Update, 02 Februari 2017:
Disclaimers, isi dan peringatan sama seperti di prolog. 4k+ words, tidak termasuk notes.
Pairing(s): HijiGin (Hijikata Toushirou×Sakata Gintoki). Slight, TakaGin (Takasugi Shinsuke×Sakata Gintoki), Sakata Gintoki×Sarutobi Ayame.
Enjoy! :)
.
#
.
Bab 8 — Libur Musim Panas
Kedua alis Sacchan mengerut semakin dalam. Gadis berkacamata itu kembali melangkah sambil terus melihat layar ponselnya yang menunjukkan lambang di punggung Hijikata. Tepat begitu dia berbelok di perempatan koridor, Takasugi muncul di tempatnya berdiri tadi. Pemuda itu celingak-celinguk mencari siapa tadi yang membicarakan lambang di punggung.
Kalau dari suaranya tadi, dia pasti seorang perempuan, gumam Takasugi dalam hati. Meski kemungkinannya 50:50, dia harus memastikan apakah perempuan itu mengambil foto lambang yang tepat, atau bukan. Tapi, masalahnya—
"Sial! Masa aku harus memeriksa satu per satu perempuan yang bersekolah di sini? Akan makan waktu berapa lama?!" geramnya, setengah frustasi.
.
. .
Napas Gintoki terengah-engah begitu dia sampai di depan pintu ruang konsultan. Begitu dia membukanya setengah kasar, ruangan itu terlihat kosong. Gintoki berdecak, sebelum dia berbalik. Dia harus menemukan Hijikata secepatnya! Karena pasti terjadi sesuatu pada Pangeran Neraka itu!
Kedua kaki Gintoki yang baru saja akan melewati ruang ganti khusus laki-laki seketika berhenti begitu pintu tiba-tiba terbuka dari dalam, dan Hijikata keluar dengan tampang cemberut. Kedua mata mereka saling berpandangan selama beberapa detik.
Dengan khawatir, Gintoki bertanya di sela-sela napasnya yang masih belum teratur, "Oi, apa terjadi sesuatu padamu?"
Hijikata mengangguk, "Aku tadi—" sengaja diberi jeda agar terdengar dramatis, "—habis dikerjai."
Hening.
"Hah?" Kedua alis Gintoki mengerut bingung. "Maksudmu?"
"Ada tiga teman sekelas kita yang menelanjangi tubuhku tadi di dalam, terus mereka menggelitik tubuhku."
Gintoki memutar kedua bola matanya. Ternyata kekhawatirannya hanya sia-sia. "Aku kira hal buruk terjadi padamu," dengusnya, sembari berbalik. "Ayo ke kantin. Aku sudah lapar."
"Kalau begitu ayo kita berlari sampai ke kantin!" Tanpa menunggu jawaban, Hijikata meraih tangan kiri Gintoki untuk berlari dengannya.
.
. .
Pintu kembar besar itu tiba-tiba terbuka dari luar. Para penyihir yang sedang mengaduk ramuan mereka di kuali besar, sedang seru bergosip sambil cekikikan, sedang diam-diam mengupil, menoleh bersamaan ke arah pintu. Wajah-wajah para penyihir—yang sebagian besar wanita itu—langsung berseri-seri begitu mereka melihat Pangeran Tatsuma berdiri di ambang pintu.
"Pangeran Tatsuma, Anda sudah kembali?"
"Anda pasti sudah menemukan Pangeran Toshi, kan?"
"Mana oleh-oleh untuk kami dari dunia manusia?"
Sambutan-sambutan itu membuat Tatsuma menarik napas dengan sangat dramatis. Dia berjalan menuju kursi khusus yang disediakan dan menghempaskan pantatnya di sana. "Aku belum menemukan Toshi."
Suara-suara berisik di ruangan besar itu seketika hening. Semua penyihir saling berpandangan, sebelum salah satu dari penyihir mewakili suara yang lain untuk bertanya.
"Kenapa Anda belum menemukannya?"
"Sepertinya, alat-alat yang kalian sihir sudah rusak," kata Tatsuma sambil mengeluarkan tablet—yang sudah hancur berkeping-keping—di dalam kantong plastik. "Errr, kalau tablet ini memang tidak sengaja kurusakkan. Aku tidak sengaja melemparnya dari atas gedung begitu sampai di dunia manusia." Dia meringis malu.
Semua penyihir yang ada di situ kompak berpikir, betapa cerobohnya pangeran mereka yang satu ini.
"Kalau yang jam tangan ini sepertinya juga sudah rusak," lanjut Tatsuma sambil memberikannya pada penyihir pria yang mendekat. "Sinyalnya menunjuk pada orang yang salah."
"Jam tangan ini tidak rusak, Pangeran Tatsuma," kata penyihir pria yang memeriksa benda itu.
