Itachi duduk diatas sofa sambil meminum teh dan menonton televisi bersama sang istri. Entah kenapa sejak tadi perasaannya terasa tidak enak. Ia terus memikirkan Sasuke dan instingnya seolah mendorongnya untuk mengunjungi Sasuke.
"Kau tampak gelisah, anata," ujar Izumi sambil menatap sang suami sejenak sebelum kembali mengalihkan pandangan kearah layar televisi.
Jam menunjukkan pukul delapan malam dan putra mereka sudah tertidur di kamar bersama baby sitter. Dan kini Izumi bersantai di ruang keluarga bersama sang suami, menghabiskan waktu berdua yang sangat jarang mereka miliki setelah Itsuki lahir.
"Hn. Aku mengkhawatirkan otoutoku."
Izumi tersenyum mendengar ucapan sang suami. Ia sudah tahu kalau sang suami begitu menyayangi adiknya. Sebelum menikah Itachi bahkan mengatakan kalau ia begitu akrab dengan adiknya dan akan menghabiskan banyak waktu bersama Sasuke, sehingga Izumi harus bisa menerima Sasuke.
"Ya ampun. Padahal Sasuke-kun bahkan sudah menikah. Dia pasti bisa menjaga dirinya dengan baik."
Itachi terdiam sejenak. Sebetulnya ia tahu kalau Sasuke akan baik-baik saja meski sendirian. Namun ia tetap tak bisa berhenti mengkhawatirkan Sasuke.
"Iya, sih," ucap Itachi sambil menatap Izumi, "Tapi perasaanku benar-benar tidak enak. Sepertinya hubungannya dengan istrinya tidak begitu baik."
"Tidak begitu baik? Bagaimana kau tahu?" tanya Izumi seraya mengernyitkan dahi.
Itachi mengendikkan bahu. Biasanya ia adalah orang yang cenderung mengandalkan logika, namun ia berubah menjadi orang yang cenderung mempercayai insting jika sudah berkaitan dengan Sasuke. Mungkin saja ia memiliki ikatan batin yang begitu kuat dengan Sasuke sehingga instingnya mengenai Sasuke biasanya benar.
"Insting," ucap Itachi dengan nada yang terkesan ragu.
Izumi tak begitu memahami ucapan sang suami, namun ia mengerti jika suaminya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan adiknya sejak dulu. Ia sendiri mengenal Itachi sejak duduk di sekolah dasar dan ia masih ingat ketika suatu kali Itachi membawa adiknya ke acara sekolah dan ia berniat menggendong Sasuke, Sasuke langsung menangis keras ketika dipisahkan dari Itachi dan mendorong-dorong wajahnya.
Izumi tersenyum tipis, dalam hati ia merasa sedikit iri dengan kedekatan antara suaminya dan sang adik. Ia sendiri tidak memiliki kakak atau adik sehingga terkadang ia penasaran bagaimana rasanya memiliki saudara kandung.
"Ah, Sasuke-kun memang tidak banyak bicara pada orang yang baru dikenal, sih. Sampai sekarangpun dia hampir tidak pernah membahas hal lain selain Itsuki ketika berbicara denganku. Jadi kurasa, dia juga begitu pada istrinya. Apalagi mereka menikah karena perjodohan, kan?"
Itachi menganggukan kepala. Sang istri memahami maksud dibalik kekhawatirannya terhadap Sasuke.
"Sebenarnya otoutoku orang yang baik. Cuma kata-katanya terdengar sinis dan membuat orang lain yang mendengarnya salah paham. Aku takut istrinya salah paham dan merasa tidak nyaman dengannya," ujar Itachi dengan khawatir.
Izumi menyetujui ucapan suaminya. Ia sendiri mengenal Sasuke sejak kecil dan tidak bisa memahami maksud dari tindakan dan ucapan Sasuke. Namun orang yang baru mengenal Sasuke biasanya akan salah paham.
Sebetulnya Izumi juga berpandangan sama dengan suaminya. Ia menganggap Sasuke adalah orang yang baik, dan ketika ia mendengar Sasuke akan dijodohkan, sebetulnya ia sendiri juga merasa khawatir. Ia tak ingin Sasuke menikah dengan wanita yang salah dan menderita dalam pernikahannya.
