Long time no see !

Yup i uploaded this when christmas came!

maybe this is the last chap i'm going to publish this year!

i'm going to go to Japan (yay!) for vacation so i won't be able to upload more

the rest of the chap i'll upload it next year -hope so -

Enjoy!

Naruto belongs to masashi kishimoto


"Kau yakin ini ide bagus?" Hinata menatap kebawah, napasnya tercekat. "Kita berada tinggi sekali!"

"Shion, kau tahu kita harusnya ada di kamar," Ino berkomentar. Wajahnya diterpa angin kencang dan rambutnya yang rapi terbongkar parah.

"Bukankah ini menyenangkan? Kan kamu sendiri yang ingin keluar!" bantah Shion yang tampak paling menikmati.

"Aku memang ingin keluar, tapi tidak dengan cara begini—HUAAA!" Sakura mejerit panjang saat Fluffy—si burung raksasa itu—menukik turun.

"Sebaiknya tutup mulut kalian! Nanti lidah kalian tergigit saat Fluffy sedang ngebut!" kata Tenten yang sama senangnya dengan Shion. Sakura, Ino, dan Hinata hanya memandang datar pada Sakura yang bahagia seperti anak kecil menikmati permennya. "Apa?" tanya Sakura bingung.

"Tak apa," kata Hinata.

"Lihat! Itu pasukan Glastle!" Shion menunjuk kebawah, dan yang tampak hanyalah deretan pria dengan baju zirah perak dan ada lambang putih di tengah baju mereka. Dari atas, mereka hanya terlihat seperti semut kecil.

"Aku khawatir pada Kiba," Hinata menoleh kebelakang, seolah-olah Kiba ada di belakangnya.

"Apa boleh buat, kan? Fluffy benci laki-laki," Shion merenung. "Untung aku selalu membawa peluit avis(burung)-ku. Dengan peluit ini, semua jenis burung bisa kupanggil,"

"Aku lebih suka kalau yang datang burung merak," Hinata meratap. "Aku bingung, kenapa yang datang malah burung jelek lembek ini? Ukurannya juga... terlalu besar,"

"Iya!" Ino berseru nyaring. "Fluffy merobohkan dinding kamar!"

"Untung saja ada Kiba!" puji Sakura. "Dia tahu mantra reparasi, jadi mungkin sekarang ia sedang membetulkan tembok."

~Sementara itu... di kamar besar~

"Sialan bocah-bocah itu! Sekarang aku harus membenahi dinding ini! Huaaaa!" rutuk Kiba.

~Kembali ke tempat Guardian...~

"Kuharap ia sedang bersenang-senang membetulkan dindingnya," timpal Tenten. "Kayaknya dia bahagia,"

"Yah, mungkin." Hinata tersenyum puas. "Ohya, Shion. Ayo kita ajak Fluffy terbang ke Empat Menara,"

Shion meniup peluitnya, dan suara merdu mengalun. Fluffy menukik cepat dan semuanya menjerit.

"Aku seperti ma...buk," Shion berkata. "Nah, itu Menara Utara... TIDAK MUNGKIN!"

Mata mereka tidak mengkhianati mereka. Ya—apa yang mereka lihat nyata. Empat Menara telah dihancurkan.

.

.

.

.

Tidak ada yang tahu kalau King dan Queen sudah sampai di Glastle kecuali Idate, si penunggang kuda yang mengantar mereka. King dan Queen sekarang menyusup lewat jalur bawah tanah, jauh, jauh, dan lebih jauh lagi ke bawah tanah—mereka ada di Dardanio, sebuah kamar imaji yang terbuka tiga kali seumur hidup. Kamar itu sudah satu kali terbuka, pembukanya adalah King Cavenar. Tinggal dua kesempatan lagi.

King berdiri di lingkaran biru temaram dan ia menanggalkan mahkotanya. Diciumnya permata bening di pucuk mahkota, dan ia bergumam singkat, "Ovriporta Dardanio,"

Mula-mula tak terjadi apapun, tetapi kemudian muncullah pilar-pilar putih transparan dari dalam tanah. Pilar-pilar itu membentuk pagar melingkar dan terus tumbuh memanjang sampai hampir mencium langit-langit. Queen berlindung di belakang King dan pada saat wujud pilar-pilar itu sudah tampak sempurna, semuanya putih bersih. Mereka seperti berada di ruang putih misterius yang... bersih dan sunyi. Kemudian King menggunakan imajinya untuk membangun danau, pohon flavis, dan langit biru. Dardanio sudah berubah menjadi taman impian yang dibangun King lewat pikirannya.