"Eh? Benarkah?" Tatsuma membelalak. "Tapi, saat aku dan Shinsuke memeriksa orang yang kami curigai sebagai Toshi, tidak ada lambang di punggungnya."
"Orang yang Anda curigai sebagai Pangeran Toshi mungkin saja memang benar. Mengenai lambang di punggungnya, mungkin dia menggunakan sesuatu untuk menyembunyikannya," kata penyihir yang berdiri di samping kuali besar.
Tatsuma mengangguk-angguk. Jadi, dia harus kembali memastikan Hijikata Toushirou itu Toshi atau bukan. "Apa kalian punya sesuatu yang bisa kugunakan untuk menunjukkan wujud asli Toshi?" tanyanya.
"Ah! Anda bisa menggunakan ramuan yang kemarin kubuat ini Pangeran Tatsuma!" seru salah satu penyihir wanita yang langsung berlari menuju lemari besar penyimpanan ramuan.
Wow. Tatsuma memandang takjub lemari penyimpanan itu yang berisi botol-botol dengan berbagai ukuran. Warna-warni cairan terisi di setiap botol itu. Penyihir wanita itu akhirnya berbalik dan mendekati Tatsuma setelah menemukan sebotol kecil ramuan yang dibuatnya.
Begitu botol kecil berisi cairan berwarna tosca itu berpindah tangan, penyihir itu menjelaskan, "Campurkan ramuan di dalam botol kecil itu di minumannya atau bisa juga langsung membuat dia menelannya, maka dia akan berubah kembali ke wujud aslinya."
Tatsuma menyeringai. Ini yang dia butuhkan...
.
. .
Kelas seketika hening begitu pintu kelas tiba-tiba terbuka dari luar. Para murid yang duduk di kursi masing-masing hampir bersamaan menarik napas lega begitu melihat yang masuk bukan wali kelas mereka yang galak, melainkan Bansai sensei. Pria itu berhenti di depan kelas dan sesaat mengedarkan pandangannya.
"Karena wali kelas kalian, Jirochou sensei, ada urusan penting, saya diminta untuk memberitahukan hal ini pada kalian," katanya memulai. Semua murid menatap guru musik itu dengan penuh perhatian. "Mulai Senin depan, sekolah ini akan memberikan libur musim panas selama sebulan penuh. Dan, setelah libur musim panas selesai, kalian akan dihadapkan dengan ujian kenaikan kelas. Jadi, jangan lupa untuk belajar di samping liburan kalian."
Keheningan di kelas itu seketika berubah. Hampir semuanya berseru-seru tidak terima dan protes seperti para pendemo yang meminta pertanggungjawaban di depan gedung Presiden.
"KETERLALUAN!"
"SEHABIS LIBUR MUSIM PANAS, LANGSUNG UJIAN!"
"INI KESEWENANG-WENANGAN!"
"BENAAAR!"
"SURGA LIBURAN! NERAKA UJIAN!"
"OH, TIDAAAK!"
BRAK-BRUK-BRAK-BRUK!
Meja dan kursi pun jadi sasaran pelampiasan para murid yang mengamuk dan protes. Bansai sensei langsung diungsikan oleh beberapa murid perempuan dan laki-laki yang masih waras untuk ke luar dari kelas yang tiba-tiba kacau balau. Jika saja yang menyampaikan hal ini wali kelas mereka yang galak, pasti tidak ada yang berani bersuara dan membuat kekacauan.
"Kenapa kelas jadi ribut begini?" tanya Gintoki yang baru kembali dari mengantar buku-buku tugas teman sekelasnya di ruang guru.
Hijikata yang sedang duduk di pinggir mejanya dengan kedua tangan terlipat di depan dada sontak menoleh, "Tadi Bansai sensei masuk ke kelas ini dan memberitahukan kalau minggu depan kita libur musim panas selama sebulan penuh. Dan sehabis libur musim panas itu, kita akan langsung ujian kenaikan kelas."
"Oh."
Satu alis Hijikata terangkat, "Cuma 'oh'? Kau tidak khawatir dengan ujian?"
"Untuk apa?" Pemuda perak itu balas bertanya, "Justru kau yang harusnya khawatir. Kau tidak ingat ulangan harianmu selalu mendapat nilai yang mengenaskan seperti Nobita? Kemungkinan besar kau bisa ketinggalan kelas kalau tidak belajar."
Kedua mata Hijikata sontak membelalak horor. "Wuaaa! Aku tidak mau berpisah darimu karena ketinggalan kelas! Bantu aku belajar nanti, ya? Pleaseee?"
