[ 021014 | 2022 ]

Kaisoo Gender switch

Sexy Rose

Chapt 9

"Sliced Rose"

Music: Beethoven, Fur Elise.

By. Lien

::::


.

Beyond the red dreams shaking, the two of us had to meet

Our fates that met begin to turn

Even now, as I remain in the darkness,

Although the unseen wounds are just eating away at my heart.

We can't return things to how they used to be,

No matter how much we slice apart these sins...

.

.

Ketika dunia berubah gelap dan hujan diam-diam jatuh, termenung dalam kamar yang lapang selagi menghitung fragmen yang terus berulang di sudut kegelapan. Apapun yang terucap akan menjadi luka, apapun yang dilakukan akan menjadi duri, menggerogot hati dalam tangisan yang menyayat, itulah yang terjadi ketika benang merah terputus. Hukuman kesalahan ini terlalu berat, menciptakan asa dengan kepedihan, saat semua tidak akan bisa kembali lagi...

...

Jari-jari meremas pinggiran meja dengan erat, jantung bertalu dalam kegusaran, otot kaki mati rasa karena lemas. Ia pun terusik karena tak bisa bernapas, ruangan terasa sesak, pandangan terlihat goyah karena fisik yang lemah dan tekanan aura mengecam. Dengan mata nanar ia menatap pria yang menyeringai dalam pandangan mata yang cerah namun seolah menyembunyikan tipu daya mengerikan dibaliknya.

"Apa yang kau lakukan... pada Luhan?" Kyungsoo menarik napas pendek, mengatur napasnya yang bergetar. "Kenapa... kau bisa ada di sini?"

Ia takut membayangkan apa yang terjadi pada Luhan, mengingat kemarahan Chanyeol selalu menimbulkan luka pada orang lain. Dan jika pria itu menyentuh Luhan karena dirinya, Kyungsoo tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.

Chanyeol berjalan mendekat, menarik sebuah kursi kayu yang berada di dekat jendela kamar, sebelum ia duduk di kursi itu. "Kau tidak perlu gugup sayang, aku hanya datang untuk berbicara. Duduklah," Chanyeol berkata begitu santai.

"Jawab pertanyaanku." Kyungsoo berucap seperti bisikan halus tetapi penuh penekanan.

"Kau pikir saat ini kau berada diposisi yang pantas marah padaku?" Balas Chanyeol dingin.

Kalimat itu memukul telak, tentu saja ia adalah pihak yang bersalah, atas hak apa ia bisa bersikap marah pada Chanyeol? di saat Chanyeol sendiri terlihat datang untuk menghakiminya. Tetapi jika penghakiman itu melibatkan orang-orang yang berharga baginya, ia tak bisa hanya berdiam diri.

"Apa yang kau lakukan pada Luhan?" Tanya Kyungsoo sekali lagi.

Seringai Chanyeol semakin lebar, "Sama seperti apa yang Jongin lakukan pada anak buahku." Jawabnya.

Wajah Kyungsoo begitu pucat, keringat dingin muncul di permukaan kulit, perutnya terasa mual membayangkan apa yang telah terjadi pada Luhan. Ia berpegangan semakin erat pada pinggiran meja hingga jari-jarinya tampak merah karena besarnya kekuatan yang berusaha ia salurkan untuk menahan tubuhnya agar tak jatuh tersungkur, air matanya mengalir dalam diam selama rasa sakit kehilangan ia rasakan.

Chanyeol memiringkan kepala mengamati Kyungsoo dengan lekat. "Apa wanita itu sangat berarti untukmu?"

Kyungsoo tak menjawab, air mata deras mengalir, punggungnya berguncang lemah namun tak ada satupun suara yang keluar dari tangisnya.

"Tetapi sepertinya nyawa wanita itu masih baik-baik saja, walaupun keadaannya mungkin tidak begitu baik."

Kyungsoo mendongak menatap Chanyeol dengan mata bertanya-tanya. Apa yang dia maksud? Apa yang terjadi pada Luhan?

"Mari bicara dengan tenang, sayang. Sebelum aku kehilangan kesabaranku." Lanjut Chanyeol sebelum Kyungsoo sempat melempar pertanyaannya.

