Summary: "Kau masih mencintaiku Slaine. Aku bisa melihatnya dari matamu. Kau hanya masih marah karna yang kulakukan kan?"
Disclaimer: Gen Urobuchi, Katsuhiko Takayama
Genre: Romance, YAOI ALLERT
Rate: T
Pairing: Inaho x Slaine
Warning: OOC, typo eperiwer~~~~ , BL, Yaoi, Absurd, gak nyambung dengan summary, bahasa berantakan
Balasan review 'Cause Its You chap 8'
River: seneng banget liat Iaho menderita. Gak kasian sama muka datarnya Inaho? ehh hahaha.. mau request apa? fufufufu
Fujoshi Desu: Sci-fi Mpreg? Hmmm boleh-boleh (tapi nayri ide dulu yah hehehehe)
: dan saya juga belum kebayang gimana Inaho bisa pulih. Mungkin selamanya bakal hilang ingatan phuahahahaha /Gaaaaaaak
Chi-Chan: Masih belum tau Chi-chan sayang. Mungkin saja ch depan tamat, atau mungkin 10 ch lagi tergantung mood sih. Muehehehehe /gaaaak
ChocoBanyla: Padahal niat awalnya bikin Inaho itu jadi rapuh kayak Slaine loh. Tapi karakternya gak cocok jadi rapuh seperti itu. Jadilah dia yandere saat galau. Seme itu kalau galau cocoknya emang jadi yandere/whaaat
Aya-chan: cieeeee Aya nangis cieeee.. maaf gak bisa temenin fg-an hp lagi rusak hiks. Modem juga minim kuota. Kalau ada apa-apa hubungi bbmnya si Yanna aja yah, kalau ada info tentang 'event of the daynya AZ' plz sms ke no as-ku biar bisa dibuatin ff spesial kayak waktu pocky. Kalau ada fanart Yahuut kirim ke line ku yah (karna bisa saja sewaktu-waktu diriku on line di pc) . ini anak banyak maunya hahahaha
Vey: iya de' baru sadar masih ada typo hiks OTL
Balasan review '1111'
9798: Makasih kalo suka .. hehehe Iya kalo ada event InaSure diusahain bakal buat oneshotnya.. Makasih selalu mendukung heheheh
Rosiel: I'm glad you like that
Balasan review 'Daddy I Love You'
Rosiel: Hahaha all hail first sight
DON'T READ , IF YOU DON'T LIKE STORIES ABOUT BL~~
CAUSE ITS YOU
(chap 8)
"Bukan Game yang Bisa Direstart"
From: Inaho Kaizuka
Title: [no title]
Subject: Kau kelihatan imut saat mengikat rambutmu seperti itu. Bisa dilepaskan saja? Aku tidak mau orang lain jatuh hati kepadamu saat melihatmu seperti itu
Slaine melirik keluar minimarket tempatnya bekerja. Di seberang jalan Slaine melihat sosok Inaho berdiri –membelakangi minimarket– di tengah-tengah hujan salju. Memakai mantel biru gelap kesukaannya dan melilitkan syal merahnya hampir menutupi seluruh kepalanya. Hanya 2 tangkai rambut coklatnya yang menonjol bergoyang karna tertiup angin musim dingin. 'Si bodoh itu! Bukannya dia tidak tahan dingin? Kenapa malah berdiri seperti orang bodoh di sana?' Slaine menggerutu dalam hatinya, mengambil mantelnya dan melilitkan syal putih miliknya.
"Aku izin keluar sebentar." Ucap Slaine kepada teman satu shiftnya seraya berlari, memasukkan tangannya di kedua saku jaket miliknya. Pria bernama Kanclain yang melihat Slaine berlari tergesa-gesa hanya bisa menggelengkan kepala seraya tersenyum saat melihat arah tujuan Slaine 'Dasar anak muda' ucapnya kepada diri sendiri sambil kembali menata barang-barang di rak-rak minimarket.
Slaine menyentuh pundak lelaki berambut coklat itu. "BODOH! APA YANG KAU…. SIAPA?" tanya Slaine. Pria itu bukanlah Inaho. Slaine bahkan tidak tau siapa orang itu, dan apa tujuannya memakai pakaian persis seperti Inaho. Orang di hadapannya tidak menjawab, hanya tersenyum mengejek kepada Slaine. Dan tiba-tiba semua menjadi gelap.
…..
"Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan?" Slaine meronta, tapi tenaga tiga orang yang entah siapa mereka lebih besar darinya. Dua orang memegang kaki dan tangan Slaine sementara orang dengan rambut coklat persis seperti Inaho menggerayangi tubuhnya. Mencekoki si pirang dengan 3 butir pil aneh yang membuat sekujur tubuh Slaine terasa panas.
"Kurasa sebentar lagi obatnya akan bekerja" ucap orang yang memegang tangannya.
"Untung Inaho memberikan kita obat seperti ini" Lanjut orang yang memegang kaki Slaine.
"Bodoh! Kenapa kau menyebut nama tuan Kaizuka?" Orang yang sedari tadi melucuti pakaian milik Slaine menatap tajam ke arah kedua temannya yang menurutnya terlalu banyak bicara.
"Ti..tidak apa-apakan? Cepat atau lambat si pirang yang manis ini juga pasti tau kalau Tuan Inaho Kaizuka adalah dalang di balik semua ini." pria yang memegangi kaki Slaine berkata acuh.
Slaine tidak lagi meronta. Seketika semua tenaganya seperti habis begitu saja saat mendengar mereka menyebut nama Inaho. Pandangan Slaine berubah buram, air mata yang sejak tadi dipendamnya tumpah begitu saja. Suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Benarkah pendengarannya? Benarkah orang-orang ini menyebut Inaho?
"Tidak.. mungkin Inaho.. yang ada.. di balik semua ini.." Slaine berkata terbata dengan suara lirih, kalimat yang ditujukan untuk dirinya sendiri.
"Menurutmu e-mail yang kau terima dari siapa kalau bukan dari Tuan Kaizuka?" sekarang orang yang sejak tadi berada di atasnya mulai bertanya. Pertanyaan yang seketika menghancurkan semua harapan Slaine bahwa 'bukan Inaho di balik semua ini'. Slaine diam, pertanyaan yang diterimanya sudah menjelaskan , semua ini adalah perintah Inaho.
"Hah… Hah… Hah…" nafasnya pendek-pendek, tubuhnya penuh keringat khas orang yang baru saja mendapat mimpi buruk.
"Bermimpi buruk lagi Slaine?" sapa Harklight yang membawakan sarapan pagi untuk Slaine.
"Harusnya kau membangunkanku. Hari ini kan jadwalku membuat sarapan"
"Tidak apa-apa, Harklight hanya kebetulan bangun lebih awal. Dan tidak enak membangunkan Slaine yang tertidur sangat lelap." Harklight duduk di kursi yang menghadap tepat ke jendela. Sedikit kaget saat Slaine tiba-tiba sudah berada di hadapannya, menyuapkan makanan untuk dirinya.
"Kau juga harus makan"
Harklight hanya tersenyum mengangguk menerima suapan dari Slaine.
~O~O~O~O~O~O~O~
"Nao-kun? Apa yang kau lakukan?" Yuki yang malam sebelumnya kebetulan menginap di rumah adiknya sedikit terkejut melihat Inaho yang sepagi itu sudah mondar mandir di dapur. Tangannya sibuk mengaduk-aduk adonan. Berbagai krim warna warni juga terlihat memenuhi beberapa wadah yang ada di atas meja dapur.
"Membuat cupcake. Firasatku bilang Slaine suka cupcake. Kuharap dia akan memaafkanku jika membawakannya cupcake buatanku" Inaho kembali fokus dengan apa yang tengah dia kerjakan. Sesekali melirik ponselnya untuk memastikan bahwa cupcake buatannya sesuai dengan resep.
Di tempatnya Yuki hanya bisa menatap adiknya khawatir, tidak berani mengeluarkan sepatah katapun. Pertama kalinya dalam hidupnya Yuki berharap ingatan Inaho segera kembali. Mungkin jika Inaho seperti dulu, dia tidak akan bersikap seperti ini. Dia bahkan sudah kehilangan Inko dan Inaho yang dulu bisa kembali seperti tidak terjadi apa-apa dalam 2 hari. 'Inaho bersikap seperti ini karna dia kehilangan ingatan, kehilangan jati dirinya'.
"Yuki-nee, kira-kira Slaine suka apalagi selain cupcake?" Inaho yang sudah selesai dengan kesibukannya duduk di hadapan Yuki. Menopang dagunya dengan kedua tangan, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu kepada kakaknya sendiri.
"Aku tidak tau Nao-kun, aku saja baru bertemu dengannya sekali. Saat kita makan malam bersama"
"Jadi kita pernah makan malam bersama? Waktu itu apa yang terjadi? Bisa kau ceritakan padaku?"
