DIA, TANPA AKU
Remake Story by Esti Kinasih
.
.
Park Chanyeol
Byun Baekhyun (GS)
Ocs
.
.
[DISCLAIMER]
Cerita ini adalah milik penulis aslinya. Saya hanya me-remake kepada versi ChanBaek.
.
.
Capter 9
.
.
Happy reading..
.
.
MALAMNYA, Chanyeol terduduk dalam diam dikursi milik Kris yang ditariknya menjauh dari meja belajar.
Kedua matanya tertancap lurus pada secarik kertas di dinding di atas meja. Catatan Kris tentang Baekhyun.
Perlahan Chanyeol bangkit berdiri dan berjalan menghampiri meja belajar Kris. Dilepasnya kertas itu dari dinding lalu dimasukkannya ke salah satu laci. Sudah tidak diperlukan lagi. Karena semua yang tertulis di kertas itu sudah terjadi di depan matanya.
Baekhyun jauh lebih berharga. Sebab dia adalah kenangan yang hidup. Dan satu-satunya tempat untuk Baekhyun adalah di sebelahnya. Sampai semuanya terbayar. Setiap usaha Kris. Setiap waktu yang dia habiskan. Setiap kesabaran sekaligus ketidaksabarannya. Setiap kecemasan dan harapannya. Dan segala yang terjadi di dalam penantian yang panjang itu.
Untuk pertama kalinya sejak kematian Kris, Chanyeol berani membalik foto sang kakak yang selama ini digantungnya dalam posisi terbalik. Karena sekarang ruang kosong itu sebagian telah terisi.
Dan untuk pertama kalinya pula Chanyeol menatap kembali wajah Kris yang tersenyum lebar di dalam pigura. Ia menarik napas panjang dan dalam, kemudian bicara dengan suara tenang namun penuh tekad.
"Gue tahan cewek lo di sebelah gue. Dan gue jamin, dia nggak bakalan bisa ke mana-mana!"
.
.
.
"CHANYEEEOOOLLL…!"
Chanyeol menghentikan langkah dengan kaget. Dilihatnya Baekhyun keluar dari kerimbunan pepohonan tidak jauh dari halte bus, lalu menghambur ke arahnya.
"Lama banget sih datengnya? Gue sampe digigitin semut, tau!"
"Lo ngirim SMS, gue udah di bus. Emang lo kira gue bayar ongkos berapa, bisa maksa sopirnya ngebut. Ngapain ngumpet di situ?"
Baekhyun meringis lebar lalu terkekeh-kekeh geli. Tidak dijawabnya pertanyaan Chanyeol. Namun dari cara Baekhyun yang meraih lalu menggenggam lengan kiri Chanyeol dengan kesepuluh jari dan berjalan agak sedikit di belakangnya, siap menjadikan punggungnya sebagai perisai, Chanyeol sudah bisa menduga.
Telah sebulan berlalu sejak mereka makan di kantin berdua, setelah Chanyeol kena marah Bu Sunny. Chanyeol tidak membiarkan Baekhyun menjauh darinya dengan cara: siap menjadi bodyguard tiap kali cewek itu mendapatkan kesulitan karena sifat isengnya. Satu cara halus yang membuat Baekhyun tanpa sadar membutuhkan kehadiran Chanyeol.
"Lo ngisengin orang lagi, kan?" Tanya Chanyeol.
Baekhyun meringis. "Mereka aja yang sense of humor-nya nggak bagus kayak gue."
"Sense of iseng, kali?" dengus Chanyeol. Baekhyun terkikik geli.
Begitu sampai sekolah, Chanyeol jadi tahu kenapa Baekhyun bersembunyi di belakang pepohonan tidak jauh dari halte dan menungguinya. Di ambang pintu kelas, Jeno, yang punya nama lengkap Jeno Yasa Jaya, berdiri sambil bertolak pinggang.
"Hai, Jenooo!" Baekhyun menyapa dan tersenyum manis.
"Nggak usah senyum-senyum!" sentak Jeno. Tapi itu malah membuat Baekhyun tertawa geli. "Tadi gue samperin ke halte, lo nggak ada. Ngumpet di mana lo?"
"Lo kenapa sih pagi-pagi ngamuk?" tanya Chanyeol.
"Mau tau!?" Jeno menatap Chanyeol dengan mata melotot maksimal. "Sini!"
Jeno berjalan ke mejanya. Chanyeol mengikuti dengan kening berkerut. Sementara Baekhyun mengekor di belakang Chanyeol, masih sambil memegangi lengangnya. Ekspresi muka cewek itu khas kalau habis melakukan keisengan. Polos.