Hanya dengan melihat tatapan mata yang berubah tajam itu ia bisa melihat bahwa kalimat itu adalah sebuah ancaman. Jika dengan begitu ia bisa menyelamatkan Luhan dari Chanyeol, ia bersedia mendengarkan seumur hidup, karena Luhan tidak hanya begitu berarti bagi dirinya, tetapi wanita itu juga adalah kakak bagi Jongin, dan istri yang sangat dicintai Sehun. Tidak hanya dirinya yang akan terluka, tetapi dua pria itu akan lebih terluka dari dirinya.

"Aku akan mendengarkan." Ucap Kyungsoo lirih.

"Bagus, memang itu yang kuinginkan." Chanyeol tersenyum, tetapi senyumnya terlihat berbahaya di mata Kyungsoo. "Aku datang untuk memberimu kesempatan berpikir dan memutuskan,"

"Apa yang sudah kulakukan adalah keputusanku." Sergah Kyungsoo tanpa ia sadari.

"Apa aku sudah mengatakan untuk mendengarkan saja apa yang akan aku katakan?" Balas Chanyeol penuh peringatan dalam nada dinginnya, dan Kyungsoo menunjukkan sikap patuh sebagai respon.

"Kurasa kau sudah mengerti." Ujar Chanyeol kemudian. Ia mengeluarkan bungkus rokok dan pemantik api dari saku jasnya, mengambil satu batang rokok dan menyelipkannya diantara bibir sebelum membakar ujungya dengan api. "Mungkin kau berpikir bisa lari dariku, tapi kau lupa satu hal yang pernah kukatakan padamu." Chanyeol menatap Kyungsoo tepat di matanya.

Ia tidak lupa. Bagaimana mungkin ia melupakannya.

"Sudah kukatakan, aku tidak akan mencampakkanmu untuk alasan apapun dan tidak akan pernah melepaskanmu dalam keadaan apapun. Sekalipun jika seandainya aku tidak mencintaimu lagi dan sampai akhir kaupun tidak bisa mencintaiku, tidak akan ada yang berubah. Bahkan jika seandainya aku sekarat, membunuhmu terlebih dahulu adalah hal yang akan kulakukan sebelum detik-detik menjelang kematianku. Karena aku hanya bertoleransi pada kematian yang bisa memisahkan kita." Chanyeol berkata penuh penekanan dalam setiap kalimat.

Kyungsoo tertegun. Apa yang pernah diucapkan Chanyeol jauh sebelumnya kini terdengar seperti mantra di telinganya, mengingatkan Kyungsoo kembali siapa pemilik kebebasannya, siapa yang berhak atas tubuh dan hidupnya. Hanya Chanyeol. Chanyeol yang berhak atas dirinya, karena sejak awal Chanyeol lah yang pertama kali menemukan dirinya, Chanyeol lah yang membebaskan dirinya dari belenggu sebagai pelacur. Ia tak memiliki hak apapun, bahkan ia tak memiliki hak atas nyawanya. Kyungsoo tertunduk, dadanya sesak dan sakit, air mata mengenang di pelupuk matanya, tetapi ia mencintai Kim Jongin...

"Setelah membawamu pergi dari rumah, kupikir dia akan membawamu pergi jauh, tak kusangka dia hanya menyembunyikanmu di rumah temannya sebelum membawamu kemari. Itu menunjukkan bahwa dia tidak benar-benar tertarik ingin membawamu, pria itu hanya berpikir tentang balas dendamnya pada kami." Chanyeol menghembuskan asap rokok dengan begitu santai. "Dia memang membuatku geram karena telah membawamu, tetapi tidak sulit untuk menemukan kalian dan melihat setiap gerak-gerik kalian."

Kyungsoo mengangkat kepala, jadi Chanyeol sudah mengawasi sejak awal? Lalu mengapa ia baru bertindak?

"Di mataku, Kim Jongin hanya terlihat seperti bocah yang sedang merajuk karena kami membuang Ibunya." Chanyeol tersenyum kecut. Abu rokok jatuh ke permukaan lantai selama api terus mengikis batangya. "Kuakui dia memang cerdik, menyelinap di perusahaan dan mencuri kepemilikan beberapa saham kami, tetapi Ayah sudah mengurus masalah itu sebelum Jongin menguasai semuanya. Saat ini dia pasti sedang sibuk dengan masalah itu."