"Lebih baik kau mengajar anak SD daripada mengajar dia, my cute baby~"
Hijikata mendelik ke arah Takasugi yang sejak tadi memperhatikan mereka dari kursinya. Pemuda bersurai ungu gelap itu balas menatap Hijikata dengan kedua mata melotot. Gintoki memutar kedua bola matanya. Jangan bilang kalau dua makhluk mesum ini akan beradu mulut lagi. Tapi ternyata prediksi Gintoki salah, Hijikata menoleh ke arahnya—yang baru selesai membereskan buku ke dalam tas—sebelum menariknya ke luar dari kelas.
.
. .
"Gin-kun!" Hijikata langsung terdorong ke samping begitu Sacchan masuk di antara dia dan Gintoki yang sedang berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. Gadis berkacamata itu menatap Gintoki dengan manja, sebelum kembali berkata, "Gin-kun sudah punya rencana untuk libur musim panas?"
Gintoki berkedip dua kali. Gadis yang dilihatnya tadi pagi ini ternyata agresif sekali.
"Gintoki sudah ada rencana denganku," Hijikata menjawab lebih dulu. Tidak menyangka kalau sudah dua kali gadis ini membuatnya mengalami tragedi kecil; tadi pagi saat di rak-rak sepatu, dan sekarang dia nyaris terjerembap karena didorong ke samping tanpa terduga. "Sarutobi Ayame..." Kedua mata Hijikata menyipit begitu dia membaca name tag yang tersemat di seragam sekolah gadis itu.
"Gin-kun bisa memanggilku Sacchan," katanya, mengabaikan Hijikata yang sok kenal sok dekat di sampingnya. Padahal nyatanya dia juga begitu pada Gintoki.
Dengan bibir manyun, Hijikata berputar di belakang keduanya, dan berhenti di samping Gintoki. Sebelah lengannya langsung merangkul pundak pemuda manis itu. "Ayo, kita pulang Gintoki!"
Sacchan tercekat. Sial! Dia harus memberi tahu mengenai video itu pada Gintoki sebelum terlambat!
"Gin-kun, chottomatte!" Dengan cepat gadis itu meraih sebelah tangan Gintoki. Pemuda perak itu menoleh. "A-ada yang ingin kuperlihatkan pada Gin-kun!" Kedua alis Gintoki terangkat. "Ini penting!" Sacchan meyakinkan. "Aku hanya ingin Gin-kun yang melihatnya sendiri!"
Gintoki sempat terdiam, sebelum dia menoleh dan menatap Hijikata. "Tunggu aku di samping gerbang sekolah," katanya.
"Tch, baiklah!" Hijikata mendengus, sembari berlalu.
Melihat si makhluk norak itu sudah pergi, Sacchan langsung mengajak Gintoki untuk ke tempat duduk yang terbuat dari semen tak jauh dari posisi mereka. Sesampainya di sana, gadis itu langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya.
Entah apa maksud gadis ini memperlihatkan video Hijikata yang lagi digelitik oleh tiga murid laki-laki. Tetapi, wajah bosan Gintoki seketika berubah tegang begitu diakhir video, dia melihat lambang di punggung Hijikata terekam dengan jelas.
"Bagaimana videonya, Gin-kun?" tanya Sacchan sambil mengambil kembali ponselnya di tangan Gintoki. "Tadi aku tidak sengaja melihatnya, dan akhirnya kurekam agar bisa kuperlihatkan pada Gin-kun~" katanya, setengah berbohong.
"Bisakah kau menghapus video itu sekarang juga?" Gintoki mengedarkan pandangannya ke sekeliling, sebelum kembali menatap gadis itu. Bisa gawat jika nanti ada orang suruhan sang raja yang melihat lambang di video itu.
Sacchan merenggut. "Kenapa harus dihapus?" dia balik bertanya. Bukan ini yang dia harapkan dari reaksi Gintoki!
Gintoki menatap gadis itu selama beberapa detik. Seakan bisa tahu kalau Sacchan tidak mau menghapus video itu, dia akhirnya berkata, "Baiklah, jika kau tidak mau menghapus video itu, kuharap ini hanya jadi rahasia kita berdua. Jangan pernah memperlihatkan atau menceritakan video itu pada siapapun. Kau mengerti, kan?"
Rasanya Sacchan ingin meleleh saat itu juga begitu Gintoki berkata di depan wajahnya. "Ne, aku mengerti, Gin-kun!" serunya, sebelum dengan tiba-tiba bergelayut manja di lengan Gintoki. "Jadi, Gin-kun belum ada rencana libur musim panas ini, kan? Kita janjian ketemu di festival kembang api nanti malam yang akan diadakan di dekat sungai, ya? Ya? Ya?"
Gintoki menarik napas panjang, "Baiklah."
.
. .
"Aku kembaliii~" seru Tatsuma, begitu malam itu dia kembali ke dunia manusia.
Takasugi hanya menoleh sekilas dari acara televisi yang sedang dinontonnya, dan kembali melahap popcorn di mangkuknya.
