Title : King's husband part 9
Cast : Park Chanyeol , Byun Baekhyun , Oh Sehun , Do Kyungsoo , Xi Luhan , Kim Jongin, Lee Sungmin, Choi Kyuhyun, Kang Soyou, Kim Hyorin, Kim Dasom, Yoon Bora and others.
PERHATIAN!
Ff ini mengandung unsur dewasa, berisi adegan seks, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.
NO CO-PAST
NO-REPOST
NO-PLAGIAT
Okay?
There always be a place for the good person. So, don't steal people's effort , be honest dear..
Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.
Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.
...
..
.
Park Shita
Present
…
..
.
"To…..tolongghhh… a…aku…." Suara itu melemah namun ia berusaha berdiri. Luhan mengambil sebuah pedang dari tangan pengawal yang sedang menjaganya, lalu berjalan dengan wajah penuh emosi dan mengayunkan pedang itu tepat diatas kepala sosok itu. Baekhyun membulatkan matanya melihat pergerakan Luhan, dan sebelum Chanyeol mencegah ia terlebih dahulu berlari ke tengah ruangan.
"JANGAAAANNN!"
Seluruh mata membulat dengan nafas tertahan atas apa yang baru saja mereka saksikan.
…
..
.
King's Little Husband
Chapter 9
…
..
.
Gerakan Baekhyun terhenti, tubuhnya membeku ditempatnya berdiri, suara teriakannya terdengar bersamaan dengan ayunan pedang Luhan yang bertemu dengan milik Sehun. Luhan menatap Sehun penuh emosi, matanya memerah dan menatap sosok lemah itu dengan tatapan sarat akan kebencian.
Chanyeol segera menarik Baekhyun mundur, memeluk tubuh bergetar itu dalam dekapannya. Sementara di depan sana, kedua pedang yang sempat bertemu telah berpisah.
Sehun menggeleng pelan dan lagi-lagi Luhan melangkah mundur namun ia mengayunkan pedangnya kembali, tapi Sehun seolah tak ingin mengalah. Kedua pedang itu lagi-lagi bertemu, suara dentingan yang membuat nafas semua orang tercekat ditenggorokan.
"Aku hanya ingin meringankan beban bajingan ini." Ucap Luhan penuh emosi. Baekhyun membuka matanya dan melirik Chanyeol dengan mata basah, berharap sosok itu berbicara, menghentikan semuanya, atau setidaknya mengatakan sesuatu untuk menenangkan Luhan, namun nyatanya Chanyeol terdiam dengan pandangan kosong kearah sosok sekarat itu.
"LUHAN!" Kris memekik meminta pengawal untuk menarik adik kandungnya membuat Luhan meronta dan menangis, pedangnya bergerak acak membuat seluruh orang melangkah mundur.
Sehun memberikan isyarat pada tiga pengawal lainnya untuk mundur, dan dengan cepat ia menangkis pedang Luhan dengan pedang miliknya. Luhan menatap Sehun nyalang, matanya sarat akan kemarahan dan kekecewaan.
"Bajingan itu! Untuk apa dia kemari? Hiks.. bunuh dia…" Tangisan Luhan memenuhi ruangan dan Sehun dengan segera memeluk sosok itu berusaha menenangkannya. Luhan terisak, merasa luka lamanya kembali digores.
"Sehun…hiks..bunuh saja dia…."
"Ya, tenanglah Luhan! Paduka tahu apa yang harus dilakukan." Bisik Sehun sambil memeluk tubuh Luhan yang mulai tenang. Keadaan kembali lebih tenang, namun Chanyeol sama sekali tak bereaksi dan itu membuat Baekhyun semakin memeluk tubuh tinggi itu erat.
Ia mungkin satu-satunya yang tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi dan siapa sosok yang terbaring diatas lantai dengan tubuh bersimbah darah itu.
"To-tolonghhh…uhuk.." lagi-lagi sosok itu terbatuk dan berusaha bangkit dengan kedua lutut lemahnya.
"Aku telah menolongmu bukan? Aku membantu rakyatmu yang sengasara, yang kau abaikan karena kau lebih mementingkan dirimu dengan bersembunyi sebagai pengecut." Suara berat Chanyeol memenuhi ruangan. Sosok itu nyaris kehilangan kesadarannya, ia benar-benar sekarat. Baekhyun mengernyit merasa iba, ia kembali meremas lengan Chanyeol namun Chanyeol seolah tak peka.
"Bawa… dia pergi!" ucap Chanyeol pada akhirnya. Baekhyun membulatkan matanya ketika sosok lemah itu diangkat paksa dan diseret tanpa perasaan. Baekhyun bangkit dan berlutut di depan Chanyeol.
"Pa..Paduka."
"Baekhyun? Apa yang kau lakukan!" Baekhyun terisak masih setia bersujud hingga mahkotanya terjatuh, berguling diatas lantai marmer kerajaan.
"A..aku mungkin tidak tahu apa yang pria itu pernah lakukan. Ta..tapi bisakah Paduka menolongnya, setidaknya obati luka parahnya.." Chanyeol terdiam menatap para pengawal yang menoleh kearahnya menunggu perintah selajutnya dengan sosok itu yang nyaris tidak mampu berdiri dengan benar, wajahnya tertunduk dengan tatapan lemah.
Luhan yang berada dalam pelukan Sehun, tersulut emosi, ia menyingkirkan tubuh Sehun dengan kuat lalu memekik keras.
"Tahu apa kau Baekhyun? Kau tidak tahu apa yang bajingan itu lakukan pada Chanyeol, pada Kerajaan ini!" bentak Luhan kesal sambil menunjuk sosok lemah itu. Baekhyun menoleh sejenak, lalu kembali menatap Chanyeol yang hanya terdiam pada tempatnya.
"Paduka." Baekhyun menangis, menyentuh kaki Chanyeol dengan tangannya. Tidak peduli dengan makian yang keluar dari bibir bergetar Luhan.
"Baekhyun, bangunlah!" ucap Chanyeol dingin. Tuan Lee membantu Baekhyun berdiri, namun lelaki itu menepis tangan yang lebih tua. Setia bersujud sambil menangis tersedu-sedu.
"Tidakkah dia butuh pertolongan Paduka? Kita tak pantas menggunakan keegoisan ketika berhadapan dengan seseorang yang sangat membutuhkan pertolongan." Chanyeol menutup matanya, menarik nafas dalam. Mempertimbangkan dua sisi bertolak belakang yang sedang berseteru di dalam hatinya.
"Yak Byun Baekhyun! Kau tak tahu apa-apa! Berhenti mengemis untuk seseorang yang bahkan kau tak kenal. Dia itu brengsek, dia itu bajingan! Kau hanya anak kecil yang tak tahu apa-apa, jadi diamlah!" Teriak Luhan lagi meski Sehun sudah berusaha memeluknya.
"A-apa yang dia telah lakukan?" Tanya Baekhyun tak memperdulikan hujatan dari Luhan dibelakangnya, namun Chanyeol tetap menutup matanya, menarik nafas dalam atas semua yang tengah terjadi.
"Kau mau tahu? Kau sungguh mau tahu?" lagi Luhan berbicara dengan mata yang basah. Mengabaikan sekitar yang nampak tak berkutik pula.
"Pria brengsek ini adalah pengkhianat, ia mengkhianati persaudaraan antara Kerajaan karena tergiur akan kecantikan wanita jalang itu, membuat drama penculikan, membuat Northwest dalam kesengsaraan dan kejatuhan, lalu setelah semua yang Chanyeol lakukan jalang itu lebih memilih bersama bajingan ini. Jadi apa kau masih ingin menolongnya?" Baekhyun tersentak mendengar ucapan Luhan, ia mendongak dan mendapati Chanyeol masih menutup matanya, mencoba mengontrol emosinya.
Baekhyun bangkit, berdiri dihadapan Sang Raja dan diluar dugaan ia menarik pelan leher Chanyeol, membiarkan kepala itu bersandar pada pundaknya, hal yang tak pernah seorang pun berani lakukan kepada seorang Raja, terlebih di depan para anggota Kerajaan lain.
"Paduka, maaf karena aku tak mengetahui hal itu. Tapi Paduka, Paduka adalah sosok paling sempurna dimataku, Paduka tak memiliki kekurangan apapun, hati, kerupawanan, dan tata krama yang tinggi telah Paduka milikki." Baekhyun mengelus belakang kepala Chanyeol yang membuat Sang Raja merasa tenang.
"Daripada mengotori hati Paduka dengan dendam dan kebencian, tidakkah lebih baik jika Paduka melakukan apa yang harusnya Paduka lakukan. Aku mungkin memang masih kecil dan tak sebanding dengan pengalaman Paduka, tapi mari bicara mengenai hati dan kemanusiaan. Tuhan memberikan Chanhyun sebagai hadiah, bukankah itu semua sudah takdir. Bila pria itu tak mengambil Ratu Paduka, apa kita mungkin akan bertemu? Apa Chanhyun mungkin ada diantara kita?" Chanyeol mendorong tubuh Baekhyun pelan, menatap mata sipit menawan itu, membenarkan ucapan anak yang jauh lebih muda darinya.
Chanyeol tersenyum dan Baekhyun membalas senyuman itu, jemari lentiknya mengelus permukaan wajah Chanyeol.
"Jadi? Apa yang akan Paduka lakukan?" Chanyeol mengalihkan padangannya pada para anak buahnya.
"Bawa Raja Youngguk untuk diobati!" Baekhyun tersenyum mendengar ucapan Chanyeol dan Luhan memekik kesal sambil mencoba menendang singgasanya yang membuat ia meringis dan kembali menangis dalam telapak tangannya.
"Chanyeol bodoh..bodoh..bodoh…" rutuknya kesal, dan Sehun yang melihat kaki Luhan tidak baik-baik saja segera mengangkat sosok itu seperti karung beras dan membawanya keluar ruangan membuat seluruh mata menatap terkejut atas tindakan Sehun dimana Luhan hanya bisa memukul-mukul punggung Sehun kesal.
Keadaan kembali tenang setelah drama yang baru saja terjadi, beberapa pasang mata masih menatap tak percaya atas yang mereka saksikan. Tuan Lee menyuruh pelayan untuk membawakan makanan dan minuman kepada para Raja-ratu dan musik kembali terdengar diiringi dengan tarian angsa yang sempat tertunda tadi.
Kris tersenyum melihat bagaimana Baekhyun mampu mengendalikan Chanyeol dan Junmyeon meremas tangan suaminya dengan sebuah senyuman lembut dengan pemikiran yang sama.
Chanyeol memperbaiki letak mahkota Baekhyun, lalu mencuri sebuah kecupan di bibir yang lebih kecil, Baekhyun hendak membuang wajahnya namun Chanyeol menahan dagu runcing itu dan membawa keduanya dalam sebuah ciuman mesra yang luput dari tatapan para undangan.
…
..
.
Baekhyun menoleh kearah Chanyeol ketika matanya terbuka dan mendapati Sang Raja sedang membuka mata sambil menatap langit-langit kamar. Baekhyun mendekat, memeluk tubuh Chanyeol membuat Sang Raja tersentak.
"Kau terbangun?"
"Hmm.." suara Baekhyun terdengar manja dan Chanyeol mengecup pipi itu gemas.
"Paduka belum tidur semenjak tadi? Ini bahkan sudah begitu larut." Ucap Baekhyun sambil memainkan jemarinya di dada berpakaian tipis milik Sang Raja.
"Ya, aku hanya tak bisa sekedar untuk menutup mataku."
"Apa karena sosok pria itu?" Chanyeol menoleh dan mata mereka bertemu. Baekhyun yang mendongak dengan tatapan penasaran adalah salah satu hal menggemaskan bagi Chanyeol, karena itu lagi-lagi ia memangut bibir itu dengan gemas membuat Baekhyun dengan pasrah menerima ciuman itu.
"Entahlah. Apa menurutmu karena itu?" Tanya Chanyeol ketika bibir keduanya telah terpisah.
"Aku berharap memang karena itu, bukan karena memikirkan hal lain…. seperti orang lain." Sungut Baekhyun dengan bibir dikelupas keluar.
"Misalnya?"
"Ratu Joohyun." Chanyeol terkikik dan mencubit pipi Baekhyun gemas.
"Aku tak pernah memikirkannya."
"Baguslah. Karena jika Paduka memikirkannya aku akan sangat marah." Lagi Chanyeol terkekeh mendengar penuturan polos dari yang lebih muda. Chanyeol menyadari sesuatu bahwa Baekhyun itu ibarat kertas belum tertulis, masih putih polos –pikirannya bukan yang lain-
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Baekhyun bangkit lalu duduk diatas perut Chanyeol,membuat Sang Raja yang tidak kuat iman itu menahan pinggang Baekhyun agar tak melampaui batas terlarangnya, karena mereka masih belum boleh melakukan hubungan intim, sampai Chanhyun berusia genap tiga bulan. Dua bulan lagi, huuh… Chanyeol harus benar-benar menahan diri.
"Memikirkanku tentu saja. Apalagi? Aku kan… Ratu Paduka sekarang." Ucap Baekhyun sambil meremat helaian rambut Chanyeol dalam jemarinya dengan kedua dada saling menyentuh.
Ketika Baekhyun merendahkan tubuhnya agar wajah keduanya semakin dekat, tangan Chanyeol harus dengan sigap menahan pinggang Baekhyun lagi.
"Iya Ratuku sayang." Ucap Chanyeol dan mendapat sebuah kecupan dari Baekhyun. Baekhyun menatap Chanyeol dalam lalu tersenyum dan membaringkan wajahnya di dada Chanyeol membuat Chanyeol harus menyilangkan kedua kakinya.
"Aku tak menyangka hal ini terjadi…"
"Hei, kau menangis?" Chanyeol mencoba mendorong tubuh Baekhyun untuk melihat wajah cantik itu namun Baekhyun mempererat pelukannya dan hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Ini seperti mimpi."
"Ya, aku pun. Jika ini mimpi, mari kita tetap tertidur bersama dan tak bangun-bangun untuk selamanya." Baekhyun terkikik dan mengangkat wajahnya. Dengan mata basah, wajah itu menampakan sebuah senyuman.
"Lalu siapa yang akan mengurusi Chanhyun nanti?" Chanyeol terkekeh lagi, melihat keluguan seorang Byun Baekhyun.
"Kan kita memiliki banyak pengawal dan pelayan, mereka_" Baekhyun menutup bibir Chanyeol dengan kedua tangannya, membuat Chanyeol tersentak sejenak sambil memperhatikan Baekhyun yang menoleh kebelakang seperti pencuri, dimana keranjang bayinya berada dengan sebuah lampu temaram di dekat keranjang yang menjadi satu-satunya sumber di tengah ruangan yang gelap.
"Nanti Chanhyun akan menangis kalau mendengarnya, dia itu sensitif sekali dan_"
"Hiks…Hiks..Oeek…Oekkk…" Baekhyun mendesah lelah.
"Sudah ku katakan bukan, Paduka sih! Iya, iya aku kesana." Chanyeol hanya tersenyum melihat Baekhyun bangkit dan berjalan kearah keranjang bayinya dan ia mendesah lega setelah alarm tanda bahayanya mati.
Chanyeol menyalakan lampu dan menatap Baekhyun yang membawa bayi menangisnya keatas ranjang mereka. Baekhyun bersandar pada ranjang sambil menurunkan kain tipisnya dan Chanhyun menyesap puting Baekhyun dengan cepat.
Chanyeol mendekat, sudah mengerti dengan tugas yang akan ia laksanakan. Baekhyun tak melawan ketika Chanyeol menurunkan kain disebelah kananya dan melakukan hal yang sama dengan bayinya.
"Haaah, sampai kapan aku harus menyusui kalian hah?" Baekhyun mendesah frustasi dan bersamaan dengan itu kedua sosok yang sedang menyusu mendongak dengan bunyi 'plop' sebagai tanpa pemisah dan menatap Baekhyun dengan mata berkedip membuat Baekhyun tersentak karena kedua sosok itu melakukan secara bersamaan dan terlihat mirip.
"Sudah…sudah.. lanjutkan lagi!" Baekhyun tersenyum dan mengelus kepala berbeda ukuran itu dengan sayang, lalu menoleh kearah jendela dimana bulan bersinar dengan sangat terang.
"Terima kasih untuk dua orang ini yang Tuhan hadirkan di dalam hidupku!" ucap Baekhyun dalam hati.
"Terima kasih atas hadiah terindah yang telah aku terima." Chanyeol pun melakukan hal yang sama. Berterima kasih di dalam hati.
"Nyot…nyot…nyot..nyot.." jangan tanyakan itu suara hati siapa. Si bayi mungil yang hanya tersenyum disela sedotannya. Mungkin ia pun sedang bersyukur pada Tuhan atas kelahirannya.
…
..
.
Chanyeol menatap dingin pada sosok yang kini mencoba membuka matanya. Tabib Shin telah mengobati luka sosok itu sejak semalam dan kini sedang meracik ramuan untuk memperkuat tubuh lemah itu.
"Chan…Chanyeol…uhuk.." Sosok itu mencoba bangkit dan terbatuk namun Chanyeol masih mempertahankan wajah dinginnya.
"Te..terima kasih…" Chanyeol membuang wajahnya, lalu menghela nafas sebelum akhirnya kembali menatap sosok itu.
"Setelah lukamu sembuh, pergilah!" ketika Chanyeol hendak pergi, ia dikejutkan dengan suara debuman yang keras, belum sempat menoleh sebuah tangan telah melingkar di kakinya bersamaan dengan Sehun dan Jongin yang telah menghunuskan pedang mereka.
"A..ku mohon..se…selamatkan Kerajaanku….se…selamatkan Jo…Joohyun…" seluruh mata di dalam ruangan menatap kearah Chanyeol yang terlihat bergeming di tempat, namun Chanyeol segera menepis pegangan itu.
"Aku tak memiliki urusan dengan Kerajaanmu, bantuan yang aku berikan untuk rakyatmu aku rasa sudah cukup." Chanyeol melangkah keluar meninggalkan sosok yang terisak dalam kesakitannya itu yang kemudian dibantu oleh pelayan Tabib Shin untuk bangkit.
…
..
.
Chanyeol meremat kedua tangannya yang berpangku diatas meja kerjanya, matanya menatap sudut lantai dengan berbagai pemikiran menyelimuti kepalanya. Tuan Lee mendesah pelan melihat bagaimana sosok Rajanya kembali di selimuti oleh dilemma yang besar.
"Paduka, keputusan Paduka sudah benar. Kita tak memiliki urusan dengan permasalahan yang terjadi pada mereka." Chanyeol terdiam, tidak memberikan respon apapun.
"Paduka, Tuan Lee benar. Jangan menjadikannya pikiran Paduka, ini bukan lagi urusan kita." Ucap Jongin yang berdiri disamping Chanyeol.
"Tidak, aku tak sedang memikirkan Youngguk dan Kerajaannya."
"Apa ini berhubungan dengan Ratu Joohyun?" ucapan Sehun membuat Chanyeol mengernyit. Ia pun tak tahu dengan apa yang mengganjal di pikirannya, seharusnya ia merasa senang wanita itu mendapatkan karmanya, namun tak ada perasaan senang yang menyelimuti pikirannya kini.
"Aku_"
"Paduka~ lihat siapa yang _" ucapan Baekhyun terhenti begitu pula dengan langkah riangnya ketika melihat keempat orang di depannya dalam keadaan tegang seperti terlibat dalam percakapan serius.
"Ah, maaf menganggu. Ayo Chanhyunie, kita bermain di tempat lain. Paduka sedang sibuk rupanya." Ucap Baekhyun berbicara pada bayinya yang menendang-nendang dalam gendonganya.
"Baekhyun!" panggil Chanyeol.
"Iya Paduka?"