"Omong-omong soal Sasuke, aku sama sekali belum mengunjunginya. Apa kita pergi mengunjunginya sekarang saja?"
"Hn. Kalau istrinya tidak menunggui Sasuke malam ini, aku akan menginap lagi disana. Kau tidak keberatan, kan?"
Izumi menggelengkan kepala, "Sama sekali tidak, kok. Orang sakit tidak seharusnya dibiarkan sendirian. Kalau kau tidak mau menginap, malahan aku akan menyuruhmu menginap."
Itachi tersenyum dan meletakkan dua jarinya di kening sang istri, hal yang juga sering ia lakukan pada Sasuke. Ia merasa bersyukur karena sang istri juga bisa memahami dirinya yang begitu mengkhawatirkan Sasuke.
.
.
"Bagaimana keadaanmu, Sasuke-kun? Sudah lebih baik?" tanya Izumi pada Sasuke setelah meletakkan sekilo tomat yang ia beli di supermarket diatas meja yang berada di samping kasur Sasuke.
"Hn."
Sasuke menatap kantung plastik yang dibawakan Izumi dan merasa penasaran dengan isinya. Ia segera bertanya, "Apa yang kau bawa, Izumi-nee?"
"Makanan kesukaanmu. Mau makan? Biar kupotongkan, ya?"
"Arigatou," sahut Sasuke. "Tidak usah membawakan apapun juga tidak apa-apa. Aku masih mual."
"Ah," ucap Izumi seraya menatap tomat itu. Mendadak ia berniat sedikit menggoda sang adik ipar.
"Kau benar-benar tidak bernafsu makan, nih? Kalau begitu tomatnya kuhabiskan bersama Itachi-kun saja, ya?"
Sasuke menatap tomat itu dengan tatapan tidak rela. Sebetulnya ia sangat menyukai tomat dan berniat memakannya. Namun perutnya terasa penuh dan ia mual setelah memakan dua sendok nasi untuk makan malam.
"Habiskan saja."
Izumi baru saja akan mengatakan sesuatu ketika pintu mendadak terbuka dan Itachi memasuki ruangan sambil menatap sekeliling dan seketika raut wajahnya berubah. Awalnya Izumi memutuskan untuk masuk ke kamar Sasuke terlebih dahulu sementara Itachi memarkir mobil. Dan kini ia merasa agak khawatir melihat perubahan emosi sang suami.
Itachi berpikir jika malam ini ia akan bertemu dengan Sakura. Namun sesuai dengan apa yang ia pikirkan, wanita itu sama sekali tidak berada di ruangan Sasuke. Mendadak ia merasa ingin marah meski biasanya sangat jarang merasa marah. Bagaimana bisa seorang istri bersikap begitu cuek pada suaminya yang sedang dirawat di rumah sakit?
"Sakura-chan tidak datang malam ini? Kupikir dia akan menginap dan menungguimu disini," ujar Itachi sambil menatap nanar.
Sasuke menyadari perubahan ekspresi Itachi. Lelaki itu terlihat kesal dan suaranya agak meninggi. Selama ia mengenal Itachi, ia hampir tak pernah melihat lelaki itu bereaksi seperti ini.
"Dia menawari untuk menemaniku malam ini. Dan aku menolaknya."
"Kenapa? Kau sedang sakit, otouto. Kurasa akan lebih bagus kalau seseorang menemanimu disini ketimbang sendirian."
Sebetulnya Sasuke merasa tidak enak merepotkan Sakura yang belum lama ia kenal. Wanita itu pasti akan merasa tidak nyaman. Lagipula ia tak ingin wanita itu merasa kelelahan jika harus menungguinya sepanjang malam. Dan ia juga tidak bisa membiarkan orang lain tidur dengan cara yang tidak nyaman karena dirinya.
"Aku merasa tidak nyaman berbagi kamar dengan orang tidak dikenal."
"Dia kan istrimu. Kau harus membiasakan diri, baka otouto."
Sasuke tak menjawab. Ia tak tahu harus menjawab apa. Lagipula Sakura tak benar-benar menjadi istrinya meski mereka adalah pasangan suami istri secara dokumen.
"Kalau begitu aku akan menginap malam ini dan menemanimu. Kalau besok istrimu masih tidak menemanimu juga, aku akan menginap lagi dan menemanimu," sahut Itachi dengan nada yang terkesan memaksa.