"Kau tidak rindu dengan Nii-san-mu ini, ya, hm~?" Tatsuma menghempaskan tubuhnya di samping Takasugi, sebelum menyikut lengan adik sepupunya dengan bibir tersenyum lebar.
"Tidak," Takasugi menjawab tanpa menoleh, "nii-san tidak kembali selama-lamanya pun juga tidak akan kurindukan."
Tatsuma memajukan bibir bawahnya. Kemudian dia mengeluarkan botol kecil berisi cairan tosca yang diberikan penyihir di kerajaannya. "Kau lihat ini?" Dia sengaja menunjukkannya di depan wajah Takasugi. "Kata penyihir yang memberikan ramuan ini, wujud asli Toshi akan kembali jika kita mencampurkannya di minumannya atau membuat dia menelannya langsung."
"Bukannya kita belum menemukan orang lain lagi yang kita curigai sebagai Toshi, kan?" Kali ini Takasugi akhirnya menatap Tatsuma.
"Kita akan mencoba ramuan ini pada Hijikata Toushirou."
"Eh? Bukannya kita berdua sudah melihat kalau lambang di punggungnya tidak ada waktu itu, kan? Jam tangan sihir itu juga rusak, kan?"
Tatsuma menggeleng, "Jam tangan ini tidak rusak kata penyihir yang menyihirnya," dia menunjukkan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. "Dan sinyal yang mengarah pada Hijikata itu memang benar."
Takasugi masih bingung. "Lalu, kenapa lambang di punggungnya tidak ada seperti kata Nii-san?"
"Aku sudah menceritakan hal itu pada para penyihir. Kata mereka, mungkin saja Toshi melakukan sesuatu agar lambang di punggungnya menghilang," dia berhenti sejenak untuk menarik napas. "Karena itu, selanjutnya kita akan menggunakan ramuan ini."
"Apa benar ramuan itu akan bekerja?" Kedua mata Takasugi menyipit curiga. Sudah hapal di luar kepala bagaimana para penyihir di kerajaan mereka yang kadang ceroboh dan bodoh seperti kakak sepupunya ini.
Tatsuma mengangguk yakin. "Kalau begitu aku akan memindahkan separuhnya di botol kecil yang lain, agar kita bisa memegangnya masing-masing. Oke?"
"Oke." Takasugi mengangguk.
.
. .
"Panaaas...!" keluh Hijikata, sembari berguling-guling di lantai. "Bagaimana kita bisa belajar kalau cuacanya panas begini?!"
Hijikata menatap AC di ruang tengah dengan wajah memelas. Dia ingin merasakan dinginnya angin yang keluar dari benda itu. Gara-gara tiang listrik di dekat apartemen mereka rusak sejak pagi, pemilik apartemen memberitahu untuk sementara waktu tidak ada listrik sampai tiang listrik kembali diperbaiki.
Diliriknya Gintoki yang masih serius mengerjakan soal-soal latihan di atas meja, sebelum dia berguling mendekati pemuda manis itu. "Gintoki, aku tidak bisa belajar kalau cuacanya panas begini," katanya manja sambil meletakkan kepalanya di atas pangkuan pemuda manis itu.
"Kau ini mau belajar atau tidak, heh?" Gintoki melotot, "Kalau seperti ini, lebih baik aku belajar sendiri saja di dalam kamarku!"
Hijikata buru-buru bangun dan langsung kembali ke posisi duduknya. Kemudian mulai serius mengerjakan soal-soal latihan dari tumpukkan buku yang ada di depannya. Saking takutnya dia tidak ingin menganggu Gintoki lagi, dia sampai melewatkan soal-soal yang dianggapnya susah. Gintoki melihat hal itu, dan akhirnya merangkak mendekat hingga duduk di samping Hijikata.
"Kenapa soal-soal ini tidak kau jawab?" Gintoki bertanya sambil menunjuk dengan bolpein.
"Susah..." jawab Hijikata, setengah tercekat. Dia sudah mempersiapkan diri jika Gintoki menjitak kepalanya seperti di awal mereka belajar tadi. Tapi nyatanya, pemuda manis itu tidak menjitaknya. Gintoki membantunya mengerjakan soal-soal itu hingga akhirnya dia mengerti.
Tidak terasa jam di dinding menunjukkan pukul lima sore. Hijikata berdiri sambil meregangkan otot-ototnya yang pegal akibat terlalu lama duduk.
"Kau mau mandi?" tanya Hijikata begitu dilihatnya Gintoki berjalan menuju satu-satunya kamar mandi di apartemen mereka. Pemuda manis itu mengangguk tanpa menoleh. "Hei, bagaimana kalau kita mandi sama-sama?" godanya.