"Kemarilah, kami hanya sedang berdiskusi tentang hal kecil." Ucap Chanyeol membuat tiga orang disampingnya memberikan hormat memohon pamit. Baekhyun yang melihat kecanggungan diantara orang-orang di depannya menggeleng pelan.
"Tidak-tidak Paduka. Aku akan bermain saja bersama Chanhyun, dia bilang dia ingin melihat prajurit berlatih." Bola mata Chanyeol membulat begitu pula tiga orang lainnya mendengar ucapan Baekhyun, yang sudah ketara bahwa bukan sang bayi yang meminta namun sang ibu.
"Baekhyun!" suara Chanyeol terdengar memerintah dengan nada lembut. Baekhyun menghela nafas pelan dan menatap tiga orang yang berjalan kearahnya. Tuan Lee memberi hormat dan Baekhyun melambaikan tangan bayinya pada sosok tua yang tersenyum itu.
"Tatha… Chuan Yi ( Dada Tuan Lee )." Ucap Baekhyun dengan suara bayinya.
"Tatha…Jendal Oh." Sehun menggeleng pelan melihat tingkah Baekhyun.
"Tatha_" ucapan Baekhyun terhenti ketika melihat Jongin menatap bayinya dengan wajah mencurigakan. Baekhyun memeluk bayinya, menyembunyikan tubuh mungil itu dari Sang Jendral, membuat pria itu mengupas bibirnya dengan wajah kecewa. Jongin sungguh ingin menyentuh bayi mungil itu.
Baekhyun berjalan riang kearah Chanyeol setelah meminta pelayan setianya untuk meninggalkan ruangan.
"Bagaimana kabar putra Ayah?" Tanya Chanyeol sambil mengambil alih putranya dari tangan Baekhyun.
"Baik, A…nyah." Baekhyun menjawab dengan aksen bayinya lagi, membuat Chanyeol terkekeh pelan dan mengecup pipi putih putranya yang terlihat semakin tembam.
"A..nyah, bagaimana? Apa kabal A..nyah?" Baekhyun ikut terkikik mendengar ucapannya sendiri.
"Baik sayang. Bagaimana harimu dengan Ibumu, hah?" ucap Chanyeol menatap bayinya, seolah bayinyalah yang berbicara.
"Cheluuu… hyuniie chuka belmain belchama I..bu..ta..pi…"
"Tapi?"
"Tapi…Chanhyunie, mau melihat plajulit belatih A..nyah…" Chanyeol mengalihkan tatapannya pada Baekhyun, dengan kening mengernyit membuat Baekhyun tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya.
"Kenapa? Kan yang bicara Chanhyun bukan aku." Gelengnya dengan wajah tak bersalah. Chanyeol tersenyum menarik kain pakaian Baekhyun dibagian perutnya, hingga sosok itu merapat.
Chanyeol mendongak dan Baekhyun yang mengerti merendahkan wajahnya untuk memberikan kecupan hangat di bibir Sang Raja.
"Menyenangkan dengan hari pertamamu sebagai Ratu?" Baekhyun melirik keatas kearah mahkotanya.
"Tidak ada yang berbeda, hanya ada beban yang bertambah diatas kepalaku." Ucap Baekhyun sambil menyentuh-nyentuh mahkotanya.
"Ya, ketika semakin berat hiasan dikepalamu maka semakin berat juga beban yang kau tanggung ." Baekhyun mengelupas bibirnya keluar.
"Kalau begitu, aku tidak akan memakai mahkota ini saja." Ucap Baekhyun sambil membuka mahkotanya membuat Chanyeol mendelik terkejut, tapi kemudian Baekhyun tersenyum idiot.
"Aku bercanda Paduka, aku akan belajar untuk menanggung beban ini, bersama." Chanyeol tersenyum menuntut sebuah ciuman dan Baekhyun melakukannya, namun ciuman di kening bukan di bibir.
…
..
.
Delapan hari berlalu semenjak hari itu, Baekhyun masih belum bisa mengikuti kelas tata kramanya kembali karena ia harus selalu ada disisi putranya, dan Chanyeol tak keberatan dengan hal itu, lagipula baginya tata krama Baekhyun tidak terlalu buruk.
Bayi mereka semakin bertambah sehat dan gemuk, bahkan membuat beberapa pelayan menjadi gemas ketika melihat Putra mahkota yang bertelanjang untuk dimandikan.
Baekhyun sedang berkunjung ke ruangan Tabib Shin untuk meminta obat karena dadanya yang terluka akibat digigit kuat oleh Chanhyun. Meski belum memiliki gigi, namun gigitan itu mampu membuat Baekhyun menangis, hingga beberapa pelayan panik.
Dan disanalah Baekhyun bertemu dengan sosok yang sedang mendapat pengobatan, duduk di salah satu kursi Tuan Shin dengan keadaan yang jauh lebih baik dari pertama kali bertemu.
"Oh, Paduka Ratu?" ucapan Tabib Shin membuat sosok itu segera menundukan wajahnya memberi hormat.
"Apa yang membawa anda kemari?" Baekhyun terkekeh dan segera mengambil duduk diatas meja Tabib Shin seperti apa yang biasa ia lakukan. Dengan kedua tangan di sisi tubuhnya dan kaki yang menggantung tak menyentuh lantai serta mata penuh selidik yang membuatnya terlihat begitu lucu.
"Tabib Shin, jangan berbicara begitu kaku denganku, aku merasa aneh. Bicara saja seperti biasa."
"Aku tak bisa melakukannya, maafkan aku. Ini sudah menjadi keharusan."
"Eeii… jangan berlebihan seperti itu. Apa jika aku menjatuhkan ramuan Tabib Shin, Tabib Shin akan kembali memanggilku cengeng?" seketika tubuh Tabib Shin menegang mengingat kejadian beberapa waktu lalu ketika Baekhyun pertama kali datang ke Istana, meskipun Baekhyun tak memiliki tujuan untuk mengungkit masa kelam itu.
"Tabib..Shin. Terima kasih untuk ramuan anda, aku permisi." Sosok itu bangkit setelah memberi hormat, Baekhyun menatap sosok itu dan membalas sapaan ketika sosok itu memberikan hormat.
"Tabib Shin, bukankah itu sosok sekarat saat di pesta penobatan?" Tabib Shin yang sedang membersihkan mejanya mengangguk.
"Dia masih disini?"
"Ya, Paduka Raja membiarkannya tinggal sampai lukanya sembuh." Baekhyun tersenyum.
"Ah, Paduka Raja memang yang terbaik."
"Ya, Paduka adalah sosok yang sangat baik." Baekhyun tersenyum senang mengingat bahwa Raja-nya memang berhati mulia.
…
..
.
Untuk pertama kalinya Baekhyun memekik senang ketika mendapatkan surat dari desanya. Itu adalah surat dari kedua orangtuanya, namun ditulis oleh Kyungsoo. Baekhyun membaca surat itu sambil berbaring diatas ranjang, sementara para pelayan mengambil alih untuk memijat sang Putra Mahkota yang terabaikan.
" Untuk Baekhyun (menyebalkan ) , Baekhyun selamat karena kini kau telah menjadi Ratu. Ibu dan Ayah begitu bangga padamu, bahkan kakak-kakakmu tak henti-hentinya menangis ketika kami tiba dirumah. Kini semua penduduk telah tahu bahwa kau adalah seorang Ratu, kami tak bisa menutupinya karena keempat kakakmu dengan bangga mengatakan itu pada seluruh penduduk desa.
Baekhyun, kau tentu tahu bahwa kami kini adalah keluarga dari Kerajaan. Pagi tadi pengawal Kerajaan datang kemari dan meminta kami semua untuk pindah dan tinggal di Istana, tapi maaf kami tak bisa. Kami telah terbiasa hidup di desa ini. Maaf membuatmu kecewa."
Baekhyun mengupas bibirnya keluar dengan kecewa, ia berguling sambil mengangkat kertas itu tinggi-tinggi dan kembali melanjutkan acara membacanya membuat dua orang pelayan yang sedang memijat Chanhyun mengernyit bingung.
" Tapi ada kabar baik. Kami menyetujui permintaan Sang Raja untuk membangun kembali rumah tua ini. Untuk itu kami sekeluarga pindah sementara di rumah Sooyeon noona-mu. Dia bersedia menampung kami sekeluarga karena bagaimana pun rumahnya yang paling luas dan besar."
"Ck! Istana ini jauh lebih luas, kenapa kalian tidak pindah kemari saja?"
" Jangan mencemaskan apapun sayang, dua bulan lagi kemungkinan pembangunan itu usai dan kami akan kembali. Jaga dirimu dengan baik dan jaga cucu ibu dengan baik pula, jangan nakal dan jangan pernah menjahili anggota istana lagi. Kami mencintaimu Baekhyun, dari keluarga yang selalu mencintai Baekhyun mungil kami."
Baekhyun tersenyum sedikit haru, lalu bangkit mendadak menuju meja kecil di sudut ruangan kamar Sang Raja. Ia memegang pena, mencelupkannya ke dalam tinta lalu mulai menulis.
"Teruntuk keluarga kesayanganku dan juga Kyungsoo ( menyebalkan ), aku sedih karena kalian tidak mau pindah ke dalam Istana ini dan tinggal bersamaku, Tapi aku senang karena akhirnya kalian mau melakukan pembangunan rumah tua itu. Jadi ketika aku dan Paduka berkunjung tak ada lagi ranjang jebol dan dinding yang runtuh."
Baekhyun terkikik pelan sambil menulisnya.
" Tak masalah bila kalian harus berpisah denganku selama dua bulan lamanya, meski aku merasa sedih. Tapi kapan-kapan kunjungi aku ke Istana dan lihat Chanhyun yang sudah bertambah besar. Terima kasih untuk cinta kalian, dari Baekhyun kalian yang kini telah bertambah tinggi dan tidak mungil lagi."
Baekhyun melipat kertasnya dan segera berlari kearah pelayan yang tadi memberikannya surat.
"Berikan ini pada pengawal dan minta ia memberikan ini pada keluargaku. Cepatlah, sebelum mereka pergi!" Pelayan itu mengangguk cepat dan segera melangkah keluar setelah memberi hormat.
Baekhyun tersenyum senang, dan ketika berbalik ia menatap cemas karena tak menemukan bayinya diatas ranjang.
"Di…dimana Chanhyun?" tanyanya terkejut.
"Pelayan membawa Pangeran Mahkota untuk dimandikan, Paduka Ratu." Dan Baekhyun mendesah lega, ia bahkan melupakan bayinya tadi.
…
..
.
Chanyeol menatap sosok di hadapannya dengan wajah datar, sosok yang seharusnya sudah angkat kaki karena lukanya sudah sembuh beberapa hari yang lalu. Namun nyatanya sosok itu masih berada disini bahkan setelah dua minggu berlalu yang kini malah berlutut di depannya dan kembali memohon.
"Bangunlah Raja Youngguk! Aku tak akan mengubah pemikiranku." Ucap Chanyeol sambil mendesah pelan dan beralih pada kertas di depannya.
"A..aku mohon. Joohyun sangat membutuhkan pertolongan, Raja baru itu pasti menyakiti Joohyun." Chanyeol terdiam, lalu kembali mengangkat wajahnya.
"Itu…bukan urusanku. Dia ratumu sekarang, sudah seharusnya kau memperjuangkannya." Youngguk menundukan wajahnya, menatap penuh sesal kearah lantai.
"Tapi aku tak memiliki prajurit lagi, semua Jendralku telah mati terbunuh." Chanyeol mengernyit dan kembali menghela nafas.
"Pergilah! Aku benar-benar tak memiliki urusan lagi dengan itu. Lagipula Kerajaanmu telah keluar dari persaudaraan kita."
"Aku tahu, itu adalah kesalahanku ketika jatuh cinta pada Ratumu dulu." Chanyeol meremas penanya mencoba bersabar.
"Tapi bukan sepenuhnya salahku jika Ratumu juga jatuh cinta padaku."
"CUKUP!" Chanyeol memekik membuat Sehun dan Jongin menoleh dengan wajah khawatir.
"Pergilah selagi aku bersabar. Dia Ratumu sekarang, selamatkan dia bahkan…" tatapan mata Chanyeol menatap Youngguk tajam.
"…bila itu berarti kau harus mengorbankan nyawamu." Youngguk tersentak melihat wajah penuh amarah Chanyeol. Ia menghela nafas lelah, lalu bangkit.
"Terima kasih untuk kebaikanmu Paduka Chanyeol." Ucap Youngguk setelah memberi hormat dan berjalan meninggalkan ruangan. Tuan Lee mendesah, dan menepuk pundak Chanyeol.
"Jangan dipikirkan Paduka!"
"Aku ingin sekali menghabisinya." Gerutu Jongin pelan.
...
..
.
Youngguk berjalan meninggalkan ruangan Chanyeol dengan wajah tertunduk, dan helaan nafas lelah.
"Eits! Aku bilang 10 langkah! Ingat?" suara nyaring itu membuat ia mengangkat wajahnya dan beberapa meter di depannya sosok mungil sedang membelakanginya dan memerintah pada beberapa pelayan dan pengawal yang berada jauh darinya.
Youngguk mendekati sosok itu dan ketika berbalik mata mereka bertemu membuat tubuh yang lebih pendek menegang. Mata Youngguk beralih pada bayi yang sedang tertidur dalam pelukan sosok mungil di depannya, lalu kembali teralih pada sosok cantik di depannya sebelum akhirnya dua buah pedang menjadi perisai sosok mungil itu membuat Youngguk tersadar dan segera berlutut.
"Eih…a-apa yang kau lakukan?"
"Paduka Ratu… perkenalkan namaku Bang Youngguk. Aku adalah Raja dari Kerajaan Ramoneas yang sekarang sedang dilanda kesengsaraan. Aku ingin mengucapkan terima kasih atas kebaikan anda waktu itu yang menolongku…"
"Bukan masalah! Bangunlah!" ucap Baekhyun namun sosok itu masih terdiam di tempatnya.
"…dan bisakah aku memohon sekali lagi?" kening Baekhyun mengernyit, dan ketika mata itu kembali bertemu Baekhyun memperdalam kernyitannya.
…
..
.
Baekhyun masih terjaga bahkan ketika lolongan serigala telah terdengar dengan jelas, sebuah lengan memeluknya dari belakang dan Baekhyun menyamankan posisinya.
Ia masih teringat dengan percakapannya dengan sosok Raja itu dan kini ia berada dalam kebimbangan, disisi lain ia ingin mengabaikan hal tersebut namun disisi lain hati nuraninya meronta untuk membantu sosok malang itu.
Baekhyun berbalik, ia menatap wajah tertidur Chanyeol yang terlihat damai. Jemarinya terangkat untuk mengelus wajah Chanyeol. Membayangkan betapa menyedihkannya keadaan Chanyeol saat itu, saat dimana Ratu dan Kerajaannya di rebut. Ketika kedua orangtuanya bahkan meninggalkannya.
"Mengagumiku?" Baekhyun tersentak ketika mata phoenix itu terbuka membuat yang lebih tua tersenyum. Kedua bibir itu kembali bersentuhan, menyalurkan perasaan cinta mereka yang semakin hari semakin bertambah.
"Paduka? Berapa lama lagi kita sudah bisa bercinta?" ucapan polos Baekhyun nyatanya masih tetap membuat Chanyeol tersentak.
"Dua bulan 6 hari lagi." Baekhyun tersenyum ketika Chanyeol bahkan mengingatnya dengan mudah.
"Kenapa? Merindukanku?" Baekhyun mengangguk, lalu memutuskan bangkit dan lagi-lagi menduduki perut Chanyeol, membuat Chanyeol kembali sigap menahan pinggang Baekhyun.
"Bagaimana bila kita lakukan lebih cepat?" Chanyeol membulatkan matanya dan menggeleng cepat.
"Tidak-tidak. Ini akan sangat berbahaya, aku tak mau mengambil resiko. Apa kau begitu menginginkannya? Bagaimana bila aku yang melakukannya untukmu?" Chanyeol ingin membaringkan Baekhyun, namun Baekhyun menahan posisinya. Ia tidak bisa membiarkan Chanyeol memuaskannya, sementara dirinyalah yang harus memuaskan Sang Raja.
"Tidak!" Baekhyun sedikit memekik lalu menoleh kearah keranjang bayinya ketika tahu bahwa suaranya barusan sedikit keras.
"Baekhyun, ini akan membahayakan dirimu. Jangan, aku mohon!" Baekhyun memasang wajah bersedih, lalu kemudian kepalanya kembali terangkat.
"Lakukan dengan pelan ya? Ya? Ya?" ucapnya namun Chanyeol tetap menggeleng. Ia menurunkan tubuh Baekhyun dan memunggungi sosok itu setelah menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Tidak."
Baekhyun melirik punggung Chanyeol, lalu masuk ke dalam selimut dan meremas milik Chanyeol dengan jemarinya.
"Baekhyun!" Chanyeol berbalik dengan sedikit pekikan namun tidak menemukan sosok Baekhyun disampingnya, hingga matanya menatap sebuah gundukan di dalam selimut yang bergerak melalui bawah tubuhnya dan berjalan semakin keatas.
"Baek…hyun…aahhh." Chanyeol mendesah ketika Baekhyun menghisap kejantanannya.
Baekhyun keluar dari balik selimut dengan wajah tersenyum imut dan rambut yang berantakan.
"Paduka kalah, milik Paduka sudah berdiri." Baekhyun kembali masuk dan Chanyeol mendesah frustasi, ia berusaha menarik Baekhyun menjauh namun tenaganya seolah habis ketika hisapan Baekhyun semakin kuat.
"Eermmm…" Chanyeol mengepalkan tangan dan meremas ujung jari kakinya ketika merasakan sesuatu ingin meledak keluar, namun hisapan Baekhyun terlepas dan sosok itu keluar dari balik selimut.
Chanyeol merasa frustasi dan hanya melirik apa selanjutnya yang akan Baekhyun lakukan. Ia mengernyit melihat Baekhyun terbaring disampingnya, menurunkan celana dalamnya, lalu mengangkat kedua kakinya.
"Paduka~ silahkan!" ucap Baekhyun sambil menoleh kearah Chanyeol, membuat Chanyeol menelan ludahnya susah payah apalagi ketika melirik kaki putih Baekhyun yang seolah menyala di dalam kegelapan.
"Tidak!" Chanyeol berbalik lagi dan Baekhyun mengupas bibir bawahnya keluar.
"Hiks…hiks… Paduka tidak menginginkanku lagi kan? Hiks…" Chanyeol menoleh dan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Baekhyun terisak sambil menutup wajahnya. Chanyeol menghela nafas, ia bangkit dan memposisikan dirinya di depan kaki Baekhyun.
"Baekhyun, buka tanganmu dan lihat aku!" Baekhyun membuka tangannya dan tersenyum melihat Chanyeol sudah berada di depannya. Kedua tangan Chanyeol memegang kaki Baekhyun. Ketika wajah Chanyeol hendak menunduk Baekhyun menahannya.
"Jangan dijilat, Aku masih menggunakan ramuan yang Tabib Shin berikan." Ucapnya membuat Chanyeol mengangguk. Ia membasahi penisnya, lalu membasahi lubang Baekhyun membuat Baekhyun meringis, karena rasanya memang begitu menyakitkan.
"Kau yakin?"
"Tentu." Ucap Baekhyun meskipun dirinya pun ragu dan bulir-bulir keringat di keningnya tak menghilangkan keraguannya.
"Lakukan Paduka!" Chanyeol menghela nafas dan dengan pelan menerobos lubang Baekhyun. Baekhyun mencengkram lengan Chanyeol dengan sangat keras, dan Chanyeol dapat merasakan kesakitan itu.