"Memangnya kau mau tidur di lantai lagi?"
Itachi menganggukkan kepala. Ia sama sekali tidak keberatan tidur dengan duduk di lantai demi Sasuke. Semakin ia dekat dengan Sasuke, ia merasa semakin tenang.
"Kau bisa sakit nanti."
Itachi agak terkejut mendengar ucapan Sasuke, tumben sekali lelaki itu mengucapkan kalimat yang menunjukkan perhatian seperti ini. Bahkan Sasuke pun terkejut dengan ucapannya sendiri. Biasanya ia merasa kurang nyaman mengucapkan kalimat bernada perhatian. Namun kini kepalanya masih agak sakit dan pusing sehingga ia tidak bisa memikirkan kata-kata yang lain
"Aku baik-baik saja. Tidak usah mengkhawatirkanku, otouto."
"Jangan menungguiku lagi malam ini. Kau juga tidak usah mengunjungiku lagi. Kau bisa tertular penyakit kalau sering berkunjung ke rumah sakit."
Itachi tertegun sejenak, ia mengira kalau ia sedang bermimpi saat ini. Ia bahkan menepuk tangannya dengan keras dan tangannya memerah. Ia tak mengira Sasuke bisa menunjukkan perhatian seperti ini.
"Aku tidak akan bisa tenang membayangkau kau sendirian di rumah sakit. Besok kau harus meminta istrimu menemanimu, oke?"
"Hn."
.
.
Ino menatap sekeliling ruangan tempatnya berada dengan tatapan takjub. Ia baru saja memasuki penthouse tempat tinggal Sakura dan langsung mencintai tempat itu setelah melihatnya untuk pertama kali.
Seluruh lantai ruangan tempatnya berada dilapisi dengan marmer dan desain ruangan itu begitu modern dengan dominasi warna gelap. Terdapat sebuah sofa putih besar dengan lampu gantung Kristal yang terlihat tepat ketika Ino memasuki ruangan itu.
"Ya ampun. Kau beruntung sekali bisa tinggal di tempat sebagus ini setiap hari. Beruntungnya kau, punya suami tampan dan kaya!" ujar Ino dengan nada cemburu.
"Tapi tidak normal," keluh Sakura dengan jengkel.
Malam ini Sakura merasa agak bosan berada di rumah itu sendirian. Penthouse itu hanya satu lantai, namun luas secara keseluruhan lima ratus meter persegi dan termasuk sangat besar untuk ditinggali seseorang sendirian. Dalam hati Sakura bertanya-tanya bagaimana bisa Sasuke tinggal di penthouse itu sendirian.
Sakura sengaja mengundang Ino untuk menginap malam ini dan menemaninya. Di dalam perjanjian yang dibuat bersama dengan Sasuke, lelaki itu tidak pernah mengatakan untuk melarang teman-teman Sakura untuk datang berkunjung dan menginap. Sehingga Sakura memutuskan untuk meminta Ino datang dan menginap.
"Memangnya ada orang yang sempurna?" sahut Ino seraya berjalan menuju piano hitam yang terletak di dekat kaca dan menekan salah satu tutsnya.
Ucapan Ino memang tidak salah. Sakura juga tahu kalau tak ada seorangpun yang sempurna. Tapi ia tak bisa menolerir kekurangan Sasuke.
"Oh ya, bagaimana keadaan suamimu, forehead? Kau tidak menjenguknya?"
"Sudah tadi pagi."
"Kau tidak berniat menungguinya di rumah sakit? Kasihan kalau dia sendirian, lho. Aku merasa tidak enak datang menginap seenaknya begini."
Ino menatap sekeliling dengan tatapan bersalah. Sebetulnya ia sendiri agak terkejut ketika Sakura menelponnya sore ini dan memintanya untuk datang dan menginap. Semula ia merasa tidak enak hati dan menolak, namun Sakura terus memaksa dengan alasan dia kesepian dan bosan di rumah.
Sakura hanya mengajak Ino untuk menginap karena ia paling mempercayai wanita itu dibanding teman-temannya yang lain. Sakura khawatir kalau ia mengajak orang yang lancang untuk menginap dan orang itu melakukan hal-hal yang tak seharusnya dilakukan di rumah orang lain, misalnya sembarangan memasuki ruangan atau mengambil minuman dan makanan seenaknya.