Gintoki menoleh ke belakang, "Mau kutenggelamkan kau di bathtub, heh?"
Hijikata menelan ludah dengan wajah horor. "H-hanya becanda, kok!" Kemudian dia berlari terbirit-birit menuju dapur.
.
. .
"Mau pergi ke mana mereka berdua?" tanya Tatsuma begitu dia dan Takasugi melihat dari dalam mobilnya.
"Sudah, ikuti saja mereka berdua!" dengus Takasugi.
Hijikata dan Gintoki berhenti di halte yang tak jauh dari apartemen mereka. Sebenarnya, Gintoki akan pergi sendiri di tempat janjiannya dengan Sacchan, tapi Hijikata memaksa ingin ikut.
"Jadi, kau tega meninggalkan aku sendirian di apartemen di saat kau kencan dengan gadis itu? Hidoi!"
Melihat Hijikata—yang setelah mengatakan hal itu—merengek-rengek seperti anak kecil yang tidak diikuti maunya, Gintoki akhirnya meluluskan keinginan Pangeran Neraka itu untuk mengikutinya.
"Festival kembang api di dekat sungai?"
Gintoki mengangguk begitu dia dan Hijikata sudah duduk bersebelahan di dalam bus, di kursi paling belakang.
"Wow! Aku tidak sabar ingin melihatnya!"
Satu tangan Gintoki dengan cepat membekap mulut Hijikata sebelum pemuda itu berseru-seru norak di dalam bus. "Cukup duduk diam. Jangan buat aku malu!" bisiknya dengan suara mengancam.
Hijikata langsung mengangguk. Pemuda manis itu akhirnya melepaskan bekapannya dan kembali menatap ke luar jendela.
Wangi manis yang menguar dari tubuh Gintoki tanpa sadar membuat Hijikata mendekatkan wajahnya. "Kau pakai parfum, ya?" tanyanya sambil mengendus-endus leher Gintoki.
"Tidak." Pemuda manis itu menggelengkan kepalanya tanpa menoleh.
"Yang benar?" Kali ini sebelah tangan Hijikata mengelus-elus paha pemuda manis itu. Gintoki akhirnya menoleh dengan kedua mata melotot.
"Singkirkan tanganmu, dasar mesum!"
Hijikata meringis. Dan langsung mengangkat tangannya, sebelum dia mendapat tamparan di pipi.
.
. .
Sacchan langsung sumringah begitu akhirnya dia melihat sosok Gintoki yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Sebelah tangannya langsung terangkat ke udara dan melambai-lambai semangat, "Gin-kun! Aku di—" kalimatnya urung selesai begitu melihat Hijikata tiba-tiba muncul dari belakang Gintoki. WHAT THE HELL! Kenapa si makhluk norak itu juga ikut?
"Suman ne, aku sedikit terlambat," kata Gintoki begitu dia berhenti di depan gadis itu.
"Gin-kun, kenapa dia juga ikut?" Dengan wajah merajuk, Sacchan menunjuk Hijikata yang sedang celingak-celinguk melihat stan-stan makanan, minuman, dan permainan yang ada di sepanjang jalan dekat sungai.
"Tadi aku tidak sengaja bertemu dengannya di bus," jawab Gintoki bohong.
"Oh!" Kedua mata Sacchan membulat, sebelum dia mengangguk-angguk. "Kalau begitu ayo kita jalan-jalan menikmati stan-stan di sini sebelum kembang api dimulai!"
"Siapa gadis yang bersama Gintoki itu?" tanya Tatsuma.
Takasugi mengangkat bahu, "Tidak tahu. Baru kali ini aku melihat gadis itu. Tch, rivalku bertambah lagi setelah si makhluk norak itu!" Dia menunjuk Hijikata yang sudah mengekor di belakang Gintoki dan Sacchan dengan dagunya.
"Untuk sementara ini, biarkan saja gadis itu melekat pada Gintoki," ujar Tatsuma dengan wajah yang tiba-tiba serius. "Dengan begini kita hanya perlu membawa Hijikata ke tempat sepi dan membuatnya menelan ramuan itu."
"Baiklah." Takasugi menarik napas panjang. "Tapi, sebelum itu—" dia berlalu pergi sambil berkata, "aku mau mencoba makanan di stan-stan itu dulu."
Tatsuma menepuk dahinya. Sepertinya dia yang harus turun tangan seorang diri.
.
. .
Sial! Aku harus menyingkirkan makhluk norak ini dari Gin-kun! batin Sacchan dalam hati. Syaraf matanya mulai sakit melihat Hijikata yang sejak tadi berbagi permen apel dengan Gintoki—membuat keduanya jadi terlihat seperti sepasang kekasih abnormal. Seharusnya dia dan Gintoki yang terlihat seperti sepasang kekasih!