"Kita mulai," King memulai komando pada Queen.

Queen memberikan tangannya untuk disambut King. Mereka saling bergandengan, tangan mereka bertautan seperti rantai yang kuat.

"Appoi-vous," King berkata. "Aku, keturunan Xeverly, raja Imaginatio, suami dari keturunan Hughbert, dan ayah dari seorang putri kerajaan yang mewarisi tanah Imaginatio."

Queen mulai mengendurkan tautan tangannya. "Kita... kita harusnya... berhenti saja, kita tidak usah berbuat begini... ini terlarang. Pasti ada cara lain untuk melindungi Shion." Katanya sedih. Airmatanya bergulir.

King menggeleng kencang. "Shion akan selamat. Kita sebagai orangtuanya akan berkorban. Tanpa ia sadari, kita sudah membuah tameng untuknya, ya, tanpa ia sadari. Ingatlah, dia pewaris Imaginatio dan lambang cinta kita."

Dengan berat hati, Queen berkata, "Lanjutkan,"

"Hari ini, di Dardanio, aku akan menyerahkan..." King berhenti.

Queen mulai menangis dalam hati.

"...aku menyerahkan darahku dan membagi jiwaku kedalam sebuah janji terlarang untuk Shion Tania Xeverly. Shion akan terlindungi, bila sesuatu menyakiti dia, aku yang akan mati. Dan dia akan hidup sebagai pewaris Imaginatio."

Sah sudah.

.

.

.

Shion merasakan dadanya sesak tiba-tiba. Kemudian pipinya tampak lebih merah, dan ia merasa lebih kuat, sehat, dan segar. Ia menjadi bersemangat! Tidak pernah ia merasa sekuat ataupun sesehat ini.

Kemudian ia seakan lupa dengan apa yang terjadi. Ia tercenung sebentar, dan akhirnya kembali teringat akan Empat Menara yang telah dirubuhkan dan erangan memilukan dari para Guardian.

"Tidak mungkin!" Sakura menjerit. "Kenangan yang indah sudah kubangun di sana... semuanya musnah. Semuanya karena Trash."

Tenten, dan Ino lebih banyak diam. Karena kecewa, tentu saja. Sementara itu, Hinata malah meratap sedih.

Tidak ada yang ingin kehilangan kenangan, sekalipun itu bisu.

Empat Menara yang dulunya setia menaungi mereka sekarang hancur lebur, dan tampaknya sudah tidak bisa dibenarkan lagi—meskipun banyak manta reparasi yang diluncurkan.

"Tak apa," Shion menenangkan. "Bukankah telur harus retak agar ayam bisa keluar?"

"Kau benar," Ino seolah terbangun dari lamunan panjang. "Wow, Shi. Kau beda."

"Apanya," ujar Shion bingung, ia tak menyangka kalau Ino juga merasakan hal yang sama.

"Kau jadi lebih segar, seperti anak kuat," Ino menjelaskan. "Mungkin hanya dugaanku saja."

Kemudian mereka kembali ke kamar besar. Temboknya sudah rapi, Kiba memang hebat.

Sayangnya, Fluffy kembali meruntuhkannya.

.

.

.

.

Satu hari sebelum pesta dansa. Semua sudah bersiap. Trash dikabarkan melakukan gencatan senjata, meskipun begitu, tidak semuanya kembali normal.

Para Guardian masih harus menetap di kamar besar sambil menjaga Shion. Peraturan ketat seperti dilarang keluar kamar setelah jam delapan malam kerap dilanggar mereka. Tengah malam, sekitar pukul duabelas tepat, mereka kabur dengan menaiki Fluffy—yang sudah ribuan kali membuat Kiba uring-uringan. Mereka bepergian ke tempat-tempat romantis seperti Amor Hill atau Cassiopiea. Mereka mulai berpasang-pasangan dan berlatih dansa. Kecuali Tenten.