Karena itu Jongin belum juga pulang? Karena dia sedang dalam kesulitan? Mengapa pria itu begitu malang? Mengalami masa kecil yang buruk, bergulat dengan ambisi balas dendamnya, hanya untuk merasakan sakit ketika mereka akan menhancurkannya kembali. Jika seperti itu, Kyungsoo ingin menghentikan Jongin, ia ingin membawa pria itu pergi jauh dari keluarga Park, ia ingin pria itu melupakan dendamnya, karena ia tak akan sanggup melihat Jongin terluka.

"Chanyeol..." Suara Kyungsoo menghilang dalam bisikan halus, dan ia tak bisa berkata apa-apa setelah itu. Tubuhnya merosot dengan lemah, ia bersimpuh, bernapas dengan berat. Tekanan demi tekanan sepertinya tak dapat ia tanggung lagi dengan tubuhnya yang lemah. Kyungsoo memegang perutnya, dan ia terisak dengan kepala tertunduk. Jongin...

Chanyeol berdiri dari kursi, berjalan mendekati Kyungsoo dan berhenti di hadapannya. "Aku tidak tertarik dengan masalah perusahaan, karena Ayah bisa mengatasinya dengan mudah. Kau lah tujuanku, dan aku sudah cukup bersabar menunggu agar kalian menyadari apa yang akan terjadi jika membuatku marah. Tetapi sepertinya kau tidak akan membuka matamu sebelum aku bertindak, jadi akan kukatakan situasi seperti apa yang akan terjadi jika kau tidak segera kembali padaku." Ujar Chanyeol, ia menatap Kyungsoo yang bersimpuh di hadapannya dengan punggung yang berguncang karena isak tangis, namun ia sama sekali tak mengurangi intimidasi dalam nada suaranya.

Ia menatap tajam pada Kyungsoo, kekejaman terlihat di dalam kepekatan matanya. "Jika dia tidak berhenti mengusik di perusahaan, Ayah akan menghancurkannya. Dan jika kau tidak kembali padaku, aku akan menghancurkan hidupnya dan mengambil semua miliknya, termasuk orang-orang terdekatnya. Setelah kehilangan segalanya, mungkin saja dia akan memilih akhir seperti Ibunya."

"Tidak!" Seru Kyungsoo, ia mengangkat wajah dan membalas tatapan Chanyeol dengan tajam. "Aku akan membunuhmu jika kau melukainya." Memikirkan apa yang diucapkan Chanyeol membuat Kyungsoo kehilangan rasa takutnya, sehingga ancaman itu terlepas begitu saja dari kehati-hatiannya.

Chanyeol berjongkok di hadapan Kyungsoo dan menyeringai. "Jika aku mati maka kau juga akan mati. Bukankah sudah kukatakan?" ucapnya, ia menyentuh rambut Kyungsoo dengan lembut. "Melihatmu seperti ini membuatku sakit, karena itu aku memberimu kesempatan untuk memutuskan apa yang akan kau lakukan. Dan agar membuatmu lebih mudah berpikir, lihatlah bagaimana keadaan wanita bernama Luhan itu."

Mata Kyungsoo melotot lebar, Chanyeol benar-benar melakukan sesuatu pada Luhan. "Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Kyungsoo dengan suara getir.

"Aku melakukannya dengan tujuan untuk memberi peringatan pada Jongin, tak kusangka wanita itu juga berarti bagimu. Anak buahku sudah lelah mengintai rumah suami istri itu, jadi aku menyuruh mereka segera menyelesaikannya agar mereka bisa cepat beristirahat." Nada suara Chanyeol terdengar begitu meremehkan. Ia kembali berdiri selagi masih menatap Kyungsoo. "Jika anak buahku tidak berlebihan, seperti yang kukatakan, mungkin nyawanya masih baik-baik saja."

Kyungsoo berusaha berdiri meski kakinya gemetar dan kepalanya semakin sakit. Jika terjadi sesuatu pada Luhan, Sehun, maupun Jongin, semua itu adalah salahnya, ini bukan waktu untuk khawatir pada diri sendiri, ia pun bukan wanita yang lemah jadi tak ada alasan untuk jatuh di saat krusial, karena itu ia harus memastikan bagaimana keadaan Luhan dengan mata kepala sendiri. Dengan langkah tertatih Kyungsoo berjalan melewati Chanyeol, semakin jauh langkahnya semakin cepat, Chanyeol menyeringai tipis menatap kepergian Kyungsoo.