"Gin-kun, mau makan ini denganku?" Sacchan menawarkan cumi bakar yang tadi dibelinya.
Gintoki menoleh dengan mulut yang masih mengunyah, sebelum dia menggeleng. "Aku lebih suka makanan manis."
Sacchan membatu. Dia salah membeli makanan. Kedua matanya menoleh ke arah Hijikata yang menatapnya dengan bibir tersenyum penuh kemenangan.
"Permen apel ini lebih enak dari cumi bakar itu, kan, Gintoki?" Hijikata sengaja bertanya seperti itu agar Sacchan kembali merasakan kekalahan telak.
"Ne." Gintoki mengangguk, sebelum dia kembali meraih tangan Hijikata—yang memegang tangkai permen itu—dan menggigitnya setengah.
Sacchan menggeram dalam hati begitu kali ini Hijikata menatapnya dengan lidah terjulur mengejek. Gadis itu membuang pandangannya ke arah lain, hingga salah satu stan minuman menarik perhatiannya. Sebuah ide licik tiba-tiba muncul di otaknya.
"Gin-kun, tunggu di sini, ya? Aku mau ke stan minuman di sana untuk membeli minuman kita bertiga!" Dan tanpa menunggu jawaban kedua pemuda itu, Sacchan langsung berlari ke stan itu.
"Oji-san, aku pesan jus tiga!" seru Sacchan kepada si pemilik stan minuman. "Tapi jus yang satu campurkan wine, bir, dan arak, ya!"
Pria itu mengangguk-angguk mengerti tanpa bertanya lebih jauh. Sacchan menoleh ke belakang untuk melihat Gintoki dan Hijikata yang masih duduk di atas rumput bersama orang-orang yang datang untuk melihat festival kembang api. Bibirnya tiba-tiba menyeringai. Akan dibuatnya si makhluk norak itu mabuk parah dengan jus yang dibelinya!
"Ini pesanannya, Nona."
Sacchan menoleh dan membayar ketiga minuman itu. "Oji-san, yang mana minuman yang tadi aku minta campurkan?"
Pria pemilik stan itu menunjuk gelas minuman yang bertutup biru muda. Sacchan mengangguk mengerti, sebelum dia berbalik.
"Ini jus untuk Gin-kun!" Sacchan mengulurkan gelas minuman bertutup putih yang sama dengan miliknya. Kemudian dia menoleh ke arah Hijikata. "Dan ini untuk Hijikata-kun." Sengaja dia berpura-pura manis.
"Arigatou," jawab Hijikata dan Gintoki hampir bersamaan.
Sacchan kembali duduk di samping Gintoki dan meminum jusnya sambil melirik Hijikata tanpa kentara. Hijikata mengernyit begitu dia merasakan minumannya yang terasa aneh di lidahnya. Tapi bukannya berhenti meminumnya, dia malah menghabiskannya. Beberapa menit kemudian, kedua pipi Hijikata tiba-tiba merona merah. Pandangannya mendadak mulai tidak fokus. Sacchan menyeringai dalam hati begitu melihat Hijikata yang sudah mabuk.
"Aku mau pergi membeli minuman ini lagi~" Dengan jalan yang mulai sempoyongan, Hijikata berjalan menuju stan minuman yang tadi dibeli Sacchan. Gintoki awalnya membiarkan pemuda itu pergi sendiri, tapi begitu melihat Hijikata mulai melepaskan kemeja lengan pendek yang dipakainya, dan berlanjut melepas celana jinsnya, seketika Gintoki berlari mengejar dengan panik.
"Apa yang kau lakukan?!" Gintoki langsung menghentikan Hijikata yang akan melepas singlet hitam yang dipakainya. Bisa gawat jika ada yang melihat lambang di punggung Hijikata!
"Habisnya, panas sih~" jawab Hijikata setengah sadar begitu Gintoki menyeretnya kembali ke tempat mereka duduk.
"Biar aku yang pergi beli jusnya!" Dengan cepat dia kembali memakaikan celana jins Hijikata—untunglah pemuda itu memakai boxer, bukan underwear. Tapi tetap saja ini hal yang memalukan! "Sacchan, tolong awasi Hijikata agar dia tidak membuka bajunya."
"Bhuuu~ bhuuu~"
Gintoki mendelik ke arah Hijikata yang mengejeknya seperti anak kecil. Pemuda berponi V itu tiba-tiba terdiam menatap Gintoki. Kemudian dengan tiba-tiba dia meraih sebelah tangan pemuda perak itu.
"Kita menikah, yuk!"
BRUUUPH!
Sacchan yang mendengar hal itu sontak menyemburkan minuman yang baru mengalir turun ke tenggorokannya. Dengan wajah ngeri, dia menatap Hijikata.
