Chapter 9: Memories
Aku memandang alam sekitar, serta rumah-rumah yang terlihat sangat jadul. Inilah pemandangan perkampungan di kota Kuoh (sebenarnya ini lebih mirip desa), 60 tahun yang lalu. Pandangan yang kulihat saat ini, merupakan ingatan Yuuma 60 tahun yang lalu…
Tidak….
Ini merupakan ingatan dari Raynale, yang telah Yuuma lupakan.
Dan…..
Okay, aku tak mampu lagi….
Tak mampu melihat tubun erotis Yuuma. Rasanya otakku mendidih! Sial! Gairah priaku meningkat sangat drastis! Bagaimana tidak, aku telah melihat sepenuhnya tubuh telanjang Yuuma, serta momen-momen dimana ia memakai seragam Akademi Kuoh. Sungguh sangat erotis!
Tetapi, tidak bisa dibilang melihat saja sih. Tubuhku seolah-olah bergerak mengikuti gerakan tubuh Yuuma. Aku mengalami semua yang dilakukan, dirasakan Yuuma secara langsung.
Bunyi lonceng….
Aku melihat gelang yang dikenakan Yuuma di tangan kirinya, beserta 2 lonceng. Beserta sebuah benda seperti wadah kaleng manisan.
"Nee-sama-"
"Yuuna..."
Yuuna?
Amano Yuuna
Yuuna? Mungkinkah itu adiknya Yuuma?
Mungkinkah itu berarti…..Sona-senpai….
"Apakah kau akan mengunjunginya lagi, Yuuma nee-sama?"
Ia terlihat lebih kaku.
"Iya, itu karena dari kemarin Asa tidak merasa baikan. Kupikir aku akan mencoba untuk mendukungnya semaksimal mungkin."
Yuuma kemudian melihat ke arah wadah kaleng manisan. Akupun juga merasakan hal seperti itu. Oleh karena itu, akan lebih baik jika diriku memainkan peran sebagai Yuuma.
Karena kenyataannya memang begitu…..
Aku berhasil memasuki kenangan Yuuma 60 tahun yang lalu, yang telah dilupakannya.
…..
Aku, setelah mengatakan alasanku kepada adikku, langsung menyambar kaleng tersebut.
"Tolong hentikan! Jika kau terjangkit penyakit yang sama…"
Yuuna terlihat begitu khawatir.
"Aku akan baik-baik saja. Ini hanya flu. Para dokter juga mengatakan hal yang sama."
"Tapi sesuatu yang buruk masih bisa terjadi! Kau tidak boleh begitu ceroboh! Jika sesuatu terjadi padamu karena dia…"
*Plaak*
Aku menamparnya. Aku menampar pipi Yuuna. Aku cukup kesal dengan perkataanya, meskipun aku tahu, Yuuna mengatakannya karena ia sangat khawatir kepadaku.
"Apa kau masih memikirkan itu?! Bertahanlah sedikit. Sekarang, desa berada dalam masalah. Setiap orang harus saling membantu. Kamu juga harus membantu."
Aku mengambil satu butir warna kuning dari wadah, sambil melihat Yuuna yang terus memegangi pipi kanannya yang memerah akibat tamparanku.
"Aku bukan anak kecil!"
Ia mengatakannya dengan sedikit terisak, dan kemudian melangkah pergi.
"Anak itu…."
Kemudian aku memakan butir warna kuning tadi.
Manis, itulah yang kurasakan. Aku tak hanya masuk dalam kenangannya saja, aku mampu merasakan apapun yang dilakukannya.
Dulu, Kota Kuoh merupakan kota yang terkenal akan pertambangannya. Dan dulu, wajah kota Kuoh kebanyakan seperti desa-desa, asri.
*meeeooooongggg*
Aku melihat kucing hitam manis yang berjalan mendekatiku.
"Ah- manisnya….. Aku akan memberimu sesuatu nanti."
Aku mengelus-ngelus kucing berbulu hitam tersebut.
Bau sesuatu dibakar?
Itu berasal dari kepala seksi Nakamura….
Kurasa mereka semua telah meninggal.
Aku melihat 3 orang sedang membakar sesuatu, dengan mengenakan masker, mereka membakar seraya berdoa.