"Baekhyun, mari kita hen_"
"Lanjutkan Paduka!" Chanyeol menatap wajah Baekhyun ragu, lalu kembali menerobos masuk.
"AAAAKK_hhmpp" Baekhyun menutup mulutnya tak ingin membangunkan Chanhyun, sementara, Chanyeol menutup matanya merasakan kenikmatan yang sudah lama ia rindukan.
"Hhmm.." erangannya terdengar begitu berat seiring dengan batangnya yang mulai menembus.
"Aah…" Baekhyun mendesah ketika Chanyeol mencoba bergerak dengan hentakan pelan. Baekhyun meringis, sakitnya jauh berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan saat ia pertama kali melakukannya.
"Ahhh…ahhh….ahhh…" Keringat Baekhyun semakin banyak, remasannya berpindah pada ranjang hingga menembus telapak tangannya.
Chanyeol menggeram, mencoba mencari kenikmatan dengan terus bergerak amat sangat pelan. Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan dan segera menarik Chanyeol untuk memberikan sebuah lumatan.
Ciuman mereka terkesan sembarang, karena rasa sakit itu tak kunjung hilang.
"Akh!" Chanyeol menarik wajahnya dan meringis ketika bibirnya terluka akibat gigitan Baekhyun, dan ketika melihat Baekhyun memucat barulah Chanyeol terkejut.
"Baekhyun, Baekhyun kau baik-baik saja?" Chanyeol menepuk pipi Baekhyun pelan dan mata sayu itu terbuka.
"Ya, lagi Paduka~" ditengah kesakitannya Baekhyun pun mendesah, pura-pura menikmati kegiatan itu. Chanyeol mengernyit merasakan cairan hangat mengalir padahal ia belum mencapai puncaknya.
Chanyeol menunduk melihat penyatuan mereka dibawah sana, dan matanya membulat ketika ranjang mereka telah di nodai oleh banyak darah yang merembes keluar. Chanyeol mengeluarkan miliknya secara perlahan dan beralih menyentuh pipi Baekhyun, namun sosok itu tak sadarkan diri.
"Baekhyun, tidak! Maafkan aku." Chanyeol panik. Ia membungkus tubuh Baekhyun dengan seprei setelah memperbaiki pakaiannya lalu berlari keluar untuk menemukan dua pengawal yang nyaris tertidur.
"PANGGILKAN TABIB SHIN SEKARANG!" teriak Chanyeol diluar kamarnya tak ingin mengusik bayi mereka yang sedang tertidur pulas.
…
..
.
Chanyeol mengusak wajahnya penuh emosi, sementara Tabib Shin baru saja usai menyelimuti tubuh Baekhyun untuk membuatnya tetap hangat. Tuan Lee menatap cemas dan sesekali melirik Sang Raja yang terlihat begitu penuh penyesalan.
Lain halnya dengan Jongin dan Sehun yang melirik Chanyeol tak percaya, mereka tidak pernah tahu bahwa Raja mereka bisa senekad itu. Setahu mereka Chanyeol adalah Raja yang memiliki pengendalian diri tertinggi dibanding para Raja lain yang mereka kenal, namun kini… keduanya mendesah dan kembali melirik kearah Baekhyun yang masih memucat.
"Paduka?" Chanyeol mendongak dengan wajah sendu menatap Tabib Shin yang berjalan mendekat kearahnya.
"Bagaimana? Apa fatal? Apa Baekhyun dalam bahaya?" Tanya Chanyeol. Tabib Shin menghela nafas sejenak, lalu melirik kearah Baekhyun sejenak sebelum akhirnya kembali menatap Chanyeol.
"Luka pasca melahirkan Paduka Ratu masih basah, membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan lamanya, bukankah aku sudah mengatakannya?" Chanyeol menundukkan kepalanya merasa amat sangat menyesal.
"Maafkan aku, kami….aku….tak bisa mengendalikan hasratku." Sesal Chanyeol. Tabib Shin kembali membuat helaan nafas.
"Beruntung hal itu tidak menyebabkan luka yang fatal. Hanya kerobekan kecil dan sudah aku obati. Lain kali Paduka, aku harap Paduka lebih berhati-hati. Ingat bahwa dia seorang lelaki dan dia begitu muda." Chanyeol mengangguk dan mengulas senyum kecil, merasa tenang setelah mendengar penuturan Tabib Shin.
"Eeughh." Semua mata beralih pada sosok mungil yang kini menggeliat. Chanyeol segera mendekat dan memegang tangan mungil Baekhyun, menggenggamnya erat seolah melalui penyatuan tangan itu rasa kekhawatirannya menguap.
"Pa-Paduka? A-apa yang terjadi? Apa kita sudah selesai, tapi_aakkh!" Baekhyun meringis ketika akan menyingkap selimut dan terkejut melihat banyak orang berada di dalam kamar mereka. Baekhyun menoleh kearah Chanyeol dengan wajah tak percaya dan Chanyeol mengecup pipi Baekhyun lembut.
"Maafkan aku!" ucap Chanyeol pelan, seperti berbisik namun mampu di dengar oleh yang lainnya.
"Apa kita batal melakukannya?" Tanya Baekhyun dengan wajah kecewa. Chanyeol mengangguk sebagai jawaban dan merasa aneh dengan raut sedih Baekhyun, jemari besarnya pengelus permukaan pipi putih pucat itu.
"Lain kali jika kau begitu menginginkannya, biarkan aku membantumu. Jangan memintaku untuk menyetubuhimu lagi, kau mengerti? Ini akan membahayakan dirimu!" Baekhyun tak merespon, bahkan tatapan matanya jatuh pada selimut di depannya membuat Chanyeol dan yang lainnya semakin bingung.
"Pa-paduka. Itu artinya aku tak bisa meminta sebuah permintaan?" Cicitan Baekhyun nyaris tak terdengar karena suaranya begitu pelan dan kecil, Chanyeol mendekatkan telinganya mencoba meminta Baekhyun mengulanginya lagi, namun Baekhyun menggeleng pelan.
"Permintaan?" kening Chanyeol berkerut dan kemudian ia tersentak.
"Astaga, jadi kau melakukan ini untuk sebuah permintaan? Baekhyun-ah…bagaimana…kau…" suara Chanyeol tercekat, ia tak mampu mengeluarkan isi otaknya yang bisa ia lakukan hanya meremas tangan Baekhyun lebih kencang dan meletakkan dahinya disana, merasa bersalah atas kepolosan Baekhyun.
"Ma-maafkan aku…Pa-Paduka.." Suara lirih Baekhyun membuat Chanyeol mendongak, ia menatap sosok yang ia cintai itu dengan tatapan iba dan bersalah.
"Sayang? Hanya katakan apa yang kau inginkan! Kau seorang Ratu sekarang, seorang Ratu tak perlu melakukan sesuatu terlebih dahulu untuk mendapatkan keinginannya. Kau hanya perlu memerintah." Baekhyun menatap kearah mata Chanyeol, mencari sebuah keberanian disana untuk dirinya sendiri.
"Sekalipun kepada Paduka Raja?"
"Ya, sekalipun padaku. Hanya tinggal katakan apa yang kau inginkan. Jadi, apa yang lelaki cantik ini inginkan hm?" Tanya Chanyeol sambil kembali mengelus pipi Baekhyun, membuat yang kecil tersenyum.
"Aku ingin…aku ingin…Paduka menolong Raja Youngguk untuk menyelamatkan Kerajaannya dan juga Ratunya." Seketika gerakan Chanyeol terhenti, matanya menatap kosong kearah Baekhyun yang balik menatapnya dalam kebingungan. Rahang Chanyeol mengeras, namun ia mencoba menyembunyikan emosinya di depan lelaki yang dirinya yakin bahwa sosok kecil itu bahkan tak tahu apa-apa.
"Apa dia memintamu melakukannya?" Baekhyun terdiam sejenak merasakan nada tak bersahabat dari Chanyeol, lalu kepalanya tertunduk.
"Aku hanya berpikir bagaimana bila aku di posisi Ratu Joohyun, dan Paduka di posisi Raja Youngguk, bukankah itu sungguh menyedihkan? Dipisahkan dari orang yang kita cintai?" Chanyeol menutup matanya sejenak sambil menghela nafas. Ia bangkit, menatap Baekhyun dalam lalu mengusak rambut itu pelan.
"Tidurlah! Kau pasti kelelahan." Baekhyun mengangguk menurut lalu berbaring, Chanyeol berjalan menjauhi ranjang hendak keluar diikuti oleh empat orang lainnya sebelum panggilan Baekhyun menghentikan langkah Sang Raja.
"Tidak ada salahnya membantu kan Paduka?" Chanyeol mengangguk pelan lalu berjalan keluar dan meminta para pelayan untuk masuk dan menjaga Baekhyun serta buah hatinya.
…
..
.
BUGH
BUGH
BUGH
Untuk pertama kalinya Chanyeol menggunakan tangannya sendiri untuk memukul seseorang yang bahkan sudah terbaring lemah diatas lantai. Ia menatap sosok itu penuh kebencian, sosok yang kini bersimbah darah dengan keadaan yang mengenaskan.
Jongin dan Sehun hanya menonton dari tempatnya tak ingin menghentikan tindakan brutal Sang Raja, mereka tahu bahwa sosok itu kini diliputi emosi.
"Bagaimana bisa kau meracuni pikiran anak kecil sepertinya?" suara berat Chanyeol terdengar mengerikan meskipun ia mengucapkannya dengan nada biasa.
"Kau tahu? Dia nyaris berada dalam bahaya karena itu! Jika terjadi apa-apa padanya, aku tak segan-segan menghabisimu." Youngguk terkejut, tak pernah ia menemui sisi kemarahan Chanyeol. Semarah apapun sosok Raja itu, dia akan tetap terlihat tenang, bahkan ketika Ratunya berkhianat dan menolak kembali ke istana, Youngguk ada disana dan tidak melihat kemarahan Chanyeol yang meledak-ledak selain sorot mata kosong dan terluka.
"Ma-Maafkan a..aku..hhh.." Youngguk terbatuk dan darah segar keluar dari bibirnya.
"Bukankah aku sudah terlalu baik pada pengkhianat sepertimu? Aku menyelamatkan rakyatmu, aku membiarkan kau tinggal disini sampai lukamu sembuh dan kau membayarku dengan ini?"
"A…aku tak bermaksud..a…aku tak tahu…anak…anak…itu akan bertindak dengan caranya…"
"Yak! Perhatikan ucapanmu, orang kau panggil 'anak itu' adalah Ratuku!" Youngguk lagi-lagi merasa menyesal.
"Malam ini juga, pergi dari Northwest, jangan sampai aku melihat batang hidungmu di Negeriku. Aku tak peduli dengan masalahmu!" Chanyeol hendak meninggalkan kamar itu sebelum kakinya lagi-lagi dipeluk.
"A..aku mohon…selamatkan Joohyun… di…dia…seseorang…uhuk… memberikanku surat pagi ini….berkata bahwa Joohyun akan dijadikan pelacur dan dijual kepada para bangsawan ….ji…jika aku tak memberikan kepalaku…" Chanyeol tak memberikan respon selain melepaskan kakinya secara paksa lalu berjalan meninggalkan ruangan.
"Itu bukan urusanku." Ucapnya sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari ruangan itu dengan Sehun dan Jongin yang mengekor di belakang. Setelahnya dua pengawal masuk dan menyeret Youngguk untuk keluar dari kamarnya.
"CHANYEOLL… .AKU … MOHON ….. PADUKA …. PADUKA CHANYEOL … SELAMATKAN JOOHYUN!"
Teriakan itu terdengar sepanjang koridor, sepanjang seretan pengawal membawa tubuh bersimbah darah itu meninggalkan istana. Chanyeol menundukan wajahnya sambil bersender di pembatas koridor. Jongin dan Sehun mendekat dan berdiri dimasing-masing sisi tubuh Chanyeol.
"Jangan katakan, bahwa Paduka menyesal!" Chanyeol menggeleng pelan sebagai jawabannya atas pertanyaan Jongin.
"Dia pantas menerimanya." Ucap Sehun dan menepuk pundak Chanyeol pelan, menyampingkan kedudukan mereka sebagai atasan dan bawahan.
Baekhyun membuka matanya mendengar teriakan itu, ia memanggil seorang pelayan dan bertanya pada sosok wanita itu tentang apa yang sedang terjadi diluar.
"Paduka Raja mengusir Raja Youngguk dari istana, Ratuku!" ucap sang pelayan. Baekhyun mengernyit sejenak.
"Me-mengusirnya?"
"Ya, dan sepertinya Raja Youngguk baru saja melakukan kesalahan karena tubuhnya terlihat babak belur." Baekhyun terkesiap dan ia menatap kosong ke depan. Mungkinkah ini karena kesalahannya, ia menjadi menyesal atas tindakan bodoh yang ia lakukan.
…
..
.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Chanyeol ketika memasuki kamar mereka saat mendekati waktu makan siang. Baekhyun menoleh dan mendapati sosok itu dalam keadaan sedikit berantakan, ia yakin Raja-nya tidak tidur dengan cukup semalam mengingat sosok itu tak kembali ke dalam kamar mereka hingga Baekhyun terbangun oleh tangisan Chanhyun.
Chanyeol menaiki ranjang dan mendekati Baekhyun yang akan menyusui putra mereka, dan memang tujuannya kemari untuk membantu Baekhyun seperti biasa. Baekhyun membuangnya wajahnya sejenak lalu mengangguk pelan.
Ketika bayinya sudah mulai menghisap, Chanyeol menurunkan kain itu pelan namun Baekhyun menahannya.
"Tidak usah Paduka, ini tidak terlalu sakit." Chanyeol menatap Baekhyun bingung, terutama melihat ekspresi wajah Baekhyun yang tidak semangat seperti biasanya.
"Apa lukanya begitu sakit?" Tanya Chanyeol lagi dan Baekhyun hanya mengangguk sebagai jawaban, sambil menatap wajah bayinya yang masih setia menyusu.
"Maafkan aku!" Baekhyun menggeleng pelan dan itu membuat Chanyeol semakin heran dengan sikap diam Baekhyun. Chanyeol mendekat dan menyenderkan kepalanya di pundak Baekhyun, namun Baekhyun meringis.
"Berat Paduka."
"Oh, maaf." Chanyeol bangkit dan kembali menatap Baekhyun, tidak menemukan petunjuk ia memainkan jari kaki mungil bayinya yang nampak nyaris tertidur. Baekhyun meringis ketika kaki-kaki menendang itu menggesek dada satunya, melihat itu Chanyeol kembali mencoba membuka kain baju Baekhyun.
"Biar aku bantu! Itu pasti sakit."
"Tidak perlu Paduka!"
"Baekhyun?" suara Chanyeol seperti menekankan sesuatu. Baekhyun menundukan wajahnya, menatap kosong kearah bayinya.
"Aku hanya meminta Paduka menolongnya, kenapa Paduka malah menghajar dan mengusirnya? Ini bukan salahnya, ini salahku." Akhirnya Chanyeol menemukan ujung dari perubahan sikap Baekhyun dan ia menghela nafasnya, merasa lelah dengan semua hal yang terjadi.
"Dia tidak seharusnya meracuni pikiran anak kecil sepertimu." Baekhyun tersentak, ia menatap kearah Chanyeol tak percaya dan perlahan kaca-kaca bening mulai terlihat dimata Baekhyun.
"Jadi…jadi bagi Paduka aku hanya anak kecil yang tak seharusnya ikut campur dalam urusan orang dewasa? Bukankah aku Ratu Paduka?" suara Baekhyun bergetar dan Chanyeol hanya mengusak rambut itu pelan.
"Ada hal yang tidak semua orang bisa ikut jatuh ke dalamnya. Aku tak pernah meremehkanmu Baek, aku tentu akan mengajakmu berunding untuk setiap keputusan yang akan aku ambil nantinya, tapi tidak untuk sekarang. Ini terlalu rumit untukmu." Baekhyun menatap Chanyeol terluka.
"Karena aku anak kecil kan?" Chanyeol menggeleng pelan.
"Karena aku tak ingin kau merasakan sebuah kesakitan. Aku ingin melindungimu sebagaimana seorang pria melindungi miliknya."
"Kenapa tidak Paduka tolong saja dia? Kerajaan Paduka kan besar, Paduka punya banyak prajurit terlatih, Paduka pasti menang." Chanyeol menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Diluar sana terlalu rumit untuk kau pikirkan dengan pemikiran sederhanamu. Kau akan mengerti nanti, sekarang sepertinya aku harus memberikanmu waktu berpikir sendiri, bahwa ada hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan." Ucap Chanyeol setelah mengecup pipi Baekhyun dan pipi putranya lalu bangkit.
"Paduka, untuk berbuat kebaikan tidak ada hal yang tak boleh dilakukan, seperti menolong misalnya. Tak ada salahnya menolong yang lemah kan?" Chanyeol tetap berjalan menuju pintu.
"Setelah selesai memberi Chanhyun kita makan, kau makanlah juga! Aku tak ingin Ratu-ku sakit nanti." ucap Chanyeol sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.
…
..
.
Dua minggu berjalan dan Baekhyun sungguh-sungguh menjauhi Chanyeol. Ia selalu menghindari tatapan Sang Raja dan tak pernah mau mengajak bayinya berkunjung keruang kerja yang lebih tua.
Ketika makan pun mereka hanya akan diam, Baekhyun hanya akan menjawab sekenanya ketika Chanyeol menanyakan banyak hal, bahkan Baekhyun selalu menolak bantuan dari Chanyeol meskipun itu artinya ia harus merasakan nyeri hebat pada dadanya yang tak mau dihisap oleh bayinya.
Awalnya Chanyeol menanggapi tindakan Baekhyun sebagai hal yang kekanak-kanakan, tapi lama-kelamaan dia mulai kehilangan kesabaran. Ia tak bisa lagi bertahan dengan Baekhyun yang selalu menghindar bertatapan dengannya,bahkan ketika mereka berada dalam satu ranjang yang sama.
"Tuan Lee! Buat sebuah surat perintah untuk menghentikan perang yang terjadi di Ramoneas, lalu kirim seseorang kesana untuk memberikannya pada Raja baru Dantheras!" Tuan Lee yang terkejut mengerutkan keningnya dalam, menerka apa yang sedang Sang Raja pikirkan.
"Jendral Oh, Jendral Kim! Pimpin prajurit menuju Dantheras dan rebut Ratu Joohyun kembali! Jika mereka menolak cara halus, kibarkan bendera perang!" kedua Jendral itu pun juga mengernyit, tidak mengerti dengan perubahan sikap Raja mereka.
"Apa Paduka yakin?"
"Ya. Lakukan!"
"Baik!" ucap keduanya lalu segera meninggalkan ruangan Chanyeol.
"Paduka, apa terjadi sesuatu?" Tanya Tuan Lee. Chanyeol mendesah sambil mengusak rambutnya.
"Katakan bahwa aku bodoh karena merasa tertekan dengan sikap tak acuh Baekhyun." Tuan Lee tersenyum.
"Itu tidak bodoh, itu namanya cinta mati." Chanyeol menatap Tuan Lee dan Tuan Lee hanya tersenyum.
…
..
.
Chanyeol masuk ke dalam kamar mereka dan untuk pertama kalinya memberikan ketukan di pintu. Baekhyun yang sedang bermain bersama putranya diatas ranjang menoleh dan seketika raut wajahnya berubah dingin.
Chanyeol berjalan keatas ranjang dan menjatuhkan dirinya diatas ranjang dengan wajah kelelahan. Baekhyun yang melihat itu merasa iba namun ia masih memegang tinggi gengsinya.
"Ah aku lelah….Baekhyun?"
"Hm?" Baekhyun melirik Chanyeol yang menutup wajahnya dengan salah satu lengannya.