Ia keluar dari rumah itu, berjalan ke arah kota yang ramai dan berdiri di pinggir jalan, kepalanya berdenyut dan pandangannya kabur, untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa tubuhnya begitu lemah. Saat dengan samar ia melihat taksi berjalan ke arahnya, Kyungsoo menghentikannya, memberitahu tujuannya sebelum menyandarkan tubuhnya lalu memejamkan mata. Pengemudi mobil bertanya tentang keadaan Kyungsoo saat melihat wajah pucatnya, ia menjawab bahwa ia baik-baik saja dan meminta agar sopir membawanya lebih cepat ke tempat tujuan. Setelah hampir satu jam perjalanan Kyungsoo tiba di rumah Luhan, meminta sopir taksi agar menunggunya karena ia tak sempat mengkhawatirkan tentang membawa uang sebelum ia pergi.

Kyungsoo berdiri di depan rumah, matanya membulat lebar melihat taman yang sebelumnya begitu cantik kini berubah berantakan dan hancur. Bunga-bunga berserakan, rumput hijau yang semula rata kini terlihat seolah telah di gali dengan membabi buta. Inikah yang dilakukan Chanyeol? lalu bagaimana dengan Luhan? Ia mempercepat langkahnya, menekan bel pintu dengan tergesa lalu seorang pelayan wanita membuka pintu. Saat menanyakan Luhan, pelayan itu memberitahu bahwa Luhan berada di rumah sakit setelah sekitar enam jam yang lalu wanita itu mengalami kecelakaan mobil saat perjalan menuju ke rumah Jongin untuk menemui dirinya. Tubuh Kyungsoo jatuh bersimpuh, membuat pelayan rumah menjadi panik, dan Kyungsoo kembali terisak.

Saat memutuskan untuk keluar dari rumah itu, Kyungsoo berpikir bahwa ia sanggup menerima apapun yang akan terjadi, tetapi ketika ia mengetahui bagaimana rasanya memiliki seseorang yang berharga untuknya, seorang wanita yang untuk pertama kali memberikan kasih sayang seperti seorang keluarga, serta berpikir bahwa pria yang dicintainya akan terluka karena dirinya, sekarang ia mengerti bahwa ia tak sanggup menerima hukuman itu. Mungkin hal ini tidak akan terjadi jika ia tidak lari bersama Jongin. Seandainya saja jika ia tahu bahwa ia akan melukai semua orang karena keegoisannya, ia tak akan pernah pergi dari rumah itu dan selamanya memilih tinggal di dalam pernjara keluarga Park. Tetapi semua itu hanya tinggal penyesalan...

...

Ia melihat dua orang pria tertunduk dengan ekspresi pilu, menunggu Luhan yang tengah menjalani operasi. Sehun terlihat meneteskan air mata dalam diamnya, tampak bahwa tak akan ada yang bisa memahami gurat kepedihan hatinya, yang seolah tak akan ada hari esok untuk kehidupannya. Di sisi lain, raut wajah memilukan itu, Kyungsoo hanya melihatnya ketika pria itu bercerita tentang Ibunya, dan kini untuk kedua kalinya ia melihat ekspresi itu saat dia menatap pintu ruang operasi, Jongin juga terluka, karena Luhan adalah keluarga satu-satunya. Walaupun mungkin Jongin sudah memperkirakan semua resiko yang akan dihadapi ketika memutuskan untuk membalaskan kebenciannya pada keluarga Park, tetapi bagaimana dia akan menatap dunia jika sekali lagi dia kembali kehilangan seseorang yang dikasihi.

Kyungsoo mencintai Jongin, sakit pria itu adalah sakitnya, karena itu ia ingin membebaskan Jongin dari semua belenggu dendam maupun rasa sakit. Mungkin ia tak akan bisa mengembalikan segalanya kembali seperti sedia kala, tetapi jika tawaran Chanyeol bisa melepaskan Jongin dari keadaan menyakitkan itu, maka pilihan apa lagi yang ia miliki saat ini? Tak ada. Hanya ada satu pilihan di ujung sana.

