaga agar demo itu tidak disebarkan oleh Jennie. Kita belum mendaftarkan hak ciptanya, kalau kau ingat," Jimin menghembuskan nafas kasar.
"Apa Yoongi hyung tahu kau melakukan ini semua?"
Lagi-lagi hanya diam dari Jimin yang didapat oleh Jungkook.
"Kau bilang mau melindungi Yoongi hyung. Apanya yang melindungi kalau bahkan dia sendiri tidak tahu kau melakukan semua ini untuk dirinya?"
"Biarkan saja."
Suara dingin seseorang menyela percakapan mereka. Sosok Yoongi berdiri di ambang pintu masuk rumah, seakan ia sudah berada di situ sedari tadi, menikmati ocehan mereka berdua. Yoongi yang baru kembali dari minimarket ujung jalan—menghindari Jimin— sambil memegang kaleng minuman di tangan kanannya.
"Jimin, aku perlu bicara denganmu."
Prolog Jimin tadi rupanya dijiplak oleh Yoongi. Jimin mengangguk dan mengikuti Yoongi masuk ke kamar, mungkin kamar itupun bosan jadi saksi pertengkaran mereka terus menerus. Jungkook menatap mereka berdua sambil merapal doa dalam hati, semoga tidak terjadi perang dunia ketiga.
Yoongi menutup pintu kamar demi memberi privasi pada dirinya dan Jimin.
"Jelaskan padaku. Semuanya."
Suaranya masih tetap dalam nada yang sama. Datar, namun penuh tanda tanya.
"Maafkan aku, hyung, aku—"
"Jelaskan saja, Jim."
Jimin menggigit bibir bawahnya, yang sialnya tampak sangat seksi sekali di mata Yoongi. "Oke, pertama aku benar-benar meminta maaf karena sudah mengambil langkah seenaknya. Tapi sungguh hyung, aku hanya mencari Jennie untuk mengambil kembali demo musik kita. Aku—aku tidak ingin kau tahu karena aku takut kau akan marah dan melarangku untuk mencarinya. Aku hanya ingin menggunakan kesempatan ini untuk…"
"Untuk apa?"
Jimin terdiam sejenak. "Untuk setidaknya membuatmu bangga kepadaku, hyung," bisik Jimin lirih. "Selama ini kau selalu berperan banyak untuk kami semua. Kau bersusah payah membuat lagu, memikirkan kondisi kami semua, bahkan terkadang kau lupa memikirkan dirimu sendiri. Kau selalu membuatku bahagia, membuatku bangga karena memilikimu sebagai kekasihku. Maka dari itu, aku ingin membalasnya sedikit saja. Bukan hanya dengan perasaanku, ataupun dengan kehadiranku, tapi dengan cara melindungimu, menjaga cita-citamu agar tetap utuh, mengambil kembali kebahagiaanmu yang telah dirampas oleh dunia ini, aku ingin menjagamu dengan tanganku ini. Aku takut kau akan pergi dariku ketika kau menyadari bahwa aku tidak terlalu berbuat banyak untukmu, aku hanya bocah kecil di matamu yang tidak bisa memberimu sedikit pun arti di hidupmu."
Yoongi terdiam, menundukkan wajahnya, meresapi setiap kata demi kata yang meluncur pelan dari mulut Jimin. Hatinya tersentuh. Belum pernah ada orang yang segamblang ini menyatakan untuk menjaga dirinya dari badai dunia. Bahkan orangtuanya, kakaknya, belum pernah berkata hal yang membuatnya merasa aman seperti itu. Ia merasa seakan Jimin memeluk dirinya hanya dengan rangkaian kalimatnya.
"Ah, aku… terlalu berlebihan ya, hyung? Kau pasti malah semakin benci padaku, karena lagi-lagi aku membohongimu," Jimin tertawa getir.
"Aku lebih takut kehilanganmu."
"A—apa hyung?"
"Ya, aku… dibandingkan demo musik brengsek yang dicuri si keparat itu, aku lebih takut kehilanganmu," Yoongi masih menatap lantai, belum berniat melihat sepasang netra kembar kekasihnya karena masih merasa bersalah.
"Kau tahu rasanya ketika aku melihatmu bersama perempuan itu? Aku takut, sangat takut. Aku takut kau bertemu dengan orang yang lebih baik, yang lebih memahamimu, tidak dingin dan menyebalkan sepertiku—aku bahkan sudah mempertimbangkan bagaimana hidupku tanpamu, karena aku tak yakin kau bisa bertahan denganku yang seperti ini…"
Suara Yoongi bergetar ketika mengatakan hal itu, dan ia yakin bahwa matanya sudah digenangi airmata, tinggal menunggu terjun bebas.
"Hei hyung, jangan bilang begitu," Jimin menarik Yoongi ke dalam rengkuhan hangatnya, mengusap punggungnya lembut. "Aku tidak pernah sekalipun berpikir untuk meninggalkanmu. Kenapa sih kau jadi suka sekali berpikiran negatif?"
