Session talkshow
Bella : Yosh, Bella kembali lagi setelah hiatus beberapa saat.
Kazusa : Yap betul, berhubung liburan telah di depan mata. Mungkin author bakal aktif lagi di dunia fanfic.
Bella : Benar yang dikatakan Kazusa. Apa ada yang kangen dengan Bella (harap-harap cemas)
Kazusa : Nggak tuh.
Bella : Kita abaikan saja Kazusa. Oke minna, sebelum kalian baca chapter ini. Bella mau kasih tahu kalau akan ada tokoh baru di fanfic ini.
Kazusa : Yap betul, dan ini tokoh bikinan author alias OC pertama author.
Bella : Begitulah, dan perkenalkan jeng jeng jeng jeng… Hanagisa Akira.
Akira : (muncul dari balik tirai merah) Minna, apa kabar?
Kazusa : Author, kenapa namanya Akira, bukannya itu nama penanya author.
Akira : Iya, kenapa namaku Akira. Kenapa tidak Mio, Kana, atau apalah. Kenapa mesti Akira? (ikut-ikutan kepo)
Bella : Mau tahu saja atau mau tahu banget.
Kazusa dan Akira : Author…!
Bella : Sebelum Bella jawab, ijinkan para readers untuk membaca chapter ini dulu. Nah minna, selamat membaca!
Title : Vampire Game
Chapter 9 : New Student
Disclaimer : Kamichama Karin Chu © Koge Donbo
~Vampire Game~ © Bella-chan
Rated : T
Genre : Fantasy ; Mystery
Pairing : KazuRin
Warning : AU, OOC, typo, abal, gaje, alur kenceng, nggak nyambung, dll
Summary : "Aku pasti akan membalaskan dendamku pada kalian." / "Tidak, ini tidak mungkin. Kenapa sosok itu muncul lagi di hadapanku." / "Maksudku adalah apa benar dia itu anak tujuh tahun yang lalu." / "Kitalah yang menyebabkan dia menjadi begini." / "Berhentilah tersenyum Akira, seakan-akan kau orang yang paling baik sedunia."
.
.
Please Enjoy Reading
.
.
~Vampire Game~
Normal POV
Tampak seorang gadis tengah memandangi pantulan dirinya dalam cermin. Rambut hitam panjang yang diikat twintail dengan hiasan bunga sakura di kedua ikatannya. Mata yang beririskan warna hitam. Dan juga bibir mungilnya yang merah merona. Sosok gadis yang cantik, tapi siapa sangka dibalik wajah cantiknya tersembunyi sesuatu yang jahat. Wajahnya hanya sebagai topeng belaka.
"Aku pasti akan membalaskan dendamku pada kalian," ucap gadis itu pada pantulan dirinya.
Deg
Gadis itu langsung memegangi lehernya begitu dirasakan bekas lukanya terasa sakit. Rasa sakit ini mengingatkannya akan peristiwa tujuh tahun lalu. Saat dimana ia mendapatkan bekas luka ini dari seorang vampir yang tega membunuh orang tuanya lalu memberika kutukan ini padanya. Seumur hidup, gadis itu tidak akan melupakan hal itu. Tidak akan pernah!
(Bella : Untuk masa lalu gadis ini masih dirahasiakan)
(Kazusa : Author memang suka bikin orang penasaran saja)
(Bella : Namanya juga cerita ber-genre mystery)
(Kazusa : Ya sudahlah, aku ngikut saja)
"Arrghhh….!"
Gadis itu langsung meraung kesakitan. Tubuhnya terasa panas, denyut nadinya juga berdetak dengan cepat. Pikirannya mulai kacau sekarang.
Darah
Hanya kata itu yang terlontar dari bibir mungil gadis itu. Bahkan si gadis itu tampak terkejut, dia tidak menyangka ia akan berkata demikian. Ditatapnya pantulan dirinya lagi dengan rasa takut, dan tiba-tiba saja…
PRANG!
Gadis itu memecahkan cermin di hadapannya dengan tangan kanannya.
"Tidak, ini tidak mungkin. Kenapa sosok itu muncul lagi di hadapanku," ucap gadis itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah frustasi.