"Aku sudah mengirim pasukan ke Dantheras." Baekhyun mengernyit sambil menatap Chanyeol bingung.
"Kemana itu?"
"Kerajaan yang menculik Ratu milik Raja Youngguk." Bola mata Baekhyun membulat. Ia bangkit , sedikit merangkak melawati bayinya dan menuju kearah Chanyeol lalu menduduki perut itu membuat Chanyeol kembali dengan sigap menahan tubuh yang lebih kecil.
"Paduka sungguh melakukannya?" ada nada sumringah disana dan Chanyeol tersenyum menatap sosok berseri di depanya.
"Uh-huh. Apa kau senang sekarang?" Baekhyun mengangguk cepat dan Chanyeol semakin tersenyum lebar.
"Aku tahu bahwa Rajaku ini adalah orang yang benar-benar baik." Ucap Baekhyun sambil merendahkan tubuhnya dan memeluk Chanyeol erat. Chanyeol tersenyum lalu mengelus punggung sempit itu dengan pelan.
"Tidak marah lagi?" Baekhyun menggeleng dalam pelukan hangat itu selama beberapa menit sebelum akhirnya Baekhyun mendongak dan menatap Chanyeol dengan posisi masih terdududuk diatas tubuh Sang Raja.
"Oh iya!"
"Hm?"
"Karena kita tidak marahan lagi, sekarang bantu aku Paduka!" ucap Baekhyun sambil memegang dadanya.
"Ini sangat..sangat…sangat sakit! Aku rasanya ingin menangis." Chanyeol segera bangkit dan membalik tubuh mereka hingga Baekhyun berada dibawahnya. Mereka melirik kearah Chanhyun dan Chanyeol memberikan mainan kain untuk dipegang oleh bayinya sebelum akhirnya kembali menatap Baekhyun.
"Dengan senang hati!" Chanyeol menurunkan kain di dada Baekhyun namun Baekhyun menahannya.
"Bukan yang kiri, yang kiri itu milik Chanhyun, bagian Paduka yang kanan. Apa Paduka lupa?" Chanyeol terkekeh lalu membuka sisi satunya dan merendahkan wajahnya untuk menyesap putting membengkak Baekhyun.
Rasanya sungguh padat, dan ketika air itu mulai keluar Baekhyun merasakan sebuah kelegaan.
"Dulu aku selalu bertanya kenapa Chanhyun tidak pernah mau menghisap sisi ini, sekarang aku tahu jawabanya ia ingin berbagi dengan ayahnya…Auuw!" Baekhyun mencubit lengan Chanyeol ketika pria itu dengan sengaja menjepit puting Baekhyun diantara giginya.
Meskipun sama-sama menyusu, bedanya adalah jika Chanhyun hanya akan menyusu sampai ia tertidur, tapi jika Chanyeol ia akan melakukan hal lain seperti menyesap leher dan pundak Baekhyun lalu melumat bibir yang lebih kecil sebelum akhirnya kembali pada tujuan awalnya.
"Hmmm…" Baekhyun merasakan jilatan-jilatan sensual itu. Gesekan tubuh keduanya membuat mereka semakin memanas, namun harus mengendalikan diri untuk tidak melampaui batas.
"Oh iya Paduka, aku lupa berkata jika keluargaku sudah pindah bersama Sooyeon nuna untuk beberapa bulan, karena pembangunan rumah."
Plop
"Oh, itu bagus. Akhirnya mereka mau menerima pemberianku." Ucap Chanyeol sebelum akhirnya kembali menghisap dada Baekhyun.
"Ya, akupun senang meskipun sedikit kecewa karena mereka tak mau tinggal disini."
Plop
"Mereka pasti memiliki alasan Baekhyun, kita tidak bisa memaksa seseorang yang tak ingin meningalkan kesukaannya."
"Ya! Paduka benar." Baekhyun kembali mengelus kepala Chanyeol, sebelum akhirnya mereka kembali berciuman beberapa saat sebelum Baekhyun kembali merengek tentang dadanya yang masih nyeri, untuk itu Chanyeol kembali melakukan pekerjaan sampinganya sebagai Raja.
"Paduka Ratu, saatnya_Hah!" Chanyeol dan Baekhyun menoleh kearah empat pelayan yang membeku di pembatas pintu. Sejak beberapa waktu lalu pintu kamar meraka memang tak pernah tertutup kecuali bila malam atau ketika mereka melakukan pembicaraan penting, namun kegiatan mereka saat ini diluar dugaan Chanyeol sehingga ia lupa menutup pintu.
Namun respon Chanyeol tak lagi berlebihan, ia sudah terbiasa dipergoki oleh bawahannya. Lagipula mereka hanya pelayan biasa, jadi Chanyeol tak terlalu ambil pusing.
Meskipun saat ini posisi mereka begitu intim dimana tubuh Chanyeol melekat erat dengan tubuh Baekhyun yang bagian dadanya telah terbuka jelas dengan bercak-bercak kemerahan yang telah ia buat, tidak lupa dengan sisa-sisa susu di sekitar bibir Chanyeol.
Chanyeol menatap dengan wajah malas, lalu mengibaskan tangannya meminta mereka keluar dan kemudian kembali melanjutkan kegiatannya membuat Baekhyun terkikik.
"Chanhyun bahkan menatap kearah kita, kenapa sayang? Kau bingung dengan apa yang sedang kami lakukan hah?" Tanya Baekhyun dengan nada jenakanya sambil mengelus pipi Chanhyun yang kini menatap kearah mereka.
Chanyeol ikut menatap bayinya, lalu bangkit sedikit untuk mengecup pipi gembul itu dan kemudian kembali mencium bibir Baekhyun.
"Aku merindukanmu." Bisik Chanyeol.
"Ya, aku pun." Ucap Baekhyun sambil melingkarkan tangannya di leher Chanyeol dan mengecup bibir penuh itu sayang.
…
..
.
Tidak ada yang bisa meragukan kekuatan pasukan Northwest itu nyatanya benar, pasukan yang dipimpin oleh Sehun dan Jongin nyatanya kembali dengan sebuah kemenangan. Bukan perang besar, hanya sebuah perang gertakan karena pihak Dantheras tak mau menyerahkan tawanan mereka dengan jalan halus yang sudah Chanyeol rencakan.
Semua berjalan sesuai rencana dan ketika para pasukan kembali Chanyeol menghadiahi mereka dengan sebuah pesta penyambutan dimana para keluarga dari pasukan yang berperang dibiarkan datang dan menikmati pesta yang telah dibuat.
Sementara kedua Jendral sedang mengikuti makan malam bersama Sang Raja dan Ratu mereka, sebuah acara makan malam yang jarang terjadi karena biasanya Chanyeol lebih suka untuk makan berdua bersama Baekhyun di kamarnya, namun pengecualian untuk hari ini.
"Terima kasih untuk kerja keras kalian." Chanyeol mengangkat gelas anggurnya dan diikuti oleh Jongin, Sehun, dan Tuan Lee sementara Baekhyun yang memiliki gelas dengan susu di dalamnya hanya mengerucutkan bibirnya.
"Kau sedang menyusui jadi tidak boleh minum alkohol." Baekhyun mengerutkan bibirnya lucu membuat Chanyeol tersenyum kecil dan para pelayan menahan tawa.
"Aku menghasilkan susu, seharusnya aku tidak minum susu lagi." Ucap Baekhyun dengan bibir dikerucutkan sambil mengangkat lebih tinggi minumannya.
"Bersulang!" Chanyeol berucap dengan sedikit gelengan kecil melihat wajah cemberut Baekhyun, bagaimana sosok mungil itu menatap isi gelasnya dan melirik isi gelas yang lain dengan iri.
"Juga karena kau dibawah umur Baekhyun-ah, aku tak mungkin memberimu ini." Kening Baekhyun mengernyit dengan ekspresi tidak terima. Ia menoleh kearah Chanyeol yang sedang meminum anggurnya.
"Berarti Paduka seharusnya tidak meminum susuku karena Paduka sudah diatas umur."
BRUUUSHH
Semburan itu tak hanya berasal dari bibir Chanyeol, namun juga dari ketiga sosok lainnya yang kini terbatuk keras. Baekhyun menatap keempat orang dihadapannya dengan alis mengernyit bingung. Mengapa orang-orang selalu bereaksi berlebihan dengan ucapannya yang nyatanya 100 persen benar.
…
..
.
Baekhyun sedang duduk di bangku taman di dekat kolam dengan Chanhyun dalam gendongannya. Bayi yang sedang dalam pertumbuhan itu terlihat tampan dalam balutan baju bayi sutranya yang berwarna emas. Sungguh terlihat betapa elegan dan bergelimang hartanya si bayi mungil itu membuat siapapun akan berdecak iri akan kemewahan yang diterimanya.
Nona Tzuyu bilang matahari pagi bagus untuk kulit bayinya, untuk itu setelah matahari terbit Baekhyun membawa bayinya yang hampir berusia tiga bulan untuk sedikit menikmati angin dan cahaya matahari yang hangat.
Para pelayan berdiri di belakang Baekhyun, sementara Baekhyun seperti biasa mengoceh pada bayinya yang hanya membalas dengan kerjapan atau kadang menyanyikan sebuah lagu dengan nada yang sangat indah hingga membuat para pelayan berdecak kagum.
"Selamat pagi!" Baekhyun menoleh dan menemukan Jongin berdiri dengan senyuman lebar kearah bayinya. Bagai sebuah radar, Baekhyun akan segera menyembunyikan tubuh putranya dari pandangan Jongin. Tatapan itu terlihat mengerikan bagi Baekhyun, seperti sosok itu merencakan sesuatu pada bayinya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Baekhyun dengan wajah nyalang. Jongin melihat sekeliling untuk mencari alasan, karena ia tidak mungkin berkata secara terus terang bahwa ia memang ke taman untuk melihat si pangeran mahkota.
"Hmmm… mencari udara segar?" ucapnya dengan nada tak yakin. Baekhyun berdecih dan kembali melirik bayinya yang sedikit dijauhkan dar Jongin, namun diluar dugaan Jongin tiba-tiba berlutut dikaki Baekhyun sambil memegang kaki itu membuat Baekhyun terkejut dan ia segera berteriak.
"YAAAAK! Jauhkan orang ini dariku!"
"Aku mohon , sekali saja_"
"YAK!YAK! YAK!" Baekhyun meronta dengan mata tertutup ketika Jongin meremas pakaian Baekhyun dan menggoyangkan kaki si kecil dengan suara memohon.
Dengan takut para pengawal menarik tubuh Jongin menjauh. Jongin kesal segera bangkit dengan sedikit tepisan pada pundaknya. Ia menatap Baekhyun kesal dan Baekhyun menatap Jongin sama kesalnya.
"Kau gila!"
"Lihat saja! Aku akan menemukan cara." Baekhyun mengernyit tidak mengerti dengan ucapan Jongin dan lebih bingung ketika Jongin pergi dengan langkah kesal.
Baekhyun menatap punggung tegap itu dengan tatapan aneh, ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Jongin berlutut di depannya dan merengek seperti anak anjing membuat Baekhyun terkejut setengah mati. Dan semakin tak mengerti kenapa Jongin ingin menemukan cara, cara apa? Baekhyun sungguh tak mengerti.
"Apa dia baru saja kehilangan otaknya saat berperang?" gumaman Baekhyun membuat para pelayan menahan tawanya.
…
..
.
Jongin berdecak kesal dengan langkah kaki terhentak-hentak. Ia terus mengumpat betapa sombongnya Baekhyun karena memiliki bayi dan tidak membiarkan ia untuk menyentuhnya.
Sejak awal kelahiran bayi itu, Jongin sudah jatuh cinta dan ingin sekali menggendong si bayi namun ibu dari bayi itu nyatanya begitu pelit untuk memberikan anaknya pada dirinya.
"Hei, kau kemana saja?" suara Sehun yang berteriak dari arah belakang membuat Jongin menghela nafas pelan.
"Pergi. Kenapa?" Tanyanya dengan nada malas.
"Paduka mencari kita!" ucap Sehun membuat Jongin menoleh dengan kernyitan halus.
"Ada apa?"
"Entahlah hanya datang saja. Ayo!" Jongin mengikuti langkah Sehun dengan tidak bersemangat membuat Sehun menoleh kearah sahabatnya dengan ekspresi kebingungan.
Ketika mereka sampai di ruangan Chanyeol, hal pertama yang mereka tangkap adalah wajah tersenyum Chanyeol pada mereka, lalu meminta mereka untuk duduk.
"Ada masalah apa Paduka?" Tanya Jongin membuat Chanyeol terkekeh.
"Apa aku hanya memanggil kalian ketika hanya ada masalah?" Jongin tersenyum kikuk sambil menggaruk bagian belakang kepalanya, karena memang nyatanya hal itu yang terjadi mereka dipanggil hanya ketika ada masalah yang harus diselesaikan.
"Aku akan mengabulkan masing-masing satu permintaan dari kalian. Katakanlah!" Kedua Jendral itu saling menatap dengan wajah bingung.
"Kenapa Paduka?"
"Tidak, ini hanya sebagai bentuk terima kasihku, kalian bahkan tetap mengerjakan tugasku meskipun aku sangat tahu jelas kalian tidak menyukai Raja Youngguk."
"Itu bukan apa-apa, itu adalah sebuah kewajiban kami." Sahut Jongin lagi. Chanyeol tersenyum lebar dan menepuk tangan kedua Jendralnya.
"Hanya katakan saja!" Kedua Jendral itu terdiam lalu mulai berpikir karena mereka selama ini mengerjakan segalanya selalu dengan ikhlas tanpa berniat mendapat balasan dari Sang Raja.
"Sehun?" ucap Chanyeol ketika melihat raut wajah Sehun lebih menemukan titik terang.
"Hm, Paduka. Bisakah-bisakah Paduka membuatkanku surat tugas untuk pergi…pergi…ke …" Chanyeol tersenyum pelan, sudah mengerti dengan maksud Sehun.
"Baiklah, apa lima hari cukup untuk membuatmu melepas rindu dengannya?" Seketika pipi Sehun merona, ia memalingkan wajahnya membuat Chanyeol terkekeh pelan.
"Lalu kau Jongin?" Jongin menatap Chanyeol tanpa petunjuk, ia tidak tahu apa hal yang paling ia inginkan saat ini, hingga ia menjentikan jarinya dengan mata terbuka lebar.
"Paduka, aku….aku….ingin…."
…
..
.
"TIDAK!" Baekhyun berteriak membuat Chanyeol terkejut.
"Baekhyun-ah, Jendral Kim hanya ingin_"
"Dia itu mengerikan Paduka, aku bisa melihat tatapan mengerikan itu dari matanya tiap kali melihat Chanhyunie kita. Dia pasti memiliki niat jahat."
"Tidak! Kau bisa percaya padaku!" Baekhyun mengerucutkan bibirnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Chanyeol memeluk tubuh itu dari belakang dan mengecup leher Baekhyun dengan lembut.
"Jendral Kim hanya begitu terobsesi pada Chanhyunie kita, ia ingin sekali memegang dan menggendongnya." Baekhyun masih tak merespon.
"Baekhyun-ah, meskipun dia putra kita, tapi dia tetaplah putra mahkota Kerajaan. Dia terlahir untuk Kerajaan, jadi jangan menjadikannya batu Kristal tak tersentuh." Baekhyun menghela nafas dan memegang tangan Chanyeol diperutnya, sebelum akhirnya elusan itu berubah menjadi cengkraman.
"Jika sampai terjadi apa-apa pada Chanhyunie, aku tidak akan mau bercinta dengan Paduka untuk selamanya." Chanyeol sempat tersentak dengan ancaman itu namun kemudian ia maklum bahwa Ratunya sangat protektif.
…
..
.
Jongin menelan ludahnya ketika melihat tatapan membunuh yang Baekhyun layangkan padanya sejak ia memasuki kamar Raja dan Ratunya itu. Tapi kemudian matanya teralih lagi pada sosok mungil yang menendang-nendang di depannya, terbaring dengan sangat nyaman diatas ranjang orangtuanya.
Jemari Jongin terulur sedikit demi sedikit, sebuah ketakutan menyelimuti pikirannya dan tatapan mengintimidasi Baekhyun membuat kegugupan dan ketakutannya melebur menjadi satu.
TUK
Jari telunjuk itu menyentuh kulit kenyal sang bayi membuat Jongin merasa amat sangat bahagia.
"Sentuhlah dia Jongin!" ucap Chanyeol yang berdiri dibelakang Jongin sambil memperhatikan. Jongin kembali mengulurkan tangannya dan menggenggam jemari mungil itu, lalu ia terharu dan terisak.
"Rasanya begitu lembut…hiks.." Chanyeol dan Baekhyun yang sempat terkejut hanya saling melirik melihat respon berlebihan Jongin. Baekhyun yang semula melayangkan ketidak sukaan, kini melihat sebuah ketulusan dimata Jongin.
"Aku terlahir tanpa cinta, aku tidak percaya cinta."
Ucapan Jongin masih berbekas di benak Baekhyun, untuk itu ia mendekat dan mengambil duduk disamping Sang Jendral.
"Kenapa tidak kau gendong saja dia?" Bola mata Jongin melebar, menatap tak percaya kearah Baekhyun.
"A-apa boleh?" Baekhyun mengangguk dengan sebuah senyuman lebar. Ia perlahan mengangkat tubuh bayinya lalu memberikannya pada Jongin dengan perlahan. Jongin kembali terisak, air matanya bahkan terjatuh membasahi pakaian Chanhyun.
"Astaga, Jendral Kim! Jangan menangis!"
"Aku terharu." Ucapnya sambil menatap bayi berkedip itu, lalu tanpa ia sadari ia mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi gembul itu membuat aroma bayi itu menyeruak ke dalam indra penciumannya.
"Hai pangeran. Aku Jendral Kim, yang akan menjadi pelindungmu mulai sekarang." Baekhyun tersenyum melihat betapa bahagianya Jongin sekarang, sisi lembut yang tak pernah ia lihat dari sosok seorang Kim Jongin.
…
..
.
Di sebuah Kerajaan lain, di Negeri yang begitu indah dengan berbagai macam bunga-bunga yang tumbuh disana, tampak terjadi keributan yang memang sudah sering terjadi setiap harinya. Berasal dari salah satu kamar terbesar di Kerajaan itu, dimana seluruh penjaga nampak penundukan wajah mereka dan para pelayan dengan wajah pucat mereka berdiri di depan pintu yang tertutup rapat itu.
"Oh, Paduka." Salah seorang penjaga berucap membuat yang lainnya segera memutar tubuh mereka dan memberi hormat ketika Raja mereka tiba.
"Apalagi kali ini?" tanya sosok itu dengan sorot akan kelelahan.
"Pa-pangeran…Pangeran mengamuk, Paduka."salah seorang pelayan berucap gugup.
"Apa yang dia inginkan kali ini?" tanyanya.
"Pangeran marah karena Paduka Raja melarangnya untuk pergi ke Northwest." Kris menghela nafas lelah, ia melangkah ke depan membuat para pelayan dan pengawal segera memberikan jalan.
Sosok tinggi itu mengetuk pintu kamar sang adik, namun sebuah lemparan benda berat yang menghantam pintu yang ia dapatkan sebagai jawaban. Lagi-lagi Kris menutup matanya, merasa begitu lelah dengan sifat kekanak-kanakan adiknya.
Ia tahu sikap adiknya karena sejak kecil mendiang kedua orangtuanya begitu memanjakan sosok itu, menganggapnya adalah sosok perempuan karena memang kedua orangtuanya menginginkan anak perempuan dan Luhan mampu memberikan kesan itu.
Kris pun menyesali perbuatannya yang masih memanjakan Luhan bahkan setelah orangtuanya tiada, hingga membuat sosok yang terpaut jauh darinya itu tumbuh sebagai Pangeran yang tidak pernah dewasa.