"Itu semua gara-gara kau, bodoh! Kau seenaknya menjadikan aku pacarmu, lalu kau malah pergi dengan orang lain! Kau mencari si keparat Jennie seolah dia adalah mantanmu yang dulu kau suguhi bunga dan cokelat di setiap valentine, sedangkan aku yang di depan matamu malah kau abaikan! Dasar Jimin bodoh! Menyebalkan!"
Yoongi berontak dalam pelukan Jimin, sementara Jimin malah tertawa, lega mendengar umpatan-umpatan Yoongi. Demi Tuhan, semua ocehan menusuk Yoongi jauh lebih baik daripada ketika kekasih gulanya itu bungkam seribu bahasa. Setelahnya Jimin merasakan pundaknya basah; oleh airmata Yoongi, apa lagi?
"Hyung, mian… tolong maafkan aku." Jimin mengusak pelan surai mint Yoongi yang terasa lembut di jari-jarinya. Yoongi mengangguk, membalas pelukan Jimin lebih erat dan menyesakkan sekaligus membahagiakan. Airmatanya mengalir terus, membasahi kaos Jimin.
"Bodoh, dasar Jimin bodoh. Aku membencimu, sumpah."
Jimin terkekeh. Mana ada orang yang membenci dirinya malah memeluknya erat seolah tak ingin kehilangannya? Hanya Yoongi yang bisa melakukannya. Hanya Yoongi yang bisa memporakporandakan perasaan Jimin hingga hancur menjadi abu, dan kembali menyusunnya hingga sempurna seperti baru.
"Kau melodiku, Chim. Semua nadaku, lirikku, dibuat karena inspirasi yang terus mengalir darimu. Aku tak keberatan kehilangan demo musikku seribu kali pun, asal kau tidak pergi barang sedetik saja. Serius, aku akan benar-benar bertekad untuk membencimu kalau kau kembali membuatku kesal seperti ini."
Kini giliran Jimin yang terharu. Ia menarik mundur tubuh Yoongi dari dekapannya, menatap mesra si mungil di hadapannya dan menghujani wajah pucat pujaan hatinya dengan ribuan kecupan kecil yang membuat kupu-kupu di perut Yoongi beterbangan. Semburat merah muncul di kedua pipi gembil Yoongi.
"Ternyata kau bisa gombal juga, hyung."
"Itu bukan gombal!"
"Lalu apa? Kejujuran dari lubuk hati yang terdalam?"
"Jimin!"
Umpatan-umpatan receh mereka seketika terhenti ketika ada seruan kencang dari Taehyung.
"Seokjin hyuuung! Hoseok hyuuung! Yoongi hyuuung! Jungkooooook!"
Semua orang disitu keluar dari sarangnya masing-masing, termasuk Jimin dan Yoongi yang sudah dalam kondisi berbaikan sekarang. Taehyung menggerak-gerakkan tangannya, ingin menjelaskan sesuatu.
"Aku sudah menemukan rumah kontrakan baru, biaya sewanya lebih murah dan layak digunakan. Ada space untuk studio milik Yoongi hyung juga," Taehyung berkata dengan mata berbinar seolah ia menemukan harta karun yang lama terpendam.
"Apa sore ini kita bisa melihatnya kesana?" tanya Seokjin.
"Sepertinya bisa, biar kuhubungi pemiliknya jika kita memang mau kesana sore ini."
Enam sekawan itu excited, dan membayangkan seperti apa 'rumah' baru mereka nantinya. Tiba-tiba sebuah ponsel berdering. Yoongi merogoh ponsel di kantong celananya, melihat nama yang tertera di ponselnya. Ia melangkah menjauh dari teman-temannya. Ketika sudah di teras, diangkatnya panggilan itu.
"Yongguk hyung?"
Kakak semata wayangnya itu berbicara tenang. Namun kalimatnya seolah membuat kaki Yoongi membeku, tak bisa digerakkan. Digenggamnya ponselnya erat, tangannya gemetar. Panggilan sudah terputus, namun kabar yang dibawa Yongguk membekas erat di kepalanya.
Ia melangkah kembali ke dalam. Wajah pucatnya semakin pias, tak berseri. Semua yang menyadari perubahan Yoongi dalam sekejap mata langsung menodongnya dengan pertanyaan yang hampir serupa.
"Kenapa, hyung?"
Yoongi menggaruk ujung hidungnya, ditatapnya kawannya satu demi satu. Lidahnya sangat sulit untuk digerakkan, demi menyampaikan berita yang baru ditelannya bulat-bulat.
"Ayah… terkena serangan jantung mendadak."
.
.
.
TBC
Nah lho. Apa ini. Chapter apa ini. Selesai masalah, datang lagi masalah baru. Jangan kutuk aku readernim /sembah sujud ananda/ btw, aku gak bakat bikin hurt. aku gak suka liat pairku berantem lama-lama. maafin :")
Oohthetun: iyaa itu Jennie blekpink in your areyah ahahaha, kebayang kan mukanya songong nyebelin gitu wkwkwk, but I like her style so muchhh