Gadis itu melirik tangan kanannya yang sudah berhenti mengeluarkan darah dan bekas lukanya pun sudah menghilang.
Yah, gadis itu bukan manusia biasa. Ia adalah seorang vampir, tepatnya ia adalah manusia yang diberi kutukan oleh para vampir.
~Vampire Game~
Karin POV
Pagi yang normal, aku melakukan aktivitasku seperti biasanya. Berangkat ke sekolah. Bertemu dengan teman-teman. Bergosip dengan Miyon. Yah, itulah rutinitasku di sekolah di waktu pagi. Tapi hari ini berbeda, sekarang ini aku bukanlah murid biasa yang bisa menjalani aktivitasku seperti hari-hari sebelumnya. Karena mulai dari kemarin sore, aku sudah resmi bergabung menjadi anggota dewan siswa. Aku hanya bisa berharap semoga tugasku sebagai dewan siswa tidaklah sulit. Meski aku meragukan itu.
"Karin, selamat pagi!" sapa Kazusa begitu aku sampai di depan kelasku.
"Yah, selamat pagi juga Kazusa. Kau mau kemana?" tanyaku heran begitu melihat Kazusa keluar dari kelas padahal sebentar lagi bel masuk berbunyi.
"Ehh itu, aku mau ke ruang dewan siswa. Ada yang harus aku kerjakan," jawab Kazusa.
"Jadi kau bolos hari ini?" tanyaku lagi.
"Hei, aku bukannya membolos. Aku sudah dapat ijin," ujar Kazusa sedikit kesal.
Memang benar, semua anggota dewan siswa diijinkan untuk tidak mengikuti pelajaran. Alasannya karena mereka selalu sibuk mengurus tugas-tugas mereka sebagai dewan siswa. Para guru tidak terlalu mempusingkannya, karena pada dasarnya para anggota dewan siswa itu pintar-pintar. Bahkan selama ini mereka masih bisa mempertahankan rangking mereka, meskipun mereka jarang mengikuti pelajaran.
"Ohh, kalau begitu aku bantu ya. Aku kan juga sudah jadi anggota dewan siswa," ujarku.
"Egh jangan!" tolak Kazusa.
"Kenapa?" tanyaku dengan nada kecewa.
"Karena nanti kau bisa ketinggalan pelajaran kalau kau ikutan bantu," terang Kazusa.
"Tapi kan-" Hampir saja, aku mau protes tapi langsung dipotong oleh Kazusa.
"Hmm bagaimana kalau begini saja. Kamu ikut pelajaran saja hari ini. Anggap saja ini juga tugasmu sebagai dewan siswa untuk memperbaiki nilai-nilaimu yang jelek. Dengan begitu, kau tidak terlalu memperburuk image dewan siswa sebagai murid berprestasi," jelas Kazusa.
Aku hanya bisa pasrah saja mendengar penjelasan Kazusa meskipun ada beberapa kalimat sindiran yang ditujukan padaku.
"Oke, kalau begitu aku pergi ya. Sampai jumpa, Karin!" ucap Kazusa yang setelah itu langsung pergi ke ruang dewan siswa.
Setelah sosok Kazusa sudah menghilang, aku pun segera masuk ke dalam kelasku dan langsung disambut oleh Miyon.
"Karin, kenapa kamu nggak cerita," ucap Miyon padaku.
"Cerita apa?" tanyaku bingung.
"Kamu jadi anggota dewan siswa kan, kenapa nggak bilang-bilang padaku," sewot Miyon.
"Ya ampun, bergabungnya saja baru kemarin sore. Lagian sebenarnya aku mau cerita ke kamu hari ini, tapi tak tahunya kamu sudah tahu duluan," ucapku.
Miyon hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Tapi, aneh ya. Kenapa kamu bisa diajak bergabung dengan dewan siswa. Memangnya kamu dekat ya sama mereka?" tanya Miyon penasaran.
"I-itu se-sebenarnya-"
Tet… tet… tet…
Aku langsung menghela napas lega begitu bel masuk berbunyi. Yang artinya aku tidak perlu menjawab pertanyaan Miyon tadi.