Mungkinkah ini, wabah yang disebutkan dalam batu kutukan? Itukah wabah yang membunuh banyak warga? Dan hal itu yang membuat Yuuma dikorbankan untuk menghentikan wabah ini…
SFX no 1: Pintu terbuka
"Permisi…aku masuk…."
Aku mendatangi rumah Asa. Tentu saja untuk menjenguknya.
"Selamat pagi, Asa. Bagaimana perasaanmu?"
Aku melihat Asa berbaring di atas futonnya, ia nampak lemas.
"Aku membawa sarapan, mari kita makan bersama!"
"Tidak apa-apa. Bagaimanapun juga, aku akan segera mati."
Ia kemudian berbaring membelakangi diriku.
"Asa-chan…"
…
"Bagaimana rasanya? Ini ikan kalengan. Ini enak, kan?"
Akhirnya Asa mau sarapan bersamaku.
Rasanay biasa saja sih… Oh, aku baru ingat! Ikan kalengan merupakan hal yang mewah saat 60 tahun yang lalu.
"Apa kamu sudah kenyang? Bagaimana kalau beberapa permen?"
"Eh-"
Aku kemudian mengambil butir permen rasa buah, dan kemudian menyerahkannya ke Asa.
"Ini permennya."
Ia langsung mengambilnya.
"Apa rasanya enak?"
Ia seperti menampakan gestur 'iya'.
"Syukurlah…"
"Jika kamu terus datang kesini, kamu juga akan terinfeksi."
Ia mengatakannya dengan ekspresi sedikit sedih.
"Tenang saja. Dokter mengatakan bahwa kamu tidak memiliki penyakit."
"Bohong."
Ia tidak mempercayainya.
"Aku tidak bohong."
Aku meyakinkan dirinya sambil menutup kembali wadah bekal yang kubawa.
"Pembohong… Kamu benar-benar bohong, Yuuma nee-chan!"
Ia marah, dan melemparkan permen yang kuberikan padanya ke arahku.
"Ayahku, Ibuku, Nenekku, Kakakku! Mereka semua….. Mereka semua…."
Ia menangis.
"Ya….. Apa yang terjadi pada mereka sangat mengerikan….. Namun, kamu akan baik-baik saja, Asa-chan."
"Itu tidak benar! Aku akan meninggal karena penyakit ini juga!"
…
"…Asa-chan….."
Aku memungut kembali permen yang telah dibuangnya, membersihkannya, dan kemudian kuma…..
"Jangan, Yuuma nee-chan! Kamu akan sakit!"
"Tidak, aku tidak akan sakit. Ini enak lho."
"Jangan! Jika kamu meninggal…. Aku…. Aku…."
Ia tambah menangis…..
"Jangan khawatir. Aku tidak akan mati."
"Yuuma nee-chan…"
"Aku tidak akan mati."
….Yuuma….
Aku mengambil satu gelang lonceng yang berada di tangan kiriku.
"Asa-chan, kamu bisa memiliki ini."
Aku memberikan itu kepadanya.
"Ini…."
"Lonceng. Ini akan menjagamu saat aku tidak ada. Lihat? Sama dengan punyaku!"
"Yuuma nee-chan!"
Ia kemudian langsung memelukku.
Aku kemudian berjalan keluar dari rumah Asa. Dan kemudian, Yuuna memanggilku. Aku menoleh ke arahnya, dan ia tampak menungguku, namun ia seperti bersembunyi dari sesuatu.
"Yuuna, apa kamu menungguku?"
Aku melangkah mendekati Yuuna adikku.
"Sendiri sungguh menakutkan…."
Dia menangis! Yuuna sungguh sangat mirip dengan Sona versi rambut panjang serta tanpa kacamata. Ia sungguh manis….
"Maafkan aku, Yuuna. Mari kita pulang bersama-sama. Apakah kamu berbicara dengan seseorang?"
Ia menggeleng.
"Semua orang di desa ini menakutkan…"
"Semua orang sangat gelisah saat ini… Tapi aku yakin, mereka mencoba untuk menemukan solusinya."
"Berapa lama ini akan berlangsung?"
"Aku tidak tahu."
Aku langsung menggapai kedua tangannya.
"Namun kamu tidak boleh kehilangan harapan."
"Nee-sama…."
"JIka kamu putus asa, ini semua akan berakhir."
"Baik…. Eh-"
Ia melihat sesuatu. Saat itu juga aku membalikkan badanku, dan melihat pak walikota beserta warga-warga senior melangkah menuju ke Akademi Kuoh.