Tenten—setelah 'kematian' Neji—kini harus duduk suram melihat teman-temannya berpasangan dan menari dalam musik sihiran. Ia merindukan Neji. Naruto sudah gatal sekali ingin memberitahu Tenten kalau Neji masih hidup, tapi bayang-bayang Karin selalu ada dan itu menjadi penghalang terbesarnya.

Ayame, si penjahit, sudah membuatkan beratus-ratus gaun yang akan dikenakan Guardian saat pesta.

Dan hari yang ditunggu pun tiba. Apalagi kalau bukan pesta dansa!

Berpuluh-puluh pendekor sudah menyulap—secara harfiah—Golden Ballroom menjadi ruangan mewah paling indah di Glastle. Berbagai lilin sihiran dengan sumbu warna-warni melayang-layang, tiap pijakan anak tangganya diberi taburan berlian dan safir. Jendela-jendela raksasa dipoles dan kandil raksasa—the giant chandelier—sudah digantung! Yang paling menarik di Golden Ballroom adalah kandil raksasa, yang seratus persen berlian dan beratnya... mungkin seberat Fluffy. Kandil itu adalah kandil ajaib yang diwariskan dari keturunan Xeverly turun temurun, dan kandil itu selalu memiliki kejutan tiap pesta.

Contohnya, dulu, saat pesta pernikahan King Horatio dan Queen Brandi-ovilia, kandil itu berputar dan menghujani ruangan dengan sinar gemerlapan, dan kubah di golden ballroom berubah menjadi kaca transparan yang menampakkan langit malam dan bintang-bintang.

Para pria sudah bersiap di bawah tangga, menunggu gadis mereka masing-masing. Ino, yang turun dengan gaunnya yang keunguan gelap dan menawan, langsung membuat Sasuke sakit jantung saking terpesona. Hinata sendiri langsung disambut pelukan dari Kiba yang tak kalah terpesona. Hinata mengenakan gaun Biru muda pucat terbaik dan indah, beberapa berlian tersemat di sana-sini. Sakura mengenakan gaun Pink cerah yang elegan dan mewah, seperti gambaran sifatnya. Sakura dan Naruto bergandengan menuju ballroom. Masing-masing Guardian dibuatkan mahkota oleh King, dari emas dan berlian murni.

"Dimana Tenten?" tanya Kiba. "Oh! Dan Shion?"

"Shion di kamarnya, masih mengenakan gaun. Gaunnya bagus sekali," gumam Hinata.

"Tenten bagaimana? Aku tidak melihatnya sejak makan siang tadi." Sakura menimpali.

"Entahlah, tadi dia pamitan ke suatu tempat." Ino bergelayut di bahu Sasuke yang wajahnya merah tapi berusaha tegas.

.

.

.

"Aku ingat apa kata-katamu sebelum mati," Tenten duduk bersimpuh dengan gaun oranye tua yang indah, yang memeluk tubuhnya. Mahkota Kuning-merah pemberian King disematkannya di kepala, indah sekali. Disampingnya, ada batu besar berukiran yang ditumbuhi anggrek Cokelat elegan.

Tulisan dari emas murni terukir di pucuknya: "Neji"

"Hm.. waktu itu aku bilang peti mati biru cocok buatmu, ya 'kan?" Tenten mengelus ukiran nama itu. "Tapi pihak kerajaan malah memberimu yang warna putih, kamu jadi tampak seperti banci,"

"Banci?" Neji bertanya.

"Ya, banci." Balas Tenten. "HEEIIII! Tunggu! Ta—tadi siapa yang bicara?"

Tenten berdiri, gaunnya yang menutupi mata kaki tertiup angin. Angin yang bertiup memang bukan angin biasanya. Angin ini kuat dan kencang, mirip amukan badai. Kemudian semak bugenvil perak disampingnya tersibak, dan Neji ada di sana.

"Yo, Ten." Neji melambai.

"Oh! Demi bulu dada Horatio! Aku sudah gila!" erang Tenten.

"Tidak, kau tidak gila!" Neji membantah. "Lagipula, Horatio tidak punya bulu dada,"

"Oh! Demi bulu kaki Karura!" Tenten menjerit, nyaris pingsan.