Aku dan Miyon pun langsung duduk di bangkunya masing-masing. Tidak butuh waktu lama, guru yang mengajar pun datang. Tapi yang membuat seluruh murid di kelasku terheran-heran, karena guru itu datang bersama dengan seorang gadis cantik berambut hitam panjang dengan ikatan twintailnya.
Tunggu dulu, kenapa aku merasa tidak asing dengan gadis itu ya. Aku pun mulai mengamati sosok gadis itu dengan baik-baik. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tanpa sengaja, mata kami saling bertemu dan seketika itulah aku tahu siapa gadis yang sedang berdiri di depan kelasku ini.
Gadis yang sama dengan gadis di dalam mimpiku.
~Vampire Game~
Normal POV
"Jadi benar tentang murid baru itu," ujar Kazusa pada yang lain.
"Bukannya tadi sudah aku jelaskan ya," ucap Kazune mengernyit heran.
"Maksudku adalah apa benar dia itu anak tujuh tahun yang lalu," ujar Kazusa memastikan.
"Bedasarkan info yang kami dapat sih benar," ucap Micchi yakin.
"Jadi dia itu-" Kazusa tidak melanjutkan kalimatnya lagi karena sibuk dengan pikirannya.
"Benar, dia adalah pion yang dimainkan oleh gadis itu," terang Kazune.
"Ck aku benar-benar tidak mengerti, dari semua orang. Kenapa gadis itu memilihnya untuk dijadikan pion," ucap Jin frustasi.
"Kau lupa ya, sejak awal dia memang sudah tidak menyukai kita," ucap Kazune mengingatkan.
"Benar juga, dia sudah tahu kalau kita vampir sedari awal kita bertemu dengannya," sahut Kazusa.
"Entah apa yang dikatakan oleh gadis itu, tapi aku berani bertaruh. Kedatangannya ke sekolah ini, pasti untuk menghancurkan kita," ucap Kazune.
"Tidak bisakah kita selesaikan ini dengan cara baik-baik?" pinta Himeka.
"Sayang sekali, kurasa mengingat sikapnya. Itu sama sekali mustahil," jawab Kazune.
Semua anggota dewan siswa yang mendengarnya cuma bisa menunduk sedih.
"Kurasa kita memang tidak punya pilihan lain," ucap Kazune memecah keheningan di antara mereka. "Lagipula kita tidak bisa membahayakan hidup orang lain," tambah Kazune.
"Apa maksudmu?" tanya Himeka.
"Iya, apa maksudmu. Aku sama sekali tidak mengerti perkataanmu," ujar Micchi dengan raut wajah bingung.
"Karin." Hanya nama itu yang keluar dari mulut Kazune.
"Karin, kenapa bisa sampai ke Karin," ucap Jin bingung.
"Iya, memangnya kenapa dengan Karin?" tanya Himeka yang juga bingung.
"Kalian tidak sadar ya kalau dia kemungkinan jadi sasaran dari dia," ujar Kazune.
"Egh kenapa bisa, bukannya dulu Karin dengan dia itu-"
"Itu dulu Jin, bukan sekarang. Apalagi Karin sudah bergabung dengan dewan siswa yang otomatis membuatnya berpikiran kalau Karin di pihak kita," jelas Kazune panjang lebar.
"Benar juga, kalau dipikir-pikir perkataanmu tadi ada benarnya juga," ujar Micchi sambil menganggukkan kepala.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Himeka pada anggota dewan siswa yang lain.
Semua anggota dewan siswa langsung berpikir keras, memikirkan jalan keluar yang terbaik.
"Untuk sementara kita awasi dia dulu kalau kita langsung bertindak, takutnya nanti dia jadi tidak stabil," terang Kazune.
"Apa maksudmu dengan tidak stabil?" tanya Himeka bingung.
"Kau sudah lupa ya kalau dia itu."
~Vampire Game~
Miyon POV
Aku hanya memandang malas ke arah murid baru yang sedang memperkenalkan dirinya itu.
"Selamat pagi teman-teman. Namaku Hanagisa Akira. Mohon bantuannya ya," ucap gadis itu sambil tersenyum manis yang sontak berhasil membuat sebagian cowok di kelasku tersipu malu.