"Lo liat tuh kerjaan si tukang iseng!" Jeno menunjuk dengan dagu ke arah dua buku tulisnya yang tergeletak di meja.
Jeno tuh rapi banget. Semua bukunya disampul cokelat. Namanya yang unik selalu ditulis dengan rapi di sudut kanan atas. Sementara nama mata pelajaran di tengah-tengah.
Chanyeol mengambil kedua buku itu, membaliknya dan nyaris saja tawanya meledak. Dibawah setiap tulisan nama Giri, Baekhyun memberikan tambahan.
JENO YASA JAYA
Jakarta – Yogya
pulang-pergi
Sementara di buku satunya:
JENO YASA JAYA
Jakarta – Surabaya
Via Tegal, Semarang, Brebes, Solo
Tulisan itu sama sekali tidak bisa dihapus karena Baekhyun menulisnya dengan sepidol. Melihat keributan itu, seketika teman-teman sekelas merubung ingin
tahu. Kedua buku itu kemudian berpindah-pindah tangan, dan setiap kali berpindah selalu membuat yang melihatnya tertawa geli.
"Lo iseng banget sih, Baek? Nulisnya pake sepidol, lagi. Kan nggak bisa dihapus." Chanyeol melirik Baekhyun yang berdiri di belakangnya. Seperti biasa, Baekhyun langsung ngeles.
"Ini salah Jeno, lagi. Abis namanya kayak bus malem gitu. Coba kalau biasa-biasa aja, kan gue juga nggak bakalan iseng."
Chanyeol berlagak berpikir sebentar, kemudian mengangguk.
"Iya, bener. Elo yang salah, Jen. Kenapa juga nama lo kayak nama bus gitu. Bikin orang pengin iseng aja."
"Apa!? Coba bilang sekali lagi!" Jeno melotot. Apalagi teman-teman sekelas membenarkan argumen Baekhyun itu.
"Gue nggak mau tau! Pokoknya gue minta sampulnya diganti. Sekarang juga!" katanya, nyaris teriak.
"Warnanya cokelat juga?" tanya Baekhyun berlagak bego.
"Ya iyalah!" Jeno melotot gemas.
"Oke deeeh." Baekhyun mengangguk manis.
Bel masuk masih setengah jam lagi. Masih ada waktu untuk ke koperasi dan membeli sampul cokelat buat Jeno. Sebenarnya Baekhyun bisa sendiri, tapi ia minta ditemani Chanyeol.
Masih sambil menggenggam lengan Chanyeol, Baekhyun melangkah ke koperasi diiringi tatapan kesal Jeno dan cengiran teman-teman mereka.
.
.
.
Urusan dengan Jeno beres. Tapi tampaknya Baekhyun belum puas mengisengi teman-temannya.
Esok harinya, dua puluh menit sebelum pelajaran pertama dimulai, Baekhyun memasuki kelas. Tangan kanannya menggenggam amplop cokelat berukuran lumayan besar. Cewek itu berjalan menuju mejanya lalu meletakkan tasnya di sana. Sepasang matanya langsung menatap ke salah satu sudut belakang, ke tempat beberapa cowok sedang duduk berkelompok dan asyik mengobrol. Senyum samar seketika mengembang dibibirnya. Dihampirinya kerumunan cowok itu.
Walaupun setiap kali akan melakukan keisengan Baekhyun jarang menceritakan niatnya, insting Chanyeol langsung bekerja. Cowok itu, yang juga berada di antara kerumunan cowok yang didatangi Baekhyun, seketika memecah perhatiannya. Sebagian tetap mengikuti obrolan ramai di depannya, sementara sebagian lagi memperhatikan gerak-gerik Baekhyun.
Baekhyun, yang tahu bahwa Chanyeol mengawasinya, balas menatap sambil nyengir lebar. Keberadaan cowok itu justru membuatnya merasa aman. Karena itu, dengan tenang disibaknya kerumunan cowok yang sedang asyik ngobrol itu.
"Eh, gue punya gambar telanjang…," bisiknya.
Bisikan itu cukup keras hingga seketika mampu menghentikan suara riuh. Lingkaran manusia di depannya kontan hening. Semua mata menatapnya. Terbelalak maksimal.
"Apa lo bilang?" tanya Jongdae. Tanpa sadar bertanya dengan bisikan, saking tidak percayanya ada yang berani membawa gambar telanjang ke sekolah. Dan cewek pula!
"Gue punya gambar telanjang!" ulang Baekhyun.
"Nggak mungkin!" bantah Jongdae. "Bohong, lo. Paling lo mau iseng lagi."