"Lu?"
PRANG
"Lu?"
BUGH
"Lu? Buka sebentar."
"Jangan harap. Kau telah menyiksaku selama beberapa minggu ini, aku akan pergi ke tempat Ayah dan Ibu dan aku akan mengadukanmu." Kris menghela nafas dan berdeham sejenak.
"Luhan? Kita bicarakan baik-baik, kau mengerti? Sudah berapa kali aku katakan untuk jadi dewasa, berhenti merajuk dan membuat seluruh istana kerepotan karena ulahmu!"
"AKU TAK MEMINTA MEREKA UNTUK MEMPERDULIKANKU!"
Kris menutup matanya lelah dan membalik tubuhnya, ia memanggil seorang pelayan.
"Biarkan saja dia, nanti juga akan baik sendiri. Jangan membawakan makanan lagi untuknya, biarkan ia keluar dari kamarnya sendiri untuk makan." Seluruh pelayan mengangguk dan segera menundukan wajah mereka ketika Sang Raja berlalu.
Luhan yang menguping dari balik pintu mengumpat, sambil dengan kesal menendang bantal disampingnya. Ia melihat seluruh isi kamarnya dan keadaannya sangat berantakan.
Ia mendengus kesal, melipat kedua tangannya di depan dada. Hatinya sungguh kesal dengan sikap semena-mena sang kakak. Sejak kepulangannya dari Northwest, Kris mengurungnya di dalam kamar dan akan membiarkannya keluar hanya untuk mengikuti kelasnya.
Sebenarnya tidak benar-benar mengurungnya, Kris hanya meminta penjaga menjaga dengan ketat sang adik karena pemberontakan yang ia lakukan ketika di Northwest membuat Kris malu, dan memberikan hukuman kecil untuk sang adik.
Untuk itu Luhan memutar otak dan meminta untuk diberikan izin pergi ke Northwest dengan alasan ingin melihat putra mahkota Chanyeol, namun Kris tahu bahwa itu hanya akal-akalan adiknya saja, untuk itu ia melarang keras yang lebih muda.
Luhan melihat lagi kamarnya dan matanya tertuju pada jendela kamarnya yang sangat besar, ia menyeringai lalu segera berlari menuju ranjang untuk menari sprei kasurnya, menarik tirai hingga terlepas dari pengaitnya, menarik kain tirai ranjangnya dan apapun yang bisa ia ikan menjadi satu.
Ia kembali mengukur panjang jalinan yang ia buat, lalu kembali menengok ke luar jendela dan ia mendesah kesal karena kamarnya berada di tempat yang tinggi. Ia meletakkan tanganya di pinggang sambil berpikir sebentar dan mengamati kamarnya. Ia tidak menemukan apapun, membuatnya mendesah kesal dan melempar tubuhnya keatas ranjang dengan kesal.
Ia menangis keras, merasa kesal dengan hal yang ia alami, hingga suara pintu terbuka terdengar. Luhan tak menoleh ia membenamkan wajahnya di atas kasur. Suara langkah dan benda yang disingkirkan dengan kaki terdengar.
"Aku tak akan mengubah pikiranku, jangan kakak harap aku akan menyerah. Aku akan membakar istana ini jika aku mau." Ucapnya masih teredam oleh bantal. Luhan tak peduli ketika sosok lawan bicaranya tak memberikan respon sama sekali.
"Aku juga akan menculik Relhena, hingga kakak dan Junmyeon menangis karena anak kalian hilang." Ancam Luhan lagi, masih tak mendapat jawaban dan ia kembali memutar otaknya.
"Tidak hanya itu. Aku akan kabur dan tak akan kembali dari istana. Aku akan hidup di tengah hutan seorang diri dan beberapa bulan kemudian kakak akan mendengar bahwa adikmu yang cantik ini sudah mati di makan singa." Luhan menggeram kesal karena kakaknya tak kunjung membujuknya.
"Kenapa hanya diam? Bicara, seperti kakak biasa memarah_" Ucapan Luhan tertelan kembali ketika ia mendapati sosok yang menjadi alasannya merajuk di depan matanya. Ia mengerjap lalu menggosok matanya berulang.
Ia bangkit dengan kening mengernyit menyentuh dengan ragu pipi sosok di depannya.
"AAAAAA! Kau nyata?" teriaknya heboh, membuat tubuhnya terhuyung dan terjatuh diatas ranjang. Sehun masih disana, terdiam menyaksikan sikap bodoh sosok menyebalkan di depannya. Terduduk dengan wajah terkejut dengan hanya mengenakan kemeja tidurnya yang tersingkap hinga paha atasnya terlihat.
Luhan yang melihat arah pandang Sehun, segera menutup pahanya. Ia dengan cepat mengambil kain dibawah kakinya dan menutup bagian terlihat itu. Selama ini tak ada yang pernah melihatnya dalam pakaian sesantai itu, hanya pelayan setia dan juga sang kakak dan kakak iparnya.
"A-apa yang kau lakukan di-disini?" tanya Luhan gagap. Sehun yang sempat terhipnotis sejenak segera beralih menatap Luhan, ia mengeluarkan sebuah kertas dari balik tubuhnya, membuka gulungan kertas itu tepat di depan wajah Luhan.
Luhan mengernyit melihat surat tugas yang telah ditanda tangani oleh Chanyeol dan juga kakaknya.
"Mulai sekarang dan beberapa hari ke depan, aku akan berada disini sebagai pengawasmu. Kau berada dalam masa penilaian untuk kelayakanmu bisa datang kembali ke Kerajaan Northwest."
"Apa-apaan itu? Aku bisa datang kapanpun aku mau, Chanyeol bahkan akan menyambutku dengan pelukan hangatnya." Sehun menatap Luhan dingin, lalu menggulung kembali surat tugasnya.
"Kau tidak lagi bebas datang dan pergi ke Northwest atas kekacauan yang telah kau buat beberapa waktu lalu."
"Bilang saja ini hanya akal-akalanmu kan? Kau suka kan ketika aku tidak berada disana?"
"Bagus jika kau tahu, tapi yang perlu kau tahu lagi adalah bahwa ini perintah Paduka Raja langsung." Luhan berdecak kesal. Sehun membuang wajahnya dan melihat sekitar.
"Melihat keadaan kamarmu, aku bisa saja memberikan banyak nilai minus." Lalu mata sosok itu beralih pada gulungan kain di depannya.
"Dan melihat usahamu untuk kabur, aku tentu sudah memberikan penilaian."
"Apa-apaan kau hah? Pergi dan_"
"Jangan membentakku jika kau ingin lulus dari penilaian ini."
"Sialan!" Luhan menggeram dan menatap punggung Sehun yang telah menjauhi kamarnya.
"Apa-apaan dia?" kesal Luhan.
…
..
.
Luhan menuruni tangga istana dan langsung menatap kesal pada sosok yang duduk satu meja dengan kakak dan kakak iparnya, serta keponakannya yang berusia 7 tahun. Kris menoleh dan tersenyum melihat Luhan turun dengan pakaian rapinya dan terlihat jauh lebih baik daripada beberapa hari kemarin.
Perlahan ia melangkahkan kakinya mendekati meja makan istana, lalu mengambil duduk di hadapan Sehun yang juga menatapnya datar.
"Baik, karena semua telah datang mari kita biarkan juru masak membawa makanan terbaik mereka kemari. Jendral Oh, aku harap kau tak sungkan selama berada disini." Ucap Kris.
"Tentu, Paduka." Ucap Sehun sambil menatap Luhan dengan sebuah seringaian.
Selama makan malam, Luhan selalu mencuri pandang pada Sehun dengan wajah malasnya. Ia menusuk-nusuk makananya tanpa mau memakannya dan hal itu tertangkap oleh Sehun yang segera mengambil catatan dari balik pakaiannya, dan menuliskan sesuatu.
Luhan mengernyit sambil memperhatikan hal yang ditulis Sehun, namun ketika mata mereka bertemu Sehun menyeringai dan Luhan tahu bahwa ada yang salah dengan catatan yang Sehun bawa.
Malam harinya, ia mengendap-ngendap ke dalam kamar dimana Sehun dibiarkan beristirahat. Pintu itu tak dikunci dan Luhan berseru senang, ia mengintip sejenak dan memutuskan untuk masuk.
Tidak ada siapapun disana dan Luhan tersenyum senang. Ia melihat sekeliling dan menemukan pakaian Sehun tergantung di salah satu kayu penggantung pakaian. Ia tersenyum senang dan segera berjalan kearah pakaian itu.
Dengan cepat merogoh saku dalamnya dan ia tersenyum ketika jemarinya menemukan sebuah buku catatan yang ia cari. Ia membukanya dan terkejut melihat namanya tertera disana, dengan banyak angka minus.
"Tiga puluh poin?" gumamnya pelan.
"Ya, dan sekarang menjadi 50." Luhan terkesiap, tubuhnya menegang dan ketika ia berbalik ia menemukan Sehun dibelakangnya hanya mengenakan sebuah handuk yang membalut tubuh putihnya.
Mata Luhan bergrilya dan ia tidak bisa untuk tidak menelan ludahnya. Seumur hidup inilah saat pertama ia melihat tubuh telanjang Sehun. Luhan menjatuhkan catatan ditangannya dan segera memekik, Sehun menyeringai dan berjalan semakin mendekat.
"Diam disana! Atau aku akan berteriak!" ancam Luhan. Sehun seolah tidak peduli dan ia semakin mendekatkan tubuh setengah telanjangnya.
"Lalu? Apa yang akan kau lakukan setelah berteriak?" Luhan mengernyit mendengar pertanyaan bodoh Sehun.
"Tentu saja semua orang akan datang dan aku akan melaporkanmu karena berniat melakukan sesuatu yang tidak-tidak padaku."
"Sesuatu yang tidak-tidak? Memangnya dimana kau berada sekarang?" Luhan tercekat, nafasnya memburu dan jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Dia lupa bahwa dia sedang berada di kamar Sehun, dan tentu saja dialah yang akan menjadi tersangka jika ia berteriak.
SIAL!
Luhan melihat sekeliling, mencoba mencari celah untuk bisa kabur dari hadapan Sehun. Ketika matanya menemukan sebuah celah disamping tubuh Sehun, ia mulai menyusun rencana.
"Pergi!"
Ucapnya sedikit mendorong dada dingin Sehun, lalu berlari menjauh, namun hal diluar kendali terjadi, ia tersandung kaki Sehun dan tangannya dengan cepat menarik apapun yang bisa ia pegang.
Luhan terengah ketika tubuhnya menghantam lantai, matanya menatap kain putih ditangannya dan seketika pupil matanya membesar. Dia menggerakan lehernya horror, menatap kaki telanjang Sehun dihadapannya lalu perlahan semakin keatas, dan nafasnya tercekat.
"Dasar mesum." Ucap Sehun dingin dan Luhan segera bangkit sambil berlari dengan cepat menuju pintu keluar. Ketika pintu di tutup, Sehun kembali terkekeh kecil menertawakan sikap kekanakan Luhan.
"Kau selalu berhasil membuatku gila, Luhan." Ucapnya sambil menatap daun pintu yang telah tertutup rapat.
…
..
.
Sejak hari dimana Baekhyun membiarkan Jongin menyentuh bayinya, Ia selalu dikejutkan dengan kehadiran sosok Sang Jendral yang muncul di depan kamar mereka untuk menyapa Chanhyun, bahkan tak pernah sekalipun melewatkan harinya untuk melihat bagaimana para pelayan memandikan sang putra mahkota membuat Chanyeol terkadang cemburu dengan kedekatan putra dan Jendralnya.
Jongin pun selalu merasa bahagia tiap kali bertemu dengan Chanhyun, bahkan ia melewatkan tugasnya untuk melatih para prajurit ketika Sehun tak ada, membuat Sehun mengejarnya dengan sebuah pedang terhunus ketika Jendral itu kembali dari tugas pura-puranya dan mendapati para prajurit diliburkan dari jadwal latihan mereka.
Chanhyun baginya adalah sebuah semangat ketika dirinya merasa dalam suasana hati dan buruk dan Jongin bahkan akan sulit tidur ketika tidak melihat Chanhyun diakhir harinya.
"Hmmm…" Baekhyun sedang mendesah pelan ketika ia dan Chanyeol sedang bermesraan. Hisapan-hisapan Chanyeol pada permukaan lehernya membuat Baekhyun menutup matanya dan meremas rambut Chanyeol.
Ia sedang menyusui Chanhyun ketika Chanyeol datang dan bergabung lalu semuanya berubah menjadi sebuah keintiman.
"Padukaaahhh~" Baekhyun kembali mengeluarkan desahannya ketika tubuh keduanya bergesekan. Pakaian Baekhyun telah terbuka sepenuhnya menampakan kulit putihnya, sementara pakaian bawahannya telah merosot sedikit.
TOK…TOK…TOK…TOKTOKTOK…
Keduanya menoleh kearah pintu ketika mendengar ketukan bernada itu. Chanyeol hendak bangkit namun Baekhyun menahannya dan berkata bahwa ia yang akan bangkit dan membukakan pintu.
Ketika pintu terbuka, bola mata Baekhyun langsung berputar malas.
"Lagi?" suara Baekhyun sarat akan sindiran namun sosok tinggi di depannya hanya menampakan deretan giginya.
"Pangeran belum tidur kan? Aku bahkan bisa merasakan rengekannya." Baekhyun yang memeluk pakaiannya yang belum terpasang sempurna hanya bisa membalik tubuhnya berjalan kearah ranjang membiarkan Jongin masuk.
"Kita kedatangan tamu tak diundang, Paduka." Ucap Baekhyun malas. Chanyeol yang masih bertelanjang dada dengan celana sedikit melorot segera menaikkan celananya dan menyenderkan tubuhnya dengan satu tangan memijat pelipisnya.
"Selamat malam Paduka, aku tidak menganggu kegiatan kalian kan?" Tanya Jongin sambil mendekat kearah ranjang dimana Chanhyun berbaring disamping Chanyeol.
"Woaaah, ini dia jagoan kita. Hei, belum tidur?" Jongin bersimpuh di sisi ranjang sambil menggenggam tangan mungil terkepal itu.
"Kau tahu? Aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu." Ucapnya pada sang bayi membuat dua orang lainnya mengernyit geli.
"Ah, kau pasti tidak bisa tidur juga kan? Apa? Hahaha…ya..ya.." Jongin bahkan bertingkah aneh dengan mendekatkan telinganya ke tubuh Chanhyun seolah bayi itu berbisik padanya.
Chanyeol memakai kembali baju tidurnya sambil melirik kearah Jongin yang nampak begitu gembira, sejak mereka kecil kegembiraan Jongin adalah melihat Chanyeol bahagia. Sosok lelaki itu tak pernah menemukan kebahagian yang sesungguhnya.
Bagi Jongin jika Chanyeol bahagia maka sang Raja terdahulu juga akan bahagia, dan secara otomatis dirinya juga akan bahagia. Jongin selalu merelakan kebahagiaannya untuk orang lain, namun kini kebahagiaan itu benar-benar terpancar dari mata sosok lelaki itu.
"Habiskanlah waktu kalian berdua, aku ingin menghirup udara segar sejenak." Ucap Chanyeol bangkit lalu meraih tangan Baekhyun yang sedang memperbaiki penampilannya dan membawa sosok mungil itu menuju balkon kamar mereka.
Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun erat ketika yang lebih mungil ingin tetap berada di kamar, takut terjadi sesuatu pada bayinya, karena sampai saat ini Baekhyun masih belum sepenuhnya percaya pada Jendral tersebut.
"Biarkan mereka berdua!" bisik Chanyeol.
"Tapi_"
"Tidak apa-apa Baekhyun-ah, kau bisa memegang ucapanku." Ucap Chanyeol sambil memeluk lebih erat tubuh Baekhyun. Mereka hanya berdiri sambil berpelukan menatap kearah bintang bersinar dilangit.
"Paduka?"
"Hm?"
"Aku mencintai, Paduka." Chanyeol terkekeh lalu mengecup perpotongan leher Baekhyun.
"Tebak siapa yang jauh mencintaimu?" goda Chanyeol.
"Paduka?"
"Benar sayang." Baekhyun berbalik dan membawa Chanyeol dalam sebuah ciuman dalam dengan kaki berjinjit tinggi membuat Chanyeol merasa iba, hingga ia mengangkat tubuh ringan itu dan mendudukannya di pembatas balkon dengan bibir masih saling bertautan.
Ketika mereka kembali, kedua sosok itu dibuat terkekeh dengan keberadaan Jongin diatas ranjang yang tertidur pulas dengan sosok Chanhyun yang juga tertidur disampingnya.
"Sepertinya Jendral kita harus segera menikah." Ucap Chanyeol membuat Baekhyun terkekeh.
…
..
.
Tidak seperti pagi biasanya, pagi ini Chanyeol dibuat terkejut dengan sebuah surat undangan yang datang dari Kerajaan Ramoneas. Ia kembali membaca tulisan bertinta emas itu dan melirik Tuan Lee dengan satu alis terangkat.
"Mungkin sebagai bentuk terima kasih lainnya Paduka." Ucap Tuan Lee mengerti dengan arti tatapan Sang Raja.
"Bukankah mereka telah memberikan banyak hadiah beberapa waktu lalu? Kenapa tiba-tiba mengirimkan undangan seperti ini?" Tanya Chanyeol lagi. Tuan Lee berdeham dan melangkah maju.
"Kerajaan Ramoneas sedang melakukan beberapa pemulihan mungkin saat ini semua telah kembali, dan sebelum aku lupa, bukankah siang ini rakyat mereka akan dipulangkan?" Chanyeol mengangguk sejenak mengingat hal tersebut.
Benar bahwa Ramoneas telah kembali berdiri kembali dan kemarin pagi utusan dari Ramoneas telah datang untuk kembali mengambil rakyatnya. Serta ucapan terima dalam bentuk banyak sekali hadiah yang beberapa waktu lalu telah Chanyeol terima, namun kini sebuah undangan yang begitu istimewa ada diatas mejanya.
"Apa aku harus datang?" Tanya Chanyeol pada penasehat setianya. Tuan Lee mengangguk sejenak.
"Bukankah pekerjaan Paduka tidak terlalu banyak? Dan sekalian untuk pertemuan perdana Paduka Ratu diluar istana." Chanyeol terdiam sejenak, ucapan Tuan Lee benar bahwa ini adalah pertama kalinya Baekhyun akan dibawa dalam sebuah pertemuan sebagai Ratunya, sebagai Ratu dari Northwest.
"Baiklah, siapkan kereta untuk malam ini Tuan Lee."
"Baik Paduka."
…
..
.
Baekhyun sedang memilihkan baju baru untuk Chanhyun ketika pintu terbuka dan Chanyeol berjalan masuk. Baekhyun yang terlalu sibuk dengan kerutan dikening dan tangan di dagunya, menatap belasan pakaian bayi diatas ranjangnya tidak menyadari sosok tampan yang mendekat itu.
"Yang berwarna biru cerah terlihat cocok untuknya." Baekhyun tersentak sejenak ketika Chanyeol muncul dibelakangnya dengan memeluk pinggangnya dan menunjuk sebuah pakaian bayi.
"Tapi akan cepat kotor Paduka, Paduka tahu sendiri sekarang Chanhyun sudah bisa memakan bubur, dia selalu mengeluarkan bubur itu dari dalam mulutnya." Gerutu Baekhyun sambil melirik bayinya yang tidur dalam posisi terngkurap dan bermain dengan mainannya.
Chanyeol berjalan kearah putranya, mengangkat tubuh bertumbuh itu dan memangkunya dalam posisi bersandar di tubuhnya.