"Ya, Karura punya kok," Neji tersenyum jahil. "Ngomong-ngomong..."

Neji maju dan mendekap Tenten, badannya dingin seperti es. Kulit Tenten merinding ketika merasakan dingin dan bekunya Neji. Meskipun begitu, Neji nyata. "Aku merindukamu setengah mati meskipun sepertinya aku sudah mati!"

"Apa ini?" Tenten menatap mata Neji. "Kenapa kamu disini? Apa ini? Imajinasi?"

Kemudian sosok Neji meledak menjadi asap. Karin ada di sana dengan mawarnya. Sulur mawar itu panjang, hitam legam dan durinya gemuk-gemuk. Sosok Neji muncul di belitan sulur busuk itu.

"Hgggh!" Tenten mendesis kaget. Ia memanggil pedangnya dengan mantra. Dan pedang itu sudah terbang ke tangannya. Tenten menodong pedang itu ke wajah Karin, tapi Karin tertawa. Ia membuat mantra-mantra untuk melelehkan pedang itu, tapi pedang itu punya selubung putih yang tak tertembus.

Karin tesentak marah.

"Terkejut, ya? Pedang ini dibuat pendahuluku dengan airmatanya sendiri! Pedang ini amat kuat, tahu!" kata Tenten tegas dan membara.

Neji menatapnya lemah, "Lari, Baka!" katanya.

"Kenapa? Siapa sih dia?" Tenten bertanya.

"Ooohh, Neji-chan!" lengkingan Karin mendayu-dayu. "Kau belum mengenalkan aku, ya? Kenalkan... namaku, Karin... Becrux,"

"Becrux? Kau kakaknya Tayuya! TRASH!" Tenten merobek gaunnya, dan di dalamnya ada baju zirah perak.

Neji mendesah lega, ia kira Tenten bakal telanjang. "Aku lebih nyaman dalam pakaian perang! Ayo berduel!" tantang Tenten marah.

"Bagaimana kau memakai baju zirah dalam gaun tanpa ketahuan?" Neji malah menanyai hal yang melenceng seolah-olah tidak bisa membaca situasi.

"Aku pakai mantra," Tenten membalas pendek. "Bukan saatnya tanya-tanya yang tidak penting, Neji!"

Karin tersenyum dalam jubah hitamnya. "Sayangku, aku tidak ingin berduel. Tapi aku hanya ingin mengembalikan priamu,"

Tenten menatap tidak percaya. "Neji? Kau kembalikan padaku?"

"Iya. Kau 'kan tidak tahu kalau selama ini dia bersamaku.." Karin mengerling pada Neji.

"Bagaimana bisa... dia kan sudah mati," Tenten membantah. "Kurang ajar! Aku masih hidup tauu!" jerit Neji, tapi tidak ada yang dengar.

"Ehhmm bagaimana, ya?" Karin bergenit-genit. "Sebenarnya, aku mengunci jiwanya. Dia tidak mati permanen."

"Apa?" Tenten terkesiap. "Bebaskan dia!"

"Tidak bisa, Sayang." Karin menggeleng, wajahnya dibuat-buat.

Tenten tanpa banyak bicara berusaha menebas sulur-sulur itu. Sulur-sulur itu putus, tapi tumbuh lagi!

"Kesalahan besar kalau kau mencoba memotongnya," Karin mengelus sulur-sulurnya. "Ini dari sihir hitam,"

Tenten semakin geram saja.

"Begini saja, ya," Karin mengecup kelopak mawarnya. "Aku akan membebaskan dia asal kau mau bergabung dengan kami... dengan Trash,"

"Dan mengkhianati Guardian dan Glastle? Tidak akan pernah!" Tenten menolak.

Karin tampak marah, alisnya terangkat. "Kalau begitu, aku tidak punya pilihan lain,"

Karin meremas jarinya, dan sulur-sulur itu mempererat ikatannya pada Neji. Neji menjerit kesakitan, Tenten berusaha menolong tapi sia-sia.

"Lepaskan dia!" ujar Tenten putus asa.

"A-a-a-a... hanya akan kulepaskan kalau kau bergabung!" kata Karin ngotot.

Tenten bimbang.