"Ano.. itu.."
~O~O~O~O~O~O~O~
"Maaf Tuan, bisakah Anda pergi sekarang juga? Antrian di belakang Anda semakin panjang" Slaine menatap datar pria yang memakai penutup di mata kanannya itu. Hari ini orang itu sudah lebih dari tujuh belas kali ikut mengantri untuk membayar barang belanjaannya. Dan setiap kali ikut mengantri kereta belanjaannya selalu penuh. Bayangkan sudah berapa banyak uang yang dihamburkan orang itu.
"Baiklah. Aku akan kembali mengantri lagi" jawab Inaho tenang. Mendorong kereta belanjaannya yang berisi banyak sekali barang yang sudah di kemas dalam kantong. Inaho menuju parkiran, membuka mobilnya yang nyaris penuh sesak dengan berbagai barang yang tadi dibelinya hanya agar bisa berbicara atau melihat Slaine yang hari itu kebetulan bekerja di salah satu pusat perbelanjaan sebagai kasir. 'Mobilku sudah tidak muat, barang-barang ini harus kuapakan? Aku bahkan tidak butuh mereka.' Inaho melayangkan pandangannya ke segala arah berharap menemukan solusi dari masalahnya ini. 'Kalau begini aku tidak mungkin bisa masuk ke dalam lagi untuk berbelanja, yang artinya tidak bisa melihat Slaine lagi'.
"Inaho? Kau Inaho kan? sudah lama kita tidak bertemu. Kurasa sudah lebih setahun. Terakhir kita bertemu saat pemakaman Inko.. Ahh maaf-maaf, aku tidak bermaksud." Sapa seorang wanita berambut kuning panjang namun sedikit berombak. Wanita itu terlihat ramah, namun sedikit tidak bisa menahan ucapannya. Itulah kesan pertama yang ditangkap Inaho.
"Maaf, apa kita saling kenal?"
"Aku tau kau ini sombong. Tapi bisa-bisanya kau melupakan teman kuliahmu sendiri. Meskipun ini bercanda, ini sedikit menyakitkan Inaho"
"Maaf, beberapa waktu lalu aku mengalami kecelakaan karna itu ingatanku hilang"
"APA? KAU TIDAK BOHONGKAN?" kali ini wanita itu tampak sangat terkejut. Tidak menyangka temannya ini bisa bernasib seburuk ini. Kurang dari dua tahun dan dia mengalami dua kali kecelakaan parah? Pertama kehilangan Inko dan kecelakaan kedua kehilangan ingatannya? "Aku Nina. Dulu Kau, Aku, Inko dan juga Calm kita berempat teman. Kau dan Inko akhirnya memutuskan menikah, tapi…"
"Yah, aku sudah mendengar cerita itu. Nina? Bisakah kau membantuku?"
"Ya?"
"Aku baru saja membeli barang-barang yang tidak kubutuhkan, sekarang aku bingung harus membuangnya di mana. Bisakah kau membantuku membuang ini semua?" Inaho menunjukkan barang di dalam mobilnya. Nina hanya mematung dengan sedikit mulut menganga. Dia tau Inaho ini memang sedikit 'agak sinting' selama ini. Tapi baru kali ini dia melihatnya dengan kepalanya sendiri. untuk apa dia membeli barang sebanyak ini jika hanya untuk membuangnya? Ayolah, Nina tau Inaho itu orang kaya, tapi caranya menghamburkan uang ini benar-benar sudah melampaui batas kewarasan Nina. Nina sedikit memijat pelipisnya yang tiba-tiba sakit melihat tingkah Inaho.
"Kau tidak membutuhkannya? Tapi kau membelinya? Kecelakaan itu membuatmu jadi kurang waras!"
"Jadi kau mau membantuku atau tidak?" Tanya Inaho mengacuhkan Nina.
"Masukkan semuanya ke mobilku"
"Bisa kau lakukan sendiri? Aku sedang buru-buru"
Inaho meninggalkan mobil, barang belanjaannya dan Nina begitu saja. Kembali masuk ke pusat perbelanjaan besar itu. Lagi-lagi mendorong kereta belanjaannya. Memasukkan asal barang-barang ke sana dan kembali mengantri di kasir untuk bertemu… Inaho menggosok matanya, sekali lagi melihat ke arah kasir, di sana tidak ada lagi orang yang mengenakan papan pengenal Slaine di dadanya. Inaho menarik kereta belanjaannya keluar dari antrian, meletakkannya di pojok yang tidak terlalu banyak orang lalu berlari keluar dari pusat perbelanjaan.