Chanhyun sudah melewati bulan keempatnya, kepalanya tak lagi terhuyung-huyung, dia bahkan sudah mampu duduk tegak ketika tubuhnya ditopang. Tabib Shin bilang Chanhyun tergolong bayi yang sehat, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Tabib Shin juga mengatakan bahwa kualitas ASI Baekhyun sangat baik, membuat bayinya yang semula lemah mampu bertahan dan bertumbuh dengan sangat baik. Bahkan Baekhyun sudah mengajak Chanhyun untuk menonton para prajurit berlatih dengan Jongin yang selalu menempel pada bayi itu sepanjang kegiatan berlangsung.
Baekhyun melirik bayinya yang berliur, ketika hendak membersihkan liur itu Chanyeol telah mendahuluinya, mengelap dengan tangannya tanpa rasa jijik membuat Baekhyun tersenyum. Dulu bagi Baekhyun, Chanyeol itu tegas, disiplin dan kokoh namun ketika melihat Sang Raja bersama putra mereka, gambaran sosok Raja itu terganti oleh sosok Ayah yang lembut dan penyayang, mengingatkan Baekhyun akan sosok ayahnya.
"Oh ya Baekhyun." Baekhyun tersentak ketika Chanyeol mendapatinya sedang memperhatikan.
"Ya Paduka?"
"Aku mendapat undangan." Baekhyun mengangguk pelan sambil masih melihat-lihat pakaian bayi di depannya.
"Mereka memintaku datang kesana."
"Kapan?" Tanya Baekhyun.
"Malam ini." Baekhyun kembali mengangguk.
"Dari Kerajaan mana?"
"Ramoneas." Seketika pergerakan tangan Baekhyun terhenti. Dahinya mengernyit dan wajahnya menunjukan ketidaksukaan. Datang ke Ramoneas berarti Sang Raja akan bertemu dengan mantan Ratunya. Baekhyun memaksa diri untuk tersenyum lalu menatap Chanyeol.
Kaki pendeknya ia bawa melangkah kearah Chanyeol, dengan tatapan masih mengunci manik kelam Chanyeol, lalu sebelum Chanyeol sempat membaca gerak-gerik Baekhyun, si mungil telah mengambil bayinya dari atas pangkuan Chanyeol lalu membalik tubuhnya.
"Kalau begitu kenapa tidak bersiap-siap? Ini sudah hampir siang, bukankah menyiapkan pakaian pesta itu cukup lama? Paduka kan harus terlihat tampan." Ucapnya dengan sedikit penekanan pada kata 'tampan'.
Chanyeol yang mengerti arti ucapan Baekhyun hanya tersenyum kecil, Baekhyun yang cemburu itu berkali-kali lipat lebih menggemaskan bagi Chanyeol. Untuk itu Sang Raja bangkit, berjalan mendekat kearah Baekhyun yang membaringkan Chanhyun di dalam keranjang bayinya, sambil memakaikan baju berwarna biru sesuai pilihan Chanyeol.
"Kau tidak keberatan?" Tanya Chanyeol sambil mendekat.
"Jika aku keberatan pun, Paduka harus tetap pergi bukan? Aku tak berhak untuk melarang Paduka."
"Kenapa tak berhak?"
"Karena_" Baekhyun terdiam karena saat menoleh wajahnya begitu dekat dengan sosok Chanyeol yang tersenyum kearahnya.
"Karena?"
"Karena, Paduka adalah seorang Raja." Sahut Baekhyun sambil membuang wajahnya, merasa terintimidasi oleh tatapan yang lebih tua. Chanyeol menarik dagu Baekhyun, meminta sosok itu untuk menatapnya balik.
"Dan kau adalah Ratuku. Jadi, siapkan dirimu karena kau juga akan ikut!" Bola mata Baekhyun membulat.
"Aku? Ikut? Paduka serius? Tapi aku kan masih dalam tahap berlatih menjadi Ratu yang layak?"
"Bagiku kau itu layak , sayang." Sebuah kecupan mendarat di kening Baekhyun membuat yang kecil merona dengan sebuah senyuman lebar terkembang diwajahnya.
"Lalu, bagaimana dengan Chanhyun? Dia boleh ikut?" Chanyeol melirik putranya lalu melirik Baekhyun.
"Kita coba tanyakan pada Tabib Shin." Ucap Chanyeol dan Baekhyun mengangguk pelan.
…
..
.
Sepanjang perjalanan Baekhyun terus tersenyum hingga wajahnya benar-benar memerah seperti tomat matang. Sesekali ia bermain bersama Chanhyun diatas pangkuannya dan sesekali melirik keluar jendela kereta kencana mewah Kerajaan.
Menatap hamparan hutan dan langit gelap yang tak sedikit pun membuatnya takut. Tak ada rasa lain yang mendominasi hatinya saat ini selain rasa bahagia dan senang, akhirnya ia akan menghadiri sebuah pesta pertemuan dengan dirinya sebagai seorang Ratu.
Chanyeol yang melihat rona merah diwajah yang lebih muda, meraih tangan Baekhyun dan mengecupnya membuat Baekhyun tersenyum dan bersender dilengan Chanyeol.
"Ei-hiks..Ei-hiks.."
"Ah, tolonglah jangan sekarang sayang!" Baekhyun memelas kepada Chanhyun yang sepertinya mulai kehausan. Baekhyun memohon agar putranya itu tidak menyusu sekarang, Baekhyun tak ingin ia berbau susu nanti atau pakaiannya ternodai oleh cairan susu.
"Hoek…Hoek...Hoek.."
"Ssshh..Shhh… Chanhyun tidak boleh menangis ya?" ucap Baekhyun sambil menepuk pantat Chanhyun namun bayi itu masih meronta.
"Berikan saja dia susu! Sepertinya dia haus."
"Tidak Paduka, nanti pakaianku terkena susu dan parahnya aku berbau susu. Bagaimana bila para undangan jijik padaku?" Rengek Baekhyun sambil menatap bayinya dengan wajah sedih.
"Tidak ada orang yang jijik pada ibu menyusui, mereka akan mengerti."
"Tidak mau."
"Baekhyun?"
"Tidak mau Paduka, minta aku melakukan apapun tapi jangan menyusui." Rengek Baekhyun lagi. Chanyeol menghela nafas, antara lelaki manisnya atau bayi kecilnya.
"Sayang?"
"Hoeekk…Hoek…Hoek…" Baekhyun menatap bergantian antara pakaian indahnya dengan bayinya yang menangis, lalu ia mendesah pelan.
"Baiklah-baiklah!" ucapnya sambil melepas jubah beludru berwarna merah maroon yang membungkus tubuhnya hingga ke ujung kaki, kemudian membuka kemeja putih berendanya.
"Tidak!" Baekhyun menahan tangan Chanyeol yang akan membantu disisi kanannya.
"Tapi sejak pagi tadi aku belum membantumu, apa itu tidak sakit?"
"Aku masih bisa menahan sakitnya Paduka, aku tak ingin pakaianku berantakan karena ulah kalian berdua." Ucap yang lebih muda sambil menepuk pantat bayinya yang menyusu.
Chanyeol mengangguk dan mengecup kening Baekhyun, lalu kening putranya yang nampak sangat kehausan.
Tak lama mereka telah memasuki halaman istana, Istana Ramoneas tidak terlau luas bila dibandingkan dengan Northwest namun istana itu terbilang cukup luas bila dibandingkan dengan Kerajaan-Kerajaan lain.
Terompet berbunyi menandakan bahwa kehadiran Chanyeol disambut dengan baik. Baekhyun mengeluarkan kepalanya melihat deretan pelayan yang berjajar disepanjang jalan memberi hormat, namun Chanyeol menariknya karena hal itu sangat tidak sopan.
Chanyeol membawa tiga kereta, satu kereta kuda utama untuknya dan Baekhyun, satu untuk Jendral Oh dan Jendral Kim sebagai pengawal atas permintaan mereka sendiri dan satu untuk para pelayan setia Baekhyun yang akan membantunya mengurus Chanhyun jika terjadi hal mendadak.
Dan dibelakang mereka ada puluhan prajurit berkuda yang mengawal sebagai antisipasi. Kereta kencana Chanyeol terbuka dan Chanyeol turun pertama kali, lalu disusul oleh Baekhyun dan bayinya.
Mereka diminta memasuki istana, sementara Jongin dan Sehun akan menyusul dibelakang. Mereka dituntun memasuki istana menuju ruang utama, dan ketika pintu terbuka Youngguk telah menuruni anak tangga sambil menggandeng Ratunya.
Baekhyun terdiam di tempat. Di samping sosok pria yang terakhir kali ia lihat mengemis kearahnya, berdirilah seorang wanita bergaun biru muda yang terlihat begitu anggun dan cantik dengan mahkota perak dikepalanya.
Tidak sebesar dan seindah milik Baekhyun, namun bagaimana postur wanita itu membuat Baekhyun merasa minder, kepercayaan dirinya seolah-olah hilang. Ia kembali melihat kearah dirinya.
Kemeja putih berenda, dengan bordiran benang emas disepanjang pinggirannya yang membalut tubuh rampingnya, celana hitam panjang yang membalut kaki mungilnya lalu dibalut oleh pakaian Kebesaran Kerajaan Nortwest yang menjutai hingga menyentuh betisnya, berwarna hitam kelam dengan bordiran merah menyala dan emas yang menjadi ciri khas Kerajaan Northwest, lalu diluarnya sebuah jubah beludru berwarna merah maroon yang membungkus tubuh mungilnya yang hanya terkait dibagian atasnya, jubah tanpa kancing yang akan bergerak mengikuti pergerakan tubuhnya.
Bagi semua orang pakaian yang Baekhyun kenakan adalah pakaian terindah yang pernah dikenakan oleh anggota Kerajaan karena baju itu di desain khusus oleh desainer terhebat di seluruh negeri namun Baekhyun merasa dirinya bukan apa-apa bila dibandingkan dengan wanita yang kini berjalan anggun kearahnya dengan sepatu kaca mengkilap berwarna biru senada dengan gaunnya.
Chanyeol yang merasa Baekhyun menjadi pendiam, menarik tubuh itu mendekat dan membisikan beberapa kalimat penenang membuat Baekhyun mengangguk pelan.
"Selamat datang Paduka." Youngguk memberi hormat diikuti dengan Joohyun yang masih menundukan kepalanya sama sekali tak berani melirik Chanyeol.
"Se-selamat datang Paduka." Suara lembut wanita itu terdengar begitu pelan namun tak membuat Chanyeol mengubah ekspresi wajahnya. Baekhyun melirik Chanyeol yang sepertinya tidak menaruh ketertarikan pada wanita itu.
"Terima kasih untuk undangannya." Youngguk tersenyum lebar, ia segera menjabat tangan Chanyeol menyalurkan perasaan berterima kasihnya pada sosok Raja berhati emas itu.
"Jika tanpa bantuan Paduka, aku mungkin sudah mati dan Ratuku…mungkin tak akan kembali ke istana ini." Chanyeol melirik sekilas wanita yang hanya menunduk takut kearahnya, sebelum suara Youngguk mengalihkan perhatian Chanyeol.
"Ini? Ra-Ratu Baekhyun bukan? Dan ini pastilah Pangeran mahkota?" Joohyun mengangkat wajahnya dan baru menyadari bayi ditangan Baekhyun, matanya membulat dan dengan berani mengangkat wajahnya untuk bertemu pandang dengan Baekhyun yang tersenyum kikuk.
"Ya. Senang bertemu dengan anda." Ucap Baekhyun kikuk. Youngguk menggenggam tangan Baekhyun, membuat Baekhyun tersentak.
"Jika saat itu aku tak memberanikan diri menemui Paduka Ratu, mungkin Paduka Raja tak akan mengubah pikirannya. Terima kasih." Baekhyun tersenyum lagi, sedikit merasa bangga atas jasanya yang ternyata masih berbekas dibenak pria itu.
"Bukan masalah." Ucap Baekhyun sambil tersenyum ramah tidak menyadari sebuah pasang mata yang menatapnya menilai.
Mereka berjalan menuju ruang utama istana, dimana ruangan megah itu telah dihias seindah mungkin yang Baekhyun yakin diperuntukan untuknya dan Chanyeol. Jika dibandingkan dengan istana Northwest tentu milik Ramoneas tidak seberapa, namun Baekhyun begitu senang akan jamuan ini karena ini adalah pertama kali untuknya.
Mereka duduk disinggasana yang telah disiapkan, banyak makanan yang para pelayan hidangkan dengan begitu penuh tata krama. Seorang pengasuh mendekat dan mengambil alih Chanhyun membuat Baekhyun merengutkan bibirnya sejenak, namun Chanyeol mengelus tangan Ratunya dengan lembut.
"Biarkan mereka mengurus Chanhyun yang tertidur, kau nikmati saja pesta jamuan ini." Ucap Chanyeol dan Baekhyun mengangguk sambil menatap bayinya yang dibawa menjauh ke sudut ruangan, dimana ada sebuah kotak bayi yang telah para pelayannya siapkan.
Musik pun berganti, menandakan bahwa sebuah tarian akan dipersembahkan. Baekhyun menatap antusias pada para penari dan ia bersyukur itu bukan tarian perut. Sesekali Baekhyun melihat sekitar dan tak jarang matanya bertemu pandang dengan sosok Ratu Joohyun yang tersenyum ramah kearahnya.
Baekhyun tentu balas tersenyum, dan ketika sosok itu kembali mengalihkan pandangannya Baekhyun kembali meneliti sang Ratu. Benar, Ratu Joohyun bagai boneka berjalan, begitu cantik dan anggun. Sedikit rasa tak enak menghampiri hatinya, ia melirik kearah Chanyeol yang duduk disampingnya dan terlihat serius menikmati tarian di depannya.
Dalam hati ia bertanya-tanya, masihkah ada rasa itu di dalam diri sang Raja. Ratu Joohyun begitu cantik, siapa pun yang melihatnya pasti akan langsung jatuh cinta, dan siapapun yang pernah memilikinya pasti tak akan pernah bisa melupakan sosok itu. Sebuah rasa ketakutan menghampirinya, sebuah keraguan merasuki ke dalam hatinya yang terdalam, meskipun berulang kali ia menguatkan dirinya bahwa Chanyeol hanya mencintainya, tapi perasaan itu muncul.
"Aku tak secantik dirinya, mungkinkah aku bisa menggantikan sosok itu?" gumamnya pelan tanpa ia sadari. Chanyeol menoleh ketika mendengar Baekhyun seperti berbicara, dan pria itu terkejut mendapati Baekhyun sedang menatapnya dalam. Lelaki yang lebih kecil tersenyum manis, membuat Chanyeol membalas senyuman itu.
Ia meraih tangan Baekhyun yang selalu ia genggam sejak tadi, mengecupnya pelan meski matanya masih terarah pada para penari di depan sana.
"Paduka?"
"Hm?" Chanyeol menoleh menunggu kelanjutaan dari ucapan Baekhyun, namun sosok mungil itu hanya menatapnya tanpa bicara membuat yang lebih tua mengernyit bingung.
"Apa…Apa aku cantik?" Kelopak mata Chanyeol melebar dan ia tersenyum geli. Baekhyun menundukan wajahnya, merasa dirinya begitu konyol. Seharusnya ia tak menanyakan pertanyaan bodoh itu pada Chanyeol. Tapi, sebuah sentuhan mendarat didagunya, matanya terangkat dan bertemu pandang dengan tatapan sang Raja.
"Kau…lebih daripada cantik. Kau itu indah…kau itu…sempurna." Entah darimana, tapi Baekhyun merasakan berjuta-juta kupu-kupu di dalam perutnya dan mendesak keluar. Ucapan Chanyeol itu terkadang seperti sihir, meski sederhana dan singkat namun berefek besar padanya.
"Jadi, apa kau masih membandingkan dirimu dengan orang lain?" Baekhyun menggeleng pelan dan Chanyeol tak kuasa untuk menahan rasa gemasnya. Ia mengecup bibir Baekhyun, mengabaikan tempat ia berada sekarang dan mengabaikan citranya yang terkenal beribawa dan memiliki tingkat penguasaan diri yang tinggi di depan publik.
Musik terhenti sejenak dan ketika menoleh keduanya hanya mendapati para penari yang telah meninggalkan lantai tengah ruangan. Baekhyun menoleh seolah menyalahkan Chanyeol karena telah melewatkan akhir dari tarian indah itu, tapi Chanyeol hanya mengelus pipi Baekhyun dengan lembut sebagai balasan.
Alunan musik mulai terdengar lagi dan kini seluruh mata nampak begitu antusias, Baekhyun mengernyit ketika Chanyeol menoleh dengan cepat menuju lantai dansa. Dan kernyitan Baekhyun semakin bertambah ketika seluruh ruangan nampak berfokus dengan wajah keheranan pada tengah ruangan yang masih kosong.
Baekhyun kembali melihat sekeliling dan ia baru menyadari bahwa ia tidak menemukan sosok Ratu Joohyun ditempatnya, ketika matanya kembali beralih pada lantai dansa, ia melihat sosok bergaun putih dengan selendang panjang di depannya.
Sosok itu duduk dengan begitu anggun disana, satu kakinya tertekuk dan satu lagi lurus ke depan membuat kaki jenjang itu terlihat begitu indah. Baekhyun menerka siapa sosok yang menyembunyikan wajahnya pada lekukan lututnya, dan ketika alunan bunyi biola terdengar, wajah itu terangkat.
Tubuh langsing itu bangkit dan meliuk dengan begitu indah. Baekhyun terdiam sejenak, lalu mengalihkan pandangannya pada Chanyeol yang begitu fokus menatap ketengah ruangan dengan begitu lamat. Bibir Baekhyun melengkung ke bawah, dan ia merasa kecewa.
Matanya beralih pada tangan kurusnya yang digenggam Chanyeol, dan perlahan menarik tangan itu terlepas, dengan kepala tertunduk ia meremas jemarinya yang tadi di genggam Chanyeol.
Chanyeol melirik Baekhyun dan hatinya mencelos, ia bahkan tak menyadari bahwa Baekhyun pasti merasa kecewa. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Baekhyun , lalu berbisik pelan.
"Itu adalah tarian 'Dewi Cinta'" Baekhyun tak menoleh, masih setia tertunduk dengan wajah kecewa.
"Ya,Paduka. Tarian yang indah." Ucap Baekhyun cepat. Chanyeol menghela nafas, mengerti akan sikap cemburu lelaki mungilnya.
"Tarian itu menceritakan tentang seorang Dewi yang menunggu akan kedatangan cintanya. Dewi cantik …. Yang kesepian."
"Ya, dia cantik." Ucap Baekhyun lagi.
"Hei, kenapa?" tanya Chanyeol mencoba menarik dagu Baekhyun, namun yang lebih kecil menolaknya. Chanyeol tersenyum kecil.
"Kau marah?"
"Tidak. Aku hanya tak menyukai tarian itu."
"Kau tak pernah mendengar tentang tarian itu?"
"Tidak. Dan aku tak tertarik. Paduka saja yang menikmati tarian 'Dewi cantik' itu." Rajuknya lagi.
" 'Dewi Cinta' bukan 'Dewi Cantik'"
"Apapun itu, aku tak suka." Chanyeol meraih tangan Baekhyun, mengecup tangan mungil itu lembut dan penuh kasih sayang.
"Tarian ini tak bisa dinikmati oleh sembarangan kalangan, bahkan orang istana pun tak semua bisa menikmatinya. Tarian ini nyaris punah dan hanya beberapa keturunan kerajaan yang bisa dan boleh menarikannya." Baekhyun menoleh.
"Kenapa?"
"Ini tarian sakral, jika kau tak diberikan izin oleh para Dewa, kau tak akan pernah menghapal tariannya, atau terburuk kau akan merasakan sakit disekujur tubuhmu ketika menarikannya."