"Baiklah," katanya.

"Ten!" Neji menjerit. "Lebih baik aku mati, deh!"

Tenten mengecup kedua belah pipinya yang basah karena keringat, dan Neji tenang untuk sesaat.

"Lepaskan ikatan di leher itu..." Karin menunjuk tanda Guardiannya yang melekat di leher.

"Tidak. Lepaskan dulu dia, baru tandaku." Tenten bersikeras.

Untuk sesaat, Karin tampak menimbang-nimbang. Kemudian ia menyahut, "Setuju,"

Neji terlepas, dan wajahnya yang pucat seperti porselen kembali cerah, kembali merona seperti ketika ia pertama bertemu Tenten.

"Neji!" Tenten memeluk Neji. Neji sebenarnya sangat marah karena Tenten berkhianat, tapi ia seolah-olah lumpuh saat Tenten memeluknya.

"Tandanya!" Karin mulai kesal.

Tenten merapatkan jari-jarinya, kemudian meraih kalung itu. Neji hampir berteriak kesal, tapi ia tak jadi melakukannya, karena Tenten hanya pura-pura!

Bukannya melepas tanda di lehernya, Tenten malah menusuk mawar Karin. Sayatan pedangnya mengenai salah satu kelopaknya yang hitam.

"Aaahhh!" Karin mencekik lehernya sendiri. "Beraninya kau berbohong!"

Tenten mundur kebelakang, Karin melempar kutukan, dan kutukan itu nyaris mengenai Tenten apabila Neji tidak membangun shield.

"Tidak ada yang bisa melukai Ten!" Neji membangun shield lagi mengelilingi mereka.

Karin melempar kutukan, tapi tak mempan. Kemudian Karin melakukan hal yang tak disangka-sangka. Ia memeluk mawarnya, dan kekuatannya seolah bertambah. Ia menghancurkan shield dan mengirim kutukan jahat.

"Mati kalian!" bengoknya.

"PROTECA GUARDIA!"

.

.

.

Shion terduduk lesu di kursi peraknya, ditengah-tengah King dan Queen yang juga duduk di singgasana memerhatikan para penduduk berdansa.

Tiba-tiba, King bangkit dan menggandeng Queen. "Tsunade, marilah kita berdansa."

Queen tidak bisa menyangkal semburat merah yang mewarnai pipinya, "Tentu saja, My Lord."

Mereka menuruni area dansa dengan anggun kemudian King berbalik menatap Shion.

"Nak, carilah pangeran-pangeran muda di sana, kemudian ajak mereka berdansa," King berkomando.

"Iya, Ayah," jawab Shion malas. Kemudian ia menatap King dan Queen menjauh ke lantai dansa. King membuat sebuah sihir, yaitu kelopak rosmerta yang beterbangan. Sekarang di sekeliling King dan Queen banyak embusan helai rosmerta yang mengelilingi mereka. Semua orang terpaku melihat betapa romantisnya mereka. Shion tersenyum bangga, kemudian melangkahkan kakinya ke tempat pangeran-pangeran.

Ia berkenalan dengan banyak pangeran. Ada pangeran yang seumuran dengannya, bahkan ada yang usianya lima tahun. Semuanya sama-sama membuatnya bosan setengah mati. Kemudian ia menatap sebuah siluet pria.

Pria dengan mahkota dan setelan hitam kelam.

"Pasti dia pangeran yang belum kusapa," gumam Shion. Ia kembali melihat pria itu. Pria itu melangkah keluar ruangan.

"Aku mesti menyapa dia, kalau tidak nanti Ayah akan menegurku," gumam Shion lagi. Ia menerobos rombongan putri-putri yang diundang King dan berjalan keluar ballroom.

Diluar ballroom sangat sepi. Pria itu menerobos kegelapan dan berjalan lurus menyusuri koridor yang gelap, hanya ada beberapa obor digantung.

"He—hei! Tunggu," cegat Shion. Tapi pria itu malah tetap berjalan. Shion menyamakan derap langkahnya dengan pria itu. Pria itu berjalan lurus ke balkon gelap yang tidak ada pencahayaannya sama sekali, Shion bukannya takut, malah ia penasaran. Gaunnya yang putih gading dan belipit indah berkibar.