Yang lain mengangguk mengiyakan.
"Ya udah kalo nggak percaya. Bener nih, nggak mau ngeliat? Hot, tau nggak?"
Gaya santai dan cuek yang diperlihatkan Baekhyun untuk membungkus hasutannya berhasil. Wajah-wajah tak percaya itu kini mulai ragu.
"Beneran yang lo bawa itu gambar telanjang?" tanya Daehwi pelan.
"Yeee…" Baekhyun belagak kesal. "Kan tadi udah gue bilang?"
Sikap Baekhyun yang seakan jengkel karena dituduh bohong menghapuskan keraguan teman-temannya. Lingkaran cowok di depannya seketika mengecil dan merapat. Semua mata terpusat kepada Baekhyun dan amplop cokelat di tangannya.
"Bener itu gambar telanjang, Baek?" tanya Sehun lirih.
"Sumpah! Makanya gue segel amplopnya, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan."
"Mana? Mana? Buruan liat!" Daehwi langsung mengulurkan kedua tangannya.
Yang lain mengikuti dengan sangat antusias. Ada yang menggosok-gosokan telapak tangan. Ada yang mendecak-decakkan lidah. Ada juga yang berusaha merebut amplop cokelat itu dari tangan Baekhyun. Tapi cewek itu mempertahankan dengan sigap.
Baekhyun lalu melirik ke sekeliling dengan waspada, kemudian dengan gerakkan cepat diserahkannya amplop cokelat itu pada Jongdae, yang tepat berada di sebelahnya. Cowok itu menerima dengan sangat antusias.
"Lo ternyata rusak banget ya, Baek? Gue nggak nyangka," ucapnya.
"Lo ngatain gue rusak banget, tapi lo terima juga. Berarti lo juga sama rusaknya, kan?" balas Baekhyun.
Jongdae meringis. Ia sudah siap merobek salah satu tepi amplop, tapi Baekhyun buru-buru mencegah.
"Tunggu! Tunggu! Jangan dibuka sekarang. Gue nggak mau dituduh udah nyebarin gambar porno di sekolah."
Baekhyun cepat-cepat berlari ke luar kelas. Kerumunan cowok yang baru saja ditinggalkannya menatapnya heran.
"Emang udah jelas-jelas dia yang nyebarin kok. Ngapain juga pake dituduh?" kata Jongdae, membuat teman-temannya tertawa.
Sementara itu Chanyeol hanya bisa menatap Baekhyun dalam ketercengangan yang benar-benar hebat. Cowok itu sampai tidak mampu bersuara. Asli, ini gila banget! Udah bener-bener kelewatan! Baekhyun sinting!
Kerumunan cowok di depan Chanyeol semakin merapat, lalu terdengar suara amplop disobek, dan sedetik kemudian terdengar… seruan marah bercampur sumpah serapah!
Baekhyun, yang berdiri di luar dan mengawasi dari balik jendela, lansung berlari menjauh sambil tertawa keras-keras. Kerumunan cowok di depan Chanyeol langsung buyar. Ekspresi dongkol, geram, jengkel, kesal, bahkan marah, terpusat pada Baekhyun. Mereka kemudian berjalan keluar karena mendapati Baekhyun sudah tidak ada lagi di koridor tempat dia tadi berdiri. Di sana, kembali cowok-cowok itu menyumpahi Baekhyun. Beberapa sambil mengacung-acungkan jari telunjuk atau kepalan tinju.
"Baekhyun sialan! Kurang ajar! Kirain gambar telanjang betulan!"
"Awas lo, Baek, ya! Liat aja ntar! Jangan dikira bisa selamet!"
Namun ancaman itu justru membuat tawa terbahak Baekhyun semakin menjadi-jadi. Di ujung koridor, di dekat tangga, cewek itu sampai terbungkuk-bungkuk karena tawanya yang tak putus membuat perutnya sakit.
Chanyeol meraih amplop cokelat yang tergeletak di meja, lalu mengeluarkan isinya. Seketika tawanya meledak keras. Baekhyun tidak bohong. Dia benar-benar membawa gambar telanjang. Tepatnya, foto telanjang. Tapi foto ayam. Ayam potong yang benar-benar montok yang mungkin dibeli mamanya di tukang sayur, diatur dalam posisi duduk. Satu pahanya menyilang di atas paha yang
lain. Kedua sayapnya diatur seolah sedang bertolak pinggang. Lalu difoto close up. Sambil geleng-geleng kepala dan tertawa tanpa suara, Chanyeol memasukkan kembali foto itu ke amplop.