"Kau bilang akan jadi pengantinku, kan~?" Diraihnya Gintoki dalam pelukan dan menggesek-gesek wajahnya di pipi pemuda manis itu. "Kalau begitu, ayo kita menikah~"
"Kau ini kenapa, sih?" tanya Gintoki heran dan bingung, sembari berusaha melepaskan diri dari pelukan erat Hijikata. "Aku tidak pernah bilang begitu!"
"Tidak pernah bilang?" Hijikata tiba-tiba melonggarkan pelukannya dan menangkup wajah Gintoki dengan kedua tangannya. "Katanya nanti kalau aku sudah besar kau akan menikah denganku! Pembohong! Kau kan sudah janjiii...!"
Gintoki tersentak begitu dia mencium bau alkohol dari mulut Hijikata. "Oi, ternyata kau mabuk!"
Gawat! Sacchan membelalak begitu Gintoki bisa menebak secepat itu. "Gin-kun, gomennasai... sepertinya oji-san di stan minuman tadi salah kasih minuman," katanya, berusaha menutupi rencana liciknya.
"Tidak apa-apa," Gintoki yang tidak curiga langsung menggeleng. "Lebih baik kita pergi ke tempat sepi dulu untuk menenangkan Hijikata." Karena sejak tadi semua mata orang-orang yang ada di situ menatap mereka penuh perhatian.
Sacchan mengangguk.
.
. .
Tatsuma langsung bersembunyi di balik pohon begitu dia melihat Gintoki meletakkan Hijikata yang mabuk di kursi panjang di sebuah taman yang tak jauh dari sungai.
"Tolong jaga Hijikata, ya? Aku akan membeli air mineral dulu untuknya," kata Gintoki, sebelum berbalik.
"Ne, Gin-kun!" Sacchan menyahut dengan suara manis.
Ini kesempatan! Tatsuma berseru dalam hati begitu melihat Gintoki sudah menghilang dari pandangan. Dilihatnya Sacchan yang tidak mengacuhkan Hijikata yang terus meracau tidak jelas. Dia tinggal menyingkirkan gadis itu.
"Hei, apa kau bernama Sacchan?"
Sacchan menoleh dari layar ponselnya dan menatap Tatsuma dengan dua alis terangkat. "Ne, ada apa?"
Tatsuma tersenyum, "Tadi pemuda perak yang memakai jaket putih tanpa lengan memintaku untuk memberitahumu agar kau mengikutinya mencari air mineral. Cepatlah, dia menunggumu di sana."
"Ah, itu Gin-kun!" seru Sacchan girang. "Arigatou!" Dengan semangat gadis itu langsung berlari pergi. Meninggalkan Hijikata bersama Tatsuma.
Tatsuma menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang yang akan lewat di taman ini. Kemudian dia mengeluarkan botol kecil yang ada di saku depan celananya. Membuka penutup botol, lalu menuangkannya ke dalam mulut Hijikata.
Hampir sepuluh menit berlalu dan ramuan yang sudah dimasukkan ke dalam mulut Hijikata tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Tatsuma mengerjap sambil menatap botol kecil yang sudah kosong di tangannya. "Apa harus diminumkan semua ramuan itu, ya?" tanyanya entah pada siapa. "Tch, lebih baik aku mencari Takasugi dan meminta sebagian ramuan di botolnya!"
Hijikata akhirnya tersadar selepas kepergian Tatsuma. "Ungh—panas..." keluhnya. Sebelah tangannya langsung mencengkram kepalanya yang sakit akibat hangover. "Tenggorokanku haus..." Kemudian dengan terhuyung-huyung dia bangkit dari kursi panjang itu.
Pemuda berponi V itu berjalan tak tentu arah, hingga dia berhenti di palang pagar pembatas di dekat sungai. Punggungnya merendah dengan satu tangan menggapai ke bawah. "Air... air... a—" Dan racauannya langsung terhenti begitu dia terjatuh ke bawah sungai dengan posisi kepala lebih dulu.
BYUUUR!
Begitu muncul di permukaan air, wujud Hijikata tiba-tiba berubah kembali ke wujud asli. Pangeran Toshi. Kedua sayap hitamnya terbuka lebar-lebar. Toshi mematung begitu dia bisa melihat refleksi dirinya dari air yang terpantul.
"Hiiiii...! Kenapa aku jadi kembali ke wujud asliku?!"
.
. .
Kedua alis Gintoki kontan mengerut begitu dia tidak melihat sosok Hijikata maupun Sacchan di taman. "Pergi ke mana mereka? Bukannya sudah kubilang agar menungguku di tempat ini?" tanya Gintoki entah pada siapa. Pemuda manis itu akhirnya berbalik untuk mencari Hijikata.
Beberapa menit kemudian, Tatsuma juga sampai di tempat itu. "Lho, pergi ke mana Hijikata?" Tatsuma celingak-celinguk. "Apa sudah dibawa pergi Gintoki?"