"Halo," sapanya. Pria itu membelakanginya, dari belakang ia tampak tinggi-kurus.

Tiba-tiba pria itu berbalik. "Halo, aku pangeran Gaara."

.

.

.

Sinar putih-emas. Putih dan emas. Kemudian sinar hitam ikut-ikutan muncul. Beberapa pohon tercabut dari tanah, tercabik-cabik.

Ini semua karena para Guardian melayangkan Proteca Guardia.

Karin tersuruk di tanah, berdarah-darah namun tetap sadar. Mawarnya meliuk-liuk di sampingnya, seperti anjing menjilat-jilat tangan tuannya. Kemudian para Guardian berpelukan, baju perang mereka melekat di tubuh masing-masing.

"Oh! Aku kira aku bakal kehilangan dirimu!" Ino memeluk Tenten erat.

"Aku takut... sangat takut, makanya aku memanggil kalian," Tenten membalas pelukannya. Badannya gemetar. "Kalian sadar? Baru saja kita menciptakan proteca! Proteca Guardia yang legendaris!" kata Sakura dalam suara bergetar.

"Ya, ya, ya! Itu hebat—hebat!" Hinata bertepuk tangan. Ia merasa bangga dan senang. Sakura tercengang di sebelahnya.

"Gila. Nyaris saja Aku mati," Tenten menepuk dahinya. "Nanti Aku akan jadi knight pertama yang mati di usia lima belas!"

Dari belakang mereka, terdengar suara batuk yang parau, itu Neji. "Oh astaga!" Sakura bagai tersetrum. "Hantu!"

"Uhuk—aku..bukan..han.." Neji berusaha menjelaskan, tapi yang lain sudah histeris melihatnya.

"..Neji! Woaahhh! SETAN!" teriak Ino. "Ampun.. kembali ke alammu dengan tenang. Ampun!"

"Ehm.. kawan-kawan. Ini Neji—asli." Tenten membantu Neji berdiri.

"Oh...! Tak mungkin, bagaimana bisa?" Hinata mendesah tak percaya. "Bagaimana cara membuktikan kebenaran bahwa dia nyata?"

"Cubit saja.." Sakura mengendikkan kepalanya ke arah Neji. "...pipinya."

Semua Guardian kecuali Tenten segera mengerubungi Neji dan berebut mencubit pipinya.

"GYAAAA!" jerit Neji nelangsa.

"Wah, asli!" Sakura pura-pura tidak bersalah. "Selamat datang kembali, Nej-chan!"

"Dama-dama (sama-sama)," Neji jadi susah bicara karena pipinya bengkak. "Adu denang detemu dalian dagi! (Aku senang bertemu kalian lagi!),"

"Oke, dama-dama juga Nej!" Hinata tergelak-gelak.

"Oh, iya, Tenten. Tadi mengapa mereka bisa menyambangi kita di sini? Bagaimana mereka bisa tahu kita ada di sini?" tanya Neji.

Tenten menunjuk tanda Guardiannya yang memeluk lehernya. "Tadi sewaktu aku pura-pura melepas tandaku, aku menekan bagian permatanya. Saat permatanya kutekan, mereka dapat menemukan kita."

"Tanda ini saling terhubung," Hinata menunjuk tandanya yang terbuat dari opal. "Tadi aku kaget sekali waktu melihat kristal es beterbangan, kemudian aku sadar kalau itu panggilan dari Tenten,"

Ino berdeham. "Untung kalian tidak apa-apa," kemudian Ino menolehkan kepalanya. "Siapa sih wanita jahat itu?"

"Ini mengejutkan, tapi akan kuberitahu kalian," Neji yang sudah kembali normal mulai menjelaskan. "Dia kakaknya Nona Becrux... Si Karin,"

"Kakaknya Tayuya?" Sakura membalas sinis. "Kejam sekali,"

"Jadi dia yang membuatku 'mati' waktu itu. Tapi sebenarnya, aku tidak benar-benar mati, hanya saja jiwaku dikunci. Oh, dan kalian juga harus tahu sesuatu..." Neji tercenung tiba-tiba. "Si Naruto..."