Seketika kakinya bergerak seperti orang kesetanan saat melihat Slaine bergandengan tangan dengan Harklight. Salah satu tangan Slaine bahkan masuk ke mantel tebal Harklight setelah mereka berdua saling berpegangan tangan. Seperti orang bodoh, Inaho menarik lengan Slaine agar menjauh dari Harklight. Menyebabkan si surai pirang terhuyung ke samping dan akhirnya menubruk pagar pembatas jalan yang terbuat dari besi. Tidak hanya itu, pergelangan kakinya juga baru saja mengeluarkan bunyi aneh yang membuat muka Slaine berubah menjadi merah, terlihat meringis saat mencoba berdiri. Kulit putih Slaine berubah warna menjadi merah tepat di pergelangan kakinya yang membengkak.
Dengan sigap Inaho menggendong Slaine ala putri, membuat beberapa pejalan kaki berhenti sejenak untuk mengeluarkan komentar 'Wooow' atau sekedar mengabadikan moment yang menurut mereka terlihat manis.
"Harklight bisa kau membantuku?" Slaine sekali lagi berpura-pura tidak melihat Inaho yang sekarang ini sedang menggendongnya.
"Kita akan ke rumah sakit" Inaho tidak terlalu mempedulikan sikap Slaine kepadanya. Wajar saja Slaine bersikap seperti itu. Bukannya ini semua salahnya sampai-sampai kakinya harus seperti itu?
"Harklight" Sekali lagi Slaine memanggil Harklight. Membuat pria jangkung itu mau tidak mau berusaha merebut Slaine dari Inaho. Tapi bukan Inaho namanya jika dia membiarkan Harklight mengambil apa yang dirasa adalah miliknya.
"Tuan. Bisa Anda turunkan saya di sini?"
"Slaine. Kita harus segera ke rumah sakit jika ti…"
PLAAAAAAAAAK. Slaine yang sudah tidak bisa menahan kesabarannya akhirnya menampar Inaho keras. Inaho hanya bisa manatap pria yang masih digendongnya itu, mulutnya seperti terkunci. 'Aku pantas menerimanya. Bahkan ini tidak cukup untukku karna malam itu juga pernah menamparnya'.
Sementara itu Harklight dengan cepat mengambil Slaine dari pelukan Inaho. Menggendong Slaine di punggungnya menuju klinik yang berada tidak jauh dari tempat itu. Inaho masih di tempatnya, tangan masih dengan posisi menggendong. Orang-orang yang tadi sempat melontarkan kata 'wooow' sekarang meninggalkan Inaho satu persatu. Pura-pura tidak melihat adegan perebutan pria berambut kuning yang baru saja terjadi. Mereka kembali ke kehidupannya masing-masing, sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Meninggalkan Inaho yang sekarang lebih terlihat seperti orang idiot di tengah kota.
~O~O~O~O~O~O~O~
Slaine duduk di bangku taman menunggu Harklight yang beberapa waktu lalu pergi membeli minuman, pergelangan kakinya masih terasa sedikit sakit dan berdenyut-denyut. Mungkin karna udara dingin juga yang membuat keseleonya terasa lebih sakit dari yang pernah dia alami. Mungkin juga karna tidak percaya bahwa dirinya baru saja menampar Inaho dengan tangan sendiri. Atau mungkin saja karna setiap kali melihat bahkan mengingat pria bernama Inaho, kejadian malam itu seperti sekali lagi dialaminya. Slaine bahkan tidak tau salah apa yang telah diperbuatnya sampai Inaho tega menyuruh 3 orang itu berbuat hal sekejam itu kepadanya.
Seperti semua orang begitu pula Slaine, udara sedingin itu membuat nafas yang mereka keluarkan terlihat seperti uap. Slaine meniup-niupkan uap tepat ke telapak tangannya yang memang tidak memakai sarung tangan. Kenangannya kembali jauh di masa kanak-kanaknya jauh sebelum ibunya bertemu dengan pria bernama Saazbaum.