...

Sofa yang lembut tak memberi kehangatan pada tubuhnya, ia menarik kedua kakinya dan melipatnya dalam lutut yang menyentuh dada, meringkuk seperti bayi yang mencari perlindungan dari rasa dingin. Tatapan memandang taman di dalam kaca, pikiran mengurai kembali semua yang telah terjadi, ia terjebak dalam labirin tanpa pintu keluar, terpaku dalam antitesis tanpa pemecahan, dan satu-satunya solusi di depan mata adalah apa yang telah ditawarkan Chanyeol, yang berarti bahwa ia harus meninggalkan Jongin.

Kyungsoo memejamkan mata dalam keheningan, berpikir dengan hati-hati. Jika karena dirinya orang lain akan menderita dan terluka, pantaskah ia bertahan dengan egonya dan membiarkan semua itu terjadi sebagai pengorbanan demi kebahagiannya sendiri? Tidak. Ia tidak akan melakukan itu. Ia mungkin akan melukai Jongin dengan keputusannya, tetapi Kyungsoo tak sanggup melihatnya tersiksa dalam genggaman keluarga Park, meskipun ia tahu Jongin memiliki kapabilitas untuk menghadapi mereka.

Jari-jari tangan menyentuh perutnya, meskipun ia belum memastikannya secara akurat tetapi nalurinya berkata bahwa di sana ada malaikat kecil dari darah Jongin. Air mata menetes dengan perlahan dari sela mata yang tertutup, mengapa kebahagiaan yang ingin ia miliki harus menjadi dosa? Sungguh Kyungsoo hanya ingin bahagia.

Suara langkah kaki terdengar berjalan mendekat, Kyungsoo bergegas menghapus air matanya dan mengubah posisinya dengan berusaha duduk dengan natural sembari memperbaiki raut wajahnya menjadi terlihat mengeras. Jongin berdiri tak jauh dari sofa, menatap Kyungsoo dengan kerut di kening sebelum kemudian tersenyum tipis, namun itu sangat menyakitkan bagi Kyungsoo, karena garis bibir melengkung itu hanya sebuah kepalsuan, Jongin berusaha tersenyum, untuk menyembunyikan kesedihannya di depan dirinya, semua itu tertulis jelas di wajah Jongin.

Pria itu mendekat lalu memeluk Kyungsoo dengan erat, membuat Kyungsoo tercekat karena terkejut. Firasat Kyungsoo bisa menangkap dengan tajam, bahwa saat ini Jongin membutuhkan dirinya, Jongin membutuhkan tempat bersandar untuk sedikit mengistirahatkan kepenatannya, tentu saja, karena pria itu sedang terluka. Dengan ragu Kyungsoo mengangkat tangannya untuk melingkari punggung kokoh itu, namun wajah Chanyeol yang terlintas dalam benak memaksanya untuk menjatuhkan kedua tangannya kembali dengan kepalan kuat.

"Aku senang kau menungguku." Ucap Jongin lirih.

Air mata kembali mengenang, namun sekuat hati Kyungsoo menahan tangisnya. Jongin yang kini terlihat rapuh justru membuat tekadnya semakin kuat, dirinya pun terluka melihat pemandangan itu.

"Jongin..." Kyungsoo menetapkan hatinya.

"Maafkan aku. Aku memperlihatkan sisi diriku yang seperti ini." Sergah Jongin.

Tidak, kau boleh menjadi seperti apapun dihadapanku. Kau yang lemah, kau yang cengeng, kau yang kekanakan, kau yang manja, apapun...

Dada Kyungsoo terasa perih ketika tak bisa mengucapkan isi hatinya.

"Jongin..."

"Kau tidak menyukainya?"

Tidak.

Aku menyukainya...

"Maafkan aku. Saat ini aku tidak bisa bersikap seperti diriku." Jongin menenggelamkan wajahnya di leher Kyungsoo. "Kau membencinya bukan?"

Tidak.

Aku mencintaimu...

Air mata menetes dengan diam di balik punggung Jongin. Menahan diri agar tak terisak dan meraung.

"Aku ingin pulang."