Setelah puas menyumpah-nyumpah dan melontarkan ancaman yang belakangan diwarnai senyum geli, para cowok itu kembali masuk kelas. Kali ini menuju bangku masing-masing, karena jam pelajaran pertama akan segera dimulai.
Tak lama ponsel Chanyeol berbunyi. Ada SMS masuk. Dari Baekhyun.
Chan, gw udh bs msk kls blm?
Sambil menahan senyum, Chanyeol segera membalas.
Blm! Mrk mlh blg, kl lo brani msk kls,
Lo mo ditelanjangin!
Sedetik kemudian ponsel Chanyeol berdering, dengan ringtone yang menandakan itu dari Baekhyun. Begitu diangkat, langsung terdengar jeritan dari sang penelpon.
"Masa sih!? Orang gue cuma bercanda kok. Pada nggak asyik nih. Bercanda gitu doang kok marah."
"Mereka ngomongnya gitu kok." Chanyeol menyeringai. "Di mana posisi lo sekarang?"
"Di depan tangga. Gimana dong, Chan? Bentar lagi bel nih."
"Lo tunggu di situ. Nanti gue jemput." jawan Chanyeol, kemudian menutup telepon tanpa menunggu jawaban Baekhyun.
Baekhyun menyambut kedatangan Chanyeol dengan cengiran lebar, yang segera berubah menjadi tawa gelak. Chanyeol hanya bisa geleng-geleng kepala tapi akhirnya ikut tertawa.
"Elo tuh ya…" Chanyeol tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Spechlees. Sadar dirinya kini terlindung, begitu sampai kelas, sambil ketawa geli, Baekhyun menggoda teman-teman yang telah sukses dijailinya.
"Pahanya oke banget, kan? Montok dan seksi! Kayaknya itu ayam oriental deh, soalnya putih. Kalo ayam Afrika, item kali, ya? Makanya nggak gue pilih. Secara di tukang sayur juga nggak ada. Lagi pula kalo ayam Afrika, takutnya pas difoto pahanya kurang keliatan jelas gitu."
Cowok-cowok itu menatap Baekhyun dengan tatapan dongkol, gemas, juga merasa blo'on. Kok bisa-bisanya mereka tertipu padahal sudah jelas-jelas Baekhyun itu tukang ngisengin orang. Chanyeol menoleh. Ditatapnya Baekhyun dengan sorot mata agak kesal. Baekhyun malah jadi terkekeh geli melihat muka Chanyeol.
"Gue punya gambar telanjang yang lain. Mau liat lagi, nggak?" sambungnya kepada teman-temannya yang masih menatapnya itu. Chanyeol berhenti melangkah.
"Bener-bener gue tinggal lo, Baek, ya?" ancamnya. "Gue pindah duduk nih?"
"Eh, jangan! Jangan!" serta-merta Baekhyun mencekal satu larangan Chanyeol. Diikutinya langkah cowok itu menuju meja mereka. Setelah duduk manis di bangkunya selama beberapa saat dan teman-teman yang tadi diusilinya masih juga menatapnya, Baekhyun mengangkat kedua jari telunjuk dan tengahnya, membentuk huruf V.
"Peace! Peace! Damaaaiii!"
Ketika wajah-wajah itu tidak menunjukan reaksi, Baekhyun tertawa geli.
.
.
.
TBC
.
.
.
fauziah agustina iya dong harus ada kemajuan,, masa jalan ditempat terus
rorororonoaa kamu Baekhyun stan ya? Aku juga suka kalo baca ff yg ceye-nya naksir duluan haha. Aku coba pertimbangin deh permintaan kamu
.9047 iya bener. Dia Cuma belum sadar sama perasaannya aja. Bukan belum sadar sih, dia Cuma nyangkal.
Agnesnes biasa lah awalnya gengsi dulu, jadi ya gitu modusnya pake acara cari-cari kesalahan Baek segala haha. Baper, ya? SAMA 😅 aku juga seneng kok balesin review kalian, seenggaknya kita jadi bisa ngobrol walau Cuma lewat tulisan. Makasih udah baca, makasih juga semangatnya
almaepark sok syukuran, kalo perlu bikin tumpeng sekalian haha.. mites-memites mah emang si mamih jagonya
B dongsaeng ciyee ciyee yang baperrr wkwkwk
byunhyun ini udah next ya.. makasih udah baca 😊..
Gomawo buat yang udah nyempetin baca ff remake ini, apalagi yang review, follow/fav.. nomu nomu gamsahamnida~
So, how about this chapter?
RnR juseyooo~
Follow my ig: baekhill_byun
_Hill_ 230218