"Mereka pergi ke sekolah?"
Yuuna membuka percakapan setelah tadi sempat terdiam untuk beberapa saat.
"Mungkin mereka membahas solusi untuk masalah ini…. Kita harus pergi juga."
"Tapi…"
Ada sedikit keraguan di dalam diri Yuuna.
"Kita harus mendengar apa yang mereka katakan, lagipula ini untuk kita semua, kan?"
"Aku ingin tahu kemana mereka pergi…"
Aku mengikuti mereka sampai di sekolah. Aku penasaran tentang hal yang akan didiskusikan oleh mereka.
"Sudah cukup!"
Crap-
"Jika begini terus, penduduk desa akan lenyap! Uhuk-uhuk-"
Suara batuk….
"Meski begitu…."
Suara batuk yang pilu?
"Tidak ada yang bisa kita lakukan."
"Apa yang terjadi pada Nakamura sangat disayangkan. Sekarang semuanya akan hilang…."
Mengapa mereka terbatuk-batuk? Apa mungkin mereka terjangkit wabah? Atau, mereka begitu paranoid terhadap wabah itu?
"Telah kita bakar barang-barang yang mereka pakai. Alas jerami, Meja rias, semuanya…"
"Berapa keluarga yang dibuat begini?"
"Ada 13 keluarga yang meninggal karena ini. Bahkan sekarang, setengah keluarga setidaknya memiliki satu keluarga yang terinfeksi. Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi! Uhuk-uhuk-"
"Apa yang kita lakukan? Hanya menunggu setiap orang untuk mati?!"
"Mengapa hal ini terjadi?"
"Ini kutukan! Pasti ini kutukan!"
"Kutukan apa?!"
"Sekolah ini dibangun di atas sisa-sisa kuil!"
"Kau mengatakan sisa-sisa kuil, yang terbakar karena serangan udara. Tidak ada yang tersisa."
"Ini tidak mengubah fakta bahwa kuil dulunya berdiri di sini!"
"Apakah itu benar-benar suci? Mungkin untuk pensucian tidak cukup?"
"Ini membutuhkan korban manusia."
Apa!?
Korban manusia?! Tak mungkin….
Tubuhku menggigil…..
"Kau benar… Desa kita telah dikutuk karena membangun sekolah disini."
"Tanpa korban manusia, Dewa akan marah karena hal lain dibangun di sini!"
"Lalu, siapa yang akan dikorbankan? Tidak ada penjahat disini…."
"Dewa tidak akan puas dengan penjahat. Ia akan puas jika yang dikorbankan adalah anak kecil yang masih suci dari dosa!"
"Apa kau yakin?! Anak-anak merupakan harta desa! Bisa-bisa seluruh desa akan gempar!"
Tubuhku semakin menggigil, detak jantungku semakin cepat….
"Saat ini, banyak kematian yang terjadi akibat wabah terkutuk ini. Jika mereka menyadarinya, kita tinggal mengatakan bahwa ini akibat wabah!"
"Terus, bagaimana kita memilih anak itu?"
"Kita akan melakukan ritual untuk memilihnya…"
"Nee-sama, aku takut…"
Yuuna memegangi lengan seragamku dengan eratnya. Ia mengeluarkan cukup banyak air mata.
"Tenang, Yuuna. Mari kita pergi dari sini…"
*kliiing*
Sial, lonceng yang kukenanakan berbunyi.
"Siapa itu?!"
Mereka mendengarnya!
Aku lantas menarik Yuuna, melarikan diri serta bersembunyi dari mereka.
"Siapa itu?!"
"Sial! Ada yang mendengar rencana kita!"
Ini…. Ruang klub!?
"Kita bersembunyi disini, Yuuna."
….
"Sial! Mereka berhasil meloloskan diri!"
"Jika kutemukan, maka ia akan menjadi persembahan!"
"Sudah-sudah, lebih baik, kita mencari sisa-sisa kuil yang terkubur di akademi ini, aku merasa bahwa kuil tersebut berada di sekitar sini."
"Baiklah, ayo kita cari…."
…
"Aku takut, nee-sama…"
Yuuna terus menerus memegangi lengan seragamku, dan juga mengeluarkan air matanya. Ia begitu ketakutan.
"Tidak apa-apa, Yuuna….."
"Terima kasih atas makanannya."