"Jadi karena itu Paduka begitu antusias pada tarian ini? Atau itu karena yang menarikannya adalah Ratu Joohyun?" Chanyeol terkekeh dan mencengkram lembut dagu Baekhyun.
"Keduanya." Bibir Baekhyun melengkung ke bawah, dan ia merasa bahwa dirinya begitu cengeng dan memalukan saat ini, karena tanpa ia bisa tahan air matanya telah menggenang dipelupuk kelopaknya.
"Jadi…itu karena Ratu Joohyun?" Baekhyun semakin menggigit bibir bawahnya agar air matanya tak lolos.
"Ya, ini karena Ratu Joohyun….yang tak seharusnya menarikan tarian ini. Tarian ini hanya ditarikan di acara sakral, atau ketika seorang putri yang tak pernah menemukan belahan jiwanya, maka ia akan menarikan ini disebuah pesta untuk memanggil sang dewi cinta." Baekhyun menoleh kearah Ratu Joohyun yang menari dan menemukan wanita itu menatap kearahnya, meski didetik berikutnya tatapan mereka tak lagi bertemu karena Joohyun yang memutuskan kontak mata mereka.
"Jadi? Apa seharusnya tarian ini tak ditarikan olehnya?" Chanyeol mengangguk. Ia mengelus pipi Baekhyun lagi, dan yang lebih kecil hanya bisa mengembangkan senyumannya.
"Jadi, karena itu pula Paduka terlihat begitu memperhatikannya?" Chanyeol menganguk.
"Ya, memperhatikan gerakan dari tarian itu, bukan siapa yang menarikannya. Jika kau yang ada disana, bahkan hanya berdiri tanpa melakukan apapun, mataku tak akan pernah lepas darimu." Sekali lagi senyuman Baekhyun mengembang bagaikan adonan roti yang terpanggang dalam panasanya bara api.
Mata sipit Baekhyun tak lepas dari tatapan Chanyeol, ia benar-benar menyesal telah lagi-lagi meragukan Sang Raja. Suara tepukan dari beberapa orang di dalam ruangan membuat keduanya menoleh dan baru menyadari jika tarian agung itu telah selesai ditarikan.
Ketika tiba waktunya makan malam, Chanyeol dan Baekhyun di undang untuk bergabung di depan meja makan istana. Mereka duduk berhadapan, dengan tak seorangpun yang duduk disisi kepala untuk menghormati kedua Raja tersebut.
Posisi Baekhyun yang tepat berada di depan Joohyun, dan posisi Chanyeol yang tepat berada di depan Youngguk membuat keduanya dapat dengan jelas menatap satu sama lain.
Meski awalnya terasa kikuk dan takut, namun melihat Chanyeol tidak sekalipun menatap mantan Ratunya membuat Baekhyun bernafas lega, dan menurut Baekhyun , Ratu Joohyun bukan sosok yang menyeramkan, wanita itu terlihat ramah dan selalu tersenyum.
Kedua raja itu terlibat beberapa pembicaraan, meski Chanyeol terlihat tak terlalu berminat namun Raja itu tak ingin terlihat tak menghargai keramah-tamahan Raja yang pernah menjadi musuhnya itu.
Beberapa menit berjalan, pembicaraan mereka masih terlihat cukup menyenangkan meskipun Baekhyun tampak tak mengerti dengan topik yang kedua Raja itu pilih, mengenai kekuasaan dan semacamnya.
Namun ia mencoba tersenyum dan menjawab sekenanya, ketika ditanya oleh Raja Youngguk. Baekhyun pun sesekali melirik Sang Ratu, yang ketika mata keduanya bertemu mereka akan saling melempar senyuman.
"Oh iya, boleh aku tahu sesuatu?" Joohyun berkata ditengah acara makan mereka. Ketiga orang yang lain mengangguk meski Chanyeol membuang wajahnya ketika mata mereka bertemu.
"Aku penasaran dengan hal ini, apa Ratu Baekhyun adalah seorang laki-laki?"
"Uhuk/uhuk.." Baekhyun dan Youngguk sama-sama terbatuk. Chanyeol membantu Baekhyun yang tersedak lalu beralih menatap wanita yang kini disiku oleh suaminya.
"Ya. Dia lelaki, apa ada masalah?" suara Chanyeol terdengar begitu dingin dan tidak bersahabat membuat Youngguk terdiam sejenak, berdeham pelan lalu tertawa untuk mencairkan suasana. Namun ketegangan diantara dua musuh itu tak rupanya mereda.
"Lalu Paduka, itu bayi siapa?"
"Lancang!" Chanyeol menggeram dengan mata berkilat emosi, Baekhyun mengelus tangan Chanyeol dan memintanya untuk tenang, tak ingin pertemuan perdananya dengan anggota Kerajaan lain menjadi buruk.
"Itu bayiku Ratu Joohyun. A-aku…aku adalah lelaki istimewa, jadi aku bisa mengandung dan melahirkan." Ucap Baekhyun mencoba membuat suasana tidak menegang karena ia bisa merasakan kemarahan Chanyeol saat ini.
"Oh begitu, aku mengerti." Wanita itu mengangguk membuat suasana kembali tenang, sebelum akhirnya ia kembali berucap.
"Lalu, apa Paduka yang menghamilimu?"
BRAK
Chanyeol bangkit dengan tatapan nyalang, membuat wanita itu menunduk. Youngguk membungkukan tubuhnya meminta maaf dan Baekhyun meraih tangan Chanyeol.
"Paduka?" gumam Baekhyun pelan, tapi Chanyeol masih terbakar emosinya. Baekhyun menarik-narik lengan Chanyeol, hingga akhirnya lelaki itu menoleh dan terkejut mendapati mata Baekhyun yang berkaca-kaca.
"Baekhyun?" Chanyeol menyentuh pipi itu pelan, namun Baekhyun memalingkan wajahnya.
Youngguk dan Joohyun dibuat terkejut dengan tindakan berani Baekhyun dan mereka hanya menyaksikan bagaimana Chanyeol menarik dagu itu untuk melihatnya.
"Ini pertama kalinya untukku Paduka, apa Paduka rela menghancurkan impianku?" Chanyeol terkesiap lagi oleh ucapan Baekhyun. Ia merasa menyesal telah membiarkan emosi menguasai dirinya.
"Maafkan aku! Aku hanya merasa kurang nyaman." Baekhyun mengangguk pelan.
"Apa Paduka ingin pulang?" Sebenarnya Chanyeol sangat ingin meninggalkan tempat itu, namun mengingat betapa senangnya Baekhyun sejak tadi siang dan betapa hancurnya sosok itu kini membuat Chanyeol memilih untuk menggeleng.
"Tidak, ayo kita lanjutkan!" Chanyeol meminta Baekhyun untuk duduk dan ia menatap dua orang di depannya.
"Maafkan atas ketidaknyaman tadi, mari kita lanjutkan!" Youngguk tersenyum lega dan meminta Joohyun untuk kembali duduk dan menjaga sikapnya, sementara wanita itu meremas jemarinya di bawah meja sambil menatap Chanyeol yang mengecup pipi Baekhyun dan berujar maaf pada sosok mungil itu.
Youngguk tak membiarkan Joohyun untuk bicara, ia tak ingin hal yang tak mengenakan kembali terjadi lagi. Untuk itu, Sang Ratu hanya bisa menikmati makanannya dalam keterdiaman sambil sesekali melirik Chanyeol yang begitu perhatian pada sosok mungil disampingnya. Sungguh berbeda dengan cara Chanyeol memperlakukannya dulu.
"Oh, mengenai tarianku tadi. Bagaimana menurutmu Ratu Baekhyun?" Baekhyun sedikit tersentak, namun ia kemudian mengalihkan tatapannya dari makanan diatas piringnya menuju Ratu cantik di depannya.
"Ba..bagus. Sangat bagus. Aku tak menyangka, Ratu Joohyun begitu pandai menari." Ratu itu tersenyum tersipu, membuat matanya tertelan oleh lipatan kulitnya.
"Apa Ratu tahu, nama tarian itu?" Baekhyun mengangguk pelan bersyukur karena Chanyeol sempat memberitahunya.
"Ya, Dewi Cinta, bukan?" Joohyun tertawa sambil mengangguk.
"Benar, aku pikir Ratu tidak tahu. Tarian itu begitu penuh kenangan untukku. Begitulah caraku menemukan belahan jiwaku dulu." Baekhyun terdiam dengan kening mengernyit, namun Chanyeol mampu menangkap maksud dari ucapan wanita itu. Rahang Chanyeol mengeras dan ia membuang wajahnya, beralih pada Baekhyun yang terlihat kebingungan.
"Apa seperti itu cara Ratu Joohyun bertemu dengan Raja Youngguk?" senyum diwajah Joohyun hilang, begitu juga dengan raut wajah tersinggung Youngguk yang seolah tak menyukai pertanyaan itu. Chanyeol yang melihat niat lain dari wanita di depanya menarik dagu Baekhyun, dan membersihkan sudut bibir yang lebih kecil dengan sapu tangan putih yang telah disediakan.
"Makan dengan benar, sayang!" ucap Chanyeol dan Baekhyun merengut kesal atas sikap Chanyeol yang terlihat begitu memanjakannya.
"Tidak ada apapun dibibirku, paduka." Chanyeol terkekeh dan mengelus pipi itu. Sebuah dehaman membuat perhatian Baekhyun teralihkan lagi, dan itu berasal dari Joohyun.
"Apa Ratu ingin tahu, kapan aku menarikan tarian itu?"
"Hm." Angguk Baekhyun cepat.
"Ketika mendiang Raja Northwest mendatangi Kerajaanku."
"Ratu!" sergah Youngguk namun Joohyun nyatanya tak peduli.
"Ketika mendiang Raja Northwest meminangku, untuk Putra Mahkota." Baekhyun terdiam sejenak, keningnya berkerut dalam untuk memproses semua ucapan wanita di depannya, tapi deritan kursi yang terseret diatas lantai menyadarkannya. Ketika menoleh, ia mendapati Chanyeol telah berdiri sambil menatap Joohyun dengan wajah penuh amarah.
"Kita pulang!" ucap pria itu tegas. Baekhyun masih terdiam, menatap sisa makanan di depan piringnya.
Ia merasa dunia sungguh tak adil, apa yang salah dengan dirinya yang hanya ingin menikmati waktu pertamanya dijamu oleh Kerajaan lain sebagai seorang Ratu. Apa dirinya begitu tak layak, sampai-sampai semua yang ia harapkan berjalan lancar malah menjadi berantakan.
Baekhyun mengusap cepat matanya, tak ingin terlihat cengeng dan lemah. Ia tak ingin mempermalukan Chanyeol karena memiliki Ratu yang cengeng dan dengan tak sopan menangis di depan meja makan.
"Pa..Paduka.." ucapnya lirih.
"Paduka, maafkan aku." Youngguk berucap tegas, namun sorot kebencian Chanyeol membuat Raja Ramoneas itu menciut. Joohyun menundukan sedikit wajahnya, namun tak membuatnya melepaskan pandangan dari Baekhyun yang terlihat tak baik-baik saja.
"Kita pulang Baekhyun!" lagi Chanyeol berucap dengan nada yang jauh lebih lembut, mencoba menarik tangan putih itu namun tubuh empunya enggan bangkit.
Pintu terbuka dan seorang pelayan berjalan masuk, berjalan menunduk dan mendekat kearah Baekhyun. Wanita itu berbisik pelan dengan penuh sopan santun.
"Benarkah?" Baekhyun tersentak dan menatap sang pelayan yang mengangguk pelan.
"Baiklah. Paduka, Chanhyun menangis, sepertinya dia haus lagi." Ucap Baekhyun dengan wajah yang terlihat berbeda. Chanyeol tahu sosok mungil itu telah mengendalikan emosinya, sosok itu telah berpura-pura bahwa dirinya baik-baik saja.
"Kalau begitu kita pulang!" Baekhyun menggeleng pelan dengan bibir dikelupas keluar dan Chanyeol menghela nafas pelan. Ia mengerti bahwa sosok itu sangat menginginkan momen pertamanya dalam sebuah pertemuan sebagai seorang Ratu.
"Hm, bisakah kami meminjam sebuah kamar? Baekhyun harus menyusui putra kami." Youngguk yang sebenarnya agak bingung hanya bisa mengangguk dan meminta seorang kepala pelayan untuk mengantar sepasang Raja-Ratu itu.
"Apa Paduka Raja juga ikut?" Tanya Youngguk ketika Chanyeol ikut berdiri.
"Ya, Baekhyun tidak bisa melakukannya sendiri tanpa bantuanku." Seketika wajah dua sosok itu terkejut.
"Ah, tak apa Paduka. Aku bisa melakukannya sendiri."
"Tidak, aku rasa kau tak akan bisa menahannya lagi! Aku akan membantu disisi_"
Baekhyun yang membekap mulut Chanyeol dengan kedua tangannya lagi-lagi membuat dua sosok di depan mereka terkejut melihat tindakan yang tidak biasa dilakukan oleh seorang Ratu pada Rajanya.
Joohyun menatap kearah piringnya ketika dua orang itu meninggalkan meja makan dengan tangan saling bertautan. Youngguk yang tersenyum melihat bagaimana Baekhyun nampak merengek manja karena sesuatu yang nyaris diucapkan oleh Sang Raja, melirik kearah istrinya yang nampak terdiam.
"Hei, kau baik-baik saja, Ratuku? Aku rasa Paduka Chanyeol telah melupakan apapun diantara kalian, jadi jangan melakukan hal konyol seperti tadi." Joohyun tersentak, dan melirik kearah tangannya yang diremas erat oleh sang suami.
"Dia telah bahagia, memiliki Ratu yang imut dan anak yang tampan." Seketika wanita itu menoleh tajam pada suaminya, lalu tatapan itu berubah menjadi tatapan terluka. Youngguk yang mengerti segera memeluk Ratunya dan mengelus pundak itu pelan.
"Jangan bersedih, kita juga akan mendapatkan keturunan segera. Jangan khawatir!" diluar dugaan, wanita itu mendengus lalu menjauhkan tubuhnya.
"Kapan? Kapan?" ucapnya sarkas. Youngguk terkesiap melihat raut wajah istrinya, lalu membiarkan wanita itu bangkit dan meninggalkan meja makan mereka.
Chanyeol tersenyum melihat bagaimana Baekhyun mengomeli putra kecil mereka yang selalu haus sejak tadi, seolah sengaja mempermalukan dirinya –katanya-
"Kau itu, pasti sengaja kan? Menangis dan ingin susu? Membuatku tercium seperti susu berjalan." Chanyeol mengelus surai Baekhyun dan sosok mungil itu mendongak.
"Jangan memarahinya, Baekhyun-ah! Dia masih kecil." Baekhyun mendengus lalu kembali melirik bayinya yang sudah meraup putingnya dengan rakus.
"Lihat, siapa yang baru saja dibela oleh Paduka? Kau senang kan?" bayi itu bukannya merasa sedih, namun ia malah tersenyum memperlihatkan gusinya merahnya membuat Baekhyun ikut tersenyum dan mengecup pipi itu gemas.
"Uuh, bagaimana bisa aku marah pada makhluk imut sepertimu hah?" ucap Baekhyun dan Chanyeol turut senang sambil menurunkan kain di tubuh Baekhyun.
Mereka berada dalam posisi yang sedikit berbeda, Chanyeol duduk di kursi dan Baekhyun duduk dipangkuannya dengan posisi menyamping sehingga memudahkan mereka untuk mengerjakan tugas masing-masing.
Awalnya Chanyeol ingin membuat mereka berbaring, namun Baekhyun bersikeras bahwa ia tidak ingin pakaiannya kusut, sehingga Chanyeol memilih cara intim itu. Hampir belasan menit mereka habiskan dalam keterdiaman, selain hanya bunyi kecipak dan hisapan yang saling bersahutan.
Baekhyun menatap lantai sejenak dengan satu tangan menganggur mengelus pantat putranya dan meremas rambut Chanyeol bergantian jika yang lebih tua tanpa sengaja menggesekan giginya.
"Paduka?"
"Hm?" Tanya Chanyeol disela ucapannya.
"Tidakkah Ratu Joohyun terlihat begitu cantik? Apa Paduka tidak merasakan sesuatu meletup-letup ketika melihatnya?"
Plop
Ketika tautan itu terlepas, Chanyeol menoleh dan mata keduanya bertemu. Chanyeol dapat merasakan sorot mata Baekhyun menuntut akan sebuah jawaban, meski nyatanya Chanyeol sama sekali tak ingin membahas hal itu.
"Tidak ada perasaan apapun lagi disini."
"Sungguh?" Baekhyun mencoba menyakinkan dan itu malah membuat Chanyeol semakin gemas dengan ekspresi penasaran Baekhyun, ia mengecup bibir itu sekali dan mengangguk.
"Aku bersumpah. Tidak ada perasaan seperti itu lagi disini, hanya sebuah perasaan terkhianati yang coba aku tahan untuk tak keluar. Sebuah rasa benci yang membuatku seolah kembali pada masa-masa kelam itu, tapi….aku bersyukur memilikimu disampingku, kau mampu meredam semua amarahku." Baekhyun tersenyum, ia menatap bibir penuh Chanyeol lalu membawa keduanya dalam sebuah ciuman hangat.
Namun sayangnya tak hanya tiga sosok itu yang ada disana, karena ada sosok lain yang berdiri di depan pintu, mengintip melalui celah pintu yang terbuka dengan tangan terkepal. Dia Joohyun, menatap dengan rasa tidak suka pada tiga sosok bahagia di dalam ruangan tersebut.
Ketika yang lebih tua bangkit lebih dulu untuk meninggalkan ruangan, Joohyun segera bersembunyi di balik pilar dan mengambil kesempatan itu untuk masuk dan mendapati sosok mungil sedang membaringkan putranya diatas kasur.
"Oh, kenapa Paduka kemba_" ucapan Baekhyun terhenti, ia segera mengancingkan pakaiannya dan tersenyum ramah kearah Joohyun. Wanita itu melangkah anggun dengan kaki jenjangnya.
"Ratu Joohyun, apa yang Ratu lakukan disini?" Tanya Baekhyun bingung. Joohyun tersenyum ramah, lalu mengambil duduk disisi ranjang sambil menatap Chanhyun.
"Bayi yang tampan." Baekhyun melirik bayinya dan mengangguk setuju.
"Ya, dia begitu mirip dengan Paduka Raja." Joohyun terkekeh sinis, lalu matanya beralih pada Baekhyun.
"Maafkan ucapanku tadi, aku tak tahu jika kau sungguh laki-laki, aku hanya ingin bertanya, dan maaf atas topik tak mengenakan tadi. Yah…aku hanya penasaran." Baekhyun mengangguk mengerti dan kembali tersenyum.
"Tidak apa-apa Ratu Joohyun."
"Dan aku masih tidak mengerti bagaimana bisa kau mengandung dan melahirkan?" Baekhyun kembali tersenyum tidak memiliki kecurigaan sedikit pun akan nada bicara yang Joohyun sampaikan.
"Aku pun sama, tapi ini bermula oleh sebuah ramalan. Yah, bisa dibilang ini keajaiban." Kembali kekehan sinis itu terdengar .
"Jadi bayi ini terlahir karena sebuah keajaiban? Aku pikir Paduka Raja sungguh terkena kutukan. Kau tahu kan dua tahun hidup bersamanya, melakukan banyak hal tak juga membuatku hamil." Baekhyun terdiam sejenak, mulai tidak nyaman dengan apa yang wanita di depannya ucapkan mengenai Raja-nya.
"Tidak, Paduka tidak terkena kutukan, Ratu Joohyun salah besar."