Hari itu tidak jauh dari sebuah resort ski Slaine duduk bersandar di salah satu pohon pinus yang daunnya nyaris tidak terlihat karna tumpukan salju. Pergelangan kaki kirinya bengkak saat tanpa sengaja dia terjatuh saat bermain ski. Jangankan kembali ke penginapan, untuk berdiri saja Slaine harus susah payah menahan sakit di kakinya. Tubuhnya kedinginan, baju yang dikenakannya sudah mulai lembab akibat salju yang menempel dan kemudian mencair. Slaine hanya bisa menangis, berharap Ayah, Ibu atau siapapun dapat membantunya pulang ke penginapan agar dia bisa segera meminum coklat pana untuk menghanagtkan tubuhnyas.
"Hei Kau baik-baik saja?" suara seseorang menghentikan Slaine dari tangisannya. Dengan berat dia menatap ke arah orang tersebut. Ingin rasanya dia mengubur dirinya sendiri di tumpukan salju saat melihat orang yang menyapanya adalah seorang anak kecil sama sepertinya, terlebih itu anak perempuan yang jauh lebih kecil darinya dengan rambut pendek yang dikuncir dua. 'Dia pasti menganggapku cengeng!'
"Aku baik-baik saja!" Jawab Slaine berbohong
"Ya sudah, hari sudah hampir malam. Cepatlah kembali ke pengiapan. Di sekitar sini ada hantu wanita yang suka memakan anak kecil cengeng sepertimu" anak itu melambaikan tangan setelah memunggungi Slaine. Membuat Slaine akhirnya menangis lebih keras dari tadi
"Aku tidak cengeng! Hueeee aku tidak cengeng! Hiks!
Anak yang tadi berbalik, berlari cepat ke arah Slaine "Kau menangis karna itu? Karna takut dibilang cengeng? Bukan karna hantu?" tanyanya penasaran
"Hantu itu tidak ada! Jangan-jangan kau percaya hantu?" Tanya Slaine sambil mengelap ingusnya yang mulai meleleh
"U..u..urusai!"
"Pfffftttt huahahahhahaha hahahaha hahahahaha"
"Di..diam kau!"
"Bagaimana kalau kau membantuku kembali ke penginapan? Dan aku tidak aka menyebarkan kepada orang lain kalau kau takut hantu"
"Terserah kau mau menyebarkannya atau tidak. Kau saja bahkan tidak tau namaku weeeeek" ucap anak itu mengeluarkan lidahnya sambil menurunkan kelopak mata kiri bawahnya.
"Nao-chan takut Hantu~~ Nao-chan takut hantu~~" Slaine membeo, mengulang-ulang kalimat itu. Membuat anak yang disebutnya Nao-chan celingak-celinguk penuh rasa takut
"Da..da..dari mana kau tau namaku? Jangan bilang kau tau dari hantu yah?" Nao mengusap-usap kedua lengannya yang tiba-tiba terasa jauh lebih dingin.
"Bodoh! Siapapun bisa tau namamu kalau kau menulisnya di mantelmu. Tuh!" Tunjuk Slaine ke bagian belakang mantel milik Nao. Wajah anak itu memerah saking malunya. Dan dengan sangat amat terpaksa menggendong anak berambut pirang yang ukuran tubuhnya sedikit lebih besar darinya.
"Sial! Kau ini ternyata berat juga yah. Kau ini sudah SMP tapi kenapa main ski saja masih bisa keseleo?" Ucap Nao kesal, bermaksud mengejek kebodohan Slaine.
"Aku baru kelas 3 SD bodoh!"
Nao diam membisu, empat siku muncul di pelipisnya. Niatnya mengejek orang yang sedang dia gendong malah berbalik merendahkan dirinya sendiri dan tubuh kecilnya. 'sial dia baru kelas 3 sudah setinggi ini. Aku yang kelas 1 SMP malah seperti anak SD. Kalau dia tau, Aku pasti akan diejeknya lebih dari kasus hantu tadi!'
"Sial! Kau ini ternyata kau berat juga yah?" Inaho yang entah sejak kapan sudah duduk di samping Slaine –tanpa disadari Slaine– membuat si pirang hampir terpelanting karna kaget. "Aneh. Aku rasanya pernah berbicara seperti ini kepadamu. Tapi kapan?" Inaho menatap dalam ke mata Slaine.