Kata itu terucap, menembus kesunyian ruangan yang gelap setelah melalui proses yang tidak mudah. Jongin melepaskan pelukannya lalu menatap Kyungsoo.

"Aku ingin pulang." Ucap Kyungsoo sekali lagi. Seolah ia berusaha mendorong tekadnya agar tak runtuh saat melihat Jongin yang lemah.

Kening Jongin berkerut, ia berusaha membaca apa yang Kyungsoo ucapkan, apa yang Kyungsoo pikirkan, dan apa yang terjadi. Tetapi kali ini ia hanya melihat ekspresi datar wanita cantik itu.

"Disini adalah rumahmu."

"Tidak, ini bukan rumahku." Sergah Kyungsoo. Ia merasa seperti aktris yang berbakat, karena akhirnya ia melihat Jongin tak menyadari situasi yang ia hadapi.

"Ada apa?" Suara Jongin terdengar dingin dan tak suka.

Rahang Kyungsoo mengeras. Semua telah terencana dalam benak, tetapi mengapa begitu sulit untuk melakukannya. Ia tak boleh memperlihatkan sedikit celah dalam bentuk keraguan, karena sekali Jongin melihatnya, pria itu akan bisa membaca segalanya.

Tak ada pilihan...

Tatapannya berubah menjadi kebencian.

Kyungsoo beranjak mengambil gunting di atas meja samping sofa, kemudian menatap Jongin yang kini memperhatikan dengan bingung, dengan perasaan yang teguh Kyungsoo menarik rambut merahnya yang panjang lalu memotongnya.

Helaian demi helaian jatuh ke lantai. Suara rambut yang terpotong menjadi lonceng peringatan. Bahwa benang merah telah terputus.

Rambut merah yang bagi Jongin menjadi simbol benang merah dengan Kyungsoo, takdir yang menghubungkan mereka, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk membuat Kyungsoo merasa dilindungi ketika ia mengikatnya, kini telah tercerai-berai. Rambut itu tak bisa diikat lagi, karena telah begitu pendek.

"Kau sudah mengerti?" Tanya Kyungsoo lantang.

Tak ada jawaban. Mata Jongin menatap dingin. Seolah ia bermaksud untuk membekukan Kyungsoo di sana.

"Aku tidak perlu menjelaskan apapun, aku hanya bosan karena kau terus memperlakukan aku seperti tawanan yang harus menunggumu di rumah ini." Kyungsoo menggenggam kuat gunting di tangannya, ia mencari kekuatan untuk mendorong tekadnya lebih lagi. "Aku bosan karena aku selalu sendiri di rumah ini. Dan aku baru menyadari, kalau aku sudah melakukan kesalahan besar dengan pergi bersamamu. Aku—"

"Do Kyungsoo—"

"Park Kyungsoo." Sergah Kyungsoo cepat.

Ruangan menjadi hening, suasana menjadi tegang. Nama terlarang yang terucap seakan siap menjadi bumerang.

"Aku adalah Park Kyungsoo, istri dari kakakmu. Dan aku ingin kembali padanya. Aku ingin pulang." Kyungsoo tahu kalimat yang diucapkan akan menghantam Jongin dengan telak, karena itu ia memalingkan wajah katika mengatakannya.

"Kau tahu apa yang kau ucapkan?" Jongin akhirnya berkata. Nada suaranya dingin dan mengancam.

"Aku sangat sadar dengan apa yang aku ucapkan." Kyungsoo menoleh, berusaha tak menunjukkan rasa takut saat menatap mata tajam Jongin yang memperlihatkan kemarahan. Namun begitu, Kyungsoo bisa melihat luka di dalam mata pria itu.

"Bersamamu, aku hanya menderita. Aku tidak bisa hidup dengan terus melarikan diri seperti ini, aku tidak bisa hidup tanpa nama Park. Kau tidak bisa memberikan aku apapun, dan aku tidak tahan denganmu yang begitu lemah. Sekarang aku menyadari bahwa aku tidak mencintaimu." Kyungsoo tak tahu lagi apa yang keluar dari mulutnya.