"Tidak. Dia meyuruhku tidak usah mengunjunginya sepulang kerja. Aku juga disuruh tidak usah membawakan sarapan lagi untuknya."
Ino terkejut mendengar ucapan Sakura. Ia menepuk bahu Ino dan berkata, "Aduh. Jangan-jangan dia marah padamu. Kau melakukan sesuatu yang membuatnya marah, tidak?"
Sakura berpikir sejenak. Sebetulnya ia merasa Sasuke agak aneh. Lelaki itu terlihat kesal dan menjerit ketika ia melepaskan genggaman tangan lelaki itu dengan paksa hingga kukunya menusuk kulit Sasuke. Namun ketika Sakura mengunjungi Sasuke tadi pagi, reaksi lelaki itu terlihat biasa saja.
"Mungkin. Waktu itu dia mendadak memegang tanganku dengan erat dan meremasnya sampai aku melepaskan tangannya dengan paksa hingga kuku jariku menusuk kulitnya dan dia berteriak. Tapi ketika aku menemuinya tadi pagi, dia terlihat biasa-biasa saja."
Ino menatap Sakura lekat-lekat, "Seharusnya kau biarkan saja. Mungkin dia memegang tanganmu agar dia merasa nyaman. Apalagi dia baru saja kecelakaan, kan? Setidaknya kau bisa memperlakukannya dengan agak lembut karena dia sedang sakit."
Sakura merasa agak sebal dengan Ino. Ia merasa kalau wanita itu terkesan membela Sasuke, padahal seharusnya wanita itu membela dirinya.
"Kenapa kau jadi membela dia terus, sih?"
Ino berdecak dan menyentuh bahu Sakura dan menepuknya dengan gemas, "Habis kasihan, sih. Kau jengkel padanya karena dia cacat, padahal kalau bisa memilih, mana ada orang yang mau terlahir menjadi orang yang cacat? Aku masih lebih bisa menerima kalau kau sebal padanya karena kepribadiannya."
"Kata-katanya juga tajam dan menyakitkan. Bayangkan saja, ketika aku membawakan sarapan untuknya tadi, dia malah menyuruhku untuk tidak usah datang lagi besok. Memang sih dia berterima kasih, tapi kesannya seperti terpaksa. Ketika aku membelikan jam tangan untuknya, dia terlihat tidak suka. Menyebalkan sekali, kan? Sakura bercerita panjang lebar dengan suara yang agak meninggi.
"Tapi setidaknya dia pernah melakukan sesuatu yang baik padamu, kan?"
"Dia membuatkan panekuk untukku setiap pagi setelah tahu kalau aku menyukai panekuk buatannya," sahut Sakura tanpa berniat menyebutkan nama suaminya.
"Nah!" seru Ino sambil tersenyum, "Setidaknya dia mau membuatkan makanan kesukaanmu. Artinya dia memperhatikanmu, baka."
"Ah, iya? Tapi untuk apa dia memperhatikanku? Saling kenal saja tidak," Sakura seolah ragu dengan ucapan Ino.
Ino mengendikkan bahu, "Mana kutahu, forehead. Tanyakan langsung saja pada orangnya."
Sakura meringis. Kalaupun ia bertanya, mana mungkin Sasuke mau menjawabnya? Lagipula ia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri dengan bertanya begitu.
"Kurasa sebaiknya kau bersikap lebih baik padanya. Siapa tahu dia bisa bersikap lebih baik padamu ketika dia sudah merasa nyaman. Bisa jadi suamimu itu tipe tsundere, kan? Mirip Ji Wook-oppa di drama yang kutonton tiap minggu itu, lho," ucap Ino sambil tersenyum lebar membayangkan aktor Korea favoritnya.
"Dasar. Kau terlalu banyak menonton drama Korea."
"Kau juga menonton drama itu, kan?"
Wajah Sakura memerah dan ia menganggukan kepala dengan malu-malu. Ia tak ingin mengakuinya, namun ia sempat berharap memiliki suami seperti aktor Korea favoritnya meski ia tahu kalau hal itu mustahil. Ia menyukai lelaki yang romantic tanpa menunjukkannya secara berlebihan.
-TBC-