Slaine tidak bicara, kepalanya sedang berusaha keras mengingat apa yang terjadi belasan tahun lalu. Seingatnya anak yang menolongnya di tengah salju hari itu adalah anak perempuan manis yang punya tenaga besar –tapi kenapa Inaho di hadapannya malah mengeluarkan suara, nada, bahkan tempo yang sama persis dengan yang ada di ingatan Slaine– bukan orang aneh dengan raut tanpa ekspresi seperti Inaho yang di kenalnya –sebagai catatan Slaine sama sekali tidak mengenal Inaho yang ada di hadapannya Ini–. Slaine sekali lagi tidak berani menatap mata milik Inaho. Perosotan di sebelah kirinya jauh lebih menarik untuk dilihat daripada harus terperangkap saling bertatapan dengan mata itu.
Inaho berpindah dari posisinya. Mengambil tempat tepat di hadapan Slaine, berlutut bagai pangeran yang sedang berhadapan dengan seorang putri. Tanpa rasa segan Inaho memegang kedua tangan Slaine, lalu menarik paksa wajah milik si pirang agar sekali lagi mau bertatap muka dengannya.
"Bisa kau hentikan semua ini? Kau itu sangat mengganggu!" Slaine menarik tangannya kasar
"Slaine, aku benar-benar minta maaf. Malam itu aku bukan ingin menamparmu. Aku hanya.. aku.."
"Yang kau lakukan malam itu sudah lebih dari cukup untuk menyadarkan siapa aku sebenarnya. Terima kasih, berkatmu traumaku dengan makhluk bernama pria akhirnya bisa hilang. Berkatmu aku dan Harklight bisa sejauh ini. Dan berkatmu juga sekarang lagi-lagi aku benci dengan pria, sejak malam itu aku sadar satu-satunya pria yang bisa menerima siapa aku sebenarnya hanyalah Harklight."
"Kau masih mencintaiku Slaine. Aku bisa melihatnya dari matamu. Kau hanya masih marah karna yang kulakukan kan?"
"Masih? Satu hal yang harus kau tau Inaho! Bahkan sampai matipun, aku tidak akan memaafkanmu!" Slaine memaksakan dirinya berdiri. Harklight belum menampakkan dirinya. Satu-satunya cara agar dia terbebas dari Inaho adalah bersama Harklight. Slaine berjalan sedikit tertatih, sakit di pergelangan kakinya sudah tidak lagi terasa. Semua pengakuan dari Inaho dan penolakan darinya serta kenyataan yang ada di antara mereka saat ini jauh lebih menyakitkan bagi Slaine daripada pergelangan kakinya yang keseleo. Sejak awal Slaine memutuskan ikut dengan Inaho, Slaine sudah siap jika jalan yang mereka lalui bukanlah jalan mulus beraspal. Tapi bagi Slaine yang dilaluinya sekarang lebih menyakitkan, jalan yang terbuat dari serpihan karang yang tiap langkah akan membuat kakimu luka berdarah-darah.
Slaine jatuh tersungkur, ponsel yang sejak tadi dipenganya lepas dari tangannya. Dengan cepat Inaho memapah tubuh itu, membantunya mengambil ponsel milik Slaine.
"Aku tau. Kau tidak semudah itu bisa melupakanku. Lihat? Wallpaper ini? Ini kau dan aku kan?" Inaho memeluk Slaine, menenggelamkan kepalanya di antara leher jenjang Slaine dan pundak si mata hijau yang terlihat sangat lelah –lelah membohongi dirinya sendiri, lelah membohongi Inaho, dan lelah berpura-pura dengan Harklight– ingin Slaine membalas pelukan hangat Inaho, tapi sekali lagi kejadian malam itu kembali menghantui ingatannya.
"Tau dari mana kau? Ingatanmu saja tidak tersisa! Dan bisakah kau lepaskan aku? Bagian mana dari kata 'kau sangat mengganggu' yang kau tidak pahami?" Slaine mendorong Inaho menjauh darinya, mengambil kembali ponsel miliknya dengan lampu yang masih menyala menampilkan sebuah gambar 'jeruk dan kelelawar yang sedang bermain catur'.
"Aku tidak ingat, tapi aku tau. Kau menyukaiku!"
"Ya. Aku memang menyukaimu. Tidak, aku mencintaimu tapi itu sebelum kau kembali membuangku ke neraka!"
"Aku minta maaf soal tamparan itu. Aku seharusnya tidak melakukan itu kepadamu. Apapun akan kulakukan agar kau mau memaafkanku Slaine."
"Bagaimana dengan menghilang saja dari hadapanku? Dengan begitu aku bisa melupakanmu. Aku mungkin saja bisa memaafkanmu!"