Ruangan kembali hening. Keduanya terpaku dengan saling menatap tajam. Kyungsoo mengeraskan rahangnya agar tak terisak dan runtuh saat itu juga. Hanya ini yang bisa ia lakukan agar Jongin membencinya dan melepaskannya, karena jika dia mengetahui yang sebenarnya, maka akan terjadi sebaliknya, Jongin akan lebih memiliki motivasi untuk memperjuangkan dirinya dan harga dirinya. Karena itu, melukai Jongin satu-satunya yang bisa Kyungsoo lakukan untuk melepaskan penderitaan Jongin yang lain, dengan berpikir bahwa suatu saat nanti Jongin akan menemukan wanita baik dan dia akan melupakan dirinya.

"Aku menunggumu tidak dengan niat menyambutmu dengan manis. Aku ingin mengatakan perasaanku yang sebenarnya. Lagipula, sebenarnya aku tidak membutuhkan persetujuanmu untuk keluar dari rumah ini, karena kau bukan suamiku. Jadi—"

"Kyungsoo." Jongin memanggil.

Kyungsoo menelan ludah, wajah Jongin kini tak terlihat tegang, ekspresinya lembut dan tenang. Hal itu membuat Kyungsoo bingung dan bertanya-tanya. Tetapi ia sudah bertekad untuk tak mundur satu langkahpun.

"Tidak ada lagi yang harus dijelaskan."

Kyungsoo melangkah dengan cepat, melewati Jongin yang berdiri dengan diam. Ia berhenti di ambang pintu keluar lalu menoleh ke belakang, matanya melotot karena terkejut melihat apa yang ia saksikan saat ini, membuat hati Kyungsoo sakit dan hancur, Jongin berjongkok dan mengambil rambut Kyungsoo dari lantai, menggenggamnya dalam telapak tangan sembari memperhatikan dengan raut wajah sendu seakan ia bersedih menatap harta benda paling berharga miliknya hancur berkeping-keping. Saat itu air mata Kyungsoo mengalir begitu saja.

Maafkan aku...

Maafkan aku...

Aku sangat mencintaimu...,

Kyungsoo berjalan meninggalkan rumah itu. Memegangi perutnya dan terus berkata 'maaf' dalam hati. Apapun yang terjadi di depan jalan nanti, ia yakin malaikat Jongin akan melindunginya. Dan suatu saat nanti, ketika malaikat itu memiliki sayap, ia akan menunjukkan arah kemana dia harus terbang untuk menemukan Ayahnya, Kyungsoo berjanji. Ia tersenyum dalam tangis membayangkan masa depan dimana malaikat di dalam perutnya suatu saat nanti bertemu dengan Jongin. Mungkin itu hanya seperti mimpi semu, tetapi hal itu sedikit menghibur luka hatinya.

Wanita lacur ini mencintaimu. Karena itu berbahagialah. Dan temukan wanita yang baik untuk mengisi ruang di sampingmu.

Segala kerikil yang menghambat langkahmu, kabut yang menghalangi pandanganmu, duri yang melukaimu, aku akan menghapus semuanya untukmu.

...

Seringai pria itu menghina dan merendahkan. Mata menelanjangi tubuh menggigil yang berdiri di hadapannya. Kemudian dia tertawa, menggema dalam ruangan, seakan menegaskan bahwa dialah yang berkuasa.

"Selamat datang kembali, Kyungsoo."

.


To be continued...

[ 280815 | 0414 ]


.

Haloooo...

Saya minta maaf sudah membuat ff ini lumutan karatan jamuran dan sebagainya. Bulan puasa kemaren saya kecelakaan dan lengan kanan saya patah, seharusnya sekarang tangan saya masih harus istirahat total tapi temen-temen yang tak henti-hentinya nanya ff ini membuat saya gregetan pengen ngedit ff ini XD. Saya Cuma pakek satu tangan kiri jadi saya Cuma mampu ngedit sampek 4k.

Untuk yang susah membayangkan latar, situasi, kondisi, atau feel, saya sarankan untuk mendengarkan lagu "Beethoven, Fur Elise" sebelum membaca ff ini, atau saat sedang membaca ff ini, atau mungkin bisa setelah membaca ff ini. Saya yakin temen-temen akan mengerti apa yang saya bayangkan atau bagaimana dan seperti apa yang ingin saya sampaikan dalam ff ini—semoga^^.

Maaf dan terimakasih untuk yang masih ngikuti ff ini...^^

See you...

Lien.