"DIAM!" teriak suara wanita yang serak dan seram. Sosok Karin bangkit lagi, namun tampilannya lebih tua dengan kerut di sana-sini. "Tangkap bocah lelaki itu!" perintahnya pada sulur mawar.

Sulur mawar itu berubah menjadi raksasa dan menyeret-nyeret Neji dalam genggaman Karin.

"Proteca Guardia!" teriak para Guardian, tapi tidak ada yang terjadi.

Hinata mengeluarkan panahnya. "Summer bow," katanya, api menjalar di mata anak panah itu. Panahnya diluncurkan, tapi ada selubung hitam yang membuat panah itu patah menjadi dua.

Para Guardian membuat perlindungan habis-habisan, tapi Neji pada akhirnya jatuh dalam dekapan Karin yang tampak haus darah. Dalam satu kedipan mata, Karin dan Neji meledak menjadi abu.

Asap hitam dan kabut mengelilingi mereka.

"Trash sudah bangkit..." bisik asap-asap itu. Kemudian mereka lenyap.

"Tidak!" teriak para Guardian kecuali Tenten.

"Ten...?Tenten…?" Ino memandang Tenten.

"Tak apa, mari kembali ke pesta, kita ganti gaun dulu, ya?" kata Tenten, seolah-olah ia buta terhadap apa yang barusan terjadi.

"Kamu kenapa sih?" Hinata mengguncang tubuh Tenten. "Kita kejar mereka!"

"Tidak. Aku sudah tahu, itu sia-sia." Tenten menarik diri dari Hinata dan berjalan kembali menuju istana. "Neji akan bebas. Tapi untuk sekarang, rasanya belum bisa. Waktu akan menjawab semuanya,"

Kemudian hening.

Tenten berjalan tegap, kemudian ia memandang telapak tangannya dan menangis. "Tanganku tidak cukup panjang untuk meraihmu,"

Para Guardian menyusulnya, berganti gaun, kemudian kembali ke pesta.

Tenten sendiri mengganti gaunnya dengan gaun biru es yang pucat, kemudian meminta untuk tinggal di kamar.

Ino sudah dalam gaun ungu anggur yang cerah dan sepatu mengilap. "Kau yakin tidak ikut?" tanyanya.

"Kau tidak bisa hanya meratap, mari ikut." Sakura membujuk, gaunnya berwarna pelangi dengan kerlip-kerlip.

Hinata bersandar di ambang pintu dengan gaun mewah berwarna ungu cerah, yang warnanya agak lebih muda dibanding milik Ino. Gaunnya dipasangi berlian sebiji-biji kenari yang mengilap. "Kami tahu kau sedih. Tapi kami selalu disini. Seandainya kau butuh kami... kami selalu disini."

"Ya, aku tahu," jawab Tenten tanpa menoleh.

Kemudian hening.

"Aku akan menemanimu," Ino angkat suara. "Lagipula apa bagusnya pesta itu tanpamu, kan?"

"Tidak usah, Sasuke ada di sana. Jangan buat dia sama kecewanya denganku." Tenten membalas dengan nada hangat, tapi wajahnya dingin dan datar.

Ino menekuk wajahnya. "Maaf tak ada yang bisa kulakukan,"

"Kau bergurau? Semua yang sudah kalian perbuat untukku, semuanya—sudah lebih dari cukup," Tenten bangkit dari duduknya dan memutar tubuh teman-temannya. Tenten mendorong mereka pelan dan lemah. "Pergilah. Ada pria-pria kesepian di lantai dansa." Ia mengerling.

"Kau serius?" Hinata berkata bimbang.

"Lebih baik ia ditinggal. Kita tidak punya hak memaksa." Sakura mengangguk.

"Aku akan datang saat kandil raksasa beraksi," Tenten tersenyum lemah. "Aku akan datang."

"Bagus," Sakura memeluknya singkat. "Yang tadi sebisa mungkin jangan dipikirkan."

"Mustahil tidak memikirkannya, tapi... aku tidak akan mengingatnya. Lagipula aku sudah lelah. Aku mau tidur sebentar. Kalau ada apa-apa nanti kupanggil kalian," Tenten menunjuk para Guardian meluncur ke golden ballroom.

.

.

.

"Gaara?" Shion memperpendek jarak mereka. "Nama yang belum pernah kudengar."