Kami bertiga sedang makan malam bersama, Aku, Yuuna, serta Asa.
"Maaf ini begitu langka, aku akan membuatkanmu teh…"
"Aku akan mengurusnya, nee-sama."
"Oh, baiklah. Kuserahkan padamu, Yuuna."
"Iya, nee-sama."
Yuuna kemudian berlalu, untuk membuatkan kami teh.
Kemudian, aku menoleh ke Asa. Ekspresinya begitu sedih dan muram….
"Apa tidak apa-apa, Yuuma nee-chan? Bagiku tinggal disini?"
Ya, aku mengajak Asa untuk tinggal bersamaku. Aku tak tahan melihatnya hidup sebatang kara tanpa keluarga….
Aku kemudian memegangi pipi Asa dengan lembutnya.
"Warnamu tekah kembali, Asa-chan. Ini memang hanya flu."
Tentang pertemuan orang-orang tadi….. Itulah sebabnya Yuuma membawa Asa ke sini….
"Semua orang dewasa begitu sibuk, mereka tidak bisa mengatasinya lagi, dan kita memiliki kamar kosong disini."
Kemudian aku menyerahkan minuman berisi teh hangat yang telah dibuat oleh Yuuna ke Asa.
"Silahkan diminum, hangatkan dirimu dengan itu, Asa-chan. Ketika kamu masih lemah, kamu harus berhati-hati. Atau kamu akan benar-benar terjangkit penyakit itu."
"Oke….."
Aku melihatnya lagi…. Melihat tubuh telanjang Yuuma lagi. Dan kali ini menurutku lebih erotis! Karena ia sedang mandi! Entah mengapa wanita yang sedang mandi terlihat erotis!
"Nee-sama, bolehkah aku masuk juga?"
Eh- APA?!
"Apa kamu takut sendirian, Yuuna?"
Aku melihat tubuh erotis dari adiknya Yuuma! Rasanya aku sangat tidak sopan! Maafkan aku, Sona-senpai….
Yuuna bergabung denganku di kamar mandi ini. Ekspresinya terlihat begitu sedih, entah mengapa….
"Nee-sama, orang-orang itu…"
"Pengorbanan manusia tidak boleh dipercaya. Sekarang sudah zaman modern. Kita sudah hidup di zaman ilmu pengetahuan. Kita tidak boleh mempercayai pengorbanan-pengorbanan seperti itu dapat menyelesaikan sesuatu!"
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"
"Aku harus mengehentikan mereka apapun caranya."
"Jangan lakukan, nee-sama! Nanti kamu kenapa-kenapa nee-sama!"
Ia berusaha mencegahku.
"Aku tak peduli! Aku tidak tertarik untuk menyalamtkan diri sendiri!"
*Plaaakk*
Ia menamparku.
"Apa yang kau lakukan! Aku tidak akan mengizinkanmu melakukan hal seperti itu, nee-sama! Kau harusnya mengharagai hidupmu, nee-sama!"
Aku kemudian berbalik menamparnya.
"Aku tidak akan lari! Kita seharusnya saling membantu! Bukannya mengorbankan sesama kita!"
Yuuna kemudian pergi meninggalkanku, sambil sedikit terisak.
"Mengapa kamu tidak mengerti?"
Aku tahu, kalau Yuuna begitu mengkhawatirkan diriku. Namun, untuk masalah ini….. rasanya…..
Kemudian aku memandangi bulan purnama yang bersinar terang malam ini. Malam ini, bulan terlihat begitu cantiknya di langit…
Yuuma begitu berbelas kasihan….. aku baru mengetahuinya…
Kurasa dia benar-benar hanya seorang gadis biasa….
"Asa-chan, aku meminta dokter untuk memeriksamu hari ini."
Aku tidak menemukan Asa-chan di ruang tamu. Yang kutemukan hanyalah pakaiannya.
Dia menghilang lagi….
Apa yang dia lakukan jika dia kembali kedinginan lagi?
"Yuuna, kamu mengetahui dimana Asa-chan?"
Aku akhirnya menanyakan keberadaan Asa ke Yuuna.
"Aku tidak tahu, nee-sama. Setelah aku mandi, aku tidak melihatnya. Aku langsung pergi ke kamarku, dan tidak melihatnya."
"Kapan kamu terakhir kali melihatnya, Yuuna?"