'Tunggu sebentar, namanya Akira. Kenapa aku merasa tidak asing dengan nama itu. Dan kalau diperhatikan lagi, wajahnya mirip seperti… oh astaga, bukannya dia itu anak kecil itu,' batinku shock.
Cepat-cepat aku menoleh ke arah Karin untuk melihat reaksinya, tapi dia hanya menatap kebingungan ke arah gadis itu. Melihat reaksinya begitu, membuatku berpikiran kalau Karin.
'Apa dia menyadari ada sesuatu dengan gadis itu, tapi itu mustahil. Karin kan hilang ingatan, seharusnya dia tidak ingat kan siapa gadis itu,' ujarku dalam hati.
Akhirnya guru pun mempersilahkan murid baru itu untuk duduk dan kau tahu apa yang dikatannya. Dia meminta duduk di samping Karin, tapi tentu saja guru itu menolak, karena bangku di samping Karin itu bangku milik Kazusa. Alhasil gadis itu mendapatkan tempat duduk di samping kiriku.
Seketika pandangan mata kami bertemu, aku hanya menatapnya tajam. Tapi gadis itu malah melakukan hal yang tidak aku duga, yaitu tersenyum.
'Apa yang sedang dipikirkannya?' batinku tak mengerti.
~Vampire Game~
Normal POV
"Nah Kazusa kau sudah mengerti kan tentang tugasmu kan?" tanya Kazune pada saudari kembarnya itu.
"Iya ya, aku mengerti. Kalau begitu aku kembali ke kelas dulu ya," ucap Kazusa sembari berjalan keluar ruang dewan siswa.
Para anggota dewan siswa lainnya hanya menganggukkan kepala.
"Selamat berjuang Kazusa, semoga kau kembali dengan selamat!" seru Micchi yang langsung mendapatkan jitakan keras dari Jin.
"Kau pikir dia pergi untuk berperang. Heh," ujar Jin kesal.
Namun Micchi hanya menjawab dengan cengiran lebarnya.
"Jadi Kazune, kita tidak melakukan apa-apa nih?" tanya Himeka.
"Siapa bilang kita tidak melakukan apa-apa. Nih banyak tugas yang harus kita selesaikan sebelum bel pulang sekolah," sewot Kazune seraya menunjuk tumpukan kertas di meja kerjanya.
Sontak semua yang ada di dalam ruangan itu kecuali Kazune memasang wajah horror.
"Ka-Kazune, jam ketiga nanti. Kelasku dan Jin ada ulangan Matematika. Jadi kami harus kembali ke kelas sekarang," ujar Micchi yang langsung mendapat anggukan kecil dari Jin.
"Jangan coba kabur!" seru Kazune tak lupa dengan tatapan death glare-nya.
Micchi dan Jin langsung ciut. "Baiklah," ucap mereka pasrah.
Akhirnya para anggota dewan siswa yang 'tersisa' segera menyelesaikan tugas mereka.
Back to class
Karin POV
Tet… tet… tet…
"Agh akhirnya istirahat juga," ujarku sambil merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku selama pelajaran berlangsung.
"Halo, namamu Karin kan," ucap Akira yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingku.
Langsung saja jantungku berdetak kencang begitu mengingat mimpiku kemarin. Tapi kalau diperhatikan baik-baik gadis ini ramah padanya. Bukannya malah menunjukkan sikap bermusuhan.
"Kenapa diam saja?" tanya Akira sambil memiringkan kepalanya, tanda bahwa ia bingung.
Akhirnya setelah memikirkan beberapa pertimbangan, aku memutuskan untuk membalas ucapannya. "Iya, senang berkenalan denganmu," ucapku ramah.
Gadis itu hanya diam menatapku lalu beberapa menit kemuadian, ia kembali memasang senyum manisnya. "Iya, aku juga. Sayang sekali aku tidak bisa menjadi temanmu ya."
'Egh apa maksud perkatannya, tidak bisa menjadi teman. Jangan-jangan dia beneran-'
Belum selesai dengan pemikiranku. Tiba-tiba saja Kazusa sudah berdiri di sampingku. Kenapa sekarang aku merasa orang-orang suka tiba-tiba muncul di sampingku ya.
"Wah, kau pasti anak baru ya yang ramai dibicarakan orang itu ya," ucap Kazusa dengan senyum manisnya.