"Slaine kumohon" Inaho kembali memeluk Slaine, kali ini lebih erat dari yang tadi, membuat Slaine sedikit sulit untuk bernafas.
"Slaine"
Inaho dan Slaine berbalik ke arah suara. Terlihat Harklight sedang berusaha mengatur nafasnya yang baru saja berlari dari minimarket di dekat taman.
"Harklight bisa kau memberikan kami waktu untu bicara berdua saja?" Inaho memandang sinis ke arah Harklight
"Untuk apa? Agar kau bisa menyuruh orang-orangmu menyakiti Slaine lagi? Apakah tiga masih kurang menurutmu? Sekarang berapa? 5? 7?" Harklight mendekati Slaine, mendorong Inaho hingga mundur beberapa langkah, dengan cepat kembali menggendong Slaine di pundaknya.
"Apa maksudmu?"
"Kenapa menanyakan itu padaku? Mereka orang-orangmu sensei. Permisi!"
~O~O~O~O~O~O~O~
"ARRRRRGGGGGGHHH….. HAHAHAHA AAAAARRRRGGGHHHH"
Sudah hampir satu jam Inaho berteriak, tertawa, lalu berteriak lalu tertawa lagi. Rumahnya yang senantiasa rapih sekarang lebih seperti rumah yang baru saja terkena tornado. Pecahan vas bunga berhamburan di lantai, karna sekitar sejam lalu saat pertama kali memasuki rumahnya setelah bertemu Slaine di taman tadi, Inaho dengan kasarnya menarik taplak meja. Membuat semua benda yang ada di sana jatuh ke lantai. Memecahkan semua pajangan kristal yang dia miliki dengan tongkat pemukul baseball miliknya. Menendang sofa-sofanya hingga terbalik dari tempat seharusnya.
Entah sudah yang keberapa kali Slaine meninggalkannya dan lebih memilih pergi bersama Harklight. Sekali lagi, Inaho tidak percaya dengan yang baru saja dilakukan Slaine kepadanya. Inaho menarik rambutnya dengan kedua tangannya. Duduk berlutut dengan kedua lututnya dan dengan keras membenturkan kepalanya ke dinding, berharap ingatannya bisa segera pulih. Kembali tertawa mengingat ponsel Slaine memakai wallpaper yang menunjukkan bahwa si pirang tidak sepenuhnya melupakan seorang Inaho Kaizuka.
"Slaine kenapa.. kenapa kau memilih bersama orang itu?" Inaho kembali bertanya kepada Slaine yang hanya ada dalam bayangannya. Dan setiap Slaine dalam bayangannya tidak menjawab, Inaho secara refleks mengacak rambutnya. Menyakiti dirinya sendiri agar bisa terbangun dari mimpi terburuknya itu. "Tapi kau masih menyukaiku tidak kau mencitaiku kan Slaine?" Inaho lagi-lagi bertanya kepada Slaine yang hanya ada di bayangannya. Tapi, sekali lagi 'Slaine' yang sejak tadi diajaknya berbicara tidak menjawabnya. Dua jam berlalu, Inaho jatuh tertidur.
…..
Yuki yang malam itu berniat mengajak adiknya makan malam di luar bersama tidak kuasa menahan dirinya, tangisannya yang sejak beberapa hari lalu di tahan akhirnya tumpah. Setir mobil pribadi miliknya menjadi saksi bisu, betapa Yuki sangat menyesal telah berbuat itu kepada Slaine dan adiknya sendiri. Melihat Inaho yang tertidur dengan bersandar di sofa yang terbalik, pelipis yang belum kering dan masih mengeluarkan sedikit darah dan rumah yang Yuki bahkan kehabisan kata untuk menjelaskannya. Di dalam sana, tepatnya di ruang tamu Inaho masih tertidur, sejak tadi mulutnya tidak berhenti menyebut nama Slaine. Persis seperti beberapa hari lalu saat Inaho mengurung dirinya di kamar.
Di tempat lain, di apartement Harklight
Slaine menatap kosong ke arah layar televisi di depannya, tangannya yang sejak tadi memegang stick video game tidak bergerak sedikitpun. Di sampingnya Harklight menatapanya penuh khawatir. 'pasti sulit baginya terus menerus bertemu Inaho'
"Slaine, bagaimana kalau kita pindah saja? Maksudku kita pindah ke kota lain, agar Slaine tidak bertemu Inaho lagi bagaimana?"