Di waktu yang bersamaan, namun berbeda tempat...
Toshi sedang menelungkup di balik semak-semak setinggi pinggang orang dewasa begitu melihat ada orang yang melewati jalan setapak di sampingnya. Bisa jadi masalah kalau orang itu berlari sambil menjerit-jerit histeris karena melihat wujud aslinya yang menyeramkan ini.
"Bagaimana ini?" Toshi merangkak seperti tentara yang berada di medan perang. "Bagaimana kembali ke wujud manusiaku?"
"Pergi ke mana sih dia?"
Seketika gerakan Toshi yang merangkak di balik semak-semak berhenti begitu dia mendengar suara familiar itu. Dia bangkit berdiri dan langsung meraup tubuh itu dari belakang. "Huwaaa! Gintoki! Kebetulan sekali!"
"Matte, kenapa kau kembali ke wujud asli?" Gintoki membelalak terkejut begitu dia melihat wujud asli Toshi.
"Aku juga tidak mengerti," Toshi menggeleng-geleng, "tahu-tahu sudah jadi begini waktu aku tersadar tadi!"
"Apa kau ingat, kenapa bisa jadi begini?"
Toshi terdiam. Mengingat-ingat apa yang terjadi. "Tadi, aku terjatuh di sungai. Lalu, begitu sadar sudah berubah seperti ini..."
"Apa air penyebabnya?" Kedua alis Gintoki terangkat tinggi-tinggi.
Toshi mengangkat bahunya, "Entahlah."
Pemuda manis itu sempat terdiam, sebelum dia menarik tangan Toshi. "Kalau begitu, lebih baik kau coba lagi untuk jatuh ke dalam sungai."
"Benar juga," Toshi mengangguk, "mungkin saja aku kembali ke wujud manusiaku!"
Keduanya akhirnya berlari bersama menuju sungai. Untunglah tidak ada orang yang lewat di sekitar situ begitu Toshi dan Gintoki menceburkan diri di sungai bersama-sama. Kedua sayap Toshi kembali terbuka lebar begitu dia terbang sambil membawa Gintoki ke tempat kosong yang jarang dilalui orang-orang.
"Gagal, aku tetap tidak berubah," kata Toshi begitu dia dan Gintoki sudah duduk di atas rumput. Dilihatnya Gintoki yang masih mengatur napasnya. "Rasanya kalau seperti ini denganmu, jadi ingat waktu pertama kali kita datang ke dunia manusia, ya? Saat itu, kita berdua juga jatuh di dalam air."
Gintoki menoleh dan mendengus, "Karena kau orangnya ceroboh, makanya aku juga yang jadi ikut susah!"
Toshi terkekeh-kekeh sambil mendekatkan wajahnya, "Oh, ya?"
"...Toshi," sepasang mata crimson Gintoki tiba-tiba berubah seperti mata kucing, "baumu, seperti bau obat..."
"Eh?"
Tepat begitu bibir Gintoki menempel di bibir Toshi, kembang-kembang api meledak di langit malam. Hampir semenit bibir mereka menempel, dan begitu Gintoki menjauhkan wajahnya, sepasang matanya yang tadi seperti kucing sudah kembali seperti semula.
"Hei," kedua mata Gintoki mengerjap, "wujudmu sudah kembali ke wujud manusia."
Kedua tangan Hijikata langsung memegang kepalanya. Sudah tidak ada tanduknya. Kesibukannya memeriksa tubuhnya berhenti begitu dia melihat Gintoki mendongak menatap kembang-kembang api di langit. Apa pemuda manis itu sadar dengan apa yang dilakukan padanya tadi?
"Gintoki, kau sadar dengan apa yang kau lakukan tadi?"
Gintoki menoleh dengan kening mengerut, "Memangnya apa yang kulakukan tadi?"
"Kau benar-benar tidak ingat?" Hijikata kembali memastikan. Dan yang dia dapatkan gelengan kepala Gintoki. "Kau mau tahu apa yang kau lakukan tadi?"
Dan tanpa menunggu jawaban Gintoki, sebelah tangan Hijikata menarik belakang kepala pemuda manis itu. Sekali lagi, kedua bibir mereka menempel. Kedua mata Gintoki membelalak. Namun dia tidak berusaha melepaskan ciuman Hijikata dan memejamkan matanya.
"Ini yang kau lakukan padaku, hingga aku kembali ke wujud manusia ini," bisik Hijikata di depan bibir, sebelum dia kembali memangut bibir Gintoki.
.
.
.
Bersambung...
Jeanne's notes:
Terima kasih bagi yg sudah meninggalkan apresiasi di Bab 7:
LYX99; Hijikata Rinki; Reiran kateshiro.
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa di Bab 9~ :)