"Iya, apa kau yang bernama Kazusa ya?" tanya Akira seraya tersenyum balik.
"Ehh, kau sudah tahu namaku. Benar namaku Kazusa, Kujyou Kazusa. Siapa namamu?" tanya Kazusa terlihat antusias.
"Hanagisa Akira, senang berkenalan denganmu," ujar Akira sembari tersenyum manis.
"Aku juga, senang bertemu denganmu," ucap Kazusa senang.
Entah ini hanya perasaanku saja atau tidak. Tapi aku merasa kedua gadis manisini sama-sama mengeluarkan aura tidak mengenakkan. Meskipun mereka berdua memasang senyum satu sama lainnya.
"Oh ya Karin, kita harus ke ruang dewan siswa sekarang," ucap Kazusa seraya menarik tanganku. "Kalau begitu, kami berdua permisi dulu ya," lanjut Kazusa yang setelah itu langsung menyeretku keluar kelas.
Ternyata Kazusa tidak membawaku ke ruang dewan siswa, dia malah membawaku ke kantin sekolah.
"Lho Kazusa, bukannya tadi kau bilang kita harus ke ruang dewan siswa. Kenapa kita malah pergi kesini?" tanyaku bingung.
"Iya, tapi nanti. Kita kabur saja dulu sampai tugas-tugasnya diselesaikan sama mereka," ucap Kazusa sambil memakan roti pisangnya. "Lagipula, sekarang ini aku juga sedang dalam misi," lanjutnya.
"Misi, misi apa?" tanyaku penasaran.
Sontak saja Kazusa menghentikan kegiatan makannya lalu menoleh ke arah Karin. "Misi untuk mengenyangkan perut," ucapnya yang langsung tertawa.
"Kazusa, jangan bercanda," ujarku kesal.
"Hehehe maaf, ya sudah cepat kita makan," ujar Kazusa yang sudah kembali melanjutkan acara memakan rotinya.
Aku hanya menurut saja. Aku pun segera membuka palstik pembungkus rotiku lalu memakannya. Entah kenapa aku merasa, Kazusa tadi berbohong padaku, tapi aku juga tidak bisa menanyakannya. Ya sudahlah, sebaiknya aku tidak usah memusingkan itu.
~Vampire Game~
Normal POV
"Apa yang ingin kau bicarakan Miyon?" tanya Akira begitu tadi dia dipanggil ke atap sekolah oleh Miyon.
"Apa maksudmu?" tanya Miyon tanpa basa-basi.
"Apa maksudku, aku sama sekali tidak mengerti ucapanmu Miyon," ucap Akira polos.
"Jangan berpura-pura bodoh, karena aku tahu kau tidak bodoh!" seru Miyon kesal.
"Baiklah aku menyerah, kurasa kau tidak bisa diajak main-main," ujar Akira sambil menghela napas.
"Baguslah kalau kau mengerti, sekarang jawab pertanyaanku. Apa maksudmu kembali lagi kesini?" tanya Miyon.
"Tentu saja untuk mengenang masa kecilku," jawab Akira seraya tersenyum manis.
"Berhentilah tersenyum Akira, seakan-akan kau orang yang paling baik sedunia," ujar Miyon kesal.
"Tapi aku tidak pernah merasa seperti itu," ujar Akira tanpa menghilangkan senyum dari wajahnya.
"Tapi kau melakukannya. Berhenti memasang topengmu itu, karena kau tak akan bisa membodohiku!" bentak Miyon.
"Ugh kau mulai menyebalkan Miyon," ucap Akira dingin.
"Bukannya kau ya yang menyebalkan," sindir Miyon.
"Yah aku tahu kalau aku menyebalkan, tapi kau lebih lebih lebih menyebalkan," ujar Akira.
"Sudah cukup, dari tadi kita hanya berputar-putar saja. Aku mau langsung tanya, kenapa kau berpura-pura tidak mengenal Karin. Padahal aku tahu betul, kaulah yang lebih mengenalnya?" tanya Miyon.
"Aku hanya mengikuti permainan yang kalian mainkan," jawab Akira singkat.
"Apa maksudmu?" tanya Miyon tak mengerti.