"Namaku sangat jarang," Gaara memutar badannya, menghadap Shion. "Ibuku yang memberikannya, sehari sebelum ia meninggal."

Shion sedikit menaruh empati. "Oh," ujarnya.

Gaara membelakangi bulan, ranting-ranting pohon flavis bergesekan dan burung hantu berdeham anggun, menciptakan simphoni alam saat malam.

"Kau cantik sekali," Gaara berdecak kagum. "Mahkluk lain yang pernah menyegarkan mataku, belum pernah secerah kamu,"

Shion tersentak, antara tersanjung dan malu. Belum pernah ada pangeran yang memujinya sampai seperti itu.

Shion membiarkan matanya bersesuai dengan sinar bulan yang terang dan keperakan. Lama-lama, Gaara tampak menarik di matanya.

Kemudian matanya terpaku pada mahkota hitam di pucuk kepalanya, diantara rambutnya yang merah bata. "Kau dari kerajaan mana? Mahkota itu dari batu apa?"

Gaara tertawa pelan. "Aku dari kerajaan jauh. Jauh, yang pasti. Dan mahkotaku terbuat dari air mata seorang gadis."

"Oh, benarkah?" Shion bertambah tertarik. "Kalau boleh kutahu, siapa gadis itu?"

"Ibuku—Ibuku yang malang," Gaara mengelus punggung tangannya. "Dia meninggal sehari setelah melahirkanku. Setelah kutelisik, aku menemukan fakta bahwa seseorang telah membunuhnya."

"Siapa?" Shion menatapnya lekat. "Siapa, Gaara?"

Gaara merasa amat kaget sekaligus bahagia saat Shion menyebut namanya. "Entah siapa. Semua orang merahasiakan kematiannya, fisik dan parasnya pun aku tak tahu."

Shion menyibak anak rambut di dahinya, kemudian kembali menatap Gaara. Karena Shion tak bersuara, Gaara kembali bercerita.

"Kata bibiku, ibuku itu hebat. Ia meninggal dalam pertarungan, aku sendiri juga tidak tahu mengapa semua orang begitu menyembunyikan asal-usul ibu. Andai aku tahu namanya,"

"Kau bahkan tak tahu namanya?" Shion terbelalak.

"Aku tak tahu," Gaara menggeleng lemah. Kemudian asap hitam bergulung-gulung, menyusup lewat ranting pohon flavis, dan membisukan burung-burung hantu yang sedari tadi mengisi kekosongan malam. Semua menjadi kelam, dan hening.

Bulan tertutupi awan dan kegelapan mendominasi. Gaara membesarkan matanya dalam takut, ia seolah-olah diingatkan pada mimpinya yang terburuk.

"Ada apa?" Shion menangkap keganjilan dari malam itu, dan juga dari sikap Gaara yang berubah tegang.

"Kau harus pergi," Gaara mendorong Shion cepat-cepat. Kemudian ia melihat tangga. "Sembunyilah di bawah tangga! Dengar apa kataku!"

Shion berlari panik dan meringkuk dibawah tangga pualam, sayup-sayup suara Gaara di balkon masih terdengar. Kemudian suara lainnya datang—suara wanita, suara yang amat berat dan mencurigakan. Seperti desis ular derik.

"Kau sudah mendapatkan dia?" tanya si suara ular.

"Belum," gagap Gaara. "Dia sepertinya tidak ada di sini—atau dimanapun,"

Suara itu melengking marah. "Jangan bodohi aku, Aara!"

"Aku tidak mencoba membodohi siapapun!" Gaara menyergah.

"Baiklah," suara itu terdengar makin rendah. "Mungkin kau benar. Ya, baiklah. Tapi saat kau menemukan dia... ingat pesanku! Bunuh langsung," desisnya berbahaya.

Suara Gaara tidak kedengaran lagi, begitu juga dengan suara si wanita itu. Kemudian awan-awan menyingkir dan bulan kembali bersinar.

"Shion, sudah aman. Ayo keluar." Perintahnya. "Shion?"

Gaara membungkuk dan mengintip kebawah tangga. Ia tak ada di sana—Shion tak ada di sana.

.

.

.

T to the B and C!