"Ya, mungkin kau benar. Mungkin akulah kutukannya. Nyatanya setelah menikah dengan Raja Youngguk tak juga membuatku hamil dan ini membuatku muak." Baekhyun mengernyit melihat wanita itu mengeluarkan sedikit emosi dalam ucapannya.
"Maaf, sepertinya aku_aaakkh!" Baekhyun meringis ketika ia yang akan mengambil bayinya mendapat cengkraman kuat di tangannya.
"Oh maaf, apa aku menyakitimu? Maaf Ratu Baekhyun, aku hanya ingin memastikan cincin pernikahan di jarimu." Baekhyun mengernyit dan melirik jarinya yang kosong lalu melirik jemari sang Ratu yang berisi sebuah cincin pertama berwarna biru menyala yang indah.
"Cincin pernikahan? Seperti itu?" tanyanya sambil menunjuk milik Joohyun. Joohyun mengangguk sambil mengangkat jarinya bangga.
"Oh, jangan bilang kau belum dinikahi oleh Paduka Chanyeol? Lalu apa kedudukan Ratu ini hanya omong kosong? Hanya sebuah tipuan untuk bocah sepertimu?" Baekhyun tersentak, dahinya mengernyit semakin dalam. Ia melirik ke kiri dan ke kanan merasa gusar seorang diri.
Ratu Joohyun benar, bahwa dirinya tidak pernah melangsungkan sebuah pernikahan dengan Sang Raja, bahwa dirinya hanya langsung diangkat menjadi Ratu tanpa upacara pernikahan.
"Ratu hanyalah kedudukan di masyarakat, Paduka mengakuimu sebagai Ratunya memang, tapi dia tidak menikahimu, itu berarti kau tidak diakui apapun oleh Paduka di hadapan Tuhan." Baekhyun menatap wanita di depannya lagi, mencoba mencari tahu kebohongan yang terselip dibalik wajah cantik itu, namun nyatanya kepolosan Baekhyun tak mampu menembus dinding kelicikan yang lebih tua.
"Tapi Paduka mencintaiku! Paduka bilang sendiri!" pekik Baekhyun membuat wanita itu tertawa dengan suaranya yang nyaring.
"Dia pun mengatakan itu padaku, dia bisa mengatakan itu pada siapapun. Ah, aku jadi berpikir apa mungkin Paduka mengangkatmu sebagai Ratu sebagai balas budi karena kau bisa melahirkan keturunan untuknya?" Mata Baekhyun memanas dan bulir-bulir kristal itu memenuhi kelopak matanya.
Bibirnya bergetar dan air mata itu terjatuh melewati pipinya, namun Baekhyun menghapusnya dengan cepat. Joohyun menyeringai melihat bocah dihadapannya yang begitu mudahnya ia taklukan, tak menyangka bahwa lelaki kecil itu begitu cengeng.
"Biar aku beritahu, dulu aku pernah berada diposisimu. Aku dipuja, aku diagung-agungkan, tapi setelah itu aku dibuang. Itu akan terjadi juga padamu, para pria hanya mencari kepuasan semata."
Joohyun kembali menyeringai ketika melihat wajah terluka Baekhyun, wanita itu mendekat meletakkan jemari lentiknya pada pipi basah Baekhyun.
"Hidup itu tak sesederhana yang kau bayangkan, Ratu-ku. Hidup itu rumit, dan ketika kau tak mampu mengikuti alurnya, kau akan tersisihkan, terasingkan dan terbuang."
"Itu…itu tidak mungkin. Paduka…Paduka mencintaiku…" isakan Baekhyun terdengar, namun ia berusaha tegar. Ia terduduk diatas ranjang dan memperbaiki letak pakaian Chanhyun sambil tersenyum penuh air mata menatap sosok bayi yang ikut menatap kearahnya dengan mata berkedip.
"Paduka bilang aku istimewa untuknya, Paduka bilang aku satu-satunya yang bisa mengisi hatinya, Paduka bilang dia hanya mencintaiku…" ucapnya sambil terus mengelus bagian kusut di pakaian Chanhyun.
"Paduka bilang dia ingin aku selalu berada disisinya, Paduka bilang dia hanya menginginkanku dan Chanhyun dalam hidupnya…Paduka bilang_"
"Aarrrggh! Kau hanya bocah bodoh yang mudah ditipu. Ratu? Tch! Ratu di Northwest hanyalah aku seorang, meski aku tidak lagi menjadi Ratu disana, tapi aku yakin aku masih hidup dibenak para rakyat, aku tidak tergantikan." Baekhyun mengusap air matanya yang terus terjatuh, sama seperti ketika ia berusia lima tahun dan dimarahi ibunya karena ketahuan merusak gaun-gaun ulangtahun kakak-kakak perempuannya.
"Aku berani bertaruh bahwa Paduka masih mencintaiku, dia tidak bisa melupakanku dan kenangan kami. Apalagi oleh bocah sepertimu yang bagiku tak lebih seperti jalang. "
Dan kembali cairan bening itu terjatuh melewati pipinya, bersamaan dengan setiap untaian kata-kata menyakitkan itu yang menusuk hingga ke dalam jantungnya yang terdalam.
"Kenapa kau begitu yakin?" kedua orang di dalam ruangan itu tercekat mendengar suara berat yang tiba-tiba muncul seiring dengan pintu yang terbuka.
"Kenapa kau begitu yakin dengan ucapanmu Ratu Joohyun?" Chanyeol melangkah masuk dengan kedua tangan terlipat di depan dada, dan wajah yang terlihat begitu tenang. Baekhyun mengalihkan wajahnya pada baju putranya, yang basah karena air matanya, ia mengelap bagian itu agar segera mengering mengalihkan rasa sakit hatinya atas ucapan tak berlandaskan wanita itu.
"Kau benar aku tak bisa melupakanmu." Joohyun yang awalnya terkejut mulai tersenyum menang, sejenak melirik Baekhyun yang juga menegang dalam kepura-puraannya menyibukkan diri pada putra kecilnya.
"Bagaimana aku bisa melupakan seorang pengkhianat sepertimu?" senyum wanita itu hilang terganti oleh wajah terkejut lagi. Chanyeol menyeringai dan sesekali melirik Baekhyun yang masih memungginya dengan wajah tertunduk.
"Paduka…ini tidak seperti yang Paduka pikirkan, Paduka telah salah_"
"Aku mendengar semuanya. Aku hanya menunggu sejauh mana mulut berpendidikanmu menjatuhkan Ratuku." Joohyun kembali tersentak , ia tidak pernah melihat Chanyeol semarah ini.
"A…aku…"
"Aku tak masalah kau menghinaku, menjejaliku dengan ucapan-ucapan kotormu selama bertahun-tahun karena aku tak kunjung memberimu keturunan, tapi tidak untuk Baekhyun. Tak ada seorang pun yang boleh menyakitinya, menghinanya dengan mulut kotormu. Yang jalang disini adalah kau! Yang memilih pria lain daripada suaminya disini adalah kau! Yang murahan disini adalah kau, dirimu. "Yang Mulia" Joohyun." Wanita itu menegang. Meski Chanyeol tak membentak atau memekik, namun nada bicara yang tenang dengan ratusan duri di balik kata-katanya membuat hati Joohyun seperti ditikam.
"Pa..Paduka…" Suara Joohyun tercekat, ia tidak bisa mengeluarkan kata-katanya lagi. Kakinya seolah melemas, tak pernah sekalipun ada yang menghinanya seperti itu. Chanyeol tak lagi memperdulikan wanita yang tengah terkena syok itu, ia berjalan kearah Baekhyun dan memegang pundak gemetar itu.
"Ayo kita pulang Baekhyun-ah, tempat ini hanya hunian para iblis!"
PRANG
Chanyeol dan Baekhyun menoleh mendapati Joohyun menampik seluruh peralatan diatas meja dengan wajah terluka.
"Kau memberikan kutukan itu padaku, kau membuatku ikut terkena sialmu. Awalnya aku tak masalah, tapi melihatmu yang bahagia kini membuatku terlihat hina. Kenapa hanya aku yang tetap mendapat hukuman ini? Kenapa aku tak kunjung mendapat keturunan?"
"Joohyun!" Youngguk yang baru saja berlari masuk bersama Jongin dan Sehun serta beberapa pengawal terkejut melihat keadaan ruangan yang berantakan. Pecahan kaca berserakan dan Sang Ratu yang terkenal anggun dan tenang terlihat begitu mengerikan di tengah ruangan.
"Diam!" wanita itu membentak. Jongin dan Sehun mengernyit lalu melirik kearah Chanyeol yang berusaha membujuk Baekhyun untuk bangkit dan membisikan kata-kata penenang.
"Ini tak adil! Ini tak adil. Seharusnya bayi itu menjadi milikku, aku wanita! seharusnya aku yang mengandung, bukan lelaki menjijikan seperti dia…" bola mata Joohyun bergerak gusar, ia melihat sekeliling dan sebuah gunting yang tergeletak ia ambil dari meja disampingnya.
"Dia harus merasakan kesakitanku!" Ucapnya sambil mendekat kearah Baekhyun. Sehun mengeluarkan pedangnya, namun Chanyeol menariknya lebih dulu dan menggunakannya untuk menangkis gunting di tangan Joohyun membuat dentingan benda jatuh terdengar dan darah mengotori tangan wanita itu.
Chanyeol berdiri menatap wanita yang kini berdiri dengan sebuah seringaian diwajahnya. Wanita itu terkekeh, lalu maniknya beralih menatap nyalang kearah Chanyeol.
"Kau pasti senang kan melihatku dalam keadaan seperti ini? Kau senang kan? Pa-du-ka." Chanyeol hanya menatap wanita itu datar dengan pedang masih terhunus di depan wajah wanita itu. Melihat mantan Ratunya seperti sedang terguncang, membuat Chanyeol mengabaikannya dan memilih melihat keadaan Baekhyun yang masih syok.
"Ayo kita pulang!" suara Chanyeol begitu lembut, keluar bersamaan dengan tangannya yang mengelus pundak sempit Baekhyun.
"Sampai kapan Paduka akan berpura-pura bahwa Paduka telah melupakanku? Bukankah aku cinta pertama Paduka?" Baekhyun mendongak kearah Joohyun dan Chanyeol pun menolehkan kepalanya dengan sebuah kernyitan jijik.
"Jangan terlalu percaya diri! Kau bukanlah apa-apa untukku!" suara Chanyeol terdengar dingin dan sarat akan kebencian.
"Hahahaha… ya itu bukan masalah untukku, hanya saja aku tidak bisa terima jika posisiku tergantikan oleh bocah tidak tahu diri ini." Chanyeol menggenggam pangkal pedangnya lebih erat, bersiap mengayunkan benda itu lagi.
"Joohyun, hentikan!"
"DIAM!" wanita itu lagi-lagi berteriak pada suaminya.
"Jendral Kim, Jendral Oh! Mulai sekarang hentikan seluruh pasokan bantuan yang kita berikan untuk Kerajaan Ramoneas, dan hapus mereka dari daftar Kerajaan sekutu lagi! Ingatkan aku bahwa aku tak akan pernah menginjakkan kakiku di tempat ini lagi." Semua orang terkejut, namun Jongin dan Sehun hanya mengangguk.
Youngguk merasakan kakinya melemas, tubuhnya tersimpuh diatas lantai dengan wajah putus asa, Joohyun pun sama terkejutnya, wanita itu terhuyung kebelakang dan berpegang pada sudut meja. Wajahnya terlihat begitu kalut dan cemas, matanya bergerak kekiri dan ke kanan secara acak.
"Ayo!" Chanyeol membantu Baekhyun berdiri dengan bayi mereka dalam gendongan. Ketika mereka akan melewati Joohyun, sebuah vas bunga melayang kearah Baekhyun, namun dengan sigap Chanyeol menjadi tameng untuk lelaki mungil dan bayinya. Vas bunga itu tepat mengenai belakang kepala Chanyeol, namun tak membuat sosok pria itu melemah.
PRANG
Lagi suara pecahan itu terdengar, pedang Chanyeol kembali terangkat dan kini berada beberapa senti di depan wajah Joohyun.
"Aku tak akan segan-segan untuk membunuhmu, jika kau berani menyakitinya." Ancam Chanyeol. Baekhyun yang masih terlihat syok segera memeluk lengan Chanyeol, meminta lelaki itu untuk menurunkan pedangnya.
"Mulut ularmu terlalu kurang ajar untuk menyakiti hati sebaik dirinya. Baekhyun jauh lebih baik dari dirimu, kau tak patut membandingkan dirimu dengannya. Dia begitu berharga, sementara kau…." Chanyeol berdecih menatap wanita yang terisak itu dengan tatapan marah.
"…tak ada harganya sama sekali." Lagi Joohyun dan Baekhyun sama-sama terkejut. Baekhyun mengeratkan pelukannya, meminta Chanyeol untuk pergi, meninggalkan tempat mengerikan itu.
Bayinya mulai menggeliat dan Baekhyun memeluk dua orang yang ia cintai itu dalam. Sehun dan Jongin melangkah maju untuk membawa Ratu mereka dan putra mahkota untuk kembali ke kereta kencana mereka, meninggalkan Chanyeol yang masih ingin menghabisi nyawa wanita itu.
"Aku tak pernah main-main dengan ucapanku, jika kau berani berulah lagi! Aku pastikan, pedangku sendiri yang akan menebas lehermu."
SLEB
Pedang itu menancap pada sisi meja tepat disamping Joohyun membuat semua orang yang ada disana tercekat. Chanyeol menarik pedang itu kuat-kuat.
"Camkan itu!"
Ucap Sang Raja sebelum akhirnya pergi.
Chanyeol mendekat kearah Baekhyun yang akan memasuki kereta dan ia menarik sosok itu dalam sebuah pelukan, mengecup seluruh permukaan wajah Baekhyun sayang.
"Apapun yang terjadi disini, kau tak boleh mengingatnya. Kau mengerti?" Baekhyun mengangguk lemah lalu melepas pelukan mereka dan melangkah masuk.
Selama perjalanan Baekhyun hanya terdiam menatap keluar jendela sambil memangku Chanhyun yang tertidur, Chanyeol mendekatkan tubuhnya dan Baekhyun tak memberikan respon apapun.
"Apa ada yang masih membuatmu terbebani? Maafkan aku atas ketidaknyamanan tadi."
"Tidak Paduka, itu bukan salah Paduka." Chanyeol mengecup kembali pipi Baekhyun dan kembali tak mendapat respon apapun. Hingga akhirnya Chanyeol tahu apa yang menjadi beban di benak si kecil.
"Aku akan membuat sebuah upacara pernikahan untuk kita." Baekhyun menoleh dengan wajah terkejut dan mendapati Chanyeol tersenyum puas. Tapi kemudian sosok itu berbalik.
"Kenapa baru sekarang?" Chanyeol terdiam.
"Aku pikir tanpa bersumpah di hadapan mereka pun, Tuhan telah tahu siapa yang mengisi satu-satunya hatiku." Baekhyun kembali menoleh.
"Memang bisa begitu?"
"Tentu. Tapi sebenarnya pernikahan ini telah aku rencanakan sejak lama. Hanya saja, aku ingin menunggu usiamu cukup dulu, tapi sepertinya semua berjalan lebih cepat bila bersamamu kan? Kau Ratu termuda, Ibu termuda dan sekarang kau pun akan menjadi istri termuda yang pernah ada di Negeri ini." Baekhyun membuang wajahnya, dan Chanyeol tahu bahwa si mungil telah merona.
"Jadi cincin apa yang calon istriku ini ingin kenakan?" Baekhyun menatap jemarinya yang kosong.
"Apa yang seperti Ratu Joohyun boleh?" Tanya Baekhyun takut. Chanyeol meraih jemari Baekhyun dan menggeleng.
"Tidak, itu tak pantas untuk jemarimu." Baekhyun merengut kecewa oleh ucapan Chanyeol.
"Benda itu terlalu murah untuk jari indahmu, aku akan menyuruh mereka membuatkanmu cincin dari permata terlangka yang pernah ada." Baekhyun merasakan hatinya menghangat, lalu ia menoleh kearah Chanyeol, tersenyum lembut sambil bersyukur dalam hati atas hadiah yang Tuhan berikan padanya. Park Chanyeol dan bayi mereka.
Chanyeol memutuskan kembali bersandar pada badan kereta, berulang kali mengerjapkan matanya karena apa yang ia lihat di depannya tidak begitu jelas, seluruh objek seolah bergerak acak, berputar dan membuat kepalanya semakin pening.
"Paduka?" tanya Baekhyun saat menyadari Sang Raja mengernyitkan matanya.
"Ada apa?" tanya Baekhyun lagi, namun Chanyeol menggeleng dengan sebuah senyuman. Baekhyun bersandar pada pundak Chanyeol dan sang pria mengelus lembut pundak yang berada dalam rengkuhannya.
Baekhyun tersenyum senang menyadari betapa beruntung dirinya, hingga senyuman itu memudar saat mendengar deru nafas Chanyeol yang berbalapan. Semakin lama, suara itu semakin berat. Si kecil menoleh dan menatap wajah Chanyeol yang berkeringat.
"Paduka? Paduka baik-baik sa_" ucapan Baekhyun terhenti ketika jemarinya menyentuh sesuatu di pundak Chanyeol. Sesuatu basah dan sedikit lengket, bau besi menguar dan Baekhyun membulatkan matanya saat darah segar mengotori tangannya.
"Paduka? Da…darah.." Baekhyun gemetar sambil menatap jemarinya yang telah terlumuri oleh darah, ia kembali mendongak dan mendapati Chanyeol tersenyum lemah.
"Aku…aku baik-baik…"
"PADUKA!"
"HIIIIKKK"
"OEEKK…OEEEKK.."
Teriakan Baekhyun, ringkihan kuda yang berhenti mendadak dan tangisan bayinya menggema di dalam gelapnya jalanan, sementara Sang Raja terbaring tak sadarkan diri diatas pangkuan lelakinya.
…
..
.
TBC
…
..
.
Hi guyssss... Long time no see.
Adakah yang masih menunggu ff ini? wkwkwkwkwk...
Untuk yang setia menunggu dengan sabar, aku ucapin terima kasih yang sebesar-besarnya.
Ada yang tanya 'kak kenapa ceritanya rumit? kan kata kakak gak bakal dibuat rumit.' untuk menjawab pertanyaan itu aku sebelumnya mau minta maaf, pas aku ketik dan mikirin alurnya aku rasa itu gak terlalu rumit, aku rasa konfliknya masih ringan karena dalam satu chapter langsung ada penyelesainnya itu kenapa ff ini masih tergolong gak rumit menurut aku, beda sama Playful Love atau Devil Beside Me yang akunya sendiri sampai bingung mau nentuin penyelesaiannya. Jadi untuk yang merasa ini terlalu rumit, aku minta maaf ya. Aku berusaha bikin ceritanya gak rumit, tapi malah jatuhnya flat, tapi percayalah kalo aku gak setega itu sama Chanbaek wkwkwkwk...
.
Oh iya, aku juga mau berterima kasih untuk doa-doa kalian, akhirnya drama skripsweet ku berakhir dengan sweet wkwkwkw... Meskipun aku belum bisa bernafas lega karena dua hari setelahnya harus ikut test studi profesi ( PSPA ). Mungkin ini jawab pertanyaan dari kalian, kenapa aku gak update-update bahkan setelah skripsweet ku selese, ya jawabannya itu, hahaha..
Untuk itu teman-teman, aku mohon doanya sekali lagi semoga aku lulus tes PSPA yang diumumin hari ini. Kalian terbaik, love you all.
Untuk chapter selanjutnya, mesti nunggu lagi, karena setelah ini masih banyak hal-hal kecil yang harus aku urus, semoga kalian bersabar lagi ya buat nunggu.
See you in the next chapter.
Inget selalu jaga kesehatan dan salam Chanbaek is real~