"Bukannya kau juga berpura-pura menjadi teman yang baik, padahal kau sendiri menyembunyikan sesuatu darinya," terang Akira.
"Aku melakukannya demi kebaikan Karin," bantah Miyon.
"Oh ya, demi kebaikannya Karin atau demi kebaikanmu sendiri," ucap Akira sinis. "Lagipula jika kau benar-benar sahabatnya seharusnya kau tidak menyembunyikan apapun darinya," lanjut Akira.
"Terus kenapa memangnya, kau mau membongkarnya," tantang Miyon.
"Tentu saja," ucap Akira tegas.
"Kau gila, oh ya aku lupa. Kau kan sedang membutuhkan bantuan. Makanya kau ingin Karin tahu, lalu menghasutnya supaya melakukan apa yang kau inginkan. Kau munafik, Akira!" seru Miyon.
"Bukannya kau ya yang munafik, dihadapannya kau seperti sahabat yang baik. Tak tahunya, kau malah menyembunyikan sesuatu darinya. Apa itu yang disebut sahabat!" seru Akira lumayan keras.
"Setidaknya aku tidak sepertimu yang terus memakai topeng sok sucimu itu padahal di dalamnya hatimu busuk upss," ucap Miyon yang langsung menutup mulutnya begitu ia sadar ia sudah bicara kelewatan.
"Kau benar, selama ini aku hanya memasang topeng dan apa yang kulakukan selama ini hanya akting. Entah kenapa semenjak tujuh tahun lalu, hatiku juga mulai membeku. Aku sudah tidak peduli lagi, apa yang kulakukan selama ini salah atau benar, aku tidak peduli. Yang pasti aku akan membalaskan dendam orang tuaku," terang Akira sambil menundukkan kepalanya.
"Akira…." Miyon mulai diselimuti rasa bersalah.
"Sudahlah sebaiknya kau juga tidak usah menahanku, aku pasti akan memberitahu Karin. Bagaimanapun caranya, Karin harus tahu yang sebenarnya," ujar Akira yang setelah itu langsung pergi meninggalkan Miyon sendirian di atap sekolah.
"Akira, maafkan aku. Aku tahu, dari lubuk hatimu yang paling dalam kau bukanlah orang jahat," ujar Miyon lirih.
.
.
To Be Continued
.
.
Please Review
Session talkshow
Bella : Bagaimana ceritanya. Baguskah atau jelekkah?
Kazusa : Biasa saja.
Akira : Iya, nggak ada seru-serunya.
Bella : (dengan tatapan membunuh) Harta atau nyawa?
Kazusa : Ha-harta (mulai panik)
Akira : Nyawa saja deh. Kan nanti bisa beli lagi pakek harta.
Bella dan Kazusa : (langsung sweatdrop berjamaah)
Akira : Oh ya author, pertanyaan yang tadi jawab dong. Kenapa namaku Akira?
Bella : Mau tahu alasannya kenapa?
Akira dan Kazusa : (langsung menganggukkan kepalanya)
Bella : Alasannya karena Bella suka saja nama itu.
Akira dan Kazusa : (langsung cengo)
Bella : Oh ya minna, Bella mau minta maaf. Chapter ini nggak ada balasan review soalnya Bella update-nya di sekolah. Dan di rumah lagi nggak ada pulsa modem. Jadinya Bella harus update di sekolah dan ini Bella bikinnya buru-buru soalnya Bella mau pulang ke rumah. Jadi begitulah ceritanya.
Kazusa : Kenapa update-nya nggak besok saja. Kan bisa?
Bella : Jangan, Bella mau update-nya sekarang. Pokoknya harus hari ini (mulai ngotot)
Kazusa : Ya ya, sudah sana cepat pulang (langsung nendang author)
Akira : Oke, dengan demikian selesailah chapter ini.
NB : Maaf kalau gaje session talkshow-nya. Untuk balasan review di gabung dengan chapter 10 ya kalau enggak nanti dibalas lewat PM kalau yang punya akun ya. Dan untuk nasib kelanjutan fanfic Bella lainnya. Diusahakan liburan bakal di update. Jadi tunggu saja ya. Sekian dan bye bye semuanya v(^_^)v