"Saat sebelum mandi, nee-sama. Ngomong-ngomong, apa kamu mau memperbaikinya, nee-sama?"
"Eh-"
"Mengapa itu robek?"
Lantas aku melihat pakaian yang dikenakan Asa. Aku melihjat robekan seperti yang dikatakan oleh Yuuna.
"Yuuna, kamu tetap disini!"
Aku kemudian langsung berlari menuju ke Akademi Kuoh.
Sial! Asa-chan!
Sial…. Yuuma jangan pergi!
Aku terus berlari menuju ke Akademi Kuoh.
Yuuma jangan pergi!
Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!
Percuma…. Aku tidak bisa berbuat apa-apa….. Inilah yang seharusnya akan terjadi…. Aku tidak bisa mengubahnya…..
Aku terus mencarinya, terus mencarinya…..
"Asa-chan!"
Aku akhirnya menemukan orang-orang yang melakukan ritual pengorbanan. Aku langsung menerobos mereka, menuju ke arah seorang anak yang akan dikorbankan oleh mereka.
"Apa yang kalian lakukan?!"
…..
"Asa…."
"Yuuma nee-chan!"
Ia ketakutan!
"Ritual telah menyebutkan nama!"
Tiba-tiba aku didorong sampai terjatuh oleh orang-orang yang melakukan ritual pengorbanan.
"Ritual telah menyebutkan sebuah nama!"
"Dewa telah memilih korban…"
"Dewa telah memilih korban…"
Aku kemudian merangkak mundur, menjauhi mereka yang telah gila, dan melakukan ritual pengorbanan ini.
"Dewa telah memilih korban!"
"Dewa telah memilih korban manusia!"
Orang-orang ini sudah gila! Mereka begitu menakutkan!
"Korban manusia….. Korban manusia…."
"Larilah, Asa-chan!"
Mereka terus menerus mengeroyok diriku.
"Yuuma nee-chan!"
Aku mendengar teriakan dari Asa. Namun, sekarang aku sedang berusaha melawan orang-orang gila ini!
Orang-orang gila ini terus menerus mengeroyok diriku. Mereka lantas menggotongku, memaksaku untuk pergi…
Sial….aku tak tahan….
Dan kemudian….
Mereka melemparku ke dalam kegelapan!
Sial! Ini begitu mengerikan!
Rasanya…. Aku pingsan….
SFX no 2: Suara tetesan air
Aku kemudian membuka mataku. Dan pemandangan di sekililingku terasa asing.
"Aku dimana? Arkkkh"
Kakiku sakit sekali. Aku tidak dapat beridiri.
Sial! Ini begitu tak beradab! Mengorbankan manusia tidak akan mengubah apapun! Tidak akan menyelesaikan apapun!
"Syukurlah"
Eh-
"JIka begini, Asa-chan tidak akan dikorbankan. Biar aku saja…"
Yuuma…
"Jika aku jadi korban, maka Asa-chan dan Yuuna akan selamat. Aku tidak apa-apa jika harus mati disini."
Yuuma….
"Itu kuil kah?"
Aku kemudian melihat cahaya lilin di ujung gelap sana.
Lantas diriku memaksakan tubuhku untuk bergerak menuju kuil tersebut.
Setelah sampai, aku melihat begitu banyak lilin yang menyala, serta sebuah tempat penyimpanan.
Aku membuka tempat penyimpanan tersebut,
Dan….
"Apa ini!? Begitu menakutkan!?"
Disana terdapat sebuah cermin yang merefleksikan wajah yang begitu terluka, babak belur akibat orang-orang gila tadi.
"Ini sangat menakutkan! Sangat menakutkan! Aku tak mau mati disini!"
Aku kemudian memaksakan diriku untuk bergerak.
"Aaaarrrrkhhhhh, Sakit sekali!"
Ini sakit sekali. Aku tak bisa beregerak…..
"Seseorang tolong aku! Tolong aku!"
Percuma….. Tidak ada seorangpun yang akan menolongku.
"….tolong….aku…."
*Blank*
"Dingin…."
Iya, rasanya begitu dingin.
Aku perlahan-lahan, rasanya mulai memisahkan diri dari Yuuma. Mungkin aku akan kembali sadar.
"Begitu menyakitkan…."
Aku masih bisa merasakan rasa sakitnya, meskipun aku telah terpisah dari tubuhnya, dan bersiap untuk meninggalkan kenangannya ini.