"Hahahaha Iya, dulu kami sering bermain game bersama, bahkan sampai semalaman. Malam sebelum kalian bertemu Ayah tiriku kami bermain sampai aku terlambat ke rumah Lemrina. Haha menyenangkan sekali, siapa sangka itu saat terakhir menyenangkanku bersamanya…" Slaine menangis tanpa dia sadari, air matanya turun begitu saja "Hahah loh? Kenapa aku menangis?"
"Slaine baik-baik saja?" Harklight memeluk Slaine mengusap surai kuning itu lembut
"Aku.. Aku.. Harklight Aku ini benar-benar orang paling bodoh sedunia, dia bahkan sudah berbuat sekejam itu. Tapi aku.. aku masih menyukainya Harklight. Aku merasa akan kekurangan setengah nyawaku saat berpisah jauh darinya. Kau percaya itu Harklight? Kau pernah merasakannya? Apa yang harus kulakukan?" Slaine menangis di pelukan hangat Harklight..
'Ya Aku tau bagaimana rasanya, seandainya aku tau caranya. Akan kuberitau kepadamu Slaine, sayang Aku sendiri juga tidak tau caranya'
Mereka berdua sama-sama tidak saling berbicara. Hanya suara tangisan Slaine yang sesekali terdengar. Sementara itu Harklight hanya bisa menenangkan Slaine dengan mengelus rambut pirang itu, berharap semua derita Slaine ikut gugur setiap kali Harklight mengelusnya. 'Setidaknya kau tau dia juga mencintaimu Slaine'
Harklight terpaksa harus melepaskan pelukannya saat mendengar bunyi bel di luar sana. Dengan cepat Harklight berlari ke arah luar, sebelum orang yang menekan bel itu malah mengganggu tetangga karna ketidak sabarannya.
"Anda mau apa lagi sensei?"
"Dimana Slaine? Aku ingin berbicara padanya. Ada hal yang harus dia tau!" Inaho mendorong Harklight, memaksa masuk ke rumah pria bertubuh jangkung itu agar bisa bertemu Slaine.
"Ada perlu apa Tuan Kaizuka? Bukankah yang kukatakan di taman tadi sudah sangat jelas?" Slaine yang ikut keluar karna penasaran Harklight tidak kembali kaget melihat kedatangan Inaho. terlebih lagi melihat keadaan Inaho yang sangat lusuh, kaki baju yang tidak di dalam celananya, kancing baju yang sebagian terlepas dan darah yang sudah tampak mengering yang keluar dari pelipisnya.
"Orang itu bukan aku Slaine. Itu jebakan Yuki-nee, Aku tidak mungkin menyuruh orang lain menyakitimu seperti itu"
Slaine membatu di tempatnya. Sekarang apalagi permainan Inaho? Menuduh orang lain untuk kesalahannya? "Harklight bisa tolong suruh dia keluar dari sini? Menghirup udara yang sama dengannya membuatku sesak!" Slaine masuk ke ruang santai. Meninggalkan Inaho dan Harklight yang masih di pintu.
"Aku akan terus menunggumu di sini, bahkan semalaman di luar akan kulakukan jika itu satu-satunya cara agar kau mau mendegarkanku!.. Slaine… Sla"
BLAAAAM Slaine tidak lagi mendengar teriakan Inaho setelah bunyi debaman pintu saat Harklight menutup pintu dengan kasar. Mereka berdua kembali duduk di ruang santai. Menatap kosong ke arah layar televisi yang masih menampilkan latar yang sama 'New Game', 'Resume', 'Save'.
'seandainya kehidupan itu seperti game yang bisa restart sesuka hati '
~TBC~
OWARI
Ada yang sudah denger 'Last Refrain' nya Nano belum? Saya baru tau ada lagunya yang seperti itu (fans macam apa saya ini? huhuhu) Jadi ceritanya saya putar lagu itu terus baca chap 7-8 buat cari plot yang cocok untuk chap ini. Dan kemudian saya baper sendiri. saran saja jangan denger lagu itu sambil baca fic yang bikin baper, aseli bapernya bisa berkali-kali lipat. Kemudian galau belum download movie sama anime season ini yang ostnya dinyanyiin Nano huuhu~~ Sebenarnya ch 9 endingnya tidak seperti ini. Tadi tuh di ch ini ada Asseylum sama ada adegan Yuki yang memohon kepada Slaine, tapi jadinya malah alay. Pas kuhapus ternyata ini malah lebih alay huhuhu.. maafkan saya /kabur cantik hohoho.. see yaaaaaaa