"Aku takut…. Mengapa…."
Yuuma…
"Apakah ini….ulahnya…..Ritual itu…."
Sial! Yuuma! Ia mulai benci! Ia mulai memiliki rasa kebencian di dalam dirinya!
"Aku telah begitu baik padanya. Mengapa? Apa karena ia memanggil namaku?"
Yuuma! Itu bukan salahnya!
"Aku benci dia…. Aku benci dia…."
Sial! Aku akan pergi setelah ini…..
Yuuma! Itu bukan salahnya! Bukan salahnya! Tolong sadarlah!
"Dia…. Asa!"
Sial! Ia bahkan menampakkan wajah kebencian yang begitu menakutkan!
Tolong Yuuma! Sadarlah! Itu bukan salahnya!
"Eh- Apa yang aku pikirkan? Tentu saja ini bukan ini begitu menyakitkan… Aku tidak bisa menerimanya…. Sungguh menyakitkan!"
Yuuma….
"Tidak… aku tidak bisa membenci Asa-chan…..Tidak…. aku tidak bisa…. Aku tidak bisa…. Ini bukan aku…. Aku tidak marah…. Ini bukan salahku…. Orang lain…. Aku tidak membenci…."
Yuuma…..
Inilah akhir hidupnya. Era showa, 60 tahun yang lalu. Amano Yuuma telah meninggal dunia di bawah Akademi Kuoh, dalam usianya yang masih 17 tahun. Ia menjadi korban manusia untuk menghilangkan wabah yang melanda penduduk Kuoh 60 tahun yang lalu…
Ya, akulah yang dibenci.
Benci…. Benci….. Benci!
Aku benci mereka yang mengorbankan diriku untuk mencoba mempertahankan hidup mereka!
Aku benci mereka yang membunuhku!
Sial! Aku rasanya terhisap oleh sesuatu!
*kliiiing*
Benci!Benci! Benci!
…
Inilah, awal mula dari kisah hantu sekolah Yuuma, yang begitu populernya di Akademi Kuoh ini.
"Apa yang kulakukan disini?"
Aku membencimu….
Sangat benci, dirimu yang membuangku.
"Arkkkhhh... Dimana aku?"
Aku terbangun, dengan posisi aku sedang ada dalam pangkuan Yuuma.
Aku kemudian melihat sekeliling, ini masih di sekolah, dan sudah malam.
Aku ingat-
Aku tadi berhasil merasuki Raynale.
"Kamu tidak apa-apa, Naruto-kun?"
Aku mengangguk.
"Jadi, Yuuma-san. Aku sejak tadi berada disini, kan?"
Yuuma mengangguk.
"Kamu pingsan disini dalam waktu yang lama, Naruto-kun."
Berarti, aku berhasil merasuki Raynale, dan melihat kenangan menyakitkan yang telah dilupakan oleh Yuuma.
Kemudian, aku bangkit dari tidurku, hanya untuk duduk, menenangkan diriku.
"Kamu bisa berdiri, Naruto-kun?"
Yuuma mengulurkan tangannya.
"Ya..."
CRAP-
"Naruto-kun! Kamu telah... masa laluku..."
Yuuma langsung melangkah mundur begitu aku menyentuh tangannya tadi. Ia terlihat begitu sangat ketakutan.
"Kamu...kenangan masa lalauku..."
"Yuuma-san... Yuuma-san... Yuuma-san!"
Aku berusaha memanggil namanya, untuk mengembalikan dirinya dari ketakutan.
Aku berjalan mendekatinya, mencoba untuk menenangkannya.
Namun...
"Naruto-kun... Dimana dirimu... Naruto-kun..."
Ia hanya berlalu melewatiku.
Aku...
Menembus Yuuma.
Aku tidak mampu memegang Yuuma...
"Naruto-kun, Dimana kamu?!"
"Yuuma-san? Apa yang terjadi?!"
Yuuma tidak menyadari teriakanku.
"Naruto-kun, Dimana dirimu?!"
"Aku disini Yuuma-san!"
"Dimana dirimu?!"
"Disini Yuuma-san!"
"Dimana dirimu, Naruto-kun?!"
"Disini Yuuma-san!"
Percuma...
Ia tidak dapat mendengarku, tidak dapat menyadariku.
"Naruto-kun..."
"Yuuma-san..."
To be continued….
